Anda di halaman 1dari 46

PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS KECENDERUNGAN DAN KARAKTERISTIK


KEJADIAN KANKER PADA PASIEN RAWAT INAP
DI RSUP DR WAHIDIN SUDIROHUSODO
MAKASSAR

AMIN RAHMAN HARDI


K111 07 156

JURUSAN BIOSTATISTIK/KKB
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN
DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 6
C. Tujuan 7
D. Manfaat 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Umum Tentang Kanker 10
B. Tinjauan Umum Tentang Karakteristik 18
C. Tinjauan Umum Tentang Peramalan 21

BAB III KERANGKA KONSEP


A. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti 35
B. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif 36

BAB IV METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian 40
B. Lokasi Penelitian 40
C. Populasi dan Sampel 40
D. Cara Pengumpulan Data 41
E. Pengolahan Data 42
F. Penyajian Data 42

DAFTAR PUSTAKA 43
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi

masalah kesehatan global dan merupakan penyakit yang ditakuti karena

keganasannya serta memerlukan pembiayaan yang tinggi untuk

penanggulangannya tanpa harapan kesembuhan yang berarti. Penyakit ini sering

ditemukan pada stadium lanjut dengan akibat fatal.

Hingga saat ini kanker masih menjadi penyakit yang sangat mematikan di

dunia dengan jumlah penderita yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ahli

onkologi radiasi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengemukakan

jumlah pasien kanker terus bertambah. Hal ini disebabkan diagnosa yang lebih

baik, pasien yang lebih mengerti sehingga dokter dapat mendeteksi penyakit ini

sejak dini, dan faktor lain yang semakin kompleks (Setiawan 2002 dalam Purba

2004). Selain itu, kanker akan jadi masalah seiring dengan pergeseran pola

penyakit menular ke tidak menular (Elisabeth Surbakti, 2007)

Menurut World Health Organization (WHO), setiap tahun jumlah

penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang (Yayasan Kanker Indonesia,

2008). Pada tahun 2008 kanker menjadi penyebab utama kematian di seluruh

dunia dengan perkiraan 7,6 juta kematian atau sekitar 13% dari semua kematian

dimana dalam 100.000 populasi terdapat kematian sebesar 130 orang (WHO,

2008)

1
Kanker akan menjadi masalah kesehatan yang sangat penting pada

beberapa dekade ke depan (Boffena & Parkin, 1994). WHO memprediksikan

bahwa pada tahun 2015 kematian akibat kanker diseluruh dunia akan terus

meningkat dengan estimasi 9 juta orang setiap tahun dan pada tahun 2020

diperkirakan akan ada 15 juta kasus baru kanker dengan angka kematian

mencapai 10 juta kasus. Bahkan kematian akibat kanker di seluruh dunia

diproyeksikan akan terus meningkat menjadi lebih dari 11 juta pada tahun 2030

(WHO, 2008).

Pada tahun 2002, dari 4,7 juta kasus baru kanker, 39 % kasus baru

terdiagnosa pada 3.2 miliyar orang yang tinggal di negara-negara berkembang di

bagian Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara. Di wilayah Regional Asia

Tenggara (SEARO) angka kematian akibat kanker yaitu 107 per 100.000

populasi sedangkan di negara maju angka kematian akibat kanker yaitu 135 per

100.000 populasi. Lebih dari 70% kematian akibat kanker terjadi di negara

berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2004). Indonesia yang notabene

termasuk salah satu negara berkembang di Asia, diperkirakan terdapat 100

penderita kanker dari 100.000 penduduk. Bahkan tiap tahun, prevalensi penyakit

ini cenderung meningkat (Bustan, 2007)

Kanker, sebagai penyebab kematian, peringkatnya meningkat dari posisi

ke-8 pada tahun 1989 menjadi peringkat ke-6 pada tahun 1993 (Purba 2004).

Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, angka

proporsi penyebab kematian karena kanker di Indonesia yaitu 1.3% pada tahun

2
1972, menjadi 3.4% pada tahun 1980, 4.3% pada tahun 1986, dan 3.9% pada

tahun 1992 (Oemiati 1999 dalam Purba 2004).

Data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) 2007,

menyebutkan kanker menjadi penyebab kematian ke-5 di Indonesia. Hal ini

sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, dimana

Proportional Mortality Ratio (PMR) akibat kanker yaitu 5,7% yang menjadi

penyebab kematian ketujuh pada pola penyebab kematian semua kelompok umur

setelah penyakit stroke, tuberkulosis, hipertensi, perinatal, dan diabetes melitus.

Berdasarkan laporan Ditjen Bina Yanmedik (2009), kanker merupakan salah satu

dari sepuluh penyakit utama penyebab kematian di Rumah Sakit di Indonesia

dengan Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2007 sebesar 4,82% dan pada

tahun 2008 sebesar 4,70%.

Kanker dapat menimpa semua orang, pada setiap bagian tubuh dan pada

semua golong umur (YKI, 2008). Diperkirakan ada lebih dari 100 jenis kanker

yang dapat menyerang tubuh manusia, namun yang paling umum diderita oleh

penduduk dunia berdasarkan frekuensi ada sekitar 25 jenis kanker (International

Agency For Research On Cancer (IARC), 2008). Adapun kanker yang dimaksud

adalah sebagai berikut: kanker bibir, kanker nasofaring, kanker faring lain,

kanker esofagus, kanker perut, kanker kolerektum, kanker hati, kanker kandung

empedu, kanker pankreas, kanker laring, kanker paru, kanker kulit, kanker

payudara, kanker serviks uteri, kanker korpus uteri, kanker ovarium, kanker

prostat, kanker testis, kanker ginjal, kanker kandung kemih, kanker otak, kanker

3
gondok, kanker hodgkin, kanker limfoma, kanker myeloma, dan kanker

leukemia. Di Indonesia, ada 10 jenis kanker umum (gabungan pria dan wanita)

yang sering ditemukan, yakni leher rahim, payudara, hati, paru, kulit, nasofaring,

kelenjar getah bening, leukemia, usus besar dan yang lainnya.

Berdasarkan laporan GLOBOCAN 2008 (IARC), data terakhir angka

kematian kanker di dunia berturut-turut diduduki oleh: kanker paru (1.37 juta

kasus), kanker perut (0.73 juta kasus), kanker hati (0.69 juta kasus), kanker

rektum (0.61 juta kasus), kanker payudara (0.46 juta kasus), kanker esofagus

(0.41 juta kasus), kanker serviks (0.27 kasus), kanker prostat (0.26 juta kasus),

dan kanker kandung kemih (0.15 juta kasus). Angka-angka kasus tiap kanker

telah mengalami peningkatan yang tajam bila dibandingkan dengan tahun

sebelumnya.

Di seluruh dunia, 5 jenis kanker yang membunuh laki-laki adalah paru-

paru, lambung, hati, usus dan esophagus. Sementara, 5 jenis yang paling umum

kanker bahwa perempuan membunuh adalah payudara, paru-paru, lambung,

kolorektal dan serviks (WHO).

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), tercatat PMR

kanker semakin meningkat, dari 4,8% pada tahun 1992 menjadi 5% pada tahun

1995 dan meningkat lagi menjadi 6% pada tahun 2001. Survei Kanker Global

2002 di Indonesia menunjukkan insiden kanker paru mencapai 28 per 100.000

penduduk, kanker payudara 26 per 100.000 penduduk, kanker colorectum

4
23 per 100.000 penduduk, kanker leher rahim 16 per 100.000 penduduk dan

kanker hati 13 per 100.000 penduduk.

Hasil pengambilan data awal di RSU dr. Wahidin Sudirohusodo,

ditemukan terdapat 46 jenis kanker terdiagnosa pada 1573 pasien. 20 jenis

kanker dengan frekuensi terbanyak tahun 2010 yaitu kanker payudara, leukimia,

kanker serviks uterus, limfoma, kanker ovarium, kanker nasofaring, kanker hati,

kanker rektum & anus, kanker prostat, kanker bibir, rongga mulut, kelenjar liur,

kanker jaringan ikat dan jaringan lunak, kanker kelenjar tiroid, kanker otak,

kanker bronkus dan paru, kanker ginjal, kanker kolon, kanker kandung kemih,

kanker korpus uteri, kanker mata dan hodgkin.

Ada variasi yang mencolok dalam risiko kanker yang berbeda

berdasarkan wilayah geografis. Sebagian besar variasi internasional karena

paparan faktor risiko yang diketahui atau diduga berkaitan dengan gaya hidup

atau lingkungan, dan memberikan tantangan yang jelas untuk pencegahan.

Gambaran umum masalah penanggulangan kanker di Indonesia sangat

kompleks. Mulai dari belum terdapatnya kebijaksanaan kanker secara nasional;

koordinasi dalam penanggulangan penyakit kanker yang masing kurang serta

sistem pencatatan atau registry yang belum memadai (Burhan, 2004). Terdapat

beberapa cara pencatatan atau pengumpulan data yakni laboratory based

(berdasar laboratorium), hospital based (berdasarkan rumah sakit) dan

population based (berdasar penduduk). Data yang himpun berdasarkan catatan

medik rumah sakit masih sulit untuk dihimpun karena adanya hambatan baik

5
dana, waktu, maupun tenaga sehingga belum mampu untuk memisahkan data

kanker secara sempurna (Miranti, 1997).

Menurut Parkin (2008, hal 607), penelitian deskriptif menggunakan Commented [TN1]: Sebaiknya diseragamkan, apakah semua
pakai hal atau semua tidak pake hal. Sesuaikan dengan aturan
pembuatan skripsi yang berlaku.
informasi dari sistem pencatatan ideal digunakan untuk menguji perbedaan

insiden kanker tersebut, berdasakan variabel yang terkait dengan karakteristik

epidemiologi yang meliputi variabel person (status, jenis kelamin, etnis dan

status sosial); time dan place (tempat lahir dan domisili).

Penelitian dengan rancangan studi deskriptif untuk menguji perbedaan

insiden kanker ataupun untuk melihat karakteristik pasien kanker telah banyak

dilakukan baik itu ditingkat internasional maupun tingkat lokal. Di Indonesia,

rata-rata penelitian yang ada terfokus pada kanker secara spesifik. Masih jarang

penelitian yang melihat kanker secara umum. Commented [TN2]: Kalimat ini tidak berdasar

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti mencoba untuk melakukan

penelitian di RSUD dr Wahidin Sudirohusodo untuk manganalisis

kecenderungna dan karaktersitik kejadian kanker secara umum pada pasien rawat

inap berdasar variabel orang, waktu dan tempat..

B. Perumusan Masalah Commented [TN3]: Bisa dalam bentuk pertanyaan penelitian

Insiden penyakit kanker dan mortalitas yang berkaitan dengannya terus

meningkat. Berbagai studi yang berbasiskan populasi dan rumah sakit telah

dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik dan kecenderungan penyakit

kanker secara spesifik berdasarkan jenisnya. Penelitian untuk meneliti

6
karakteristik kanker secara umum belum ada padahal pemahaman akan hal ini

sangat penting. Dengan demikian, masalah penelitian ini adalah untuk

menganalisis kecenderungan dan karakteristik kejadian penyakit kanker secara

umum tahun 2006-2010.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui kecenderungan kejadian kanker dalam kurun waktu 2006

–2010 dan untuk menggambarkan karakteristik penderita kanker yang

dirawat inap di RSUD Wahiddin Sudirohusodo tahun 2008 – 2010.

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis kecenderungan kejadian kanker secara umum dari periode

tahun 2006 – 2010 di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

b. Mengetahui kecenderungan kejadian masing-masing 18 jenis kanker

berdasarkan jenisnya (kanker payudara, kanker ganas ovarium, kanker

limfoma, kanker nasofaring, kanker hati, kanker rektum dan anus,

kanker plasenta, kanker bibir, kanker kelenjar, kanker bronkus dan paru,

kanker kandung kemih, kanker mata, kanker kelenjar tiroid, kanker

jaringan ikat, kanker korpus uteri, kanker otak, kanker prostat, dan

kanker tulang) pada tahun 2006-2010 di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

c. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan

kelompok umur di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

7
d. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan jenis

kelamin di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

e. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan kelas

sosial di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

f. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan

pekerjaan di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

g. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan golongan

etnik di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

h. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan status

perkawinan di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

i. Mengetahui distribusi prevalensi penderita kanker berdasarkan tempat

tinggal di RSUD Wahiddin Sudirohusodo.

j. Mengetahui rata-rata lama rawat penderita kanker di RSUD Wahiddin

Sudirohusodo.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat tehadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu di Bagian

Biostatistik/KKB.

2. Sebagai masukan dan informasi dari program kesehatan dalam rangka

mencegah peningkatan kejadian kanker di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo.

3. Sebagai bahan masukan dan sumbangan ilmiah dan sebagai informasi

tambahan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.

8
4. Sebagai sarana meningkatkan pengetahuan dan wawasan penulis dalam

meneliti dan menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Fakultas

Kesehatan Masyarakat.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Kanker

1. Definisi Kanker

Secara epistemologis kata kanker berasal dari bahasa Latin, karkinos,

yang berarti udang karang/ kepiting. Hippocrates menjelaskan bahwa kanker

memiliki tubuh sentral dengan kecenderungan untuk menjangkau dan

menyebar seperti layaknya "lengan kepiting". Kanker juga biasa disebut

sebagai neoplasma, yang diturunkan dari kata neoplasia (neo=baru,

displasia=jaringan atau sel) yang berarti pertumbuhan sel atau jaringan baru

didalam tubuh.

Istilah lain untuk kanker adalah "tumor ganas". Tumor secara harfiah

berarti "bengkak" atau "massa". Dalam hal ini, kanker mengacu pada massa

sel-sel baru non-struktural yang tidak memiliki fungsi fisiologis dalam tubuh.

Dalam definisi yang lebih sederhana kanker merupakan suatu penyakit yang

ditandai oleh pertumbuhan yang tidak terkendali dan penyebaran sel-sel

abnormal (American Cancer Society). Dalam perkembangannya, sel-sel

abnormal ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan jida dibiarkan dapat

berujung pada kematian (Yayasan Kanker Indonesia, 2008).

10
2. Etiologi Kanker

Penyebab primer untuk terjadinya kanker pada manusia belum

diketahui. Tahun 1775 Persival Pott, seorang ahli bedah dari Inggris

menemukan bahwa kanker scrotum banyak dijumpai pada orang yang bekerja

di pabrik yang memakai cerobong asap. Setelah dipelajari, ternyata

hydrocarbon yang berhasil diisolasi dari batubara merupakan Carcinogenic

agent. Sejak itu zat kimia yang menyebabkan kanker pada hewan percobaan

disebut karsinogen. Berbagai faktor penyebabnya sebagai berikut :

a. Zat-Zat Karsinogenik

1) Karsinogenik Kimia

Aromatik amine dikenal sebagai penyebab kanker traktus

urinarius. Benzene dianggap berhubungan dengan terjadinya

leukemia akut. Jelaga batubara, anthracene, creosota dihubungkan

dengan kanker kulit, larynx dan bronkhus. Asbestos sering

menyebabkan mesothelioma pada pekerja tambang dan pekerja kapal.

2) Karsinogenik Fisik

Karsinogenik fisik yang utama adalah radiasi ion. Pada pekerja

yang melakukan pengecatan radium pada lempeng arloji dijumpai

adanya perkembangan ke arah kanker tulang. Kanker tiroid banyak

dihubungkan dengan adanya irradiasi leher pada masa anak-anak.

Selain itu, bagi korban yang berhasil hidup akibat meledaknya bom

atom memberi gejala ke arah leukemia. Sinar ultraviolet dianggap

11
sebagai penyebab meningginya insidensi kanker kulit pada pelaut

atau petani, yang biasanya berhubungan dengan sinar matahari secara

berlebihan. Pekerja dibagian radiologi yang sering terkena X-ray

mempunyai kecenderungan untuk mendapat kanker kulit. Contoh lain

dari karsinogen fisik adalah iritasi mekanik, misalnya iritasikronis

yang dihubungkan dengan perkembangan kanker seperti degenerasi

ganas dari scar luka bakar yang lama yang disebut Marjolin`s ulcer.

3) Drug- Induced Cancer

Penggunaan alkilator seperti melphalan dan cyclophosphamide

diketahui menyebabkan leukemia dan kanker kandung kemih.

Estrogen dianggap sebagai penyebab adenokarsinoma vagina, kanker

endometrium. Imunosupresive seperti azathioprine dihubungkan

dengan limfoma, kanker kulit dan kanker ganas jaringan lunak.

b. Virus-Virus Onkogenik

Dikenal dua jenis virus yang dapat menyebabkan keganasan yaitu:

RNA virus dan DNA virus.

1) RNA virus menyebabkan leukemia, sarkoma dan urinari papiloma

serta kanker payudara.

2) DNA virus dianggap sebagai penyebab kanker: Eipstein Barr virus,

papilloma virus, Hepatitis B virus. Eipstein Barr virus (EBV)

dianggap sebagai penyebab dari kanker nasofaring. Hepatitis B virus

berhubungan dengan hepatocelluler carcinoma primer.

12
Imunodefisiensi kongenital dan terapi imunosupresif pada

keganasan dianggap sebagai induksi keganasan, khususnya limfoma dan

leukemia.

Teori bagaimana terjadi perubahan dan differensiasi karena

pengaruh virus onkogenik, diterangkan sebagai berikut : Sel-sel onkogen

adalah gen normal yang mengatur pertumbuhan dan diferensial,

perubahan pada sel onkogenik itu sendiri atau perubahan terhadap

pengaturan, menghasilkan pertumbuhan yang normal. Diduga

transformasi virus disekitar sel onkogen menyebabkan perubahan

molekul hingga terjadiperubahan pertumbuhan. Misalnya, P21 protein,

protein ini terlibat pada pengaturan proliferasi sel.

Beberapa karsinogen dapat merubah P21 protein ini hingga terjadi

perubahan proliferasi sel tersebut.

1) Faktor Herediter

Pada penelitian hewan percobaan, factor genetik juga dianggap

penting sebagai penyebab keganasan setelah faktor kimia dan faktor

fisik. Misalnya, perkembangan kanker pada manusia ditunjukkan

ketika tipe kanker yang sama terdapat pada kembar identik, juga

ketika kanker colon berkembang pada anggota keluarga dengan

riwayat poliposis pada keluarga tersebut.

Kanker payudara ditemukan tiga kali lebih banyak pada

seorang anak perempuan dari seorang ibu yang menderita kanker

13
payudara, dan ternyata pada anak perempuan tersebut akan timbul

kanker payudara pada usia yang lebih muda daripada ibunya.

Beberapa kanker diturunkan secara autosomal dominant seperti

neuroblastoma rectum, multiple polyposis colon, kanker tiroid dan

ada yang diturunkan secara autosomal recessive seperti xeroderma

pigmentosa. Namun sulit ditentukan apakah kanker terjadi karena

faktor herediter sendiri atau karena kombinasi faktor-faktor lain

seperti lingkungan, kebiasaan hidup dan makanan.

2) Lingkungan dan Karsinogen Industri

Beberapa jenis hasil industri serta sisa pembakaran dapat

bersifat karsinogenik. Selain itu kebiasaan tertentu dapat

mengakibatkan suatu keganasan, misalnya, pemakai tembakau

cenderung mendapat kanker paru sedangkan pemakai alkohol

cenderung mendapat kanker traktus digestivus.

Pekerja industri perminyakan yang banyak berhubungan

dengan polisiklik hidrokarbon dijumpai banyak menderita kanker

kulit. Dengan meningkatnya perhatian terhadap faktor lingkungan

seperti polusi udara, kontaminasi air, proses makanan termasuk

pemakaian nitrat, nitrosamine untuk pengawetan daging serta

sacharine, diduga mempunyai sifat karsinogen yang potensial. Selain

hal tersebut diatas, faktor migrasi penduduk sering menyebabkan

pergeseran atau perubahan pola kanker di suatu daerah. Sebagai

14
contoh di Jepang insidensi kanker gaster tinggi, sedangkan insidensi

kanker paru rendah. Namun karena ada migrasi dari generasi kedua

ke Amerika, maka terjadi penurunan kasus kanker lambung dan

peninggian kanker paru.

3) Faktor Sosio Ekonomi

Walaupun belum diketahui dengan pasti, faktor sosial ekonomi

ternyata tampak mempengaruhi insidensi kanker. Kanker gaster dan

cervix dijumpai lebih tinggi pada golongan sosio ekonomi rendah,

sekitar tiga sampai empat kali lebih banyak daripada golongan sosio

ekonomi menengah dan tinggi.Pada literatur ada juga yang disebut

dengan keadaan pre kanker.

Beberapa keadaan klinis seperti leukoplakia, keratosisactin,

polyp colon, polyp rectum, neurofibroma, dysplasia cervix, dysplasia

mucosa bronchus dan colitis ulcerativa kronis dianggap sebagai

keadaan prekanker, karena pada keadaan tersebut biasanya diikuti

dengan timbulnya kanker sehingga menjadi perhatian bagi para

dokter untuk mengawasi keadaan ini dengan melakukan pemantauan

terhadap penderita tersebut.

Kelihatannya terjadinya kanker merupakan hasil dari interaksi virus

onkogenik dengan karsinogen kimia atau karsinogen fisik dan dapat juga

akibat sifat sinergistik dari dua jenis karsinogen kimia atau kombinasi

15
karsinogen kimia dengan faktor herediter. Terjadinya satu kanker dengan

etiologi multifaktor kemungkinan misalnya pada kanker paru. Merokok

menyebabkan iritasi dengan latar belakang faktor genetik yang spesifik

(karena tidak semua perokok menjadi penderita kanker paru) dan faktor

hormonal (laki-laki lebih banyak dari wanita) disertai virus dan masa laten

antara mulai merokok dengan insiden yang tinggi pada usia 35 tahun. Dalam

hal ini perlu pemikiran yang integratif terhadap faktor-faktor terjadinya suatu

kanker ganas.

3. Klasifikasi Kanker

Kanker bisa diklasifikasikan dengan dua cara; yakni pertama

berdasarkan pada jenis jaringan dimana kanker berasal (histologi) dan kedua

berdasarkan lokasi tubuh dimana sel kanker pertama kali berkembang..

Berdasarkan sudut pandang histologi, kanker dikelompokan dalam enam

kategori utama:

a. Karsinoma

Karsinoma mengarah kepada neoplasma ganas yang berasal dari

jaringan epitel. Menurut laporan, hampir 80-90% kasus kanker termasuk

dalam kategori karsinoma ini. Sebagian besar karsinoma mempengaruhi

organ atau kelenjar yang mampu bersekresi, seperti payudara, paru-paru,

usus besar, prostat dan kandung kemih.

16
b. Sarkoma

Sarkoma merujuk pada kanker yang berasal dari jaringan ikat

seperti tulang, tendon, tulang rawan, otot dan lemak. Biasanya sarkoma

menyerupai jaringan tempatnya tumbuh dan terjadi pada usia dewasa

muda. Contoh:

1) Osteosarcoma or osteogenic sarcoma (bone)

2) Chondrosarcoma (cartilage)

3) Leiomyosarcoma (smooth muscle)

4) Rhabdomyosarcoma (skeletal muscle)

c. Myeloma

Myeloma adalah kanker yang berasal dari sel-sel plasma sum-sum

tulang. Sel plasma ini menghasilkan beberapa protein yang ada didalam

darah.

d. Leukimia

Leukimia adalah kanker dari sum-sum tulang (bone marrowa) yang

merupakan tempat produksi darah. Leukima biasanya mempengaruhi sel

darah merah dan menyebabkan pembekuan darah yang buruk, sehingga

terjadi anemia.

e. Limfoma

Limfoma berkembang di kelenjar limfa yang berfungsi untuk

memurnikan cairan tubuh dan menghasilkan limfosit. Limfoma terbagi

17
menjadi dua jenis, limfoma Hodgkin dan limfoma Non-Hodgkin.

Perbedaan kedua limfoma ini ada atau tidaknya sel Reed-Sternberg.

f. Tipe Campuran

Komponen jenis dapat dalam satu kategori atau dari kategori yang

berbeda. Beberapa contoh adalah:

1) adenosquamous carcinoma

2) mixed mesodermal tumor

3) carcinosarcoma

4) teratocarcinoma

B. Tinjauan Umum tentang Karaktersitik

1. Orang (Person)

a. Usia

Usia merupakan variabel yang selalu harus diperhitungkan dalam

studi epidemiologi. Perbedaaan angka penyakit yang ada antar kelompok

dalam populasi belum dapat diinterpretasikan untuk memperhitungkan

relevansi kemungkinan adanya perbedaan usia antar kelompok-kelompok

(Rajab, 2009). Hampir 11 juta warga amerika dewasa yang berusia 20

tahun memiliki riwayat kanker. .Setiap tahun 0,65% orang dewasa berusia

lebih dari 20 tahun, diperkirakan terdiagnosa kanker sebesar 1,37 juta

orang. Menurut laporan, kanker yang paling sering terdiagnosa untuk pria

adalah adalah kanker prostat 31% dan kanker payudara pada wanita 32%

18
dari kasus baru. Pada semua golongan usia, terdapat 550.000 ribu orang

meninggal karena kanker.

Dengan menghitung jumlah kasus penyakit yang ada pada suatu

kelompok usia tertentu, lalu membaginya jumlah anggota populasi pada

kelompok usia yang sama, akan diperoleh persentase penyakit khas-usia

(age-specific) untuk kelompok usia tersebut.

b. Jenis Kelamin Commented [TN4]: Bagaimana hubungannya antara jenis


kelamin dan penyakit kanker?

Seperti halnya usia, jenis kelamin pun juga merupakan variabel yang

selalu harus diperhitungkan dalam studi epidemiologi. Dalam kombinasi

dengan faktor usia, harus diingat bahwa distribusi anggota populasi pria

dan wanita di berbagai kelompok usia dan populasi tidak selalu sama.

c. Golongan etnik Commented [TN5]: Apa hubungannya dengan penyakit


kanker?

Perbedaan beban kanker diantara ras dan etnis minoritas sebagian

besar menggambarkan perbedaan pelayanan kesehatan yang diterima,

baik itu dari segi pencegahan kanker, deteksi dini maupun dari segi

pengobatan high-quality. Warga dengan etnis Afrik-Amerika lebih

banyak meninggal karena kanker dibanding dengan etnis lainnya. Angka

mortalitas diantara etnis Afrika-Amerika pria 34% lebih tinggi

dibandingkan dengan etnis pria lainnya, semerntara mortalitas wanita

etnis Afrika-Amerika, 17% lebih tinggi dibanding dengan wanita etnis

lainnya (Cancer Facts & Figures, 2010)

19
d. Faktor-faktor lain

Faktor-faktor pejamu, seperti status kesehatan/ kesehatan umum-

termasuk status nutrisi, budaya dan variabel-variabel sosial ekonomi,

status perkawinan, faktor-faktor psikologis, dan faktor-faktor

kerentanan-menambah informasi tubuh dan dapat membantu

menentukan hipotesis penyebab kanker yang spesifik.

2. Tempat Commented [TN6]: Apa hubungannya dengan penyakit


kanker?

Frekuensi penyakit di berbagai wilayah di dunia menunjukan variasi yang

besar dalam distribusi geografinya, walaupun begitu perbadingan tingkat

morbiditas dan mortalitas dengan menggunakan data pelaporan rutin untuk

berbagi wilayah di dunia masih terkendala antara lain oleh adanya perbedaan

dalam standar pelayanan kesehatan, diagnosis, dan pelalporan penyakit atau

kematian yang digunakan.

Beberapa penyakit mungkin didapatkan dalam frekuensi yang jauh lebih

tinggi hanya untuk wilayah tertentu, bahkan ada penyakit yang hanya

didapatkan di suatu wilayah tertentu ((Rajab, 2009)). Pada tahun 2002, 4.2

juta kasus kanker baru terdiagnosa pada 3.2 milyar orang yang tinggal di 15

negara berkembang di Asia: Japan, Taiwan, Singapura, Korea Selatan,

Malaysia, Thailand, Cina, Filipina, Sri Lanka, Vietnam, Indonesia, Mongolia,

India, Laos, dan Kamboja.

20
3. Waktu Commented [TN7]: Apa hubungannya dengan penyakit
kanker?

Data runtun-waktu (time-series) dapat menunjukan adanya

kecenderungan tertentu (peningkatan atau penurunan tingkat morbiditas atau

mortalitas) untuk penurunan tingkat morbiditas atau mortalitas) untuk

berbagai penyakit ataupun kematian oleh sebab tertentu. Kecenderungan

demikian sering terjadi dalam rentang waktu puluhan tahun, sehingga tidak

disadari oleh populasi yang bersangkutan. Data runtun waktu juga sangat

berguna untuk menentukan kemungkinan terjadinya wabah.

C. Tinjauan Umum tentang Peramalan

Peramalan (forecasting) adalah memperkirakan besarnya atau jumlah

sesuatu pada waktu yang akan datang berdasarkan data pada masa lampau yang

dianalisis secara ilmiah khususnya menggunakan metode statistika (Sudjana,

1989). Peramalan juga didefinisikan sebagai studi terhadap data historis dengan

maksud hubungan, kecenderungan dan pola yang sistematis. Pola atau hubungan

tersebut harus diidentifikasi dengan benar dan diproyeksikan untuk menghasilkan

ramalan. Bila pola atau hubungan tersebut tidak ada atau tidak dijumpai,

peramalan akan sulit dilakukan. (Sugiarto dan Harjono, 2000)

1. Kegunaan Peramalan

Peramalan digunakan untuk menetapkan kapan suatu peristiwa akan terjadi

atau timbul, sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan. Hal ini berlaku

jika waktu tenggang merupakan alasan utama bagi perencanaan dan

21
peramalan. Peramalan merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan

yang efektif dan efisien (Makridakis dkk, 1993)

2. Metode peramalan

Metode peramalan sangat berguna karena akan membantu dalam mengadakan

pendekatan analisa terhadap pola dari data yang lalu, sehingga dapat

memberikan tingkat keyakinan yang lebih besar atas ketepatan hasil ramalan

yang dibuat. Metode peramalan digunakan berdasarkan data yang relevan

pada masa lalu, sehingga bisa diperkirakan secara kuantitatif apa yang akan

terjadi pada masa depan, berdasarkan data yang relevan pada masa lalu.

Menurut Sofjan Assauri (1984) pada dasarnya metode peramalan kuantitatif

ini dapat dibedakan atas :

a. Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisis pola

hubungan antara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel lain

yang mempengaruhinya bukan waktu, yang disebut metode korelasi atau

sebab akibat (causal methods). Metode ini terdiri dari :

1) Metode regresi dan korelasi

2) Metode ekonometri untuk peramalan jangka panjang dan jangka

pendek.

3) Metode input output untuk proyeksi trend ekonomi jangka panjang

b. Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola

hubungan antara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waktu

yang merupakan deret waktu dari data berkala (time series).

22
Dalam time series (Y) terdapat beberapa komponen yaitu trend jangka

panjang (trend seculer), variasi siklis (cyclical variation), variasi musiman

(seasonal variation), dan gerakan tidak beraturan (variasi

residu/irregular).

Secara simbolis dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :

𝑌 = 𝑇 .𝐶 .𝑆 .𝐼

Dimana : Y = Time series

T = Trend jangka panjang (trend seculer)

C = Variasi musiman (seasonal variation)

I = Gerakan tidak beraturan (variasi residu/irregular)

1) Trend jangka panjang (trend seculer)

Trend jangka panjang (trend seculer), disimbolkan T, merupakan

gerakan teratur atau gerakan rata-rata dalam jangka waktu yang

panjang. Trend sekuler memiliki bentuk yang beraneka ragam, dapat

berupa garis meningkat, menurun, horizontal atau naik turun secara

halus mirip S yang memanjang. Bentuk tersebut menunjukkan arah

perkembangan secara umum baik kecenderungan yang naik ataupun

turun dan arah gerakan itu bertahan dalam jangka waktu yang lama.

2) Variasi siklis (cyclical variation)

23
Variasi siklis, disimbolkan C, merupakan jangka panjang di sekitar

garis trend. Gerakan siklis ini bisa terulang setelah jangka waktu

tertentu, tetapi bisa juga tidak terulang dalam jangka waktu yang sama.

Gerakan siklis menunjukkan jangka waktu terjadinya kemakmuran,

kemunduran, dan pemulihan.

3) Variasi musiman (seasonal variation)

Variasi musiman, disimbolkan S, merupakan variasi yang berulang-

ulang atau pola musiman yang menunjukkan puncak dan lembah

seperti pada siklis dengan periode yang pendek yaitu satu tahun atau

kurang. Pada umumnya gerakan musiman terjadi pada data bulanan

yang dikumpulkan dari tahun ke tahun, akan tetapi juga berlaku bagi

data harian, mingguan atau satuan waktu yang lebih kecil.

Pola variasi musim dinyatakan dalam bentuk angka indeks yang

disebut indeks musiman. Indeks musiman dapat diketahui dengan

metode rasio tehadap trend. Metode rasio terhadap trend menggunakan

nilai-nilai trend sebagai dasar perhitungan.

4) Gerakan tidak beraturan (variasi residu/irregular)

Gerakan tidak teratur, disimbolkan I, merupakan gerakan yang

berbeda-beda dalam waktu singkat, tidak diikuti pola yang teratur,

serta tidak dapat diperkirakan. Gerakan timbul dari kejadian-kejadian

yang terjadi secara mendadak atau tidak diperhitungkan sebelumnya.

24
Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola

hubungan antara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waktu, terdiri

dari (Gitusudarmo, 2001) :

1. Metode Smoothing

Metode yang mencakup data yang lewat (past data), metode rata-rata

bergerak (moving average) dan metode exponential smoothing. Ini merupakan

metode yang dipergunakan untuk melicinkan (smoothing) dang mengurangi

fluktuasi ramalan, biasanya digunakan untuk peramalan jangka pendek.

Sedangkan untuk peramalan jangka panjang sangat kurang ketepatannya. Data

yang dibutuhkan untuk penggunaan metode peramalan ini minimum selama

dua tahun.

a. Moving Averages

Dengan moving average (rata-rata bergerak) ini kita melakukan peramalan

dengan mengambil sekelompok nilai pengamatan, mencari rata-ratanya

lalu menggunakan rata-rata tersebut sebagai ramalan untuk periode

berikutnya.

1) Single Moving Average

Menentukan ramalan dengan metode single moving average cukup

mudah dilakukan. Persamaan matematis dari moving average adalah :

25
𝑋𝑡 + 𝑋𝑡−1 + 𝑋𝑡−2 + ⋯ + 𝑋𝑡−𝑛+1
𝐹𝑡+1 =
𝑁
Ft+1 = ramalan untuk period eke t+1

Xt = nilai riil period eke t

n = jangka waktu rata-rata bergerak

2) Double Moving Average

Menentukan ramalan dengan metode double moving average sedikit

lebih sulit dibandingkan dengan metode single moving average. Ada

beberapa langkah dalam menentukan ramalan dengan metode double

moving average, yakni :

a) Menghitung moving average rata-rata bergerak pertama, diberi

symbol 𝑠𝐼𝑡 . Ini dihitung dari historis yang ada. Hasilnya diletakkan

pada periode terakhir moving average pertama.

b) Menghitung moving average rata-rata bergerak kedua, diberi

symbol 𝑠𝐼𝐼
𝑡 . Ini dihitung dari rata-rata bergerak pertama. Hasilnya

diletakkan pada periode terakhir moving average kedua.

c) Menentukan besarnya nilai at (konstanta)

𝑎𝑡 = 𝑠𝐼𝑡 + (𝑠𝐼𝑡 − 𝑠𝐼𝐼


𝑡 )

d) Menentukan besarnya nilai bt (slope)

2(𝑠𝐼𝑡 − 𝑠𝐼𝐼
𝑡 )
𝑏𝑡 =
𝑉−1
V adalah jangka waktu moving average kedua

e) Menentukan besarnya forecast.

26
𝐹𝑡 + 𝑚 = 𝑎 + _(𝑚)

m adalah jangka waktu forecast ke depan.

b. Exponential Smoothing

Metode exponential smoothing merupakan pengembangan dari metode

moving average.

Dua metode dalam exponential smoothing diantaranya single exponential

smoothing dan double exponential smoothing.

1) Single Exponential Smoothing

Secara matematis formula dari metode ini adalah :

𝐹𝑡+1 = 𝛼𝑋𝑡 + (1 − 𝛼)𝐹𝑡

Ft+1 = ramalan untuk period eke t+1

Xt = nilai riil periode ke t

Ft = ramalan untuk periode ke t

Dari persamaan tersebut besarnya forecast periode yang akan dating

dijelaskan sebagai berikut :

𝐹𝑡+1 = 𝛼𝑋𝑡 + (1 − 𝛼)𝐹𝑡

𝐹𝑡+1 = 𝛼𝑋𝑡 + 𝐹𝑡 − 𝛼𝐹𝑡

𝐹𝑡+1 = 𝐹𝑡 + 𝛼𝑋𝑡 − 𝛼𝐹𝑡

𝐹𝑡+1 = 𝐹𝑡 + 𝛼(𝑋𝑡 − 𝐹𝑡 )

(Xt - Ft) merupakan kesalahan forecast atau forecast error periode ke t.

dengan demikian dapat dikatakan bahwa forecast pada periode yang

27
akan dating adalah ramalan periode sebelumnya ditambah alpha (α)

dikalikan dengan kesalahan forecast periode sebelumnya.

Dalam melakukan peramalan dengan metode single exponential

smoothing besarnya alpha ditentukan secara trial and error sampai

diketemukan alpha yang menghasilkan forecast error terkecil.

2) Double Exponential Smoothing

Pada metode ini proses penentuan ramalan dimulai dengan menetukan

besarnya alpha secara trial and error. Sedangkan tahap-tahap dalam

menentukan ramaan adalah sebagai berikut :

a) Menentukan smoothing pertama (𝑆′𝑡 )

𝑆′𝑡 = 𝛼𝑋𝑡 + (1 − 𝛼)𝑆′𝑡−1

𝑆′𝑡 = smoothing pertama periode t

𝛼 = berdasarkan nilai mean square error terkecil dari 0,1 sampai

0,9

Xt = nilai riil periode t

𝑆′𝑡−1 = smoothing pertama periode t-1

b) Menentukan smoothing kedua (𝑆′′𝑡 )

𝑆′′𝑡 = 𝛼𝑆′𝑡 + (1 − 𝛼)𝑆′′𝑡−1

𝑆′′𝑡 = smoothing kedua periode t

𝑆′𝑡 = smoothing pertama periode t

𝑆′′𝑡−1 = smoothing kedua periode t-1

28
c) Menentukan besarnya konstanta (at)

𝑎𝑡 = 2𝑆′𝑡 − 𝑆′′𝑡

d) Menentukan besarnya slope (bt)

𝛼
𝑏𝑡 = (𝑆′ − 𝑆′′𝑡 )
1−𝛼 𝑡
e) Menentukan besarnya forecast (Ft+m)

(Ft+m) = at + bt m

Dimana m adalah jangka waktu forecast.

2. Metode Box Jenkins

Metode yang menggunakan dasar deret waktu dengan model matematis agar

kesalahan yang terjadi dapat sekecil mungkin. Oleh karena itu penggunaan

metode ini membutuhkan identifikasi model dan estimasi parameternya.

Metode ini sangat baik ketepatannya untuk peramalan jangka pendek

sedangkan untuk peramalan jangka panjang ketepatannya kurang baik. Data

yang digunakan untuk metode ini minimum 2 tahun (Assauri, 1984).

3. Metode Proyeksi Trend dengan Regresi

Metode ini merupakan dasar garis trend suatu persamaan sistematis, sehingga

dengan dasar persamaan tersebut dapat diproyeksikan hal yang diteliti untuk

masa depan. Metode ini sangat baik ketepatannya untuk peramalan jangka

panjang. Data yang dibutuhkan untuk penggunaan metode peramalan ini

29
adalah data tahunan dan makin banyak data yang dimiliki makin baik, serta

minimum data tahunan yang harus ada adalah lima tahun.

Untuk memproyeksikan hal yang diteliti, terlebih dahulu trend ditentukan.

Untuk menentukan nilai trend dapat digunakan beberapa cara yaitu : metode

tangan bebas (free hand), metode setengah rata-rata (semi average), metode

rata-rata bergerak (moving average), dan metode kuadrat terkecil (least

square) (Assauri, 1984).

a. Metode Tangan Bebas (Free Hand)

Metode tangan bebas merupakan metode yang sangat sederhana dimana

pembuatan trend bebas dilakukan tanpa mempertimbangkan formula

matematis. Pada metode ini garis ditentukan secara bebas tetapi tidak

berarti ditentukan tanpa pertimbangan-pertimbangan tertentu. Namun

demikian penentuan garis trend tetap sangat subjektif, yang setiap orang

mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri. (Gitosudarmo, 2001)

b. Metode Setengah Rata-rata (semi average)

Dengan metode setengah rata-rata nilai trend sudah mulai ditentukan

dengan perhitungan-perhitungan, yang berarti unsur subjektif mulai

berkurang. Metode ini dapat digunakan apabila data yang dihadapi

jumlahnya genap sehingga dapat dibagi menjadi dua kelompok sama besar.

c. Menentukan Rata-rata Bergerak (Moving Average)

Menurut Sugiarto (2000), metode rata-rata disebut rata-rata bergerak jika

setelah rata-rata dihitung, diikuti gerakan satu period eke belakang.

30
Metode rata-rata bergerak disebut juga rata-rata bergerak terpusat, karena

rata-rata bergerak diletakkan pada pusat periode yang digunakan.

d. Metode Kuadrat Terkecil (Least Square)

Metode kuadrat terkecil menganut prinsip bahwa garis yang paling sesuai

untuk menggambarkan suatu data berkala adalah garis yang jumlah

kuadrat dari selisih anatar data tersebut dan garis trendnya terkecil atau

minimum. Sifat-sifat kuadrat terkecil itu adalah :

1) (Y – Y’) = 0

2) (Y – Y’)2 = terkecil

Dipakai untuk mencari persamaan garis atau kurva trend. dari persamaan

ini kita dapat menghitung nilai-nilai trend. Trend dari persamaan ini kita

gunakan untuk menghitung ramalan nilai-nilai trend (Sugiarto, 2000).

Persamaan trend linier :

Bentuk umum : Yi = a + b Xi

Keterangan :

Yi = nilai trend untuk periode tertentu

b = kemiringan garis trend, artinya besarnya perubahan Yt jika

perubahan suatu besaran periode waktu

Xi = kode periode waktu = t – t1

Dengan metode ini, nilai a dan b dari persamaan trend linier di atas

ditentukan dengan rumus :

31
𝑌𝑖 𝑋𝑖 𝑌𝑖
𝑎=∑ 𝑑𝑎𝑛 𝑏 = ∑ 2
𝑛 𝑋𝑖

𝑘𝑒𝑡𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 ∶ 𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑡𝑎

4. Pemilihan Teknik dan Metode Peramalan

Dalam pemilihan teknik dan metode peramalan, pertama-tama perlu diketahui

ciri-ciri penting yang perlu diperhatikan bagi pengambilan keputusan dan

analisa keadaan dalam mempersiapkan peramalan.

Ada enam faktor utama yang diidentifikasikan sebagai teknik dan metode

peramalan, yaitu:

a. Horizon Waktu

Ada dua aspek dari horizon waktu yang berhubungan dengan masing-

masing metode peramalan. Pertama adalah cakupan waktu di masa yang

akan datang. Aspek kedua adalah jumlah periode untuk peramalan yang

diinginkan.

b. Pola data

Dasar utama dari metode peramalan adalah anggapan bahwa macam dari

pola yang didapati di dalam data yang diramalkan akan berkelanjutan.

c. Jenis dari model

Model-model merupakan suatu deret dimana waktu digambarkan sebagai

unsur yang penting untuk menentukan perubahan-perubahan dalam pola.

Model-model perlu diperhatikan karena masing-masing model

32
mempunyai kemampuan yang berbeda dalam analisa keadaan untuk

pengambilan keputusan.

d. Biaya yang dibutuhkan

Umumnya ada empat unsur biaya yang tercakup dalam penggunaan suatu

prosedur peramalan. Yakni biaya-biaya pengembangan, penyimpanan data,

operasi pelaksanaan dan kesempatan dalam penggunaan teknik-teknik dan

metode peramalan.

e. Ketepatan metode peramalan

Tingkat ketepatan yang dibutuhkan sangat erat kaitannya dengan tingkat

perincian yang dibutuhkan dalam suatu peramalan.

f. Kemudahan dalam penerapan

Metode-metode yang dapat dimengerti dan mudah dialokasikan sudah

merupakan suatu prinsip umum bagi pengambil keputusan.

5. Ketepatan Peramalan

Ketepatan ramalan adalah suatu hal yang mendasar dalam peramalan yaitu

bagaimana mengukur kesesuaian suatu metode peramalan tertentu untuk suatu

kumpulan data yang diberikan. Beberapa kriteria yang diguanakan untuk

menguji ketepatan ramalan adalah:

a. Nilai tengah kesalahan (Mean Error)

∑𝑛𝑡=1 𝑒𝑡
𝑀𝐸 =
𝑛

b. Nilai tengah kesalahan kuadarat (Mean Squared Error).

33
∑𝑛𝑡=1 𝑒𝑡 2
𝑀𝑆𝐸 =
𝑛

c. Nilai tengah kesalahan absolute (Mean Absolute Error)

∑𝑛𝑡=1|𝑒𝑡 |
𝑀𝐴𝐸 =
𝑛

d. Nilai tengah kesalah persentase (Mean Percentage Error)

∑𝑛𝑡=1 𝑃𝐸𝑡
𝑀𝑃𝐸 =
𝑛

e. Nilai tengah kesesalah persentase absolute (Mean Absolute Percentage

Error)

∑𝑛𝑡=1|𝑃𝐸𝑡 |
𝑀𝐴𝑃𝐸 =
𝑛

Dengan :

et = Xt – Ft (kesalahan pada period eke t)

Xt = data actual pada period eke t

Ft = nilai ramalan pada period eke t

𝑋𝑡 −𝐹𝑡
𝑃𝐸𝑡 = ( ) (100) (kesalahan persentase pada periode ke t)
𝑋𝑡

𝑛 = banyaknya periode waktu

Metode peramalan yang dipilih adalah metode yang memberikan nilai MSE

yang terkecil.

(Supranto, 2000)

34
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

Kerangka konsep yaitu diagram sederhana yang menunjukan variabel dan

hubungan antar variabel

Karakteristik Penderita Kanker


Orang (Person)

1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Agama
4. Pendidikan
5. Pekerjaan
6. Golongan etnik
7. Status perkawinan

Tempat (Place)
8. Tempat Tinggal

Waktu (Time)
9. Lama dirawat (trend)

Skema diatas menjelaskan bahwa penelitian ini hanya bertujuan untuk Commented [TN8]: Saya kira ini bukan skema

menggambarkan karakteristik penderita kanker berdasarkan faktor orang, tempat

35
dan waktu. Tidak ada variabel independen (bebas) ataupun variabel dependen

(terikat). Semua variabel yang diteliti memiliki kedudukan yang sama.

B. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif

1. Umur

Umur adalah lamanya hidup penderita kanker yang dihitung berdasarkan

tahun sejak penderitan itu lahir sesuai dengan yang tertulis di rekam medis

yang dikategorikan atas : Commented [TN9]: Darimana sumber pengkategorian ini?

1) 0-28 hari

2) 28 hari-<1tahun

3) 1-4tahun

4) 5-14tahun

5) 15-24tahun

6) 25-44tahun

7) 45-64tahun

8) >65tahun

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah penderita kanker yang tercatat dalam rekam medis,

yang dibedakan atas :

1) Laki-laki

2) Perempuan

36
3. Agama

Agama adalah kepercayaan yang dianut dan diyakini oleh penderita sesuai

yang tertulis di buku rekam medik, dibedakan atas :

1) Islam

2) Kristen Prostetstan

3) Kristen Katolik

4) Hindu

5) Budha

6) Lain-lain

4. Pendidikan

Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal penderita kanker yang tercatat

dalam rekam medis, yang dikategorikan atas :

1) SD/Tidak Sekolah

2) SLTP

3) SLTA

4) Akademi/PT

5. Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari oleh penderita

dalam memenuhi kebutuhan hidup, sesuai dengan yang tercatat dalam buku

rekam medis, yang dikategorikan atas :

1) Ibu Rumah Tangga

2) PNS/TNI/Polri

37
3) Swasta

4) Nelayan

5) Petani

6) Wiraswasta

7) Lain-lain

6. Golongan Etnik

Golongan etnik adalah ras yang melekat pada diri penderita sesuai yang

tertulis di buku rekam medis, dikategorikan sebagai berikut:

1) Bugis

2) Makassar

3) Buton

4) Jawa

5) Cina

6) Melayu

7) Minang

8) Dan lain-lain

7. Status Perkawinan

Status perkawinan adalah identitas/ predikat penderita kanker berdasarkan

kehidupan perkawinan, seusai dengan yang tercatat dalam rekam medis,

dikategorikan sebagai berikut::

1) Kawin

38
2) Belum kawin

3) Janda

4) Duda

8. Tempat tinggal

Tempat tinggal adalah tempat dimana penderita tinggal menetap sesuai yang

tercatat dalam rekam medis, dikategorikan sebagai berikut :

1) Dalam Kota Makassar

2) Luar Kota Makasssar

3) Tidak Tercatat

9. Lama rawat

Lama rawat rata-rata lamanya penderita di rawat inap, dihitung dari tanggal

mulai dirawat sampai dengan keluar sesuai yang tertulis di kartu status dan

selanjutnya ditentukan rata-rata lama rawat.

10. Keadaan sewaktu pulang

Keadaan sewaktu pulang adalah keadaan dan kondisi terakhir penderita

sewaktu keluar dari rumah sakit sesuai yang tertulis di kartu status, yang

dikategorikan sebagai berikut :

1) Pulang dengan berobat jalan

2) Pulang atas permintaan sendiri

3) Meninggal

39
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi

penelitian deskriptif dengan pendekatan seri kasus (case series) atau laporan

kasus. Dikatakan penelitian observasional, karena penelitian ini hanya untuk

mengobservasi data yang ada tanpa dilakukan intervensi terhadap subjek

penelitian. Rancangan studi deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan secara

umum data penelitian yang ada.

Selain itu penelitian ini juga bersifat Applied Reseach (penelitian terapan) Commented [TN10]: Apakah penelitian ini termasuk penelitian
terapan? Beri penjelasan

karena pada penelitian yang sama peneliti bermaksud juga ingin mengetahui

kecenderungan kejadian kanker selama beberapa tahun terakhir.

B. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini adalah bertempat di RSUP Dr.Wahidin

Sudirohusodo. Ada beberapa faktor sehingga rumah sakit ini yang menjadi lokasi

penelitian. Pertama, rumah sakit ini memiliki data rekam medik yang lengkap

sehingga bisa memenuhi jumlah sampel yang nantinya akan mempermudah

dalam pengumpulan data yang dibutuhkan. Kedua, lokasi ini merupakan rumah

sakit rujukan untuk kawasan wilayah regional Indonesia timur sehingga

generalisasi penelitian ini bisa digunakan untuk cakupan wilayah Sulawesi.

40
C. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi target adalah populasi tempat hasil penelitian diharapkan

akan diterapkan. .Populasi target penelitian ini adalah seluruh penderita

kanker yang menjadi pasien rawat inap di bagian Obsgyn RSUP Dr Wahidin

Sudirohusodo Makassar.

Populasi terjangkau adalah penelitian ini adalah seluruh penderita

kanker yang menjadi pasien rawat inap di bagian Obsgyn RSUP Dr Wahidin

Sudirohusodo Makassar antara tahun 2006-2010.

2. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien kanker

yang dirawat inap di RSUP Dr. Wahiddin Sudirohusodo dalam kurun waktu

2008-2010. Hal ini disebabkan data rekam medis yang tersimpan lengkap di

bagian rekam medis RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo hanya pada periode 3

tahun terakhir. Commented [TN11]: Tehnik sampling?????? Analisis


Statistiknya? ????? Di Tinjauan Pustaka ada tentang Peramalan,
mengapa di metode tidak disinggung?

D. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang

diperoleh dari kartu status penderita kanker yang bersumber dari Rekam Medis di

Bagian pencatatan rekam medik RSUP Dr Wahidin Sudiro Husodo tahun 2008-

41
2010. Kartu status dengan kasus kanker yang dipilih sebagai sampel dikumpulkan

kemudian dilakukan pencatatan tabulasi sesuai dengan variabel yang diteliti.

Untuk analisis kecenderungan juga digunakan data sekunder berupa print

out data digital tentang informasi pasien rawat inap secara umum yang bersumber

juga dari bagian pencatatan rekam medis RSUP dr.Wahidin Sudirohusodo.

E. Pengolahan Data

Pengolahan data dengan menggunakan program Epi Data 3.0, STATA

11.0 dan Zaitun Softwere. Epi Data digunakan untuk menginput data yang

diperoleh dari tempat penelitian. StataSE 11.0 digunakan untuk memproses data

yang ada untuk diketahui gambaran kejadian kanker serviks. Dan Zaitun Softwere

untuk melihat kecenderungan kejadian kanker.

F. Penyajian Data

Data yang telah dianalisis disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi

untuk membahas hasil penelitian.

42
DAFTAR PUSTAKA

Boffeta, Paolo, & Parkin, D. Maxwell, 1994. Cancer in Developing Countries. CA


Cancer, 44 (2) p. 81-90.

Budi, JF dan Meiliya, E (penyadur)., 2005. Buku Saku Keperawatan Onkologi.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Bustan, MN. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.

Cancer Facts & Figures 2010. 2010 [e-book]. Atlanta: American Cancer Society Inc.
http://www.cancer.org/acs/groups/content/@nho/documents/document
[diakses 30 September 2011]

Dahlan, Sopiyudin. 2010. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang


Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto.

Departemen kesehatan RI, 2008. Profil Kesehatan RI 2007 [e-book]. Jakarta:


Departemen Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id/downloads/profil
[diakses 30 September 2011]

IARC. 2010. Globocan 2008 Fast Stats. http://who.org. Diakses 28 Juni 2011.

Informasi Dasar tentang Kanker. 2008 [e-book]. Yayasan Kanker Indonesia.

Jong, Wim de. 2005. Kanker, Apakah Itu? Pengobatan, Harapan Hidup, dan
Dukangan Keluarga. Jakarta: Penerbit Arcan.

Miranti, Ika Pawitra, 1997. Insiden berbagai Jenis Kanker Penduduk Kodya
Semarang Tahun 1990-1993. Media Medika Indonesia, 32 (2), hal. 67-73.

Parkin, Donald M., 2006. The Evolution of the Population-Based Cancer Registry.
NATURE REVIEW CANCER, 6 (), p. 603-612.

Pasaribu, Emir Taris, 2006. Epidemiologi dan Etiologi Kanker. Majalah Kedokteran
Indonesia, 39 (3), hal. 266-269.

Rajab, Wahyudin, 2009. Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Edisi I. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

43
Sarjadi, 2000. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi 2. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sastroasmoro, Sudigdo. 2010. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:


Sagung Seto.

Subagyo, Pangestu. 1986. Forecasting Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE


UGM Yogyakarta.

Supranto, J. 1994. Statistik Teori dan Aplikasi, Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga.

Surbakti, Elisabeth, 2007. Pendekatan Faktor Risiko Sebagai Rancangan Alternatif


Dalam Penanggulaangan Kanker Servix Uteri di RSUD dr. Pirngadi Medan.
Jurnal Ilmiah PANMED, 1(2) hal 70-81

WHO, 2006. Cancer. [online]. (Diupdate 30 September 2011)


http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs297/en/index.html [diakses 28
Juni 2011]

44