Anda di halaman 1dari 4

5.

Jika keberadaan oksigen menjadi faktor penting dalam menopang hidup sel, bagaimana
anda mendesain reaktor anda terkait dengan sistem aerasi yang optimal? Dan bagaimana
pula jika diinginkan sebaliknya (tanpa oksigen)?

Jawab:

A. Desain Bioreaktor Aerobik


Bioreaktor aerobik didesain untuk memanfaatkan pendegradasian limbah dengan
mengontrol kondisi dari bakteri aerob agar tumbuh dengan subur. Pengelolaan secara aerobik
dapat mempercepat dekomposisi dari limbah dengan cara menambahkan udara dan air
kedalam limbah yang akan diolah, keduanya dibutuhkan untuk aktivitas aerobik.
Keuntungan utama dari bioreaktor aerobik adalah telah ditemukan bagaimana untuk
mendapatkan stabilitas dari limbah yang lebih cepat dan hasilnya adalah air lindi dengan
kualitaas tinggi dibandingkan dengan sistem anaerobik. Sebagai tambahan, jenis reaktor
aerob dalam managemen limbah sangat cocok jika digunakan untuk tempat pembuangan
limbah yang tidak bisa mengubah gas metana menjadi energi dengan kuantitas yang cukup.
Pada gambar 8 di bawah ini menunjukkan alur dari lindi/ penambahan cairan dan injeksi
udara dalam sistem bioreaktor aerob pada umumnya.

Gambar 9. Desain sistem bioreaktor aerobik

(sumber : Waste Management, Inc. and retrieved from US EPA)

Proses bioreaktor aerobik pada dasarnya merupakan proses operasi composting skala
besar, oleh karena itu sering disebut in situ composting. Seperti yang ditunjukkan pada
gambar 8, udara dan cairan ditambahkan kedalam limbah untuk menggalakkan temperatur
dan kelembapan yang diinginkan untuk kondisi dekomposisi secara aerobik. Proses
degradasi untuk menghasilkan aktivitas biologis di dapat dengan mengatur kondisi
temperatur sepanjang aliran limbah dan monitoring aliran udara sehingga ventilasi gas dalam
kondisi optimal dalam penambahan udara dan cairan untuk di tambahkan.
Komponen dari sistem operasi bioreaktor aerobik umumnya memiliki :
1. Sumur injeksi udara dan air lindi umumnya dipisahkan oleh kisi dengan variasi
kedalaman sepanjang kumpulan limbah untuk meningkatkan distribusi penambahan
air dan udara.
2. Sistem pengumpulan air lindi di desain untuk mengumpulkan dan menyimpan air
lindi untuk resrikulasi.
3. Sistem injeksi udara termasuk blower dan sistem distribusi/kontrol untuk
menginjeksi udara kedalam kumpulan limbah.
4. Sistem injeksi air lindi merupakan sistem distribusi dari air lindi yang tersebardari
tangki penyimpanan ke kumpulan limbah.
5. Sumur Ventilasi di desain untuk ventilasi CO2 dan produksi panas selama
dekomposisi, umumnya terpisah 50 hingga 100 kaki dari tangki limbah.
6. Sistem monitoring temperatur dan aliran udara sebagai tempat/wadah diletakkannya
limbah yang akan di olah.

B. Desain Bioreaktor Anaerobik


Bioreaktor anaerobik memiliki keunggulan dalam meningkatkan pembentukan metana
dengan menguras oksigen di lingkungan, di dapatkan dengan menambkahkan air lindi dan
cairan tambahan untuk mencapai kelembapan optimal sebanyak 35-34 % v/w. Cairan
tersebut menghasilkan LFG lebih cepat dibandingkan metode konvensional pengolahan
limbah yaitu dry bomb. meningkatnya yield metana dapat menguntungkan secara ekonomi.
Gambar 9 menunjukkan alur dari air lindi dan larutan tambahan serta pengumpulan gas
dalam sistem bioreaktor anaerobik pada umumnya.

Gambar 10. Desain sistem


bioreaktor anerobik
(sumber : Graphic developed by
Waste Management, Inc. and
retrieved from US EPA)
Komponen dari sistem operasi bioreaktor anaerobik umumnya memiliki :

1. Sumur injeksi air lindi umumnya dipisahkan oleh kisi dengan variasi kedalaman
sepanjang kumpulan limbah untuk meningkatkan distribusi penambahan air dan udara.
2. Sistem pengumpulan air lindi di desain untuk mengumpulkan dan menyimpan air lindi
untuk resrikulasi.
3. Sistem injeksi air lindi merupakan sistem distribusi dari air lindi yang tersebar dari
tangki penyimpanan ke kumpulan limbah.
4. Sistem ekstraksi gas mengumpulkan dan mengekstrak metana yang terbentuk dari
limbah dekomposisi.
5. Flow Meters memonitor aliran LFG dan karakteristiknya.
6. Sistem monitoring ditempatkan sepanjang aliran limbah untuk memonitor temperatur,
sistem dan operasi instrumen.

6. Menjaga kestabilan suhu sering menjadi faktor utama dalam menjalankan pembiakan sel.
Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan dalam mendesain reaktor untuk menjaga kestabilan
suhu tersebut?

Jawab:

Dalam mendesain reaktor dengan menstabilkan suhu kita harus memilih peralatan
kontrol suhu yang benar untuk mengkompensasi reaksi eksotermik dan endotermik
memiliki banyak pertimbangan. Untuk mulai dengan, kisaran suhu yang diperlukan perlu
ditentukan :
 Bila menggunakan reaktor kecil 10 L atau kurang, dalam kombinasi dengan kisaran
suhu 13°C di atas ambient (33°C set-point di ruang 20°C) dan reaksi adalah
endotermik, statis, circulator bath dipanaskan harus cukup mengatur muatan.
 Bila menggunakan reaktor yang lebih besar yang masih membutuhkan pemanasan,
langkah-langkah pengendalian suhu dapat diimplementasikan untuk menyediakan
kebutuhan panas awal serta kapasitas dingin yang diperlukan.
 Jika titik suhu terendah adalah di dekat atau di bawah ambient, reaksi eksotermis, atau
perubahan suhu yang dikendalikan dari tinggi ke rendah diperlukan, maka circulator
bath dengan pendingin atau chiller yang lebih besar akan diperlukan.

Sedangkan pada sebagian besar laboratorium dalam pengkulturan sel tanaman, suhu
yang digunakan adalah konstan, yaitu 25°C (kisaran suhu 17-32°C). Tanaman tropis
umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi dari tanaman empat musim, yaitu
27°C (kisaran suhu 24-32°C). Bila suhu siang dan malam diatur berbeda, maka perbedaan
umumnya adalah 4-8°C, variasi yang biasa dilakukan adalah 25°C siang dan 20°C malam,
atau 28°C siang dan 24°C malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat tumbuh pada
kisaran suhu tersebut, namun kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis tanaman
umumnya berbeda-beda. Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya.
Pada suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada
suhu diatas optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat akibat tingginya laju respirasi
eksplan.