Anda di halaman 1dari 21

Lahirnya khasanah pemikiran filsafat tidak lepas dari peradaban besar Yunani

Kuno, era Yunani kuno sudah muncul pemikir pemikir hebat yang mana pada era
itu orang yunani sudah pandai mengemas sejarah dan hasil pemikiran-pemikiran
para filsuf sehingga tidak heran jika Bangsa Yunani dikatakan sebagai Negara
lahirnya filsafat. Menurut sejarah dikatakan lahirnya pemikiran filsafat itu pasca
zaman nabi nuh, tepatnya setelah umat nabi Nuh AS ditenggelamkan dalam banjir
bandang setelah itu orang-orang mulai memikirkan dan mempertanyakan
mengenai asal muasal alam. Dan era awal ini terkenal dengan pemikiran tentang
kosmologi atau penciptaan alam semesta.
Secara garis besar periodesasi filsafat dibagi menjadi:
1. Periode klasik
Era klasik kajaian para filsuf terfokus pada kosmosentris. Maksudnya
kajian tentang asal usul terjadinya alam. Pada dasarnya era ini para filsuf
mencari induk yang dianggap asal dari sesuatu. Tokoh filsuf dalam
kategori ini meliputi
 Thales
Thales (624-546 SM), ia tinggal di Miletus pada abad ke-7.
Ia digelari sebagai Bapak Filsafat karena dialah orang yang mula-
mula berfilsafat. Ia mengajarkan filosofnya hanya melalui mulut
saja, serta dikembangkannya pula oleh muridnya dari mulut ke
mulut pula. Baru Aristoteles, kemudian meuliskan ajarannya.
Kesimpulan ajaran Thales adalah: “semuanya itu air, air yang cair
itu adalah pangkal, pokok dan dasar (principe) segala-galanya”
Apa asal alam itu? Suatu pertanyaan yang mendasar, Thales
menjawab yaitu air. Pertenyaan tersebut dijawab dengan
menggunakan akal, sebab menurutnya air penting bagi kehidupan.
Ia menjawab berdasarkan pengalaman yang dilihatnya sehari-hari
dan dijadikannya pikirannya untuk menyusun bangun alam. Ia
menjawab seperti itu karena ia menganggap bahwa dunia itu
dikelilingi oleh air. Thales sama sekali tidak mengatakan bahwa
segala sesuatu terbuat dari air, ia sempat memperdebatkan
bersama-sama dengan para pemikir di zamannya bahwa dunia di
kelilingi oleh air, dan tampaknya ia menduga bahwa dalam arti
tertentu sumber segala benda adalah air. Bagi Thales air adalah
sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang jadi, tetapi juga
akhir dari segala yang ada dan yang jadi tersebut. Dalam
pandangan Thales tidak ada jurang yang dapat memisahkan hidup
dengan mati. Semuanya satu, dan ia percaya setiap benda juga
memiliki jiwa. Thales menganut kepercayaan pada animisme, yaitu
kepercayaan bahwa bukan harus yang hidup saja yang memiliki
jiwa, tetapi bahan atau benda mati juga memiliki jiwa. Terhadap
pandangan Thales bahwa dunia terbuat dari air, ada yang
menolaknya yaitu berasal dari muridnya sendiri Anaximander.
 Anaximander
Anaximander merupakan murid dari Thales yang lahir pada
tahun 610 SM dan meninggal pada tahun 547 SM. Ia lebih muda
15 tahun dari Thales. Sebagai filosof ia lebih mudah dari pada
gurunya, ia ahli dalam bidang astronomi dan ahli ilmu bumi. Ia
berpendapat bahwa langit itu bulat seperti bola, bumi terkandung di
tengah-tengahnya, bangunannya sebagai silinder, bulat panjang dan
datar pada bagian atasnya. Seperti halnya dengan gurunya,
Anaximander mencari akar dari segala sesuatu. Yang diterima oleh
akalnya bahwa yang asal itu satu, tidak banyak, tetapi yang satu
tersebut bukanlah air sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales.
Menurut pendapat Anaximander bahwa yang asal itu tidak
berhingga dan tidak berkeputusan, tetapi yang asal itu yang
menjadi dasar alam yang dinamainya sebagai “Apeiron”. Apeiron
ini tidak dapat dirupakan, tidak ada persamaanya dengan salah satu
barang yang kelihatan di dunia ini. Anaximander membantu
mengatur kosmologi Yunani tradisional, membedakan tanah,
udara, api dan air serta menjelaskan bagaimana sifat-sifat mereka
yang bermacam-macam, yang panas dan yang dingin, yang basah
dan yang kering merupakan sesuatu yang saling mempengaruhi
dan bertentangan satu dengan yang lainnya yang kemudian
menghasilkan antara lain (fisik). Ketika didesak untuk menjawab
pertanyaan Thales mengenai mana di antara unsur-unsur tersebut
yang paling dasariah atau unsur fundamental, memiliki jawaban
yang ia ajukan adalah yang sedemikian rupa yang tidak dapat
dicerap yang ia sebut dengan apeiron (bahan dasar) tadi. Akan
tetapi, seperti air-nya Thales, begitu juga apeiron-nya anaximander
bukan memiliki jiwa dan bukan tanpa substansi rohaniah.
 Anaximenes
Ia hidup dari tahun 585-528 SM, ia merupakan guru yang
penghabisan daripada para filosofi alam yang berkembang di
Milatos, ia adalah murid dari Anaximander. Ia merasa perlu untuk
mengkritik tentang apeiron yang misterius dan tidak bisa diserap
yang dikemukakan oleh gurunya. Anaximenes berargumentasi
bahwa udara merupakan unsur yang paling esensial yang
mengembun dan menguap, memanas dan mendingin, mendarat dan
menipis. Dengan demikian udaralah yang membuat dunia ini, yang
menjadi sebab segala yang hidup. Sebagai kesimpulan dari
ajarannya, yaitu: “Sebagaimana jiwa kita yang tidak lain daripada
udara, menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia
menjadi satu, penghidupan masyarakat. Kepentingan jiwa itu
tampak olehnya dalam perubungan alam besar saja. Jiwa menyusun
tubuh manusia jadi satu dan menjaga supaya tubuh itu jangan
gugur dan bercearai-berai. Anaximenes berpendapat bahwa udara
itu merupakan benda materi. Ia juga dapat membedakan antara
yang hidup dengan yang mati, yaitu bahwa yang mati itu tidak
mempunyai jiwa. Thales, Anaximander dan Anaximenes memberi
penjelasan yang menekankan pada unsur-unsur yang dapat dicerap
dalam upaya menjelaskan dunia sedemikian rupa. Ketiganya
termasuk para materialis, dalam arti bahwa mereka mengatakan
dunia ini terbuat dari sejenis bahan dasar, apakah itu air, ataupun
apeiron.
 Pytagoras
Pytagoras berasal dari Samos. Ia dilahirkan sekitar tahun
580 SM. Menurut usianya ia seangkatan dengan Xenophanes. Ia
meninggal pada tahun 500 SM. Pytagoras bersikuku atas
pendapatnya yang mengemukakan bahwa bahan dasar kosmos
bukan “bahan” tetapi lebih tepatnya bentuk-bentuk (forms) dan
hubungan-hubungan. Melalui Pytagoras, secara khusus problem
utama ontologi kuno terfokus. Persoalannya adalah bagaimanakah
tatanan abstrak atau bentuk-bentuk benda memanifestasikan dalam
segudang benda-benda aktual di dunia ini, “persoalan yang tunggal
dalam yang banyak.” Ujung tarikat Pytagoras adalah mendidik
kebatinan dan mensucikan roh. Pytagoras percaya akan
kependidikan jiwa dari makhluk sekarang kepada makhluk yang
akan datang. Menurut kepercayaan Pytagoras, manusia itu asalnya
Tuhan. Jiwa itu adalah penjelmaan dari Tuhan yang jatuh ke dunia
karena berdosa, dan ia akan kembali ke langit apabila sudah dicuci
dosanya. Adapun cara mensucikan jiwa dari dosa tersebut adalah
dengan hidup murni, tetapi hidup murni itu dilakukan secara
berangsur-angsur. Menurutnya hidup di dunia ini adalah persediaan
untuk hidup di akhirat. Oleh sebab itu semua dari sini dikerjakan
untuk hidup di hari kemudian. Selain dari hal mistik, Pytagoras
juga sebagai ahli pikir tertentu dalam ilmu matematika dan ilmu
hitung lainnya. Dari matematika Pytagoras melompat ke dalam
dunia pandangan. Alam ini menurutnya tersusun sebagai angka-
angka dimana ada matematika, ada susunan dan ada kesejahteraan.
Tetapi tidak di alam saja berkuasa matematika, ia juga berkuasa
dalam segala barang. Dengan jalan ini Pytagoras sampai kepada
pokok ajarannya yang menyatakan bahwa “segala barang adalah
angka-angka.”
 Heracletos
Ia lahir di kota Ephesos di Asia Minor pada tahun 540 SM,
dan meninggal pada tahun 480 SM. Dia dipandang sebagai seorang
filsuf ilmuwan awal yang masih menerima unsur-unsur alamiah
yang lain, api, dan menyatakan untuk itu sebagai hal yang utama.
Ia memandang api sebagai anasir yang asal. Pandangannya tersebut
tidak semata-mata terikat pada alam kiasan, alam besar. Anasir
yang besar dipandangnya pula sebagai kiasan daripada segala
kejadian. Di samping itu, ia juga berpandangan bahwa dunia ini
adalah satu. Semua benda saling berhubungan, meskipun pada
awalnya saling bertentangan, dan di balik segudang benda yang
ada di dunia ini ada satu kesatuan tunggal, yaitu logos. Logos
menyatakan bahwa segala hal yang tampak bertentangan,
memberikan tatanan bagi kekacauan, memberikan hukum bagi
perubahan dan mengijinkan kita. Logos dijadikan sebagai pusat
pandangan oleh Heracletos tentang alam.
 Parmenides
Ia lahir di Elea pada tahun 540 SM dan meninggal pada
tahun 473 SM. Ia dikenal sebagai orang besar di kotanya. Ia juga
sebagai ahli politik dan pernah memangku jabatan di pemerintahan.
Parmenides bersama muridnya yaitu Zeno dan Ela mengubah fokus
perhatian filsafat tertuju pada teknik argumentasi sebagai pokok
pendiriannya, disebutnya bahwa ada kebenaran yang sepenuh-
penuhnya. Parmenides membulatkan keterangannya dengan
semboyannya yang pendek yaitu: “Hanya yang ada itu ada, dan
yang tiada itu tiada.” Bahwa kebenaran terdapat pada pengakuan
bahwa yang ada itu ada. Ia memandang bahwa semuanya itu satu
dan tetap. Ajaran Parmenides yang pokok kepada yang satu dan
tetap bertentangan dengan ajaran Heracletos.
 Zeno
Ia lahir di Elea pada tahun 490 SM dan ajarannya kesohor
empat tahun lamanya yaitu dari tahun 464-460 SM. Ia
mempertahankan ajaran gurunya dengan cara membalikan
serangan terhadap dalil-dalil lawannya. Menurut pendapatnya jika
keterangan lawannya itu salah pendirian Parmenides parmenides
dengan sendirinya benar.
 Melisson
Ia berasal dari Samos sebuah kota Grek di tanah
perantauan. Ia sangat terkeumuka dalam duni filosofi Elea dari
tahu 444-441 SM. Ia mempertahankan ajaran Parmenides dengan
mengemukakan alasan yang positif. Artinya ia melahirkan
keterangan untuk mnguatkan ajaran gurunya. Dia berkata yang ada
selalu ada dan akan tetap ada. Menurutnya yang ada itu kekal serta
yang ada itu tidak berhingga.
 Empedocles
Ia lahir di kota Acragas di pulau Sicilia pada tahun 490 SM
dan meninggal pada tahun 430 SM. Ia menduga bahwa dunia
dibangun melalui konflik juga tidak ada unsur atau tatanan yang
mendasari, yang ada hanyalah konflik abadi antara daya-daya cinta
tentang perselisihan. Ia mengajarkan bahwa alam ini pada mulanya
satu yaitu disatukan oleh cinta. Cinta merupakan kodrat yang
membawa bersatu dan bercampur. Tetapi alam yang satu tadi
dipecah oleh benci yang mana benci membalikan semua keadaan
tersebut sehingga semua terpisah-pisah dan tidak ada yang
bercampur lagi. Dalam keadaan yang dikuasai oleh benci tersebut
barang satu-satunya pun tidak ada, yang ada hanyalah anasir yang
empat yang tidak bercampur sedikitpun juga.
 Anaxagoras
Ia dilahirkan di kota Klazomanae di Asia Minor. Ia hidup
dari tahun 500-428 SM. Ia merupakan filosof yang pertama di
Athena. Ia menganggap bahwa terdapat banyak jenis benda-benda,
tiap benda mempunyai jenisnya sendiri-sendiri. Ia juga
menunjukkan ada banyak jenis unsur sebanyak jenis benda
tersebut. Menurutnya tidak segala sesuatu berupa suatu unsur,
seorang person bukanlah suatu unsur melainkan suatu campuran
kompleks dari berbagai unsur. Sehingga ia mengklaim bahwa ada
“segala sesuatu di dalam sesuatu.” Secara alamiah ia memulai
memikirkan kosmos bukan hanya dari sudut tatanan tetapi juga dari
sudut maksud dan tujuan.
 Leokippos
Ia berasal dari Miletos, ia murid Parmenides dan guru dari
Democritos sejarah hidupnya hampir tidak diketahui orang. Ia
mengupas ide tentang kepingan-kepingan “bahan” yang lebih kecil
lagi, dan terus mencari sampai akhirnya bertemu pada salah satu
ide yang paling penting di zaman modern yaitu konsep atom.
Menurunya bahwa dunia terdiri dari sejulah “partikel” yang
bermacam-macam dan berbeda dalam ukuran serta bentuknya.
Menurutnya juga bahwa atom merupakan suatu ukuran yang sangat
kecil dan tidak dapat dibagi lagi. Leokippos merupakan pujangga
yang pertama kali mengajarkan dari hal yaitu atom. Atom berasal
dari perkataan Grile yaitu “a” sama dengan tidak dan “toom”
berarti terbagi, sehingga atom berarti ‘tidak dapat dibagi.”
 Democritos
Ia lahir di Abdera sebuah kota di patai Trasia bagian
Balkan. Ia hidup sekitar tahun 460-360 SM. Ia adalah seorang ahli
ilmu alam yang berpengetahuan luas. Adapun karyanya yaitu yang
mengenai ilmu alam diantaranya ilmu alam, ilmu tumbuh-
tumbuhan, ilmu tabib dan hal ikhwal penting serta yang lainnya.
Pemikiran Democrotos sepadan dengan pemikiran gurunya bahwa
alam ini tak lain daripada atom dan gerakannya. Atom itu tidak
bermula dan tidak berakhir yang jumlahnya sangat banyak dan
merupakan benda yang bertubuh meskipun tidak dapat dilihat. Di
antara atom tersebut terdapat lapang yang kosong, tempat atom
bergerak. Untuk menyatakan bahwa ada lapang yang kosong, ia
mengemukakan empat fase, yaitu: (1) penggerak berkehendak akan
lapang yang kosong; (2) sesuatu barang bisa jadi kembang atau
pandai jika ada lapang yang kosong; (3) hidup dari kecil menjadi
besar disebabkan karena makanan dapat masuk ke dalam lapang
yang kosong di dalam badan; (4) jika dimasukan abu ke dalam
sebuah gelas yang berisi air maka melimpahkan sebagian dari pada
air tersebut.
 Socrates
Ia lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada
tahun 399 SM. Ayahnya adalah tukang pembuat patung serta
ibunya adalah seorang bidan. Tujuan dari filosofi Socrates adalah
mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya.
Menurutnya bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari. Dalam
mencari kebenaran, ia tidak berpikir sendiri melainkan setiap kali
ia berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya-jawab. Cara sepert
ini sering disebut dengan metode tanya-jawab dari Socrates.
Socrates juga mengajarkan tentang etika yang menyebutkan bahwa
budi adalah tahu, dan inilah intisari dari etika Socrates. Orang yang
berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etikanya
merupakan kelanjutan dari metodanya. Ajaran etika Socrates
sifatnya intelektuil serta rasional.
 Plato
Ia dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal
di sana pula pada tahun 347 SM. Ia berasal dari keluarga
Aristokrasi yang turun-temurun memegang peranan penting dalam
politik Athena. Semasa mudanya ia bercita-cita menjadi seorang
negarawan. Nama aslinya adalah Aristokles. Dalam ajaran filosofi
Plato, bertaut segala filosofi Grek yang dibentangkan sebelumnya.
Intisari filosofi Plato ialah pendapatny tentang idea, yaitu suatu
ajaran yang sangat sulit untuk dipahami. Pokok tinjauan filosofi
Plato adalah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak
dari ajaran gurunya yaitu Socrates yang mengajarkan bahwa budi
adalah tahu. Seperti halnya pandangan Socrates, etika Plato bersifat
intelektuil dan rasionil. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik.
Tujuan hidupnya adalah mencapai kesenangan hidup, yang mana
kesenangan hidup itu bukanalah memuaskan hawa nafsu di dunia
ini melainkan kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan.
Pandangan Plato tentang negara dan luasnya masih terpaut pada
masanya. Ia lebih memandang ke belakang daripada ke muka.
Negara Grek di masa itu adalah kota.
 Aristoteles
Ia lahir di Stageira di Semenanjung Kalkidike di Trasia
(Balkan) pada tahun 3844 SM dan meninggal di Kalkis pada 322
SM. Bapaknya bernama Macaon yaitu seorang dokter istaana.
Aristoteles sependapat dengan gurunya yaitu Plato bahwa tujuan
yang terakhir daripada filosofi adalah pengetahuan tentang adanya
dan yang umum. Pandangannya lebih realis daripada Plato yang
selalu didasarkan pada yang abstrak. Ia terkenal sebagai Bapak
Logika. Intisari daripada ajaran logikanya adalah silogismos atau
dalam bahasa Indonesianya adalah silogistik, yang maksudnya
uraian yang berkunci, yaitu menarik kesimpulan dari kenyataan
yang umum atas hal yang khusus. Ia membedakan pengetahuan
ilmiah dan pengertian tentang kebenaran daripada pengetahuan
biasa, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Ia
membagi logika ke dalam tiga bagian, yaitu: mempertimbangkan,
menarik kesimpulan dan membuktikan atau menerangkan
pengertian yang ada itu dibagi ke dalam sepuluh macam, yaitu:
barang, jumlah, sifat, hubungan, tempat, waktu, sikap, keadaan,
kerja dan menderita. Metafisika Aristoteles berpusat pada
persoalan barang dan bentuk. Bentuk dikemukakannya sebagai
pengganti pengertian ide Plato yang ditolaknya. Barang adalah
sesuatu yang dapat mempunyai bentuk ini dan itu. Dengan bentuk
pikiran seperti itu Aristoteles dapat menyelesaikan masalah yang
pokok dalam filosofi teoritika Grek, yaitu memikirkan adanya
begitu rupa, sehingga dari adanya dapat diterangkan proses
menjadi dan terjadi. Menurut Aristoteles alam ada untuk selama-
lamanya. Ini kelanjutan dari pendapatnya bahwa waktu tidak
berhingga. Etika Aristoteles pada dasarnya serupa dengan etika
Socrates dan Plato tujuannya mencapai eudaemonie, yaitu
kebahagiaan sebagai bahan tertinggi dalam penghidupan. Oleh
karena itu tugas dari etika adalah mendidik kemauan manusia
untuk memiliki sifat yang pantas dalam segala perbuatan. Budi
pikiran, seperti kebijaksanaan, kecerdasan dan pendapat yang sehat
diutamakan oleh Aristoteles dari budi perangai seperti keberania,
kesederhanaan, pemurah hati serta yang lainnya. Mengenai
kenegaraannya, Aristoteles sependapat dengan Plato bahwa tabiat
manusia yang berlomba-lomba mengejar keuntungan yang jauh
lebih besar dari keperluan sehari-hari patut dicela. Ia menentang
penumpukkan kapital. Ia mengemukakan bentuk tata-negara, yaitu:
Monarki atau basilia, aristokrasi, dan politia. Walaupun demikian
ia memandang demokrasi lebih rendah dari aristokrasi sebab dalam
demokrasi keahlian diganti dengan jumlah.
2. Pereode skolastik (pertengahan)
Corak gagasan pada periode ini pada teosentris yaitu membahas
mengenai ketuhanan. Pada periode ini dapat dikatakan sebagai abad gelap
karena ajaran/dogma agama membelenggu orang untuk berfikir.Pada
pertengahan abad kelima sebelum Masehi, muncul aliran baru dalam
filosofi Yunani, yaitu sofisme. Sofisme berasal dari kata sophos yang
artinya cerdik pandai. Kaum sofis muncul di Athena dan ajarannya
berkembang secara pesat di kota ini. Di antara guru-guru sofis ada empat
orang yang terkemuka, yaitu sebagai berikut:
 Protagoras
Ia lahir pada tahun 481 SM di Abdera dan meninggal pada
tahun 411 SM. Protagoras adalah seorang individualis yang
mengemukakan orang-seorang dalam segala-galanya. Bagi
Protagoras manusia itu adalah ukuran bagi segalanya, bagi yang
ada karena adanya, dan bagi yang tidak ada karena tidak adanya.
Maksudnya bahwa semua itu harus ditinjau dari pendirian manusia
sendiri-sendirinya. Sebagai kelanjutan dari pendiriannya itu
Protagoras mengatakan bahwa pandangan itu betul memuat
pengetahuan yang cukup tentang barang yang terpandang, tetapi
bukan pengetahuan tentang barang itu sendiri.
 Gorgias
Ia berasal dari Liontinoi di Sicilia. Ia hidup dari tahun 483-
375 SM. Pada tahun 427 ia datang ke Athena sebagai utusan
kotanya dan ia juga pandai berpidato. Karena ia sebagai ahli pidato
yang membatalkan segala-galanya, maka ia disebut
sebagai nihilis yang artinya tidak ada. Dasar yang dikemukakannya
sebagai alasan meniadakan ada tiga, yaitu: (1) tidak ada
sesuatunya; (2) jika sekiranya ada sesuatunya, ia tidak dapat
diketahui; dan (3) jika kiranya kita mengetahui sesuatunya,
pengetahuan itu tidak dapat kita kabarkan kepada orang lain.
 Hippias
Ia berasal dari Elis. Tahun kelahirannya tidak diketahui melainkan
ia lebih muda sedikit daripada Protagoras. Pasal yang diuraikan
oleh Hippias mengenai soal etik. Menurut pendapatnya hukum
negeri itu sangat perkasa bagi manusia. Oleh sebab itu ia
bertentangan dengan hukum alam.
 Prodicos
Ia berasal dari Keos sebuah pulau kecil dekat Attika. Ia seumur
dengan Hippias. Kematian dipandang oleh Prodicos sebagai
kejadian yang baik sekali untuk menghindarkan kejahatan dalam
kehidupan.
3. Periode modern
Zaman ini muncul karena keinginan bangkit dari orang orang barat
untuk merebut kejayaan. Tepatnya setelah runtuhnya 3 kerajaan besar
islam yaitu mongol,turki ustmani, dan safawi. Zaman ini dapat disebut
sebagai antithesis pada corak filsafat abad pertengahan. Pada zaman ini
membahas mengenai humanisentris yaitu ilmu tentang kemanusiaan atau
hakikat dari manusia. Pada periode modern dibagi menjadi dua decade
Reinaisance Secara terminology dimaknai sebagai Kelahiran kembali ada
pula yang mengatakan zaman pencerahan. Tokohnya seperti
Macchivelli,Thomas hobes dan Francis Bacon
 Niccolò Machiavelli
lahir di Florence, Italia, 3 Mei 1469 – meninggal
di Florence, Italia, 21 Juni 1527 pada umur 58 tahun) adalah
diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf.[1] Sebagai
ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori
politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans. Dua
bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito
Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Penguasa),
awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi
pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum dalam
berpolitik pada masa itu. Il Principe, atau Sang Pangeran
menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang
seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.
Nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk,
untuk menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Orang yang
melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis. Niccolò
Machiavelli
Karya-karya Machiavelli tidak hanya di bidang politik,
tetapi juga sejarah, yaitu; History of Florence, Discourse on the
First Decade of Titus Livius, a Life of Castruccio Castrancani, dan
History of the Affair of Lucca. Di bidang kesusasteraan, dia pernah
menulis suatu tiruan dari the Golden Ass of Apuleius, the play
Mandragola, serta Seven Books on the Art of War. Tentu saja di
antara karya-karyanya yang paling banyak dikenal adalah The
Prince (1932). Isu utama dalam buku ini adalah bahwa semua
tujuan dapat diusahakan untuk membangun dan melestarikan
kekuasaan sebagai tujuan akhir yang dapat dibenarkan. Dan
seburuk-buruknya tindakan pengkhianatan adalah penguasa yang
dijustifikasi oleh kejahatan dari yang diperintah. The Prince
dinyatakan terlarang oleh Paus Clement VIII. Karya-karya
Machiavelli mengakibatkan banyak pihak yang menempatkannya
sebagai salah satu pemikir brilian pada masa renaissance, sekaligus
figur yang sedikit tragis. Pemikiran Machiavelli berkembang luas
pada abad ke-16 dan ke-17 sehingga namanya selalu diasosiasikan
penuh liku-liku, kejam, serta dipenuhi keinginan rasional yang
destruktif. Tidak ada pemikir yang selalu disalahpahami daripada
Machiavelli. Kesalahpahaman tersebut terutama bersumber pada
karyanya yang berjudul The Prince yang memberikan metode
untuk mendapatkan dan mengamankan kekuasaan politik. Selain
itu, juga terdapat karya lain yang banyak menjadi Referensi yaitu
Discourses on the Ten Books of Titus Livy.
 René Descartes
ʀəˈne deˈkaʀt; lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret1596 –
meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53
tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literature
berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan.
Perancis. Karyanya yangterpenting ialah Discours de la
méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).
Rene Descartes sering disebut sebagai bapak filsafat
modern. Rene Descartes lahir di La Haye Touraine-Prancis dari
sebuah keluarga borjuis. Ayah Descartes adalah ketua Parlemen
Inggris dan memiliki tanah yang cukup luas (borjuis). Ketika ayah
Descartes meninggal dan menerima warisan ayahnya, ia menjual
tanah warisan itu, dan menginvestasikan uangnya dengan
pendapatan enam atau tujuh ribu franc per tahun. Dia bersekolah di
Universitas Jesuit di La Fleche dari tahun 1604-1612, yang
tampaknya telah memberikan dasar-dasar matematika modern
walaupun sebenarnya pendidikan itu bidang hukum. Pada tahun
1612, dia pergi ke Paris, namun kehidupan sosial di sana dia
anggap membosankan, dan kemudian dia mengasingkan diri ke
daerah terpencil di Prancis untuk menekuni Geometri, nama daerah
terpencil itu Faubourg. Teman-temannya menemukan dia di tempat
perasingan yang ia tinggali, maka untuk lebih menyembunyikan
diri, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi tentara
Belanda (1617). Ketika Belanda dalam keadaan damai, dia tampak
menikmati meditasinya tanpa gangguan selama dua tahun. Tetapi,
meletusnya Perang Tiga Puluh Tahun mendorongnya untuk
mendaftarkan diri sebagai tentara Bavaria (1619). Di Bavaria inilah
selama musim dingin 1619-1620, dia mendapatkan pengalaman
yang dituangkannya ke dalam buku Discours de la Methode
(Russel, 2007:733). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat
Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu
pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat
modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan
setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang
sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi
filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.
Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi
di Eropa karena pendakatan pemikirannya bahwa semuanya tidak
ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berfikir.
Ini juga membuktikan keterbatasan manusia dalam berfikir dan
mengakui sesuatu yang di luar kemampuan pemikiran manusia.
Karena itu, ia membedakan "fikiran" dan "fisik". Pada akhirnya,
kita mengakui keberadaan kita karena adanya alam fikir.
Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo
sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je
suis. Keduanya artinya adalah:
"Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Atau, I
think, therefore I exist.
Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia
juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius,
yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern. Ia juga pernah
menulis buku sekitar tahun 1629 yang berjudul Rules for the
Direction of the Mind yang memberikan garis-garis besar
metodenya. Tetapi, buku ini tidak komplet dan tampaknya ia tidak
berniat menerbitkannya. Diterbitkan untuk pertama kalinya lebih
dari lima puluh tahun sesudah Descartes tiada. Dari tahun 1630
sampai 1634, Descartes menggunakan metodenya dalam penelitian
ilmiah. Untuk mempelajari lebih mendalam tentang anatomi dan
fisiologi, dia melakukan penjajakan secara terpisah-pisah. Dia
bergumul dalam bidang-bidang yang berdiri sendiri seperti optik,
meteorologi, matematika, dan berbagai cabang ilmu lainnya.
Sedikitnya ada lima ide Descartes yang punya pengaruh penting
terhadap jalan pikiran Eropa: (a) pandangan mekanisnya mengenai
alam semesta; (b) sikapnya yang positif terhadap penjajakan
ilmiah; (c) tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan
matematika dalam ilmu pengetahuan; (d) pembelaannya terhadap
dasar awal sikap skeptis; dan (e) penitikpusatan perhatian terhadap
epistemologi
Zaman modern Para filsuf modern mengatakan jika pengetahuan
bukan dari wahyu atau kitab suci tapi dari manusia sendiri. Tokoh nya
meliputi Rene Descartes, Baruch de Spinoza,john locke.david hume.
4. Periode postmodern
Zaman postmodern atau disebut melampaui modern membahas
mencoba memunculkan apa yang ditutupi oleh nalar seperti emosi,ambisi,
dan hasrat. Karena setiap manusia tidak hanya dibekali akal saja tapi juga
emosi hasrat tersebut.
 Charles Sanders Pierce
Pierce lahir di USA (1839-1941). Sebagai ahli semiotika, logika,
dan matematika, Pierce sezaman dengan Saussure. Oleh karena
itulah, mereka dimasukkan ke dalam kelompok strukturalis.
Meskipun demikian Pierce melangkah lebih jauh,pertama, latar
belakangnya sebagai ahli filsafat, yang memungkinkannya untuk
melihat dunia di luar struktur, sebagai struktur bermakna. Kedua,
berbeda dengan Saussure dengan konsep diadik yang cenderung
untuk melihat objek atas dasar objek lain, sehingga terjadi
pemahaman pusat dan nonpusat, Pierce menawarkan konsep triadik
sehingga terjadi jeda antara oposisi biner di atas.
Istilah semiotika itu pun berasal dari Pierce, sedangkan Saussure
sendiri menggunakan istilah semiologi. Pierce jugalah yang
kemudian mengembangkan teori umum tanda-tanda, sebaliknya
Saussure lebih banyak terlibat dalam teori linguistik umum.
Menurut Pierce, semiotika adalah studi tentang tanda dengan
mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengannya,
seperti: fungsi-fungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda yang
lain, proses pengiriman dan penerimaannya, dan sebagainya.
Mengingat luasnya studi ini, maka semiotika dibedakan menjadi
tiga objek : sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis berkaitan
dengan tanda-tanda yang lain. semantik berkaitan dengan acuan
dan interpretasi yang dihasilkan. Pragmatik berkaitan dengan tanda
dalam hubungannya dengan pengirim dan penerimanya.
Pada dasarnya Pierce, tidak banyak mempermasalahkan
estetika dalam tulisan-tulisannya. Meskipun demikian, teori-torinya
mengenai tanda mendasari pembicaraan estetika generasi
berikutnya. Menurut Pierce, makna tanda yang sesungguhnya
adalah mengemukakan sesuatu. Dengan kata lain, tanda mengacu
kepada sesuatu. Tanda harus diinterpretasikan sehingga dari tanda
yang orisinal akan berkembang tanda-tanda yang baru. Tanda
selalu terikat dengan sistem budaya (Zoest, 1993:46, 51), tanda-
tanda bersifat konvensional, dipahami menurut perjanjian, tidak
ada tanda-tanda yang bebas konteks. Tanda selalu bersifat plural,
tanda-tanda hanya berfungsi hanya kaitannya dalam kaitannya
dengan tanda yang lain. tanda merah dalam lalu lintas, selain
dinyatakan melalui warna merah, juga ditempatkan pada posisi
paling tinggi, dua tanda tampil secara bersamaan,
sebagaidenotatum dan intrepretant. Dalam pengertian Pierce
(Noth, 1990:423) fungsi refresial didefenisikan melalui triadik
ikon, indeks, dan simbol. Tetapi interpretasi holistik harus juga
mempertimbangkan tanda sebagai perwujudan gejala umum,
sebagai representamen (qualisign, sisign, dan lesisign).dan tanda-
tanda baru yang terbentuk dalam batin penerima, sebagai
interpretant (rheme, dicent, dan argument) dengan kalimat lain,
diantara objek, representamen, dan interpretan, yang paling sering
dibicarakan adalah objek (ikon, indeks dan simbol).
Menurut Zoest (1993:85-86), diantara ikon, indeks, dan
simbol, yang terpenting adalah ikon sebab di satu pihak, segala
sesuatu merupakan ikon sebab segala sesuatu dapat dikaitkan
dengan sesuatu yang lain. dipihak lain, sebagai tanda agar dapat
mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya, agar ada hubungan
yang representatif, maka syarat yang diperlukan adalah adanya
unsur kemiripan. Teks sastra, termasuk sosial, politik, iklan dan
sebagainya kaya dengan tanda ikon. Pada dasarnya, baik ikon
maupun indeks dan simbol yang murni tidak pernah ada. Artinya,
ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Ikon
ditandai oleh adanya kemiripan, indeks ditandai dengan adanya
kedekattan eksistentsi dan hubungn sebab akibat sedangkan simbol
ditandai oleh adanya kesepakatan, perjanjian, dan hubungan yang
terbentuk secara konvensional. Contoh ikon adalah peta geografis
dan foto. Nama orang, baik nama diri maupun nama keluarga,
termasuk gelar, demikian juga statistik, diagram, dan model
termasuk ikon. Contoh indeks adalah tanda penunjuk arah,
hubungan antara asap dengan api. Contoh simbol adalah anggukan
kepala dan tanda-tanda kebahasaan pada umumnya.

 Roman Osipocich Jakobson


Sama dengan Pierce, pikiran-pikiran Jakobson masih sangat
kental menampilkan model analisis strukturalisme, tetapi pikiran
tersebut dapat mengarahkan bagaimana bahasa sebagai sistem
model pertama berperan sekaligus berubah ke dalam taataran
bahasa sebagai sistem model yang kedua. Krtitk tajam yang
kemudian dikemukakan oleh Riffaterre dan Pratt, misalnya
menunjukkan bahwa peranan pembaca tidak boleh dilupakan,
sekaligus merayakan lahirnya teori sastra dan estetika sastra
postrukturalisme. Menurut Riffaterre (1978: 1-2), makna sebuah
puisi tidak ditentukan oleh linguis melainkan oleh pembaca,
dengan cara mempertentangkan antara arti (meaning) pada level
mimetik dengan makna (significance), sebagai penyimpangan level
mimetik itu sendiri. Lebih tegas, melalui pendekatan
sosiolinguistik melalu teori tindak kata, Pratt mengkritik Jakobson
yang terlalu menonjolkan fungsi puitika. Menurut Pratt (1977: xiii)
tidak ada ragam bahasa yang khas. Wacana sastra adalah
pemakaian bahasa tertentu, bukan ragam bahasa tertentu.
Hubungan antara bahasa dengan sastra, ciri-ciri khas bahasa
dan sastra, ciri-ciri yang membedakan antara bahasa sastra dengan
bahasa nonsastra, telah banyak dibicarakan. Secara garis besar ada
dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa bahasa
sastra berbeda dengan bahasa biasa, bahasa sehari-
hari. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa bahasa sastra sama
dengan bahasa sehari-hari. Pendapat pertama bertolak dari
kekhasan bahasa sastra sebagaimana terkandung dalam puisi,
sedangkan pendapat kedua bertolak dari bahasa prosa. Dalam
sastra kontemporer kelompok formalislah yang paling serius
mencoba menemukan ciri-ciri bahasa sastra tersebut, yang disebut
sebagai literariness.
KESIMPULAN

Dari paparan di atas, terlihat bahwa dari berbagai pemikira filsafat yang
muncul dari mulai Filsafat Pra Socrates sampai Filsafat Klasik zaman Socrates,
dapat digolongkan ke dalam tiga pemikiran yaitu: ada yang mengedepankan
mitos-mitos, ada yang mengedepankan logika serta ada yang mengedepankan
kedua-duanya; maksudnya mitos-mitos dipahami dengan rasio tanpa adannya
pertentanngan di antara keduanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hanafi.
1996 Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang: Jakarta.
Ahmad Tafsir.
2001 Alam Pikiran Yuanani, Remaja Rosdakarya: Bandung.
Haarun Nasution.
1991 Failsafat Agama, Bulan Bintang: Jakarta.
Mohammad Hatt.
1986 Alam Pikiran Yunani, UI Press, Tinta Mas: Jakarta.
Robert C. Solmon dan Katlen M. Higgins.
2002 Sejarah Filsafat (Terjemahan dari Short History of Philosofy oleh Saut Pasaribu),
Yayasan Bentang Budaya: Jogjakarta.