Anda di halaman 1dari 9

Perlakuan Akuntansi pada Saat Likuidasi Persekutuan (Lanjutan) dan

Usaha patungan

Oleh

Kelompok 2

Anak Agung Ayu Indi Kosala Aprilianti (01)

Ayu Manik Sri Pariutami (02)

Ni Kadek Ayu Padma Yanti (19)

Ni Luh Putu Trisna Widi Ari (25)

Ni Made Sukmawati (30)

Putu Dewi Sridepi Ernawati (39)

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

2019
4.1 Likuidasi Bertahap

Likuidasi bertahap merupakan suatu likuidasi yang secara umum memerlukan beberapa
bulan dalam penyelesaiannya dan mencakup pembayaran secara periodik, cicilan/bertahap,
kepada para sekutunya selama masa likuidasi. Likuidasi bertahapa mencakup distribusi kas
kepada para sekutu sebelum likuidasi aset sepenuhnya dilakukan. Berikut panduan yang dapat
digunakan untuk membantu akuntan dalam menentukan pembayaran bertahap yang aman kepada
para sekutu :

1. Tidak mendistribusikan kas kepada para sekutu hingga seluruh kewajiban dan beban
likuidasi aktual maupun potensial telah dibayarkan atau telah dicadangkan seperlunya.

2. Antisipasilah kemungkinan yang terburuk, atau yang paling membatasi sebelum


menentukan jumlah uang tunai yang dapat diterima oleh masing-masing sekutu :

a. Asumsikan bahwa seluruh aset nonkas yang tersisa akan dihapuskan sebagai
kerugian, yaitu bahwa tidak ada lagi yang dapat direalisasikan dari penghapusan
aset.

b. Asumsikan bahwa defisit timbul pada akun modal para sekutu akan
didistribusikan kepada sekutu yang tersisa, asumsi bahwa defisit tersebut tidak
akan dihapuskan oleh kontribusi modal tambahan para sekutu.

c. Setelah akuntan mengasumsikan kasus terburuk yang dapat terjadi, maka sisa
saldo kredit pada akun modal menunjukkan distribusi aset dan kas yang aman
yang dapat didistribusikan kepada masing-masing sekutu dalam jumlah yang
terkait.

Untuk menentukan pembayaran kas yang aman yang hendak dilakukan kepada para
sekutu, pihak akuntan harus membuat beberapa asumsi mengenai likuidasi aset tersisa di masa
depan. Sebelum melakukan distribusi kas kepada para sekutu, akuntan menyusun skedul
pembayaran aman kepada para sekutu dengan menggunakan asumsi kasus terburuk.

Skedul ini dimulai dengan saldo modal dan pinjaman secara logika menggunakan akun-akun
modal yang berasal dari persamaan akuntansi : Aset – Kewajiban = Saldo Modal Sekutu. Skedul
pembayaran aman kepada para sekutu ini mencakup seluruh informasi yang diperlukan agar para
sekutu mengetahui berapa besar kas yang akan diterima pada setiap tanggal distribusi kas.

Asumsi kasus terburuk berupa kerugian total atas aset nonkas dan beban likuidasi,
menimbulkan total pembebanan yang harus didistribusikan terhadap akun modal para sekutu.
Jika asumsi ini menghasilkan perkiraan defisit dalam akun modal salah satu sekutu, maka itu
bukan defisit aktual yang harus ditutup. Hal tersebut hanyalah hasil dari penerapan asumsi kasus
terburuk.

4.2 Rencana Distribusi Kas

Skedul pembayaran aman merupakan metode efektif untuk menghitung jumlah


pembayaran aman kepada sekutu dan mencegah pembayaran yang berlebihan kepada sekutu.
Tetapi pendekatannya tidak efisien jika distribusi bertahap dilakukan berkali-kali karena skedul
pembayaran aman harus disiapkan untuk tiap distribusi sampai saldo modal sesuai dengan rasio
pembagian laba dan rugi. Skedul pembayaran aman juga tidak cukup baik sebagai alat
perencanaan karena tidak memberikan informasi yang membantu sekutu ketika mereka
mengharapkan mendapatkan pembagian kas. Kekurangan dari pendekatan skedul pembayaran
aman ini bisa diatasi dengan menggunakan rencana distribusi kas pada awal proses likuidasi.

Urutan Kerentanan

Pada awal proses likuidasi, Dono, Kasino, Indro memiliki saldo modal masing-masing
Rp 340.000.000, Rp 340.000.000 dan Rp 200.000.000 tetapi ekuitas mereka masing-masing
adalah Rp 340.000.000, Rp 360.000.000 dan Rp 160.000.000. Untuk menentukan kerentanan
atau kemungkinan rugi ekuitas tiap sekutu dibagi dengan rasio pembagian laba untuk
mengidentifikasi rugi maksimum yang bisa ditanggung oleh sekutu tanpa menyebabkan ekuitas
mereka berkurang sampai dibawah nol.

Urutan kerentanan menunjukkan bahwa Dono adalah yang paling rentan terhadap rugi
karena ekuitasnya akan berkurang sampai nol akibat total rugi likuidasi persekutuan Rp
680.000.000. Sebaliknya, kasino paling tidak rentan karena ekuitasnya cukup untuk menanggung
bagian kerugiannya akibat likuidasi sampai Rp 1.200.000.000. Interpretasi ini membantu
menjelaskan mengapa Kasino mendapatkan seluruh kas yang didistribusikan kepada sekutu pada
tahap awal likuidasi.

Kerugian yang dapat ditanggung

Skedul ini diawali dengan ekuitas sebelum dilikuidasi dan mengurangi ekuitas masing-
masing sekutu dengan bagian kerugiannya yang secara tepat mengeliminasi ekuitas sekutu yang
paling rentan. Langkah berikutnya adalah mengurangkan sisa ekuitas masing-masing sekutu
dengan bagian ruginya yang secara tepat mengeliminasi ekuitas sekutu yang paling rentan
selanjutnya. Proses ini berlanjut terus sampai seluruh ekuitas sekutu yang paling tidak rentan
berkurang sampai nol. Skedul kerugian yang diasumsikan yang bisa ditanggung untuk Dono,
Kasino, Indro, adalah berikut ini.

Kerugian persekutuan yang benar-benar mengeliminasi ekuitas Dono ialah Rp


680.000.000 jumlah yang didapat dari perhitungan urutan kerentanan. Setelah ekuitas Dono
menurun sampai nol pada tahap pertama kerugian dibagi 60% untuk Kasino dan 40% untuk
Indro sampai ekuitas Indro menjadi nol. Tambahan kerugian persekutuan yang menurunkan
ekuitas Indro menjadi nol adalah Rp 60.000.000 – ekuitas Indro Rp 24.000.000 dibagi dengan
40% rasio pembagian laba setelah Dono dikeluarkan dari perhitungan atau tidak
mampu membayar. Setelah ekuitas Indro dikurangkan menjadi nol, ekuitas Indro tinggal Rp
120.000.000.

Rencana Distribusi Kas

Kasino harus menerima Rp 120.000.000 yang didistribusikan pertama kali kepada sekutu.
Rencana distribusi kas untuk persekutuan Dono, Kasino, Indro, dibuat dari skedul asumsi
kerugian yang bisa ditanggung sebagai berikut.

Dalam membuat rencana distribusi kas, kas yang tersedia paling pertama untuk
didistribusi diberikan kepada kreditur bukan sekutu. Ini terdiri dari Rp 300.000.000 utang dagang
dan Rp 200.000.000 wesel bayar persekutuan Dono, Kasino, dan Indro tanggal 31 Desember
19X1. Selanjutnya Rp 20.000.000 dibayarkan kepada Kasino atas pinjaman yang diberikan
kepada persekutuan karena pinjaman sekutu lebih tinggi prioritasnya daripada modal sekutu.
Kemudian sejumlah Rp 100.000.000 yang tersedia didistribusikan kepada Kasino dengan
mempertimbangkan saldo modalnya. Distribusi ini melengkapi penyesuaian seluruh saldo modal
dan rasio pembagian laba. Sisa distribusi dilakukan berdasarkan rasio pembagian laba.

Kasino dapat menganalisa rencana distribusi, kas pada 1 Januari 19X2 dan menentukan
bahwa dia akan mulai menerima kas setelah Rp 500.000.000 dibayarkan kepada kreditur. Begitu
pula Kasino dan Indro dapat menggunakan rencana ini untuk melihat kesempatan mereka dalam
memperbaiki ekuitas persekutuan mereka.

Skedul Distribusi Kas

Penerapan lebih lanjut dari rencana distribusi kas dapat didistribusikan dengan
mengasumsikan bahwa persekutuan Dono, Kasino, Indro dilikuidasi dengan dua tahap. Pada
tahap pertama kas sebesar Rp 550.000.000 didistribusikan dan sebesar Rp 250.000.000 pada
tahap kedua dan terakhir. Dengan asumsi ini rencana distribusi kas akan digunakan dalam
menyiapkan skedul distribusi kas seperti di bawah ini.

Kas yang didistribusikan pada tahap pertama dialokasikan Rp 500.000.000 untuk


kewajiban bukan sekutu dan Rp 20.000.000 untuk membayar kembali pinjaman dari Kasino.
Sisa Rp 30.000.000 dibayarkan kepada Kasino untuk mengurangi saldo perkiraan modalnya.
Pada distribusi tahap kedua, Kasino mendapat Rp 70.000.000 pertama untuk menyesuaikan
perkiraan modalnya dengan Indro. Kemudian Rp 60.000.000 dialokasikan kepada Kasino dan
Indro berdasarkan rasio pembagian laba dan rugi 60:40, dan terakhir Rp 120.000.000
dialokasikan kepada Dono, Kasino dan Indro berdasarkan rasio pembagian laba dan rugi
50:30:20. Informasi dari skedul distribusi kas digunakan dengan cara yang sama seperti
informasi dari skedul pembayaran aman, yaitu pembayaran kas yang diindikasikan dengan
skedul distribusi kas dimasukkan dalam laporan likuidasi persekutuan dan dalam catatan
persekutuan sebagai distribusi kas yang benar-benar dilakukan.

Pembuatan rencana distribusi kas lebih banyak memakan waktu dibandingkan pembuatan
skedul pembayaran aman. Tetapi seperti yang diperlihatkan disini, rencana distribusi kas
memberikan arti yang fleksibel dan efisien untuk menentukan pembayaran yang aman kepada
sekutu. Lagipula, rencana distribusi kas memberikan fungsi perencanaan yang sama baiknya
dengan fungsi perhitungan.
4.3 Sekutu dan Persekutuan yang Tidak Likuid

Untuk sekutu yang tidak likuid aturan yang berlaku untuk mengklaim harta dari sekutu yang :

1. Jumlah terutang kepada kreditur luar


2. Jumlah terutang kepada kreditur persekutuan
3. Jumlah terutang kepada sekutu dari kontribusi

Persekutuan Likuid-Satu atau Lebih Sekutu tidak Likuid

Dalam likuidasi persekutuan, kreditur persekutuan mendapatkan penggantian atas klaim


mereka dari harta persekutuan. Persekutuan harus hati-hati untuk tidsak mendistribusikan harta
persekutuan kepada sekutu yang tidak likuid karena kreditur pribadi mereka mengklaim aktiva
persekutuan atas ketidaksanggupan sekutu membayar hutangnya. Sebagai ilustrasi Wina, Yoke,
dan Zena adalah sekutu dengan pembagian laba 30%,30% dan 40%. Wina tidak likuid secara
pribadi, dengan harta pribadi Rp 50.000.000 dan kewajiban pribadi Rp 100.000.000.

Kasus A Kasus B Kasus C


Kas 60.000.000dr - -
Modal Wina 18.000.000kr 18.000.000kr 21.000.000dr
Modal Yoke 18.000.000kr 27.000.000kr 9.000.000kr
Modal Zena 24.000.000kr 9.000.000kr 12.000.000kr

Kasus A, ekuitas persekutuan Wina 18.000.000 tidak boleh dibayar langsung kepada
wina karena kreditur pribadi mempunyai klaim atas kepemilikan dalam aktiva persekutuan
sebesar 18.000.000. sedangkan Kasus B, kreditur wina memiliki klaim atas aktiva pribadi Yoke
karena Yoke mempunyai hutang pribadi kepada wina sebesar 18.000.000. zena juga memiliki
klaim atas yoke sebesar 9.000.000. dan pada Kasus C, wina memiliki saldo pada perkiraan
modalnya dan ia tidak likuid. Yoke dan Zena tidak boleh mengambil aktiva pribadi wina.
Mereka membagi rugi sebesar 21.000.000 berdasarkan rasio pembagian laba 3/7 dan 4/7.

Persekutuan Tidak Likuid

Rosi, Fani, dan Koni adalah sekutu yang membagi laba secara merata dan persekutuan
mereka sekarang dalam proses likuidasi. Setelah dikonversi menjadi kas, akan digunakan untuk
membayar kewajiban,dengan rincian:
Kewajiban 90.000.000kr Modal Fani (1/3) 30.000.000dr

Modal Rosi (1/3) 30.000.000dr Modal Koni (1/3) 30.000.000dr

Diketahui seluruh sekutu memiliki sumber daya pribadi paling sedikit 30.000.000, tiap
sekutu haru membayar 30.000.000 ke persekutuan . Tetapi jika kreditur menagih 90.000.000
dari Rosi, maka saldo persekutuan yang tersisa menjadi, Modal Rosi, Fani, Koni masing -
masing 60.000.000kr, 30.000.000dr,30.000.000dr. Apabila fani dan Koni hanya dapat membayar
masing-masing 30.000.000, maka desakan kreditur kepada rosi tidak beralasan. Tetapi jika
desakan terhadap rosi karena koni secara pribadi tidak likuid dan aktiva bersih fani hanya
35.000.000, situasinya akan berubah. Dalam hal ini rosi dan fani membagi kerugian Koni sebesar
30.000.000, dimana setelah itu rosi memiliki saldo modal kredit 45.000.000 dan fani saldo debit
45.000.000. Jadi, karena aktiva pribadi fani hanya 35.000.000, rosi menagih dari 35.000.000 dari
fani dan sisa 10.000.000 dalam saldo debit modal fani dihapuskan sebagai kerugian rosi.

4.4 Usaha Patungan

Usaha patungan atau yang biasa disebut dengan Joint Venture merupakan suatu
pengertian yang luas. Dia tidak saja mencakup suatu kerjasama dimana masing-masing pihak
melakukan penyertaan modal (equity joint ventures) tetapi juga bentuk-bentuk kerjasama lainnya
yang lebih longgar, kurang permanen sifatnya serta tidak harus melibatkan partisipasi modal.
Yang pertama mengarah pada terbentuknya suatu badan hukum, sedangkan pola yang kedua
perwujudan tampak dalam berbagai bentuk kontrak kerjasama dalam bidang manajemen,
pemberian lisensi,bentuk teknik dan keahlian, dan sebagainya. Dengan joint venture diharapkan
dapat menghimpun senergi dari berbagai pihak, khususnya pihak yang menguasai pasar dan
pihak yang menguasai teknologi produk.

Dari uraian diatas maka usaha patungan (joint venture) adalah entitas yang dibentuk oleh
dua pihak atau lebih untuk menyelenggarakan aktivitas ekonomi bersama. Pihak-pihak yang
terlibat yang terlibat sepakat untuk membentuk entitas baru, masing-masing menyetorkan modal,
berbagi resiko dan keuntungan, serta kendali atas entitas tersebut. Joint venture bisa dibentuk
hanya untuk suatu projek tertentu, lalu dibubarkan. Akan tetapi joint venture juga bisa dibentuk
untuk hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Menurut Peter Mahmud, joint venture merupakan suatu kontrak antara dua perusahaan
untuk membentuk satu perusahaan baru, perusahaan baru inilah yang disebut dengan perusahaan
joint venture. Sedangkan menurut Erman Rajagukguk, joint venture ialah suatu kerja sama antara
pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional berdasarkan perjanjian, jadi pengertian
tersebut lebih condong pada joint venture yang bersifat internasional.

Berdasarkan pengertian dari tokoh di atas maka dapat kita ketahui unsur - unsur yang terdapat
dalam joint venture ialah :

1. Kerjasama dua pihak atau lebih.


Joint venture merupakan kerjasama dua pihak atau lebih yang sepakat untuk membentuk
perusahaan baru dengan nama baru.
2. Ada modal.
Dalam joint venture masing-masing pihak memberikan modal untuk disetor dan dipakai
bersama untuk mengoperasikan perusahaan baru.
3. Ada surat perjanjian.
Sebagai bentuk adanya kerjasama antara dua belah pihak, maka dalam joint venture harus
ada surat perjanjian yang berfungsi untuk mengikat kedua belah pihak tersebut. Dalam
joint venture karena melibatkan orang lain, maka perlu diperhatikan dan diteliti apakah
pihak yang akan diajak kerjasama tersebut adalah pihak yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Daftar isi

http://warta-ekonomi.blogspot.com/2010/11/rencana-distribusi-kas.html

http://memebali.blogspot.com/2013/05/distribusi-kas.html