Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

KONSEP HOME HEALTH CARE

Oleh:

Maria Yoanita Bina (22020118410025)


Mei Rianita E. Sinaga (22020118410012)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
A. Sejarah
1. Perspektif sejarah
Pelayanan home care berakar dari kunjungan terhadap orang miskin yang sakit
berdasarkan perintah agama selama akhir 1700-an. Pada tahun 1796 apotik Boston
menjalankan layanan home care di US. Prinsip dasar dari apotik Boston
mengungkapkan filosofi home care: orang sakit, tanpa disakiti oleh perpisahan
dengan keluarga mereka, mungkin dapat dilayani dan dibantu di rumah. Pada akhir
1800-an layanan keperawatan di rumah diselenggarakan dan dikelola oleh orang
awam. Agen memberikan asuhan keperawatan tanpa memiliki lisensi dan
keterampilan serta mengajarkan tentang kebersihan dan cara perawatan di rumah
kepada orang sakit dan keluarga.1
Kunjungan pertama perawat di Amerika disebut “perawat distrik” istilah yang
diperkenalkan oleh Nightingale untuk perawat yang mengunjungi orang sakit dan
memberikan pendidikan kesehatan di masyarakat. Program kunjungan rumah pertama
di Amerika Serikat muncul pada tahun 1880-an. Pada saat itu, home health nursing
tidak dapat dipisahkan dari keperawatan kesehatan komunitas, karena masing-masing
perawat memberikan rangkaian perawatan keperawatan yang lengkap, termasuk
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, perawatan langsung untuk memulihkan
kesehatan, atau perawatan paliatif.1
Pada tahun 1877 Women Branch of the New York City Mission merupakan
kelompok pertama yang mempekerjakan lulusan perawat untuk melakukan
perawatan bagi yang sakit di rumah. Sebuah agen sukarela didirikan pada 1885 di
Buffalo, New York untuk memberikan perawatan di rumah. Pada tahun 1886 agen
sukarela lainnya memberikan klien layanan home health care gabungan di Boston dan
Philadelphia. Hal tersebut kemudian melahirkan Visiting Nurse Associations (VNAs).
Pada tahun 1893 Lilliana Wald dan Mary Brewster memberikan pelayanan kepada
yang sakit dan miskin. Perawat perawatan kesehatan di rumah dipekerjakan untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan penghuni rumah petak.1
Pada tahun 1898 perawat yang lulus dipekerjakan oleh Los Angeles Country
Department untuk melakukan kunjungan ke orang miskin yang sakit. Los Angeles
County Department adalah departemen kesehatan pemerintah pertama yang mengatur
layanan kunjungan. Istilah perawat kesehatan masyarakat kemudian diciptakan. Pada
tahun 1909 beberapa pelayanan home care ditanggung oleh pemegang polis dari
Metropolitan Life Insurance di New York City.1
Setelah perang dunia ke II, pelayanan home care perkembangannya meningkat
dengan pertumbuhan yang luar biasa dialami oleh lembaga home health care nirlaba
atau sukarela seperti VNAs atau departemen kesehatan masyarakat. Saat ini industri
home care terus bertumbuh dalam pemberian perawatan dan ruang lingkup layanan
mencerminkan tuntutan masyarakat untuk biaya yang efektif dan kualitas layanan
kesehatan tersedia. 1
2. Perspektif sosial
Faktor sosial mempengaruhi home care. Sebelum tahun 1960-an home care,
salah satunya adalah promosi kesehatan. Home health nursing berfokus pada
pemulihan kesehatan dan caring pada orang yang sakit.1 Pada pertengahan tahun
1960-an populasi lansia yang semakin bertambah, kemajuan teknologi medis, dan
permintaan publik akan akses universal ke sistem perawatan kesehatan memiliki
pengaruh yang luar biasa terhadap industri home care. Ada lebih banyak klien yang
harus dilihat dan lebih sedikit sumber daya untuk menutup biaya kunjungan. Pada
tahun 1965 program asuransi kesehatan dan program bantuan, sistem manajemen
perawatan masyarakat disahkan sebagai respon terhadap tekanan sosial yang meminta
akses pelayanan kesehatan yang mudah kepada lansia, orang miskin, dan penyakit
mental.1 Program home health care stabil pada tahun 1966 dengan jaminan program
asuransi kesehatan. Sejak berlakunya program asuransi kesehatan, lembaga home
care yang bersertifikat memperoleh pendapatan yang menguntungkan.1
3. Pengaruh regulasi pemerintah dan kebijakan publik terhadap home care
Sejarah menunjukkan home care memiliki sinonim dengan perawat, sebagai
hasilnya perawatan klien di luar rumah sakit sangat dipengaruhi, dikelola, dan
dikendalikan oleh perawat. Sebelum berlakunya program asuransi kesehatan,
penekanan perawatan difokuskan pada promosi kesehatan dan terapi restorasi, selama
1960-an ini berubah.1 AMA bersikeras pada kerangka kerja medis yang mengarahkan
layanan kesehatan di rumah sebagai imbalan atas dukungan utama kepada program
asuransi kesehatan. Hasilnya pemerintah mengamanatkan sertifikasi dokter sebagai
persyaratan untuk semua pelayanan dengan program asuransi kesehatan termasuk
home care.1
Berdasarkan sejarah, sosial, dan regulasi pemerintah serta tuntutan untuk sistem
pemberian layanan kesehatan alternatif menghasilkan kebangkitan perawatan
keperawatan dalam lingkungan klien. Praktik keperawatan kesehatan di rumah akan
terus berkembang dan dibentuk oleh peningkatan level kebutuhan klien di rumah,
peningkatan teknologi kesehatan di luar rumah sakit, perbaikan sosial dan ekonomi
terhadap pelayanan kesehatan, masalah klien yang sangat bervariasi di mana
kebutuhan akan layanan kesehatan dikelola di rumah, dan perawat kesehatan di
rumah, berusaha untuk memaksimalkan kualitas perawatan klien dalam lingkungan
rumah.1

B. Pengertian
Beberapa ahli mengartikan home health care sebagai berikut:
1. Home health nursing adalah pemberian perawatan yang berkualitas kepada klien di
lingkungan rumah klien.1
2. Home health nursing adalah praktik keperawatan yang diterapkan pada klien dengan
defisit kesehatan di tempat tinggal klien. Klien dan pengasuh yang ditunjuk adalah
fokus praktik keperawatan kesehatan di rumah.2
3. Home health nursing adalah pemberian layanan perawatan khusus dalam pengaturan
perawatan kesehatan di rumah.3
4. Home health nursing adalah area praktik keperawatan khusus yang memberikan
praktik kepada klien di rumah, sekolah, tempat kerja, atau di lingkungan komunitas
lainnya.4
5. Perawatan kesehatan rumah merupakan perawatan berbasis masyarakat yang
mendukung individu segera pulih dari kondisi akut seperti fraktur pinggul, kondisi
kronis seperti stroke atau cerebral palsy, yang memungkinkan klien menerima
perawatan untuk tetap di rumah dengan lingkungan aman, memiliki waktu yang lebih
bebas, dan menyediakan pengasuh keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional.5
6. Perawatan kesehatan rumah merupakan perawatan yang berfokus pada klien, keluarga
dengan mempertimbangkan lingkungan, politik, ekonomi, budaya, agama dalam
mempengaruhi penyakit klien dan sejauh mana kemampuan klien memenuhi tujuan
rencana perawatan.6
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa home
health nursing adalah asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien yang memiliki
masalah kesehatan yang bertempat di rumah, sekolah, tempat kerja, atau di lingkup
komunitas lainnya dengan mempertimbangkan lingkungan, politik, ekonomi, budaya,
agama dalam memberikan asuhan keperawatan.

C. Home Health Care: Penerapan Teori dalam Praktik Klinik


Pelayanan home care didukung oleh berbagai model teori keperawatan antara lain:
environment (Nightingale), self care deficit (Orem), transcultural nursing (Leininger),
human caring in nursing (Watson). Teori yang secara spesifik mendukung pelaksanaan
home care adalah The Rice Model of Dynamic Self Determination.1 Dynamic Self
Determination berasal dari motivasi klien atau pengasuh klien atau keluarga untuk
menjaga keseimbangan kesehatan klien sangat dipengaruhi oleh persepsi interpersonal
terhadap keyakinan sehat dan pandangan dunia, pengaruh budaya sosial, sistem
pendukung, dan proses penyakit. Tujuan dari dynamic Self Determination adalah
agar klien berhasil mengelola kebutuhan perawatan kesehatan di rumah sehingga dapat
mencapai keadaan harmoni intrapersonal dan kesehatan yang optimal. Peran perawat
kesehatan rumah adalah sebagai fasilitator untuk memandirikan klien di rumah melalui
pendidikan, advokasi klien, dan manajer kasus. The Rice Model of Dynamic Self
Determination akan ditampilkan dalam gambar berikut ini:1
Dynamic Self Determination Home health nurse sebagai fasilitator Keberhasilan manajemen kebutuhan asuhan
kesehatan di rumah

Faktor motivasi: Pendidikan kepada Perlindungan terhadap Menajer kasus Faktor penentu
1. Proses penyakit klien klien 1. Pengkajian, 1. Kepatuhan terhadap
2. Perawatan kesehatan 1. Rehabilitasi, 1. Caring (praktik implementasi, rencana perawatan
yang diperlukan mengadapatasikan keperawatan secara koordinasi, dan 2. Manajemen
3. Informasi dan aktif klien dan tindakan holistik) evaluasi asuhan perawatan diri yang
dalam membuat paliatif, promosi 2. Mengakui, dengan kompeten dan
keputusan sebagai hak kesehatan mengenal, dan multidisiplin tim mandiri di rumah
klien dipandang sebagai menghargai nilai dan klien atau 3. Status kesehatan
4. Sumber lingkungan konsekuensi penting sosial budaya pemberi asuhan yang stabil
sosial vs stresor dari tindakan ini 3. Mendukung 2. Aktif menyediakan 4. Hasil perawatan
5. Tingkat kemandirian 2. Kognitif, afektif, pemberi asuhan dan peralatan medis dan yang dicapai;
individu dalam praktik dan psikomotor keluarga layanan kesehatan tujuan akhir
kesehatan: locus of sebagai pembelaran 4. Pertimbangan legal masyarakat yang perawatan
control sepanjang hidup etik terjangkau terpenuhi
6. Persepsi interpersonal 3. Penghubung 5. Perubahan perilaku
terhadap nilai kesehatan, terhadap kebutuhan yang berkelanjutan
penyembuhan, dan asuhan kesehatan dan
pandangan dunia multi layanan berkesinambungan
7. Pengaruh budaya 4. Kepemimpinan; menuju tindakan
komite kerja kesehatan yang
positif
6. Kepuasan klien
terhadap asuhan
kesehatan dan
kualitas hidup
7. Keharmonisan
intrapersonal dan
kesehatan optimal

The Rice Model of Dynamic Self Determination


Tiga fase hubungan perawat- klien-pengasuh adalah sebagai berikut:1
1. Ketergantungan. Perawat kesehatan rumah awalnya melakukan sebagian besar
perawatan dan menginisiasi instruksi klien/pengasuh untuk perawatan diri.
2. Saling ketergantungan. Keterampilan, pengetahuan, dan kepercayaan diri diperoleh,
klien/pengasuh melakukan sebagian besar perawatan, diperkuat dan dibimbing oleh
perawat kesehatan di rumah.
3. Kemandirian. Klien/pengasuh dapat melakukan dan mempertahankan perawatan diri,
keberhasilan mengelola kebutuhan perawatan kesehatan di rumah tanpa sedikit
intervensi oleh perawat kesehatan di rumah.
The Rice Model of Dynamic Self Determination dijelaskan sebagai berikut:1
1. Proses perawatan medis dan pendidikan kesehatan tidak menjamin kesehatan klien/
pengasuh optimal karena perawatan di rumah dikelola oleh perawat perawatan
kesehatan di rumah secara intermitten
2. Klien/ pengasuh berbagi tanggung jawab untuk mengelola kebutuhan perawatan
kesehatan di rumah, didukung, dan difasilitasi oleh perawat kesehatan di rumah
3. Peran perawat kesehatan di rumah sebagai fasilitator, penentuan nasib sendiri adalah
multidimensional dan berfokus pada kebutuhan budaya, intrapersonal, spritual,
teknologi, lingkungan, dan pendidikan klien untuk pencapaian tujuan.
4. Keberhasilan pengelolaan kebutuhan perawatan kesehatan di rumah tergantung pada
partisipasi klien / pengasuh dalam rencana perawatan
5. Partisipasi terjadi melalui kolaborasi antara klien/ pengasuh, perawat, dan tim
multidisiplin dalam penetapan tujuan bersama dan pengambilan keputusan. Peran
klien/ pengasuh adalah aktif
6. Partisipasi dalam hasil rencana perawatan dari penentuan nasib sendiri yang dinamis
untuk mengelola kebutuhan perawatan kesehatan di rumah. Pemenuhan kebutuhan
terutama dicapai dengan tindakan rehabilitatif, restoratif, dan/ atau paliatif yang
dipengaruhi oleh peraturan pemerintah untuk penggantian layanan kesehatan rumah.
Perilaku promosi kesehatan dipandang sebagai konsekuensi penting dari tindakan ini.
7. Pengasuh dipandang sebagai perpanjangan dari klien dan kebutuhan klien. Peran
pengasuh adalah memberikan dukungan sosial dan fisiologis kepada klien dan
menjadi bagian yang terintegral dari rencana perawatan. Oleh karena itu, pengasuh
harus didukung dan dirawat. Contohnya mempertimbangkan layanan yang diberikan
ketika dihadapkan dengan kelelahan pengasuh
8. Penentuan nasib sendiri yang berlangsung secara dinamis dan proses reflektif
diperlukan untuk mencapai harmoni intrapersonal dan kesehatan yang optimal.
Harmoni intrapersonal dan kesehatan yang optimal muncul dari motivasi untuk
mencapai tujuan dan melibatkan proses, kepercayaan kesehatan, dan pertimbangan
budaya, serta sumber daya sosial dan lingkungan yang diperlukan untuk manajemen
perawatan diri.
9. Beberapa klien bukanlah kandidat yang ideal didalam penerapan perawatan kesehatan
di rumah

D. Trend dan Issue Home care di Indonesia


Perubahan paradigma kesehatan dari paradigma sakit menuju sehat mendukung
pelayanan kesehatan lebih berfokus pada perawatan rumah atau home care. Pelayanan
kesehatan di rumah merupakan penyediaan pelayanan bagi klien dan keluarganya di
rumah untuk memberikan pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit, diagnosis dan
penanganan penyakit, terapi paliatif dan rehabilitatif.7 Tujuan primer dari pelayanan
home care adalah promosi kesehatan dan edukasi, tetapi saat ini sebagian klien juga
melakukan pelayanan kesehatan di rumah karena adanya kebutuhan perawatan dan atau
pelayanan medis.
Fokus pelayanan ini adalah kemandirian klien dan keluarganya. Usia harapan hidup
di Indonesia semakin meningkat dan banyak usia lanjut, angka penyakit degeneratif yang
semakin meningkat sehingga konsep home care sangat cocok digunakan.8 Konsep home
care ini merupakan solusi paling tepat untuk mengantisipasi jumlah klien yang tidak
tertampung di rumah sakit. Konsep home care sudah seharusnya menjadi first option
dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Dengan konsep ini, maka klien yang sakit
dengan kriteria tertentu, tidak harus ke rumah sakit.9,10

E. Perkembangan Home care di Indonesia


Perkembangan home care di Indonesia sudah semakin maju sehingga banyak
masyarakat yang mengetahui home care dan mencoba menggunakan jasa pelayanan
home care yang disediakan oleh rumah sakit baik pemerintah maupun swasta. Saat ini
banyak kasus-kasus penyakit degeneratif memerlukan perawatan yang relatif lama seperti
kasus klien pasca stroke yang mengalami komplikasi kelumpuhan dan memerlukan
pelayanan rehabilitasi yang membutuhkan waktu relatif lama. Selain itu, terjadinya
transisi epidemiologis yang mengakibatkan semakin meningkatnya kasus penyakit
kronis dibandingkan penyakit akut, sehingga terjadi peningkatan jumlah kasus penyakit
terminal yang tidak efektif dan efisien dirawat di rumah.11
Berkembangnya home care menjadi lebih baik jika diimbangi dengan kualitas
pelayanan. Pelayanan asuhan keperawatan salah satunya adalah pemberian pendidikan
pada klien dan keluarga. Hasil penelitian sebelumnya didapatkan data bahwa klien yang
sembuh dari kanker payudara merasa puas dengan informasi yang diberikan petugas
kesehatan mengenai penyakit dan pengobatan penyakitnya tersebut tetapi kurang puas
dengan minimnya informasi mengenai pemeriksaan jangka panjang, pengaruh penyakit
terhadap psikososial klien dan kehidupan sosial klien.12 Hal ini menjelaskan bahwa klien
dan keluarga membutuhkan pendidikan mengenai pemilihan obat dan pengetahuan
mengenai terapi obat tersebut. Ini merupakan salah satu contoh kasus bahwa perawat dan
tenaga kesehatan lainnya bertanggung jawab memberikan pendidikan terhadap klien dan
keluarga agar mampu mengambil keputusan yang tepat untuk meningkatkan derajat
kesehatan yang optimal. Pendidikan terjadi ketika klien berinteraksi dengan dokter dan
atau perawatnya. Banyak staf kesehatan yang berbeda dalam mendidik klien dan atau
keluarga maka penting bagi staf kesehatan untuk mengkoordinasikan kegiatan tersebut
sehingga pendidikan yang diberikan fokus terhadap kebutuhan klien.
Pro dan Kontra Home care di Indonesia
Di awal perjalanannya home care nursing sesungguhnya merupakan bentuk
pelayanan yang sangat sederhana, yaitu kunjungan perawat kepada klien yang tidak
mampu ke rumah sakit atau yang tidak memiliki biaya untuk membayar atau yang tidak
memiliki akses kepada pelayanan kesehatan karena strata sosial yang dimilikinya.
Perawat yang melakukannya dikenal dengan istilah perawat kunjung (visiting nurse).
Bentuk intervensi yang diberikan berupa kuratif dan rehabilitatif. Pada saat klien dan
keluarga memutuskan untuk menggunakan sistem pelayanan keperawatan di rumah
(home care nursing), maka klien dan keluarga berharap mendapatkan sesuatu yang tidak
didapatkannya dari pelayanan keperawatan di rumah sakit. Beberapa pro dan kontra
terkait pelaksanaan home care di Indonesia, antara lain:13
1. Pro home care berpendapat :
1) Home care memberikan perasaan aman dibanding bila di rumah sakit klien akan
merasa asing dan perlu adaptasi.
2) Home care merupakan perawatan 24 jam dan fokus pada satu klien dibanding bila
di rumah sakit perhatian terbagi pada beberapa klien.
3) Home care memberikan pelayanan keperawatan secara komprehensif (bio-psiko-
sosio-spiritual).
4) Home care menjaga privacy klien dan keluarga.
5) Home care memberikan pelayanan keperawatan dengan biaya relatif lebih rendah
dibanding di rumah sakit.
6) Home care memberikan pelayanan yang lebih efisien dibandingkan dengan
pelayanan dirumah sakit.
7) Pelayanan home care lebih memastikan keberhasilan pendidikan kesehatan yang
diberikan, perawat dapat memberi penguatan atau perbaikan dalam pelaksanaan
perawatan yang dilakukan keluarga.
2. Kontra home care berpendapat :
1) Home care tidak termanaged dengan baik terutama jika menggunakan agency
yang belum ada hubungannya dengan tim kesehatan lain seperti dokter spesialis,
petugas laboratorium, ahli gizi, fisioterapi, psikolog.
2) Home care membutuhkan dana yang lebih besar.
3) Klien home care membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk mencapai
unit-unit yang terdapat di rumah sakit, misalnya unit diagnostik rontgen, CT scan,
MRI, laboratorium.
4) Pelayanan home care tidak dapat diberikan pada klien dengan tingkat
ketergantungan total, misalnya klien dengan koma.
5) Tingkat keterlibatan anggota keluarga rendah dalam kegiatan perawatan.
6) Pelayanan home care memiliki keterbatasan fasilitas emergency, misalnya fasilitas
resusitasi dan defibrilator.
7) Jika tidak berhasil, pelayanan home care berdampak tingginya tingkat
ketergantungan klien dan keluarga pada perawat.

F. Pengorganisasian Home care


Penyelenggaraan praktik mandiri perawat terdiri dari tiga unsur yaitu pengelola
pelayanan, pelaksana pelayanan, dan klien.13
1. Pengelola Pelayanan Praktik Mandiri Perawat
Pengelola pelayanan paraktik mandiri perawat adalah agensi atau unit yang
bertanggung jawab terhadap seluruh pengelolaan praktik mandiri perawat baik
penyediaan tenaga, sarana, dan peralatan serta mekanisme pelayanan sesuai standar
yang ditetapkan. Pengelola dapat berkedudukan sebagai salah satu bagian dari
pelayanan kesehatan di rumah sakit/ klinik/ puskesmas, atau dapat pula berkedudukan
terpisah secara mandiri dalam bentuk balai atau pusat pelayanan keperawatan.
2. Pelaksana Praktik Mandiri Perawat
Pelaksana praktik mandiri perawat adalah tenaga yang bertugas menyediakan
pelaksana pelayanan keperawatan terdiri dari tenaga keperawatan professional dengan
melibatkan tenaga-tenaga profesional lain dan tenaga non-profesional sesuai
kebutuhan klien. Pelaksana praktik mandiri perawat tersebut terdiri dari manajer
kasus dan pelaksana pelayanan.
Praktik mandiri perawat home care dilakukan berdasarkan kesepakatan antara
perawat dengan klien dan atau klien dalam upaya untuk peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan, kuratif, dan pemulihan kesehatan.
Dalam melaksanakan praktik mandiri perawat, perawat yang telah memililki SIPP
berwewenang untuk :
a. Melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan
diagnosis keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan keperawatan dan
evaluasi keperawatan
b. Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada huruf a meliputi:
intervensi/tritmen keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling
kesehatan
c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud huruf a dan
huruf b harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh
organisasi profesi
d. Melaksanakan intervensi keperawatan seperti yang tercantum dalam lingkup
praktik keperawatan
e. Dalam keadaan darurat yang mengancam kehidupan atau nyawa klien dan
atau klien, perawat dapat melakukan tindakan diluar kewenangan.
f. Dalam keadaan luar biasa/bencana, perawat dapat melakukan tindakan diluar
kewenangan untuk membantu mengatasi keadaan luar biasa atau bencana tersebut.
g. Perawat yang bertugas di daerah yang sulit terjangkau dapat melakukan
tindakan di luar kewenangannya sebagai perawat.
h. Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat profesional dan perawat
vokasional.
i. Perawat vokasional melaksanakan tindakan keperawatan di bawah pengawasan
perawat profesional.
j. Perawat dapat mendelegasikan dan atau menyerahkan tugas kepada perawat lain
yang setara kompetensi dan pengalamannya.
k. Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mempekerjakan perawat yang tidak
memiliki SIPP untuk melakukan praktik keperawatan di sarana pelayanan
kesehatan tersebut.
Berdasarkan SK Dirjen YAN MED Nomor : HK. 00.06.5.1.311 menyebutkan
ada 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care
antara lain vital sign, memasang NGT, memasang selang susu besar, memasang
kateter, mengganti tube pernafasan, merawat luka dekubitus, suction, memasang
peralatan O2, menyuntik (IV,IM, IC,SC), memasang infus maupun obat, pengambilan
preparat, pemberian huknah, kebersihan diri, latihan rehabilitasi medis, tranportasi
klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik, pendidikan kesehatan, konseling
kasus terminal, konsultasi, memfasilitasi ke dokter rujukan, menyiapkan menu
makanan, membersihkan tempat tidur klien, memfasilitasi kegiatan sosial klien,
memfasilitasi perbaikan sarana klien.

3. Klien
Adalah penerima pelayanan keperawatan dengan melibatkan salah satu anggota
keluarga sebagai penanggung jawab yang mewakili klien. Apabila diperlukan
keluarga dapat juga menunjuk seseorang yang akan membantu aktifitas penyediaan
pelayanan keperawatan sesuai menjadi pengasuh (care-giver) yang melayani
kebutuhan sehari-hari dari klien.

Tata Hubungan antar Unsur

Pengelola pelayanan praktik


mandiri perawat
Klien Pelaksana Praktik mandiri
perawat

Ketiga unsur seperti tersebut di atas, merupakan syarat minimal yang harus ada
dalam sistem praktik mandiri perawat. Ketiga unsur tersebut berinteraksi secara
proporsional dan saling mempengaruhi dalam proses praktik keperawatan. Apabila
salah satu dari komponen tersebut tidak berfungsi secara baik maka pelayanan yang
diberikan sulit untuk memberikan hasil yang optimal. Dalam sistem ini setiap
komponen mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang dapat diukur
sehingga diharapkan tidak akan merugikan salah satu pihak pun karena pelayanan
yang diberikan dapat dikendalikan oleh masing-masing pihak.

G. Mekanisme Perijinan Pendirian Home care


Pendirian home care harus memenuhi perijinan sebagai berikut:13
1. Fase Persiapan
Melakukan pembentukan Struktur organisasi home care, yang didalamnya ada
pimpinan home care, manager administrasi, manager pelayanan, koordinator kasus
dan pelaksana pelayanan.

2. Fase Perijinan
Mekanisme perizinan pendirian home care adalah berbadan hukum yg ditetapkan
dalam akte notaries, mengajukan ijin usaha home care kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat dengan melampirkan :
a. Rekomendasi dari PPNI
b. Ijin lokasi bangunan
c. Ijin lingkungan
d. Ijin usaha
e. Persyaratan tata ruang bangunan meliputi :
1) Ruang Direktur
2) Ruang Menajemen Pelayanan
3) Gudang Sarana Dan Peralatan
4) Sarana Komunikasi
5) Sarana Transportasi
e. Ijin persyaratan tenaga meliputi ijin praktek profesi dan sertifikasi home care
Daftar tarif dibuat dengan memperhatikan standar harga di wilayah tempat
berdirinya home care dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah, sarana dan
prasarana, meliputi set alat yang sering dipakai seperti perawatan luka, perawatan
bayi, nebulizer, oksigen, suction dan juga peralatan komputer dan perlengkapan
kantor. Format askep, meliputi format register, pengkajian, tindakan, rekap alat/bahan
yang terpakai, evaluasi dari perawat ataupun dari klien/keluarga. Format informed
consent, meliputi persetujuan tindakan dari klien dan keluarga, persetujuan
pembiayaan dan keikutsertaaan dalam perawatan.
Surat Perjanjian kerjasama antara profesi lain seperti misalnya fisioterapi, dokter,
laboratorium, radiologi dan juga dinas sosial.Transportasi terutama untuk perawat
home care dan juga transportasi klien bila sewaktu-waktu perlu rujukan ke rumah
sakit atau tempat pelayanan lainnya. Sistem gaji/upah personil home care harus lebih
berorientasi pada kepentingan perawat pelaksana bukan keuntungan manajemen, bisa
dalam bentuk bulanan atau dibuat dalam setiap kali selesai merawat klien. Klien yang
memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik
rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, klien dapat langsung
menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktik keperawatan
perorangan untuk memperoleh pelayanan.

H. Tipe Home care


Perawatan kesehatan di rumah dibedakan menjadi tiga tipe, sebagai berikut:14
1. Perawatan berdasarkan penyakit
Perawatan ini dilakukan dengan koordinasi tim kesehatan dari beberapa tenaga
kesehatan lainya seperti dokterm fisioterapi, ahli gizi untuk memebrikan perawatan
kesehatan kepada klien dan keluarga, memantau proses penyembuhan dna
menguapayakan agar tidak terjadi kekambuhan dan menghindari perawatan ulang ke
rumah sakit.
2. Perawatan kesehatan umum
Perawatan kesehatan yang berfokus pada pemelihaaran kesehatan dan pencegahan
penyakit seperti memberikan pendidikan kesehatan , perawatan luka, konsultasi gizi
terkait masalah kesehatan lansia.
3. Perawatan kesehatan khusus
Perawatan kesehatan pada klien maupun keluarga yang memerlukan teknologi seperti
perawatan pediatrik, kemoterapi, perawatan hospice, perawatan kesehatan mental
sehingga memungkinkan untuk dilakukan di rumah untuk memberikan efisiensi biaya
pengobatan dan perawatan

I. Personil Perawatan Kesehatan Rumah


Jumlah terbesar personil perawatan kesehatan rumah adalah perawat (perawat
terdaftar/registered nurse dan perawat praktik berlisensi), bertugas menyediakan
perawatan medis termasuk memberikan obat-obatan, memantau tanda-tanda vital,
perawatan luka, dan memberikan pendidikan kesehatan. Selain itu perawat dibantu oleh
beberapa personil, yaitu: 5,6
a. Asisten (home care aides), bertugas menyediakan layanan pribadi seperti mandi,
berpakaian, membuat makanan, dan memfasilitasi klien ke pelayanan kesehatan.
b. Staf terapi fisik (physical therapy staff), bertugas memulihkan atau mempertahankan
kemampuan motorik, berbicara dan kognitif.
c. Terapis okupasional (occupational therapists)
d. Pekerja sosial (social workers)
e. Personil administrasi (administrative personnel) yang terdiri dari tim
f. Personil bisnis dan pegawai kantor dari lembaga perawatan kesehatan rumah sangat
penting untuk kemampuan agensi memberikan layanan kepada klien.
Perawat harus mendapatkan pemahaman tentang aspek-aspek keuangan klien dan
berkordinasi memberikan informasi kepada staf lembaga, sehingga perhitungan tepat dan
penggantian penuh dapat diperoleh sesuai layanan yang disediakan.15

J. Tujuan Perawatan Kesehatan di Rumah


Tujuan perawatan kesehatan di rumah jangka pendek adalah memberikan perawatan
untuk penyakit atau cederaa dan meningkatkan kemandirian sedangkan tujuan jangka
panjang adalah untuk mempertahankan tingkat kemampuan atau kesehatan, dan
membantu klien dapat hidup dengan penyakit atau kecacatan.7 Pelayanan kesehatan
dilakukan di rumah dengan tujuan:16
1. Meningkatkan fungsi dan memenuhi kebutuhan dasar (bio-psiko-sosial-spiritual)
secara mandiri.
2. Meningkatkan kemandirian keluarga dalam pemeliharaan kesehatan dan
mengoptimalkan peran klien.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
4. Menghindari rumah sakit untuk perawatan jangka panjang dan mengurangi cost.
K. Peran Perawat
Peran perawat dalam home care adalah sebagai berikut:17
1. Pelaksana atau pemberi asuhan : memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi atau
melakukan supervisi pelayanan yang diberikan oleh anggota keluarga atau
pengasuh (care giver)
2. Manajer kasus: mengelola dan mengkolaborasikan klien/pengasuh dengan penyedia
layanan lesehatan atau layanan sosial lainnya untuk meningkatkan pencapaian
layanan
3. Pendidik: mengajarkan klien/pengasuh tentang sehat atau sakit dan bertindak sebagai
penyedia informasi kesehatan
4. Advokat: membela hak-hak klien didalam pemenuhan kebutuhan melalui layanan
kesehatan
5. Mentor: berpartisipasi dalam pendidikan berkelanjutan terhadap calon perawat, baik
secara formal memberikan layanan pendidikan, dan secara informal sebagai anggota
tim
6. Administrator: memahami tentang peraturan dan regulasi dari pemerintah
7. Konselor: membantu keluarga/pengasuh dan staf dalam menyelesaikan masalah
8. Peneliti: mengidentifikasi masalah praktik keperawatan di rumah dan mencari
jawaban melalui pendekatan ilmiah

L. Persiapan Peran dan Implementasi


Kualitas dan karakteristik yang memenuhi harapan peran ini termasuk keterampilan
pengkajian dan evaluasi lanjutan, keterampilan komunikasi yang efektif, penilaian yang
baik, keterampilan dokumentasi yang efektif, fleksibilitas dan pemecahan masalah yang
kreatif, dan pengarahan diri sendiri. Penjelasannya adalah sebagai berikut:1
1. Keterampilan pengkajian dan evaluasi lanjutan
Perawat kesehatan di rumah harus dapat melakukan pengkajian holistik mendalam
pada klien, keluarga, dan lingkungan rumah. Pengkajian layanan masyarakat yang
tersedia sebagai sumber rujukan untuk kebutuhan klien/ pengasuh juga penting.
pengkajian diikuti oleh evaluasi yang berkelanjutan menentukan kemajuan klien (atau
kurangnya kemajuan) dalam memenuhi hasil perawatan. Pengkajian dan evaluasi perawat
kesehatan di rumah adalah dasar untuk menawarkan pilihan alternatif kepada klien /
pengasuh dalam perawatan kesehatan klien/ pengasuh seperti perubahan dalam rencana
perawatan, merujuk pada layanan khusus, penempatan dalam fasilitas perawatan jangka
panjang atau rumah sakit, ibu rumah tangga atau layanan hidup bantuan , rawat inap, atau
keluar dari layanan kesehatan di rumah.
2. Keterampilan komunikasi yang aktif
Klien, dokter, dan lembaga kesehatan rumah dipisahkan oleh jarak, perawat
kesehatan rumah harus menjaga saluran komunikasi terbuka untuk mengimplementasikan
rencana perawatan dan mengoordinasikan layanan tim multidisiplin. Keterampilan
komunikasi yang efektif juga penting untuk konferensi kasus dengan tim multidisiplin.
Dalam lingkungan rumah, perawat akan mendapati diri mereka mengajar klien yang
memiliki cara unik dalam melakukan sesuatu dan keyakinan pribadi. Komunikasi yang
efektif menumbuhkan hubungan kerja yang baik dengan klien/ pengasuh terlepas dari
perbedaan tingkat pendidikan dan latar belakang agama dan / atau etnis.
3. Penilaian yang baik
Perawat ketika pindah dari pengaturan institusional dan bekerja di rumah klien
memberi kebebasan tertentu dalam praktik dan memikul tanggung jawab yang berbeda.
Meskipun dokter hanya memeriksa dengan panggilan melalui telpon. Perawat kesehatan
di rumah menentukan bahwa klien membutuhkan perhatian medis segera sehingga klien
ke ruang gawat darurat atau menemui dokter mungkin diperlukan. Perawatan kesehatan
di rumah harus menggunakan penilaian yang baik dan terampil dalam membuat
mengambil keputusan saat menentukan tindakan apa yang harus diambil. Penilaian yang
baik juga diperlukan ketika membedakan antara area/ situasi perumahan yang aman dan
yang tidak aman. Perawat kesehatan masyarakat harus tahu kapan harus melanjutkan dan
kapan harus berhenti dan berunding dengan manajer layanan, mengenai situasi klien yang
meragukan dan mungkin tidak aman.
4. Keterampilan dokumentasi yang efektif
Sebagian besar perawat kesehatan di rumah akan bekerja di lembaga kesehatan
rumah yang bersertifikat medis. Perawat kesehatan di rumah sebagai seorang manajer
kasus harus secara efektif mendokumentasikan kemajuan klien/ pengasuh dalam
memenuhi hasil dan tujuan perawatan sesuai dengan peningkatan kualitas lembaga.
5. Fleksibilitas dan pemecahan masalah yang kreatif
Beberapa perawat merasa nyaman melakukan praktik perawatan kesehatan di
rumah dan memandang mengunjungi berbagai lingkungan dan bekerja di rumah klien
sebagai tantangan dan penghargaan. Perawat lain mungkin mengalami kesulitan
menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah yang berbeda dari mereka sendiri.
Improvisasi persediaan, peralatan, atau terapi dalam pengaturan rumah diperlukan dan
membutuhkan fleksibilitas dan pemecahan masalah yang kreatif. Pemecahan masalah
yang kreatif juga diperlukan untuk pekerjaan komite penting yang secara langsung
mempengaruhi masalah praktik klinis.
6. Pengarahan diri sendiri
Perawat kesehatan masyarakat sebagian besar mengatur diri sendiri. Perawat
kesehatan masyarakat mengatur jadwal harian dan mingguan, menambah kasus klien ke
dalam jadwal seperti yang diminta dan menyesuaikan jadwal klien. Perawat harus
membiasakan diri dengan area layanan klien dan menyesuaikan diri dengan lokasi setiap
rumah klien.
Persiapan peran dan implementasi harus mempertimbangkan beberapa faktor yang
mempengaruhi manajemen perawatan diri di rumah harus dipertimbangkan. Faktor-faktor
tersebut antara lain:1
1) Faktor umur dan budaya. Kebutuhan spesifik dan pilihan pada usia dan budaya
tertentu yang dimiliki oleh klien.
2) Faktok psikososial seperti mental, emosional, spiritual, dan kebutuhan psikologi
3) Spesifik manifestasi penyakit seperti penyakit kronis, kongenital, jangka pendek, atau
terminal
4) Faktor sosial ekonomi dan lingkungan. Adanya sistem dukungan keluarga untuk
membantu rencana perawatan, ketersediaan perlengkapan medis, makanan dan rumah
yang adekuat, dan akses ke sistem layanan kesehatan.
Program orientasi harus kepada staf baru di lapangan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi manajemen perawatan diri di rumah dan memberikan pengetahuan yang
dibutuhkan serta praktik nyaman dan kompetensi dalam masyarakat. Beberapa orientasi
yang perlu dilakukan pada staf baru antara lain:1
1) Tinjauan dokumen yang menyatakan filosofi agensi perawatan, ruang lingkup
layanan, dan evaluasi program
2) Tinjauan terhadap kebijakan dan prosedur yang ditentukan agen
3) Tinjauan terhadap format dokumentasi dan prosedur
4) Prinsip manajemen kasus
5) Memperkenalkan multidisiplin tim dan layanan tambahan
6) Memperkenalkan instruksi tentang keamanan masyarakat dan membaca peta
7) Perkenalan terhadap lingkungan rumah
8) Instruksi tentang improvisasi di rumah
9) Pertimbangan etis
Peran perawat spesialis di dalam pelayanan home care antara lain:
1) Membagi informasi, penelitian, dan sumber daya yang berkaitan dengan perawatan
klien melalui sesi orientasi, layanan pelatihan, area layanan atau pertemuan, dan
penulisan untuk publikasi
2) Role model ditunjukan dengan performa langsung kepada klien pada saat melakukan
kunjungan dengan staf
3) Komite kerja
4) Berpartisipasi dalam konferensi multidisiplin untuk meningkatakan kemampuan staf
dalam menyelesaikan masalah dan keterampilan dalam berkomunikasi, frustrasi, dan
kebutuhan intervensi terkait manajemen kasus pada kondisi tertentu
5) Melayani sebagai konsultan dan sumber daya dengan membantu pengumpulan data
dan menawarkan solusi atau jawaban alternatif.

M. Menyusun Rencana Perawatan dan Dokumentasi


Penerimaan resmi klien oleh lembaga kesehatan rumah, rujukan dikirim ke manajer
layanan klien di area layanan yang sesuai dengan lembaga tersebut, penilaian klien
ditentukan oleh persyaratan klien untuk layanan khusus, manajer layanan klien meninjau
informasi rujukan dan menugaskan klien ke perawat kesehatan di rumah.1 Sebelum
kunjungan rumah awal, perawat kesehatan rumah harus memeriksa informasi tentang
rujukan untuk menentukan tujuan kunjungan, alamat klien dan nomor telepon rumah,
bersama dengan perintah khusus apa pun harus dicantumkan pada referensi. Disarankan
bagi perawat untuk meninjau rekam medis klien, jika tersedia, sebelum kunjungan awal.1
Persiapan awal untuk perawatan akan fokus pada diagnosis medis sebagaimana
diidentifikasi oleh rujukan. Setelah perawat mengkaji klien dan rumah, persiapan
selanjutnya akan diarahkan menuju diagnosis keperawatan dan medis. Perawat harus
menggunakan penelitian saat ini dan literatur profesional, manual kebijakan dan
prosedur, dan narasumber individu ketika mempersiapkan rencana perawatan.1 Klien
dalam perawatan di rumah dilihat dalam konteks rumah tangga dan komunitas klien.
Perawat kesehatan di rumah berfokus tidak hanya pada kebutuhan perawatan kesehatan
klien tetapi juga keluarga, sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan yang dapat
mempengaruhi perawatan. Berikut ini merupakan terdapat beberapa fase dalam
perawatan kesehatan di rumah antara lain:1
1. Fase pengkajian
Pengumpulan data selama fase pengkajian digunakan untuk memberikan dokter
pedoman lebih lanjut untuk rencana perawatan dan mengembangkan rencana asuhan
keperawatan. Pada titik ini, penting untuk membedakan antara rencana perawatan dan
rencana perawatan klien. Pendekatan holistik dalam pengembangan rencana
perawatan direkomendasikan. Komponen fase pengkajian meliputi panggilan telepon
awal, pengkajian melalui wawancara, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat perawatan
kesehatan, riwayat pengobatan, pengkajian fisik, dan pengkajian spiritual.
2. Fase diagnosa
Setelah pengkajian selesai, perawat menafsirkan data dan mengembangkan
diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan adalah pernyataan status kesehatan
klien yang jelas dan singkat. Diagnosa keperawatan mencerminkan respons sehat dan
tidak sehat klien serta faktor pendukung untuk setiap respons. Diagnosis keperawatan
yang biasa digunakan dalam perawatan di rumah adalah defisit pengetahuan,
intoleransi aktivitas, dan defisit perawatan diri.
3. Fase perencanaan
Tren dalam perawatan kesehatan, seperti rencana perawatan, menggabungkan
rencana asuhan keperawatan dengan kebutuhan multidisiplin. Selain itu, dengan
peningkatan penekanan pada partisipasi klien dalam rencana perawatan sehingga
lebih sering disebut sebagai rencana perawatan klien. Rencana perawatan klien
bertujuan untuk tentang perawatan klien. Direkam untuk memaksimalkan perawatan
klien yang berkualitas untuk memastikan pemanfaatan sumber daya yang tepat dan
mengevaluasi perkembangan layanan yang diberikan dan dapat memberikan
dokumentasi untuk memvalidasi penggantian biaya layanan medis.
Pada tahap perencanaan ditetapkan prioritas. Perawat, tim multidisiplin, dan
klien/ pengasuh harus bekerjasama untuk mengidentifikasi masalah yang mendesak
dan kebutuhan klien/ pengasuh. Diagnosis keperawatan kemudian diturunkan dan
hasil perawatan ditentukan bersama. Prioritas selalu berubah, peringkat diagnosis
keperawatan juga akan berubah.
Fase selanjutnya di dalam perencanaan keperawatan adalah mengidentifikasi
tujuan dan hasil perawatan. Tujuan dan hasil perawatan klien harus mencerminkan
diagnosa keperawatan dan gambaran seluruh rencana perawatan. Rencana perawatan
mengarahkan intervensi keperawatan dan langkah aktivitas dalam perencanaan
perawatan klien serta pelayanan berpusat pada klien. Tujuan adalah hasil perawatan
jangka panjang yang disamaratakan yang seharusnya mengatasi masalah. Pernyataan
tujuan jangka panjang tidak menggambarkan proses yang tepat yang diperlukan untuk
mencapai tujuan. Hasil perawatan yang tepat dan terukur mencerminkan langkah-
langkah yang mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang.
4. Fase implementasi
Setelah tujuan jangka panjang dan jangka pendek diidentifikasi, perawat
kesehatan di rumah, dalam kemitraan dengan klien/ pengasuh, dan tim multidisiplin,
dapat mengidentifikasi intervensi, tindakan, atau terapis spesifik yang akan membuat
klien mencapai hasil perawatan dan resolusi tujuan. Tahap implementasi harus
mengintegrasikan rencana perawatan dan rencana perawatan klien ke dalam
lingkungan klien. Klien/ pengasuh kemudian dapat mengambil tanggung jawab untuk
manajemen perawatan diri yang akan melibatkan pembelajaran, penilaian, pencapaian
tugas, evaluasi, dan pengambilan keputusan. Klien/ pengasuh memperoleh
pengetahuan, penilaian, dan kepercayaan serta perawat kesehatan rumah mendukung
dan mendorong proses ini. Prinsip-prinsip berikut ini mengatur implementasi rencana
perawatan klien:
1) Pedoman formal tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh perawat
ditentukan oleh cakupan layanan lembaga kesehatan di rumah, serta kebijakan
dan prosedurnya
2) Implementasi harus terintegrasi dengan tim multidisiplin dan klien/ pengasuh
karena semua akan berpartisipasi dalam mempengaruhi rencana perawatan
3) Perawat kesehatan di rumah, dokter, tim multidisiplin, dan klien/ pengasuh harus
memiliki hubungan kolaboratif dan kooperatif, berdasarkan pada rencana
perawatan yang diturunkan bersama
4) Improvisasi dan individualisasi intervensi dan hasil perawatan mungkin terjadi
dikehidupan ketika bekerja di lingkungan rumah
5) Peraturan medis sangat mempengaruhi dokumentasi dan layanan yang diberikan
dan merupakan dasar untuk pembayaran badan kesehatan rumah bersertifikat
5. Dokumentasi
Perhatian yang cermat harus diberikan pada dokumentasi, dokumentasi yang
akurat dan tepat mencerminkan kualitas perawatan klien, memvalidasi kebutuhan
akan layanan yang diberikan, dan berfungsi sebagai dasar untuk pembayaran oleh
asuransi kesehatan.

N. Pengontrolan Infeksi di Rumah


Memahami bagaimana penyakit menular ditularkan adalah langkah pertama dalam
implementasi dan manajemen pengendalian infeksi. Pertama, agen penular penyakit
infeksi harus ada. Infeksi bakteri dan virus, serta berbagai sumber mikobakteri, tanaman,
dan parasit memiliki potensi untuk menginfeksi. Kedua, agen infeksi harus memiliki
reservoir di mana agen infeksi dapat hidup dan berkembang biak sedemikian rupa
sehingga dapat ditransmisikan ke inang. Beberapa orang, hewan, tanaman, zat yang
mampu menopang kehidupan dapat berfungsi sebagai reservoir. Akhirnya, apa yang
diperlukan untuk infeksi terjadi dalam mode penularan dan host yang rentan.1
Mekanisme penularan bervariasi, jenis yang paling umum adalah kontak, tetesan,
udara, dan penularan melalui vektor. Trasmisi melalui kontak terdiri dari dua jenis yaitu
kontak langsung dan kontak tidak langsung. Kontak langsung dapat terjadi melalui
hubungan seksual, sentuhan, dan gigitan sedangkan kontak tidak langsung melalui
makanan, air, produk darah, peralatan medis, perban, atau apa pun yang berfungsi sebagai
sumber perantara. Transmisi melalui tetesan misalnya batuk. Trasmisi melalui udara
membutuhkan masuknya mikroba aerosol ke saluran pernapasan. Pada jenis penularan
ini, agen infeksi dapat disebarkan oleh pelembap atau kipas angin di sistem ventilasi
rumah. Penularan vektor melalui infeksi terjadi ketika agen infeksi ditularkan dari inang
bukan vertebrata seperti arthopoda misalnya nyamuk. Infeksi ditularkan ketika
arthropoda menggigit, memuntahkan, atau menyimpan kotoran atau bahan lain yang
mengandung bahan infeksius melalui luka gigitan atau luka terbuka pada kulit.1
Infeksi terjadi sebagai akibat dari penularan agen infeksi ke host yang rentan.
Perawat kesehatan di rumah harus ingat bahwa orang yang terinfeksi tidak perlu
menunjukkan tanda dan gejala infeksi tetapi tetap dapat menginfeksi orang lain.
Memahami proses perpindahan penyakit akan membantu perawat di dalam mencegah
proses penularan penyakit. Beberapa hal yang direkomendasikan untuk mencegah
penularan penyakit antara lain:1
1. Kebersihan dan sanitasi tempat tinggal akan menurunkan insiden infeksi dan penyakit
menular
2. Nutrisi yang baik, kebersihan diri, dan gaya hidup yang sehat akan menurunkan
kejadian infeksi dan penyakit menular
3. Penggunaan alat pelindung diri akan menurunkan kejadian infeksi dan penyakit
menular
4. Mengurangi prevalensi agen infeksi melalui imunisasi dan pemberian antibiotic
5. Menekankan konsistensi didalam mencuci tangan
Penyediaan perawatan untuk klien dengan penyakit menular antara lain:
1. Jelaskan semua prosedur dan alasannya kepada klien. menghormati hak klien untuk
privasi dan kerahasiaan
2. Jangan mengganti peralatan yang terkontaminasi di dalam tas perawatan sampai telah
didesinfeksi. Peralatan yang terkontaminasi yang tidak dapat dibersihkan di rumah
harus ditempatkan dalam kantong plastik dan diangkut ke agensi untuk desinfeksi
atau ditinggalkan di rumah klien untuk digunakan secara eksklusif dengan klien.
3. Tempatkan barang-barang yang terkontaminasi ke dalam kantong plastik, tutup
kantong, dan tempatkan di tempat sampah
4. Cairan yang terkontaminasi (urin, feses, muntah) dibuang ke dalam kloset, segera
diikuti dengan pemberian pemutih dan pembilasan dengan kekuatan penuh
5. Kunjungi klien dengan penyakit menular pada terakhir atau akhir hari kerja
6. Bawa satu peralatan / perlengkapan yang dibutuhkan ke rumah

O. Pendidikan Klien di Rumah


Pendidikan klien adalah komponen yang sangat penting dari praktik perawatan
kesehatan di rumah karena perawat kesehatan di rumah mengunjungi klien secara
intermiten, baik klien atau pengasuh harus mampu mengelola kebutuhan perawatan
kesehatan setelah perawat meninggalkan rumah. Oleh karena itu, fokus utama perawatan
klien di rumah adalah mengajar dan belajar. Mengajar adalah sebagai metode komunikasi
yang memfasilitasi pembelajaran sedangkan belajar adalah sebagai kegiatan yang
memiliki tujuan utama mengubah cara klien berpikir, perilaku, atau keduanya. Belajar
terjadi dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.1
Belajar kognitif mengacu pada kegiatan intelektual seperti berpikir, mengingat,
mengambil keputusan, menarik kesimpulan, dan sampai pada kesimpulan. Aplikasi
pembelajaran kognitif melibatkan pemberian informasi kepada klien/ pengasuh tentang
proses penyakit, pengobatan, dan perawatan. Aplikasi pembelajaran kognitif juga dapat
mencakup pemecahan masalah, memberdayakan klien/ pengasuh untuk terlibat dengan
sistem perawatan kesehatan, dan menyusun strategi perubahan gaya hidup untuk
mempertahankan fungsi rumah tangga.1
Pembelajaran afektif mempengaruhi dilakuka untuk mempengaruhi sikap, perasaan,
dan keyakinan klien/ pengasuh. Perasaan, sikap, dan kepercayaan sering diabaikan di
dalam aspek pendidikan klien. Perawat kesehatan di rumah mungkin kurang percaya diri
dalam menangani kebutuhan ini. Klien/ pengasuh mungkin enggan membagikan
informasi ini kecuali kepercayaan dan hubungan baik telah terjalin dengan baik.
Miskomunikasi, kesalahpahaman budaya, dan tujuan terapi yang berbeda antara perawat
dan klien/ pengasuh dapat terjadi ketika aspek kebutuhan pembelajaran ini tidak
sepenuhnya dieksplorasi dan ditangani. Membangun hubungan saling percaya dan peduli
dengan klien/ pengasuh adalah prasyarat penting untuk pembelajaran afektif. Mendorong
dan menerima ekspresi perasaan dan mengeksplorasi kepercayaan penyakit kesehatan
adalah aplikasi sederhana dari pembelajaran jenis ini.1 Pembelajaran psikomotor mengacu
pada belajar keterampilan fisik, tugas, atau prosedur seperti ganti pakaian.1

DAFTAR PUSTAKA
1. Rice R. Home Health Nursing Practice: Concepts & Application. 2th ed. St.Louis:
Mosby; 1996.
2. Tina M. M. Home health nursing practice. 1996;1(3):1-3.
3. Friedman Y. Mapping the literature of home health nursing. J Med Libr Assoc. 2006;94(2
Suppl):E49-55. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16710463.
4. CNA. Optimizing the Role of Nursing in Home Health.; 2013.
5. Anonim. A home healthcare primer. In: National Family Caregivers Association. ; :1-5.
6. Allender JA, Rector C, Warner KD. Community Health Nursing: Promoting & Protecting
the Public’s Health. 7th Ed. Wolter Kluwer Health
7. CMS. Medicare and home health care. In: Center for Medicare & Medicaid Services.
8. Kemenkes. Populasi Lansia Diperkirakan Terus Meningkat hingga Tahun 2020. In: ; 2013.
9. Cecep T. Home care : Konsep Kesehatan Masa Kini. Edisi 1. Yogyakarta: Nuha Medika;
2012.
10. Depkes. Pengembangan model praktik pelayanan mandiri keperawatan. In: Jakarta:
Pusgunakes; 2002.
11. Wulan SL. Gambaran pelaksanaan pelayanan klien home care di RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta.Tidak Dipublikasikan. 2006.
12. Mallinger JB, Griggs JJ, Shields CG. Patient-centered care and breast cancer survivors ’
satisfaction with information. Patient Educ Couns. 2005;57:342-349.
doi:10.1016/j.pec.2004.09.009
13. Sukmana. Panduan pelayanan home care. In: Serial Praktik Mandiri Keperawaatan Home
care.
14. Bukit EK. Perawatan Kesehatan Di Rumah (Home health care). Medan; 2008.
15. Allender JA, Rector C, Warner KD. Community & Public Health Nursimg: Promoting the
Public’s Health. 9th editio. (Rector C, ed.). philadelphia: Wolters Kluwer; 2016.
16. Ellenbecker CH, Samia L, Cushman MJ, Alster K. Patient safety and quality in home
health care. In: Patient Safety and Quality: An Evidence-Based Handbook for Nurses.
17. Stanhope M, Lancaster J. Foundations of Nursing in the Community, 4th Edition. 4rd ed.
Missouri: Mosby; 2014.