Anda di halaman 1dari 4

Help - Help for Webmasters

« back to results for "indiwan seto"

Below is a cache of http://www.sinarharapan.co.id/berita/0207/11/opi03.html. It's a snapshot


of the page taken as our search engine crawled the Web. We've highlighted the words: indiwan
seto
The web site itself may have changed. You can check the current page (without highlighting) or
check for previous versions at the Internet Archive.

Yahoo! is not affiliated with the authors of this page or responsible for its content.

OPINI

Belajar Kekerasan lewat Televisi


Halaman Utama
Tak ada satu hari tanpa ada berita kekerasan. Lewat koran, televisi dan
Tajuk Rencana radio, pembaca dan pemirsa disuguhkan fakta serta data yang bisa
Nasional mendirikan bulu roma.
Pelajar menjarah bus, massa membakar hidup-hidup pencuri sepeda
Ekonomi motor, VCD ”casting sabun”—kekerasan seksual—merupakan berita
Jabotabek yang sering menjadi porsi utama media-media, seolah Jakarta atau
Indonesia sudah tak aman lagi. Peristiwa tawuran pelajar yang
Nusantara menampilkan aksi ”preman” calon generasi penerus sering jadi tayangan
Luar Negeri aktual televisi swasta.
Begitu juga, berita-berita pembunuhan, pemerkosaan dan kekerasan
Olah Raga yang berdarah-darah secara bebas ditayangkan televisi swasta. Etika
Iptek atau keharusan moral untuk melindungi nama baik ”tersangka” seringkali
dilanggar oleh insan pers khususnya oleh mereka yang ada di bilik berita
Hiburan stasiun televisi swasta.
Feature Sebagai salah satu dari ”materi pemikat” tayangan berita, kekerasan atau
berita-berita seputar konflik menjadi primadona dalam pemberitaan
Mandiri media massa. Seolah, Jakarta akan aneh bila tak ada berita soal
Ritel kejahatan atau kekerasan di media massa Ibu Kota.
Koran Poskota, Sinar Pagi, Lampu Merah, Rakyat Merdeka, Merdeka,
Hobi Pelita yang terbit di Jakarta, tak pernah melewatkan satu halaman pun
Wisata untuk berita soal kekerasan, kejahatan. Demikian pula, televisi swasta
seakan berlomba-lomba menyajikan berita atau informasi yang terkait
Eureka dengan kekerasan. SCTV bahkan punya acara khusus yang membahas
Kesehatan berita-berita atau kejadian kriminal, begitu juga RCTI, Indosiar dan
stasiun televisi lainnya.
Cafe & Resto Persoalannya, apakah memang berita-berita macam itu sungguh-
Hotel & Resor sungguh dibutuhkan oleh pemirsa atau khalayak? Bergunakah bila kita
setiap hari dijejali dengan berita-berita yang hanya membuat jidat kita
Asuransi berkerut atau hati kita menjadi takut?
Otomotif Adakah pengaruh buruk berita-berita kekerasan serta konflik itu pada
pembaca atau pemirsa? Pertanyaan klasik ini terkait dengan apakah
Properti media massa khususnya televisi bisa mempengaruhi pikiran, sikap
Budaya bahkan perilaku khalayak. Seberapa jauh pengaruh media terhadap pola
CEO tingkah laku para pendengar, pembaca dan pemirsa televisi?

Opini Kekerasan Media


Foto Soal kekerasan di Media sudah sejak lama jadi perhatian ahli-ahli
sosiologi, psikologi dan komunikasi di seluruh dunia termasuk di
Karikatur Indonesia. Sebagai contoh, penelitian Robert M Liebert dan Joyce
Komentar Anda Sprafkin ( dalam bukunya The Early Windows: Effects of Television on
Children and Youth, edisi ke tiga, 1988).
Tentang SH Liebert dan Sprafkin memandang televisi sebagai ”jendela dini” anak-
anak untuk melihat dunia. Dalam bukunya, mereka menelaah semua
teori dan riset mengenai sikap, perilaku dan perkembangan anak-anak,
membahas efek negatif juga efek prososial menonton televisi bagi anak-
anak. Dalam penelitian itu menyebutkan, pesawat televisi di Amerika
rata-rata dihidupkan lebih dari tujuh jam setiap hari dan sejak tahun
1950-an secara signifikan telah mengubah kehidupan keluarga.
Di Amerika sendiri hampir 98 persen dari semua rumah memiliki televisi
sehingga disimpulkan bahwa anak-anak diterpa televisi sejak mereka
lahir. Dari usia sekolah menengah, terlihat bahwa telah terjadi
peningkatan dalam penggunaan media cetak dan selama masa remaja
juga terjadi peningkatan penggunaan radio.
Menurut Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Human
Communication 1996, selama sepuluh tahun pertama kehidupan anak
Amerika yang terkena terpaan televisi adalah sangat dominan. Karena itu
wajar saja bila banyak orang mengkhawatirkan pengaruh acara
kekerasan televisi terhadap anak-anak.
Stewart lebih jauh menjelaskan, diperkirakan bahwa menjelang seorang
anak lulus dari SMU rata-rata mereka telah menonton sekitar 18.000
pembunuhan dalam televisi. Sebuah survei mengenai acara televisi
melaporkan bahwa pada senja hari ketika sekitar 26,7 juta anak Amerika
menonton televisi, insiden-insiden kekerasan yang diperlihatkan kira-kira
sekali dalam setiap 16,3 menit.
Bahkan ketika film ”keras” berjudul Jaws 2 ditayangkan di televisi pada
suatu malam pada tahun 1986, film itu disaksikan oleh sekitar 1.840.000
anak Amerika yang berusia antara enam dan sebelas tahun.
Soal dampak atau pengaruh negatif televisi pada pemirsanya, memang
terus menjadi perdebatan sejak era 1940-an hingga kini. Selama
bertahun-tahun kontroversi mengenai pengaruh kekerasan televisi tetap
hangat.
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa menonton kekerasan dalam
televisi membuat anak-anak menjadi lebih agresif dan sebagian peneliti
menganggap bahwa kekerasan televisi sebagai sebab kenakalan remaja.
Para ahli lain berpendapat bahwa kekerasan televisi tidak berpengaruh
atau media itu hanya khatarsis atau sebagai katup pelarian bagi emosi
kekerasan yang ada di dalam jiwa manusia. Kendati begitu, Stewart
menegaskan, hingga kini belum ada bukti bahwa menonton kekerasan
televisi mempunyai efek peletup emosi.
Pada tahun 1982, The National Institute of Mental Health merampungkan
laporan yang terdiri dari dua volume yakni Television and Behavior.
Mengenai kekerasan dan agresi, laporan itu menyimpulkan bahwa
kekerasan dalam televisi memang menimbulkan perilaku agresif pada
anak-anak dan remaja yang menyaksikan acara tersebut.
Tidak semua anak menjadi agresif, tentu saja namun korelasi antara
kekerasan dan agresi adalah positif. Menurut laporan itu, anak-anak yang
menonton televisi boleh jadi belajar untuk menerima perilaku keras
bahkan seksual sebagai suatu hal yang normal.
Dan dalam interaksi tatap muka, anak-anak itu meniru perilaku-perilaku
agresif yang mereka lihat dalam televisi. Hubungan antara kekerasan
televisi dan perilaku agresif ini terdapat pada anak-anak laki-laki dan
anak perempuan dan pada anak-anak prasekolah hingga usia remaja
akhir.
Efek menonton kekerasan televisi dapat lebih halus dan meluas.
Terdapat bukti bahwa sebagai pemirsa kadang-kadang seseorang juga
belajar menjadi korban dan mengidentifikasikan diri dengan korban.
Laporan tahun 1982 itu menyebutkan bahwa banyak pemirsa
mengidentifikasikan diri dengan korban.
Laporan tahun 1982 itu juga menyebutkan bahwa banyak pemirsa berat
televisi menunjukkan ketakutan dan kecemasan, sementara para
pemirsa berat lainnya boleh jadi terpengaruh sehingga berperilaku
agresif. Dalam studi lain yang dilakukan oleh Cantor dan Omhdal pada
tahun 1991, disimpulkan bahwa anak-anak yang menonton dramatisasi
televisi mengenai peristiwa-peristiwa yang mengancam kehidupan—
misalnya peristiwa kebakaran atau orang tenggelam—menunjukkan
ketakutan yang lebih besar dan emosi negatif yang hebat.
Setelah mendapat terpaan singkat, anak-anak tersebut menilai insiden-
insiden serupa lebih cenderung terjadi, mereka menilai efeknya lebih
hebat dan mereka lebih khawatir akan risiko dan bahaya potensial bagi
mereka sendiri.
Gara-gara menonton dan terpengaruh, kesukaan anak-anak tersebut
akan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kejadian yang
mengancam juga berkurang. Misalnya, mereka yang sebelumnya senang
berenang akan takut berenang lagi karena melihat dramatisasi televisi
soal peristiwa tenggelam.
Kesimpulan Cantor dan Ohmdal adalah bahwa anak-anak yang diterpa
acara-acara kekerasan dalam media massa cenderung ”terpengaruh”
dalam waktu lama dan merasa menghadapi risiko yang lebih besar dan
lebih rentan.

Belajar Kekerasan
Meskipun belum banyak penelitian di Indonesia yang mengungkap soal
pengaruh menonton kekerasan televisi buat anak-anak, pendapat bahwa
televisi bisa jadi sarana belajar kekerasan perlu diantisipasi. Paling tidak,
bagi orang tua dan pendidik teori itu bisa dijadikan pegangan jangan
sampai anak-anak mereka menjadi korban ekspansi kekerasan media
massa.
Acara-acara kekerasan yang muncul di televisi saat ini memang tak bisa
dicegah, mengingat tak ada lagi badan atau lembaga yang bisa
mengkontrol isi media massa. Lagi pula, Undang-Undang penyiaran
terbaru hingga kini belum juga rampung sehingga seakan-akan tak ada
lagi aturan main media televisi nasional.
Teori belajar sosial (Social Behavior) dalam kaitannya dengan tayangan
televisi menyebutkan bahwa, kekerasan itu cenderung ”dipelajari” oleh
pemirsanya. Artinya, semakin banyak tayangan televisi yang
menampilkan kekerasan atau seks vulgar, anak-anak atau orang dewasa
akan melihat bahwa akhirnya kekerasan atau seks itu merupakan suatu
hal yang ”normal”.
Terlebih-lebih bila dalam tayangan televisi tersebut hanya disajikan satu
sisi tanpa ada pembandingnya. Artinya, bila setiap hari anak-anak anda
menonton televisi dan menyaksikan adegan ciuman mesra dua orang
lain jenis secara vulgar di tempat umum, lama-kelamaan dalam benak
anak anda punya anggapan bahwa berciuman secara mesra merupakan
suatu hal yang normal-normal saja, tak perduli apakah mereka itu suami
istri atau bukan.
Begitu juga, kalau setiap hari kita menyaksikan berita soal aksi
penghakiman massa terhadap pencopet atau penjahat dengan cara
dibakar hidup-hidup maka lama kelamaan cara beringas dan tak berperi
kemanusiaan itu dianggap sebagai peristiwa yang normal saja terjadi,
sebagai satu cara untuk mengurangi anngka kejahatan.
Ada proses belajar sosial di tengah masyarakat dan guru yang paling
baik dan menarik adalah televisi. Ishadi SK, mantan Dirjen RTF
Departemen Penerangan mengatakan, penayangan secara telanjang
peristiwa kerusuhan (pembakaran, demonstrasi, bentrok massa dan aksi
penjarahan) di Jakarta mulai tangggal 12 Mei 1998 hingga 15 Mei 1998
justru bisa memicu kekerasan yang lain.
Dalam buku ”Pers dalam Revolusi Mei” (2000), Ishadi SK menjelaskan
bahwa Deppen saat itu kemudian mengambil kebijakan melakukan TV
Pool untuk mengurangi dampak negatif penayangan telanjang kerusuhan
Mei 1998.
Menurut Ishadi, televisi memang berpengaruh setidaknya menciptakan
”the similar general meaning” atau makna umum yang mirip. Artinya,
pemirsa akan mencoba memahami makna-makna tertentu dari tayangan-
tayangan tersebut lalu melakukan sesuatu yang dianggap sama dalam
konteks kehidupan sehari-hari mereka.
(ant/indiwan seto/wahju wibowo)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Anda mungkin juga menyukai