Anda di halaman 1dari 7

ADAPTASI BAYI BARU LAHIR

by dr.Jhoni Iswanto,MKM on 06.26.00 in KEBIDANAN

Add caption

Pendahuluan
Pada saat lahir, bayi baru lahir akan mengalami masa yang paling dinamis dari
seluruh siklus kehidupan. Bayi mengalami suatu proses perubahan dikenal sebagai periode
transisi yaitu periode yang dimulai ketika bayi keluar dari tubuh ibu harus beradaptasi dari
keadaan yang sangat bergantung menjadi mandiri secara fisiologis, selama beberapa
minggu untuk sistem organ tertentu.
Jadi adaptasi merupakan suatu penyesuaian bayi baru lahir dari dalam uterus ke
luar uterus, prosesnya disebut periode transisi atau masa transisi. Secara keseluruhan,
adaptasi diluar uterus harus merupakan sebagai proses berkesinambungan yang terjadi
selama keseluruhan. Maka pada setiap kelahiran, bidan harus memikirkan tentang faktor-
faktor kehamilan atau persalinan yang dapat menyebabkan gangguan pada jam-jam
pertama kehidupan diluar rahim seperti partus lama, trauma lahir, infeksi, keluar
mekunium, penggunaan obat-obatan.
Bidan mempunyai tanggung jawab terhadap ibu dan bayi baru lahir, tidak hanya melewati fase kehidupan
dalam uterus menuju kehidupan luar uterus seaman mungkin, tetapi juga adaptasi fisik terhadap kehidupan
luar uterus. Oleh karena itu bidan harus mengetahui bagaimana proses adaptasi bayi baru lahir,
memfasilitasi proses adaptasi tersebut sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk
melahirkan bayi baru lahir yang sehat.

A. Adaptasi Bayi Baru Lahir Yang Terjadi Dengan Cepat


1. Perubahan Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan merupakan sistem yang paling tertantang ketika mengalami perubahan
dari fase intrauterus menuju ekstrauterus. Bayi baru lahir harus mulai segera mulai
bernafas. Selama kehamilan organ yang berperan dalam respirasi janin sampai janin lahir
adalah placenta.
Paru – paru yang bermula dari suatu titik yang muncul dari Pharynx yang bercabang dan
kemudian cabang lagi sehingga membentuk struktur pencabangan bronkus. Proses tersebut
terus berlanjut setelah kelahiran hingga kira-kira usia anak 8 tahun sampai jumlah
bronkhiolus dan alveolus berkembang sepenuhnya. Agar alveolus dapat berfungsi, harus
ada surfaktan yang cukup dan aliran darah ke paru-paru. Surfaktan adalah lipoprotein yang
dapat mengurangi ketegangan permukaan dalam alveoli dan membantu dalam pertukaran
gas. Bagian ini di produksi pertama kali dari usia kehamilan 20 minggu dan jumlahnya akan
terus bertambah hingga paru–paru menjadi dewasa pada minggu 30 – 34 minggu. Ketidak
dewasaan paru–paru inilah yang paling menentukan dan mengurangi kemungkinan
hidupnya seorang bayi baru lahir oleh karena luas permukaan alveoli yang terbatas serta
tidak adanya surfaktan yang memadai menyebabkan stress pada bayi.
Fenomena yang menstimulasi neonatus untuk nafas pertama kali, diantaranya; peristiwa
mekanis seperti penekanan toraks pada proses kelahiran pervagina dan tekanan yang tinggi
pada toraks tersebut tiba-tiba hilang ketika bayi lahir disertai oleh stimulus fisik, nyeri,
cahaya suara menyebabkan perangsangan pusat pernafasan. Pada saat bayi
mencapai cukup bulan, kurang dari 100 ml cairan paru–paru terdapat di dalam nafasnya.
Selama proses kelahiran, kompresi dinding dada akan membantu pengeluaran sebagian
dari cairan ini dan lebihnya akan diserap oleh sirkulasi pulmonum serta sistem limphatik
setelah kelahiran bayi. Neonatus yang dilahirkan dengan SC (Secsio Cesarea) tidak
mendapat penekanan thorak sehingga paru–parunya terisi cairan dalam waktu yang lebih
lama. Cairan yang mengisi mulut dan trakhea sebagian dikeluarkan dan udara mulai
mengisi sistem pernafasan ini.
Aktifnya pernafasan yang pertama menimbulkan serangkaian peristiwa diantaranya :
a. Membantu perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi dewasa.
b. Mengosongkan cairan dari paru–paru.
c. Menentukan volume paru neonatus dan karakteristik fungsi paru–paru bayi baru lahir.
Dengan tarikan nafas yang pertama, udara di ruangan mulai mengisi saluran napas besar
trakhea neonatus dan bronkus. Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat
penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Peningkatan aliran darah
paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan menghilangklan cairan paru.

2. Perubahan Sirkulasi
Karakteristik sirkulasi janin merupakan sistem tekanan rendah, karena paru – paru masih
tertutup dan berisi cairan, organ tersebut memerlukan darah dalam jumlah
minimal.Pemasangan klem tali pusat akan menutup sistem tekanan darah dari plasenta-
janin. Aliran darah dari palsenta berhenti, sistem sirkulasi bayi baru lahir akan mandiri,
tertutup dan bertekanan tinggi. Efek yang muncul segera akibat tindakan pemasangan klem
tali pusat adalah kenaikan resistensi vaskular sistemik. Kenaikan resistensi vaskular
sistemik ini bersamaan dengan pernapasan pertama bayi baru lahir.
Oksigen dari napas pertama ini menyebabkan otot–otot vaskular berelaksasi dan terbuka.
Paru–paru menjadi satu sistem tekanan rendah. Kombinasi tekanan ini yang meningkat
pada sirkulasi sistemik tetapi menurun pada sirkulasi paru menimbulkan perubahan–
perubahan tekanan aliran darah pada jantung. Tekanan yang berasal dari peningkatan
aliran darah pada jantung kiri menyebabkan foramen ovale menutup. Semakin banyak
darah yang mengandung oksigen melewati duktus arteriosus menyebabkan organ ini
berkontraksi sehingga membatasi arus pintas yang terjadi melalui duktus tersebut.
Peningkatan aliran darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi
limpe dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan
sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim. Darah yang meninggalkan jantung neonatus
menjadi sepenuhnya mengandung oksigen ketika berada dalam paru dan mengalir ke
seluruh jaringan tubuh yang lain. Dalam waktu singkat perubahan–perubahan besar
tekanan telah berlangsung pada bayi baru lahir, sekalipun perubahan–perubahan ini secara
anatomi tidak selesai dalam hitungan minggu, penutupan fungsional foramen ovale dan
duktus arteriosus terjadi segera setelah kelahiran, yang paling penting untuk dipahami
bidan adalah bahwa perubahan–perubahan sirkulasi dari janin ke bayi baru lahir berkaitan
mutlak dengan kecukupan fungsi respirasi.

3. Termoregulasi
Bayi baru lahir memilki kecenderungan cepat stress akibat perubahan suhu lingkungan,
karena belum dapat mengatur suhu tubuh sendiri. Pada saat bayi meninggalkan lingkungan
rahim ibu yang bersuhu rata-rata 37 0C, kemudian bayi masuk ke dalam lingkungan. Suhu
ruangan persalinan yang suhu 25 0C sangat berbeda dengan suhu di dalam rahim.

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas melalui empat mekanisme yaitu :
a. Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang
lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan
cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi
aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
b. Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-
benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa
kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas
tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung).
c. Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin, meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya
lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme
konduksi apalagi bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut.
d. Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena
penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena
setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Kehilangan panas juga terjadi pada bayi
yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti.

Meminimalkan kehilangan panas bayi baru lahir, beberapa cara umum untuk
mempertahankan panas adalah sebagai berikut :
a. Selimut, topi atau pakaian yang hangat sebelum kelahiran.
b. Keringkan bayi baru lahir secepatnya.
c. Atur suhu ruangan persalinan 25 0C.
d. Jangan lakukan penghisapan bayi baru lahir jika alas tempat tidur basah.
e. Tunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu stabil.
f. Tempatkan area perawatan bayi baru lahir dari jendela, dinding luar atau jalan ke pintu.
g. Selalu menutup kepala bayi baru lahir dan membungkus rapat tubuh bayi selama 48 jam.

Neonatus dapat menghasilkan panas dalam jumlah besar dengan cara; menggigil, aktifitas
otot dan termogenesis (produksi panas tanpa menggigil). Sehingga dapat menyebabkan
peningkatan metabolisme dan mengakibatkan peningkatan penggunaan oksigen oleh
neonatus. Oleh karena itu kehilangan panas pada neonatus berdampak pada hipogilikemi,
hipoksia dan asidosis.

4. Glukosa
Sebelum dilahirkan kadar darah janin berkisar 60 hingga 70 % dari kadar darah ibu. Dalam
persiapan untuk kehidupan luar rahim seorang janin yang sehat mencadangkan
glukosa sebagai glikogen terutama di dalam hati. Sebagian penyimpangan glikogen
berlangsung pada trimester III.
Pada saat tali pusat diklem, bayi baru lahir harus mendapat cara untuk mempertahankan
glukosa yang sangat diperlukan untuk fungsi otak neonatus. Pada setiap bayi baru lahir,
glukosa darah menurun dalam waktu singkat (1 hingga 2 jam kelahiran). Bayi baru lahir
yang sehat hendaknya didorong untuk sesegera mungkin mendapatkan ASI setelah
dilahirkan. Seorang bayi yang mengalami stress berat pada saat kelahiran seperti hipotermia
mengakibatkan hipoksia mungkin menggunakan simpanan glikogen dalam jumlah banyak
pada jam–jam pertama kelahiran.

B. Adaptasi Bayi Baru Lahir Selanjutnya


1. Perubahan Darah
Pada waktu dilahirkan bayi baru lahir mempunyai nilai hemoglobin. Kadar hemoglobin
normal berkisar 11,7 hingga 20,0 g /dl. Haemoglobin janin mempunyai daya ikat terhadap
oksigen yang sangat tinggi.
Nilai–nilai haemoglobin awal bayi baru lahir sangat dipengaruhi oleh saat pemasangan
klem tali pusat dan posisi bayi baru lahir segera setelah dilahirkan. Penempatan bayi baru
lahir dibawah perut ibu dapat menyebabkan transfusi plasenta sebesar 15 sampai 30 % lebih
besar dari volume darah. Efek samping transfusi plasenta yaitu : gangguan pernapasan,
peningkatan tekanan darah.
Jadi jika bayi tidak diletakkan diatas perut ibu, maka tali pusat harus segera di klem.
walaupun aliran darah bisa mengalir balik dari bayi ke plasenta, keadaan ini tidak biasa
karena arteri umbilikus (yang membawa darah dari janin kembali ke plasenta) mengalami
spasme dengan cepat pada temperatur lingkungan kamar bersalin. Jika terjadi arus balik,
bayi baru lahir dapat mengalami hipovolemia berat.
Sel darah merah bayi baru lahir mempunyai rentang waktu hidup (lifespan) rata-rata 80 hari
(dibandingkan dengan umur hidup eritrosit dewasa selama 120 hari). Perputaran hidup sel
yang cepat ini menghasilkan lebih banyak dampak pemecahan sel, termasuk bilirubin yang
harus di metabolisme. Kelebihan bilirubin ini berperan pada ikterus fisiologis yang terlihat
pada bayi baru lahir.

2. Perubahan Sistem Gastrointestinal


Sistem gastrointestinal pada bayi baru lahir cukup bulan relatif sudah matang. Sebelum
lahir, janin cukup bulan melakukan hisapan dan tindakan menelan. Reflek muntah dan
batuk yang sudah sempurna tetap utuh pada saat lahir. Mekonium kendati steril,
mengandung kotoran cairan amnion, yang menegaskan bahwa janin telah menelan cairan
amnion dan bahwa cairan tersebut telah melewati saluran gastrointestinal.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan masih
terbatas, banyak keterbatasan ini berkaitan dengan beragamnya enzim pencernaan dan
hormon yang terdapat pada semua bagian saluran gastrointerstinal dari mulut hingga
intestin. Bayi baru lahir kurang mampu untuk mencerna protein dan lemak dibandingkan
dengan orang dewasa. Penyerapan karbohidrat relatif efisien tetapi masih tetap dibawah
kemampuan orang dewasa. Kemampuan bayi baru lahir yang efisien terutama dalam
penyerapan glukosa, asalkan jumlah glukosa tidak terlalu besar.
Selama masa bayi dini, bayi baru lahir masih memilki lapisan epitel intestin yang bersifat
tidak tembus antigen. Sebelum usus menutup, bayi masih rentan terhadap infeksi bakteri /
virus dan juga terhadap rangsangan alergen melalui penyerapan intestin molekul–molekul
besar. Pemberian ASI mendorong penutupan usus karena ASI sejumlah besar IgA sekresi
dan merangsang profliferasi enzim–enzim intestin.

3. Perubahan Sistem Imunitas


a. Imunitas Alami
Sel– sel tubuh memberikan fungsi imunitas yang terdapat pada saat lahir guna membantu
bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tiga sel yang berfungsi dalam fagositosis
(menelan dan membunuh) mikroorganisme yang menyerang tubuh ketiga sel darah ini
adalah :
1) Neutrofil polimorfomuklear.
2) Monosit.
3) Makrofag.
Sedangkan sel–sel yang lain disebut sel pembunuh alami (natural killer). Akhirnya neotrofil
polimorfonuklear akan menjadi fagosit primer dalam pertahanan penjamu (host), tetapi
pada neonatus neutrofil polimorfonuklear ini mengalami gangguan baik pada kemampuan
untuk bergerak pada arah yang benar dan dalam kemampuannya untuk melekat pada
tempat–tempat peradangan. Kekurangan fungsi ini menyebabkan suatu kelemahan utama
sistem imunitas neonatus, ketidak mampuannya mencari dan membatasi lokasi infeksi.
b. Imunitas Dapatan
Neonatus dilahirkan dengan imunitas pasif terhadap virus yang berasal dari ibunya, janin
mendapatkan imunitas ini melalui berbagai IgG yang melintas melalui transplasenta.
Neonatus tidak memiliki imunitas pasif terhadap penyakit.
Dengan adanya defisiensi kekebalan alami dan dapatan, bayi baru lahir rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu pencegahan terhadap mikroba seperti praktek persalinan yang
aman dan menyusui ASI dini serta deteksi dini terhadap penyakit infeksi perlu dilakukan.

4. Perubahan Sistem Ginjal


Ginjal bayi baru lahir memperlihatkan penurunan aliran darah dan ginjal dan penurunan
laju filtrasi glomerolus. Hal ini dapat menimbulkan dengan mudah retensi cairan dan
intoksikasi air. Fungsi tubulus masih belum matang, yang dapat menyebabkan kehilangan
natrium dalam jumlah besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak
mampu melakukan pemekatan (konsentrasi) urin, yang mencerminkan pada berat jenis urin
yang rendah.
Bayi baru lahir mengekresi sejumlah kecil urin pada 48 jam pertama kehidupan, seringkali
hanya sebanyak 30 – 60 ml. Protein atau darah tidak boleh terdapat di dalam urin bayi baru
lahir. Bidan harus senantiasa ingat bahwa masa abdomen yang ditemukan pada
pemeriksaan fisik acapkali sebenarnya ginjal dan bisa jadi sebuah tumor, pembesaran atau
penyimpangan pertumbuhan ginjal.

Daftar Pustaka
1. Behrman, R.E. dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 1. Diterjemahkan oleh
A.Samik Wahab. Jakarta : EGC.
2. Helen Farrer. Perawatan
http://www.sumbarsehat.com/2012/08/adaptasi-bayi-baru-lahir.html