Anda di halaman 1dari 12

SAP 13

MANAJEMEN KOPERASI DAN UMKM


DAMPAK INTERNASIONALISASI DAN GLOBALISASI BAGI
KOPERASI DAN UMKM

Dosen Pengampu:
Drs. I Made Dana, M.M

Oleh:
KELOMPOK 7
NAMA: NIM:
1. Ni Putu Meydiani Chintia Dewi 1607532009
2. Nyoman Ratna Candradewi 1607532010
3. Ni Wayan Shintya Dharmayatri 1607532021

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI REGULER SORE
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
1. Pengertian Internasionalisasi dan Globalisasi Bisnis
1.1.Definisi Internasionalisasi Bisnis
Secara sederhana, internasionalisasi dapat didefinisikan sebagai proses di mana
perusahaan secara bertahap meningkatkan kesadaran (awareness) terhadap pasar
asing dan melibatkan diri didalam kegiatan bisnis dengan negara lain dengan
memperhitungkan strategi, struktur, dan sumberdaya perusahaan untuk mencapai
sasaran organisasi (Chandra, et al. 2004).
Proses internasionalisasi pada prinsipnya merupakan suatu proses yang sangat
wajar dilakukan oleh setiap perusahaan di dunia dengan melihat kenyataan bahwa
perekonomian global mengarah pada terbentuknya tatanan yang didasarkan pada
perdagangan bebas. Internasionalisasi dapat dimaknasi sebagai proses keterlibatan
suatu usaha dalam memasarkan produk barang atau jasa, baik langsung maupun
tidak langsung ke pasar luar negeri.
1.2.Pemasaran Internasional Vs Pemasaran Global
 Pemasaran internasional adalah kinerja kegiatan-kegiatan bisnis yang didesain
untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan mengarahkan arus
barang dan jasa sebuah perusahaan kepada para konsumen di lebih dari satu pasar
negara untuk mendapatkan keuntungan.
 Pemasaran global mengacu pada kegiatan-kegiatan oleh perusahaan-perusahaan
yang menekankan: (1) upaya-upaya standarisasi, (2) koordinasi lintas pasar, dan (3)
integrasi global.

1.3.Alasan Melakukan Bisnis Internasional

– Kejenuhan pasar domestik

– Persaingan

– Peluang-peluang pasar

– Kurva pengalaman yang tajam

– Posisi pasar ceruk


2. Jenis dan Tipologi Pemasaran Internasional
2.1.Jenis Pemasaran Internasional
Terdapat tiga jenis pemasaran internasional yaitu sebagai berikut:
a. Export Marketing, definisi sederhana dari export marketing ialah suatu
strategi export untuk dilakukannya pengiriman ataupun pemasaran produk
tersebut ke luar negeri dalam mencapai target cakupan yang sangat luas sekali.
Nah bagi anda yang ingin sekali memasarkan produk barang atau jasa lokal ke
luar negeri, maka silakan saja coba proses export seperti ini.
b. Multinational marketing, jenis kedua ini ternyata cukup sederhana dan mudah
sekali untuk dipahami, alur sederhana dari multional marketing adalah suatu
strategi yang ingin dicapai dalam pemasaran produknya kedua belah pihak
target sepertu lokal dan luar negeri sehingga bisa mendapatkan hasil penjualan
yang cukup maksimal. Upaya seperti ini sangat efektif untuk dicoba dalam
membuat efektivitas penjualan produk.
c. Global marketing, sudah kita kenali bersama dan sesuai dengan sebutannya
bahwa global artinya mempunyai arti marketing yang sangat luas sekali dan
mecakup berbagai kalangan dalam mencapai target yang sudah perusahaan
tersebut tentukan, teknik global marketing sebenarnya hampir sama dengan
multional pemasaran, akan tetapi yang memberikan perbedaan ialah pada
cakupannya yang sangat luas sekali ke seluruh negara.
2.2.Tipologi Pemasaran Internasional

Internasional Multinasional Global

Fokus Persamaan dalam Perbedaan di pasar- Kenyataan – per-


pasar-pasar luar ne- pasar luar negeri samaan-persamaan
geri / pengaruh-peng-
aruh yang menya-
tukan dan perbe-
daan-perbedaan di
dalam pasar-pasar
Dunia

Visi Self-reference Melihat setiap negara Melihat kerumitan


criterion (SRC) adalah unik Dunia

Orientasi Ethnocentric / home Polycentric Geocentric


country

Strategi Internasional Multi-domestik Global

Struktur Divisi internasional Area / divisi produk Campuran / struk-


Global tur matriks

Strategi Extension Adaptasi Extension,


Pemasaran adaptasi dan kreasi
Tipologi Perusahaan

Internasional Multinasional Global

Fokus Lokasi Home country Home & host country Terintegrasi

Litbang – tidak terintegrasi

Kebijakan Orang-orang Dari Warga negara Orang terbaik

Sumber Daya home country di- setempat dikembang- tanpa memandang

Manusia kembangkan Untuk kan untuk posisi- kebangsaan

posisi-posisi Kunci posisi kunci di negara dikembangkan

di manapun Di mereka sendiri untuk posisi-posisi

seluruh dunia kunci di manapun

didunia

Gaya Operasi Sentralisasi – Desentralisasi – Terintegrasi –

manajemen top- manajemen bottom- manajemen

down Up interaktif

Komunikasi Atas-bawah Terbatas – anak Intensif – arah

perusahaan diberikan pertukaran atas-

otonomi yang tinggi bawah, bawah-atas

Dan lateral;

informasi,

laporan-laporan

dan pengalaman

Perilaku Dapat diduga Dapat diduga Situasional –

didorong oleh

kenyataan
Tipologi Perusahaan

Internasional Multinasional Global

Kebijakan Dikembangkan Dikembangkan untuk Dikembangkan


Pengembangan untuk memuaskan Memuaskan untuk memuaskan
Produk Baru kebutuhan- kebutuhan-kebutuhan kebutuhan-
kebutuhan pasar di di setiap negara kebutuhan
home country nasional & global
berdasarkan
kepada persepsi
dan peluang relatif

Kebijakan Tergantung kepada Tergantung kepada Memperoleh


Keuangan pasar-pasar masing-masing anak sumber-sumber
keuangan di home perusahaan untuk keuangan dari
country untuk sumber-sumber sumber biaya
sumber-sumber keuangan untuk terendah di dunia
Pembiayaan pembiayaan negara untuk digunakan
Tersebut dimanapun
diperlukan

Sumber Tergantung terutama Tergantung kepada Sumber-sumber


Pasokan kepada home produksi di host produk dari
Produk country untuk country untuk sumber dengan
sumber pasokan memasok pasar-pasar biaya termurah di
negara tersebut dunia untuk
memasok pasar-
pasar dunia
3. Ciri-ciri Khas Tiap Dekade Perusahaan Internasional
 Dekade 60-an
Bergeraknya perusahaan-perusahaan Amerika Serikat ke luar negeri.
 Melambatnya laju pertumbuhan pasar-pasar domestik mereka lebih dari dua
kali;
 Investasi langsung di luar negeri oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat;
 Lisensi dan perjanjian-perjanjian kontrak serta sumber-sumber dari negara-
negara lain juga meningkat dengan cepat;
 Ekspor dari Amerika Serikat bertumbuh dari $80 milyar menjadi lebih dari
$140 milyar;
 Untuk perusahaan-perusahaan yang telah beroperasi di luar negeri, laju
pertumbuhan di pasar-pasar luar negeri sering kali jauh melampaui
pertumbuhan di pasar domestik mereka.

 Dekade 70-an
Meningkatnya tantangan bangsa Jepang.
 Menciptakan ancaman yang serius terhadap supremasi Amerika Serikat di
pasar-pasar mulai dari produk-produk elektronik sampai kepada peralatan
konstruksi berat (Komatsu Vs Caterpillar, Seiko, Casio, dan lain-lain);
 Pada tahun 1960, kontribusi Jepang terhadap ekspor produk-produk manufaktur
dunia hanya 6,5% menjadi 11,2% pada tahun 1970 dan 13% pada tahun 1973;
 Total investasi langsung (direct investment) Jepang di luar negeri pada sekitar
tahun 1978 adalah sebesar $26,8 milyar yaitu lebih dari tujuh kali dari tahun
1970;
 Perusahaan-perusahaan Eropa, a.l. Olivetti (sebuah produsen perlengkapan
kantor) memasuki pasar-pasar dunia.

 Tahun 80-an
Munculnya multi-multinasional dari dunia ke tiga.
 Munculnya empat macan Asia: Hong Kong, Singapura, Taiwan dan Korea
Selatan;
 Di Amerika Latin: Brasil dan Venezuela;
 Beberapa multinasional ini secara terutama fokus pada operasi-operasi yang
sudah ada di negara-negara yang berada pada tingkat perkembangan yang sama;
 Multinasional-multinasional lainnya, terutama dari ke empat macan Asia, mulai
dengan memasok komponen-komponen (parts and components) ke perusahaan-
perusahaan di negara-negara industri yang sudah sangat maju, dan kemudian
beralih ke sebuah serangan langsung (direct frontal attack) terhadap pasar-pasar
ini, seringkali menggunakan harga sebagai sebuah senjata bersaing yang utama.

 Tahun 90-an
Restrkturisasi Global
 Mencerminkan perubahan-perubahan yang berkesinambungan yang terjadi
pada tiga dekade sebelumnya;
 Sebagai sebuah hasil: perusahaan-perusahaan Amerika Serikat telah bergerak
ke arah perampingan operasi-operasi internasional dan memperbaiki efisiensi
global dalam rangka untuk tetap bertahan; perusahaan-perusahaan Jepang
merakan tekanan yang semakin meningkat dari sumber-sumber persaingan
global yang baru;
 Persaingan yang semakin intensif selanjutnya menjadi pergerakan ke arah
blok-blok perdagangan regional;
 Bertolak-belakang secara tajam terhadap integrasi pasar adalah ketidak-pastian
dan kekacauan dari perpecahan pasar (market fragmentation).

4. Integrasi Global

Integrasi ekonomi global merupakan keniscayaan sebagai policy-coordination untuk


menciptakan stabilitas ekonomi demi mendorong pertumbuhan global yang lebih berkualitas.

Ekonomi yang semakin terintegrasi membuat lalu lintas perdagangan dan investasi
lebih mudah dan lancar. Namun di sisi lain, risiko ketergantungan (interdependent risk) dan
risiko ketidakpastian (uncertainty risk) ekonomi domestik terhadap ekonomi kawasan dan
global semakin tinggi. Krisis di wilayah lain akan cepat tertransmisi ke negara lain baik melalui
perdagangan, kunjungan turis, investasi langsung maupun investasi pasar modal. Siapa pun
pemimpin dunia akan berhadapan dengan paradoks integrasi ekonomi.

Hal ini perlu menjadi perhatian khusus ketika menyusun roadmap rencana
pembangunan yang akan menjadi materi kampanye tahun depan. Kemajuan ekonomi Indonesia
pascareformasi membuat dunia melihat Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi global.
Tergabungnya Indonesia dalam G-20 dan saat ini akan menjadi ketua APEC, semakin
menegaskan arti penting Indonesia kepada dunia. Investasi baik fisik maupun di pasar modal
akan deras masuk ke Indonesia.

Ini membuat ekonomi Indonesia menjadi semakin terintegrasi dalam sistem


perekonomian dunia. Guncangan (shock) yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, China,
Jepang, Timur Tengah, dan kawasan lain akan langsung memengaruhi kinerja perdagangan,
investasi, nilai tukar, IHSG, serta target pencapaian pembangunan ekonomi dan kesejahteraan
lainnya. Integrasi ekonomi global berjalan dengan cepat dan sering kali menghasilkan hal-hal
di luar kendali pengambil kebijakan (policy maker).

Hal ini ditandai tiga hal. Pertama, laju dan skala integrasi ekonomi saat ini bergerak
begitu cepat dan unpredictable. Kedua, pergeseran kekuatan ekonomi dan geopolitik dari
negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan sebagian Eropa ke kawasan Asia, yang
ditandai dengan munculnya kekuatan ekonomi baru seperti China, India, Korea Selatan, dan
Indonesia. Kawasan Asia menjelma menjadi kawasan yang dinamis dan penting bagi pola
perdagangan, investasi, dan pengembangan teknologi dunia.

Lebih dari separuh pertumbuhan dunia saat ini dikontribusikan oleh Asia. Ketiga,
fenomena pasar modal (capital market). Mobilisasi modal saat ini semakin cepat dengan
kehadiran pasar modal sebagai media transaksi dan pertukaran informasi. Kompleksitas dalam
dunia pasar modal telah mengubah konfigurasi alur modal dan membedakannya dengan pola
investasi asing 100 tahun lalu.

Para pemilik modal global dapat melakukan investasi dan mengelola portofolio
investasinya di seluruh belahan dunia pada hitungan detik (real time) dengan
bantuan technology advancement. Yang tak kalah menarik, dinamika pasar modal telah
berubah menjadi indikator ekonomi global yang dijadikan salah satu rujukan utama dalam
memotret berbagai perubahan ekonomi dunia.
Kompleksitas dan dinamika pasar modal menjadikan integrasi ekonomi global,
khususnya di sektor keuangan menjadi highly sensitive. Efek transmisi yang terjadi pada satu
ekonomi negara akan berdampak langsung pada ekonomi negara lainnya melalui media pasar
modal, pasar uang, dan aktivitas perdagangan. Akibatnya sentimen perubahan di pasar modal
dan pasar uang juga semakin tinggi.

Vulnerabilitas ekonomi domestik melalui efek transmisi di pasar modal dan pasar uang
akan berdampak pada kebijakan fiskal dan moneter suatu negara. Hal ini juga terjadi akhirakhir
ini ketika Indonesia harus memitigasi dampak kebijakan yang ditempuh negara lain. Misalkan
saja, akibat pengumuman The Fed terkait percepatan tapering off (penghentian) quantitative
easing(QE) dari rencana awal mid 2015 menjadi awal 2014, IHSG di Bursa Efek Indonesia
(BEI), pada Kamis (20/6), anjlok 176,66 poin (3,68%) ke level 4.629,99.
Meskipun pada penutupan perdagangan Jumat (28/6), IHSG ditutup menguat 143,15 poin
menjadi 4.818, bayang-bayang ketidakpastian dan sentimen global akan berdampak langsung
terhadap kinerja ekonomi nasional. Tekanan terhadap IHSG dalam beberapa hari terakhir ini
juga telah mendorong rupiah terdepresiasi. Nilai mata uang rupiah menyentuh di atas Rp10.000
per dolar AS pada penutupan 10 Juni 2013.

Kendati demikian, kesehatan dan fundamental perekonomian domestik masih relatif


kuat. Ini berbeda dengan kondisi 2008 di mana harga minyak dan komoditas cenderung tinggi,
inflasi tinggi, likuiditas pasar modal kecil, capital inflow lebih rendah, serta cadangan devisa
relatif kecil, sehingga membatasi ruang gerak operasi moneter. Begitu juga arus masuk modal
asing (capital inflow) di pasar modal Indonesia masih cukup besar, sehingga mampu
meredam capital outflow.

Cadangan devisa Indonesia sangat memadai untuk pelaksanaan operasi moneter jika
diperlukan. Data per 31 Mei 2013, cadangan devisa Indonesia sebesar USD105 miliar
dibandingkan USD52 miliar di 2008. Upaya mitigasi tengah dilakukan dalam bentuk bauran
kebijakan (moneter dan fiskal) untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko dari tapering
off QE di Amerika Serikat.

suku bunga acuan BI dinaikkan menjadi 6%, memperkuat nilai tukar rupiah
dengan operasi moneter, dual intervention ke pasar valas dan pasar uang, pendalaman pasar
rupiah dan valas dengan instrumen-instrumen seperti lelang surat berharga negara melalui
pasar sekunder, meninjaukebijakan makro prudential termasuk pertumbuhan kredit sektor-
sektor tertentu dan memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas makro serta memitigasi
ekspektasi inflasi. Dapat dipastikan, ekonomi Indonesia ke depan, 2014– 2019, akan semakin
terintegrasi dengan sistem ekonomi global.

Pelaku pasar, perusahaan multinasional, dan pelaku ekonomi domestik tidak hanya
menjadikan indikator ekonomi nasional sebagai acuan dan dasar keputusan investasi. Indikator
dan sentimen regional serta global juga menjadi faktor pembentuk penting dalam pengambilan
keputusan strategis mereka. Kesigapan dalam ”policy-responses” untuk antisipasi dan mitigasi
menjadi faktor penting untuk membuat ekonomi Indonesia tetap resilient dan berdaya saing.

Konsekuensi dari terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan ekonomi dunia


adalah pengambil kebijakan tidak dapat mengesampingkan apa yang terjadi di negara dan
kawasan lain. Sering kali kebijakan yang akan ditempuh merupakan respons dari kebijakan
yang ditempuh negara lain. Misalnya ketika saat ini Jepang melakukan kebijakan depresiasi
yen, hal ini membuat banyak negara berkembang mencari cara untuk meningkatkan nilai
ekspor bagi produk yang memiliki ”kemiripan” dengan yang dihasilkan Jepang di pasar
internasional.

Pada masa-masa mendatang, koordinasi dan kecepatan untuk antisipasi-responsif


kebijakan pangan, energi, investasi, perdagangan, tenaga kerja, moneter, dan fiskal perlu terus
dilakukan dalam intensitas yang jauh lebih tinggi
DAFTAR PUSTAKA

Abdi, Pratama. 2016. Bisnis Internasional dan Global.


https://www.coursehero.com/file/p4qtqle/Internasionalisasi-adalah-proses-bisnis
melintasi-batas-batas-negara-dan-budaya/ (Diakses tanggal 22 April 2019).

Budisan. 2013. Integrasi Ekonomi Global

http://budisansblog.blogspot.com/2013/07/integrasi-ekonomi-global.html(Diakses
tanggal 25 April 2019)

Nadisha. 2019. Jenis Bisnis Internasional


http://glubisnis.blogspot.com/2019/01/pengertian-pemasaran-internasional.html
(Diakses tanggal 22 April 2019).

Sumantri, Bambang Agus dan Permana, Erwin Putra. 2017. Manajemen Koperasi dan Usaha
Mikro Kecil Menengah (Perkembangan, Teori dan Praktek). Kediri: Fakultas Ekonomi
Universitas Nusantara