Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Kelompok 4
Ariqah
Adel
Dian
Indy
Okta
Bella
Khutbah Jum’at : Tujuh Kemudahan di Bulan Ramadhan

Islam itu membawa kemudahan pada umatnya. Kemudahan ini dapat


dibuktikan dalam syariat puasa yang kita jalankan, sebagaimana disebutkan dalam
ayat,

‫َّللاُ ِب ُك ُم ْاليُس َْر َو ََل ي ُِريدُ بِ ُك ُم ْالعُس َْر‬


‫ي ُِريدُ ه‬

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran


bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman tentang orang sakit dan musafir yang
dapat keringanan saat puasa,

‫سفَ ٍر فَ ِعدهة ٌ ِم ْن أَي ٍهام‬


َ ‫َو َم ْن َكانَ َم ِريضًا أ َ ْو َعلَى‬

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan


bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini
wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah
bagi kalian.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 59).

Sekarang kita akan melihat tujuh kemudahan dalam syariat ibadah puasa
dan amalan yang dilakukan di bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan kita
jalani.
a. Kemudahan pertama:

Bagi orang sakit boleh ambil keringanan tidak berpuasa jika berat
berpuasa.

Allah Ta’ala berfirman,

‫سفَ ٍر فَ ِعدهة ٌ ِم ْن أَي ٍهام أُخ ََر‬


َ ‫َو َم ْن َكانَ َم ِريضًا أ َ ْو َعلَى‬

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

b. Kemudahan kedua:

Bagi musafir jika berat dalam safar boleh ambil keringanan tidak berpuasa.
Kalau berpuasa itu berat saat safar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan untuk tidak berpuasa. Jabir radhiyallahu
‘anhu mengatakan,

ُ ْ‫ َو َر ُجالً قَد‬، ‫ فَ َرأَى ِز َحا ًما‬، ‫سفَ ٍر‬


. » ‫ فَقَا َل « َما َهذَا‬، ‫ظ ِل َل َعلَ ْي ِه‬ َ ‫َّللاِ – صلى هللا عليه وسلم – فِى‬ ‫سو ُل ه‬ ُ ‫َكانَ َر‬
‫سفَ ِر‬ ‫ْس ِمنَ ْالبِ ِر ال ه‬
‫ص ْو ُم فِى ال ه‬ َ ‫فَقَالُوا‬
َ ‫ فَقَا َل « لَي‬. ‫صائِ ٌم‬

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang


berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini
adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia
bersafar.” (HR. Bukhari, no. 1946 dan Muslim, no. 1115)

Namun kalau safar tersebut penuh kemudahan misal perjalanan yang


hanya sebentar dengan pesawat (misal: Jogja – Jakarta, ditempuh hanya 1 jam
perjalanan dengan pesawat), maka baiknya tetap berpuasa karena lebih cepat
terlepas dari kewajiban. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

‫الر ُج ُل َيدَهُ َعلَى َرأْ ِس ِه‬


‫ض َع ه‬ َ ‫ار َحتهى َي‬ ِ َ‫ض أ َ ْسف‬
ٍ ‫ار ِه ِفى َي ْو ٍم َح‬ ِ ‫خ ََرجْ نَا َم َع ال هن ِب ِى – صلى هللا عليه وسلم – ِفى َب ْع‬
َ ‫ َو َما فِينَا‬، ‫ِم ْن ِشدهةِ ْال َح ِر‬
َ‫صائِ ٌم إَِله َما َكانَ ِمنَ النهبِ ِى – صلى هللا عليه وسلم – َواب ِْن َر َوا َحة‬

“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa


safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan
tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada
yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah
yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari, no. 1945 dan Muslim, no. 1122)

Namun kalau kondisi sudah super berat saat safar yaitu bisa celaka bahkan
binasa, malah jadi tercela ketika tetap berpuasa. Dari Jabir bin
‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul


Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa.
Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan
Madinah), orang-orang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta
diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun
memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau
melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada
yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

َ ُ‫صاة ُ أُولَئِكَ ْالع‬


ُ ‫صاة‬ َ ُ‫أُولَئِكَ ْالع‬

‘Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang
durhaka.’” (HR. Muslim, no. 1114)

Kesimpulannya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-


‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang lebih afdhal adalah yang paling mudah
baginya saat safar. Jika dalam puasa terdapat bahaya, maka puasa dihukumi
haram. Allah Ta’ala berfirman,

‫َّللاَ َكانَ ِب ُك ْم َر ِحي ًما‬ َ ُ‫َو ََل ت َ ْقتُلُوا أ َ ْنف‬


‫س ُك ْم ِإ هن ه‬

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha


Penyayang kepadamu” (QS. An Nisa’: 29). Ayat ini menunjukkan bahwa jika ada
bahaya, maka terlarang untuk melakukannya. (Syarh Al-Mumthi’, 6: 328)

c. Kemudahan ketiga:

Bagi tiang sepuh (orang sudah tua renta) boleh tidak berpuasa dan diganti
dengan fidyah. Allah Ta’ala berfirman,

‫ين‬ َ ٌ‫َو َعلَى الهذِينَ ي ُِطيقُونَهُ فِدْ َية‬


ٍ ‫ط َعا ُم ِم ْس ِك‬

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak
berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-
Baqarah: 184)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Orang sakit yang tidak diharapkan


lagi kesembuhannya, maka dia boleh tidak berpuasa dan diganti dengan memberi
makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Karena orang
seperti ini disamakan dengan orang yang sudah tua.” (Al-Mughni, 4: 396)

d. Kemudahan keempat:

Bagi wanita hamil dan menyusui kalau berat berpuasa, boleh tidak berpuasa
dan puasanya tetap diqadha’. Qadha’ ini tetap ada sebagaimana pendapat jumhur
(kebanyakan ulama).

Namun kalau berat karena utang puasa yang menumpuk -misal selama enam
tahun punya tiga anak berturut-turut-, ketika itu tentu sangat berat untuk diqadha’,
maka boleh diganti fidyah. Caranya, satu hari tidak puasa, mengeluarkan satu
bungkus makanan.

e. Kemudahan kelima:

Wanita haidh masih boleh beribadah di bulan Ramadhan seperti yang boleh
dilakukan:

 Membaca Al-Qur’an asalkan tidak menyentuhnya langsung, bisa baca dari


Al-Qur’an terjemahan atau menyentuh mushaf Al-Qur’an (yang murni
bahasa Arab) dengan sarung tangan.
 Membaca dzikir, sepakat ulama boleh.
 Membaca do’a juga boleh apalagi di bulan Ramadhan adalah waktu
diijabahinya do’a-do’a.
 Mencari malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
 Masuk masjid untuk mengikuti pengajian, meskipun sedang haidh.
Menurut pendapat terkuat, wanita haidh masih boleh masuk masjid.

Ini lima hal dahulu yang dijelaskan mengenai kemudaah saat kita berpuasa
dan menjalani amalan di bulan Ramadhan.

َ ‫أَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا ََوا ْست َ ْغ ِف ُر هللاَ ِلي َولَ ُك ْم َو ِل‬


َ ‫سا ِئ ِر ال ُم ْس ِل ِميْنَ ِإنههُ ه َُو ال‬
‫س ِم ْي ُع ال َع ِل ْي ُم‬

f. Khutbah Kedua

َ ‫س ِليْنَ نَ ِب ِينَا ُم َح هم ٍد َو َعلَى آ ِل ِه َو‬


‫صحْ ِب ِه‬ َ ‫المر‬ ِ َ‫اف األ َ ْن ِبي‬
ْ ‫اء َو‬ ِ ‫سالَ ُم َعلَى أ َ ْش َر‬
‫صالَة ُ َوال ه‬
‫الميْنَ َوال ه‬ ِ ‫ال َح ْمد ُ هللِ َر‬
ِ ‫ب ال َع‬
َ‫أَجْ َم ِعيْن‬

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah
pada nabi termulia dari para nabi dan rasul, yaitu kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Amma ba’du,
Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …

Selanjutnya …

g. Kemudahan keenam dari amalan yang dilakukan di bulan Ramadhan:

Shalat malam tidak dibatasi jumlah rakaat, boleh dengan rakaat sedikit maupun
banyak. Dalilnya,

ُ ‫صالَةِ الله ْي ِل فَقَا َل َر‬


‫سو ُل ه‬
‫َّللاِ – صلى هللا‬ َ ‫َّللاِ – صلى هللا عليه وسلم – َع ْن‬ ُ ‫سأ َ َل َر‬
‫سو َل ه‬ َ ً‫ع َم َر أ َ هن َر ُجال‬
ُ ‫َع ِن اب ِْن‬
» ‫صلهى‬ ِ ‫صلهى َر ْك َعةً َو‬
َ ْ‫ تُوتِ ُر لَهُ َما قَد‬، ً ‫احدَة‬ ُّ ‫ِى أ َ َحد ُ ُك ُم ال‬
َ ‫ص ْب َح‬ َ ‫ فَإِذَا َخش‬، ‫صالَة ُ الله ْي ِل َمثْنَى َمثْنَى‬
َ « – ‫عليه وسلم‬

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ada seseorang yang bertanya pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau lantas menjawab, “Shalat malam
itu dua raka’at salam, dua raka’at salam. Jika salah seorang di antara kalian
khawatir masuk Shubuh, maka tutuplah dengan satu raka’at, maka itu jadi
raka’at ganjil jadi penutup yang sebelumnya.” (HR. Bukhari, no. 990 dan
Muslim, no. 749). Kalau seandainya jumlah rakaat shalat tarawih dibatasi 11
raka’at, pasti dalam jawaban Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas akan
diberikan batasan.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak


memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah
(yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh
mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”
(At-Tamhid, 21: 70)

h. Kemudahan ketujuh:

Boleh melakukan i’tikaf sunnah di bulan Ramadhan walau hanya sebentar,


yang penting dilakukan di masjid. Allah Ta’ala menyebutkan tentang syari’at
i’tikaf,
‫اج ِد‬
ِ ‫س‬َ ‫َوأ َ ْنت ُ ْم َعا ِكفُونَ فِي ْال َم‬

“Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu


Hazm rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu
tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.”
(Al-Muhalla, 5: 180).

Al-Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada


i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di
masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al-Inshof, 6: 17)

Sehingga jika ada yang bertanya, bolehkah beri’tikaf di akhir-akhir


Ramadhan hanya pada malam hari saja karena pagi harinya mesti kerja?
Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, terserah di
malam atau di siang hari.

Intinya, syariat Isalam membawa kemudahan bagi orang yang menjalani


puasa, ibadah serta amalan di bulan Ramadhan. Ada kemudahan yang diberikan
pada orang sakit, musafir, tiang sepuh (orang sudah tua renta), kemudahan wanita
haidh dalam ibadah, sampai pada kemudahan dalam shalat malam (shalat tarawih)
dan i’tikaf walau hanya sebentar.

Sekarang tinggal kita, mau beramal ataukah tidak.

Moga Allah memudahkan kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dan


dimudahkan beramal shalih di dalamnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.