Anda di halaman 1dari 19

GEOLOGI INDONESIA

PULAU BALI dan KEPULAUAN NUSA TENGGARA

1. Fisiografi Pulau Bali dan Pulau Nusa Tenggara


1.1 Fisiografi Bali

Sebagian besar wilayah Bali didominasi oleh pegunungan dan perbukitan. Relief
Provinsi Bali berupa jajaran pegunungan yang memanjang dari Barat ke timur. Diantara
pegunungan tersebut, masih terdapat gunungapi yang masih terdapat gunungapi yang
masih menunjukkan aktifitas vulkanik, yaitu gunung Agung (3,142 m) dan gunung Batur
(1.717 m). Beberapa gunung lainnya memiliki ketinggian antara 1.000-2.000 m.

Pegunungan yang berada di bagaian tengah Bali tengah Pulau Bali menyebabkan
wilayah ini terjadi menjadi dua bagian, yaitu Bali Utara yang berupa daratan rendah
sempit dari kaki perbukitan serta kaki pegunungan dan di Bali Selatan berupa daratan
rendah yang luas dan landai. Pulau Bali memiliki kemiringan lereng yang variatif yakni
antara 0-2% sampai dengan 15-40 % yang didominasi sebagian besar wilayah dan
kemiringan di atas 40%.

Lahan enga kemiringan 0-2% mendominasi daerah pantai sebagian selatan dan
sebagian kecil pantai bagian utara Pulau Bali, dengan luas area 96,129 ha. Sedangkan
dengan kemiringan 2-15% sebagian besar terdapat di wilayah kabupaten Badung,
Tabanan, Gianyar, Buleleng, dan sisanya tersebar secara merata di daerah sekitar pantai
dengan luas mencapai 132.056 ha. Daerah dengan kemiringan 15-40% meliputi areal
seluas 164.749 ha, secara dominan terdapat wilayah bagian tengah Pulau Bali, mengikuti
daerah perbukitan yang membentang dari arah barat ke timur wilayah ini. Daerah dengan
kemiringan melebihi 40% merupakan daerah pegunungan dan perbukitan yang terletak
pada bagian Pulau Nusa Penida (Purnomo,2010).

Untuk menentukan tingkat kesuaian lahan, maka lahan dengan kemiringan dibawah
40% dilihat pada peruntukannya. Namun pada tingkat kemiringan tersebut
umumnyamasih dapat diusahakan untuk budidaya. Akan tetapi untuk lahan dengan
kemiringan 40% perlu evaluasi lebih lanjut apabila akan dijadikan sebagai usaha
budidaya. Ditinjau dari ketinggian tempat, menurut BITD Provensi Bali (2010). Pulau
Bali terdiri dari kelompok lahan sebagai berikut :
a. Lahan dengan ketinggian 0-50 m di atas permukaan laut mempunyai permukaan
yang cukup landai meliputi areal seluas 77,321,38 ha.
b. Lahan dengan ketinggian 50 -100 m di atas permukaan laut mempunyai
permukaan berombak sampai bergelombang dengan luas 60.620,34 ha.
c. Lahan dengan ketinggian 100 - 500 m di seluas 211.923,85 ha didominasi oleh
keadaan permukaan bergelombang sampai berbukit.
d. Lahan dengan ketinggian 500 - 1.000 m di atas permukaan laut seluas 145.188,61
ha.
e. Lahan dengan ketinggian di atas 1.000 m di atas permukaan laut seluas 68.231,90 ha

1.2 Fisiografi Nusa Tenggara

Nusa Tenggara merupakan kepulauan yang terletak pada dua jalur genatiklinal hasil
perluasan busur banda di sebelah barat. Genatiklinal tersebut membujur dari Pulau-pulau
di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang merupakan perluasan busur
Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang membujur dari timur sampai pulau-pulau
Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara, Flores, Rinca,
Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan dibagian selatan dibentuk oleh pulau-
pulau Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana. Punggungan geantiklinal tersebut bercabang
di daerah Sawu. Salah satu cabangnya membentuk sebuah ambang yang turun ke laut
melewati Raijua dan Dana, berakhir ke arah punggungan bawah laut di selatan Jawa.
Cabang lain merupakan rantai penghubung dengan busur dalam yang melintasi daerah
dekat Sunda.
Secara umum, fisiografi Nusa Tenggara Barat adalah sebagai berikut:

a. Daratan : 3 %
b. Laut, Sungai, Danau : 1 %
c. Vulkanik : 90 %
d. Denudasional : 5 %
e. Karst : 1 %

Sedangkan fisiografi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut:

a. Daratan : 10 %
b. Vulkanik : 36 %
c. Karst : 6 %
d. Struktural : 45 %
e. Laut, Sungai, Danau : 3 %
f. Palung Belakang

Di sebelah timur Flores dibentuk oleh bagian barat basin Banda selatan. Di
sebelah utara Flores dan Sumbawa terbentang laut Flores, yang dibedakan menjadi
tiga bagian, yaitu: Laut Flores Barat laut, berupa dataran (platform) yang luas dan
dangkal, yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan dangkalan Sunda.
Kedua, Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak di sebelah
selatan volkan Lompobatang, yang berhubungan dengan depresi Walanae. Sedangkan
dasarnya terletak di sepanjang pantai utara Flores, yang merupakan bagian terdalam (-
5140). Ketiga, Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan palung diantaranya,
yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan punggungan bawah laut Batu
Tara.

1.2.1 Busur Dalam

Busur dalam Nusa Tenggara merupakan kelanjutan dari Jawa menuju Busur
Dalam Banda. Di Nusa Tenggara merupakan punggungan geantiklinal. Selat
diantara pulau di bagian barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke arah timur.
Fisiografi Sumbawa yang khas adalah adanya depresi yang memisahkan geantiklinal
menjadi beberapa bagian, diantaranya berupa teluk di bagian timur. Teluk tersebut
dipisahkan dari laut oleh pulau Mojo yang memberikan sifat khas dari depresi antar
pegunungan pada puncak geantiklinal.
1.2.2 Palung Antara dengan Sumba

Palung ini berada di antara busurdalam volkanis Jawa-Bali-Lombok dan


punggungan dasar laut sebelah selatan Jawa. Bagian terdalam terdapat di selatan
Lombok, bercabang dua ke arah timur menjadi dua cabang yaitu sebelah utara dan
selatan Sumba. Cabangcabang ini merupakan penghubung antara palung sebelah
selatan Jawa dan Basin Sawu antara Flores timur dan Roti.

1.2.3 Busur Luar

Pulau-pulau di nusa tenggara yang termasuk busur luar adalah: Dana, Raijua,
Sawu, Roti, Seman dan Timor. Punggungan dasar laut dari selatan Jawa muncul
sampai 1200m dibawah permukaan laut, selanjutnya turun ke arah timur sampai
4000 m. Palung antara tersebut sebagian terangkat. Selanjutnya sumbu geantiklinal
itu naik lagi sampai ke pulau-pulau Sawu, Dana, Raijua, dan Sawu.

1.2.4 Palung Depan

Palung depan Jawa dari sistem pegunungan Sunda itu membentang ke arah
timur. Sampai di Sumba kedalamannya berkurang dan di sebelah selatan Sawu
melengkung ke timur laut sejajar dengan Timor. Sampai di pulau Roti dipisahkan
oleh punggungan (1940 m) terhadap palung Timor.

2. Pross Terbentuknya Kepulauan Nusa Tenggara Di Indonesia

Proses geologi digolongkan menjadi proses Eksogenik dan Endogenik

2.1. Proses Eksogenik

Proses eksogenik adalah proses yang disebabkan oleh tenaga yang berasal dari luar
tubuh bumi . Proses inoi terdiri dari :

a. Pelapukan bantuan

Pelapukan adalah peristiwa penghancuraan massa batuan,baik secara fisik


maupun secara kimiawi,maupun secara biologis,proses pelapukan batuan
membutuhkan waktu yang sangat lama. Semua proses pelapukan umumnya
dipengaruhi oleh cuaca.Batuan yang telah mengalami proses pelapukan akan
berubah menjadi tanah Apabila tanah tersebut tidak tercampur dengan mineral
lainnya, maka tanah tersebut dinamakan tanah mineral.
b. Erosi dan Sedimentasi

Erosi merupakan peristiwa pengikisan tanah,sedimen,batuan,dan partikel


lain,akibat angin,air dan se dan karakteristik hujan.Erosi dibedakan oleh jenis tenaga
perombakan yaitu: Erosi air,erosi angin,erosi gelombang laut(abarasi/erosi
marin),erosi gletser.Sedangkan Sedimentadi adalah proses pengendapan material
yang ditranspor oleh media air ,angin,es atau gletser disuatu cekungan.

c. Gerakan massa

Gerakan massa adalah proses berpindahnya tanah atau batuan tanah atau
batuan disebabkan oleh gaya gravitasi bumi .

2.2 Preses Endogenik

Preses endogenik adalah proses yang disebabkan oleh tenaga yang berasal dari
dalam tubuh bumi.Proses ini dapat digolongkan menjadi :

a. Epirogenesis
b. Orogenesis
c. Vulkanisme
d. Gempabumi

Indonesia telah dikenal luas sebagai kepulauan terbesar didunia.Dalam


berbagai literatul keilmuan,disebutkan bahwa jumlah pulau yang dimiliki indonesia
sekitar 17.500 pulau . Menurut ilmu kebumian yang lazim saat ini,pembentukan
kepulaun Indonesia terkait dengan teori tektonik lempeng. Teori ini adalah teori yang
menjelaskan pergerakan dikulit bumi sehingga memunculkan bentuk permukaan
bumi.Pergerakan diawali dengan menunjamnya lempeng dasar samudra yang
disebabkan oleh desakanlempeng benua yang lebih tebal dan keras dan di tempat
inilah terbentuk palung laut .

Dampak dari pergerakan lempeng terhadap wilayah indonesia rawan akan


gempa bumi (namun juga kaya sumber daya mineral) Padahal indonesia terletak pada
pertemuan empat lempeng benua (Lempeng Eurasia,Indonesia,Australia,Filipina dan
Pasifik)

Lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak 5-9 cm pertahun dan karena massa


batuan yang bergerak besar maka energi yang dihasilkan besar pula.Hal tersebut
terdampak bukan hanya pada banyaknya aktifitas vulkaniks dan tektonis di Indonesia
, Tapi juga yenaga besar yang terjadi pada fenomena-fenomena tersebut.
Adanya pergerakan subduksi antara dua lempeng kemudian menyebabkan
terbentuknya deretan gunung api dan parit samudra . Demikian pula subduksi antara
lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menyebabkan terbentuknya deretan
guung api yang tidak lain adalah Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan deretan gunung
api di sepanjang pulau Jawa,Bali dan Lombok ,serta parit Samudra yang tidak lain
adalah Parit Jawa (Sunda).

a. Proses terbentuknya Pulau Bali


Proses terbentuknya pulau bali dikarenakan adanya kegiatan dilautan selama
kala Miosen bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan Breksi yang
disisipi oleh batu gamping.
Dibagian selatan terjadi pengendapan pleh batu Gamping yang kemudian
membentuk Formasi Selatan.Di jalur yang berbatasan dengan tepi utaranya terjadi
pengendapan sedimen yang lebih halus.
Pada akhir kali Pliosen,Seluruh daerah pengendapan itu muncul diatas
permukaan laut.Bersamaan dengan pengangakatan , terjadi pergeseran yang
menyebabkan berbagai bagian tersesarkan satu terhadap yang lainnya.selama
Kala Pliosen dilaut sebelah utara terjadi endapan berupa bahan yang berasal dari
endapan yang kemudian menghasilkan Formasi Asah. Di barat laut sebagian dari
batuan muncul keatas permukaan laut.Semantara itu semakin ke utara
pengendapan Batuan Karbonat lebih dominan . Seluruh jalur itu pada akhir
Pliosen terangkat dan tersesarkan .
Sering dengan terjadinya dua kaldera , yaitu mula-mula Kaldera buyan-bratan
fan kemudia Kaldera Batur,Pulau bali masih mengalami gerakan yang
menyebabkan pengangkatan di bagian utara .Akibatnya,Formasi Palasari
terangakat ke permukaan laut dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai
penampang Utara-Selatan yang tidak simetris. Geologi pulau bali tergolong masih
muda .Batuan tertua kemungkinan berumur Miosen Tengah.

b. Proses terbentuknya pulau Nusa Tenggara


Secara Geologi , kebanyakan pulau-pulau penyusun Nusa Tenggara muda
umurnya ,dari 1-5 juta tahun saja (Audley-Charles,1987) dan terjadi sebagai
pulau-pulau Oseanik yang tak pernah terjadi berhubungan dengan massa kontinen
besar . Pukau-pulau ini terjadi di tempat sebagai busur kepulauan akibat proses
subduksi antara lempeng samudra Hindia dengan lempeng samudra disebelah
timur-tenggara Sunda-land . Umurnya yang muda dan isolasinya dari daratan
besar akan berpengaruh terhadap evolusi flora dan faunanya.Migrasi spesies
terbatas dan spesies yang berhasil mengkoloni pulau-pulau ini kemudian akan
terisolasi,lalu cenderung berevolusi menjadi biota endemik .

Pulau-pulau di Nusa Tenggara mengikuti dua busur, bagian timur busur


Sunda (Bali,Lombok,Sumbawa,Flores bagian barat), yang bagian barat Busur
Banda (Flores bagian Timur,Alor,Wetar,Romang,Danar,Teun,Nila,Serua)
Dimana batas ini sesungguhnya masih diperdebatkan.Sumba merupakan Blokn
ekslusif dalam hal ini ,uniknya .susunan dua busur ini diikuti pula oleh dua sistem
palung yang berbeda .Palung yang berasosiasi dengan Busur Sunda adalah Palung
Sunda (Sunda Tench) di selatan Bali-Sumbawa yang menunjam membentuk
palung dengan kedalaman 6 km. Disini lempeng Samudra Hindia menunjam ke
bawah Nusa Tenggara . Sistem palung ini berhenti di sebelah selatan Pulau
Sumbawa . Lalu sistem palung berikutnya adalah Palung Timur (Timut Trough)
yang dimulai disebelah selatan Pulau Sumba ke arah timur laut . Disini lempeng
benua Australia menunjam di bawag Nusa Tenggara dan Timor-Tanimbar sampai
kedalaman 3 km.

Bila subduksi lempeng samudera Hidia di Palung Sunda telah membentuk


pulau-pulau volkanik busur Kepulauan Bali,Lombok,Sumbawa,Flores,Alor,
Wetar,Romang,Teun,Nila,Damar dan Serua maka penunjam lempeng benua
Australia di Palung Timor-Tanibar telah membentuk pulau-pulau non volkanik
yang disusun oleh melange dimulaiu dari Rote,Timur,dan Tanimbar ,Dua sistem
busur kepulauan ini telah membentuk dua sistem kepulauan sebelah dalam yang
Volkanik-Inner Volkanic Island Arc (Bali,Lombok,Sumbawa,Flores,Alor,
Wetar,Romang,Teun,Nila,Damar dan Serua ) dan busur kepulauan sebelah luar
yang NonVolcanic-Outer Non-Volcanic Island Arc (Rote,Timor Tanimbar)

Meskipun demikian perlu diketahui bahwa pembagian menjadi dua sistem


busur kepulauan ini hanya penyederhanaan.Evolusi busur kepulaun dalam yang
Volkanik mulai dari Flores bagian Timut sampai Serua(Busur Banda) lebih
kompleks dari pada Busur Sunda (Bali,Lombok,Sumbawa,Flores bagian
barat).Pulau-pulau volkanik Busur Banda sejak Pliosen (5 juta tahun yang lalu)
berada dibelakang sistem penunjam Palug Timor , dan ini telah memengaruhi
karakter terktonik dan volkanisme pulau-pulau ini berhubungan dengan adanya
lempeng samudra tua yang terletak di depan lempeng benua Australia yang
tersesat masuk kedalam Palung Timor.

Sesungguhnya , banyak pulau di Nusa Tenggara baru muncul diantara 10-1


juta tahun yang lalu. Pulau-pulau yang membentuk busur kepulauan sebelah
dalam yang volkanik (Bali, Lombok, Sumbawa, Komdo, Flores, Alor, Solor,
Adonara, Lomben, Patar,Atauro Wetar,Romang,Teun,Nila,Damar Serua dan
Manuk) merupakan pulau-pulau Vulkanik muda yang terjadi dan muncul
dipermukaan pada Miosen akhir-Pliosen. Pulau-pulau vulkanik ini sering
mempunyai batu gamping terumbu dan tepinya ,atau material sedimen lainnya
yang dierosi dari badan utama pulau dan tumbuh di antara lidah-lidah lava atau
bentuk ekstrusi lainnya. Lombok dan Sumbawa merupakan pulau-pulau di Busar
Sunda yang paling timur, Sebagian ada yang mengatakan Komodo dan Flores
bagian barat merupakan kelanjutannya meskipun bisa diperdebatkan .
Diskontinuitas antara Busur Sunda dan Busur Sumba dipisahkan oleh Sumba
Fracture . Menarik , mengkaji lebih jauh pulau Komodo di’Junction’ antara dua
sistem busur ini dan posisi Pulau Sumba disebelah selatannya .

Secara umum dari Bali ke Lombok,ke Sumbawa dan terus sampai ke timurnya
umur batuannya yang ekivalen secara litologi semakin muda umumnya ini
menunjukan bahwa pembentukan pulau-pulau Nusa Tenggara di mulai dari barat
ke timur

3. Aktivitas Vulkanologi Di Pulau Bali Dan Nusa Tenggara

Pulau Bali Bali dan Nusa Tenggara, merupakan Pulau yang terdapat di daerah Cincin
Api Pasifik, sebuah kawasan di sekeliling Samudra Pasifik di mana beberapa lempeng
tektonik bertemu, menyebabkan gempa bumi dan serangkaian apa yang disebut para
geolog sebagai gunung api subduksi. Itulahsebabnyamengapa di daerahPulau Bali dan
Nusa Tenggara terdapat aktivits dan banyak gunungapi.

3.1 Pulau Bali

Awalnya pulau Bali sendiri terbentuk karena terjadinya aktivitas gunungapi


bawah laut yang terletak di timur Pulau Jawa 23 juta tahun yang lalu. Akibataktivita
situ, magma panas keluar dari perut bumi, mengendap, dan mengalami pengerasan.
Dari hasil aktivitas selama beberapa waktu itu akhirnya membentuk daratan yang
kini dikenal sebagai Pulau Bali yang sebelumnya bergabung dengan Pulau Jawa.

Kegiatan gunungapi lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan


gunungapi dari barat ketimur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera, yaitu mula-
mula kaldera Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau Bali masih
mengalami gerakan yang menyebabkan pengangkatan di bagianutara.

3.2 Pulau Nusa Tenggara


3.2.1 Nusa Tenggara Barat
Berdasarkan tatanan geologi Indonesia, wilayah Nusa Tenggara Barat
terletak pada dua lempeng besar (Lempeng Hindia-Australia dan Lempeng
Eurasia) yang berinteraksi dan saling berbenturan satu dengan yang lainnya.
Batas kedua lempeng ini merupakan daerah yang sangat labil, ditandai dengan
munculnya tiga gunungapi aktif Tipe A (Rinjani, Tambora, dan Sangeansapi).
Tambora adalah salah satu gunungapi yang termasuk golongan Super Vulkano
yang pernah meletus di Indonesia. Letusan raksasa gunung api ini yang terjadi
pada tanggal 9 April 1815 melontarkan + 50 km3 material magmatik ke udara
(dari total + 150 km3 material produk letusan 1815), dan endapan jatuhan
pirok-lastiknya menyebar hingga ke Pulau Kalimantan dan Jawa, atau lebih
dari 1300 km dari pusat erupsi. Erupsi gunu ng api i ni m en yi sa kan
kal dera berdiameter 6 sampai 7 km dengan kedalaman 1100 - 1300 m dari
bibir kaldera . Sebelum letusan 1815 tinggi gunung api ini diperkirakan
mencapai 4000 m di atas permukaan laut (Stothers, 1984; Sigurdsson & Carey,
1989). Berdasarkan kajian citra satelit, penelitian di lapangan dan studi
pustaka, produk erupsi Gunung Tambora (1815) menyelimuti hampir seluruh
per-mukaan semenanjung Tambora, yang terdiri atas endapan awan panas
letusan yang menyebar hingga mencapai pantai Sanggar, Kananga, dan
Doropeti, atau lebih kurang 30 km dari pusat erupsi (Sigurds-son & Carey,
1989; Kartadinata, 1997; Sutawidjaja drr., 2005).
3.2.2 Nusa Tenggara Timur

Brouwer (1917) mengemukakan absenya aktivitas vulakanisme


didaerah ini karena jalan keluarnya magma tersubat sebagai akibat dari
pergeseran lempeng Australia ke utara. Pendapat Brouwer ini mendapat
tantangan dari para ahli belakangan ini termasuk Van Bemmelen karena tidak
ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya pergeseran secara lateral ke utara
disekitar P. Bantar-P. Alor, tempat mulai absenya aktivitas vulkanisme kearah
timur. Juga tidak ada perubahan arah struktural pada busur luar yang
menandakan pengaruh tekanan blok Australia, padahal busur luar inilah yang
akan terlebih dahulu tenderita tekanan tersebut. Lebih jauh, Van Bemmelen
mengemukakan alasannya bahwa bila ditelusuri terus ke timur maka deretan
busur dalam yang tidak vulkanis ini tidak bersambung dengan deretan busur
dalam Damar-Banda yang vulkanis, tetapi dengan zona Ambon yang tidak
vulkanis.

Menurut Van Bemmelen absennya aktivitas vulkanisme dari alor ke


timur dan juga zona Ambon terjadi karena berbatasan dengan dangkalan
sahul.
Faktor lokal lainnya yang mungkin berpengaruh adalah:

1. Gaya endogen dari lapisan tektonosfer telah habis


2. Puncak asthenolithnya mungkin mengalami pembekuan sehingga saluran
magma yang keluar tersumbat.

4. AKTIVITAS SEISMOLOGI

Aktivitasgempabumidangkal di Daerah Bali hasilcatatanjejaringseismik regional Bali


selamaperiode 1991 hingga 1999,
menunjukkanadanyabeberapaklasteraktivitasseismikdangkal.
Polasebaranhiposentermenunjukkanadanyakecenderunganmakinkearahselatanhiposenternya
makindalam.Seluruhgempabumi yang terjaditernyatamemilikitipepenyesarannaik.
Petaseismisitaslokal Daerah Bali periode
1991-1999

Berdasarkan data strike


diketahuisebagianbesarbidangsesarnyaparaleldenganbusurkepulauanyaituberarahTimur-
Barat.
Hasilpenelitianinisemakinmengokohkanpendapatbahwatelahterbentuksebuahstruktursesarnai
k di balakangbusurkepulauan (Bali back arc thrust), sehinggacekungan Bali
adalahsuatukeadaan yang menurunsecararelatifsebagaiakibatadanyasesarnaikbelakangbusur.
Daerah Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan tingkat
aktifitas kegempaan yang tinggi di Indonesia. Subduksi lempeng Indo-Australia terhadap
lempeng Eurasia dengan kecepatan 7 cm per tahun (Demets et al., 1994), telah menghasilkan
efek berupa struktur geologi sesar aktif di Daerah Bali dan kepulauan Nusa Tenggara.
Berdasarkan kondisi tektonik inilah maka aktifitas kegempaan di Bali dan Nusa Tenggara
sangat dipengaruhi oleh dua generator gempabumi, yaitu aktifitas subduksi lempeng dan
aktifitas sesar-sesar lokal.

Distribusipusatgempabumitersebardi depandanbelakangzonapenunjaman lempeng, sebagian


besar terkonsentrasi di selatan busur kepulauan Jawa, Bali dan Nusa tenggara. Aktivitas
seismisitas yang terletak di sekitar palung samudera merupakan gempabumi hasil subduksi
lempeng. Sedangkan aktivitas gempabumi dangkal yang berpusat di daratan Bali lebih
banyak disebabkan oleh aktifitas sesar aktif yang umumnya berarah baratlaut-tenggara atau
barat-timur (McCaffrey & Nabelek, 1987).
Studiseismisitaslokal Daerah Bali hasilpencatatanjaringanseismiklokal yang
dilakukanolehMasturyono (1994)
memperolehhasilanalisisbahwaseismisitasgempabumilokaldandangkalmemberipetunjukadany
astruktursesarnaikbelakangbusurkepulauan.Sedangkanstudiseismotektonik yang
dilakukanYazid (1999) menyimpulkanadanyaperpanjanganSesarNaik Flores
sampaikesebelahtimurlaut Bali.

Ø SetingTektonik

Pulau Bali merupakanbagiandaribusurkepulauanSunda Kecil yang terbentuksebagaiakibat


proses subduksilempeng Indo-Australia kebawahlempeng Eurasia. Proses
subduksiinitidakhanyamenimbulkanaktivitastektoniktetapijugaaktivitasvulkanikGunungAgun
g yang pernahmeletus tahun 1821, 1843 dan 1963. Serupadenganbusurkepulauanlainnya,
busurSunda Kecil ditandaiolehbidangpusatgempa yang menukik yang
dikenalsebagaiZonaBenioff-Wadati.

Sketsasesarnaikbelakangbusurdaerah
Bali (Bali back arc thrust)
Gempabumi dangkalakibat proses subduksiumumnyaterjadi di Selatan Bali di PalungJawa
yang berjarakantara 150-200 km daripesisirselatanPulau Bali.
Pusatgempabumibertambahdalamkearah Utara akibat proses
subduksilempengsampaikedalamanlebihdari 600 km. Gempabumi di daratanPulau Bali
terjadipadakedalaman 100-200 km. Namundemikian,aktivitasgempabumidangkaljugaterdapat
di daratanPulau Bali danCekungan Bali di sebelah Utara Pulau Bali. Cekunganini
terjadiakibatadanyastrukturgeologisesarnaikbelakangbusur.
Silver etal. (1986) berdasarkanExpedisiBahari yang merekalakukan,
memperkirakanbahwaujungbaratpatahanbelakangbusurberakhir di Cekungan
Bali.TetapimenurutMcCaffrey &Nabelek (1987),
ujungbarattersebutberlanjutdanmenyatudenganpatahan yang terdapat di LautJawa.PosisiPulau
Bali yang unik, terkurungolehduasumbergempabumi di Selatan dan Utara pulau menjadikan
Bali sebagaikawasanseismik yang aktifdankompleks, sehingga di kawasan
perludilakukanstudikegempaan yang komprehensif.
PengaruhtektonikutamauntukPulau Bali didominasiolehadanyatumbukanantaralempeng Indo-
Australia danBusurSunda yang membentangdariSelatSunda di baratsampaiPulauRomang di
timur.Tumbukaninimenyebabkantimbulnyapusat-pusatgempabumi di zonasubduksiJawa yang
dimulaidariSelatSunda di bagianbaratdanberakhir di Pulau Banda di bagiantimurdanpusat-
pusatgempabumipadapatahannaikbelakangbusur Flores.

Patahanbelakang busur Wetardan Flores pertama kali dilaporkanoleh Hamilton (1979)


berdasarkanbeberapaprofilrefleksidari Lamont-Doherty. Hamilton (1979)
menemukanadanyapatahan di
utarapulauAlordanPantardisisitimurbusurbelakangzonasubduksiJawa yang
biasadikenalsebagaisesar naik belakangbusurWetar, Flores sampai Sumbawa.

Sedangkan Silver et al. (1986)


memperkirakanbahwapatahantersebutdisisibaratberlanjutsampaikeCekungan Bali yang
terletak di Utara Pulau Bali.Patahaninibiasadikenalsebagaisesarsungkupbelakangbusur Flores
(Flores back arc thrust). SesarsungkupbelakangbusurWetardan Flores
terjadisebagaireaksiterhadaptekanan yang timbulpadabusurkepulauan Nusa Tenggara
karenaadanyatumbukanantarabusurtersebutdengandoronganLempeng Indo-Australia.

5. STRUKTUR GEOLOGI PULAU BALI

Kondisi geologi regional Bali dimulai dengan adanya kegiatan di lautan selama
kala Miosen Bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan breksi yang disisipi oleh
batu gamping. Di bagian selatan terjadi pengendapan oleh batu gamping yang kemudian
membentuk Formasi Selatan. Di jalur yang berbatasan dengan tepi utaranya terjadi
pengendapan sedimen yang lebih halus. Pada akhir kala Pliosen, seluruh daerah
pengendapan itu muncul di atas permukaan laut. Bersamaan dengan pengangkatan, terjadi
pergeseran yang menyebabkan berbagai bagian tersesarkan satu terhadap yang lainnya.
Umumnya sesar ini terbenam oleh bahan batuan organik atau endapan yang lebih muda.
Selama kala Pliosen, di lautan sebelah utara terjadi endapan berupa bahan yang berasal
dari endapan yang kemudian menghasilkan Formasi Asah. Di barat laut sebagian dari
batuan muncul ke atas permukaan laut. Sementara ini semakin ke barat pengendapan
batuan karbonat lebih dominan. Seluruh jalur itu pada akhir Pliosen terangkat dan
tersesarkan.
Kegiatan gunung api lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan gunung
api dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera, yaitu mula-mula kaldera
Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau Bali masih mengalami gerakan yang
menyebabkan pengangkatan di bagian utara. Akibatnya, Formasi Palasari terangkat ke
permukaan laut dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai penampang Utara-Selatan
yang tidak simetris. Bagian selatan lebih landai dari bagian Utara. Stratigrafi regional
berdasarkan Peta Geologi Bali geologi Bali tergolong masih muda. Batuan tertua
kemungkinan berumur Miosen Tengah.
Menurut Purbohadiwidjoyo, (1974). dan Sandberg, (1909) dalam K.M
Ejasta,(1995), secara geologi pulau bali masih muda, batuan tertua berumur miosen.
Secara garis besar batuan di Bali dapat dibedakan menjadi beberapa satuan yaitu:
5.1. Formasi Ulakan
Formasi ini merupakan formasi tertua berumur Miosen Atas, terdiri dari
tumpukan batuan yang berkisar dari lava bantal dan breksi basalt dengan sisipan
gamping. Nama formasi Ulakan diambil dari nama kampung Ulakan yang terdapat di
tengah sebaran formasi itu.
Bagian atas formasi ulakan adalah formasi Surga terdiri dari tufa, nafal dan batu
pasir. Singkapan yang cukup luas terdapat dibagaian tengah daerah aliran sungai
Surga. Disini batuan umumnya miring kearah selatan atau sedikit menenggara (170-
190o) dengan kemiringan lereng hingga cukup curam (20-50o). singkapan lain berupa
jendela terdapat di barat daya Pupuan, dengan litologi yang mirip.
5.2. Formasi Selatan
Formasi ini menempati semenanjung Selatan. Batuannya sebagian besar berupa
batu gamping keras. Menurut Kadar, (1972) dalam K.M Ejasta, (1995) tebalnya
berkisar 600 meter, dan kemiringan menuju keselatan antara 7-10o . Kandungan fosil
yang terdiri dari Lepidocyclina emphalus, Cycloclypeus Sp, Operculina Sp,
menunjukkan berumur Miosen. Selain di semananjung selatan, formasi ini juga
menempati Pulau Nusa Penida.
5.3. Formasi Batuan Gunungapi Pulaki
Kelompok batuan ini berumur pliosin, merupakan kelompok batuan beku yang
umumnya bersifat basalt, terdiri dari lava dan breksi. Sebenarnya terbatas di dekat
Pulaki. Meskipun dipastikan berasal dari gunung api, tetapi pusat erupsinya tidak lagi
dapat dikenali. Di daerah ini terdapat sejumlah kelurusan yang berarah barat-timur,
setidaknya sebagian dapat dihubungkan dengan aktivitas sesar. Mata air panas yang
terdapat di kaki pegunungan, pada perbatasan dengan jalur datar di utara, dapat
dianggap sebagai salah satu indikasi sisa vulkanisme, dengan panas mencapai 470 C
dan bau belerang agak menyengat.
5.4. Formasi Prapatagung
Kelompok batuan ini berumur Pliosin, menempati daerah Prapatagung di
ujung barat Pulau Bali. Selain batugamping dalam formasi ini terdapat pula batu pasir
gampingan dan napal.
5.5. Formasi Asah
Kelompok batuan ini berumur Pliosen menyebar dari barat daya Sedikit ke
timur hingga di barat daya Tejakula. Pada lapisan bawah umumnya terdiri dari breksi
yang berkomponen kepingan batuan bersifat basalt, lava dan obsidian. Batuan ini
umumnya keras karena perekatnya biasanya gampingan. Di bagian atas tedapat lava
yang kerapkali menunjukan rongga, kadang-kadang memperlihatkan lempengan dan
umunya berbutir halus. Seringkali nampak struktur bantal yang menunjukan suasana
pengendapan laut.
5.6. Formasi Batuan Gunungapi Kuarter Bawah
Kwarter di Bali di Dominasi oleh batuan berasal dari kegiatan gunung api.
Berdasarkan morfologinya dapat diperkirakan bahwa bagian barat pulau Bali
ditempati oleh bentukan tertua terdiri dari lava, breksi dan tufa. Terdapat batuan
basalt, tetapi sebagian terbesar bersifat andesit, semua batuan volkanik tersebut
dirangkum ke dalam Batuan Gunungapi Jemberana. Berdasarkan kedudukannya
terdapat sedimen yang mengalasinya, umur formasi ini adalah kuarter bawah,
seluruhnya merupakan kegiatan gunung api daratan.
Pada daerah Candikusuma sampai Melaya terdapat banyak bukit rendah yang
merupakan terumbu terbentuk pada alas konglomerat dan diatasnya menimbun
longgokan kedalam formasi Palasari, suatu bentukan muda karena pengangkatan
endapan disepanjang tepi laut.
5.7. Formasi Batuan Gunungapi Kwarter
Aktivitas vulkanis pada kwarter menghasilkan terbentuknya sejumlah kerucut
yang umumnya kini telah tidak aktif lagi. Gunungapi tersebut menghasikan batuan
tufa dan endapan lahar Buyan-Beratan dan Batur, batuan gunungapi Gunung Batur,
batuan gunungapi Gunung Agung, batuan gunungapi Batukaru, lava dari gunung
Pawon dan batuan gunungapi dari kerucut-kerucut subresen Gunung Pohen, Gunung
Sangiang dan Gunung Lesung. Gunungapi-gunungapi tersebut dari keseluruhannya
hanya dua yang kini masih aktif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur di dalam
Kaldera Batur.

Stratigrafi regional pulau Bali


berdasarkan Peta Geologi Bali menurut Dony Purnomo,(2010).
Kala geologi Formasi
Kwarter Endapanaluviumterutama di
sepanjangpantaitepiDanauBuyan, BratandanBatur
BatuangunungapidarikerucutsubresenGunungPohen,
GunungSangiangdanGunungLesung
Lava darigunungPawon
BatuandariGunungapiBatukaru
BatuanGunungapiAgung
BatuanGunungapiBatur
Tufa dariendapan lahar Buyan-BratandanBatur
KwarterBawah FormasiPalasari : konglomerat,
batupasirdanbatukarangterumbu
BatuanGunungapiSraya
BatuanGunungapiBuyan-BratanPurbadanBaturPurba
BatuanGunungapiJembrana : lava, breksidan tufa
dariGunungKlatakan, GunungMerbuk,
GunungPatasdanbatuan yang tergabung
Pliosen FormasiAsah : lava, breksi tufa
batuapungdenganisianrekahanbersifatgampingan
FormasiPrapatAgung : batugamping, batupasir,
gampinganNapal
Miosen – Pleosen BatuanGunungapiPulaki : lava danbreksi
Miosen Tengah-Atas FormasiSorga : tufa, napaldanbatupasir
MiosenBawah-Atas FormasiUlukan : breksigunungapi, lava, tufa
dengansisipanbatuangampingan

STRUKTUR GEOLOGI PULAU NUSA TENGGARA


Kondisi fisik Nusa Tenggara sangat berbeda dengan kawasan lainnya di
Indonesia. Kepulauan ini terdiri dari pulau-pulau vulkanis dan rangkaian terumbu karang
yang tersebar di sepanjang lautan yang terdalam di dunia, dan tidak memiliki pulau
besar, seperti Jawa dan Sumatera. Asal-usul kepulauan ini dan proses-proses yang
dialami dalam pembentukan pulau-pulau yang sampai sekarang masih terjadi sangat
mempengaruhi posisi, ukuran, dan bentuk pulau. Sebagian besar pulau-pulau di kawasan
ini, secara geologis, masih sangat muda, umurnya berkisar antara 1-15 tahun dan
merupakan bagain dari massa daratan lain yang lebih besar. Kerumitan kondisi geologi
Nusa Tenggara disebabkan oleh posisinya di persimpangan empat lempeng geologis dan
dua benua.

1. Kondisi geologi wilayah NTB


Kondisi geologi wilayah NTB dengan batuan tertua berumur Tersier dan
yang termuda berumur Kuarter, didominasi oleh Batuan Gunungapi serta Aluvium
(Recent). Batuan Tersier di Pulau Lombok terdiri dari perselingan batupasir kuarsa,
batulempung, breksi, lava, tufa dengan lensa-lensa batugamping, batugamping dan
dasit. Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir
tufaan, batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batu gamping berlapis, batu
gamping tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau Lombok terdiri dari
perselingan breksi gampingan dan lava, breksi, lava, tufa, batuapung dan breksi
lahar. Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik
(konglomerat), hasil gunungapi tanah merah, gunungapi tua, gunungapi
Sangeangapi, gunungapi Tambora, gunungapi muda dan batugamping koral.
Aluvium dan endapan pantai cukup luas terdapat di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Berdasarkan tatanan geologi Indonesia, Wilayah Nusa Tenggara Barat terletak pada
pertemuan dua lempeng besar (Lempeng Hindia-Australia dan Lempeng Eurasia)
yang berinteraksi dan saling berbenturan satu dengan yang lain. Batas kedua
lempeng ini merupakan daerah yang sangat labil ditandai dengan munculnya tiga
gunungapi aktif tipe A (Rinjani, Tambora dan Sangeangapi).

2. Kondisi geologi wilayah NTT


Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur termasuk dalam kawasan Circum –
Pasifik sehingga daerah ini, terutama sepanjang Pulau Flores, memiliki struktur
tanah yang labil (sering terjadi patahan). Pulau – pulau seperti Pulau Flores, Alor,
Komodo, Solor, Lembata dan pulau– pulau sekitarnya terbentuk secara vulkanik,
sedangkan pulau Sumba, Sabu, Rote, Semau, Timor, dan pulau sekitarnya terbentuk
dari dasar laut yang terangkat ke permukaan. Dengan kondisi ini maka jalur pulau –
pulau yang terletak pada jalur vulkanik dapat dikategorikan subur namun sering
mengalami bencana alam yang dapat mengancam kehidupan penduduk yang
menetap di daerah tersebut. Dibalik kondisi geologi tersebut ternyata propinsi ini
memiliki berbagai macam deposit, baik mineral maupun sumber – sumber energi
lainnya. Hampir 100 lokasi di daerah ini mengandung mineral dari sumber energi
bumi/bahan bakar minyak, seperti di Pulau Sumba, Timor dan disepanjang pantai
Flores bagian timur. Sumber energi dapat dikembangkan dari sungai-sungai besar,
seperti Noelmina, Benanain, Aesesa dan sungai Kambaniru. Mineral yang
terkandung di propinsi ini adalah: Pasir Besi (Fe), Mangan (Mn), Emas (Au),
Flourspor (Fs), Barit (Ba), Belerang (S), Posfat (Po), Zeolit (Z), Batu Permata (Gs),
Pasir Kwarsa (Ps), Pasir (Ps), Gipsum (Ch), Batu Marmer (Mr), Batu Gamping,
Granit (Gr), Andesit (An), Balsitis, Pasir Batu (Pa), Batu apung (Pu), Tanah
Diatomea (Td) Lempung/Clay (Td). Sebaran struktur batuan geologi yang ada di
wilayah propinsi ini, adalah:
a. a.Batuan Silicic (acid) Rock (batuan berasam kersi asam), terdapat di
Kabupaten Alor, Kabupaten Lembata, sebagian besar Kabupaten Flores Timur,
Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, sebagian besar Kabupaten Ngada,
sebagian Kabupaten Manggarai, sebagian besar Manggarai Barat dan sebagian
kecil Kabupaten Kupang
b. Batuan Matic Basic Rocks (batuan basa)
c. Batuan Intermediate Basic (basa menengah)
d. Batuan Pre Tertiare Undivideo (pra tersier tak dibedakan)
e. Batuan Paleagene (pleogen)
f. Alluvial Terrace Deposit and Coral Reets (alluvium undak dan berumba koral)
g. Batuan Neogene (neogen)
h. Batuan Kekneno Series (deret kekneno)
i. Batuan Sonebait Series (deret sonebait)
j. Batuan Sonebait and Ofu Series Terefolde (deret sonebait dan deret terlipat
bersama)
k. Batuan Ofu Series (deret ofu)
l. Batuan Silicic Efusives (efusiva berasam kersik)
m. Batuan Triassic (trias)
n. Batuan Crystalline Shist (sekis hablur).
DAFTAR PUSTAKA

Dena, Kadek.2012. Kondisi Geologi dan Topografi Pulau Bali.Singaraja:Geografi


USB.
Purnomo, Dony.2010. Pulau Bali.Singaraja:Geografi USB.

Vertsappen, H.Th.2013.Garis Besar Geomorfologi Indonesia.Yogyakarta:Gadjah


Mada University Press (GMUP)
Pendidikan Geografi Offering A.2015.Geologi Indonesia

Anda mungkin juga menyukai