Anda di halaman 1dari 15

“MUKADIMAH ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH

TANGGA MUHAMMADIYAH”

Dosen Pengampu :

Dr. Hisbul Muflihin, M.Pd

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kemuhammadiyahan

Disusun oleh :

1. Fredy Kurnianto (1502030152)


2. Anisa Nur Jihan (1502030165)
3. Haris Setiyanto (1702030036)
4. Otman Pandu Ganida (1702030160)
5. Yuni Purnamasari (1702030192)
6. Fitriatun Solekhah (1702030210)
7. Dian Octo Irianto (1802030045)

AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Muhammadiyah adalah suatu persyarikatan yang merupakan
“Gerakan Islam”Maksud geraknya ialah, “Dakwah islam dan amar makruf
nahi mungkar” yang ditujukan kepada dua bidang: perseorangan dan
masyarakat. Dakwah dan amar makruf nahi mungkar pada bidang yang
pertama terbagi pada dua golongan: kepada yang telah islam bersifat
pembaharuan(tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran-ajaran islam
yang asli murni, dan yang kedua kepada yang belum islam bersifat seruan
dan ajakan untuk memeluk agama islam. Adapun dakwah dan amar
makruf dan nahi mungkar yang kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat
perbaikan, bimbinga dan peringatan. Kesemuanya itu dilaksankan bersama
dengan bermusyawarah atas dasar takwa dan mengharap keridhaan Allah
semata.
Dengan melaksanakan dakwah dan amar makruf nahi mungkar
dengan caranya masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah
menggerakan masyarakat menuju tujuannya, ialah “terwujudnya
masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Mukaddimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah pada hakikatnya merupakan ideologi Muhammadiyahan
yang merupakan pandangan muhammadiyah mengenai kehidupan manusia
dimuka bumi ini, cita-cita yang ingin diwujudkan dan cara-cara yang
dipergunakan untuk mewujudkan cita-cita tersebut sebagai ideologi,
Muqaddimah Anggaran Dasar menjiwai segala gerak dan usaha
muhammadiyah dan proses penyusunan sistem kerja sama yang dilakukan
untuk mewujudkan tujuannya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Perumusan Anggaran Dasar Muhammadiyah?
2. Apa fungsi dari Anggaran Dasar Muhammadiyah?
3. Jelaskan tentang Anggaran Dasar Muhammadiyah?
4. Jelaskan tentang Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah?

1
5. Sebutkan Pasal-pasal mengenai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga Muhammadiyah

2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah Perumusan Anggaran Dasar Muhammadiyah

Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disusun dan


dirumuskan oleh Ki Bagus Hadikusumo sebagai hasil penyorotan dan
pengungkapan kembali terhadap pokok pikiran yang dijadikan dasar amal
usaha dan perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dengan menggunakan wadah
persyarikatan Muhammadiyah. Rumusan “Muqaddimah” diterima dan
disahkan oleh Muktamar Muhammadiyah ke 31 yang dilangsungkan di
kota yogyakarta pada tahun 1950, setelah melewati penyempurnaan segi
redaksional yang dilaksanakan oleh sebuah team yang dibentuk oleh
sidang Tanwir. Team penyempurnaan tersebut anggota-anggotanya terdiri
dari : Buya hamka, K.H.Farid Ma’ruf, Mr. Kasman Singodimedjo serta
Zain Jambek.

Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disusun dan


dirumuskan baru pada periode Ki Bagus Hadikusumo, sebab-sebabnya
antara lain:

1. Belum adanya kepastian rumusan tentang cita-cita dan dasar


perjuangan Muhammadiyah Kyai Ahmad Dahlan membangun
Muhammadiyah bukannya didasarkan pada teori yang terlebih dahulu
dirumuskan secara ilmiah dan sistematis, akan tetapi apa yang telah
diresapinnya dari pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an
dan Hadist beliau segara diwujudkan dengan amalan yang nyata.Oleh
karena itu kyai Ahmad Dahlan lebih tepat dikatakan sebagai seorang
ulama yang praktis, bukannya ulama yang teoritis. Pada awalnya
perjuangan muhammadiyah, keadaanya serupa tidak mengaburkan
penghayatan seseorang terhadap muhammadiyah, baik ia seorang
muhammadiyah sendiri ataupun seorang luar yang berusaha
memahaminya akan tetapi serentak muhammadiyah semakin luas serta
bertambah banyak anggota dan simpatisannya mengakibatkan semakin
jauh mereka dari sumber gagasan. Karena itu wajar apabila terjadi

3
kekaburan penghayatan terhadap dasar-dasar pokok yang menjadi daya
pendorong kyai Ahmad Dahlan dalam menggerakkan persyarikatan
Muhammadiyah.
2. Kehidupan rohani keluarga Muhammadiyah menampakkan gejala
menurun, akibat terlalu berat mengejar kehidupan duniawi.
Perkembangan masyarakat terus maju, ilmu pengetahuan dan teknologi
tidak henti-hentinya menyajikan hal-hal yang membuat manusia kager
dan mencengangkan, membuat dunia semakin ciut dan sempit,
pengaruh budaya secara timbal balik terjadi dengan lancarnya antara
satu negara dengan negara lainnya baik yang bersifat positif ataupun
bersifat negatif. Keadaan yang semua itu tidak terkecuali mengenai
masyarakat Indonesia. Tersebab adanya perkembangan Zaman serupa
itu yang seluruhnya hampir dapat dinyatakan mengarah kepada
kehidupan duniawi dan sedikit yang mengarah kepada peningkatan
kebahagiaan rohani, menyebabkan masyarakat Indonesia termasuk di
dalamnya keluarga Muhammadiyah terhimbau oleh gemerlapan
kemewahan duniawi.
3. Makin kuatnya berbagai pengaruh dari luar yang langsung atau tidak
berhadapan dengan faham dan keyakinan Muhammadiyah bersama
dengan perkembangan zaman yang membawa berbagai perubahan
dalam masyarakat, maka tidak ketinggalan pengaruh cara-cara berfikir,
sikap hidup atau pandangan hidup masuk ketengah-tengah masyarakat
Indonesia. Selain banyak yang bermanfaat, tak sedikit yang dapat
merusak keyakinan dan faham Muhammadiyah.
4. Dorongan disusunnya prambul UUD 1945 sesaat menjelang
proklamasi kemerdekaan negara republik indonesia tanggal 17
Agustus 1945, tokoh-tokoh pergerakan bangsa indonesia dihimpun
oleh pemerintah jepang dalam wadah “Badan Penyelidik”usaha
persiapan kemerdekaan indonesia (BPUPKI), yang tugasnya antara
lain mempelajari negara indonesia merdeka. Dan dantara hal yang
penting adalah terumuskannya “piagam jakarta” yang kelak dijadikan
“pembukaan UUD 1945”setelah diadakan beberapa perubahan dan

4
penyempurnaan di dalamnya. Pada saat merumuskan materi tersebut,
para pimpinan pergerakan bangsa indonesia benar-benar
memusyawarakan secara matang dengan disertai debat yang seru
antara satu denagn yang lain, yang ditempuh demi mencari kebenaran.
Pengalaman ini dialami sendiri oleh Ki Bagus Hadikusumo yang
kebetulan terlibat didalamnya karena termasuk sebagai anggota
BPUPKI. Beliau merasakan betapa pentingnya rumusan piagam
jakarta, sebab piagam ini akan memberiakan gambaran kepada dunia
luar atau kepada siapapun tentang cita-cita dasar, pandangan hidup
serta tujuan luhur bangsa indonesia bernegara. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pada saat periode Ki Bagus Hadikusumo, adanya
“Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah” benar-benar sudah
sangat diperlukan karena adanya beberapa alasan dan kemyataan
tersebut.
2. Fungsi Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam sebuah
organisasi berfungsi untuk menggambarkan mekanisme kerja suatu
organisasi. Anggaran Dasar berfungsi juga sebagai DASAR pengambilan
sumber peraturan / hukum dalam konteks tertentu dalam organisasi.
Anggaran Rumah Tangga berfungsi menerangkan hal-hal yang belum
spesifik pada Anggaran Dasar atau yang tidak diterangkan dalam
Anggaran Dasar, Karena Anggaran Dasar hanya mengemukakan pokok-
pokok mekanisme organisasi saja. Sebagaimana disebutkan dalam
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, dinyatakan bahwa
Muhammadiyah melancarkan gerakannya melalui sistem organisasi.
Muhammadiyah merupakan organisasi tersistem. Bukan gerakan yang
siapapun boleh keluar masuk tanpa tatanan (aturan), dan juga bukan
gerakan perseorangan. Sebagai sebuah organisasi, Muhammadiyah
memiliki susunan organisasi sebagai tercantum dalam Anggaran Dasar.
Anggaran Dasar (AD) serta Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah
merupakan acuan atau rujukan yang digunakan dalam menjalankan roda

5
organisasi. AD dan ART tersebut di perbaiki dan disahkan kembali pada
setiap Muktamar.
Adapun pokok pikiran dalam Muqaddimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah :
1. Hidup manusia harus berdasarkan tauhid, yaitu bertuhan dan
beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah semata.
2. Hidup manusia adalah bermasyarakat.
3. Hanya agama islamlah satu-satunya ajaran hidup yang dapat dijadikan
sendi pembentuk pribadi utama dan untuk mengatur ketertiban hidup
bersama menuju hidup bahagia sejahtera yang hakiki dunia dan
akhirat
4. Berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam untuk
mewujudkan masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah
SWT adalah wajib, sebagai ibadah kepada Allah, dan berbuat islah
dan ihsan kepada sesama manusia.
5. Perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi
terwujudnya tujuan Muhammadiyah hanya akan berhasil bila
mengikuti jejak perjuangan nabi Muhammad SAW.
6. Perjuangan mewujudkan pokok-pokok pikiran seperti diatas hanya
dapat dilaksanakan denga baik dan berhasil bila dengan cara
berorganisasi.
7. Seluruh perjuangan diarahkan untuk tercapainya tujuan hidup, yakni
terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhoi Allah
SWT.
3. Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah
Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah merupakan salah satu
landasan struktural persyarikatan Muhammadiyah selain khittah
perjuangan Muhammadiyah, dan keputusan-keputusan Muhammadiyah.
Anggaran Dasar Muhammadiyah merupakan anggaran pokok yang
menyatakan dasar, maksud, dan tujuan organisasi Muhammadiyah,
peraturan-peraturan pokok dalam menjalankan organisasi dan usaha-usaha
yang harus dilakukan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut.

6
Penjelasan Anggaran Dasar dicantumkan dalam Anggaran Rumah Tangga.
Adapun maksud dan tujuan yang akan dicapai oleh persyarikatan
Muhammadiyah sebagaimana yang dicantumkan dalam Anggaran Dasar
pasal 6 berbunyi : “Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam
sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya”.
Sementara itu, usaha Muhammadiyah yang diwujudkan dalam
bentuk amal usaha, program, dan kegiatan meliputi sebagaimana yang
tercantum dalam pasal 3 (14 sub sistem), yaitu antara lain:
1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman,
meningkatkan pengalaman, serta menyebarluaskan ajaran islam dalam
berbagai aspek kehidupan.
2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran islam daalm
berbagai berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan
kebenarannya.
3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infaq, wakaf, shadakah,
hibah, dan amal shalih lainnya.
4. Meningkatkan harkat martabat dan kualitas sumber daya manusia agar
berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia.
5. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan,
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta
meningkatkan penelitian.
6. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah perbaikan
hidup yang berkualitas.
7. Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
8. Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan sumber daya
alam dan lingkungan untuk kesejahteraan.
9. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dan kerjasama dalam
berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.
10. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kekehidupan
berbangsa dan bernegara.

7
 Pasal 41 Perubahan Anggaran Dasar
1. Perubahan Anggaran Dasar ditetapkan oleh Muktamar.
2. Rencana perubahan Anggaran Dasar diusulkan oleh Tanwir
dan harus sudah tercantum dalam acara Muktamar.
3. Perubahan Anggaran dinyatakan sah apabila diputuskan oleh
sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota Muktamar
yang hadir.
4. Anggaran Rumah Tangga (ART) Muhammadiyah
 Pasal 39 anggaran rumah tangga
1. Anggaran Rumah Tangga menjelaskan dan mengatur hal-hal
yang tidak diatur dalam Anggaran Dasar.
2. Anggaran Rumah Tangga dibuat oleh pimpinan pusat
berdasarkan Anggaran dasar dan disahkan oleh Tanwir.
3. Dalam keadaan yang sangat memerlukan perubahan, pimpinan
pusat dapat mengubah Anggaran Rumah Tangga dan berlaku
sampai disahkan oleh Tanwir.
5 Pasal-pasal mengenai AD dan ART Muhammadiyah
Antara lain sebagai berikut :
a. Anggaran Dasar
 BAB I (NAMA, PENDIRI, DAN TEMPAT KEDUDUKAN)
 Pasal 1 (Nama)
Persyarikatan ini bernama Muhammadiyah.
 Pasal 2 (Pendiri)
Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8
Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan tanggal 18 November 1912
Miladiyah di Yogyakarta untuk jangka waktu tidak terbatas.
 Pasal 3 (Tempat Kedudukan)
Muhammadiyah berkedudukan di Yogyakarta.
 BAB II (IDENTITAS, ASAS, DAN LAMBANG)
 Pasal 4 (Identitas dan Asas)
(1) Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf
Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-
Sunnah.
(2) Muhammadiyah berasas Islam.
 Pasal 5 (Lambang)

8
Lambang Muhammadiyah adalah matahari bersinar utama dua
belas, di tengah bertuliskan (Muhammadiyah) dan dilingkari
kalimat (Asyhadu an lã ilãha illa Allãh wa asyhadu anna
Muhammadan Rasul Allãh )
 BAB III (MAKSUD DAN TUJUAN SERTA USAHA)
 Pasal 6 (Maksud dan Tujuan)
Maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan
menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya.
 Pasal 7 (Usaha)
(1) Untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah
melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang
diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan.
(2) Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha,
program, dan kegiatan, yang macam dan penyelenggaraannya
diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
(3) Penentu kebijakan dan penanggung jawab amal usaha, program,
dan kegiatan adalah Pimpinan Muhammadiyah.
 BAB IV (KEANGGOTAAN)
 Pasal 8 (Anggota serta Hak dan Kewajiban)
(2) Anggota Muhammadiyah terdiri atas:
a. Anggota Biasa ialah warga negara Indonesia beragama
Islam.
b. Anggota Luar Biasa ialah orang Islam bukan warga negara
Indonesia.
c. Anggota Kehormatan ialah perorangan beragama Islam
yang berjasa terhadap Muhammadiyah dan atau karena
kewibawaan dan keahliannya bersedia membantu
Muhammadiyah.
(3) Hak dan kewajiban serta peraturan lain tentang keanggotaan
diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
 BAB V (SUSUNAN DAN PENETAPAN)
 Pasal 9 (Susunan Organisasi)
Susunan organisasi Muhammadiyah terdiri atas:
a. Ranting ialah kesatuan anggota dalam satu tempat atau kawasan
b. Cabang ialah kesatuan Ranting dalam satu tempat
c. Daerah ialah kesatuan Cabang dalam satu Kota atau Kabupaten
d. Wilayah ialah kesatuan Daerah dalam satu Propinsi
e. Pusat ialah kesatuan Wilayah dalam Negara
 Pasal 10 (Penetapan Organisasi)
a. Penetapan Wilayah dan Daerah dengan ketentuan luas
lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat.

9
b. Penetapan Cabang dengan ketentuan luas lingkungannya
ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah.
c. Penetapan Ranting dengan ketentuan luas lingkungannya
ditetapkan oleh Pimpinan Daerah.
d. Dalam hal-hal luar biasa Pimpinan Pusat dapat mengambil
ketetapan lain.

b. Anggaran Rumah Tangga Muhammadiayah

 Pasal 6 (Cabang)
1. Cabang adalah kesatuan ranting-ranting dalam suatu tempat
yang merupakan tempat pembinaan dan koordinasi ranting
serta penyelenggara amal usaha dan pendayagunaan
anggota[2], terdiri atas sekurang-kurangnya tiga ranting yang
berfungsi:
a. Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi
ranting
b. Penyelenggaraan pengelolaan Muhammadiyah
c. Penyelenggaraan amal usaha.
2. Syarat pendirian cabang sekurang-kurangnya mempunyai:
a. Pengajian/kursus berkala untuk anggota pimpinan cabang
dan unsur pembantu pimpinannya, pimpinan ranting, serta
pimpinan organisasi otonom tingkat cabang, sekurang-
kurangnya sekali dalam sebulan.
b. Pengajian/kursus muballigh/muballighat dalam lingkungan
cabangnya, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.
c. Korps muballigh/muballighat cabang, sekurang-kurangnya
sepuluh orang.
d. Taman pendidikan Al-Quran/Madrasah Diniyah/Sekolah
Dasar
e. Kegiatan dalam bidang social, ekonomi, kesehatan dan
Kantor
3. Pengesahan pendirian cabang dan ketentuan luas
lingkungannya ditetapkan oleh pimpinan wilayah atas usul
ranting setelah memperhatikan pertimbangan pimpinan daerah.
4. Pendirian suatu cabang yang merupakan pemisahan dari
cabang yang telah ada dilakukan dengan persetujuan pimpinan
cabang yang bersangkutan atau atas musyawarah
daerah/musyawarah pimpinan tingkat daerah.
 Pasal 7 (Daerah)
1. Daerah adalah kesatuan cabang di kabupaten/kota yang terdiri
atas sekurang-kurangnya tiga cabang yang berfungsi:

10
a. Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi
cabang
b. Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan
pengelolaan Muhammadiyah
c. Penyelenggaraan, pembianaan, dan pengawasan amal
usaha
d. Perencanaan program dan kegiatan
2. Syarat pendirian daerah sekurang-kurangnya mempunyai:
a. Pengajian/kursus berkala untuk anggota pimpinan daerah
sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.
b. Pengajian/kursus muballigh/muballighat tingkat daerah
sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.
c. Pembahasan masalah agama dan pengembangan
pemikiran Islam
d. Korps/muballigh/muballighat daerah, sekurang-kurangnya
20 orang
e. Kursus kader pimpinan tingkat daerah
f. Sekolah lanjutan tingkat pertama/madrasah tsanawiyah
g. Amal usaha dalam bidang social, ekonomi dan kesehatan
Kantor.
h. Pengesahan pendirian daerah ditetapkan oleh pimpinan
pusat atas usul cabang setelah memperhatikan
pertimbangan pimpinan wilayah.
i. Pendirian suatu daerah yang merupakan pemisah dari
daerah yang telah ada dilakukan melalui dan atas
keputusan musyawarah daerah/musyawarah pimpinan
tingkat daerah.
 Pasal 8 (Wilayah)
1. Wilayah adalah kesatuan daerah di provinsi yang terdiri dari
atas sekurang-kurangnya tiga daerah yang berfungsi :
a. Pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi daerah
b. Penyelenggaraan, pembinaan dan pengawasan pengelolaan
Muhammadiyah
c. Penyelenggaraan, pembinaan dan pengawasan amal usaha
d. Perencanaan program dan kegiatan
2. Syarat pendirian wilayah sekurang-kurangnya mempunyai:
a. Pengajian/kursus berkala untuk anggota pimpinan wilayah
dan unsur pembantu pimpinannya serta pimpinan organisasi
otonom tingkat wilayah sekurang-kurangnya sekali dalam
sebulan.
b. Pengajian/kursus muballigh/muballighat tingkat wilayah
sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.
c. Pemabahasan masalah agama dan pengembangan pemikiran
Islam

11
d. Korps muballigh/muballighat sekurang-kurangnya 30 orang
e. Kursus kader pimpinan tingkat wilayah sekolah menengah
atas/madrasahaliyah/Mu’allimin/Mu’allimat/pondok
pesantren.
f. Amal usaha dalam bidag social, ekonomi kesehatan, dan
Kantor
3. Pengesahan pendirian wilayah ditetapkan oleh pimpinan pusat
atas usul daerah yang bersangkutan
4. Pendirian suatu wilayah yang merupakan pemisahan dari
wilayah yang telah ada dilakukan melalui dan atas keputusan
musyawarah wilayah/musyawarah pimpinan tingkat wilayah.
 Pasal 9 (Pusat)
Pusat adalah kesatuan wilayah dalam Negara Republik
Indonesia yang berfungsi:
a. Melakukan pembianaan, pemberdayaan, dan koordinasi
wilayah.
b. Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan pengelolaan
Muhammadiyah
c. Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan Amal usaha
d. Perencanaan program dan kegiatan
 Pasal 10 (Pimpinan)
Unsur pimpinan pusat sekurang-kurangnya terdiri dari sembilan
orang yang dipilih dan ditetapkan oleh muktamar atas usulan
sidang Tanwir
1. Pimpinan pusat bertugas :
a. Menetapkan kebijakan muhammadiyah berdasarkan
keputusan muktamar dan tanwir ,serta memimpin dan
mengendalikan pelaksanaannya.Menetapkan pendirian dan
luas lingkungan pimpinan Wilayah, daerah cabang, dan
ranting. Menetapkan unsur dan masa jabatan pimpinan
wilayah. Mengadakan sidang tanwir.
b. Membuat pedoman kerja dan pembagian wewenang bagi
para anggotanya.Membuat pedoman kerja bagi tiap
pimpinan persyarikatan. Memberi tanda anggota
Muhammadiyah kepada calon anggota yang telah disetujui
melalui pimpinan Cabang yang bersangkutan.
c. Membimbing dan meningkatkan amal usaha serta kegiatan
wilayah
d. Membina , membimbing , mengintergrasikan , dan
mengkoordinasikan kegiatan unsur Pembantu Pimpinan
dan organisasi otonom tingkat pusat. Mengesahkan
anggaran dasar Organisasi otonom. Membuat laporan

12
tahunan persyarikatan yang diumumkan melalui berita
resmi persyarikatan.
2. Anggota pimpinan pusat dapat terdiri dari laki-laki dan
perempuan .
3. Anggota pimpinan pusat harus berdomisili di kota tempat kantor
pimpinan pusat atau di sekitarnya .
4. Pimpinan pusat dapat mengusulkan tambahan anggotanya
kepada tawir sebanyak- banyaknya separuh dari jumlah anggota
pimpinan pusat terpilih .selama menunggu keputusan tanwir
,calon tambahan anggota pimpinan pusat sudah dapat di
jalankan tugasnya atas tanggung jawab pimpinan pusat .
5. Pimpinan pusat mengusulkan kepada tanwir calon pengganti
ketua umum pimpinan pusat yang karena sesuatu hal berhenti
dalam tenggang masa jabatan .Selama menunggu ketetapan
tanwir , ketua umum pimpinan pusat di jabat oleh seorang ketua
atas keputusan pimpinan pusat .

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM)
merupakan rumusan konsepsi yang bersumberkan Al-Qur’an dan As-
sunnah tentang pengabdian manusia kepada allah, amal, dan
perjuangan setiap manusia muslim . Anggaran Dasar (AD)
Muhammadiyah merupakan salah satu landasan struktural
persyarikatan Muhammadiyah selain khittah perjuangan
Muhammadiyah, dan keputusan-keputusan Muhammadiyah.
AD Muhammadiyah merupakan anggaran pokok yang menyatakan
dasar, maksud, dan tujuan organisasi Muhammadiyah, peraturan-
peraturan pokok dalam menjalankan organisasi dan usaha-usaha yang
harus dilakukan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut.
Anggaran rumah tangga :
 Pasal 39 anggaran rumah tangga
1. Anggaran Rumah Tangga menjelaskan dan mengatur hal-hal
yang tidak diatur dalam Anggaran Dasar.
2. Anggaran Rumah Tangga dibuat oleh pimpinan pusat
berdasarkan Anggaran dasar dan disahkan oleh Tanwir.
3. Dalam keadaan yang sangat memerlukan perubahan, pimpinan
pusat dapat mengubah Anggaran Rumah Tangga dan berlaku
sampai disahkan oleh Tanwir.
 Pasal 41 Perubahan Anggaran Dasar
1. Perubahan Anggaran Dasar ditetapkan oleh Muktamar.
2. Rencana perubahan Anggaran Dasar diusulkan oleh Tanwir dan
harus sudah tercantum dalam acara Muktamar.
3. Perubahan Anggaran dinyatakan sah apabila diputuskan oleh
sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota Muktamar
yang hadir.

14