Anda di halaman 1dari 32

3.2.

1 Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan (SBkk)

3.2.1.1 Litologi dan Penyebaran

Satuan Batupasir berwarna coklat kehitaman karbonatan ini, tersebar sekitar

±20% menempati luas daerah penelitian, dengan penyebaran dibagian timur daerah

penelitian batuan ini bersifat masif, sebagian memiliki perlapisan dan arah jurus

kemiringan batuan. Warna segar abu-abu terang, warna lapuk kecoklatan dan

kehitaman, ukuran butir pasir sedang, bentuk butir sub-rounded, kemas tertutup,

terpilah baik, kekompakkan getas - keras, kontak tegas, struktur sedimen masif,

sebagian karbonatan dan ada yang bersifat karbonat pada fosilnya saja berupa

moluska air laut, gastropoda dan bivalvia (ST7-MF1 & ST5-MF6), sebagian tidak

ada makrofosil dan juga sebagian stasiun teramati mineral berupa plagioklas.

Analisis Petrografi

// - Nicol X - Nicol

Gambar 3.9 Kenampakkan Mineral Optik Batupasir kecoklatan karbonatan


(a)

(b)

Gambar 3.10 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat sebagian singkapan

Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan

3.2.1.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan umur relatif Satuan Batupasir kecoklatan karbonatan ini dianalisis

berdasarkan kedudukan stratigrafi yang dapat dilihat pada peta kerangka. Diperoleh

kedudukan Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan berada dibawah

Satuan Batugamping, sehingga dapat disimpulkan bahwa Satuan Batupasir


Kecoklatan Kekarbonatan umurnya lebih tua dari Satuan Batugamping. Untuk

menentukan lingkungan pengendapan dapat diinterpretasikan melalui struktur

sedimen, tekstur batuan, dan kandungan karbonatan dan bukti yang paling kuat dari

mikrofosil atau makrofosil. Umur relatif dari satuan ini menggunakan analisis

mikrofosil foraminifera planktonik yang dilakukan pengambilan sampelnya pada

ST6-MF2 dengan litologi batupasir.

Tabel 3.5 Kemunculan foraminifera planktonik dan rentang umurnya

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kemunculan Satuan Batupasir

Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan berada pada umur Miosen Akhir – Pliosen

Awal. Sedangkan penentuan lingkungan pengendapan pada Neritik Dalam – Tengah

berdasarkan ditemukannya foraminifera bentonik. Selain itu, secara ditemukan fosil

Paphia sp pada stasiun ST7-MF1 yang mengindikasikan lingkungan intertidal

(Okutani, 2000) sehingga pada satuan ini mengalami pendangkalan keatas atau ke

arah utara.

Tabel 3.6 Kemunculan foraminifera bentonik dan zona kedalamannya


Gambar 3.11 Kenampakkan fosil Paphia sp

3.2.1.3 Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan posisi stratigrafi, Satuan Batupasir kecoklatan kekarbonatan ini

berada diatas Satuan Batugamping sehingga umurnya lebih tua dibandingkan Satuan

Batugamping. Hubungan stratigrafi antara Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan

Kekarbonatan dengan Satuan Batugamping yang berada diatasnya diendapkan

secara selaras.

3.2.2 Satuan Batugamping (SBtg)

3.2.2.1 Litologi dan Penyebaran

Satuan Batugamping tersebar sekitar ±2% menempati luas daerah penelitian,

dengan penyebaran dibagian timur daerah penelitian batuan ini bersifat masif, dan
jenis batugampingnya berupa batugamping terumbu kontak dengan batupasir. Dari

hasil pengamatan dilapangan batugamping memiliki karakteristik warna segar putih,

warna lapuk kemerah-merahan, bersifat karbonatan kuat, terdapat skeletal

cangkang, koral dan kelompok echinodermata, kekompakkan keras. Terdapat

campuran mud (20%), dan grain > 30% (grain supported) jenis batugamping berupa

packstone (Dunham, 1962)

Analisis Petrografi

// - Nicol X - Nicol

Gambar 3.12 Kenampakkan Mineral Optik Batugamping


(a)

(b)
Gambar 3.13 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat sebagian singkapan

Satuan Batugamping

3.2.2.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan umur Satuan Batugamping dilakukan dengan cara menganalisis

keududukan stratigrafi yang dapat diamati dilapangan. Diperoleh bahwa Satuan

Batugamping berada diatas Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Satuan Batugamping lebih muda dari Satuan

Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan. Penentuan lingkungan pengendapan


dapat diinterpretasikan dari makrofosil atau mikrofosil yang ada pada batuan,

seperti ditemukannya moluska berupa echinodermata dan skeletal-skeletal yang

terdapat pada batuan tersebut, adapun lingkungan pengendapan satuan ini berupa

laut dangkal. Batugamping terumbu ini terbentuk secara setempat pada Pliosen

Tengah.

3.2.2.3 Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan dari posisi stratigrafi satuan batuan ini berada diatas Satuan

Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan, maka umurnya lebih muda

dibandingkan Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan. Hubungan

stratigrafi antara Satuan Batugamping dengan Satuan Batupasir Berwarna

Kecoklatan Kekarbonatan yang berada dibawahnya diendapkan secara selaras.

3.2.2.4 Kesebandingan Regional

Berdasarkan kesebandingan regionalnya, Satuan Batugamping umurnya lebih

tua yang berumur Pliosen Tengah. Sehingga dapat disejajarkan dengan Anggota

Batugamping Formasi Tapak pada Peta Geologi Lembar Majenang (Kastowo dan

Suwarna, 1996)

Tabel 3.7 Kesebandingan Satuan Batugamping dengan Anggota Batugamping

Formasi Tapak (Kastowo dan Suwarna, 1996).

Parameter Satuan Batugamping Anggota Batugamping


Formasi Tapak Kastowo

dan Suwarna (1996)

Litologi warna segar putih warna lapuk Batugamping terumbu,

kemerah-merahan, bersifat mengandung koral.

karbonatan kuat, terdapat koral Lingkungan pengendapan

(pada kenampakkan sayatan marin. Umur diduga akhir

batuan dibawah mikroskop), Pliosen Tengah.

kekompakkan keras. Terdapat

campuran mud (20%) dan grain

> 30% (grain supported)

batugamping packtstone

(Dunham,1962)

Umur Satuan Pliosen Tengah Pliosen Tengah

Lingkungan Lingkungan Laut Dangkal Lingkungan Laut

Pengendapan

3.2.3 Satuan Batulempung (SBl)

3.2.3.1 Persebaran dan Litologi

Satuan Batulempung Karbonatan sekitar ±15 % menempati luas daerah

penelitian. Penyebarannya disebelah barat kavling penelitian. Batuan bersifat masif,

terdapat dua batubara lignit dengan arah jurus dan kemiringannya : N147°E/26° dan
N148°E/31°. Dari hasil pengamatan dilapangan batuan ini memiliki ciri fisik berupa

warna segar abu-abu gelap warna lapuk abu-abu kehijauan sampai kehitaman,

kontak erosional dengan konglomerat kekompakkan : getas - lunak, terdapat fosil

moluska gastropoda, dan pelecypoda batuan bersifat karbonatan serta sebagian

stasiun makin kearah barat tidak bersifat karbonat dan karbonatan hanya di fosilnya

saja.
(a)

(b)

Gambar 3.14 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat sebagian Satuan

Batulempung (SBkl)

3.2.3.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Penentuan umur relatif Satuan Batulempung ini dianalisis berdasarkan

kandungan fosil dan kedudukan stratigrafi. Secara stratigrafi batulempung ini


menindih Satuan Batugamping. Adapun umur secara relatif ditemukan fosil

moluska secara makroskopis. Ditemukan fosil Turitella djadjariensis pada

batulempung ST1-MF5 yang mengindikasikan lingkungan laut dangkal 30 – 300

meter (Okutani, 2000) atau neritik tengah sampai batial atas (Tipsword, dkk 1966).

Selain itu, dilakukan analisis fosil Foraminifera Bentonik pada ST6-MF5 dengan

litologi batulempung ditemukan tiga mikrofosil Foraminifera Bentonik (lihat tabel

3.8). Sehingga dapat disimpulkan pada satuan ini, lingkungan pengendapannya dari

Nertik Tengah – Neritik Dalam, umur relatif batuan ini sekitar Pliosen Tengah -

Pliosen Akhir (Unggul dkk, 2012).

Tabel 3.8 Kemunculan foraminifera bentonik dan rentang kedalamannya

Gambar 3.15 Kenampakkan makrofosil dari Turitella djadjariensis

3.2.3.3 Hubungan Stratigrafi


Hubungan stratigrafi dari Satuan Batulempung dengan Satuan Batugamping

berdasarkan dari data fosil dan kedudukan stratigrafinya Satuan Batulempung

dengan Satuan Batugamping diendapkan secara selaras.

3.2.4 Satuan Batupasir Tidak Kekarbonatan (SBtk)

3.2.4.1 Litologi dan Penyebarannya

Satuan Batupasir Lingkungan Darat tersebar sekitar ± 10% menempati luas

daerah penelitian. Penyebaran berada disebelah timur daerah penelitian. Sifat batuan

pada satuan ini hampir semua masif. Dari hasil pengamatan dilapangan ciri fisik

dari batuan ini berupa memiliki warna segar coklat terang, warna lapuk coklat

kemerah-merahan, dengan ukuran butir pasir sedang, terpilah sedang, kemas

terbuka, bentuk butir sub-angular (menyudut tanggung). Batuan tidak bersifat

karbonatan, struktur sedimen masif, kekompakkan : getas – agak kuat, terdapat fosil

moluska gastropoda air tawar pada stasiun ST2-MF2.


Analisis Petrografi

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.16 Kenampakkan sayatan petrografi


(a)

(b)

Gambar 3.17 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat Satuan Batupasir

Tidak Karbonatan

3.2.4.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Batupasir Tidak Kekarbonatan memiliki umur yang lebih muda

dibandingkan dengan Satuan Batupasir Berwarna Kecoklatan Kekarbonatan.

Penentuan umur relatif pada satuan ini menggunakan keberadaan fosil moluska air

tawar, namun pada singkapan ST2-MF2 makrofosil dari singkapan tersebut hanya

sebagian yang terlihat dari cangkangnya sehingga tidak bisa dideskripsi dengan
baik. Penentuan umur relatif satuan ini berada pada Pliosen Akhir (lihat tabel 3.9)

adapun lingkungan pengendapannya merupakan darat dekat dengan zona transisi.

3.2.4.3 Hubungan Stratigrafi

Satuan Batupasir Lingkungan Darat diendapkan secara tidak selaras dengan

Satuan Batulempung. Hal ini dicirikan dari kandungan fosil yang ditemukan pada

kedua batuan tersebut yang berbeda, serta dari sifat karbonatan kedua batuan

tersebut salah satunya ada yang tidak bersifat karbonatan dan ada yang bersifat

karbonatan.

3.2.4.4 Kesebandingan Regional

Berdasarkan kesebandingan regionalnya, Satuan Batupasir Tidak

Kekarbonatan berumur lebih muda dari Satuan Batulempung yang berumur Pliosen

Tengah – Pliosen Akhir. Sehingga dapat disejajarkan dengan Formasi Kaliglagah

pada Peta Geologi Lembar Majenang (Kastowo dan Suwarna,1996)

Tabel 3.9 Kesebandingan Satuan Batupasir Tidak Kekarbonatan dengan Formasi

Kaliglagah

Parameter Satuan Batupasir Tidak Formasi Kaliglagah

Kekarbonatan (Kastowo dan Suwarna,

1996)

Litologi Memiliki warna segar Terdiri dari batupasir


coklat terang, warna lapuk kasar dan konglomerat,

coklat kemerah-merahan, yang mengandung

dengan ukuran butir pasir moluska air tawar dan

sedang (1/2 mm), terpilah mammalia, serta

sedang, kemas terbuka, batulempung dan napal

bentuk butir sub-angular yang makin berkurang ke

(menyudut tanggung). arah atas runtutan, bahkan

Batuan tidak bersifat menghilang sama sekali

karbonatan, struktur

sedimen masif,

kekompakkan : getas –

agak kuat, terdapat fosil

moluska air tawar

Umur Satuan Pliosen Akhir Pliosen Akhir

Lingkungan Darat Darat

Pengendapan

3.2.5 Satuan Batupasir Berwarna Coklat Kemerahan (SBck)

3.2.5.1 Litologi dan Penyebaran

Penyebaran Satuan Batupasir Berwarna Coklat Kemerahan ini menempati

sekitar ±4% dari luas daerah penelitian. Dan juga terdapat dibagian tengah daerah
penelitian. Litologi pada satuan ini bersifat masif. Berdasarkan data lapangan satuan

ini memiliki ciri fisik seperti : memiliki warna segar coklat terang, warna lapuk

coklat kemerah-merahan, dengan ukuran butir pasir halus, terpilah sedang, kemas

terbuka, bentuk butir sub-angular (menyudut tanggung). Batuan tidak bersifat

karbonatan, struktur sedimen masif, kekompakkan : lunak - mudah diremas tidak

terdapat makrofosil dan mineralnya tidak teramati.

Analisis Petrografi

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.19 Kenampakkan sayatan petrografi


(a)

(b)

Gambar 3.20 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat Satuan Batupasir

Coklat Kemerahan

3.2.5.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan


Satuan Batupasir Coklat Kemerahan berumur lebih muda dari Satuan

Batupasir Lingkungan Darat, hal ini dapat dilihat dari posisi stratigrafi pada peta

kerangka, sehingga dapat disimpulkan bahwa Satuan Batupasir Coklat Kemerahan

berumur lebih muda dari Satuan Batupasir Lingkungan Darat. Penentuan

lingkungan pengendapan didapat dari ukuran butir pasir halus dan tidak

mengandung karbonatan dapat diinterpretasikan lingkungan darat.

3.2.5.3 Hubungan Stratigrafi

Satuan Batupasir Coklat Kemerahan menindih Satuan Batupasir Tidak

Kekarbonatan diendapkan secara selaras. Hal ini, dilihat dari posisi stratigrafi pada

peta kerangka serta ciri fisik yang terdapat pada batuan tersebut masih bersifat tidak

karbonatan.

3.2.6 Satuan Konglomerat (Sk)

3.2.6.1 Litologi dan penyebaran

Satuan Konglomerat ini memiliki penyebaran ±3% menempati luas daerah

penelitian. Pada satuan ini, hanya terdapat dua singkapan yang ditemukan memiliki

jurus dan kemiringan lapisan batuan. Dari pengamatan dilapangan komponen dari

konglomerat ini polimik terdiri dari batupasir yang ukurannya sekitar 2 - 5 cm dan

andesitik berukuran 5 - 10 cm, bahkan lebih, dengan matriks berupa batupasir

dengan warna segar coklat warna lapuk kehitaman ukuran butirnya berupa pasir
halus, bentuk butir sub-rounded, terpilah sedang, kemas terbuka, tidak bersifat

karbonatan dan tidak teramati mineral megaskopisnya dengan kekompakkan getas,

dengan matriks batupasir warna segar coklat, warna lapuk keputih-putihan, ukuran

butir pasir halus, terpilah sedang, kemas terbuka, bentuk butir sub-rounded, tidak

bersifat karbonatan, tidak terdapat fosil, struktur masif, kekompakkan : getas –

lunak, tidak teramati mineral.

Analisis Petrografi

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.21 Kenampakkan sayatan batuan dari komponen konglomerat andesit


(a)

(b)

Gambar 3.22 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat Satuan Konglomerat

3.2.6.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Konglomerat memiliki umur lebih muda dari Satuan Batulempung

Kekarbonatan, Satuan Batupasir Kecoklatan Kekarbonatan, dan Satuan Batupasir

Coklat Kemerahan dilihat dari posisi stratigrafi pada peta kerangka. Lingkungan

pengendapan konglomerat ini sudah mengalami perubahan menjadi darat, hal ini

dapat diamati dari ciri fisik batuan tersebut, berupa matriks dan komponen yang

tidak bersifat karbonatan. Umur dari Satuan Konglomerat ini berada pada Pliosen

Akhir (lihat tabel 3.10).


3.2.6.3 Hubungan Stratigrafi

Satuan Konglomerat memiliki hubungan stratigrafi menindih Satuan

Batulempung secara tidak selaras dan selaras terhadap Satuan Batupasir Coklat

Kemerahan. Hal ini dapat dilihat bukti fisik dilapangan berupa bentuk yang

bergelombang yang mengindikasikan telah terpotongnya suatu perlapisan

sebelumnya oleh kehadiran konglomerat, sebagai channel yang ditemukan pada

batulempung yang kontak dengan konglomerat disebelah barat kavling penelitian

Sungai Cigunung.

3.2.6.4 Kesebandingan Regional

Berdasarkan kesebandingan regional dari ciri fisik batuan yang ditemukan

dilapangan Satuan Konglomerat memiliki kesebandingan dengan Formasi

Kaliglagah pada Peta Geologi Lembar Majenang (Kastowo dan Suwarna, 1996).

Tabel 3.10 Kesebandingan Satuan Konglomerat dengan Formasi Kaliglagah

Parameter Satuan Konglomerat Formasi Kaliglagah

(Kastowo dan Suwarna,

1996)

Litologi Komponen konglomerat Terdiri dari batupasir

batuan beku warna segar kasar dan konglomerat,

abu-abu, warna lapuk yang mengandung

kecoklatan, ukuran butir 20 moluska air tawar dan


cm, > 30 cm dan 3 mammalia, serta

cm,granulitas porfiritik, batulempung dan napal

derajat kristalisasi yang makin berkurang ke

hipokristalin, arah atas runtutan, bahkan

kemas inequigranular, menghilang sama sekali

komposisi mineral,

amfibol, plagioklas, indeks

warna mesokratik. (beku

andesitik). Komponen

batupasir warna segar

coklat, warna lapuk

kehitaman, bentuk

butir sub-rounded -

rounded, ukuran butir pasir

halus, kemas terbuka,

terpilah buruk , tidak

bersifat karbonatan,

struktur masif,

kekompakkan getas.

Matriks batupasir dengan

warna
segar coklat, warna lapuk

kehitaman, bentuk butir

sub-rounded, ukuran butir

pasir halus, kemas terbuka,

terpilah sedang, tidak

bersifat karbonatan,

kekompakkan lunak.

Umur Satuan Pliosen Akhir – Pleistosen Pliosen Akhir

Awal

Lingkungan Darat Darat

Pengendapan

3.2.7. Satuan Tuf (STf)

3.2.7.1 Litologi dan Persebaran

Satuan Tuf penyebarannya sekitar ±20% menempati luas daerah penelitian

pemetaan. Dan juga tersebar dibagian selatan kavling penelitian. Ciri fisik yang

diamati dilapangan dari satuan ini yaitu memiliki warna segar coklat, warna lapuk

kehitaman dan kemerah-merahan, ukuran butir abu halus sebagian tersingkap didua

stasiun berukuran abu kasar, bentuk butir sub-rounded, terpilah baik dengan kemas

tertutup, kekompakkan : lunak - mudah diremas, singkapan dalam keadaan lapuk.


Analisis Petrografi

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.23 Kenampakkan sayatan petrografi


(a)

(b)

Gambar 3.24 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat Satuan Tuff

3.2.7.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Tuff berumur lebih muda dari Satuan Batupasir Coklat Kemerahan.

Hal ini didasarkan atas posisi stratigrafi yang terdapat pada peta kerangka, dan

diendapkan pada lingkungan darat didasarkan pada endapan gunung api, dan tidak

bersifat karbonatan, maka disimpulkan Satuan Tuff diendapkan dilingkungan darat.

3.2.7.3 Hubungan Stratigrafi


Hubungan stratigrafi Satuan Tuf dengan Satuan Batupasir Coklat Kemerahan

tidak selaras dikarenakan, mekanisme pembentukan batuan tuf terbentuk setelah

adanya peristiwa letusan gunung api.

3.2.7.4 Kesebandingan Regional

Berdasarkan kesebandingan regionalnya, Satuan Tuff berumur lebih muda

dari Satuan Konglomerat yang berumur Pleistosen Tengah - Akhir. Sehingga dapat

disejajarkan dengan Formasi Linggopodo pada peta Geologi Lembar Majenang

(Kastowo dan Suwarna, 1996).

Tabel 3.11 Kesebandingan Satuan Tuff dengan Formasi Linggopodo

(Kastowo dan Suwarna, 1996)

Parameter Satuan Tuff Formasi Linggopodo

(Kastowo dan Suwarna,

1996)

Litologi Warna segar coklat, warna Breksi, tuf dan endapan

lapuk kehitaman dan lahar bersusunan andesit

kemerah-merahan, ukuran berasal dari Gunung

butir abu halus sebagian Slamet tua dan Gunung

tersingkap didua stasiun Copet.

berukuran abu kasar,

bentuk butir sub-rounded,


terpilah baik dengan kemas

tertutup, kekompakkan :

lunak - mudah diremas,

singkapan dalam keadaan

lapuk.

Umur Satuan Pleistosen Akhir Pleistosen

Lingkungan Darat Darat

Pengendapan

3.2.8 Satuan Breksi Polimik (SBx)

3.2.8.1 Litologi dan Penyebaran

Satuan Breksi Polimik menempati sekitar ±26% pada lokasi penelitian.

Adapun penyebarannya meliputi bagian utara atas, sebagian sangat sedikit bagian

selatan, dan sebagian sebelah barat daya kavling penelitian. Pengamatan dilapangan

breksi ini memiliki komponen polimik, yaitu batuan beku andesitik, dan batupasir

dengan matriks batupasir. Adapun ukuran komponen satuan breksi ini sekitar 10 cm

s/d 2 cm dengan warna segar abu-abu, warna lapuk kehijauan dan kecoklatan,

kemas terbuka, bentuk butir sub-angular – angular. tidak bersifat karbonatan.

Matriks berupa batupasir dengan warna segar abu-abu, warna lapuk abu-abu

kecoklatan, ukuran butir pasir sedang, bentuk butir subrounded, kemas terbuka,
terpilah sedang, struktur masif, dan kekompakkan lunak mineral yang teramati

plagioklas.

Analisis Petrografi

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.22 Kenampakkan sayatan petrografi breksi komponen andesit

// - Pararel Nicol X - Nicol

Gambar 3.23 Kenampakkan sayatan petrografi breksi matriks batupasir


(a)

(b)

Gambar 3.24 (a) Kenampakkan jauh; (b) Kenampakkan dekat Satuan Breksi Polimik

3.2.8.2 Umur Relatif dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Breksi Polimik, dalam penentuan umurnya lebih muda satuan breksi

dari Satuan Tuff, berdasarkan fasies gunung api breksi terbentuk pada zona

proksimal lebih dekat ke sumber, sedangkan batuan tuf terbentuk di zona medial

atau bahkan sampai ke distal. Sehingga secara posisi stratigrafi yang dilihat dari

peta kerangka, breksi umurnya lebih muda dari Satuan Tuff. Lingkungan
pengendapannya berupa darat, didasarkan pada endapan gunung api, dan batuan

tidak bersifat karbonatan baik matriks ataupun komponennya.

3.2.8.3 Hubungan Stratigrafi

Satuan Breksi Polimik memiliki hubungan stratigrafi selaras dengan Satuan

Tuff, hal ini didasarkan pada keterbentukan awal satuan tuf pada zona gunung api

distal, kemudian ditindih dengan endapan piroklastik aliran berupa breksi polimik

yang hubungannya menjemari dengan Satuan Tuff.

3.2.8.4 Kesebandingan Regional

Berdasarkan kesebandingan regionalnya Satuan Breksi Polimik umurnya

lebih muda dari Satuan Tuff. Hal ini, dapat disejajarkan oleh dengan Formasi

Linggopodo pada Peta Geologi Lembar Majenang (Kastowo dan Suwarna, 1996).

Tabel 3.12 Kesebandingan Satuan Breksi Polimik dengan Formasi Linggopodo

(Kastowo dan Suwarna, 1996)

Parameter Satuan Tuff Formasi Linggopodo

(Kastowo dan Suwarna,

1996)

Litologi Warna segar coklat, warna Breksi, tuf dan endapan

lapuk kehitaman dan lahar bersusunan andesit

kemerah-merahan, ukuran berasal dari Gunung


butir abu halus sebagian Slamet tua dan Gunung

tersingkap didua stasiun Copet.

berukuran abu kasar,

bentuk butir sub-rounded,

terpilah baik dengan kemas

tertutup, kekompakkan :

lunak - mudah diremas,

singkapan dalam keadaan

lapuk.

Umur Satuan Pleistosen Akhir Pleistosen

Lingkungan Darat Darat

Pengendapan