Anda di halaman 1dari 7

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

PERBEDAAN PENURUNAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND (cod)


MELALUI PEMBERIAN TAWAS DAN POLY ALUMINIUM CHLORIDE
(PAC) PADA LIMMBAH CAIR RUMAH PEMOTONGAN HEWAN
PENGGARON SEMARANG

Ulima Salsabila, Tri Joko, Hanan Lanang Dangiran


Mahasiswa Peminatan Kesehatan Lingkungan, FKM UNDIP Semarang
Dosen Bagian Kesehatan Lingkungan, FKM UNDIP Semarang
Email: shalsa118@gmail.com

ABSTRACT: Slaughterhouse is one of the servise providers for the provision of


meat for the needs of the community that produces liquid waste containing blood,
protein, fat and suspended solids that cause high organuc material. The content
of organic substances (COD levels) causes a decrease in the amount of oxygen
in the water and affect the life of water biota. Therefore, it is necessary to do the
liquid wastewater treatment by flocculation coagulation process. The study aims
to determine the difference in the decrease of alum coagulant and Poly
Aluminium Chloride (PAC) with various dose variation in lowering COD levels.
This type of research is a real experiment with pretest-posttest with control group
design. The total samples were 36 samples which were 30 treatment samples
and 6 controls. The results of the test with Kruskal Wallis on the sample before
the given of alum treatment was 0,016 while the PAC was 0,197. The optimum
dose of alum in reducing the COD level of liquid waste of the Animal Slaughtering
House (RPH) because the result is still above the quality standard based on
Provincial Regulation od Central Java No. 5 Year 2012 amounted to 200 mg/l.
Therefore, furtjer handling of wastewater is required.

Keyword : Slaughterhouse, wastewater, Alum, PAC

PENDAHULUAN Peraturan Provinsi Jawa Tengah No.


Pemenuhan kebutuhan akan 5 Tahun 2012 bahwa lokasi rumah
daging bagi masyarakat (termasuk pemotongan hewan tidak
produk industri peternakan menimbulkan gangguan dan
khususnya pada produksi daging) pencemaran lingkungan.
semakin bertambah. Usaha Rumah pemotongan hewan
pemotongan hewan menghasilkan berlokasi di Jalan Majapahit Km. 11
produk daging dari industri yang rata-rata setiap harinya
peternakan yang dihasilkan. Untuk memotong 24 ekor sapi dan 24 ekor
memenuhi kebutuhan daging yang babi dan menghasilkan daging untuk
Aman, Sehat, Utuh dan Halal maka, setelah nya di produksi. Jumlah
pemotongan harus dilakukan di petugas sebanyak tiga puluh orang.
Rumah Pemotongan Hewan. Salah Kegiatan operasional RPH dimulai
satu persyaratan rumah potong pukul 01.00 s/d 05.00. hal tersebut
hewan ruminansia dan unit berkontribusi pada tingkat cemaran
penanganan daging menurut limbah cair RPH. Limbah cair RPH

525
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

mengandung larutan darah, protein, (COD) diantaranya penelitian yang


lemak dan padatan tersuspensi yang dilakukan oleh Nunez hasil
menyebabkan tingginya bahan penelitiannya menyimpulkan bahwa
organik dan nutrisi, tingginya variasi pengilahan dengan proses
jenis dan residu yang terlarut ini koagulasi/flokulasi pada pengolahan
akan memberikan efek mencemari limbah pemotongan hewan
sungai dan badan air. Berdasarkan menggunakan tawas dapat
karater fisiknya limbah RPH mengurangi kadar COD sebesar
Penggaron Semarang memiliki 2 75% dengan dosis 750 mg/l. Selain
jenis yaitu limbah padat yang tawas bahan koagulan lain yang
berasal dari sisa pakan, kotoran sapi mampu menurunkan kadar Chemical
dan babi, tulang dan isi rumen yang Oxygen Demand (COD) adalah Poly
tidak digunakan. Limbah padat ini Aluminium Chloride (PAC) dapat
sudah dimanfaatkan menjadi pupuk. digunakan karena memiliki
Limbah cair berasal dari proses kemampuan koagulasi yang kuat,
pemotongan, pembersihan lantai cocok digunakan pada pengolahan
pemotongan, pembersihan kandang limbah, dapat bekerja efektif pada
dan sudah memiliki IPAL. Baku mutu rentang pH 6-9, baiayanya murah
air limbah cair bagi usaha dan atau dan cara pengoperasiannya mudah
kegiatan RPH berdasarkan tetapi sedikit berpengaruh terhadap
Peraturan Daerah Provinsi Jawa pH. Berdasarkan uraian di atas
Tengah No.5 Tahun 2012 maka penelitian tentang penurunan
diantaranya limbah cair memiliki kadar Chemical Oxygen Demand
kadar paling tinggi untuk BOD 100 (COD) penting untuk dilakukan.
mg/l, COD 200 mg/l, TSS 100 mg/l, Sheingga peneliti tertarik melakukan
minyak dan lemak 15 mg/l, NH3-N penelitian yang berjudul”Penurunan
25 mg/l dan pH 6-9. Salah satu Chemical Oxygen Demand (COD)
penelitian terbaru yang mengolah air Melalui Pemberian Tawas dan Poly
limbah secara elektrokoagulasi Aluminium Chloride (PAC) Pada
dilakukan oleh Kobaya et.al (2006) Limbah Cair Rumah Pemotongan
menunjukkan bahwa efisiensi Hewan Penggaron Semarang”.
penyisihan COD sebesae 93%.
Tawas merupakan kelompok METODE PENELITIAN
garam rangkap berhidart berupa Jenis penelitian ini yaitu
kristal dan bersifat isomorf. Kristal penelitian eksperimen untuk
tawas cukup mudah larut dalam air mengetahui hubungan sebab akibat
dan tingkat kelarutannya berbeda- dengan cara memberikan perlakuan
beda tergantung pada jenis logam pada satu atau lebih kelompok
dan suhu. Tawas dikenal sbeagai eksperimen dengan cara
flokulator yang dapat memberikan perlakuan pada satu
menggumpalkan kotoran-kotoran atau lebih eksperimen dengan
sehingga air menjadi jernih. Tawas metode quasi eksperimental dan
sebagai koagulan di dalam pendekatan desain pretest dan
pengolahan air maupun limbah posttest with control group.
sangat efektif untuk mengendapkan Sampel air limbah diambil
partikel yang melayang baik dalam dari bak keluaran akhir atau oulet di
bentuk koloid maupun suspensi. instalasi pengolahan air limbah cair
Berbagai penelitian membuktikan RPH Penggaron Semarang. Sampel
tawas efektif untuk menurunkan dirancang dengan perlakuan 10
kadar Chemical Oxygen Demand perlakuan dosis tawas dan PAC

526
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

dengan jumlah pengulangan dan dilanjutkan pengadukan lambat


sebanyak 3 kali. Dilakukannya dengan kecepatan 20 rpm selama
pengukuran suhu dan pH sebelum 15 menit serta dilakukan
dan sesudah penambahan kaagulan pengendapan menggunakan kerucut
tawas dan PAC. imhoff selama 15 menit setelah
Analisis data menggunakan dilakukan penambahan koagulan
uji Saphiro Wilk diketahui bahwa tawas dan PAC.
data berdistribui normal pada Tawas dapat mengikat
koagulan tawas dan koagulan PAC partikel dengan cepat dan dapat
data tidak berdistribusi tidak normal membentuk flok lebih banyak.
sehingga uji beda dilakukan dengan Tawas berbentuk kristal jika
uji Kruskal Wallis. ditambahkan dengan air akan
mudah larut dan bereaksi dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN HCO3- menghasilkan Aluminium
Penambahan koagulan Hidroksida. Tawas memiliki muatan
tawas dan PAC dengan variasi dosis elektron positif sedangkan padatan
4 gr/l, 8 gr/l, 12 gr/l, 16 gr/l dan 20 tersuspensi memiliki muatan
gr/l. Penambahan sampel dilakukan elektron negtif, jika kedua zat ini
selama tiga kali setiap pukul 09.00 bertemu maka akan terjadi reaksi.
WIB. Sampel air limbah diambil Hasil dari reaksi ini padatan
dengan menggunakan jerigen 25 tersuspensi dapat terikat oleh zat
liter/hari dengan volume masing- koagulan tawas sehingga akan
masing botol pengukuran kadar membentuk flok-flok dalam air
COD sebanyak 1 liter. limbah cair. Pada koagulan PAC
Kadar COD sebelum mampu menbenbtuk flok-flok yang
diberikan perlakuan koagulan tawas mengendap membentuk sludge
dan PAC yaitu sebesar 590 mg/l. yang dapat disaring dengan mudah.
Sebanyak 1 liter sampel air limbah PAC tidak keruh apabila ditambah
cair ditambahkan perlakuan secara berlebihan. Hasil penurunan
koagulan tawas dan PAC 4 gr/l, 8 kadar COD pada limbah cair RPH
gr/l, 12 gr/l, 16 gr/l 20 gr/l. Kemudian Penggaron setelah diberi perlakuan
dilakukan pengadukan cepat dengan dengan tawas dan PAC dapat dilihat
kecepatan 100 rpm selama 1 menit pada tabel 1.

Tabel 1. Kadar COD Sebelum dan Sesudah Penambahan Koagulan (Tawas)


Pretest Posttest
No Dosis Kadar COD (mg/l Pada Kadar COD (mg/l) Pada
(gr) Pemeriksaan Hari ke- Pemeriksaan Hari ke-
I II III I II III
1. Kontrol 2124 734 2296 2019 599 2124
2. 4 2124 734 2296 2051 500 2108
3. 8 2124 734 2296 1830 473 1843
4. 12 2124 734 2296 1609 422 1749
5. 16 2124 734 2296 1578 316 1562
6. 20 2124 734 2296 1104 281 1312

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui COD tertinggi yaitu sebesar 2.296


bahwa hasil kadar COD sebelum mg/l. Sedangkan kadar COD
penambahan koagulan tawas kadar terendah yaitu sebesar 734 mg/l.

527
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Hasil Postetst tertinggi sebesar sebesar 281 mg/l.


2.108 mg/l sedangkan hasil terendah
Pretest Posttest
No Dosis Kadar COD (mg/l Pada Kadar COD (mg/l) Pada
(gr) Pemeriksaan Hari ke- Pemeriksaan Hari ke-
I II III I II III
1. Kontrol 2124 734 2296 2114 726 2233
2. 4 2124 734 2296 2019 671 2108
3. 8 2124 734 2296 1893 560 1796
4. 12 2124 734 2296 1798 442 1671
5. 16 2124 734 2296 1609 375 1452
6. 20 2124 734 2296 1167 410 1593

Berdasarkan tabel di atas dihasilkan COD pada tabel menunjukkan nilai


kadar COD tertinggi sebesar 2.109 yang menurun seiring dengan
mg/l sedangkan kadar COD besarnya dosis.
terendah sebesar 375 mg/l. Kadar

Berdasarkan gambar diatas pemberian tawas pada variasi dosis


menunjukkan rata-rata kadar COD masih melebihi baku mutu yang
sebelum pemberian tawas pada telah ditetapkan. Efisiensi tawas
setiap variasi dosis memiliki nilai dalam menurunan kadar COD
sebesar 1.718 mg/l. Rata-rata kadar dipengaruhi oleh berbagai faktor
COD terendah dapat terlihat pada yaitu pH merupakan salah satu
dosis 20 gr/l yaitu sebesar 1.056,67 faktor yang paling berperan dalam
mg/l. Akan tetapi, rata-rata kadar menurunkan kadar COD.
COD sebelum dan sesudah

528
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Persentase rata-rata stabil dan terbentuk


penurunan untuk menentukan gumpalan sebagai proses
penambahan koagulan yang efektif koagulasi.
dalam menurunkan kadar COD yaitu
tawas mampu menurunkan kadar KESIMPULAN
COD dengan besar persentase 1. Kadar COD sebelum
sebesar 50,65% sedangan pada perlakuan koagulasi flokulasi
penambahan koagulan PAC hanya dengan tawas dan PAC
mampu menurunkan kadar COD sebesar 590 mg/l.
dengan besar persentase sebesar 2. Kadar COD sesudah
39,94%. perlakuan koagulan tawas
Konsentrasi COD dan PAC sebesar 496 mg/l.
1. Konsentrasi COD dalam air 3. Dosis optimum yang
limbah cair melebihi 18 jam diberikan dalam menurunkan
akan menyebaban kadar COD pada limbah cair
penguraian (degradasi) RPH adalah tawas. Rata-rata
secara anaerob sehingga persentase tawas sebesar
menimbulka bau dan 50,87% dan koagulan PAC
kematian ikan di dalam air. sebesar 39,94%.
Pemeriksaan COD yang 4. Ada perbedaan penurunan
melebihi baku mutu 200 mg/l kadar COD setelah
akan berdampak pada penambahan tawas pada
lingkungan dan dapat berbagai variasi dosis
menyebabkan berkurangnya (p=0,016)
oksigen terlarut dalam air 5. Melakukan pengolahan air
limbah. limbah cair lanjutan setelah
2. Penurunan kadar COD dilakukan koagulasi flokulasi
dengan penambahan tawas tawas dengan pengolahan
memiliki muatan partikel biologis menggunakan
koloid yang dinetralkan tanaman air yaitu eveng
sehingga menungkinkan gondok.
partikel tersebut saling 6. Menerapkan pengolahan air
berbenturan dan menjadi limbah cair dengan koagulasi
kasar dan mengendao. flokulasi tawas dan
3. Penurunan kadar COD menerapkan sistem
dengan penambahan PAC pengadukan menggunakan
mengandung suatu polimer paddle mixing dalam Instalasi
khusus dengan struktur Pengolahan Air Limbah
polielektrolit yang dapat (IPAL) Rumah Pemotongan
mengurangi atau tidak pelu Hewan Penggaron
sama sekali bahan Semarang agar
pembantu. mempercepat kontak bahan
4. Adanya perbedaan kadar kimia dnegan limbah cair
COD disebabkan karena sehinga flok lebih cepat
penambahan dosis akan terbentuk.
merusak sistem koloid yang 7. Peningkatan jumlah hewan
ada dalam air limbah cair. yang dipotong akan
Peningkatan konsentrasi berdampak kepada
elektrolit akan menyebabkan peningkatan limbah cair yang
muatan partikel menjadi dihasilkan. Untuk itu perlu

529
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

perbaikan dan Pengendapan Koagulan


pengemabangan IPAL RPH Serbuk Biji Kelor Sebagai
Penggaron Semarang. Laternatif Pengolahan
Termasuk dalam hal ini Limbah Cair Industri Tahu.
peningkatan kualitas sumber Medan: Fakultas Teknik
daya manusia yang Universitas Sumatera Utara,
bertanggungjawab atas 2013.
kegiatan operasional 7. Sugiharto. Dasar-dasar
pengolahan limbah. Pengolahan Air Limbah.
8. Perlu adanya pengecekan Jakarta: Universitas
secara berkala terhadap unit Indonesia Press, 2008.
IPAL yang ada agar sistem 8. Pradina. Keefektifan Variasi
dapat berjalan optimal. Dosis Tawas Dalam
Menurunakan Kandungan
DAFTAR PUSTAKA COD (Chemical Oxygen
1. Kirana, Haribowo; Prayogo. Demand) Limbah Cair
Studi Evaluasi dan Efektifitas Industri Penyamakan Kulit
Instalasi Pengolahan Air Magetan. Artikel Apenelitian.
Limbah pada Rumah Potong Fakultas Ilmu Kesehatan
Hewan di Kabupaten Universitas Muhammadyah
Nganjuk. Jurnal Ilmiah. Surakarta.
Teknik Pengairan Universitas 9. Nurlina, et all. Efektifitas
Brawijaya-Malang; 2016. Penggunaan Tawas dan
2. Siregar, Sakti. A. Intalasi Karbon Aktif Pada
Pengolahan Air Limbah. Pengolahan Limbah Cair
Jakarta: Kanisius, 2009 Industri Tahu, 2015.
3. Kawinarni. Fibria. Kajian 10. Zand & Hassan Hoveid.
Teknis Pengolahan Limbah Comparing Aluminium
padat dan Cair Industri Tahu. Sulfate and Poly Aluminium
Artikel Penelitian. Program Chloride (PAC) Performance
Pasca Sarjana Universitas in Turbidity Removal from
Diponegoro. Synthetic Water. Journal of
4. Kementerian Lingkungan Apllied Biotechnology
Hidup. Peraturan Menteri Reports.
Lingkungan Hidup Republik 11. Nansubuga, Banadda, Babu,
Indonesia Nomor 5 Tentang Verstraete & Tom Van de
Baku Mutu Air Limbah, 2014. Wiele. Effect of Poly
5. Hartati E, Mumu S, dan Aluminium Chloride Water
Windi NS. Perbaikan Kualitas Treatment Sludge on Effluent
Air Limbah Industri Farmasi Quality of Domestic
Menggunakan Koagulan Biji Wastewater Treatment.
Kelor (Moringa Oleifera Lam) African jouenal of
PAC (Poly Aluminium Environmental Science and
Chloride). Jurnal Teknik Technology. Vol. 7 (4), pp.
Lingkungan. No.2, Vol.4, 145-152, 2013.
2008. 12. Hidayat, Nur. Biproses
6. Bangun A.R, Siti Aminah, Limbah Cair. Yogyakarta:
Rudi Anas Hutahaean, M. Andi, 2016.
Yusuf Ritonga. Pengaruh 13. Aziz, Tamzil; Dwi Yahrinta;
Kadar Air, Dosis dan Lama Lola Rethiana. Pengaruh

530
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 4, Agustus 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Penambahan Tawas 17. Hsu WM, hseu XZY.


Al2(SO4)3 dan Kaporit Rehabilitation of a Sandy
Terhadap Karakteristik Fisik with Aluminium-water
dan Kimia Air Sungai Treatment Residual. Soil Sci.
Lambidardo. Jurusan Teknik 176 (12):691-698, 2011.
Kimia Fakultas Teknik 18. Ginting, P. Sistem
Universitas Sriwijaya. No.3, Pengelolaan Lingkungan dan
Vol. 19, 2013 Limbah Industri. Bandung:
14. Anwar. Prinsip Pengolahan yrama Widya, 2007
Pengambilan Sampel 19. Riwidkdo, Handko. Statistik
Lingkungan. Gramedia Kesehatan. Yogyakarta:
Puastaka Utama, 2007. Mitra Cendikia Press, 2009.
15. Rosyidi, Djalal. Rumah 20. Welasih, T. Penurunan BOD
Potong Hewan dan Teknik dan COD Limbah Industri
Pemotongan Ternak Secara Kertas dengan Air Laut
Islami. UB Media, 2017 sebagai Koagulan. Jurusan
16. Murtidjo, Bambang Agus. Teknik Kimia UPN Veteran
Seri Budi Daya Sapi Potong. Jawa Timur. 2008
Kanisius, 1990.

531