Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN ANAK

TERAPI BERMAIN MEWARNAI GAMBAR


PADA ANAK PRA SEKOLAH

OLEH
KELOMPOK 4 TINGKAT 2.2
1. NI MADE DINDA WISWATI PRATIWI ( P07120017 051 )
2. DEWA AYU ARI UTAMI ( P07120017 053 )
3. NI MADE BUDIARTINI ( P07120017 054 )
4. KETUT AYU SWANDEWI ( P07120017 055 )
5. PUTU RATIH PRADNYANDARI ( P07120017 057 )
6. NI PUTU WIDHI ADNYANI PUTRI ( P07120017 066 )
7. NI PUTU SANTIKA WIDYASWARI ( P07120017 068 )
8. ADE EMA RISTI PAYONGKI ( P07120017 072 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PRODI D-III JURUSAN KEPERAWATAN
2019
TERAPI BERMAIN MEWARNAI GAMBAR PADA ANAK PRA SEKOLAH

A. Konsep Terapi Bermain


1. Pengertian Terapi Bermain
Bermain merupakan kebutuhan anak seperti halnya kasih sayang, makanan,
perawatan, dan lain-lainnya, karena dapat memberi kesenangan dan pengalaman
hidup yang nyata. Bermain juga merupakan unsur penting untuk perkembangan anak
baik fisik, emosi, mental, sosial, kreativitas serta intelektual. Oleh karena itu bermain
merupakan stimulasi untuk tumbuh kembang anak (Hidayat, 2008).
Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk membantu
anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan ketakutan
terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada masa pra sekolah
adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam perkembangan tahun-
tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar dari waktu mereka
dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 2000). Dalam bermain di rumah
sakit mempunyai fungsi penting yaitu menghilangkan kecemasan, dimana lingkungan
rumah sakit membangkitkan ketakutan yang tidak dapat dihindarkan (Sacharin,
2003).
Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi anak.
Semakin muda usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi, sehingga
timbul hal yang menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin lama anak
mengalami hospitalisasi maka dampak psikologis yang terjadi salah satunya adalah
peningkatan kecemasan yanng berhubungan erat dengan perpisahan dengan saudara
atau teman-temannya dan akibat pemindahan dari lingkungan yang sudah akrab dan
sesuai dengannya (Whaley and Wong, 2001).
Anak-anak dapat merasakan tekanan (stress) pada saat sebelum hospitalisasi, selama
hospitalisasi, bahkan setelah hospitalisasi, karena tidak dapat melakukan
kebiasaannya bermain bersama teman-temannnya, lingkungan dan orang-orang yang
asing baginya serta perawatan dengan berbagai prosedur yang harus dijalaninya
terutama bagi anak yang baru pertama kali di rawat menjadi sumber utama stress dan
kecemasan / ketakutan. Hospitalisasi merupakan masalah yang dapat menyebabkan
terjadinya kecemasan bagi anak. Dengan demikian berarti menambah permasalahan
baru yang bila tidak ditanggulangi akan menghambat pelaksanaan terapi di rumah
sakit. Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak
secara optimal (Carson, dkk, 2002).
Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap
dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat dirawat di
rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut
merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa
stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan
anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan
melakukan permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya
(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan.
Tujuanbermain di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan
fasepertumbuhan dan perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas
anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi
mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan
kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit
(Wong, 2009).
Menurut penelitian yang di lakukan oleh Suryanti dan kawan kawan di RSUD Dr. R.
Goetheng Tarunadibrata Purbalingga tahun 2011 di peroleh Hasil uji statistik
diperoleh nilai p =0,0001 < α = 0,05, sehingga Ha diterima (Ho ditolak) yang berarti
ada perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain
(mewarnai dan origami). Terapi bermain (mewarnai dan origami) dapat menurunkan
tingkat kecemasan anak usia prasekolah, dari tingkat kecemasan sedang menjadi
tingkat kecemasan ringan (Suryanti,dkk, 2011).

2. Macam-Macam Terapi Bermain


1) Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium,
meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-
rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan
teman-temannya.
d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
2) Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bermain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam
bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
a. Kesehatan anak menurun.
b. Tidak ada variasi dari alat permainan.
c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
d. Tidak mempunyai teman bermain.
Karakteristik permainan sesuai dengan tumbuh kembangnya :
Usia Prasekolah
Alat permainan yang dianjurkan :
a) Alat olah raga.
b) Alat masak
c) Alat menghitung
d) Sepeda roda tiga
e) Benda berbagai macam ukuran.
f) Boneka tangan.
g) Mobil.
3. Fungsi Bermain
Anak dapat melangsungkan perkembangannya
1. PERKEMBANGAN SENSORIK MOTORIK
Membantu perkembangan gerak dengan memainkan obyek tertentu, misalnya
meraih pensil.
2. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Membantu mengenal benda sekitar (warna, bentuk kegunaan).
3. KREATIFITAS
Mengembangkan kreatifitas menoba ide baru misalnya menyusun balok.
4. PERKEMBANGAN SOSIAL
Diperoleh dengan belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari
belajar dalam kelompok.
5. KESADARAN DIRI (SELF AWARENESS)
Bermain belajar memahami kemampuan diri, kelemahan, dan tingkah laku
terhadap orang lain.
6. PERKEMBANGAN MORAL
Interaksi dengan orang lain, bertingkah laku sesuai harapan teman,
menyesuaikan dengan aturan kelompok. Contoh : dapat menerapkan kejujuran
7. TERAPI
Bermain kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang tidak
enak, misalnya : marah, takut, benci.
8. KOMUNIKASI
Bermain sebagai alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat
mengatakan secara verbal, misalnya : melukis, menggambar, bermain peran.

4. Prinsip Bermain di Rumah Sakit


Menurut Supartini (2004), agar anak dapat bermain dengan maksimal, maka
diperlukan ektra energi dan waktu yang cukup sehingga stimulus yang diberikan
dapat optimal. Pengetahuan cara bermain juga dibutuhkan untuk anak, sehingga anak
akan lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam menggunakan
alat permainan tersebut. Selain itu alat permainan serta ruang untuk bermain harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan anak serta memiliki unsur edukatif bagi
anak (Hurlock, 2000). Faktor yang tidak kalah penting adalah teman bermain. Teman
bermain diperlukan untuk mengembangkan sosialisasi anak dan membantu anak
dalam Universitas Sumatera Utara menghadapi perbedaan. Orang tua dapat dijadikan
sebagai teman bermain bagi anak. Bila permainan dilakukan bersama dengan orang
tua, hubungan orang tua dan anak menjadi lebih akrab (Wong et al, 2008).
Menurut Supartini (2004), terapi bermain yang dilaksanakan di rumah sakit tetap
harus memperhatikan kondisi kesehatan anak. Ada beberapa prinsip permainan pada
anak di rumah sakit.
a. Pertama, permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang
dijalankan anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan
yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain
dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruang rawat.
b. Kedua, permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan
sederhana. Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak, menggunakan
alat permainan yang ada pada anak atau yang tersedia di ruangan (Supartini,
2004). Universitas Sumatera Utara
c. Ketiga, permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Anak
kecil perlu rasa nyaman dan yakin terhadap benda-benda yang dikenalnya,
seperti boneka yang dipeluk anak untuk memberi rasa nyaman dan dibawa ke
tempat tidur di malam hari (Wong, et al, 2008).
Melibatkan orang tua. Satu hal yang harus diingat bahwa orang tua
mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi tumbuhkembang
pada anak walaupun sedang dirawat si rumah sakit termasuk dalam aktivitas bermain
anak. Perawat hanya bertindak sebagai fasilitator sehingga apabila permainan diiniasi
oleh perawat, orang tua harus terlibat secara aktif dan mendampingi anak mulai dari
awal permainan sampai menevaluasi hasil permainan bersama dengan perawat dan
orang tua anak lainnya (Wong, et al, 2008).
5. Klasifikasi Bermain
1. Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain
yang bermain disekitarnya. Biasa dilakukan oleh anak balita Toddler.
2. Paralel play
Permaianan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing
mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada
interaksi dan tidak saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak pre school.
Contoh : bermain balok
3. Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktivitas yang sama
tetapi belum terorganisasi dengan baik, belum ada pembagian tugas, anak bermain
sesukanya.
4. Kooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi dan
terencana dan ada aturan tertentu. Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah
Adolesen.

B. Konsep Mewarnai Gambar


1. Pengertian Mewarnai
Mewarnai secara harfiah adalah membubuhkan warna atau cat pada suatu gambar.
Mewarnai adalah sebuah ketrampilan yang disukai oleh anak.Dan sejauh ini, telah
menjadi media bagi mereka untuk memungkinkan segala imajinasi dan inspirasi
tentang segala hal yang mungkin pernah disentuh atau mereka alami. Dengan
demikian, tidaklah mengherankan apabila banyak orang tua, senantiasa berusaha
untuk memberikan rangsangan bagi buah hatinya untuk mewarnai sejak usia sedini
mungkin (Muhammad, 2009:11-12).
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 15 menit, diharapkan
kreativitas anak-anak berkembang baik anak merasa tenang dan senang
selama berada di instalasi keperawatan anakdi bangsal anak RSUD
Mangusada dapat bersosialisasi dengan teman sebaya sesuai tumbuh kembang
anak dan dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan atau ketakutan yang
dirasakan oleh anak-anak akibat hospitalisasi

b. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain diharapkan :
1. Bisa merasa tenang dan senang selama berada di instalasi keperawatan
anak
2. Anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya
3. Anak tidak cemas dan takut akibat hospitalisasi
4. Anak menjadi lebih percaya dan tidak takut dengan perawat
5. Untuk mengurangi kejenuhan anak pada saat menjalani perawatan.
6. Untuk meningkatkan adaptasi efektif pada anak terhadap stress karena
penyakit dan dirawat
7. Untuk meningkatkan kemampuan daya tangkap atau konsentrasi anak.
8. Untuk meningkatkan koping yang efektif untuk mempercepat
penyembuhan.
9. Untuk menambah pengetahuan mengenali warna.
10. Untuk mengembangkan imajinasi pada anak.

3. Waktu Kegiatan
Hari/Tanggal : Kamis, 2 Mei 2019
Pukul : 10.30-10.45 Wita
Tempat : Ruang Cilinaya RSUD Mangusada
4. Sasaran
a. Anak usia 4-6 tahun yang dirawat di Ruang Cilinaya RSUD Mangusada
b. Jumlah peserta minimal 3 orang anak dan di dampingi oleh orang tua
c. Tidak mempunyai keterbatasan fisik atau akibat terapi lain yang dapat
menghalangi proses terapi bermain
d. Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai
e. Anak yang dapat memegang crayon/pensil warna
f. Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain mewarnai gambar

5. Metode
Metode pelaksanaan yaitu dengan praktik bermain langsung dengan menggunakan
kertas berisi gambar yang belum diwarnai dengan memberikan contoh kepada anak-
anak untuk memilih sendiri warna yang diinginkan dan yang tepat untuk gambar
tersebut. Setiap anak diberikan kertas berisi gambar, kemudian leader memimpin
jalannya permainan dengan menginstruksikan pada anak anak untuk mewarnai
gambar yang belum diwarnai tersebut. Fasilitator juga ikut berperan dalam
pendampingan anak ketika mulai bermain, kemudian, observer menilai jalannya
permainan.

6. Nama Pasien
NAMA UMUR ASAL
7. Alat dan Bahan
1. Kertas bergambar
Tema gambar yang tersedia : Mobil, Helo kitty, Bunga, Naruto, Ikan
2. Pensil warna/crayon
3. Daftar hadir

8. Pengorganisasian
a. Leader : Ni Made Dinda Wiswati Pratiwi
Tugas :
a) Membuat proposal pelaksanaan terapi bermain
b) Bertanggung jawab terhadap terlaksananya terapi bermain, yaitu membuka
dan menutup kegiatan ini
c) Memandu jalannya permainan dalam terapi bermain
d) Memperkenalkan perangkat yang terlibat dalam terapi bermain
b. Co Leader : Dewa Ayu Ari Utami
Tugas :
a) Menjelaskan pelaksanaan dan mendemonstrasikan aturan dan cara bermain
dalam terapi bermain.
b) Membantu tugas leader dalam terapi bermain
c. Fasilitator : 1. Ni Made Budiartini
2. Ketut Ayu Swandewi
3. Putu Ratih Pradnyandari
4. Ni Putu Widhi Adnyani Putri
5. Ni Putu Santika Widyaswari
Tugas :
a) Memfasilitasi anak untuk bermain.
b) Membimbing anak bermain.
c) Memperhatikan respon anak saat bermain.
d) Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan temannya.
e) Melakukan kontrak dengan pasien dan keluarga pasien
f) Memotivasi anak dalam terapi bermain
d. Observer : Ade Ema Risti Payongki
Tugas :
a) Mengawasi jalannya permainan.
b) Mencatat proses permainan disesuaikan dengan rencana.
c) Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
d) Menyusun laporan dan menilai hasil permainan dibantu dengan Leader dan
fasilitator.

9. Kegiatan
1) Rencana Kegiatan
No. Waktu Kegiatan Respon Anak
1. 10 menit Persiapan :
1. Menyiapkan ruangan
Ruangan, alat, anak
2. Mengundang anak dan
dan keluarga siap
keluarga
3. Menyiapkan alat-alat
4. Menyiapkan anak dan
membagi kelompok
2 5 menit Pembukaan :
1. Mengucapkan salam
dan memperkenalkan 1) Mendengarkan
diri kontrak
2. Menyampaikan 2) Mendengarkan
tujuan dan maksud tujuan dari
dari kegiatan penyuluhan
3. Menjelaskan kontrak 3) Mendengarkan
waktu dan kontrak.
mekanisme kegiatan 4) Mendengarkan
bermain. instruksi
4. Menjelaskan cara
bermain mewarnai
gambar.
3. 15 Menit Pelaksanaan :
1. Mengajak anak bermain Bermain bersama
mewarnai gambar. dengan antusias.
2. Fasilitator
mendampingi anak dan
memberikan motivasi
kepada anak.
3. Menanyakan kepada
anak apakah sudah
selesai dalam mewarnai
gambar.
4. Memberitahu anak
bahwa waktu yang
diberikan telah selesai.
5. Memberikan pujian
terhadap anak yang
mampu menyusun
sampai selesai.
4. 10 Menit Evaluasi :
1. Melakukan review Anak mendengarkan
pengalaman bermain dan merespon
mewarnai gambar dengan menjawab
2. Mengidentifiasi kesan dan
kejadian yang berkesan pengalamannya
selama bermain selama mewarnai.
3. Menganalisis kesan
yang didapat oleh anak
4. Menyimpulkan
kegiatan acara
2) Alur Permainan
1. Leader membagikan kertas berisi gambar tanpa warna
2. Minta anak untuk mewarnai gambar seperti yang sudah dicontohkan.
3. Berikan waktu 15 menit untuk mewarnai
4. Setelah 15 menit, kertas yang telah selesai diwarnai dikumpulkan kepada
Leader.

3) Setting Tempat

L
P

A A

CO
P P

O
A A

P P

A : Anak

P : Perawat (fasilitator)

: Co Leader
C
O
: Leader
L

O : Observator
10. Evaluasi
Evaluasi Formatif
NOMOR NAMA UMUR Evaluasi Formatif
Verbal Non Verbal