Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karna
atas berkat, rahmat dan anugerah – Nya saya dapat menyelesaikan makalah
Projek ini tepat pada waktunya.

Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat


kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya mengharapkan
kritik, saran dan usulan demi perbaikan yang akan saya buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini bermanfaat dan
dapat menambah ilmu pengetahuan bagi para pembaca.

Medan, 27 November2018

Supanjo Ginting

1
DAFTAR ISI
Kata penghantar...............................................................................1
Daftar isi...........................................................................................2
Bab 1 ...............................................................................................3
Bab 2................................................................................................5
Bab 3 ...............................................................................................9
Bab 4................................................................................................10
Bab 5................................................................................................15
Daftar pustaka..................................................................................16

2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pembelajaran sains di sekolah sampai saat ini cenderung berpusat pada
guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi-materi dan siswa diberi
tanggung jawab untuk menghapal semua pengetahuan. Pembelajaran yang
berorientasi target penguasaan materi hanya berhasil dalam mengingat jangka
pendek, tetapi gagal dalam memecahkan masalah di kemudian hari (Metlin
MW.1994). Pembelajaran sains bukan hanya sekedar menguasai sekumpulan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, prinsip atau teori saja, tetapi belajar
akan lebih bermakna jika peserta didik mengalami apa yang mereka pelajari,
oleh karena itu pendidik telah berjuang dengan segala cara dengan mencoba
untuk membuat apa yang dipelajari siswa di sekolah agar dapat dipergunakan
dalam kehidupan mereka sehari-hari (Teori Belajar Ausebel).
Pada saat diberi permasalahan baru, peserta didik hanya bisa memindahkan
kalimat-kalimat dari buku teks ke kertas kosong. Untuk mengatasi hal-hal
tersebut, perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang dapat
mengembangkan kemampuan atau keterampilan memproseskan penemuan,
salah satunya adalah pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual
merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu
siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari
(konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga 2 siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer)
dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/-konteks lainnya. Salah satu
pendekatan pembelajaran konstektual adalah Pembelajaran Berbasis Proyek
atau Project-Based Learning; Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah
satu metode pembelajaran yang menekankan pada pemberian kesempatan
kepada siswa untuk menghasilkan suatu karya melalui pengembangan
pengetahuan, sikap, nilai dan ketrampilan sosial yang berguna bagi
kehidupannya di masyarakat.
Karya yang dihasilkan dapat berupa suatu rancangan, model, prototipe atau
produk yang nyata yang dapat diterapkan di masyarakat. Pembelajaran berbasis
proyek banyak diterapkan di bidang keteknikan (engineering), namun demikian
dari beberapa literatur, metode ini juga telah diterapkan di bidang-bidang lain,
seperti: pertanian, peternakan, perikanan dan beberapa bidang studi yang lain.
Namun demikian tidak semua mata pelajaran dalam kurikulum dimungkinkan
untuk menerapkan metode ini. Mata pelajaran fisika lebih cocok diajarkan
dengan metode ini,karena berhubungan dengan realiata kehidupan sehari-hari.
Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari bantuan gaya gesekan. Tanpa
gaya gesek, kita tidak akan bisa berjalan, roda sepeda motor atau mobil juga

3
tidak akan bisa berputar. Secara umum, gaya didefinisikan sebagai sesuatu yang
dapat mengubah keadaan gerak suatu benda. Suatu benda dapat bergerak karena
mendapat gaya. Gaya juga dapat mempercepat atau memperlambat gerak
benda. Selain itu, gaya juga dapat dikatakan sebagai tarikan atau dorongan.
Di dalam ilmu fisika, gaya adalah apapun yang dapat menyebabkan sebuah
benda bermassa mengalami percepatan, salah satunya adalah adalah gaya gesek.
Manfaat gaya gesek sangat besar dalam kehidupan manusia. Disamping itu,
gaya gesek juga menimbulkan kerugian bagi kehidupan manusia. Gaya gesek
suatu benda dipengaruhi oleh kondisi permukaan benda kerja terhadap
permukaan benda lain, seperti kekasaran permukaan dan pelumasan.

1.2.Tujuan
1.2.1. Mengetahui definisi dan maksud dari fluida dan gaya gesek.
1.2.2. Mengetahui jenis-jenis gaya gesek.
1.2.3. Mengetahui koefisien gesek permukaan terhadap viskositas pelumas
pada bidang miring.

1.3.Manfaat
1.3.1. Dapat menerapkan manfaat dari fluida gaya gesek bagi kehidupan
manusia.
1.3.2. Dapat mengaplikasikan fluida gaya gesek sesuai dengan jenis-jenisnya.
1.3.3. Dapat menerapkan pengaplikasian pelumas pada bidang miring.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Identitas Buku I


Judul buku : Fisika Dasar 1
Penulis : Motlan Sirait dan Eidi Sihombing
ISBN : 978-602-8826-52-5
Penerbit : Citapustaka Media Perintis
Tempat Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2010
Tebal : 246 halaman
Edisi :1
Buku yang berjudul “Fisika Dasar 1” yang diterbitkan oleh Cipustaka Media Perintis
ini ditulis oleh Motlan sirait dan Eidi Sihombing. Buku ini ditujukan kepada mahasiswa
yang mengikuti mata kuliah Fisika Umum, baik mahasiswa Fisika dan Pendidikan Fisika
maupun jurusan lain di lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA). Buku ini juga dapat digunakan oleh mahasiswa dari jurusan lain yang
mempunyai mata kuliah Fisika Dasar maupun Fisika Umum.
Buku yang berjudul “Fisika Dasar 1” ini terdiri dari XII Bab yang berisi mengenai
konsep-konsep dasar dalam ilmu Fisika. Adapun topik yang dibahas dalam buku ini adalah
fluida.
2.2 Isi Buku I

 FLUIDA
Fluida merupakan sesuatu sistem dengan distibusi masa yang
kontinui,jadi merupakan suatu medan. Permasalahan dinamika fluida dapat
diselesaikan dengan menggunakan hukum-hukum Newton yang non
relativistik.
Aliran dikatakan kental apabila terjadi gerak relatif antara berbagai
lapisan yang bergerak sejajar,juga terjadi gesekan internal sehingga terjadi
disipasi energ.
Massa jenis merupan suatu ukuran kecepatan suatu benda, sehingga
dapat dikatakan, jika suatu benda mengalami massa jenis yang besar,maka
benda tersebut dapat dikatakan memiliki kerapatan yang besar pula,begitu
juga sebaliknya.
Secara matematis rumus masa jenis fluida dapat dituliskan :
P = m/v

P = masa jenis benda


m = massa benda
v = volume benda

5
 TEKANAN
Tekanan {P} merupakan suatu ilmu fisika untuk menyatakan hasil
dari gaya dengan luas {A},satuan tekanan yang digunakan dalam mengukur
kekatan dari suatu benda gas dan cair. Secara matematis dapat dituliskan:
P=F:A
 HUKUM PASCAL
Hukum pascal yang bearbunyi “tekanan yang diberikan kepada fluida dalam
ruangan tertutup akan diteruskan sama besar ke segala arah”.secara matematis dapat
dituliskan :
F1=d1 : d2 . F2
Dengan keterangan:
F1 = gaya pada permukaan A1
F2 = gaya pada permukaan A2
d1 = diameter 1
d2 = diameter 2
 KAPILARITAS
Kapilaritas adalah gejala atau peristiwa meresapnya zat cair melalui celah-
celah sempit atau pipa kapiler. Secara matematis dapat dituliskan
Y= 2cos0 : p.g.r
2.3 Identitas Buku II
Judul buku : Fisika
Penulis :douglas giancoli
ISBN : 979-9023-54-8
Penerbit : erlangga
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2001
Tebal : 214 halaman
Edisi :1
Buku yang berjudul “Kartun Fisika” yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer
Gramedia. Buku ini ditulis olehLarry Gonick dan Art Huffman. Buku yang berjudul
“Kartun Fisika” ini terdiri dari 24 Bab yang berisi mengenai konsep dasar dalam ilmu
Fisika. Adapun topik yang dibahas dalam buku ini adalah mekanika dan listrik dan magnet.
2.4 Isi Buku II
Isi dari buku ini hampir sama dengan buku yang dia atas.
 FLUIDA

Fluida adalah zat yang dapat mangalir . Fluida merupakan merupan salah
satu aspek yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari manusia
menghirupnya meminumnya atau tenggelam di dalam nya. Setiap hari pesawat
udara terbang melaluinya dan kapal laut mengapung di atas nya. Air yang
dimimnum dan udara yang dihirup juga bersirkulasi.Faktor faktor yang
mempengaruhi fluida: tekanan,temperatur, densitas dan viskositas.

6
 KAPILARITAS

Peristiwa kapilaritas adalah naik turunnya permukaan zat cair melalui pipa
permukaan pada dan tabung kaca. Kapilaritas terjadi karena gaya kohesi dari
tegangen permukaan dan gaya adhesi antara zat cair dan tabung kaca.Secara
matematis dapat dapat dituliskan untuk menghitunh tinggi indahnya atau naik
turunya permukaan zar cair pada pipa kapiler adalah :

g = F cos 0
Vg = y cos 0
=2ycos:pgr

SOAL

Suatu tabung berdiameter 0,4 cm jika dimasukkan secara vertikal ke dalam air,sudut
kontaknya 60 . jika tegangan air permukaan air 0,5 N/m dan g = 10
m/s2,tentukanlah kenaikan air pada tabung.

jawab
dik; d tabung = 0,4 cm
r =0,2 cm
v =0,5 N/m
g =10 m/s2
dit ; h...?
h=[2ycos0]pgR
h =[2.0,5.cos 60]/[1.10.0,2]
h = 0,025m

3.1 Kelebihan Buku


Buku 1 :Motlan sirait dan Eldi sihombing
 Memiliki pemahaman konsep yang cocok untuk mahasiswa, dengan alasan bahwa
setiap subbab memiliki definisi serta konsep yang dijelaskan..
 Isi buku dan penjelasan dalam buku ini lengkap dan memiliki font tulisan yang
besar. Karena mengupas tuntas semuanya dan juga membahasnya semua satu per
satu sehingga pembaca dapat memilah-milah satu per satu dari materi tersebut.
 Buku ini cocok digunakan untuk mahasiswa sebagai panduan dan pedoman untuk
menambah pengetahuan tentang cara menyajikan massa jenis fluida dan
kapilaritas.
 Rumus tentang materi setiap subbab sudah bagus,ditulis dengan rapi.
 Disertai dengan contoh soal dan penyelesaian nya

7
Buku 2 :douglas j giancol
 Buku ini disajikan dalam bentuk ilustrasi gambar,memudahkan untuk memahami
materi.
 Cover buku tersebut sangat menarik,membuat para pembaca tertarik untuk
melihatnya.
 Materinya disampaikan secara rinci dan berurut.
 Penulisan buku tersebut rapi,
 Menggunakan bahasa yang mudah di mengerti semua kalangan.

3.2 Kelemahan Buku


Buku 1 :Motlan sirait dan eldi sihombing.
 Latihan soal tidak ada, yang hanya disedikan adalah contoh soal.
 Menggunakan bahasa yang sulit dipahami,dengan istilah-istilah fisika.
 Sedikit ilustrasi gambar.

Buku 2 :duoglas .
 Rumus yang dipaparkan hanya sedikit,dengan alasan rumus yang dipaparkan
hanya rumus umum.
 Tidak adanya contoh soal dan penyelesaiannya.
 Kurangnya materi tentang kapilaritas.

8
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Persiapan Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan meliputipembutan bak penampungan
sebagai sumber mata air yang akan digunakan sebagaibak penampungan kapasitas
dengan kapasitas200 liter,tinggi tampungan air adalah 81 90cm dari dasar
permukaan, penampungan bak air dengan mengalirkan air menggunakan pipa
diameter 2”, agar supaya airyang ada didalam bak tetap tidak berubah atau head-
nya tetap ketika air dialirkan melalui percabangan, pembuatan rangkaian ini akan
dikerjakan dilaboratorium program studi teknik mesin dan juga perakitan
sambungan-sambungan pipa percangan 3, 4 dan 5. Output pipa pertama adalah 2”
sepanjang 6 cm kemudian disambung verlup 2”-1,5” kemudian dihubungkan pipa
diameter 1,5 ”panjang 4 m dan disambung verlup 1,5”-0,5”.
Dan akhirnya pipa dibuat percabangan dengan masing-masing pipa
penyalur 0,5 inch panjang 50 cm, sesuai cabang yang diinginkan 3,4 dan 5 kearah
kanan, kiri, atas, bawah dan lurus,setiap cabang pada ujung pipa diberi kran guna
mengatur air yang keluar, setiap air yang keluar ditampung dengan literan air guna
mengukur jumlah air yang keluar dengan waktu yang bersamaan atau atau
bergantian sesuai keinginan guna mengukur volume dan waktunya guna
mengetahui debitnya.
3.2 Pembuatan dan Pemasangan Instalasi Pipa

Pembuatan instalasi dimulai dari bak penampungan air yang diletakkan,


kapasitas air yang yang ada pada bak sebesar 200 liter, air yang akan dimasukkan
pada bak digunakan saluran pipa dialirkan dengan pompa atau air yang mengalir.
Pemasangan selanjutnya adalah pemasangan instalasi pipa–pipa penyalur
sampai pada penampung /air tandon, variasi pipa diameter pipa 2 inch sebagai pipa
inputyang diletakkan diatas bak penampungan tinggi jatuh,penyambungan
dilakukan dengan percabangan 3, 4, dan 5 dengan diameterpipa 0.5.
3.3 Pelaksanaan Penelitian dan Pengukuran

Pipa cabang out put dipasang pada dudukan yang telah ditentukan atau pada
pondasi atau dudukan dengan diikat dengan tali / baut penyangga, pengikatini
dimaksudkan agar supaya pipa tidak dapat bergeser pada saat kena beban aliran dari
air sumber / tandon. Penelitian yang akan dilakukan adalah menganalisis debit yang
keluar pada (Q1out put)diameter 1,5”dan yang keluar (Q2,3,4, 5out put) atau debit
percabangan karean perubahan bentuk penampang yang keluar.

9
Kecepatan alirannya dihitung dengan mengukur jumlah air yang keluar dari
pipa outputpercabangan tersebut. Dari hasil perhitungan debit air adalah liter / det
pada masing-masing pipa luarannya yang keluar dari keran. Adapun pelaksanaan
penelitian dilakukan di Desa Kalibening, Kecamatan Secang, Kabupaten
Magelang.

3.4. Alat yang Digunakan


Peralatan lain yang diigunakan untuk mengukur variabel lainnya.

1. Gelas ukur, untuk mengetahui volume fluida dalam waktu tertentu dari volume
fluida serta untuk mengetahui debit fluida yang mengalir,

2. Stop watch, untuk mengukur waktu pada saat fluida masuk pada gelas/tabung
ukur.

10
BAB 4

HASIL PENELITIAN
2.1. Identitas Jurnal
Judul Jurnal : Karakteristik aliran fluida gas cair melalui pipa
sudden contration
Volume Penerbitan :2
Nomor Penerbitan :2
Tahun terbit : 2009
Penulis : Khairul Muhajir
ISSN 176-184

2.2. Ringkasan Jurnal


LANDASAN TEORI
Nurcholis, (2008), meneliti tentang perhitungan laju aliran fluida pada
jaringan pipa. Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa hubungan antara
kehilangan tenaga dan debit aliran, jika aliran semakin besar dengan koefisien
rugi head tinggi, maka rugi head pada setiap panjang pipa semakin besar.

Muhajir, K. (2009), meneliti tentang karakterisasi aliran fluida gas-


airmelalui pipa sudden contraction.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
visualisasi garis arus tampak bagus pada pengecilan 1,5 : 1 dengan panjang
daerah pusaran Xl (cyrculation zones) dan tinggi pengecilan (H) merupakan
fungsi dari Reynolds,
Penyelidikan lost head pada pipa mendatar dengan aliran fluida tak
kompresibel turbulen dimulai dengan mengumpulkan faktor-faktor yang akan
mempengaruhi, yaitu: perubahan tekanan (∆p), diameter pipa (d), kekentalan
mutlak fluida (), kerapatan fluida (), panjang pipa (L), kecepatan fluida (v) dan
kekasaran relatif pipa (K) merupakan perbandingan relatif dari ukuran pipa
(portalgaruda.org/article, 2013).
Aliran debit Q1 (input) akan melewati pipa dengan perbedaan head dan
keluar adalah Q2,3,4 (out put), debit inilah yang akan diukur kapasitasnya, baik
pada pipa dengan perubahan 80 bentuk penampang pipa maupun pada pipa
tanpa perubahan bentuk. Bila diameter pipa pemasukan D, maka kecepatan air
yang keluar dari pipa pemasukan adalah
V= 2gh ,
dimana g adalah kecepatan gravitasi yang besarnya 9,81 m/det2 dan h
adalah tinggi head dan bilangan yang besarnya tergantung bahan pipa dan
besarnya diameter D atau V dan dapat pula dihitung dengan rumus:
h = 0.5 g v 2. 2 + D 4. f .L g v 2. 2 + g v 2. 2 + Sin 2 ϴ g v 2. 2

11
dimana f adalah angka gesekan pipa, tergantung pipa lama atau baru dan
juga tergantung diameter pipa pula. Bila V sudah dihitung maka debit air yang
keluar pipa pemasukan dapat dihitung pula yaitu Q1 = 4 π D2 V dan Q1 ini
harus lebih kecil dari Qo, tetapi jika Q1 lebih besar Qo, maka perhitungan
diameter pipa pemasukan D harus diulangi dengan memisalkan diameter yang
lebih kecil lagi, sehingga tercapai Q1< Qo. Sedangkan besarnya debit (output)
Q2 liter/menit hal inilah yang akan diukur kapaisitas luaran air setelah fluida
melesewati pipa –pipa percabangan tersebut.
2.2 Bilangan Reynolds

Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang dapat


membedakan suatu dilihat dari kecepatan aliran, menurut (Mr. Reynolds)
diasumsikan/dikategorikanlaminar bila aliran tersebut mempunyai bilangan Re
kurang dari 2300, untuk aliran transisi berada pada bilangan Re 2300 dan 4000 biasa
juga disebut sebagai bilangan.Ketergantungan bilangan Reynolds adalah 1) aliran
dengan bilangan Reynolds sangat kecil, 2) aliran dengan bilangan Reynolds sedang
(lapisan batas laminar),dan 3) aliran dengan bilangan Reynolds sangat besar
(lapisan batas turbulen) (Munson,Young dan Okiishi;2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil visualisasi garis arus aliran satu fase (air) pada koefisien perbesaran (S)
= 1,5, 2, dan 2,5 atau pengecilan dari pipa 1 inch ke pipa 0,4, 0,25, dan 0,16 inch
ditunjukkan pada gambar 4.1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa, hubungan
antara panjang daerah pusaran Jurnal Teknologi, Volume 2 Nomor 2 , Desember
2009, 176-184 179 atau circulation zones (XL) dengan tinggi pengecilan (H), pada
fluks massa G1 = 4,733 kg/m2 det sampai G1 = 13,253 kg/m2 det dalam parameter
non dimensional (Re).
pengecilan S = 0,4 diperoleh visualisasi garis arus yang cukup sempurna,
sedang untuk pengecilan S = 0,25 dan 0,16 hasil visualisasi garis arus kurang
sempurna dikarenakan Pertama : Dimensi seksi uji pada perbesaran yang relatif
pendek kurang lebih 30 cm, dan diameter pipanya kecil, sehingga kecenderungan
aliran yang terjadi adalah aliran turbulen. Kedua : Bahan pewarna mudah terlarut
alam air.
Catatan lain dari hasil pengamatan, bahwa garis arus pada pengecilan S =
0,25 dan 0,16 diperoleh kondisi yang mendekati acak (turbulen) meskipun
kecepatan aliran masih kecil yaitu pada Re2 = 275 sampai 771 untuk S = 0,25 dan
Re2 = 252 sampai 704 untuk S = 0,16 dikarenakan viskosita cairan rendah, sehingga
gaya viskos tidak mampu lagi menahan gaya inersia. Hal ini sangat mungkin
dipengaruhi oleh properti (kecepatan fluida, konsentrasi dan temperatur) dari fluida
yang berfluktuasi pada daerah pengecilan baik besar maupun arahnya (random
dalam skala mikro). Dalam teori turbulensi, meski properti (P) kondisinya naik
turun namun ada harga rata-ratanya (P), dari harga rata-rata tersebut terdapat harga

12
penyimpangan (P’) pada suatu saat terhadap harga rata-rata, sehingga semua
properti tersebut harganya : P = P+P’ (Incroperra, 1996).
Faktor lain yang mempengaruhi keadaan garis arus adalah adanya hambatan
pada sambungan pipa, mengingat seksi uji yang relatif pendek sehingga harus
disambung-sambung, sedangkan dalam teori disebutkan bahwa untuk mendapatkan
aliran yang laminer dibutuhkan kondisi saluran pipa yang mulus tanpa hambatan,
jika dalam keadaan terpaksa harus dipasang assesoris lain, penempatannya harus
sangat-sangat diperhatikan, seperti pencampur udara dengan air maupun
pencampur bahan pewarna dengan air hendaknya dipasang minimal 100 kali
diameter pipa pada sebelum maupun sesudah seksi uji dan geometrinya harus dibuat
skecil mungkin.
Disamping faktor diatas pengaruh kecepatan aliran menjadikan perpindahan
massa dari tempat bahan pewarna yang terkonsentrasi pada jalur injektor secara
konveksi ke daerah yang konsentrasi bahan pewarnanya rendah mengalami
percepatan
Pada debit udara masih kecil pada saluran masuk terlihat pola aliran yang
terjadi merupakan aliran gelembung (bubble), gelembung udara mengalir pada
bagian atas tube karena massa jenisnya lebih kecil dari air. Begitu memasuki
pengecilan, gelembung terkumpul pada sudut pengecilan bagian atas (a).
Pada debit udara yang agak besar, aliran berubah menjadi aliran kantong
udara, dimana beberapa gelembung mengumpul menjadi kantongkantong kecil (b).
Pada debit udara lebih diperbesar lagi, kondisi aliran masih merupakan aliran
kantong, hanya ukurannya lebih besar dari (b). Gambar (c) memperhatikan ujung
dari kantong udara, dan pangkal kantong diperlihatkan pada gambar (d).
Pada penambahan debit udara melebihi (c) dan (d) aliran berobah menjadi
aliran strata gelombang seperti gambar (e) atau juga merupakan pola aliran terpisah
dimana air dan udara bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Kemudian jika
debit udara ditambah lagi maka diperoleh kondisi aliran yang merupakan pola
sumbat liquid (f). Dalam kondisi aliran bubble seperti gambar 10.a dan aliran
kantong gambar 10.b, fenomena dimana gelembung udara cenderung untuk
mengalir pada bagian atas tube, sematamata karena perbedaan berat jenis dari
fluidanya.
Title dan Duker dalam penelitiannya membagi kondisi pola aliran dua fase air
dan gas menjadi 6 kelompok : Bubble, kantong, strata licin, gelombang, sumbat
likuid dan cincin. Dalam penelitian ini sebelum terjadi aliran strata gelombang,
mestinya ada pola yang disebut strata licin, namun kenyataannya kondisi ini sulit
didapatkan.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebelum memasuki pengecilan,
tekanan mengalami kenaikan secara linier karena gesekan sepanjang pipa begitu
memasuki pengecilanan, tekanan mengalami penurunan secara linier karena rugi
gesekan sepanjang dinding pipa. Perubahan tekanan pada daerah pusaran tersebut
disebabkan oleh adanya perubahan kecepatan (perlambatan). Sesuai dengan teori

13
kontinuitas bahwa perubahan suatu energi pada sistem akan diikuti oleh perubahan
energi dalam bentuk lain.

1.3.Kelebihan Jurnal
1.3.1. Sistematika penulisan telah tersusun dengan baik, jelas dan
lengkap sehingga pemikiran pembaca menjadi terarah.
1.3.2. Jurnal memiliki daftar pustaka atau referensi yang cukup banyak
sehingga terkesan lebih berisi dengan kata lain jurnal terlihat lebih
terpercaya dan kuat dikarenakan banyaknya referensi yang
tercantum.
1.3.3. Terdapat masing-masing gambar pada tiap-tiap prosedur kerja,
tabel pada hasil dan pembahasan yang membantu pembaca untuk
mengerti dan memahami materi tersebut.

1.4.Kelemahan Jurnal
1.4.1. Jurnal mempunyai cintoh dalam pembahasan.
1.4.2. Sulit dipahami apabila dibaca oleh pemula sehingga membutuhkan
referensi pendamping untuk mengerti makna atau arti dari
beberapa kata yang ada dalam jurnal.

14
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil perhitungan jika air dialirkan satu pipa 0,5 inch besarnya
debit (Q) =0,3024 liter/det, sedangkan berdasarkan pengukuran untuk tiga
cabangpipamenunjukkan bahwa debitaliran fluida yangpaling besaradalah
bagian lurus (Ql3 ) = 0.1350942 liter /detik, jika hanya satu pipa lurus yang
dioperasikan yang besarnya (Q0) = 0.136833 liter /detik, maka ada peningkatan
aliran sebesar 1,27 %.
2. Debit air yang mengalir pada empat cabang pipa juga pada bagian pipa lurus
yang mempunyai kapasitas yang
3. terbesar yaitu debit(Ql4)=0.192959 liter/det dan jika tiga cabang pipa yang
dioperasikan ternyata juga bagian yang lurus yang paling besar yaitu (Ql3,4) =
0.197051 liter /det ada peningkatan 2,07 %.
4. Debit air yang mengalir pada lima cabang juga pada bagian lurus yang paling
besar yaitu (Ql5) = 0.103253 liter /det, dan bila empat cabang pipa yang
dialirkan menunjukkan bagian yang lurus yang terbesar yaitu (Ql4,5)=
0.119282 liter /det, ada peningkatan 13,43 %.
5.2. Saran
Berdasarkan perhitungan dan pengukuran ternyata bagian yang lurus yang
paling besar hal ini perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memastikan besarnya
aliran air dan juga penelitian percabangan dengan sudut tertentu, bagaimana
fenomena debit yang akan terja

15
Daftar pustaka
Djojodhardjo,Harijono.1983. Mekanika Fluida. Jakarta: Erlangga

gdebadrawada@yahoo.co.id)Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST


AKPRIND Yogyakarta

Triatmodjo, Bambang. 1996. Hidrolika I. Yogyakarta:Beta Offset

V. B Priyani., 1987, Fluids Mechanics, New Delhi

16