Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

INFEKSI PASCA PARTUM

DOSEN
Suzanna Fabella Putri, S.ST, M.Kes

Disusun Oleh :
Ajeng Mutiara Nadika
Amanda Rhesy Hestiani Trisunu
Aulia Maulidiani
Balkis Safira
Dina Fenty Feroza Putri
Eri Nurjanah
Ersty Enggelista Effendi
Umatun Khasanah

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN NERS
TANGERANG SELATAN
TAHUN 2017/2018
PEMBAHASAN

1. Pengertian Infeksi Nifas atau Postpartum


a. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulihnya kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. (Muchtar, 1998 : 115).
b. Periode postpartum (puerperium) adalah jangka waktu 6 minggu,
yang dimulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali organ-
organ reproduksi seperti sebelum kehamilan. (Bobak, 2000 : 716).
c. Masa nifas atau postpartum adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir setelah kira-kira 6 minggu. (Hanifa, 1999 : 237).
d. Postpartum adalah masa setelah melahirkan dimana masa ini meliputi
beberapa minggu pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan
sebelum hamil yang normal. (Cuningham, 1995 : 281).
e. Pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa : “Masa nifas disebut juga postpartum atau
puerperium, adalah masa penyembuhan dan pulihnya kembali alat-
alat reproduksi sejak selesai melahirkan sampai pada keadaan normal,
seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6 minggu.
f. Infeksi postpartum adalah semua peradangan yang disebabkan oleh
masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genetalia pada waktu
persalinan dan nifas (Sarwono Prawirohardjo, 2005 : 689 ).
g. Infeksi postpartum adalah keadaan yang mencakup semua
peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas (Mochtar Rustam,
1998 : 413).
Jadi, yang dimaksud dengan infeksi postpartum adalah infeksi bakteri
pada traktus genetalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai
dengan kenaikan suhu hingga 38 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari
pertama pasca persalinan dengan mengecualikan 24 jam pertama.

2. Periode Nifas atau Postpartum


a. Periode Immediate postpartum : terjadi dalam 24 jam pertama setelah
melahirkan.
b. Periode Early postpartum : terjadi setelah 24 jam postpartum sampai
akhir minggu pertama sesudah melahirkan, dimana resiko sering
terjadi pada ibu postpartum, hampir seluruh sistem tubuh mengalami
perubahan secara drastic.
c. Periode late postpartum : terjadi mulai minggu kedua sampai minggu
keenam sesudah melahirkan, dan terjadi perubahan secara bertahap.

3. Adaptasi Fisiologis Postpartum


Akhir dari persalinan, hampir seluruh sistem tubuh mengalami
perubahan secara progresif. Semua perubahan pada ibu postpartum perlu
dimonitor oleh perawat, untuk menghindari terjadinya komplikasi.
Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sistem Respirasi
Penggunaan obat-obat anesthesia umum selama proses
pembedahan menyebabkan perubahan kecepatan frekuensi,
kedalaman dan pola respirasi. Setelah operasi mungkin terjadi
penumpukan secret pada jalan nafas yang menyebabkan perubahan
pola nafas, juga suara tambahan berupa rales. Hal ini tidak ditemukan
pada anesthesia spinal. Sedangkan peningkatan respirasi mungkin
terjadi sebagai respon klien terhadap adanya nyeri.
b. Sistem Cardiovaskuler
Selama masa kehamilan dan persalinan sistem cardiovaskuler
banyak mengalami perubahan antara lain :
1) Cardiak Output
Penurunan cardiac output menyebabkan bradikardi
(50-70x/menit) pada hari pertama setelah persalinan. Bila
frekuensi denyut nadi cepat mengindikasikan adanya
perdarahan, kecemasan, kelelahan, infeksi penyakit jantung,
dapat terjadi hipotensi orthostatik dengan penurunan tekanan
systolic kurang lebih 20 mmHg yang merupakan kompensasi
pertahanan tubuh untuk menurunkan resistensi vaskuler
sebagai akibat peningkatan tekanan vena. Biasanya ini terjadi
beberapa saat setelah persalinan, dan saat pertama kali
melakukan mobilisasi (ambulasi). Bila terjadi penurunan
secara drastic merupakan indikasi terjadinya perdarahan uteri.
2) Volume dan Konsentrasi Darah
Pada 72 jam pertama setelah persalinan banyak
kehilangan plasma dari pada sel darah. Selama persalinan
erithropoesis meningkat menyebabkan kadar hemoglobin
menurun dan nilainya akan kembali stabil pada hari keempat
postpartum. Jumlah leukosit meningkat pada early postpartum
hingga nilainya mencapai 30.000/mm3 tanpa adanya infeksi.
Apabila peningkatan lebih dari 30 % dalam 6 jam pertama,
maka hal ini mengindikasikan adanya infeksi.
Jumlah darah yang hilang selam persalinan sekitar
400-500 ml. Pada klien postpartum dengan seksio sesarea
kehilangan darah biasanya lebih banyak dibanding persalinan
normal (600-800 cc).
c. Sistem Gastrointestinal
Pada klien dengan postpartum seksio sesarea biasanya
mengalami penurunan tonus otot dan motilitas traktus gastrointestinal
dalam beberapa waktu. Pemulihan kontraksi dan
motilitas otot tergantung atau dipengaruhi oleh penggunaan
analgetik dan anesthesia yang digunakan, serta mobilitas klien.
Sehingga berpengaruh pada pengosongan usus. Secara spontan
mungkin terhambat hingga 2-3 hari. Selain itu klien akan merasa
pahit pada mulut karena dipuasakan atau merasa mual karena
pengaruh anesthesia umum. Sebagai akibatnya klien akan
mengalami gangguan pemenuhan asupan nutrisi serta gangguan
eliminasi BAB. Klien dengan spinal anesthesia tidak perlu puasa
sebelumnya.
d. Sistem Reproduksi
1) Payudara
Setelah persalinan behubung lepasnya plasenta dan
berkurangnya fungsi korpus luteum, maka estrogen dan
progesterone berkurang, prolaktin akan meningkat dalam darah
yang merangsang sel-sel acini untuk memproduksi ASI.
Keadaan payudara pada dua hari pertama postpartum sama
dengan keadaan dalam masa kehamilan. Pada hari ketiga dan
keempat buah dada membesar, keras dan nyeri ditandai dengan
sekresi air susu sehingga akan terjadi proses laktasi. Laktasi
merupakan suatu masa dimana terjadi perubahan pada payudara
ibu, sehingga mampu memproduksi ASI dan merupakan suatu
interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik,
saraf dan berbagai macam hormon sehingga ASI dapat keluar.

2) Involusi Uterus
Segera setelah plasenta lahir, uterus mengalami
kontraksi dan retraksi ototnya akan menjadi keras sehingga
dapat menutup/menjepit pembuluh darah besar yang bermuara
pada bekas inplantasi plasenta. Proses involusi uterus terjadi
secara progressive dan teratur yaitu 1-2 cm setiap hari dari 24
jam pertama postpartum sampai akhir minggu pertama saat
tinggi fundus sejajar dengan tulang pubis. Pada minggu keenam
uterus kembali normal seperti keadaan sebelum hamil kurang
lebih 50-60 gram. Pada seksio sesarea fundus uterus dapat
diraba pada pinggir perut. Rasa tidak nyaman karena kontraksi
uterus bertambah dengan rasa nyeri akibat luka sayat pada
uterus terjadi setelah klien sadar dari narkose dari 24 jam post
operasi.
3) Endometrium
Dalam dua hari postpartum desidua yang tertinggal dan
berdiferensiasi menjadi 2 lapisan, lapisan superficial menjadi
nekrotik dan terkelupas bersama lochea. Sedangkan lapisan
basah yang bersebelahan dengan miometrium yang berisi
kelenjar tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan
endometrium baru. Proses regenerasi endometrium berlangsung
cepat. Seluruhnya endometrium pulih kembali dalam minggu
kedua dan ketiga.
4) Cerviks, Vagina, Vulva, Perineum
Pada persalinan dengan seksio sesarea tidak terdapat
peregangan pada serviks dan vagina kecuali bila sebelumnya
dilakukan partus percobaan serviks akan mengalami
peregangan dan kembali normal sama seperti postpartum
normal. Pada klien dengan seksio sesarea keadaan perineum
utuh tanpa luka.
5) Lochea
Lochea adalah secret yang berasal dari dalam rahim
terutama luka bekas inplantasi plasenta yang keluar melalui
vagina. Lochea merupakan pembersihan uterus setelah
melahirkan yang secara mikroskopik terdiri dari eritrosit,
kelupasan desidua, sel-sel epitel dan bakteri yang dikeluarkan
pada awal masa nifas. Lochea dibagi berdasarkan warna dan
kandungannya yaitu :
a) Lochea Rubra
Keluar pada hari pertama sampai hari ketiga
postpartum. Warna merah terdiri dari darah, sel-sel desidua,
vernik caseosa, rambut lanugo, sisa mekonium dan sisa-sisa
selaput ketuban.
b) Lochea Serosa
Mengandung sel darah tua, serum, leukosit dan sisa-sisa
jaringan dengan warna kuning kecoklatan, berlangsung hari
keempat dan kesembilan postpartum. c) Lochea Alba

Berwarna putih kekuningan, tidak mengandung darah,


berisi sel leukosit, sel-sel epitel dan mukosa serviks. Dimulai
pada hari ke-10 sampai minggu ke 2-6 postpartum
(Cuningham, 195 : 288).
Perdarahan lochea menunjukan keadaan normal. Jika
pengeluaran lochea berkepanjangan, pengeluaran lochea
tertahan, lochea yang prulenta (nanah), aras nyeri yang
berlebihan, terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber
perdarahan dan terjadi infeksi intra uterin.
e. Sistem Endokrin
Kaji kelenjar tiroid, adakah pembesaran pada kelenjar
tiroid, pembengkakan kelenjar getah bening dan kaji .juga
pengeluaran ASI dan kontraksi uterus.
f. Sistem Perkemihan
Pada klien seksio sesarea terutama pada kandung kemih
dapat terjadi karena letak blass berdempetan dengan uterus,
sehingga pengosongan kandung kemih mutlak dilakukan dan
biasanya dipasang folly kateter selama pembedahan sampai 2 hari
post operasi. Dengan demikian kmungkinan dapat terjadi gangguan
pola eliminasi BAK, sehingga klien perlu dilakukan bldder
training. Kaji warna urine yang keluar, jumlahnya dan baunya.
g. Sistem Persarafan
Sistem persarafan pada klien postpartum biasanya tidak
mengalami gangguan kecuali ada komplikasi akibat dari pemberian
anesthesia spinal atau penusukan pada anesthesi epidural dapat
menimbulkan komplikasi penurunan sensasi pada ekstremitas
bawah. Klien dengan spinal anesthesia perlu tidur flat selama 24
jam pertama. Kesadaran biasanya
h. Sistem Integumen
Cloasma/hyperpigmentasi kehamilan sering hilang setelah
persalinan akibat dari penurunan hormon progesterone dan
melanotropin, namun pada beberapa wanita ada yang tidak
menghilang secara keseluruhan, kadang ada yang hyperpigmentasi
yang menetap. Pertumbuhan rambut yang berlebihan terlihat
selama kehamilan seringkali menghilang setelah persalinan,
sebagai akibat dari penurunan hormon progesterone yang
mempengaruhi folikel rambut sehingga rambut tampak rontok.
i. Sistem Muskuloskletal
Selama kehamilan otot abdomen teregang secara bertahap,
hal ini menyebabkan hilangnya kekenyalan otot pada masa
postpartum, terutama menurunnya tonus otot dinding dan adanya
diastasis rektus abdominalis. Pada dinding abdomen sering tampak
lembek dan kendur dan terdapat luka/insisi bekas operasi, secara
berangsur akan kembali pulih, selain itu sensasi ekstremitas bawah
dapat berkurang selama 24 jam pertama setelah persalinan, pada
klien postpartum dengan seksio sesaria, hal ini terjadi bila
dilakukan regio anestesi dapat terjadi pula penurunan kekuatan otot
yang disebabkan oleh peregangan otot.
4. Etiologi
Penyebab dari infeksi postpartum ini melibatkan mikroorganisme
anaerob dan aerob patogen yang merupakan flora normal serviks dan jalan
lahir atau mungkin juga dari luar. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari
50 % adalah streptococcus dan anaerob yang sebenarnya tidak patogen
sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering
menyebabkan infeksi postpartum antara lain :
a. Streptococcus haematilicus aerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat
yang ditularkan dari penderita lain , alat alat yang tidak steril ,
tangan penolong , dan sebagainya.
b. Staphylococcus aurelis
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak
ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit
c. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum ,
menyebabkan infeksi terbatas
d. Clostridium welchii
Kuman anaerobik yang sangat berbahaya , sering
ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun
dari luar rumah sakit.

5. Faktor Predisposisi
a. Faktor predisposisi infeksi postpartum
1) Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh,
seperti perdarahan, dan kurang gizi atau malnutrisi
2) Partus lama, terutama partus dengan ketuban pecah lama.
3) Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan
lahir.
4) Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan dara
5) Anemia, higiene, kelelahan
6) Proses persalinan bermasalah :
7) Partus lama/macet, korioamnionitis, persalinan traumatik,
kurang baiknya proses pencegahan infeksi, manipulasi yang
berlebihan, dapat berlanjut ke infeksi dalam masa nifas.
b. Cara Terjadinya infeksi
1) Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan
pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang
sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain
ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke
dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-kuman.
2) Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena
kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan
dokter atau petugas kesehatan lainnya. Oleh karena itu, hidung
dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup
dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan
dilarang memasuki kamar bersalin.
3) Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen,
berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi.
Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh aliran udara kemana-mana
termasuk kain-kain, alat-alat yang suci hama, dan yang
digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada
waktu nifas.
4) Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi
penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
5) Infeksi Intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala
pada waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intraparum
biasanya terjadi pada waktu partus lama, apalagi jika ketuban
sudah lam pecah dan beberapakali dilakukan pemeriksaan
dalam. Gejal-gejala ialah kenaikan suhu, biasanya disertai
dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung janin dapat
meningkat pula. Air ketuban biasanya menjadi keruh dan
berbau. Pada infeksi intra partum kuman-kuman memasuki
dinding uterus pada waktu persalinan, dan dengan melewati
amnion dapat menimbulkan infeksi pula pada janin.

6. Patofisiologi
Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi
umum. Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan
metabolik pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis diseluruh
tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B).
Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus
berlangsung selama menjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma.
Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan
yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh
sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reksi sel
fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul
dalam suatu rongga membentuk abses atau bekumpul dijaringan tubuh
yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas dijaringan ikat).
(Sjamsuhidajat, R, 1997 ).
.
7. Pathway infeksi postpartum.
Trauma persalinan,infeksi nosokomial

Daerah bekas insersio plasenta

Kuman tumbuh dalam tubuh wanita (serviks,vulva,perineum) lokhea


berbau busuk
Infeksi Postpartum

Peningkatan
Merangsang
suhu tubuh pegeluaran
mediator kimia

Demam tinggi
Merangsang sel-
sel disekitar luka
Takikardi anoreksia

Mual, muntah Sensasi nyeri

Nutrisi kurang
dari kebutuhan
8. Manifestasi Klinis
a. Peningkatan suhu
b. Takikardie.
c. Nyeri pada pelvis
d. Demam tinggi
e. Nyeri tekan pada uterus
f. Lokhea berbau busuk/ menyengat
g. Penurunan uterus yang lambat
h. Nyeri dan bengkak pada luka episiotomy

9. Jenis-jenis infeksi postpartum


a. Infeksi Payudara
1) Mastitis
a) Definisi
Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada
jaringan payudara. Pada infeksi yang berat atau tidak diobati,
bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam
payudara).
b) Penyebab
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri
yang banyak ditemukan pada kulit yang normal
(Staphylococcus aureus).
Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke
dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit
(biasanya pada puting susu).
Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui
dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah
melahirkan.
Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis
pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara
berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air
susu yang terletak di bawah puting susu. Perubahan hormonal
di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatan saluran air
susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang tersumbat ini
menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.
c) Gejala
Gejalanya berupa :
 Nyeri payudara
 Benjolan pada payudara
 Pembengkakan salah satu payudara
 Jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan,
kemerahan dan teraba hangat
 Nipple discharge (keluar cairan dari puting susu, bisa
mengandung nanah)
 Gatal - gatal
 Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang
sama dengan payudara yang terkena
 Demam.
d) Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik. Jika tidak sedang menyusui, bisa dilakukan
mammografi atau biopsi payudara.
e) Pengobatan
Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama
15-20 menit, 4 kali/hari. Diberikan antibiotik dan untuk
mencegah pembengkakan, sebaiknya dilakukan pemijatan dan
pemompaan air susu pada payudara yang terkena.
 Berikan klosasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari. Bila
diberikan sebelum terbentuk abses biasanya keluhannya
akan berkurang.
 Sangga payudara.
 Kompres dingin.
 Bila diperlukan berikan Parasetamol 500 mg per oral setiap
4 jam.
 Ibu harus didorong menyusui bayinya walau ada PUS.
 Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan.
f) Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan
beberapa tindakan berikut
 Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
 Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran,
kosongkan payudara dengan cara memompanya
 Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk
mencegah robekan/luka pada puting susu
 Minum banyak cairan
 Menjaga kebersihan puting susu
 Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
2) Bendungan ASI
a) Definisi
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena
penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak
dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada
putting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi
karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah
bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini
timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan
bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.
b) Patologi
Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain :
 Faktor hormon
 Hisapan bayi
 Pengosongan payudara
 Cara menyusui
 Faktor gizi
 Kelainan pada puting susu
c) Patofisiologi
 Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain
payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat
mengkilat meski tidak kemerahan.
 ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula
payudara yang terbendung membesar, membengkak dan
sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata.
 ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut
untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam,
tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).
d) Penatalaksanaan
 Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
1. Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30
menit) setelah dilahirkan
2. Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
3. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi
melebihi kebutuhan bayi
4. Perawatan payudara pasca persalinan
 Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
1. Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
2. Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah
ditangkap dan dihisap oleh bayi.
3. Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
4. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan
kompres dingin
5. Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah
bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang
dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)
3) Abses Payudara
a) Definisi
Abses payudara berbeda dengan mastitis. Abses
payudara terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik,
sehingga memperberat infeksi.
b) Gejala
 Sakit pada payudara ibu tampak lebih parah.
 Payudara lebih mengkilap dan berwarna merah.
 Benjolan terasa lunak karena berisi nanah.
 Payudara yang tegang dan padat kemerahan.
 Pembengkakan dengan adanya fluktuasi.
 Adanya pus/nanah.
c) Penanganan
 Teknik menyusui yang benar.
 Kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara
bergantian.
 Meskipun dalam keadaan mastitis, harus sering menyusui
bayinya.
 Mulailah menyusui pada payudara yang sehat.
 Hentikan menyusui pada payudara yang mengalami abses,
tetapi ASI harus tetap dikeluarkan.
 Apabila abses bertambah parah dan mengeluarkan
nanah, berikan antibiotik.
 Rujuk apabila keadaan tidak membaik.
b. Infeksi Perineal
1) Definisi
Masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh melalui robekan
dan serambi liang senggama waktu bersalin, sehingga luka terasa
nyeri dan mengeluarkan nanah.
Disebabkan oleh keadaan yang kurang bersih dan tindakan
pencegahan infeksi yang kurang baik.
3) Tanda / Gejala
a) Nyeri pada luka.
b) Luka pada perineal yang mengeras.
c) Demam.
d) Keluar pus / cairan.
e) Kemerahan.
f) Berbau busuk.
4) Penatalaksanaan
a) Bila didapati pus dan cairan pada luka, buka jahitan dan
lakukan pengeluaran serta kopmres antiseptic.
b) daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan
debridemen.
c) Bila infeksi sedikit tidak perlu antibiotika.
d) Bila infeksi relative superficial, berikan Ampisilin 500mg per
oral selama 6 jam dan Metronidazol 500 mg per oral 3
kali/hari selaa 5 hari.
e) Bila infeksi dalam dan melibatkan otot dan menyebabkan
nekrosis, beri Pennisilin G 2 juta U IV setiap 4 jam ( atau
Ampisilin inj 1 g 4x/hari ) ditambah dengan Gentamisin 5
mg/kg berat badan per hari IV sekali ditambah dengan
Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam, sampai bebas panas
selama 24 jam. Bila ada jaringan nekrotik harus dibuang,
lakukan jahitan sekunder 2 – 4 minggu setelah infeksi
membaik.
f) Berikan nasihat kebersihan dan pemakaian pembalut yang
bersih dan sering diganti.
5) Pelaksanaan
a) Jika terdapat pus atau cairan, buka dan drain luka tersebut.
b) Angkat kulit yang nekrotik dan jahitan subkutis dan lakukan
debridement.
 Jangan angkat jahitan fasia.
c) Jika infeksi hanya superficial dan tidak meliputi jaringan
dalam, atau akan timbulnya abses dan berikan antibiotika.
 Ampisilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 5 hari.
d) Jika infeksi cukup dalam, meliputi otot dan menimbulkan
nekrotik atau berikan kombinasi antibiotika sampai pasien
bebas panas 48 jam.
 Penisilin G sebanyak 2 juta unit I.V setiap 6 jam.
 Ditambah Gentamisin 5 mg/kgBB I.V setiap 24 jam.
 Ditambah Metronidazol 500 mg per oral 3 kali sehari selaa
5 hari.
 Jika sudah bebas demam 48 jam, berikan :
1. Ampisilin 500mg per oral 4 kali sehari selama 5 hari.
2. Ditambah Metronidazol 400 mg per oral 3 kali sehari
selama 5 hari.
Catatan : Fasilitas nekrotikan membutuhkan
debridement dan jahitan situasi. Lakukan jahitan
reparasi 2 – 4 minggu kemudian, bila luka sudah
bersih.
3. Jika infeksi parah pada fasilitas nekrotikan, rawat
pasien untuk kompres 2 kali sehari.
c. Infeksi Uterus
1) Endometritis (Lapisan dalam rahim)
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan
dalam dari rahim). infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan
infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing
dalam rahim (Anonym, 2008).
Endometritis adalah infeksi yang berhubungan dengan
kelahiran anak, jarang terjadi pada wanita yang mendapatkan
perawatan medis yang baik dan telah mengalami persalinan
melalui vagina yang tidak berkomplikasi. Infeksi pasca lahir yang
paling sering terjadi adalah endometritis yaitu infeksi pada
endometrium atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah
lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada proses kelahiran caesar,
setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya
membran yang terlalu dini. Juga sering terjadi bila ada plasenta
yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi infeksi dari
luka pada leher rahim, vagina atau vulva.
Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal
infeksi, sedikit demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian
bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak
yang khas menunjukkan adanya infeksi pada endometrium. Pada
infeksi karena luka biasanya terdapat nyeri dan nyeri tekan pada
daerah luka, kadang berbau busuk, pengeluaran kental, nyeri pada
perut atau sisi tubuh, gangguan buang air kecil. Kadang-kadang
tidak terdapat tanda yang jelas kecuali suhu tunbuh yang meninggi.
Maka dari itu setiap perubahan suhu tubuh pasca lahir harus segera
dilakukan pemeriksaan.
Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan
gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian bawah, mengeluarkan
keputihan, kadang-kadang terdapat perdarahan dapat terjadi
penyebaran seperti meometritis (infeksi otot rahim), parametritis
(infeksi sekitar rahim), salpingitis (infeksi saluran tuba), ooforitis
(infeksi indung telur), dapat terjadi sepsis (infeksi menyebar),
pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau
indung telur (Anonym, 2008).
Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan,
dimana bekas implantasi plasenta masih terbuka, terutama pada
persalinan terlantar dan persalinan dengan tindakan pada saat
terjadi keguguran, saat pemasangan alat rahim yang kurang
legeartis (Anonym, 2008).
Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta
dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat
menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak
membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek.
Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa
kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-
3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa
hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu
keadaan sudah normal kembali.
Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-
kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat.
Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang
sedikit dan tidak berbau.
Untuk mengatasinya biasanya dilakukan pemberian
antibiotik, tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin agar
hasilnya efektif. Dapat pula dilakukan biakkan untuk menentukan
jenis bakteri, sehingga dapat diberikan antibiotik yang tepat.
2) Miometritis (infeksi otot rahim)
Miometritis adalah radang miometrium. Sedangkan
miometrium adalah tunika muskularis uterus. Gejalanya berupa
demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut
bawah, lokhea berbau, purulen.
Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau
infeksi postpartum. Penyakit ini tidak brerdiri sendiri akan tetapi
merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan
lanjutan dari endometritis. Kerokan pada wanita dengan
endometrium yang meradang dapat menimbulkan metritis akut.
Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa
pembengkakan dan infiltarsi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi
lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang-kadang
dapat terjadi abses.
Metritis kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat
atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari bisa,
sakit pnggang, dan leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada
multipara umumnya disebabkan oleh pemanbahan jaringan ikat
akibat kehamilan. Terapi dapat berupa antibiotik spektrum luas
seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam, gentamisin 5 mg kg/BB,
metronidasol mg IV per 8 jam, profilaksi anti tetanus, efakuasi
hasil konsepsi.
3) Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim).
Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam
lig latum. Radang ini biasanya unilatelar. Tanda dan gejala suhu
tinggi dengan demam tinggi, Nyeri unilateral tanpa gejala
rangsangan peritoneum, seperti muntah. Penyebab Parametritis
yaitu :
a) Endometritis dengan 3 cara yaitu :
 Per continuitatum : endometritis → metritis →
parametitis
 Lymphogen
 Haematogen : phlebitis → periphlebitis → parametritis
b) Dari robekan serviks
c) Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD )
d. Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis,
tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis
dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses
pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum
dan menyebabkan peritonitis.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada
daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada
peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi
keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat
pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum
douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk
mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen
dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi
cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire.
Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat,
mata cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies
hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi.
e. Tromboflebitis
1) Definisi
Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan
atau invasi mikroorganisme pathogen yang mengikuti aliran darah
disepanjang vena dan cabang – cabangnya sehingga terjadi
trobpoflebitis.
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh
darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis
cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat
kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan
fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan
oleh tekanan keopala janin gelana kehamilan dan persalinan; dan
aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan,
statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah
(Adele Pillitteri, 2007).
2) Klasifikasi
a) Pelviotromboflebitis
 Definisi
Yaitu infeksi nifas yang mengenai vena – vena
dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika
dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta
terletak di bagian atas uterus ; proses biasanya unilateral.
Perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra ialah ke vena
renalis, sedangkan perluasan infeksidari vena ovarika
dekstra ialah ke vena kafa inferior. Peritoneum yang
menutupi vena ovarika dekstra, mengalami imflamasi dan
akan menyebabkan perisalpingo – 00foritis dan
periapendisitis. Perluasan infeksi dari vena utruna ialah ke
vena iliaka komunis.
 Etiologi
Disebabkan oleh kurangnya gizi atau mal nutrisi,
anemia, kurang personal hygiene, trauma jalan lahir. Seperti
partus lama atau macet dan periksa dalam yang berlebihan.
 Gejala
1. Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan / atau
perut bagian samping, timbul pada hari ke 2 – 3 masa
nifas dengan atau tanpa panas.
2. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran
karakteristik sebagai berikut :
a. Menggigil berulang kali. Menggigil inisial terjadi
sangat berat ( 30 – 40 menit ) dengan interval hanya
beberapa jam saja dan kadang – kadang 3 hari. Pada
waktu menggigil penderita ha[irtidak panas.
0
b. Suhu badan naik turun secara tajam ( 36 C menjadi
0
40 C ) yang diikuti dengan penurunan suhu dalam
waktu 1 jam ( biasanya subfebris seperti pada
endometritis ).
c. Penyakit dapat berlangsung selama 1 – 3 bulan.
d. Cenderung berbentuk pus, yang menjalar ke mana –
mana, terutama ke paru – paru.
3. Gambaran darah
a. Terdapat leukositosis ( meskipun setelah endotoksin
menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi
leukopenia ).
b. Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada
saat sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri
ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur
darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah
anaerob.
4. Pada periksa dalam hampir tidak ditemukan apa – apa
karena yang paling banyak terkena ialah vena ovarika
yang sukar dicapai dalam pemeriksaan.
 Komplikasi
1. Komplikasi pada paru – paru : infark, abses, pneumonia.
2. Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang
diikuti dengan proteinuria dan hematuria.
3. Komplikasi pada persendian, mara dan jaringan
subkutan.
 Penanganan
1. Rawat Inap
Penderita tirah baring untuk pemantauan gejala
penyakit yang dan mencegah terjadinya emboli
pulmonum.
2. Terapi Medik
Pemberian antibiotika dan heparin jika terdapat
tanda – tanda atau dugaan adanya emboli pulmonum.
3. Terapi Operatif
Pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika
jika emboli septic terus berlangsung sampai mencapai
paru – paru, meskipun sedang dilakukan heparinisasi.

b) Tromboflebitis Femoralis
 Definisi
Yaitu infeksi nifas yang mengenai vena – vena pada
tungkai, misalnya vena femoralis, vena poplitea dan vena
safvena.
 Penilaian Klinik
1. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris
selama 7 -10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira –
kira pada hari ke 10 – 20, yang disertai dengan
menggigil dan nyeri sekali.
2. Pada salah satu kaki yang terkena biasanya kaki kiri,
akan meberikan tanda – tanda sebagai berikut :
a. Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke
luar serta sukar bergerak, lebih panas dibanding
dengan kaki lainnya.
b. Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki
terasa tegang dank eras pada paha bagian atas.
c. Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
d. Reflektorik akan terjadi spasus arteria sehingga
kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan
dingin, pulsasi menurun.
e. Edema kadang – kadang terjadi sebelum atau
setelah atau setelah nyeri dan pada uumnya
terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering
dimulai dari jari – jari kaki dan pergelangan kaki,
kemudian meluas dari bawah ke atas.
f. Nyeri pada betis, yang akan terjadi spontan atau
dengan memijit betis atau dengan meregangkan
tendo akhiles ( tanda Homan ).
 Penanganan
1. Perawatan.
Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan
kompres pada kaki. Setelah mobilisasi kaki hendaknya
tetap dibalut elastik atau memakai kaos kaki panjang
yang elastic selama mungkin.
2. Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya
jangan menyusui.
3. Terapi medik : pemberian antibiotika dan analgetik.

10. Pengobatan Infeksi Kala Nifas


Pengobatan infeksi pada masa nifas antara lain:
a. Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik, luka
operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika
yang tepat.
b. Memberikan dosis yang cukup dan adekuat.
c. Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil
laboratorium.
d. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi
darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta
perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.

11. Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Nifas


Infeksi nifas dapat diobati dengan cara sebagai berikut:
a. Pemberian Sulfonamid – Trisulfa merupakan kombinasi dari sulfadizin
185 gr, sulfamerazin 130 gr, dan sulfatiozol 185 gr. Dosis 2 gr diikuti 1
gr 4-6 jam kemudian peroral.
b. Pemberian Penisilin – Penisilin-prokain 1,2 sampai 2,4 juta satuan IM,
penisilin G 500.000 satuan setiap 6 jam atau metsilin 1 gr setiap 6 jam
IM ditambah ampisilin kapsul 4×250 gr peroral.
c. Tetrasiklin, eritromisin dan kloramfenikol.
d. Hindari pemberian politerapi antibiotika berlebihan.
e. Lakukan evaluasi penyakit dan pemeriksaan laboratorium.

12. Komplikasi
a. Peritonitis (peradangan selaput rongga perut)
b. Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan
resiko terjadinya emboli pulmoner.
c. Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri
di dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang
berat dan bahkan kematian.

13. Penatalaksanaan
a. Pencegahan
1) Masa Persalinan
a) Hindari pemeriksaan dalam berulang, lakukan bila ada
indikasi dengan sterilitas yang baik, apalagi bila ketuban telah
pecah.
b) Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama.
c) Jagalah sterilitas kamar bersalin dan pakailah masker, alat-alat
harus suci hama.
d) Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik
pervaginam maupun perabdominal dibersihkan, dijahit sebaik-
baiknya dan menjaga sterilitas.
e) Pakaian dan barang-barang atau alat-alat yang berhubungan
dengan penderita harus terjaga kesuci-hamaannya.
f) Perdarahan yang banyak harus dicegah, bila terjadi darah yang
hilang harus segera diganti dengan transfusi darah.
g) Masa Nifas
h) Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi,
begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan
dengan alat kndung kencing harus steril.
i) Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam
ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
j) Tamu yang berkunjung harus dibatasi.

Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi


seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati
penyakit-penyakit yang diderita ibu. Pemeriksaan dalam jangan
dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. Begitu pula koitus
pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan
hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban, kalau ini
terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.
b. Pencegahan infeksi postpartum :
1) Anemia diperbaiki selama kehamilan. Berikan diet yang baik.
Koitus pada kehamilan tua sebaiknya dilarang.
2) Membatasi masuknya kuman di jalan lahir selama persalinan.
Jaga persalinan agar tidak berlarut-larut. Selesaikan persalinan
dengan trauma sesedikit mungkin. Cegah perdarahan banyak dan
penularan penyakit dari petugas dalam kamar bersalin. Alat-alat
persalinan harus steril dan lakukan pemeriksaan hanya bila perlu
dan atas indikasi yang tepat.
3) Selama nifas, rawat higiene perlukaan jalan lahir. Jangan merawat
pasien dengan tanda-tanda infeksi nifas bersama dengan wanita
sehat yang berada dalam masa nifas.
c. Penanganan umum
1) Antisipasi setiap kondisi (faktor predisposisi dan masalah dalam
proses persalinan) yang dapat berlanjut menjadi
penyulit/komplikasi dalam masa nifas.
2) Berikan pengobatan yang rasional dan efektif bagi ibu yang
mengalami infeksi nifas.
3) Lanjutkan pengamatan dan pengobatan terhadap masalah atau
infeksi yang dikenali pada saat kehamilan ataupun persalinan.
4) Jangan pulangkan penderita apabila masa kritis belum terlampaui.
5) Beri catatan atau instruksi tertulis untuk asuhan mandiri di rumah
dan gejala-gejala yang harus diwaspadai dan harus mendapat
pertolongan dengan segera.
6) Lakukan tindakan dan perawatan yang sesuai bagi bayi baru lahir,
dari ibu yang mengalami infeksi pada saat persalinan. Dan
Berikan hidrasi oral/IV secukupnya.
d. Pengobatan secara umum
1) Sebaiknya segera dilakukan pembiakan (kultur) dan sekret vagina,
luka operasi dan darah serta uji kepekaan untuk mendapatkan
antibiotika yang tepat dalam pengobatan.,
2) Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat.
3) Karena hasil pemeriksaan memerlukan waktu, maka berikan
antibiotika spektrum luas (broad spektrum) menunggu hasil
laboratorium.
4) Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh penderita, infus atau
transfusi darah diberikan, perawatan lainnya sesuai dengan
komplikasi yang dijumpai.
e. Penanganan infeksi postpartum :
1) Suhu harus diukur dari mulut sedikitnya 4 kali sehari.
2) Berikan terapi antibiotik, Perhatikan diet. Lakukan transfusi darah
bila perlu, Hati-hati bila ada abses, jaga supaya nanah tidak masuk
ke dalam rongga perineum.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Infeksi postpartum adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi
sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau
lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan
mengecualikan 24 jam pertama. Ini disebakan oleh kuman aerob juga kuman
anaerob. Infeksi bisa terjadi melalui tangan penderita, droplet infeksion,
infeksi rumah sakit (hospital infection), dalam rumah sakit, dan Koitus karena
ketuban pecah. Manifestasi yang muncul bergantung pada tempat-tempat
infeksi, ada infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan
endometrium kemudian bisa menyebar dari tempat-tempat tersebut melalui
vena-vena, jalan limfe dan permukaan endometrium. Bila menyebar maka
manifestasi yang muncul juga dapat memperburuk keadaan penderita.
Peristiwa terjadinya infeksi setelah persalinan yaitu dimana sewaktu
persalinan, bakteri yang mengkoloni servik dan vagina memperoleh akses ke
cairan amnion, dan postpartum bakteri-bakteri ini akan menginvasi jaringan
mati di tempat histerektomi. Kemudian terjadi seluletis para metrium dengan
infeksi jaringan ikat fibroareolar retroperitonium panggul. Hal ini dapat
disbabkan oleh penyebaran limfogen ogranisme dari tempat laserasi servik
atau insisi/ laserasi uterus yang terinfeksi. Dengan ini dapat mengakibatkan
berbagai masalah keperawatan seperti hipertemi dan nyeri, dan untuk
intervensi keperawatannya merujuk pada diagnose nanda, nic dan noc. .
B. Saran
Dengan makalah ini penulis berharap, mahasiswa dapat memahami
konsep teori beserta asuhan keperawatan pada infeksi postpartum, karena
infeksi postpartum rentan ditemui terutama pada wanita yang mengalami
gangguan pada sistem imun, sebagai tim medis harus berusaha semaksimal
mungkin untuk mencegah terjadinya infeksi pada postpartum, sehingga secara
tidak langsung dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas.
DAFTAR PUSTAKA

http://webforum.plasa.com/archive/index.php/t-39873.html
http://khaidirmuhaj.blogspot.com/2009/01/askep-nifas-pada-ibu-dengan-infeksi.html
http://www.scribd.com/doc/6502571/Infeksi-nifas
http://195.154.243.168./sd.php/sc/1556260INjl2ODQyMWM/infeksi-post-partum.pdf