Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

METODE PENGEMBANGAN PERILAKU DAN KEMAMPUAN


DASAR ANAK USIA DINI

“Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak


Usia 3-4 Tahun Melalui Metode Karyawisata”

Oleh:

Kelompok 7

1. Desvi Wahyuni (2014 142 070)


2. Eka Noprisa (2014 142 044)
3. Janatiah (2014 142 043)
4. Siti Hartinah (2014 142 042)

Dosen Pengampu : Nur Andriani, M.Pd.

PROGRAM STUDI PG-PAUD


JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan judul “Pengembangan Perilaku dan
Kemampuan Dasar Anak Usia 3-4 Tahun melalui Metode Karyawisata” tepat
pada waktunya,

Makalah ini disusun sebagai syarat dalam memenuhi tugas mata kuliah
Metode Pengembangan Perilaku dan Kamampuan Dasar Anak Usia Dini.
Makalah ini ditujukan untuk bahan tugas sekaligus sebagai salah satu bahan
referensi mahasiswi terutama program studi PG-PAUD untuk mengetahui lebih
banyak tentang pengembangan perilaku dan kemampuan dasar anak usia 3-4
tahun melalui metode karyawisata.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan


dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Penulis
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu,
tim penyusun mengharapkan bahwa dari semua yang membaca demi
penyempurnaan makalah ini, kami membutuhkan kritik dan saran dari para
pembaca. Akhirnya tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh
pemakalah yang bersangkutan.

Palembang, September 2016

Tim Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Manfaat 3
BAB II PEMBAHASAN 4

A. Hakikat Metode Karyawisata 4

B. Teknik Pengembangna Perilaku dan Kemampuan

Dasar Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Karyawisata 8

C. Implikasi Pengembangan Perilaku dan Kemampuan

Dasar Anak Usia 3-4 Tahun melalui

Metode Karyawisata 17

D. Penilaian, Umpan Balik, dan Pengembangan Perilaku

Serta Kemampuan Dasar Anak Usia 3-4 Tahun

Melalui Metode Karyawisata 17

BAB III PENUTUP 19

A. Kesimpulan 19
B. Saran 20
DAFTAR PUSTAKA 21
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perilaku adalah cerminan kepribadian seseorang yang tampak
dalam perbuatan dan interaksi terhadap orang lain dalam lingkungan
sekitarnya. Perilaku sendiri dapat dibentuk dari lingkungan, kebiasaan,
sehari-hari, baik secara formal ataupun non formal. Cakupan dari
perilaku antara lain: moral, sikap bergama, sosial, dan emosi.
Sedangkan kemampuan dasar dapat diartikan sebagai potensi yang
dibawa sedari lahir atau kesanggupan untuk berkembang yang dimiliki
seorang sejak lahir. Cangkupan kemampuan dasar yang dapat
dikembangkan antara lian, fisik, bahasa, kognitif, dan seni.
Dalam perkembangn perilaku dan kemampuan dasar anak usia 3-
4 tahun dapat dikembangan melalui berbagai metode pembelajaran,
salah satunya adalah metode karyawisata. Karyawisata adalah suatu
kegiatan yang memberikan kesempatan kepadaa anak untuk
mengetahui secara langsung dengan cara pengamatan langsung pada
suatu objek atau tempat yang sesuai dengan kenyataan. Metode
karyawisata memiliki manfaat dan tujuan yang dapat merangsang minat
anak dan memperluas pengatahuan anak.
Dari penjelasan tersebut, penulis tertarik untuk membahas lebih
lanjut tentang metode karyawisata sebagi metode pengembangan
perilaku dan kemampuan dasar anak usia3-4 tahun. Dalam makalah ini,
akan dibahas mengenai hakikat metode karyawisata, teknik yang
digunakan dalam mengembangkan perilaku dan kemampuan dasar
pada anak usia 3-4 tahun, implikasi dan penerapannya, serta umpan
balik dan penilaian dalam metode karyawisata.
Selain hal diatas, penulis juga akan mensimulasikan atau
mempraktekkan metode karyawisata sebagai metode pengembangan
perilaku dan kemampuan dasar pada anak usia 3-4 tahun. Karena
makalah ini sebagai syarat tugas kelompok dalam mata kuliah
metodelogi pengembangan perilaku dan kemampuan dasar pada anak
usia 3-4 tahun, penulis akan membahas tentang metode karyawisata
sebagai salah satu metode yang dapat mengembangkan perilaku dan
kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan metode karyawisata?
2. Bagaimana teknik pengembangan perilaku dan kemampuan dasar
anak usia 3-4 tahun melalui metode karyawisata?
3. Bagaimana implikasi pengembangan perilaku dan kemampuan dasar
anak usia 3-4 tahun melalui metode karyawisata?
4. Bagaimana penilaian, umpan balik, dan pengembangan perilaku
serta kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun melalui metode
karyawisata?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:
1. Untuk mengetahui hakikat metode karyawisata.
2. Untuk mengetahui teknik pengembangan perilaku dan kemampuan
dasar anak usia 3-4 tahun melalui metode karyawisata.
3. Untuk mengetahui implikasi pengembangan perilaku dan
kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun melalui metode karyawisata
4. Untuk mengetahui penilaian, umpan balik, dan pengembangan
perilaku serta kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun melalui metode
karyawisata.
D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa, dapat menjadi rujukan atau acuan untuk
mengetahui tentang metode pembelajaran karyawisata, beserta
teknik pengembangan, implikasi, penilaian dan umpan balik terhadap
pengembangan perilaku dan kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun.
2. Bagi sekolah/ lembaga pendidikan, dapat mengetahui cara
menerapkan metode karyawisata di sekolah beserta teknik
pengembangan, implikasi, penilaian dan umpan balik terhadap
perilaku dan kemampuan dasar anak usia 3-4 tahun.
3. Bagi pendidik, dapat mengetahui tentang metode karyawisata
beserta teknik pengembangan, implikasi, penilaian dan umpan balik
untuk perkembangan perilaku dan kemampuan dasar anak usia 3-4
tahun.
4. Bagi orang tua, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengikut
sertakan anak dalam kegiatan karyawisata yang ada di sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Metode Karyawisata


“Metode karyawisata adalah suatu metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan
yang ada secara langsung, meliputi manusia, hewan, tumbuh-
tumbuhan, dan benda-benda lainnya. Melalui mengamati secara
langsung anak memperoleh kesan yang sesuai dengan
pengamatannya. Pengamatan ini diperoleh melalui panca indra, yaitu
penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecapan (lidah),
pembauan (hidung), dan perabaan (kulit)” (Gunarti dkk, 2012: 8.3).
Menurut Hildebrand dalam Gunarti dkk (2012: 8.3), “karyawisata
berarti memperoleh kesempatan untuk mengobservasi, memperoleh
informasi atau mengkaji segala sesuatu secara langsung”. Welton dan
Mallon dalam Gunarti dkk (2012: 8.3) “karyawisata berarti membawa
anak usia dini ke objek-objek tertentu sebagai pengayaan pengajaran,
pemberian pengalaman belajar yang tidak mungkin diperoleh anak
didalam kelas”. Sedangkan menurut Foster dan Headley’s dalam
Gunarti dkk, (2012: 8.3), “karyawisata memberi kesempatan anak untuk
mengobservasi dan mengalami sendiri dari dekat”.
Metode karyawisata adalah suatu metode dimana pendidik
mengajak anak kesuatu tempat (objek) tertentu untuk mempelajarinya
lebih jauh. Metode karyawisata berguna bagi anak untuk membantu
mereka memahami kehidupan riil dalam lingkungan beserta segala
masalahnya” (Gunarti dkk, 2012: 8.3). Menurut Catherine Landreth
(Hildebrand, 1986), proses belajar anak usia dini lebih ditekankan pada
“berbuat” dari pada mendengarkan ceramah maka pembelajaran pada
anak usia dini lebih merupakan pemberian aktivitas yang mengarahkan
anak untuk belajar menurut pengalamannya sendiri dan membuat
kesimpulan dengan pikirannya sendiri. Hal ini sesuai dengan paradigma
belajar kontruktivisme yang menekankan bahwa anak membangun
sendiri pengetahuannya.
Hal ini berarti melalui karya wisata diharapkan anak mendapat
kesempatan yang luas untuk melakukan kegiatan dan dihadapkan
dengan bermacam bahan yang dapat menarik perhatiannya, memenuhi
rasa ingin tahunya dan mengadakan kajian terhadap fakta yang
dihadapi secara langsung. Karyawisata memberi kesempatan pada
anak untuk melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan meraba
benda-benda. Dengan memperoleh bermacam pengalaman dari hal-hal
yang menarik perhatiannya maka akan mendorong anak untuk
mengetahui dan mengkaji lebig lanjut tentang semua hal yang
dipersepsikan melalui panca inderanya.
Metode karyawisata, memiliki manfaat yang baik dalam
pengembangan perilaku dan kemampuan dasar anak pada usia 3-4
tahun. Adapun manfaat dari metode karyawisata dapat dipergunakan
untuk merangsang minat anak terhadap sesuatu, memperluas
informasi yang telah diperoleh, memberikan pengalaman mengenai
kenyataan yang ada, dan dapat menambah wawasan (Hildebrand,
dalam Gunarti, dkk, 2012: 8.4). Selain itu, metode karyawisata dapat
mempertajam kesan pengamatan anak sehingga memperjelas
pengertian tentang sesuatu hal. Serta dapat digunakan untuk
memproduksikan hal-hal yang diamati. Dengan metode karyawisata
anak dapat membangkitkan minatnya terhadap sesuatu hal,
memperluas perolehan informasi, dan memperkaya lingkup program
kegiatan belajarnya yang tidak mungkin dihadirkan dikelas, seperti
melihat bermacam hewan atau mengamati proses pertumbuhan.
Selain itu menurut Wiyani dan Barnawi dalam Latif, dkk (2013 :
115) manfaat dari karyawisata antara lain : (a) merangsang minat anak
terhadap sesuatu; (b) memperluas informasi yang diperoleh ditempat
kegiatan; (c) memberi pengalaman belajar secara langsung; (d)
menumbuhkan minat anak terhadap sesuatu; (e) menambah wawasan
anak; (f) menjadi sarana rekreasi; (g) memberi perasaan yang
menyenangkan; (h) sarana mempererat hubungan antara orangtua dan
pendidik PAUD, orangtua dengan orangtua, orangtua dengan anak,
serta anak dengan anak.
Dalam metode karyawisata, guru dapat mengajak anak belajar
secara langsung mengenai dunia binantang, dunia tanaman, tempat
pekerjaan, dan kehidupan manusia (Gunarti, ddk: 2012: 8.6-8.9).
menurut Gunarti, dkk (2012: 8.9-813) terdapat hal-hal penting yang
perlu diperhatian pendidik dalam menentukan tempat karyawisata
adalah sebagai berikut.
1. Menentukan tempat karyawisata dengan memprioritaskan yang
secara relatif lebih menunjang pengembangan aspek
perkembangan anak usia dini.
2. Menentukan kriteria yang kita pergunakan untuk memilih tempat
karyawisata.
3. Menentukan tempat karyawisata yang dapat mengembangkan
rasa kagum dan ingin tahu yang besar, menggerakkan anak
untuk menentukan sesuatu, berpikir, menalar, dan membuat
kesimpulan serta generalisasi.
Secara umum persiapan pendidik untuk melaksanakan
karyawisata meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
1. Menentapkan sasaran yang diprioritaskan sesuai dengan
tema kegiatan belajar yang dipilih.
2. Merumuskan program kegiatan melalui karyawisata.
3. Mengadakan hubungan dan pengenalan medan sasaran
karyawisata.
4. Koordinasi dengan pihak tempat karyawisata.
5. Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan.
6. Membuat kesepakatan bersama dengan anak tentang tata
tertib.
7. Permintaan izin dan partisipasi orangtua.
8. Aparsepsi pendidik dikelas kepada anak tentang tempat
wisata yang akan dituju.
Agar metode karyawisata dapat berhasil dengan baik, tujuan dari
kunjungan tersebut harus benar-benar direncanakan dengan baik dan
diberitahukan sebelum pelaksanaan. Berikut ini beberapa petunjuk
untuk mengorganisir aktifitas perjalanan ketika melakukan kegiatan
karyawisata (Gunarti, 2012: 8.12-8.13).
1. Tentukan tujuan dan hasil yang akan didapat dari aktifitas ini.
2. Sediakan informasi yang dapat membantu, seperti lokasi,
waktu, bahan-bahan sandang-pangan tepat, dan bahan-
bahan lain yang mendukung.
3. Atur kelompok-kelompok anak dan tentukan tanggung jawab
sederhana tiap kelompok.
4. Bicarakan kembali kejadian-kejadian yang dialami oleh anak
didalam kelas atau didalam kelompok-kelompok diskusi kecil
seusai perjalanan.
5. Anjurkan kepada anak untuk berbagi pengalaman dengan
teman-teman dikelas lain pihak administrasi sekolah,
orangtua anak, dan keluarga.
Metode karyawisata ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain”
1. Karyawisata menerapkan sistem pengembangan modern yang
memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
2. Bahan yang dipelajari disekolah menjadi lebih relevan dengan
kenyataan dan kebutuhan yang ada dimasyarakat.
3. Kegiatan pengembangan dapat lebih merangsang kreatifitas
anak.
B. Teknik Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia
3-4 Tahun melalui Metode Karyawisata
1. Pengembangan Fisik
Untuk mengembangkan fisik anak usia 3-4 tahun dengan metode
karyawisata dapat dilakukan antara lain dengan teknik-teknik berikut
(Gunarti, 2012: 8.19-8.23):
a. Menirukan Gerakan
Artinya anak dapat menirukan gerakan-gerakan benda sekitar
setelah mengamati.
b. Pantomim
Pantomim adalah suatu kegiatan yang memperagakan serangkaian
gerakan tanpa bersuara. Gerakan ini melibatkan seluruh tubuh,
tangan, kaki, kepala, jari. Gerakan yang diperagakan
mencerminkan suatu pekerjaan atau perbuatan. Dalam karyawisata
kegiatan ini dapat dilakukan setelah beberapa saat anak berjalan
dan mengamati sekeliling. Hendaknya anak diberikan kebebasan
untuk mengekspresikan gerakan sesuai dengan hasil
pengamatannya.
c. Bermain Bebas
Bermain bebas yang dilakukan dialam terbuka ditempat wisata
tersebut lebih mengeksplorasi pengembangan fisik dan gerakan-
gerakan yang melatih fungsi anggota tubuh. Bermain bebas dapat
dilakukan secara bebas oleh anak-anak atas inisiatif mereka
sendiri, juga dapat dilakukan atas inisiatif pendidik yang merupakan
salah satu program dalam acara karyawisata yang sudah
direncanakan sebelumnya, dapat dilakukan dengan kelompok atau
bersama (klasikal) dan melibatkan semua anak.
d. Berkendara
Kegiatan berkendara dapat dilakukan secara individual dan tidak
mungkin pendidik membawa sepeda/skuter dalam jumlah banyak
maka penggunaannya bisa bergantian dibawah pengawasan.
Berkendara bagi anak usia dini sangat menyenangkan karena
mereka menjadi pemegang kendali atas gerakan dan arah yang
mereka inginkan. Selain mengembangkan fisik dengan gerakan
mengayuh, mendorong, mengangkat, kegiatan ini juga melatih
kemandirian anak untuk berinisiatif, mengenal lingkungan, dan
mengatasi kesulitan.
e. Arena ketangkasan
Kegiatan ini dapat merupakan alternatif salah satu acara dalam
karyawisata dengan memanfaatkan tanah lapang yang ada disana.
Dapat melakukan gerakan berayun dengan tambang,
bergelantungan didahan pohon yang rendah, merayap di atas
tanah, memanjat jaring, naik tangga, dan sebagainya. Tentunya
kegiatan ini perlu disesuaikan tingkat kemampuan anak usia 3-4
tahun.
f. Arena Pasir dan Air
Bila didalam tempat karyawisata terdapat arena pasir dan air yang
akan sangat menguntungkan terutama untuk perkembangan
motorik halus anak. Aspek perkembangan lain yang dapat
dikembangkan melalui kegiatan bermain pasir dan air, antara lain
kreatifitas, intelektual, sosial, imajinasi, dan tentunya anak
mengenal alam sekitar tentang manfaat pasir dan air.
g. Variasi Berjalan
Sambil berjalan mengelilingi arena karyawisata, pendidik dapat
memimpin barisan dengan variasi berjalan, seperti berjalan dengan
kaki berjinjit, melompat dengan dua kaki, melompat dengan satu
kaki, jalan maju kedepan, dan mundur kebelakang atau kesamping.
h. Bantu diri
Salah satu tujuan karyawisata adalah melatih anak untuk mandiri
didunia yang sebenarnya, yaitu meningkatkan self-help. Secara
tidak langsung, karyawisata ini dengan sendirinya akan melatih
anak untuk membantu dirinya sendiri karena ia dihadapkan pada
situasi yang menuntutnya berlaku demikian.
i. Berkemah
Berkemah adalah miniatur kehidupan didunia nyata dimana anak
akan terasah life-skill-nya. Berkemah dapat mengembangkan
beberapa aspek perkembangan anak.

2. Pengembangan Kognitif
Menurut Gunarti, dkk (2012: 8.23-8.28) untuk mengembangkan
kognitif anak usia 3-4 tahun dengan metode karyawisata antara lain
dapat dilakukan dengan teknik-teknik berikut:
a. Mengidentifikasi sesuatu dan hubungan sebab akibat
Teknik ini adalah untuk mengembangkan kemampuan berfikir
kritis. Dengan mengenal identifikasi, proses dan asal muasal
sesuatu, anak akan berpikir, menemukan hubungan sebab
akibat dan mencari jawabannya sendiri dari hasil
pengamatannya, lalu dikuatkan dengan penjelasan pendidik.
b. Mengamati Alam Sekitar
Berdasarkan pengamatannya, anak akan mempelajari sesuatu
dan menarik kesimpulan. Dengan demikian anak akan
membangun pengetahuannya sendiri. Pendidik hanya perlu
memancing dan mempertajam kembali. Kegiatan yang dapat
dilakukan adalah memperbincangkan tentang hal-hal yang
diamati anak.
c. Membandingkan
Pada metode karyawisata, perbandingan dapat dilakukan anak
dengan cara membandingkan benda-benda yang dilihatnya.
Perbandingan yang dimaksud disini adalah membandingkan
benda yang berbeda secara distingtif (dua konsep yang berbeda
secara nyata) sesuai kemampuan yang dapat dicapai anak usia
3-4 tahun.
d. Mengklasifikasi
Klasifikasi adalah mengelompokkan sejumlah benda-benda.
Mengelompokkan merupakan salah satu bidang kemampuan
matematika. Anak dilatih berfikir kritis untuk mencari kesamaan
ciri-ciri dari sekelompok benda dan membedakannya dengan
benda-benda yang lain, untuk kemudian dikelompokkan
berdasarkan kesamaannya.
e. Menghitung benda dialam sekitar
Menghitung yang merupakan salah satu keterampilan matematis
dapat dilakukan dengan cara sambil lalu dengan percakapan
singkat atau tanya jawab.
f. Mengenal posisi
Sambil mengamati benda-benda di sekitarnya pendidik dapat
menanyakan konsep posisi.
g. Memecahkan masalah dan memprediksi
Tehnik ini berguna untuk mengembangkan kemampuan analitis
dan prediktif anak secara logis. Tehnik ini juga mengembangkan
kemampuan berfikir kreatif/ divergen dengan cara menanyakan
sesuatu yang imajinatif.
h. Menghitung gerakan
Melalui karyawisata anak bergerak bebas di alam terbuka.
Sambil bergerak anak dapat menghitung gerakan yang mereka
lakukan untuk melatih kemampuan berhitung sederhana.

3. Pengembangan Bahasa
Secara operasional pengembangan bahasa melalui metode
karyawisata dapat dilakukan dengan tehnik berikut.
a. Bercakap-cakap tentang proses yang sedang berlangsung
Bercakap-cakap dapat dilakukan sebagai dialog antara pendidik
dan anak, anak dan anak sehingga terjadi komunikasi dua arah.
Tehnik ini dapat dilakukan secara individual ataupun klasikal.
b. Tanya jawab
Dalam karyawisata kemampuan bahasa anak dapat
dikembangkan dengan tehnik tanya jawab. Pertanyaan yang
diajukan mengenai apa saja yang berkaitan dengan hasil
pengamatan anak ditempat karyawisata itu.
c. Menceritakan hasil pengamatan
Tehnik ini dapat dilakukan dengan cara memberi kesempatan
anak satu persatu tentang apa yang dilihatnya atau menarik
perhatiannya setelah proses karyawisata itu berlangsung.
d. Bermain peran tentang manusia yang diamati
Pengertian bermain peran menurut buku didaktik metodik
(depdikbud, 1998) adalah memerankan tokoh-tokoh atau
benda-benda disekitar anak dengan tujuan mengembangan
daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan
pengembangan yang dilaksanakan. Tehnik bermain peran akan
mengembangkan kemampuan berbahasa ekspresif karena anak
bebas berperan sesuai tokoh yang diperankannya, termasuk
dalam dialog yang terjadinya antartokoh. Dengan demikian,
teknik ini akan melatih anak untuk berkomunikasi dan berbicara
lancar. Teknik ini juga menanankan anak etika
berbicara/berkomunikasi, yaitu menjadi pendengar yang baik
dan bergantian dalam berbicara.
e. Mendengarkan Cerita
Kegiatan mendengarkan cerita melatih kemampuan bahasa
reseptif anak, yaitu menjadi pendengar yang baik. Dalam
karyawisata, pendidik perlu mempersiapkan cerita yang
berkaitan dengan tema, benda, tokoh, atau subjek yang akan
ditemui anak ditempat karyawisata. Teknik yang digunakan
dapat berupa membaca buku, menceritakan gambar berseri,
bercerita dengan alat peraga (boneka tangan atau gambar),
dengan papan flanel atau bercerita tanpa alat peraga. Kegiatan
ini dilakukan secara klasikal dengan membuka tanya-jawab
tentang cerita tersebut, atau dihubungan dengan apa yang telah
dilihat anak ditempat karyawisata itu.
f. Mengamati Buku yang Berkaitan dengan Tema Karyawisata
Kegiatan ini mengembangkan kemampuan membaca
permulaan pada anak (yaitu dengan membaca gambar) dan
menanamkan minat baca anak terhadap buku. Kegiatan ini
dilakukan secara individual dengan bimbingan seusai
pengamatan pada acara karyawisata.
g. Menulis huruf awal subjek yang diamati
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
menulis permulaan. Dengan kegiatan ini, anak akan
menghubungkan benda dengan tulisan yang diawali dengan
huruf tertentu. Anak dapat menulis dengan berbagai alat tulis
yang ditemui disekitar tempat wisata, misalnya arang, batu
kapur, stik kayu atau dapat menulisnya ditanah.
h. Tebak-terka rekaman suara
Salah satu kemampuan yang dikembangkan dalam
pengembangan bahasa adalah kemampuan mendengar.
Dengan teknik ini kemampuan menyimak anak menjadi terasa,
yaitu menghubungkan konsep suara dengan pengetahuan yang
ia miliki sebelumnya.

4. Pengembangan Moral dan Agama


Karyawisata dapat memperkuat hasil dari proses
pembiasaan prilaku yang diterapkan sehari-hari disekolah dan
dirumah. Kegiatan ini juga dilakukan secara nonformal beriringan
dengan kegiatan utama dan berlangsung singkat (bukan kegiatan
yang dirancang khusus dan memakan waktu yang lama). Teknik
untuk mengembangkan moral ddan agama melalui karyawisata
antara lain sebagai berikut (Gunarti: 2012: 8.36-8.37).
a. Berdo’a
Tujuan kegiatan ini adalah agar anak senantiasa ingat kepada
tuhan dan meminta perlindungan-Nya dalam setiap
perbuatan/pekerjaan.
b. Menyebutkan ciptaan tuhan
Pada saat kegiatan karyawisata banyak ciptaan tuhan yang
anak-anak lihat, sehingga guru dapat mnegajak anak untuk
menyebutkan ciptaan Tuhan tersebut.
c. Menjaga kebersihan bersama
Pada saat kegiatan karyawisata yang dekat dengan alam, anak-
anak perlu diberi pengarahan tentang pentingnya menjaga
kebersihan lingkungan yang berguna bagi manusia sendiri.
d. Pengarahan terhadap perilaku-perilaku moral dan agama yang
baik
Artinya, sepanjang melakukan kegiatan-kegiatan dalam
karyawisata, pendidik perlu terus menerus mengingatkan dan
mencontohkan anak untuk berperilaku baik.

5. Pengembangan Sosial Emosional


Teknik yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sosial
emosional anak melalui karyawisata antara lain sebagai berikut.
a. Membuat dan mentaati kesepakatan bersama
Sehari sebelum keberangkatan karyawisata, pendidik hendaknya
mengadakan apersepsi kegiatan tentang tema karyawisata,
termasuk rencana dan kegiatan yang akan dilakukan.
b. Berjalan bersama dan bergandengan tangan
Kegiatan ini dapat dilakukan anak-anak sewaktu berjalan dari
bus ketempat wisata, dari satu arena ke arena lainnya, ketika
menaiki dataran terjal, melewati jalan setapak, ketika berbaris
untuk antrian. Tujuan kegiatan ini untuk menggalang rasa
kebersamaan dan keselamatan anak agar tidak berpencar.
c. Bekerja kelompok
Kegiatan-kegiatan tertentu berupa penampilan atau unjuk kerja
selain karyawisata dapat dirancang untuk dilakukan secara
berkelompok agar berkembang keterampilan sosial pada diri
anak berupa kerjasama yang baik, toleransi, dan tanggung
jawab bersama.
d. Memberikan hadiah
Bila anak berkaryawisata kesuatu tempat yang menunjukkan
profesi seseorang yang berjasa pada kemanusiaan maka
merupakan saat yang tepat untuk menunjukkan simpati dan
penghargaan terhadap jasa orang itu.
e. Sosiodrama
Sosiodrama memperlihatkan terjadinya konflik antara para
tokohnya dan membutuhkan pemecahan masalah. Tujuan
kegiatan ini adalah memantapkan pemahaman anak tentang
tugas dan profesi tokoh yang ditemui dalam karyawisata,
menumbuhkan tanggung jawab sosial seandainya ia memiliki
peran itu dalam kehidupan masyarakat, dan bermusyawarah
dalam menyelesaikan masalah (Gunarti, dkk, 2012: 8.37-8.40).

6. Pengembangan Seni
Teknik yang dapat dilakukan untuk mengembangkan seni anak,
antara lain:
a. Mendengarkan musik
Sepanjang perjalan menuju tempat karyawisata, guru dapat
memperdengarkan lagu atau musik kepada anak, sehingga
dapat menimbulkan perasaan gembira, semangat, dan
kebersamaan. Anak juga dapat turut bernyanyi dan bertepuk
tangan sesui dengan irama lagu.
b. Menggambar apa yang dilihat
Menggambar apa yang dilihat dapat dilakukan ketika anak
sudah melalukan kegiatan karyawisata.
c. Bernyanyi
Kegiatan bernyanyi dalam kegiatan karyawisata dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu direncakan, artinya
pendidikan memang menyiapkan acara bernyanyi untuk anak
ketika melakukan karyawisata, dan tidak direncanakan,
artinya tidak ada kegiatan bernyanyi dalam kegiatan
karywisata tetapi dilakkukan ketika menuju atau pulang dari
kegiatan karyawisata.
d. Bermain musik
Bermain musik dapat dilakukan anak untuk mengenal
keadaan sekitar dengan cara memanfaatkan benda-benda
sekitar yang ditemui ditempat wisata yang dapat
emnghasilkan bunyi. Walaupun nada yang tidak pas dengan
lagu yang dibawakna, anak akan belajar untuk
menyingkronkan antara lagu dan musik yang dihasilkan dari
benda yang ditimbulkan, sehingga dapat mengasah
kreativitas dan ekspresi anak melalui musik.
e. Bergerak sesuai irama lagu
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara menggiringi
kegiatan bernyanyi, bermain musik, dan mendengarkan
musik. Kegiatan ini dapat mengasah kreativitas anak dan
ekspresi anak melalui gerakan yang dilakukan, serta dapat
mnegembangkan kemampuan anak untuk menangkap bunyi
da mewujudkannnya dalam gerakan sesuai irama lagu.

C. Implikasi Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak


Usia 3-4 melalui Metode Karyawisata
Implikasi merupakan sebuah penerapan yang dilakukan oleh guru
kepada peserta didik. Penerapan atau implikasi dari metode
karyawisata dalam pengembangan perilaku dan kemampuan dasar
anak usia 3-4 tahun. Dalam penerapannya, perlu dilakukan beberapa
hal agar tujuan dari metode karyawisata dapat terlaksana. Berikut ini
adalah tahap-tahapan yang perlu disiapkan (Gunarti, dkk, 2012: 8.45-
8.54):
1. Tahap perencanan; yang terdiri dari rancangan kegiatan,
peninjauna tempat kegiatan, menetapkan teknis kegiatan yang
akan dilakukan, menyiapkan media dan alat-alat yang
dibutuhkan, serta menyiapkan izin terlebih dahulu, baik dari
orang tua ataupun pihak yang berkaitan dengan tempat
pelaksanaan.
2. Tahap pelaksanaan; yang terdiri dari pembukaan. Pada
pembukaan, biasanya guru mengajak anak untuk menyanyikan
lagu yang berkaitan dengan tempat kunjungan, bercerita, serta
tanya jawab tentang kegiatan atau benda-benda yang ada
disekitar anak. Selanjutnya inti, kegiatan ini adalah proses
pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Dan yang terakhir penutup,
dengan kata lain anak menyampaikan kesimpulan dari kegiatan
yang dilakukan atau melakukan pendinginan atas apa yang
telah dilakukannya.

D. Penilaian, Umpan Balik dan Pengembangan Perilaku serta


Kemampuan Dasar Anak Usia 3-4 Tahun melalui Metode
Karyawisata
Dalam penilaian pengembangan perilaku dan kemampuan dasar
anak usia 3-4 tahun melalui metode karyawisata, dapat dilakukan 2
penilaian, yaitu penilaian terhadap proses dan penilaian terhadap
produk.
1. Pelilaina terhadap proses
Penilaina terhadap proses dapat ketika karyawisata itu
berlangsung yang dilakukan melalui pengamatan langsung
kemampuan yang dapat dicapai anak. Untuk penilaiannya
sendiri guru dapat menyiapkan alat observasi yang dapat
berupa ceklis atau skala sikap (ratting scale).
2. Penilaina terhadap produk
Produk yang dinilain melalui karyawisata merupakan hasil
refleksi anak terhadap pengamatan yang anak lakukan
selama kegiatan karyawisata berlangsung. Produk tersebut
dapat berujud karya yang berkaitan dengan tema karyawisata
yang biasanya akan dikerjakan di sekolah sebagai bentuk
tindak lanjut dari kegiatan karyawisata. Penilaian produk dari
metode karyawisata dapat berupa penerapan hasil belajar
dari kegiatan karyawisata ke dalam kegiatan kelas. Penilaian
produk ini dapat mengetahui sejauh mana kemampuan yang
telah dicapai oleh anak.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode karyawisata adalah sebuah metode yang memberikan
kesempatan kepadaa anak untuk mengetahui secara langsung dengan
cara pengamatan langsung pada suatu objek atau tempat yang sesuai
dengan kenyataan. Metode karyawisata memiliki manfaat dan tujuan
yang dapat merangsang minat anak dan memperluas pengatahuan
anak.
Dalam mengembangkan perilaku dan kemampuan dasar anak,
ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, yaitu untuk
mengembangkan kemampuan fisik dapat menggunakan teknik
menirukan gerakan, pantonim, bermain bebas, bermain bebas, area
ketangkasan, area pasir dan air, variasi berjalan, bantu diri, dan
berkemah. Untuk pengembangan kognitif, dapat dilakukan dengan cara
mengidentifikasi sesuatu yang berhubungan dengan sebab akibat,
mengamati alam sekitar, membandingkan benda, mengklasifikasi,
menghitung benda, mengenal posisi memecahkan masalah dan
memprediksi, serta menghitung gerakan. Untuk pengembangan
bahasa, dapat dilakukan dengan cara tanya jawab, bercerita, bermain
peran, mendengarkan cerita, mengamati buku, menulis awal kata, dan
menebak suara. Dalma perkembangan seni, guru dapat mengajak anak
mendengarkan musik, menggambar, bermain musik, serta bergerak
sesuai irawa lagu. Dalam pengembangan moral dan agama, guru dapat
mengajak anak untuk berdoa, menyebutkan ciptaan Tuhan, dan
menjaga kebersihan lingkungan. Dan dalam pengembangan sosial
emosional anak, guru dapat mengajak anak untuk membuat dan
mentaati peraturan, berjalan bersama sambil bergandengan tangan,
bekerja dalam kelompok, memberikna hadiah, dan sosiodrama.
Dalam pelaksanaan atau penerapan metode karyawisata, terdapat
beberapa tahap yang harus dipersiapkan, antara lain perencanaan
yang terdiri dari rancangan kegiatan, peninjauan tempat, teknis
kegiatan, penyiapan media dan alat yang diguankan, serta izin dari
orang tua atau pihak yang terkait dengan tempat wisata. Selanjutnya
tahap pelaksanaan yang terdiri dari pembukaan, pelaksanaan kegiatan
serta penutup.
Dalam penilaian dan umpan balik dari metode karyawisata, guru
dapat menggunakan penilaian proses yang dapat dilihat dari ceklis dan
skala sikap, serta penilaian terhadap produk atau perubahan yang
dicapai anak setelah mengikuti kegiatan karyawisata.

B. Saran
1. Bagi Orang Tua
Bagi orang tua, diharapkan agar dapat memberikan izin atau
kebebasan kepada anak ketika anak melakukan kegiatan
karyawisata. Sehingga tujuan dan manfaat karyawisata dapat
tercapai untuk perkembangan perilaku dan kemampuan dasar anak.

2. Bagi Sekolah/ Lembaga Pendidikan


Bagi sekolah/ lembaga pendidikan, diharapkan agar dapat menyusun
perencanaan, tujuan, dan manfaat dari kegiatan karyawisata,
sehingga karyawisata tidak hanya dijadikan sebagai ajang jalan-jalan
sebagai media menyenagkan diri.
DAFTAR PUSTAKA

Gunarti, Winda, dkk. 2012. Metodelogi Pengembangan Perilaku Dan


Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Tanggerang Selatan:
Universitas Terbuka.

Latif, Mukhtar, dkk. 2014. Orientasi Baru Pendidikan anak Usia Dini: Teori
dan aplikasinya. Jakarta: Kencana.