Anda di halaman 1dari 25

ANALYZING OPERATING ACTIVITIES

PT.GUDANGGARAM TBK.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Laporan Keuangan

Dosen : Hj. Prima Yusi Sari, S.E., M.E., Ak.

Disusun oleh:
Fransiskus Bayu Prakoso 120110160107
Muhammad Arfakhsadz Rasqi 120110160059
Yusuf Alfayet B 120110160010

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah dengan judul
“Analyzing Operating Activities” PT.GudangGaram Tbk.” ini kami susun dalam rangka
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Analisis Laporan Keungan yang diampu oleh Ibu Hj.
Prima Yusi Sari, S.E., M.E., Ak.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan pembaca. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dengan saran yang
membangun.

Bandung, 25 Maret 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
1.1 Rumusan Masalah 4
1.2 Tujuan 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
2.1 Income Measurement 5
2.2 Nonrecurring Items 13
2.3 Revenue Recognition 17
2.4 Earnings per Share: Computation and Analysis 21
BAB III 24
KESIMPULAN 24
DAFTAR PUSTAKA 25

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengukuran pendapatan pada laporan laba rugi?
2. Bagaimana analisis pada nonrecurring item?
3. Bagaimana cara melakukan pengakuan pada pendapatan?
4. Bagaimana sistem penerapan employee benefit?
5. Bagaimana penerapan earning per share?
1.2 Tujuan
Dari rumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya, maka tujuan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui analisis pelaporan keuangan intercorporate investments.
2. Untuk mengetahui analisis nonrecurring item.
3. Untuk mengetahui cara melakukan pengakuan pada pendapatan.
4. Untuk mengetahui sistem penerapan employee benefit.
5. Untuk mengetahui penerapan earning per share.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Income Measurement
Konsep Pendapatan
Income menjelaskan tentang efek finansial pada aktivitas operasi
perusahaan. Tujuan utama dari laporan laba rugi adalah untuk menjelaskan
bagaimana pendapatan didapatkan, dan mana bagian yang penting dan dipisahkan
pada baris yang berbeda. Ada dua konsep dari pendapatan yaitu economic income
dan permanent income. Economic income mengukur perusbahan bersih di
shareholder’s wealth pada periode tertentu. Secara teori, itu sama saja dengan
periode arus kas ditambah dengan perubahan pada present value of expected
future cash flows. Sedangkan, permanent income adalah estimasi pada
pendapatan rata-rata yang seimbang dan diekspektasikan bahwa bisnis tersebut
dapat mendapat lebih dari its lifetime. Permanent income sering disebut sebagai
suitainable income atau recurring income yang secara konsep mirip dengan
sustainable earning power dan itu mencerminkan major quest pada analisis.
Ketika economic income mengukur tentang perubahan pada shareholder value,
permanent income is proportional to value.
Pencatatan pendapatan menggunakan konsep matching cost dan basis
akrual. Pendapatan di akuntansi terkadang ada error dalam oengukuran,
meningkat karena ada accounting distortion karena peraturan arbritasi,
pemerataan laba dan estimasi error. Karena alasan tersebut, pendapatan di
akuntansi dapat divisualisasikan menjadi tiga komponen yaitu
a. a permanent or recurring component, dimana dollar sama dengan 1/r dollar
pada nilai perusahaan (r=cost of capital)
b. a transitory component, dimana setiap dollar hanya sama dengan satu dollar
nilai perusahaan
c. a value irrelevant component, dimana tidak relevan untuk valuasi.
Pencarian analisis ini adalah untuk mengidentifikasi permanent or
recurring component of reported income. Penyusun standar berhati-hati terhadap
kebutuhan dalam pemisahan recurring dan non-recurring components of income.

5
Barisan item di laporan laba rugi disusun rapi dan memperbolehkan analis untuk
mengidentifikasi nonrecurring components.
Langkah pertama dalam menentukan permanent income, analisis
menentukan core income, dimana pada periode pelaporan pendapatan menghapus
semua nonrecurring components.

Pengukuran Accounting Income


Pendapatan dan beban adalah komponen utama dalam accounting income.
Revenue didapatkan dari arus masuk atau prospektif dari arus kas masuk dari
kegiatan bisnis operasi perusahaan. Termasuk arus kas masuk dari penjualan tunai
maupun penjualan kredit. Gains didapatkan dari transaksi dan kejadian yang tidak
berhubungan dengan kegiatan bisnis operasi perusahaan.
Beban didapat dari arus kas keluar yang berasal dari kegiatan bisnis
operasi perusahaan. Losses didapatkan dari penurunan aset bersih perusahaan dari
peripheral atau incidental operations perusahaan. Contoh losses yaitu, loss on
sale of investment securities, dan impairment of goodwill. Beban dikaitkan dengan
konsep matching cost dimana pendapatan dapat generated. Isu lain adalah biaya
deferral atau disebut multiperiod allocation. Akuntan mengkapitalisasi biaya yang
dapat menghasilkan keuntungan di banyak periode. Biaya tersebut secara
sistematis dialokasikan ke periode yang akan datang. Banyak biaya yang
dikeluarkan di periode yang sama dimana mereka di akui.
Klasifikasi pendapatan yang baik itu penting untuk analisis. Pendapatan
dapai diklasifikasikan pada dua dimensi yaitu, recurring versus nonrecurring dan
operating versus nonoperating. Banyak waktu dimana kedua dimensi tersebut
dipakai secara sinonim. Contohnya, analis tertentu melihat pengukuran
pendapatan yang mengecualikan semua nonrecurring item sebagai operating
income. Dimana itu benar bahwa semua pendapatn operasi cenderung merupakan
recurring, perlu dipahami bahwa dua klasifikasi tersebut berbeda, secara dasarnya
ataupun tujuan. Contohnya, nonrecurring pada loss inventori yang disebabkan
oleh kebakaran dikategorikan sebagai kerugian operasional. Demikian pula,
nonoperating item seperti pendapatan bunga dapat diklasifikasikan sebagai
recurring. Operasi dan non operasi tergantung pada pendapatan dan beban,

6
dimana berasal dari operasi, transaksi sekuritas atau aktivitas pembiayaan. Untuk
recurring versus nonrecurring sendiri tergantung pada bagaimana penyikapan
pada pendapatan dan beban masing-masing, dimana itu diekspektasikan bertahan
atau hanya sekali terjadi saja. Itu penting bagi analis untuk melihat perbedaan dari
klasifikasi dimensi diatas.

Recurring and Nonrecurring Income


Hal yang paling penting dalam klasifikasi ini adalah untuk menentukan
permanen dan transitory komponen pada pendapatan. Secara teknis, laporan laba
rugi mengukur net income, comprehensive income dan income from continuing
operations. Net income diketahui sebagai bagian paling dasar dari pengukuran
pendapatan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Net income terjadi dari transaksi
yang terjadi di periode tersebut. Unrealized gain and losses dimasukkan ke dalam
laba komprehensif. Laba komprehensif terdapat pendapatan yang merubah
ekuitas, selain aktivitas perusahaan. Akuntan juga melakukan pelaporan mengenai
income from continuing operations yang sering disebut dengan income before
extraordinary items, or income before discontinued operations. Banyak analis
mengatakan ada pendapatan lain disebut core income. Core income adalah
pengukuran yang mengecualikan semua nonrecurring dan item yang tidak biasa
yang dilaporkan di baris yang berbeda di laporan laba rugi.

Operating and Nonoperating Income


Operating income adalah pendapatan yang didapatkan dari kegiatan
operasi perusahaan. Operating income mengecualikan semua item yang tidak
berhubungan dengan operasi perusahaan serta nonrecurring items. Secara umum,
pendapatan operasi mengecualikan income from continuing operations seperti
gain or losses from a company’s peripheral activities, contohnya penjualan aset
tetap atau realized or unrealized gain or losses dari investment securities;
impairment losses dari inventori, aset tetap dan goodwill, unusual or infrequent
items seperti restructuring charges, or the effect of strike or work stoppage; other
revenues or expenses seperti pendapatan bunga atau beban bunga dan pendapatan
dividen. Sisanya dimasukkan kedalam nonoperating income.

7
Comprehensive Income
Comprehensive income di definisikan sebagai ukuran pendapatan yang
merefleksikan semua perubahan pada ekuitas selain dari aktivitas operasi, seperti
dividen dan perubahan share capital. Pengukuran laba komprehensif ditentukan
dari penyesuaian laba bersih, on an after-tax basis, for certain unrealized gains
and losses, yang disebut other comprehensive income.
Pada US GAAP, other comprehensive income terdapat empat komponen
yaitu unrealized gains or losses dari perubahan nilai wajar investasi sekuritas
yang diperuntukkan untuk dijual; unrealized gains or losses yang didapatkan dari
effective portion of cash flow hedges (derivatives); foreign currency translation
gains and losses; changes in the funded status of postretirement benefits not
included in net income. Sesuai IFRS, other comprehensive income bisa termasuk
efek dari revaluasi aset tetap, aset tak berwujud serta liabilitas.
Banyak analis beragumen bahwa komponen other comprehensive income
tidak relevan karena mereka tidak bertahan. Karena item ini secara alamiah
bersifat sementara dan item tersebut tidak berguna untuk keberlanjutan
pendapatan perusahaan.
Akhirnya, banuak perusahaan yang tidak melaporkan laba komprehensif di
laporan lab rugi tetapi sebagai bagian dari Statement of Shareholder’s Equity.

8
Analisis Pendapatan di PT.GudangGaram Tbk.

Dapat dilihat bahwa ada pendapatan yang didapatkan dari aktivitas


operasi perusahaan yaitu penjualan dan pendapatan usaha. Pengakuan beban
pokok penjualan dan beban langsung juga disesuaikan dengan prinsip matching
cost. Ada banyak pendapatan dan beban lainnya yang dikategorikan sebagai
beban operasi sesuai klasifikasi yang sudah disebutkan diatas yaitu beban
penjualan, beban umum dan administrasi, beban laba bersih entitas asosiasi,
penghasilan bunga, beban bunga dan keuangan, beban pajak final dan keuntungan
(kerugian) lainnya – bersih. Kemudian hasil diatas akan menghasilkan laba bersih
tahun berjalan.

Dapat dilihat di bagian penghasilan komprehensif lainnya bahwa ada


beberapa kategori yang tidak dimasukkan dalam bagian operasi yaitu pengukuran
kembali atas program imbalan pasti, beban pajak penghasilan, pengukuran

9
kembali atas kewajiban imbalan – setelah dikurangi pajak, bagian penghasilan
komprehensif lain atas entitas asosiasi.

Ini adalah rincian dari penjualan dan pendapatan usaha diatas yang
didapatkan dari kegiatan operasional PT.GudangGaram Tbk.. Ada penjualan
Rokok, dan pendapatan dari pihak berelasi.
Disini dijelaskan bahwa tidak ada penjualan dan pendapatan usaha yang
lebih dari 10% yang didapatkan dari satu pelanggan. Hal ini berarti bahwa semua
pelanggan membeli dengan harga yang hampir sama.

10
Dengan prinsip matching cost, dapat dilihat bahwa beban dilaksanakan
untuk generate pendapatan. Beban yang terdapat pada operasi sama dengan
pendapatan seperti beban penjualan Rokok, dan pendapatan dari pihak berelasi.

Disini juga ada beban lainnya yang dimaksudkan untuk generated


pendapatan seperti beban penjualan dari pameran dan launching, iklan dan
brosur, komisi, promosi, penyusutan dan amortisasi, kantor pemasaran dan lain-
lain.

11
Disamping beban pokok penjualan dan beban penjualan, ada beban
lainnya yang diklasifikasikan sebagai beban operasional lainnya yaitu yang
termasuk dalam beban umum dan administrasi.

12
Beban pajak final dan pajak penghasilan juga dikategorikan sebagai beban
operasional lainnya.
2.2 Nonrecurring Items
Di dalam kegiatan bisnis, perusahaan dapat mengalami suatu peristiwa
atau transaksi yang tidak umum terjadi, diantaranya seperti:
1. Extraordinary Items
2. Discontinued Segments
3. Accounting Changes
4. Restructuring Charges
5. Special Items

Extraordinary Items
13
Suatu transaksi atau peristiwa yang terjadi sangat tidak umum dan sangat
jarang terjadi.
Kriteria dari Extraordinary Items harus mencakup dua hal:
 Unusual in nature
Transaksi atau peristiwa yang sangat tidak umum dalam kegiatan bisnis.
 Infrequent in occurrence
Transaksi atau peristiwa yang sulit diprediksi mungkin akan kembali terjadi
di masa depan.

Contoh: Kerugian atas aset akibat bencana alam, gain atau loss hutang dari
pensiun dini

Analisis Extraordinary Items:

 Analis tidak mencatumkan Extraordinary Items untuk analisis recurring


income.
 Extraordinary Items juga dikeluarkan dari analisis ketika melakukan
perbandingan antar perusahaan atau antar waktu.
 Extraordinary Items baru dicantumkan ketika menganalisis economic income.
 Seringkali secara alamiah ada yang menjadi bagian dari operating activities.
Kalau hal ini dilaporkan maka harus dimasukkan dalam hitung operating
income, tapi tetap dikeluarkan ketika menganalisis permanent income.
 Extraordinary Items dapat menunjukkan risiko-risiko yang mungkin dapat
terjadi di masa depan.
Discontinued Segments
Discontinued Operations merupakan pelepasan divisi atau lini produk yang
dapat diidentifikasi.
Akuntansi untuk Discontinued Segments yaitu apabila terdapat item ini:
- Income Statement untuk periode saat ini dan dua periode sebelumnya harus
dinyatakan ulang (restatement) setelah mengeluarkan dampak dari operasi yang
dikontinyu.
- Gains atau Losses dari Discontinued Operations harus dilaporkan secara terpisah, net
of tax.
o Dapat dilaporkan untuk dua kategori:

14
 Operating income atau loss from discontinued operations hingga
tanggal pengukuran
 Gains and losses on disposal
Analisis untuk Discontinued Operations:
- Pendapatan (income) untuk periode saat ini dan periode sebelumnya harus
disesuaikan dengan cara menghilangkan dampak dari discontinued operations.
- Menyesuaikan aset dan liabilitas untuk menghilangkan discontinued operations.
- Mempertahankan cumulative gain or loss from discontinued operations di bagian
ekuitas.
Accounting Changes
Perubahan akuntansi dapat dilakukan perusahaan melalui dua jenis:
- Perubahan Prinsip Akuntansi (Change in accounting principle)
Perubahan prinsip dalam kebijakan akuntansi dengan menggunakan prinsip
akuntansi yang lain. Misal: Perubahan kebijakan dari pengukuran Historical Cost
menjadi Fair Value.
Pengungkapan termasuk:
o Perubahan yang dilakukan
o Dampak dari perubahan yang dilakukan pada income saat ini dan Earnings
Per Share (EPS)
o Dampak kumulatif dari penerapan retrospektif terhadap perubahan pada
pendapatan EPS.
- Perubahan Estimasi Akuntansi (Change in accounting estimate)
Perubahan dilakukan secara prospektif yaitu perubahan diterapkan untuk periode saat
ini dan masa depan. Disamping itu, perubahan estimasi akuntansi ini harus
mengungkapkan pendapatan saat ini dan EPS.
Analisis Perubahan Akuntansi:
- Dapat mempercantik laporan keuangan, namun tidak memunculkan adanya arus kas
- Dapat lebih baik mencerminkan kenyataan ekonomi
- Dapat mencerminkan earnings management atau bahkan dapat mengindikasikan
manipulasi laporan keuangan.
- Dapat memberikan dampak untuk analisis perbandingan
- Dapat memberikan pengaruh kepada economic income dan permanent income.
Special Items
a. Asset impairments (write-downs atau write-offs)

15
Penurunan nilai aset termasuk ke dalam item yang tidak rutin karena hanya terjadi
pada saat-saat tertentu ketika manajemen melakukan pengujian impairment dan
ditemukan bahwa perlu dilakukan penurunan nilai dari aset.
Penurunan nilai aset (impairments) dilakukan karena:
- Penurunan permintaan dari output aset
- Keusangan teknologi
- Perubahan dalam strategi perusahaan
Akuntansi untuk penurunan nilai aset:
- Dilaporkan pada lower of market or cost
- Tidak ada pengungkapan mengenai penentuan jumlah penurunan nilai
- Tidak ada pengungkapan mengenai kemungkinan penurunan nilai
- Fleksibilitas dalam menentukan kapan dan berapa yang harus dihapus (write-
offs)
- Tidak ada rencana yang dibutuhkan untuk pelepasan aset

b. Restructuring charges
Biaya restrukturisasi umumnya memiliki perubahan yang besar akibat adanya
perubahan dalam strategi dan bisnis perusahaan. Seringkali biaya restrukturisasi
mengarah kepada reorganisasi bisnis seperti divestasi unit bisnis, pemutusan kontrak
perjanjian, pemberhentian produksi suatu lini produk, pemberhentian pekerja,
perubahan manajemen, dsb.
Akuntansi untuk estimasi biaya dari program restrukturisasi:
- Menentukan provisi (liabilitas) untuk biaya yang diestimasi
- Mengenakan biaya yang diestimasi terhadap pendapatan saat ini
- Biaya aktual melibatkan penyesuaian terhadap provisi apabila benar-benar
terjadi.
Analisis untuk special items:

 Analisis ini penting dan menantang karena sedikit adanya panduan dalam standar
akuntansi, makna ekonomis dari special items, dan pentingnya analisis special items
terkait frekuensi dan dampak dari pendapatan masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Analisis Aktivitas Operasi untuk Non-Recurring Items pada PT.GudangGaram Tbk.

 Extraordinary Items
Perseroan tidak memiliki transaksi atau peristiwa yang dikategorikan sebagai
extraordinary items.

16
 Discontinued Segments
Perseroan tidak melakukan pemberhentian operasi usaha, divestasi, atau transaksi
atau peristiwa yang termasuk dalam kategori discontinued segments.
 Accounting Changes
Perseroan tidak melakukan perubahan akuntansi selama periode 2015 hingga 2016.
Namun pada periode pelaporan 2014 dan 2015 terdapat revisi PSAK 1 (Revisi 2013)
terkait penyajian Pendapatan Komprehensif Lainnya yang baru diperbolehkan untuk
diterapkan per periode 2015. Dengan demikian, perubahan secara retrospektif baru
dilakukan per tahun buku 2015 dengan mencantumkan pendapatan komperehensif
lainnya ke dalam laporan laba rugi.
Dampak dari penerapan revisi standar PSAK 1 ini berdampak pada jumlah
yang dilaporkan dalam program imbalan pasti milik Perseroan.
Revisi pada PSAK 24 (revisi 2013) mengenai Imbalan Kerja yang berdampak
pada laba rugi dan penghasilan komperehensif lain tahun-tahun sebelumnya.
Setelah perubahan ini tidak ada dampak yang signifikan pada pendapatan
bersih maupun pendapatan komprehensif lainnya.
o Special Items
 Impairment of Assets
Dalam laporan keuangan perusahaan tahun buku 2015 dan 2016
tidak ada penurunan nilai pada aset yang dimiliki.
o Restructuring Charges
Perseroan tidak melakukan divestasi, perubahan manajemen yang signifikan,
atau hal-hal lain yang dapat menimbulkan biaya restrukturisasi.

2.3 Revenue Recognition


Pendapatan dapat diartikan sebagai “arus mask atau peningkatan aset
entitas atau penyelesaian kewajibannya” yang dihasilkan dari operasi perusahaan.
Sedangkan gain dapat diartikan sebagai peningkatan dalam aset bersih (ekuitas)
yang dihasilkan dari transaksi periferal atau insidentil di sebuah perusahaan.
Guidelines for Revenue Recognition
Pengakuan akrual yang tidak sesuai atas pendapatan (dan keuntungan)
dapat memiliki salah satu dari dua konsekuensi yang tidak diinginkan, yaitu:

17
1. Jika perusahaan mencatat pendapatan terlalu cepat atau terlalu lama dari yang
seharusnya, maka pendapatan ditempatkan pada periode yang salah.
2. Jika suatu perusahaan mencatat pendapatan sebelum kepastian realisasi yang
wajar, maka pendapatan dapat dicatat dalam satu periode dan kemudian
dibatalkan atau dibalik dalam periode lain — ini melebihkan penghasilan pada
periode pertama dan mengecilkan pada periode selanjutnya.
Analisis PT.GudangGaram Tbk.
Revenue Recognition
Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan PT.GudangGaram Tbk. diketahui
bahwa:
Pendapatan terdiri dari nilai wajar imbalan yang diterima atau akan
diterima untukpenjualan barang dan jasa dalam aktivitasnormal usaha
Grup. Pendapatan disajikanneto setelah dikurangi Pajak PertambahanNilai
(“PPN”), potongan penjualan, dan diskondan setelah mengeliminasi pendapatan
intrakelompok usaha.
Grup mengakui pendapatan ketika jumlah pendapatan dapat diukur
secara andal, besar kemungkinan manfaat ekonomis masa depan akan mengalir
kepada entitas dan kriteria tertentu telah dipenuhi untuk setiap aktivitas
Grup seperti dijelaskan di bawah ini. Grup menggunakan hasil historis dalam
penentuan estimasi, dengan mempertimbangkan tipe pelanggan, tipe
transaksi dan persyaratan setiap transaksi sebagai dasar estimasi.

18
Pendapatan Keuangan

Pendapatan Sewa

Beban
Beban diakui pada saat terjadinya dengan dasar akrual.

Sumber Pendapatan
Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan PT.GudangGaram Tbk.
adalah sebagai berikut:

Deferred Charges
Biaya ditangguhkan adalah biaya yang timbul yang ditangguhkan karena
diharapkan akan menguntungkan pada periode mendatang. Semakin kompleksnya
kegiatan bisnis semakin memperluas jumlah dan jenis biaya yang ditangguhkan.

Income Taxes
Income tax (pajak penghasilan) merupakan penghasilan yang dikenakan pajak,
pajak penghasilan termasuk semua pajak dalam negeri maupun luar negeri yang
19
didasarkan pada laba kena pajak. Dalam pajak penghasilan terdapat pajak
tangguhan (deffered tax), beda temporer (temporary difference), dan beda
permanen (permanent difference) dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Pajak tangguhan (deffered tax) merupakan selisih dari beban pajak (tax
expense) dengan kewajiban pajak (tax liability). Dari pajak tangguhan
tersebut kita dapat melihat apakah selisih tersebut merupakan liabilitas
pajak tangguhan (deffered tax liability) atau asset pajak tangguhan
(deffered tax asset ).
 Liabilitas pajak tangguhan (deffered tax liability) adalah jumlah pajak
penghasilan terutang pada periode masa depan akibat adanya
perbedaan temporer kena pajak.
 Asset pajak tangguhan (deffered tax asset) adalah jumlah pajak
penghasilan yang dapat dipulihkan pada periode masa depan sebagai
akibat adanya : perbedaan temporer yang boleh dikurangkan ;
akumulasi rugi pajak belum dikompensasi ; dan akumulasi kredit
pajak belum dimanfaatkan dalam hal peraturan perpajakan.
b. Beda temporer (temporary difference) dalah perbedaan antara jumlah
tercatat asset atau liabilitas pada posisi keuangan dengan dasar
pengenaan pajaknya. Perbedaan temporer dapat berupa : perbedaan
temporer kena pajak-liabilitas dan perbedaan temporer dapat
dikurangkan-aset.
c. Beda permanen (permanent difference) Terdiri dari :
 Penghasilan dikenakan pajak final
 Biaya yang tidak boleh dikurangkan, seperti : biaya entertainment
yang tidak ada bukti pendukung, sumbangan, dan biaya yang tidak
terkait untuk memperoleh, mendapatkan dan memelihara
penghasilan.
 Penghasilan bukan obyek pajak.
Berdasarkan PSAK Penghasilan pajak (income tax) berdasarkan PSAK
tercantum dalam PSAK No.46 yang mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak
penghasilan. Pernyataan ini juga mengatur pengakuan aktiva pajak tangguhan

20
(deffered tax asset) yang berasal dari sisa rugi yang dapat dikompensasi ke
tahun berikutnya.

Analisis income taxes pada PT.GudangGaram Tbk.

Dalam laporan posisi keuangan perusahaan dicantumkan bahwa


perusahaan memiliki aset pajak tangguhan sebesar $8,766,000 dan liabilitas pajak
tangguhan sebesar $612,253,000. Selanjutnya penjelasan mengenai aset pajak
tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan dirinci dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan poin 34.

2.4 Earnings per Share: Computation and Analysis


Earnings per Share (EPS) banyak digunakan dalam mengevaluasi kinerja
operasi dan profitabilitas perusahaan. Perhitungan EPS dilakukan untuk
menemukan potensi dampak dilution. Dilution adalah pengurangan EPS (atau
peningkatan rugi bersih per saham) yang dihasilkan dari efek dilutif yang

21
dikonversi menjadi common stock, exercise options, dan warrant, atau penerbitan
saham tambahan sesuai dengan kontrak.

Dual presentation of basic EPS and diluted EPS


Simple Capital Structure
Terdiri dari common stock dan nonconvertible senior securities
Net income – Preferred dividends
Basic earnings per share =
Weighted-average number of common shares outstanding

Complex Capital Structure


Suatu perusahaan dipandang memiliki struktur modal yang kompleks
apabila memiliki outstanding potentially dilutive securities seperti convertible
securities, options, warrants, dan saham serupa lainnya.

Diluted EPS = Basic EPS - EPS impact of dilutive options and warrants - EPS impact dilutive convertibles

Perusahaan tidak perlu melaporkan diluted earnings per share ketika


potential common stock bersifat antidilutive. Antidilutive securities adalah
sekuritas yang justru meningkatkan EPS saat dikonversi.
Perusahaan dengan complex capital structure harus melaporkan basic EPS
dan diluted EPS. Diluted EPS dihitung dengan asumsi bahwa convertible
dikonversikan dan exercise options sedini mungkin setelah outstanding.
Apabila preferred shares dikonversikan ke common, preferred dividends
dihapus, sedangkan apabila bonds dikonversikan, maka interest expense harus
ditarik kembali dan menambahkan the after-tax amount of the interest accrued.
Net shares issued menambahkan penyebut.

22
Analisis PT. GudangGaram Tbk.

Berdasarkan laporan keuangan PT Gudang Garam Tbk tahun 2017, dapat


disimpulkan bahwa perusahaan tersebut memiliki complex capital structure
dengan adanya pelaporan atas basic EPS dan diluted EPS. Perusahaan memiliki
diluted EPS pada tahun 2016 dengan adanya kenaikan EPS sebesar 0,043, tetapi
perusahaan tidak memiliki potential dilutive ordinary shares pada tahun 2017.

23
BAB III
KESIMPULAN
Analisis pada PT.GudangGaram Tbk. sesuai dengan analisis pada masing-masing
poin yang disesuaikan kembali dengan topik.

Dimulai dari income measurement dan menunjukkan bahwa apa-apa saja pendapatan
yang dimiliki oleh PT.GudangGaram Tbk. dan bagaimana pengukurannya. Kemudian,
nonrecurring items ada untuk bagian accounting changes karena kebetulan untuk bagian lain
PT.GudangGaram Tbk. tidak memilikinya. Untuk revenue recognition juga sudah dicatat
dengan sebagaimana mestinya. Begitupun dengan perlakuan pada employee benefits sudah
dilaksanakan dengan sebagaimana seharusnya.

24
DAFTAR PUSTAKA

K. R. Subramnyam, J. J. (2009). Financial Statement Analysis. New York: Mc Graw Hill


Irwin.
PT.GudangGaram Tbk.. (2017). Annual Report. Jakarta: Bursa Efek Indonesia.

25