Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR LANSIA


1. Pengertian Lansia
Masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah pensiun, biasanya antara usia
65-75 tahun (Potter, 2005). Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan
tua (Nugroho, 2008).
Penuaan adalah suatu proses yang alamiah yang tidak dapat dihindari,
berjalan secara terus-manerus, dan berkesinambungan (Depkes RI, 2001).
Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), Usia lanjut dikatakan sebagai
tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia sedangkan
menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 Tahun 1998 Tentang Kesehatan
dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia
lebih dari 60 tahun (Maryam, 2008). Penuaan adalah normal, dengan
perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan dan terjadi pada
semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan
kronologis tertentu (Stanley, 2006).

2. Karakteristik Lansia
Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), lansia memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1) Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 Ayat (2) UU No. 13
tentang kesehatan).
2) Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaftif
hingga kondisi maladaptif
3) Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi (Maryam, 2008).
3. Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia.
1) Pralansia (prasenilis), Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2) Lansia, Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3) Lansia Resiko Tinggi, Seseorang yang berusia 70 tahun atau
lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah
kesehatan (Depkes RI, 2003)
4) Lansia Potensial, Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI,
2003).
5) Lansia Tidak Potensial, Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI,
2003).

4. Tipe Lansia
Di zaman sekarang (zaman pembangunan), banyak ditemukan
bermacam-macam tipe usia lanjut. Yang menonjol antara lain:
1) Tipe arif bijaksana, Lanjut usia ini kaya dengan hikmah pengalaman,
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati,
sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
2) Tipe mandiri, Lanjut usia ini senang mengganti kegiatan yang hilang
dengan kegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan dan teman
pergaulan, serta memenuhi undangan.
3) Tipe tidak puas, Lanjut usia yang selalu mengalami konflik lahir batin,
menentang proses penuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan,
kehilangan daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, status, teman
yang disayangi, pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut,
sulit dilayani dan pengkritik.
4) Tipe pasrah, Lanjut usia yang selalu menerima dan menunggu nasib
baik, mempunyai konsep habis (“habis gelap datang terang”), mengikuti
kegiatan beribadat, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.
5) Tipe bingung, Lansia yang kagetan, kehilangan kepribadian,
mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh
(Nugroho, 2008).

5. Tugas Perkembangan Lansia


Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau
menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi
oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Adapun tugas
perkembangan lansia adalah sebagai berikut :
1) Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.
2) Mempersiapkan diri untuk pensiun.
3) Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.
4) Mempersiapkan kehidupan baru.
5) Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat secara
santai.
6) Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan
(Maryam, 2008).

B. KONSEP DASAR KATARAK


1. Definisi
Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau
bahan lensa di dalam kapsul lensa.( sidarta ilyas, 1998 )
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa beberapa
abad yang lalu apabila pengurangan visus diperkirakan oleh suatu tabir
(layar) yang diturunkan di dalam mata, agak seperti melihat air terjun.
(Perawatan Mata. Vera H. Darling, Margaret R. Thorpe).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang
dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein
lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai
kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer,2000;62)

2. Etiologi
Menurut Mansjoer (2000), faktor risiko terjadinya katarak bermacam -
macam, yaitu sebagai berikut:
1. Usia lanjut
Katarak umumnya terjadi pada usia lanjut (katarak senil). Dengan
bertambahnya usia lensa akan mengalami proses menua, di mana dalam
keadaan ini akan menjadi katarak.
2. Kongenital
Katarak dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus di masa
pertumbuhan janin
3. Genetic
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi
yang timbul pada lensa.
4. Diabetes mellitus
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks
refraksi, dan amplitudo akomodatif. Dengan meningkatnya kadar gula
darah, maka meningkat pula kadar glukosa dalam akuos humor. Oleh
karena glukosa dari akuos masuk ke dalam lensa dengan cara difusi,
maka kadar glukosa dalam lensa juga meningkat. Sebagian glukosa
tersebut dirubah oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol, yang
tidak dimetabolisme tapi tetap berada dalam lensa.
5. Merokok
Merokok dan mengunyah tembakau dapat menginduksi stress
oksidatif dan dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan,
askorbat dan karetenoid. Merokok menyebabkan penumpukan molekul
berpigmen 3 hydroxykhynurine dan chromophores, yang menyebabkan
terjadinya penguningan warna lensa. Sianat dalam rokok juga
menyebabkan terjadinya karbamilasi dan denaturasi protein.
6. Konsumsi alcohol
Peminum alkohol kronis mempunyai risiko tinggi terkena berbagai
penyakit mata, termasuk katarak. Dalam banyak penelitian alkohol
berperan dalam terjadinya katarak. Alkohol secara langsung bekerja
pada protein lensa dan secara tidak langsung dengan cara mempengaruhi
penyerapan nutrisi penting pada lensa.

3. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan
refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona
sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi
keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar
opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus.
Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling
bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang
memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya dapat
menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam
protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan
pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori
menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke
dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan
pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang
berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti
diabetes. Namun kebanyakan merupakan konsekuensi dari proses penuaan
yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik ketika
seseorang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan
harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan
ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-
obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang
kurang dalam jangka waktu lama (Smeltzer, 2002).
4. Manifestasi Klinis
Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam pengelihatan
secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif).
Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan
bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan
tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi
negatif (-). Bila Katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan
akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis. Gejala
umum gangguan katarak meliputi :
a. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek
b. Peka terhadap sinar atau cahaya
c. Dapat melihat dobel pada satu mata
d. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
e. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

5. Komplikasi
a. Luka yang tidak sempurna menutup
b. Edema kornea
c. Inflamasi dan uveitis
d. Atonik pupil
e. Papillary captured
f. Kekeruhan kapsul posterior
g. TASS (toxic anterior segment syndrome)
h. Ablasio retina
i. Endoftalmus
j. Sisa massa lensa

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan visus dengan kartu snellen atau chart projector dengan
koreksi terbaik serta menggunakan pinhole
Pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat segmen anterior
Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer non contact, aplanasi
atau Schiotz
Jika TIO dalam batas normal (< 21 mmHg) dilakukan dilatasi pupil
dengan tetes mata Tropicanamide 0.5%. setelah pupil cukup lebar dilakukan
pemeriksaan dengan slit lamp untuk melihat serajat kekeruhan lensa apakah
sesuai dengan visus pasien.
Derajat 1 : nukleus lunak, biasanya visus masih lebih baik dari 6/12, tampak
sedikit kekeruhan dengan warna agak keputihan. Refluks
fundus masih mudah diperoleh. Usia penderitanya biasanya
kurang dari 50 tahun.
Derajat 2 : Nukleus dengan kekerasan ringan, biasanya visus antara 6/12 –
6/30, tampak nucleus mulai sedikit berawarna kekuningan.
Refleks fundus masih mudah diperoleh dan paling sering
memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior.
Derajat 3 : nukleus dengan kekerasan medium, biasanya visus antara 6/30 –
3/60, tampak nukleus berwarna kuning disertai kekeruhan
korteks yang berwarna keabu-abuan
Derajat 4: nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 – 1/60, tampak nukleus
berwarna kuning kecoklatan. Reflex fundus sulit dinilai
Derajat 5 ; nukleus sangat keras, biasanya visus hanya 1/60 atau lebih jelek.
Usia penderita sudah di atas 65 tahun. Tampak nucleus
berawarna kecoklatan bahkan sampai kehitaman, katarak ini
sangat keras dan disebut juga sebagaiBrunescence
cataract atau black cataract.
Pemeriksaan funduskopi jika masih memungkinkan
Pemeriksaan penunjang : USG untuk menyingkirkan adanya kelainan lain
pada mata selain katarak
Pemeriksaan tambahan : biometri untuk mengukur power IOL jika pasien
akan dioperasi katarak dan retinometri untuk mengetahui prognosis tajam
penglihatan setelah operasi.
7. Penatalaksanaan
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi
kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka
penanganan biasanya konservatif. Pembedahan diindikasikan bagi mereka
yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun
keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang
terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila
ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila
visualisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi
perkembangan berbagai penyakit retina atau sarf optikus, seperti
diabetesdanglaukoma.
Ada 2 macam teknik pembedahan ;
1. Ekstraksi katarak intrakapsuler Adalah pengangkatan seluruh lensa
sebagai satu kesatuan.
2. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler Merupakan tehnik yang lebih disukai
dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak. Mikroskop
digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan.

8. Pencegahan
1. Hindari Paparan Asap Rokok
Bahaya asap rokok juga sangat berbahaya untuk mata, salah satunya
bisa meningkatkan resiko terkena katarak. Asap mengandung nikotin
yang sangat berbahaya termasuk zat kimia yang akan merusak kebersihan
mata. Anda bisa mencoba untuk tidak terkena asap rokok sejak masih
muda.
2. Konsumsi Makanan Sehat
Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki kadar
gula darah tinggi atau penderita diabetes maka resiko katarak akan lebih
besar dibandingkan orang sehat. Karena itu kemampuan tubuh untuk
mengatasi gula darah yang tinggi ternyata juga sangat mempengaruhi
mata. Untuk itu biasakan mengkonsumsi makanan yang sehat penuh
dengan vitamin A, beta karoten, antioksidan, vitamin C dan vitamin E.
Batasi jumlah konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan
gula.
3. Lindungi Mata dari Sinar UV
Melindungi mata dari bahaya sinar UV memang sangat tepat
dilakukan. Anda harus berusaha menggunakan kacamata saat bekerja atau
menyetir pada siang hari. Bahaya sinar ultraviolet untuk mata, bisa
mempercepat pembentukan katarak. Jika Anda tidak merasa nyaman
dengan kacamata maka gunakan topi yang lebar untuk menutupi area
mata.
4. Pemeriksaan Mata Secara Teratur
Terkadang beberapa penyakit atau kelainan mata akan terdeteksi
jika sudah memburuk. Karena itu melakukan pemeriksaan rutin untuk
kesehatan mata sangat diperlukan. Cara ini akan membantu menemukan
diagnosa dan deteksi awal kelainan mata yang terjadi. Langkah ini sangat
bijak jika dilakukan sejak masih anak-anak dan frekuensinya akan
meningkat setelah berumur lebih dari 40 tahun. (baca juga : cara menjaga
kesehatan mata)
5. Jangan Minum Alkohol
Kebiasaan minum alkohol juga bisa meningkatkan resiko terkena
katarak. Banyak orang yang memang tidak menyadari bahwa alkohol bisa
merusak mata. Bahaya alkohol yang masuk ke dalam tubuh akan masuk
ke dalam aliran darah. Kemudian bisa menyebabkan beberapa resiko
penyakit seperti diabetes dan gangguan fungsi organ. Akibatnya maka
katarak bisa muncul jika fungsi organ dan syaraf pada mata terus
mengalami tekanan.
6. Konsumsi Makanan Tinggi Vitamin C
Antioksidan adalah bahan yang bisa mencegah proses stress
oksidatif. Proses ini terjadi karena adanya zat radikal bebas yang masuk
ke dalam tubuh. Beberapa jenis makanan yang mengandung
antioksidan terdiri dari vitamin C. ini adalah jenis vitamin yang bisa
menghalangi proses terbentuknya katarak. Sangat disarankan untuk
mengkonsumsi setidaknya 250 mg vitamin C untuk setiap hari demi
mencega katarak. Beberapa sumber makanan yang disarankan untuk
dikonsumsi adalah seperti jambu merah, jeruk, brokoli, sayuran berdaun
hijau, kiwi, papaya, dan paprika.
7. Konsumsi Makanan Sumber Beta Karoten
Makanan yang mengandung beta karoten ternyata tidak hanya untuk
mencegah kanker. Sebab makanan ini sangat baik untuk
mencegah katarak. Beta karoten adalah vitamin yang bisa larut dalam
lemak karena itu sangat disarankan untuk dikonsumsi bersamaan.
Makanan yang menjadi sumber beta karoten misalnya adalah kangkung,
wortel, papaya, lobak, sawi, ubi jalar dan bayam. Mulai sekarang Anda
bisa mengkonsumsi makanan ini setiap hari atau sesering mungkin.
8. Konsumsi Makanan Tinggi Zeaxanthin dan Lutein
Salah satu jenis antioksidan yang sangat penting untuk mata adalah
zeaxanthin dan lutein. Dua jenis zat antoksidan ini termasuk dalam
golongan karotenoid yang banyak ditemukan pada bagian lensa mata.
Bahkan karotenoid ini memiliki fungsi untuk menjaga agar lensa mata
tetap selalu bersih. Semua jenis radikal bebas akan dilawan oleh zat-zat
ini. Bahkan konsumsi zeaxhantin dan lutein akan membantu mata agar
terlindungi dari bahaya sinar matahari. Beberapa jenis makanan yang bisa
dikonsumsi adalah seperti bayam, lobak, sawi, kale, kacang hijau, selada,
labu, asparagus, okra dan paprika hijau.
9. Konsumsi Makanan Tinggi Vitamin E
Banyak orang menganggap bahwa hanya vitamin A yang
dibutuhkan oleh mata. Namun ternyata vitamin E juga sangat dibutuhkan
karena bisa menjaga proses penuaan dan kerusakan lensa mata. Cukup
mendapatkan vitamin E akan membuat mata Anda terlindungi dari
katarak. Beberapa jenis makanan yang mengandung vitamin E adalah
seperti kacang almond, bayam, sawi, biji bunga matahari, minyak zaitun,
mangga, cabai merah, alpukat dan berbagai jenis makanan lain.
10. Minum Teh Secara Rutin
Teh adalah minuman super yang bisa mencegah berbagai penyakit
termasuk katarak. Teh mengandung senyawa antioksidan yang sangat
kuat sehingga bisa mencegah katarak dan berbagai kerusakan mata lain.
Teh tanpa gula juga bisa membantu mengatasi kadar gula darah yang
tinggi. Uji coba yang diterapkan pada tikus membuktikan bahwa minum
teh setiap hari ternyata menjaga kesehatan dan lensa mata agar selalu tetap
jernih. (baca juga : bahaya minum teh)
11. Turunkan Berat Badan jika Obesitas
Obesitas akan sangat buruk untuk kesehatan. Bahaya obesitas akan
meningkatkan berbagai penyakit lain terjadi pada tubuh. Jika Anda
memiliki berat badan berlebihan dan ingin tetap mempertahankan
kesehatan mata maka Anda bisa mulai untuk menurunkan berat badan.
Ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan yaitu olahraga dan konsumsi
makanan diet seimbang nutrisi
12. Batasi Konsumsi Garam
Hampir semua orang selalu menggunakan garam sebagai bumbu
tambahan ketika memasak. Namun ternyata kebiasaan ini bisa sangat
buruk untuk tubuh terutama mata. Mulai sekarang cobalah untuk
mengurangi atau membatasi asupan garam dalam makanan. Beberapa
camilan atau snack juga mengandung garam tinggi. Garam bisa
meningkatkan resiko katarak karena mendukung perkembangan penyakit
lain seperti gejala diabetes dan gangguan fungsi ginjal.
13. Konsumsi Makanan Tinggi Vitamin B2 dan B3
Berbagai jenis makanan yang mengandung vitamin B2 dan B3
ternyata sangat baik untuk menjaga kesehatan mata. Makanan yang
mengandung vitamin B memang bukan termasuk dalam golongan
antioksidan, namun mampu melindungi lensa mata dari katarak. Orang
yang kekurangan niasin dan riboflavin akan mengalai resiko katarak yang
lebih besar. Beberapa jenis makanan yang mengandung riboflavin adalah
seperti daging tanpa lemak, yogurt, susu, almond, kopi dan bayam.
Sementara makanan yang tinggi niasin adalah seperti ikan tuna, daging
ayam tanpa kulit, kalkun, ikan salmon, kacang merah, jamur dan biji
bunga matahari.
14. Makan Bilberry
Buah bilberry juga sangat baik untuk memelihara kesehatan mata.
Buah ini akan bekerja dengan baik untuk membuat aliran darah ke daerah
pembuluh darah dari bagian mata menjadi semakin kuat. Hasilnya adalah
jaringan di sekitar mata akan menjadi lebih kuat. Karena itu konsumsi
buah bilberry atau ekstrak buah bilberry sangat disarankan.
15. Konsumsi Makanan Mengandung Quercetin
Quercetin adalah sebuah zat yang ditemukan pada beberapa jenis
sumber makanan seperti bawang merah, bawang putih, kunyit dan jahe.
Quercetin akan mampu melawan gejala kataraksecara alami. Bahkan
konsumsi makanan yang mengandung quercetin secara rutin akan
menurunkan resiko terkena katarak. anak-anak menjadi usia yang paling
tepat untuk melakukan perawatan dengan makanan ini.
16. Biasakan Cukup Tidur
Waktu yang paling tepat untuk istirahat adalah tidur pada malam
hari. Mata telah melakukan berbagai aktifitasnya ketika kita sedang
bekerja. Karena itu istirahat malam akan membantu mata agar bisa
istirahat tanpa harus menjalankan fungsinya. Istirahat tidur akan
membuat mata menjadi lebih santai tanpa terkena cahaya dan radikal
bebas lain. Selain itu ketika Anda tidur maka banyak aliran mineral dan
vitamin yang akan diserap oleh mata.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat,
pekerjaan, status perkawinan.
Katarak biasanya lebih banyak pada orang yang berusia lanjut. Pekerjaan
yang sering terpapar sinar ultraviolet akan lebih berisiko mengalami
katarak.
2. Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat kesehatan terdahulu terdiri dari penyakit yang pernah
dialami, alergi, imunisasi, kebiasaan/pola hidup, obat-obatan yang
digunakan, riwayat penyakit keluarga.
Keluhan utama yang dirasakan yaitu penurunan ketajaman penglihatan
dan silau.
3. Riwayat penyakit saat ini
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya terdapat keluarga yang lain yang juga mengalami katarak.
6. Genogram
7. Pengkajian Keperawatan:
- Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan
Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan berbeda pada setiap
klien.
- Pola nutrisi/metabolik
Tidak ada gangguan terkait pola nutrisi dan metabolic klien.
- Pola eliminasi
Tidak ada gangguan pada pola eliminasi klien.
- Pola aktivitas & latihan
Perubahan aktivitas biasanya/ hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan.
- Pola tidur & istirahat
Tidak ada gangguan pola tidur dan istirahat yang disebabkan oleh
katarak.
- Pola kognitif & perceptual
Gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan
silau dengan kehilangan bertahap, kesulitan memfokuskan kerja
dengan dekat/ merasa di ruang gelap.
- Pola persepsi diri
Klien berisiko mengalami harga diri rendah karena kondisi yang
dialaminya.
- Pola seksualitas & reproduksi
Tidak ada gangguan pada pola seksualitas dan reproduksi yang
diakibatkan oleh katarak.
- Pola peran & hubungan
Pola peran dan hubungan klien akan terganggu karena adanya gangguan
pada penglihatannya.
- Pola manajemen & koping stress
Klien dapat mengalami stress karena klien tidaka dapat melihat secara
jelas seperti sebelumnya.
- Sistem nilai dan keyakinan
System nilai dan keyakinan seseorang akan berbeda satu sama lain.
8. Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum, tanda vital
- Pengkajian Fisik (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): kepala, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, urogenital, ekstremitas,
kulit dan kuku, dan keadaan lokal.Pada inspeksi mata akan tampak
pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak
akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002). Katarak terlihat
tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa dengan
oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat.
Katarak terkait usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau
subkapsular. Katarak terinduksi steroid umumnya terletak di
subkapsular posterior. Tampilan lain yang menandakan penyebab
okular katarak dapat ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa
menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan
trauma mata sebelumnya.
-
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien yang mengalami katarak
adalah:
a. Hambatan berjalan (00088) berhubungan dengan adanya gangguan
penglihatan (katarak)
b. Risiko jatuh (00155) dengan faktor risiko fisiologis: kesulitan melihat
(katarak)
c. Risiko trauma (00038) dengan faktor risiko penglihatan yang buruk
(katarak)
d. Ansietas (00146) berhubungan dengan stress situasional akibat prosedur
medis
e. Defisit pengetahuan (00126) berhubungan dengan kurangnya informasi
B. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Hambatan Hambatan NOC: NIC: Fall prevention


berjalan (00088) berjalan 1. Mengetahui kebiasaan-
Fall prevention 1. Identifikasi kebiasaan dan
berhubungan akan dapat kebiasaan klien yang berpotensi
behaviour faktor-faktor yang
dengan adanya dikontrol mengakibatkan jatuh pada klien
mengakibatkan risiko jatuh
gangguan oleh klien Indikator: 2. Mengetahui penyebab jatuh
2. Kaji riwayat jatuh pada
penglihatan setelah klien agar untuk selanjutnya
a. Penggunaan klien dan keluarga
(katarak) diberikan dapat dihindari
alat bantu
intervensi 3. Memodifikasi lingkungan yang
dengan benar 3. Identifikasi karakteristik
keperawatan berisiko menyebabkan jatuh
b. Tidak ada lingkungan yang dapat
selama 1x24 klien
penggunaan meningkatkan terjadinya
jam
karpet risiko jatuh (lantai licin)
c. Hindari 4. Sediakan alat bantu
4. Membantu klien untuk berjalan,
barang- (tongkat, walker)
agar dapat menghindari benda
barang
yang menghalangi klien ketika
berserakan di
berjalan
lantai
5. Ajarkan cara penggunaan 5. Agar klien dapat menggunakan
alat bantu (tongkat atau alat bantu dengan tepat
walker) 6. Bantuan dibutuhkan klien untuk
6. Instruksikan pada klien melakukan mobilitas karena
untuk meminta bantuan terganggunya penglihatan klien
ketika melakukan karena katarak
perpindahan, joka 7. Lantai rumah yang licin dapat
diperlukan mengakibatkan klien tergelincir
7. Ajarkan pada keluarga dan jatuh
untuk menyediakan lantai 8. Keluarga juga harus berperan
rumah yang tidak licin serta dalam meminimalkan
8. Ajarkan pada keluarga risiko terjadinya jatuh pada klien
untuk meminimalkan risiko
terjadinya jatuh pada pasien
2. Ansietas Ansietas NIC: Anxiety NIC: Anxiety reduction
berhubungan klien self control 1. Agar klien dapat memperoleh
1. Berikan informasi faktual
dengan stress berkurang informasi yang sesuai fakta
Indikator: meliputi dignosa, prognosis,
setelah
dilakukan
situasional akibat perawatan 1. mencari dan terapi sesuai kondisi 2. Pendampingan bertujuan agar
prosedur medis 1x24 jam informasi klien klien tidak merasa sendiri
untuk 2. Dampingi klien untuk sehingga menimbulkan
mengurangi mengurangi ketakutan klien ketakutan
ansietas 3. Respon kecemasan digunakan
2. menggunakan 3. Kaji respon kecemasan untuk mengetahui adanya
koping yang verbal maupun non verbal perubahan emosi pada klien
efektif klien 4. Komunikasi terapeutik untuk
3. mengontrol membina hubungan saling
respon 4. Gunakan komunikasi percaya dan mengurangi
ansietas terapeutik dan pendekatan kecemasan klien akan terapi
4. menggunakan yang baik pada klien 5. Terapi non farmakologis
teknik digunakan untuk membuat klien
relaksasi 5. Berikan terapi nyaman sekaligus mengurangi
untuk nonfarmakologis untuk kecemasan yang dialami klien
mengurani mengurangi ansietas klien 6. Obat-obatan digunakan jika
ansietas kecemasan klien meningkat dan
6. Kolaborasi dengan tim mengganggu kehidupan klien.
medis terkait pemberian
obat untuk menurunkan
kecemasan klien
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., et al. Tanpa tahun. Nursing Interventions Classification


(NIC). Fifth Edition. Mosby Elsevier.

Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi III. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media
Aesculapius: Jakarta.Moorhead, Sue., et al. Tanpa tahun. Nursing Outcomes
Classification (NOC). Mosby Elsevier.

NANDA. 2012. Nursing Diagnosis Definitions and Classification. Wiley-


Blackwell.

Smeltzer, Suzzane C., dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medika
Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC.