Anda di halaman 1dari 3

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 3

Suara mesin mobil pun telah terdengar, kami semua mulai naik ke dalam mobil untuk siap-siap berangkat.
Para cewe kelihatannya masih kecapekan dan masih mengantuk. Sementara gue melihat ke belakang,
Danu dan Victor kelihatannya juga ngantuk, sementara Aldi sedikit terjaga. Gue yang duduk di depan
susah untuk tertidur karena harus menemami pak Supir bercerita agar beliau tidak ikut-ikutan ngantuk.

Wah memang benar kiri kanan rata-rata hutan dengan pohon yang menjulang tinggi yang rimbum, tebing-
tebing juga terlihat, terkadang kalau di lihat ke sisi kanan atau kiri, bisa terlihat seperti jurang ke
bawahnya. Sementara kalau gue lihat ke belakang, tampaklah Laras, Nadya dan Amelia yang sedang
sandaran sambil tidur-tiduran. Wihh cantik banget mereka pas lagi tidur, itu yang ada dipikiran gue (Coba
aja klo Victor duduk di sini, bisa nengokin si Amelia lagi tidur neh).

Biar ga bosan, gue pun bercerita2 dengan pak Supir.

Gue : “Pak, uda jam 4 subuh nih, berarti sebentar lagi sampai kan?”

Pak Supir : “Iya dik. Lebih kurang 1 jam-an lagi kita sampai. Oh iya, kalian kok bisa dapat kegiatan
seperti ini ya ?”

Gue : “Ho oh.. Kami dapat pengumuman dari kampus tentang kegiatan ini. Dananya juga diberikan dari
kampus, tugas kami di sini ya melakukan pembangunan terhadap desa yang katanya terpencil ini Pak,
terus dengan kata lain kuliah kami lgsg kelar Pak setelah kegiatan ini siap.”

Pak Supir : (Sambil mengangguk-ngangguk dan menatap ke saya) “Sudah pernah dengar cerita tentang
desa ini sebelumnya Dik?”

Gue : (Menggeleng-geleng kepala seperti kebingungan) “Emm, belum pernah Pak. Saya dapat informasi
dari kampus saya, katanya kegiatan ini juga perdana diadakan. Desanya aja kami belum tau sebenarnya,
kami disuruh meraba-raba sendiri dan bersosialisasi langsung ketika sampai di desanya. Memangnya
kenapa Pak”

Pak Supir : “Owh begitu.”

Gue : (Sedikit penasaran) “Memangnya kenapa Pak? Kok sepertinya Bapak mau mengatakan sesuatu tapi
tidak jadi ?”

Pak Supir : (Sedikit ragu-ragu) “Emm.. Selama kalian mengabdi di desa itu, Bapak sarankan kalian jangan
berbuat yang macam-macam yah. Desa itu masih terkenal kuat akan kekuatan mistisnya. Setahun yang
lalu, Bapak juga pernah mengantarkan rombongan mahasiswa seperti kalian yang jumlahnya juga 10
orang dari universitas lain, tetapi….”

Gue : (Semakin penasaran) “Tetapi kenapa, Pak ?”

Pak Supir : (Menghela nafas panjang) “Tetapi mereka semua tidak ada yang kembali dengan selamat….”

Gue : “HAHHH?!!! (Dengan nada agak teriak karena kaget) Yang benar Pak ?”

Pak Supir tersebut hanya mengangguk seolah-olah mengiyakan apa yang disampaikannya barusan, namun
beliau tidak mau cerita panjang lebar lagi meskipun gue terus bertanya. Sejenak gue terdiam kaget dan
melihat ke belakang, syukurlah semua teman-teman gue sepertinya tertidur dan tidak begitu mendengar
percakapan gue dengan pak Supir ini. Ahhh gila ini… Yang benar saja ada kejadian seperti itu di zaman
modern ini pikirku. Lupain aja deh, gue pun malas ceritain ke teman-teman lainnya. Eittss,, rasanya tadi
ada salah satu cewe yang juga sadar deh akan percakapan gue dengan pak Supir, tapi siapa ya ??? Ah
mudah-mudahan enggak ada yang denger deh.

Perjalanan pun terus dilanjutkan, sesaat aku melihat ke arah jam tanganku yang telah menunjukkan pukul
6 pagi, Pak Supir pun mengatakan bahwa kita sudah memasuki kawasan desa terpencil ini, kulihat teman-
temanku di belakang, mereka semua sudah terbangun dan menyaksikan pemandangan alam desa ini yang
memang benar-benar memukau hatiku dan mungkin hati teman-temanku.
Yapp. Begitu indahnya pemandangan desa ini. Hamparan sawah yang begitu hijau, tebing-tebing dan
bukit yang masih rimbun dan hijau, air sungai kecil yang begitu jernih dan tidak penuh akan limbah.
Butiran embun yang membasahi kaca mobil ini (Wah ini seperti nya di dataran tinggi desanya menurut
gue). Lika liku jalan dari tanah liat dan berpasir yang begitu sepi. Kupandangi setiap jalan yang dilewati
oleh mobil ini dan gue sedikit terkejut.
(GILE ! Ga ada lampu penerangan jalan sama sekali ! Kalo malam hari macam mana ini ! Bakal gelap
gulita semacam kota mati)

Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Pak Kades (Kepala Desa). Pak Supir ini memperkenalkan
kami kepada Pak Kades dan menjelaskan tentang kegiatan yang akan kami lakukan di sini. Sosok pak
Kades ini berbody tinggi tegap, warna kulit lumayan hitam dan memiliki janggut yang lumayan lebat dan
cukup membuat kami sedikit ketakutan, jangan-jangan orangnya serem, tetapi ternyata Pak Kades
memberikan respon yang baik, ramah dan bersahabat, kami pun diajak masuk ke rumah pak Kades, ahhh
lega hatiku ~. Rumah Pak Kades ini tergolong cukup besar, hanya saja terletak di tempat terpencil begini,
klo di kota, uda termasuk orang kaya banget nih menurut gue.

Kami pun memperkenalkan diri kami masing-masing. Bercerita-cerita tentang kegiatan yang akan kami
lakukan. Pak Kades pun mengatakan akan menghubungi pihak kampus bahwa kami telah tiba dengan
selamat di desa ini.

Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 Siang. Kami pun di ajak makan siang bersama di rumah Pak
Kades yang kebetulannya istrinya sudah mempersiapkan makanan lebih karena kami akan datang hari ini.
Selesai makan, Pak Supir mohon izin untuk pulang meninggalkan kami, Beliau mengatakan nanti jika
ingin pulang setelah 3 bulan, hubungi saja Pak Kades, Beliau akan menelepon saya untuk mengantar
kalian pulang.

Setelah pak Supir pulang, Pak Kades pun mengantar kami dengan mobil pickup menuju tempat hunian
kami (karena kami cukup ramai, sehingga sebagian harus duduk di bak mobil blakang yang terbuka).
Victor dan Danu dipersilahkan duduk di depan untuk menemani pak Kades.

Oh iya, kelompok kami ini tidak ada memakai sistem siapa ketua dan wakil ketua grup. Kami sepakat
untuk mempersilahkan setiap anggota menyampaikan pendapat mereka dan memimpin setiap program
jika yang bersangkutan mampu, namun sepertinya Victor dan Danu memang terlihat lebih cocok untuk
memimpin dalam kondisi begini. (Hehehe, gue dan teman-teman lainnya kurang suka ngurus ini itu
soalnya).

Beberapa menit perjalanan, tibalah kami di tempat hunian kami yang ternyata WOW, rumahnya cukup
gede, sayangnya terbuat dari papan saja. Di belakang rumah kami kira-kira berjarak beberapa ratus meter,
terdapat sumur, kemudian pekarangan rumah kami cukup luas dan hanya dipenuhi oleh rumput-rumput
hijau biasa dan juga beberapa pohon yang lumayan tinggi dan berdaun lebat sehingga terasa begitu sejuk.
Memang benar, pemukiman warga sangat sedikit. Jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh, dari
beberapa puluh meter hingga ratusan meter, jalannya pun hanya jalan setapak tanah liat yang bercampur
pasir, selebihnya hanya rumput-rumputan hijau yang tumbuh dan pohon-pohon hijau yang menghiasi
pemandangan rumah kami ini.

Pak Kades : “Nah, selama 3 bulan kalian akan menempati rumah ini, rumah ini tergolong cukup luas kok,
ada beberapa kamar kosong yang bisa kalian gunakan, beberapa ruangan kosong yang bisa kalian pakai
untuk meletakkan peralatan kalian. Oh ia, untuk kamar mandi ada di dalam rumah ini, hanya saja buat
yang ingin BAB, tempat nya terpisah.”

Amelia : “Eh ? Maksudnya pak?”

Pak Kades : “Iya, untuk tempat BAB, tempatnya ada di luar rumah ini, sekitaran beberapa puluh meter
dari rumah, sebelum sumur belakang.”

Laras : “Wah, berarti kami harus keluar rumah donk Pak ? Kalo malam kebelet gimana yah ?”

Pak Kades : (Sambil senyum) “Ya begitulah, harus keluar. Hahaha” (Sambil tertawa)

Danu : (Bisik ke Victor dan Gue) “Nah kita bisa jadi pahlawan nih, temenin cewe tiap x mau boker?!”
Wkakakaka
Victor : (Balas bisik ke Danu) “Setuju banget gue. Kesempatan neh ! hahahaha. Ya gak Don?”

Gue : (Sedikit kurang merespon karena masih teringat cerita pak Supir tadi) “Eh, iya iya.”

Victor : “Ah elu kok malah nda semangat gini sih? Jangan-jangan takut pula lu ya?

Gue : “….” (Ga bisa ngomong apa-apa)

Pak Kades : (Tersenyum melihat kami semua sedikit cemas) “Udah udah tenang aja, ga perlu ada yang
dicemaskan dan ditakutin kok. Desa ini aman-aman saja dan tak pernah ada masalah. Nih ambil koper-
koper kalian dan bawa masuk ke dalam rumah. Minggu awal ini kalian istirahat saja dulu, lakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan dan sosialisasi dengan warga dulu ya. Sambilan melihat potensi-
potensi apa yang bisa kalian jadikan program kegiatan kalian. Nanti kalau uda ada, baru hubungi saya ya.”
Kami Semua : (Mengangguk-ngangguk) “Baik Pak. Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.”

Pak Kades pun meninggalkan kami, kami semua mulai memasukkan koper-koper kami ke dalam rumah,
mulai beres-beres rumah, nentuin kamar, nentuin kegiatan, saling pengenalan diri sesama anggota,
bercerita-cerita, bagi tugas dan lain-lain layaknya anak KKN deh ~

Nah terhitung dari episode ini, mulailah kejadian-kejadian seru dan menegangkan serta menyeramkan
menghantui hari-hari kami.
Silahkan nantikan episode selanjutnya, akan ada pengenalan diri untuk setiap tokoh dalam cerita ini.