Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM PERENCANAAN HUTAN

ACARA IV
PEMBUATAN RENCANA SELAMA JANGKA
(PK-10, PK-11, PK-17, & PK-20)

DISUSUN OLEH
NAMA : ANGGI DWI CAHYA PUTRI
NIM : 08157
SHIFT : SENIN, 15.30 WIB
COASS : BAGAS ANDI

LABORATORIUM PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
ACARA IV
PEMBUATAN RENCANA SELAMA JANGKA
(PK-10, PK-11, PK-17, & PK-20)

I. TUJUAN
Tujuan dari praktikum acara iv ini antara lain :
1. Dapat memahami proses penyusunan rencana selama jangka (mulai dari PK-10,
PK-11, PK-17, & PK-20)
2. Dapat menyusun PK-10 (Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat) dengan
parameter – parameter yang ada dan dilanjutkan penyusunan PK-11 dan PK-20

II. DASAR TEORI

Dalam suatu perencanaan pembangunan hutan, asas kelestarian selalu menjadi


perhatian utama. Kelestarian hutan tersebut akan terjadi jika memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut: tata batas yang jelas, permudaan yang berhasil, dan penebangan
berdasarkan etat (Suhendang dkk., 2005).
Agar produksi tebangan terjamin kelestariannya, maka diperlukan pengaturan
hasil yang direncanakan secara cermat dan ditepati pelaksanaannya. Ketentuan tersebut
didasarkan pada perhitungan etat yang harus dilaksanakan. Etat adalah jumlah tebangan
yang diperbolehkan, meliputi potensi tegakan berdiri sebagai sediaan di hutan. Etat
volume dinyatakan sebagai pembagian tebangan setiap tahun, yaitu sebesar volume
tegakan produktif dibagi dengan daur. Sedangkan etat luas adalah sebesar luas hutan
produktif dibagi dengan daur (Simon, 2007).

Dari data BTHSD dapat diketahui etat tebangan dan macam kelas hutan yang
memenuhi syarat untuk ditebang pada jangka pertama. Berdasarkan data BTHSD, maka
proses selanjutnya dalam pembuatan Rencana Selama Jangka RKPH yang terdiri dari
PK-10 (Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat), PK-11 (Rencana Teresan),
dan PK-20 (Rencana Tanam) (Husch, 1987).

Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang perencanaan hutan pada


ketentuan umum pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa perencanaan hutan adalah
penyusunan pola tentang peruntukan, penyediaan, pengadaan, dan penggunaan hutan
secara serbaguna dan lestari serta penyusunan pola kegiatan-kegiatan pelaksanaannya
menurut ruang dan waktu. Dalam pengelolaan hutan untuk mewujudkan
penyelenggaraan kehutanan yang efektif dan efisien untuk mencapai manfaat fungsi
hutan yang optimum dan lestari maka diperlukan perencanaan hutan. Peraturan
Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan pada Pasal 3
menyatakan bahwa perencanaan kehutanan meliputi kegiatan inventarisasi hutan,
pengukuhan kawasan hutan, penatagunaan kawasan hutan, pembentukan wilayah
pengelolaan hutan, dan peyususunan rencana kehutanan.

Bagan tebang habis adalah ikhtisar rencanan produksi (luas dan volume dalam
m3 kayu perkakas) selama daur, yang dirinci pada setiap jangka perusahaan untuk
masing-masing kelas hutannya. Volume produksi didalam bagan tebang habis disusun
sedemikian rupa, sehingga jumlah volume produksi praktis sama disalam setiap jangka.
Luas tebangan habis setiap jangka disesuaikan dengan potensi produksi rata-rata
masing-masing kelas hutan (Simon, 1994).

Pengujian jangka waktu penebangan (cutting test time) adalah pengujian


terhdap kelestarian produksi selama daur berdasarkan luas tegakan produksi yang ada
serta besdasarkan potensi produksi dari masing-masing petak. Bilamana dalam
pengujian kumulatif tahun-tahun penebangan selam daur terdapat perbedaan yang
nyata maka etat massa yang tealah didapat dikoreksi dan untuk diuji lagi pada cutting
test time berikutnya sampai perbedaan yang terjadi kurang dari 2 tahun (Departemen
Kehutanan, 1997).

Rencana tebangan selama jangka perusahaan yang pertama (Jangka ke I)


disusun ke dalam daftar rencana tebangan habis menurut waktu dan tempatnya yang
dituangkan kedalam model PDE.10 d/h PK.10. Berdasarkan Bagan Tebang Habis,
langsung dapat diketahui kelas hutan yang direncanakan untuk ditebang habis dalam
jangka pertama. Penyusunan urut-urutan penebangan :
A. Urutan waktu penebangan harus didasarkan kepada luas dan potensi
produksi rata-rata per tahun. Luas dan volume tebangan tiap tahun agar
diusahakan merata swetiap tahun, mengingat kemungkinan reboisasinya
dan fluktuasi supply.
B. Urutan tempat penebangan harus diarahkan sedapat mungkin untuk
memperoleh bidang penebangan yang terpusat (kap sentra), supaya jalan-
jalan angkutan yang ada dan akan dibuat dalam jangka pertam dapat dipakai
seefisien mungkin (Perum Perhutani, 1974).

Potensi tegakan sangat diperlukan untuk menyediakan informasi ketersediaan


bahan baku yang dikehendaki konsumen atau industri berbahan baku kayu.
Pengumpulan informasi mengenai potensi tegakan
hutan lazimnya berhubungan dengan pengukuran volume pohon (Askar, 2009).
III. ALAT DAN BAHAN
1. Data ikhtisar kelas hutan yang diberikan
2. Data BTHSD
3. Tabel PK-10, PK-11, PK-17, dan PK-20
4. Peta blangko Bagian Hutan Doplang, KPH Randublatung, Kabupaten Blora
5. Tabel WvW
6. Alat tulis
7. Komputer/Laptop
IV. CARA KERJA

Pembuatan rencana kerja selama jangka dimulai dengan membuat PK-10


(RTWT)yang menggunakan data etat dari BTHSD I’74. Kemudian data yang diperoleh
dari PK-10 digunakan sebagai dasar untuk mencari PK-11 (Rencana Teresan) dan PK-
20 (Rencana Tanam). Terakhir, dilakukan penyusunan PK-17 (Rencana Pemeliharaan
dan Penjarangan).
DAPUS
Dinas Kehutanan. (2006). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kehutanan Tahun
2006–2025. Editor: Soehartono.
HUSCH, B. Perencanaan Inventarisasi Hutan. Universitas Indonesia. Jakarta, 1987.
Malamassam, Daud. "Modul Pembelajaran, Mata Kuliah: Perencanaan
Hutan."Makassar:
Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (2009).
Peraturan Pemerintah No. (33). Tahun 1970, tanggal 31 Agustus 1970. Tentang
Perencanaan Hutan. Departemen Kehutanan RI, Jakarta.
Simon, Hasanu. Perencanaan pembangunan sumber daya hutan: Jil. 1A. Timber
management. Pustaka Pelajar, 2010.
Suhendang, E., I. N. S. Jaya, and A. Hadjib. "Diktat Ilmu Perencanaan
Hutan."Bagian
Perencanaan Hutan. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan IPB.
Bogor (2005).
Yuwono, Teguh dan Putro, Wiyono T, 2008, Cooperative Forest Management,
Yogyakarta: Datamedia

Askar. 2009. Model Lengkung Bentuk Batang Pohon Jati. Jurnal Ilmu Kehutanan. Vol 3 (1), Hal 35
Departemen Kehutanan. 1997. Handbook Of Indonesian Forestry. Koperasi Karyawan Departemen
Kehutanan Republik Indonesia : Jakarta
Perum Perhutani. 1974. Peraturan Inventarisasi Hutan Jati dan Peraturan Penyusunan Rencana Pengaturan
Kelestarian Hutan. Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Kehutanan. Jakarta.
Simon, H. 1994. Pengaturan Hasil Hutan. Bagian Penerbitan Yayasan Pembinaan Fakulatas Kehutanan
UGM. Yogyakarta.
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR PERLINDUNGAN DAN KESEHATAN
HUTAN
ACARA II
PENGENALAN KERUSAKAN HUTAN DAN PENYEBAB AKIBAT SERANGGA
HAMA

DISUSUN OLEH
NAMA : ANGGI DWI CAHYA PUTRI
NIM : 08157
SHIFT : SENIN, 13.00 WIB
COASS : FAUZIAH AZKA

LABORATORIUM PERLINDUNGAN DAN KESEHATAN HUTAN


DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018