Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

DI PT. KUNANGO JANTAN


BIDANG K3 KESEHATAN KERJA, K3 LINGKUNGAN
KERJA DAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

PELATIHAN CALON AHLI K3 UMUM (AK3U)


ANGKATAN KE - 21

KELOMPOK 4
1. Amelisa Binuwara
2. Asrar Halim
3. Dian Anggria Sari
4. Febi Fernando Azwir
5. Novri Fatmoheri
6. Shellya Harlita
7. Zulfa Yandra

PT. DUTA SELARAS SOLUSINDO


PADANG
AGUSTUS 2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Maksud dan Tujuan .......................................................................... 3
1.3 Ruang Lingkup ................................................................................. 3
1.4 Dasar Hukum .................................................................................... 4
BAB II PROFIL PERUSAHAAN .................................................................. 6
2.1 Gambaran Umum Perusahaan .......................................................... 6
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ................................. 6
2.1.2 Profil Perusahaan ................................................................... 6
2.1.3 Visi dan Misi Perusahaan ....................................................... 7
BAB III TEMUAN POSITIF DAN NEGATIF.............................................. 9
3.1 K3 Kesehatan Kerja ......................................................................... 9
3.1.1 K3 Poliklinik .......................................................................... 9
3.1.2 Dokter Pemeriksa Kesehatan Tenaga Kerja ........................... 9
3.1.3 Paramedis ............................................................................... 9
3.1.4 Petugas P3K ........................................................................... 10
3.1.5 Kotak P3K dan Isinya ............................................................ 10
3.1.6 Kantin, Gizi Kerja, Ergonomik, dll ........................................ 10
3.2 K3 Lingkungan Kerja ....................................................................... 10
3.2.1 Housekeeping dan Toilet ........................................................ 10
3.2.2 K3 Kimia: Penanganan Bahan B3/ Meledak/ Terbakar/
Beracun (ada prosedur, MSDS, dll), Label ............................ 11
3.2.3 Nilai Ambang Batas (NAB) Kimia ........................................ 11
3.2.4 Nilai Ambang Batas (NAB) Fisika ........................................ 12
3.2.5 Alat Pelindung Diri (APD) ..................................................... 12
3.2.6 K3 Confined Space (prosedur kerja, petugas, dll) .................. 12

i
3.2.7 K3 Deteksi Gas (prosedur kerja, petugas, dll) ....................... 12
3.2.8 Personil K3: Petugas dan Ahli K3 Kimia, Petugas Ruang
Terbatas, Petugas Detektor Gas ............................................. 13
BAB IV ANALISIS TEMUAN ....................................................................... 14
4.1 Analisis K3 Kesehatan Kerja ........................................................... 14
4.2 Analisis K3 Lingkungan Kerja, B3 dan Ergonomi .......................... 19
BAB V PENUTUP ............................................................................................ 25
5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 25
5.2 Saran ................................................................................................. 25

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Analisis Hasil Temuan K3 Kesehatan Kerja ...................................... 14


Tabel 4.2 Analisis Hasil Temuan K3 Lingkungan Kerja, B3 dan Ergonomi .... 19

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Logo PT. Kunango Jantan Group .................................................. 7


Gambar 2.2 Divisi PT. Kunango Jantan Group ................................................. 7

iv
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang paling indah selain ucapan syukur kehadirat Allah SWT,
karena masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk dapat menuntut
ilmu di muka bumi ini, sehingga pada kesempatan ini berkat keridhaan, petunjuk
dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) mengenai K3 Kesehatan Kerja, Lingkungan Kerja dan Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) di PT. Kunango Jantan Group, Padang.
Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah dalam rangka memenuhi salah
satu syarat sertifikasi untuk mendapatkan lisensi Ahli K3 Umum dari
KEMNAKER RI.
Pembuatan laporan ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. KEMNAKER RI,
2. Bapak Muslim Lubis dari PT. Duta Selaras Solusindo,
3. Bapak Handoko dari PT Astra,
4. Bapak Eko Fachyudi selaku Pengawas di DISNAKERTRANS Padang,
5. Ibu Yeni Suryani selaku Pengawas di DISNAKERTRANS Padang,
6. Bapak Syamsurizal selaku Pengawas Provinsi Sumatera Barat,
7. Bapak Jajang Suharja selaku Dosen Politeknik Negeri Padang,
8. Bapak Busnar selaku Pimpinan PT. Sinergi R3.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca
demi perbaikan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin.

Padang, Agustus 2017

Penulis

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Laporan Kunjungan Praktek Lapangan ini merupakan salah satu persyaratan
untuk mendapatkan sertifikat dan lisensi AK3 Umum yang diadakan oleh PT. Duta
Selaras Solusindo bekerjasama dengan Kementerian Ketenagakerjaan. Dilatarbelakangi
oleh hal tersebut, maka pada tanggal 16 Agustus 2017 selaku peserta kami melakukan
Praktek Kerja Lapangan di PT. KUNANGO JANTAN Group. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada dasarnya menjadi tanggung jawab semua pekerja dalam suatu
perusahaan atau industri. PT. KUNANGO JANTAN Group salah satu industri
manufaktur yang memproduksi pipa bulat, sambungan pipa, cinder blok atau blok beton,
tiang besi, tiang pancang beton pracetak, pipa, tiang listrik beton, plat, tiang pancang
kotak, tiang pancang bulat, tiang listrik besi, pipa galvanis, elbow, reducer, box culvert
yang dalam setiap kegiatannya selalu mengutamakan sistem keselamatan dan kesehatan
kerja meliputi tempat kerja, metode kerja, mesin dan peralatan, serta sasaran dan
fasilitas untuk melindungi keselamatan dan kesehatan kerja pekerja PT. KUNANGO
JANTAN Group.
Sesuai visi perusahaan yaitu “Ikut Menunjang Pembangunan Listrik dan
Infrastruktur bagi Masyarakat Luas”. Menyadari bahwa gedung beserta sarana dan
prasarananya harus dipelihara dengan baik untuk menjaga keamanan, keselamatan dan
kemungkinan terjadinya bencana. Selain itu, pencegahan pencemaran lingkungan
sekitar, terjadinya penyakit dan kecelakaan akibat kerja harus selalu diperhatikan dalam
setiap kegiatannya. Hal tersebut ditujukan dengan penghargaan “Zero Accident” yang
diperoleh sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dari Disnaker.
Sebagai komitmen yang harus direalisasikan, kesehatan dan keselamatan kerja di
PT. KUNANGO JANTAN Group pada dasarnya adalah menjadi tanggung jawab semua
pekerja di setiap satuan kerja dan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang
produktifitas pekerja agar tenaga kerja dapat berdaya guna dan berhasil secara optimal
serta perlu dilakukan pembinaan sebaik-baiknya. Bagi tenaga kerja PT. KUNANGO
JANTAN Group dilakukan pemeriksaan kesehatan pada awal tahun 2017.

1
PT. KUNANGO JANTAN Group di berbagai tingkatan pimpinan harus
memperhitungkan faktor keselamatan, kesehatan dan potensi timbulnya kecelakaan
kerja di semua aktivitas. Hal ini harus dilaksanakan sebagai kebiasaan oleh setiap
tenaga kerja untuk menghindari kecelakaan. Setiap tenaga kerja secara personal
bertanggung jawab terhadap jalannya pekerjaan mereka, memberikan perhatian utama
untuk keselamatan tenaga kerja, prasarana dan sarana, untuk itu perlu adanya
pembinaan atau peningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang
ada, di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.
Di dalam kelompok masyarakat, khususnya, perusahaan mutlak memiliki tenaga
P3K yang terampil terutama di lingkungan kerja atau perusahaan yang banyak
menggunakan mesin dan teknologi canggih serta bahan berbahaya dan beracun (B3).
Bahkan ketidakdisiplinan tenaga kerja juga dapat menyebabkan penyakit dan
kecelakaan kerja. Untuk memberikan kenyamanan dan produktivitas kerja maka
perusahaan juga perlu memerhatikan aspek ergonomi pada setiap bekerja.
Untuk mengantisipasi masalah itu maka pemerintah menerbitkan Undang-undang
Nomor 1 tahun 1970 yang mengatur tentang Keselamatan Kerja dan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Nomor 3 tahun 1982 tentang Kewajiban Melaksanakan Pelayanan
Kesehatan Kerja di Perusahaan. Untuk melaksanakan peraturan tersebut, maka
perusahaan industri menengah dan besar mendirikan poliklinik bahkan rumah sakit.
Dengan mempekerjakan tenaga dokter dan paramedis untuk melayani pekerja sebagai
safety officer atau pelaksana P3K agar dapat menumbuhkan kondisi aman saat bekerja
dan mampu menyelamatkan diri apabila suatu saat terjadi kecelakaan kerja.
Pengertian Bahan Berbahaya dan Beracun menurut OSHA (Occupational Safety
and Health of the United State Government) adalah bahan yang karena sifat kimia
maupun kondisi fisiknya sangat berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan
manusia, kerusakan dan atau pencemaran lingkungan. Sedangkan menurut PP No. 74
tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), yang dimaksud
dengan Bahan Berbahaya dan Beracun atau disingkat B3 adalah bahan karena sifatnya
dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dana tau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya.

2
PT. KUNANGO JANTAN Group dalam menjalankan fungsi operasionalnya
juga menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan menghasilkan limbah, baik
itu limbah B3 cair, limbah B3 padat, limbah organik, dan limbah non-organik. Kondisi
tersebut disebabkan karena berbagai karakteristik dan jenis limbah yang berpotensi
menghasilkan dampak yang tergolong sebagai limbah yang mengandung B3.
Program penanganan B3 dan limbah B3 adalah salah satu upaya untuk
menghindarkan atau mengurangi risiko bahan berbahaya melalui produksi, distribusi,
dan penggunaan bahan berbahaya yang semakin meningkat jumlah maupun jenisnya
serta dalam proses menghasilkan limbah, baik itu limbah B3 cair, limbah B3 padat,
limbah organik, dan limbah non-organik. Penggunaan bahan berbahaya yang tidak
sesuai dengan peruntukannya dan penanganannya dapat menimbulkan ancaman atau
bahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan khususnya bahan yang digunakan
di PT. KUNANGO JANTAN Group.
Definisi ergonomi menurut Greek berasal dari kata Ergon dan Nomos. Ergon
berarti kerja, Nomos berarti kebijakan hukum. Menurut Murrel (1949), ergonomik
adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan lingkungan kerjanya.
Pengertian ergonomi menurut International Labour Organization (ILO) merupakan
penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerja dan manusia secara optimum, dengan tujuan agar
bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan penulisan laporan ini adalah:
1. Untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman mengenai aplikasi K3 di perusahaan
atau industry yaitu di PT. KUNANGO JANTAN Group khususnya di bidang K3
Kesehatan Kerja, Lingkungan Kerja, B3 dan Ergonomi.
2. Sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi peserta Calon Ahli K3 Umum
agar dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan memberikan saran serta rekomendasi
khususnya kepada PT. KUNANGO JANTAN Group.

1.3 Ruang Lingkup


Ruang Lingkup Praktek Kerja Lapangan ini adalah:

3
1. Pelaksanaan K3 di bidang Kesehatan Kerja
2. Pelaksanaan di bidang K3 Lingkungan Kerja
3. Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (B3)
4. Pelaksanaan K3 di bidang Ergonomi.

1.4 Dasar Hukum


1.4.1 Dasar Hukum Pengawasan Kesehatan Kerja
1. Undang-Undang No. 03 Tahun 1969 tentang Persetujuan Hygiene dalam
Kantor
2. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan,
Kebersihan, serta Penerangan dalam Tempat Kerja
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Per-01/MEN/1976
tentang Wajib Latihan Hyperkes bagi Dokter Perusahaan
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan
Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-01/MEN/1981 tentang
Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja
6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-03/MEN/1982 tentang
Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-03/MEN/1998 tentang
Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-25/MEN/2005 tentang
Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Tempat Kerja
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-15/MEN/2008 tentang
P3K di Tempat Kerja
10. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-333/MEN/1989 tentang
Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja
11. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang
Timbul Akibat Hubungan Kerja
12. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE-01/MEN/1979 tentang
Pengadaan Kantin dan Ruang Makan
13. Surat Edaran Dirjen Binwas SE-86/BW/1989 tentang Perusahaan

4
Catering yang Mengelola Makanan bagi Tenaga Kerja.

1.4.2 Dasar Hukum Pengawasan Lingkungan Kerja dan Bahan Kimia Berbahaya
1. Undang-Undang No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
2. Undang-Undang No. 03 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi
Perburuhan Internasional No. 120 Mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan
Kantor-Kantor
3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-187/MEN/1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-08/MEN/VII/2010
tentang Alat Pelindung Diri
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per-13/MEN/X/2011
tentang NAB Fisika dan Kimia di Tempat Kerja.

1.4.3 Dasar Hukum Pengawasan Ergonomi


1. Undang-Undang No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

5
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Gambaran Umum Tempat Kerja PT. Kunango Jantan Group


2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
PT. Kunango Jantan pertama kali berdiri pada tahun 1993. Pada awalnya
perusahaan ini merupakan sebuah bengkel yang kemudian berkembang menjadi
perusahaan yang bergelut dibidang material baja. PT. Kunango Jantan Group adalah
Kelompok Usaha yang fokus dalam penyediaan, pemrosesan, dan distribusi material
baja dan beton siap pakai untuk industri konstruksi, kelistrikan, pertambangan,
telekomunikasi dan perhubungan.Kunango Jantan Grup beroperasi di dua lokasi utama,
Padang dan Pekanbaru dimana setiap anak perusahaan memiliki fasilitas produksi
sendiri dan Grup juga memiliki pusat R&D di Padang. PT. Kunango Jantan Group
bergerak di bidang Manufacture and Trading. Terdiri dari beberapa divisi, yaitu:
1. PT. Kunango Jantan Beton
2. PT. Kunango Jantan Steel
3. PT. Tiga Pilar Sakato
4. PT. Kunango Jantan Concrete
5. Workshop PT. Kunango Jantan

2.1.2 Profil Perusahaan


Nama Perusahaan : Kunango Jantan, PT
N.P.W.P : 01.622.858.7.201.000
Status Usaha : Swasta
Alamat desa/Kel : Jalan Bypass Km. 25 Kenagarian Kasang Kecamatan
Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman Provinsi
Sumatera Barat, Indonesia
Kode Pos : 25586
No. Telepon/Fax : 0751 4851886 / 0751 4851887
Website : www.kunangojantan.co.id
Anggota Asosiasi : None
Kategori Perusahaan : Manufaktur

6
Komponen bangunan dan struktur baja, Tiang Pancang,
Beton Pracetak, Tiang Besi, Cinder Block atau blok beton,
Sambungan Pipa, Pipa Bulat, Plat Kembang/Plat Bordes,
Produk besi Baja.
Logo Perusahaan :

Gambar 2.1 Logo PT. Kunango Jantan Group

Gambar 2.1 Divisi PT. Kunango Jantan Group

2.1.3 Visi dan Misi Perusahaan


Visi perusahaan:
“Ikut Menunjang Pembangunan Listrik dan Infrastruktur bagi Masyarakat Luas”.
Misi perusahaan:
1. Menjadi sebuah pabrik tiang besi dan beton yang terpercaya selalu mengutamakan
kualitas demi kepuasan pelanggan.

7
2. Menjadi sebuah perusahaan yang mampu memberikan harga hemat kepada Negara
tanpa mngurangi mutu.
3. Menjadi sebuah perusahaan yang bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi
orang banyak.
4. Mengembangkan perusahaan dengan mendapatkan profit tanpa mengurangi efisiensi
belanja Negara.
5. Memperhatikan serta peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar pabrik.
6. Mengembangkan perusahaan dengan manajemen yang professional.
7. Menjadi mitra bisnis yang tepat di bidang pelistrikan dan infrastruktur
8. Menyadari bahwa setiap produksi yang dipakai bermanfaat terhadap orang banyak.

8
BAB III
TEMUAN POSITIF DAN NEGATIF

3.1 K3 Kesehatan Kerja


3.1.1 Poliklinik
PT. Kunango Jantan belum memiliki Poliklinik sendiri, tetapi telah memiliki
ruang P3K, namun ruangan tersebut masih bergabung dengan ruang operator timbangan,
di mana hal ini belum sesuai dengan Permenaker No. 03/Men/1982 tentang Pelayanan
Kesehatan Tenaga Kerja. Jika kecelakaan kerja ringan terjadi, penanganan dapat segera
dilaksanakan, namun jika kecelakaan yang terjadi lebih berat akan dirujuk ke trauma
center terdekat dengan ambulance milik perusahaan. Semua tenaga kerja yang bekerja
pada PT. Kunango Jantan telah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan,
dan jaminan pensiun. Mengenai sosialisasi tentang Narkoba dan HIV/AIDS, belum
pernah dilakukan karena hal tersebut masih tabu bagi para tenaga kerja.

3.1.2 Dokter Pemeriksa Kesehatan Tenaga Kerja


Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No.03/Men/1982 Pasal 5, penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja dipimpin dan
dijalankan oleh seorang Dokter dan disetujui oleh Direktur. Perusahaan ini belum
memiliki dokter yang ditunjuk untuk memeriksa kesehatan tenaga kerja dan belum
melaksanakan pemeriksaan awal untuk tenaga kerja baru. Pelayanan kesehatan kerja
telah dilaksanakan dengan melakukan cek kesehatan terhadap tenaga kerja yang
dilakukan setiap awal tahun. Perusahaan telah melakukan pemeriksaan kesehatan
terhadap tenaga kerja seperti pemeriksaan mata, pernafasan dan pendengaran yang
bekerjasama dengan pihak ketiga (Hyperkes). Namun, pemeriksaan awal untuk tenaga
kerja baru belum dilaksanakan, di mana belum sesuai dengan Permenaker
No.02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga kerja dalam Penyelenggaraan
Keselamatan Kerja.

3.1.3 Paramedis
PT. Kunango Jantan Group belum memiliki Dokter perusahaan dan Paramedis
dengan sertifikasi Hygiene perusahaan dan Hyperkes. Namun, perusahaan ini hanya

9
memiliki satu orang perawat dan belum memiliki sertifikat Hyperkes, di mana belum
sesuai dengan Permenakertrans No.Per.01/Men/1979 tentang Kewajiban Latihan
Hyperkes, Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi Paramedis Perusahaan.

3.1.4 Petugas P3K


Berdasarkan Permenaker No.Per.15/Men/VIII/2008 mengenai Pertolongan
Pertama pada Kecelakaan Kerja di Tempat Kerja, setiap perusahaan wajib menunjuk
petugas P3K berlisensi. Perusahaan ini hanya menunjuk satu orang petugas P3K per
bagian produksi dari tenaga kerja dan belum memiliki sertifikat pelatihan P3K.

3.1.5 Kotak P3K dan isinya


Kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) beserta kelengkapan isinya
telah dipersiapkan pada setiap bagian produksi, kantor dan laboratorium, namun kotak
P3K lengkap beserta isinya hanya ada di klinik, sedangkan isi kotak P3K yang ada di
bagian produksi dipegang oleh petugas P3K yang bertanggungjawab pada masing-
masing bagian. Selain itu, warna lambang pada kotak P3K tidak berwarna hijau.

3.1.6 Kantin dan Gizi Kerja, Ergonomi


Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Ketenagakerjaan, Peraturan Menteri
Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan
di Tempat Kerja, SE Menaker Se-01/Men/1979 tentang Pengadaaan Kantin dan Ruang
Makan, perusahaan ini belum memenuhi ketentuan mengenai persyaratan kantin dan
gizi pekerja. Namun, setiap tenaga kerja mendapat tunjangan makan, waktu makan dan
istirahat telah diatur serta tempat sampah telah tersedia walaupun belum memadai dan
belum ada pemisahan sampah sesuai kategori sampah. Selain itu, sebagian tenaga kerja
belum menerapkan prinsip ergonomi dalam bekerja.

3.2 K3 Lingkungan Kerja dan B3


3.2.1 Housekeeping / 5R dan Toilet
Kebersihan dan kerumahtanggaan yang baik di lingkungan kerja PT. Kunango
Jantan Group merupakan hal utama untuk diterapkan. Hal ini berguna untuk
memberikan kenyamanan kepada tenaga kerja maupun tamu perusahaan. Sosialisasi dan

10
slogan mengenai 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) telah dilaksanakan.
Sebelum pekerjaan dimulai dan sesudah pelaksanaan kerja dilakukan pembersihan area
kerja.
Jumlah toilet cukup memadai, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Toilet
dan sarana ibadah (masjid) cukup bersih sesuai dengan Peraturan Menteri Perburuhan
No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan, serta Penerangan di Tempat
Kerja. Namun, penerapan dari program 5R belum berjalan seutuhnya, peralatan dan
material di area produksi masih terlihat berantakan dan air yang terdapat dalam toilet
kurang bersih (keruh).

3.2.2 K3 Kimia: Penanganan Bahan B3/ Meledak/ Terbakar/ Beracun (ada Prosedur,
MSDS, dll), Label
PT. Kunango Jantan Group memiliki gudang bahan kimia dan telah dilakukan
pemisahan sesuai dengan kategori B3 yaitu padat, cair serta SOP penanganan bahan
B3. Berdasarkan hasil wawancara, PT. Kunango Jantan Group sudah memiliki
LDKB (Lembar Data Keselamatan Bahan), label dan simbol di tiap-tiap bahan yang
menyatakan bahwa bahan kimia tersebut merupakan bahan kimia yang mudah
terbakar atau beracun sesuai dengan Kepmenaker No. 187 tahun 1999 tentang
Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja. Bahan kimia berbahaya
adalah bahan kimia dalam bentuk tunggal atau campuran yang berdasarkan sifat
kimia dan fisika dan atau toksikologi berbahaya terhadap tenaga kerja, instalasi dan
lingkungan.
Limbah cair yang dihasilkan oleh perusahaan ditampung pada tempat
penampungan sementara, dan pengolahan selanjutnya diserahkan pada pihak ketiga.
Namun, lokasi penampungan limbah B3 sementara masih terlalu dekat dengan area
produksi dan jalur pejalan kaki dan lokasi gudang penyimpanan bahan kimia masih
terlalu dekat dengan area produksi.

3.2.3 Nilai Ambang Batas (NAB) Fisika


Sesuai dengan Permenaker No. 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika dan Kimia maka terdapat beberapa aturan terkait NAB fisika yaitu,
kebisingan, getaran, temperatur dan pencahayaan. Untuk pengukuran lingkungan fisik

11
seperti kebisingan telah diukur dengan bantuan pihak ketiga, namun tingkat kebisingan
berkemungkinan melebihi Nilai Ambang Batas yang menyebabkan tingginya potensi
gangguan pendengaran tenaga kerja akibat tingginya tingkat kebisingan di perusahaan
pada area tertentu.

3.2.4 Nilai Ambang Batas (NAB) Kimia


Perusahaan telah melakukan pengukuran NAB lingkungan berupa faktor kimia,
seperti SO2, CO, NO2, dan debu dengan bantuan pihak ketiga sesuai dengan Permenaker
No. 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia. Namun,
lokasi kerja masih memiliki potensi terjadinya gangguan pernafasan pada area produksi
tertentu terutama pada area berdebu dan yang menggunakan zat kimia.

3.2.5 Alat Pelindung Diri (APD)


Alat Pelindung Diri adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tenaga kerja dari
bahaya di tempat kerja. Kewajiban dalam penggunaan APD di tempat kerja diatur
dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan
Permenakertrans No. PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri. UU No 1
tahun 1970 tentang Kesehatan kerja pasal 14 (c) menyatakan bahwa pengurus
diwajibkan menyediakan secara cuma-cuma semua APD yang diwajibkan pada
tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang
lain yang memasuki tempat kerja disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan.
Pada pengamatan di PT. Kunango Jantan Group didapati beberapa temuan tenaga
kerja yang tidak menggunakan APD saat bekerja, walaupun perusahaan telah
memberikan APD kepada seluruh tenaga kerja.

3.2.6 K3 Confined Space


PT. Kunango Jantan Group tidak memiliki Confined space dalam area produksi.

3.2.7 K3 Deteksi Gas


PT. Kunango Jantan Group hanya menggunakan gas Elpiji untuk pembakaran
dalam proses produksi. Prosedur kerja, SOP serta penanggulangan kecelakaan dalam

12
penggunaan telah disediakan. Penanggulangan ini sesuai dengan SE Menakertrans RI
SE-01/Men/DJPPK/VIII/2010 tentang Peningkatan Pengawasan Keselamatan dan
Kesehatn Kerja Pengggunaan Gas Elpiji.

3.2.8 Personil K3: Petugas dan Ahli K3 Kimia, Petugas Ruang Terbatas, Petugas
Detektor Gas
PT. Kunango Jantan Group memiliki dua orang Ahli K3 Umum dan belum
memiliki AK3 Kimia, Listrik dan lainnya. Menurut peraturan Permenaker PER-
02/Men/1992 tentang Tata Cara Penunjukan Kewajiban dan Wewenang Ahli
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasal 2 ayat 2 berbunyi bahwa perusahan wajib
memiliki ahli keselamatan dan kesehatan kerja, setiap tempat kerja di mana pengurus
mempekerjakan tenaga kerja lebih dari 100 orang. Kepmenaker No. 187 Tahun 1999
tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja pasal 2 berbunyi
pengurus wajib menunjuk petugas K3 Umum dan Ahli K3 Kimia sebagai upaya
untuk mengendalikan bahan kimia berbahaya.

13
BAB IV
ANALISIS TEMUAN

4.1 Analisis K3 Kesehatan Kerja


Tabel 4.1 Analisis Hasil Temuan K3 Kesehatan Kerja
Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
Poliklinik Temuan Positif:  Meningkatkan pelayanan  Permenaker
 Memiliki ruang P3K kesehatan melalui sarana No.03/MEN/1982
 Memiliki ambulance kesehatan berupa tentang Pelayanan
 Kecelakaan ringan dapat poliklinik atau Kesehatan Tenaga
ditangani segera, jika kecelakaan bekerjasama dengan Kerja.
yang terjadi lebih berat maka pihak ketiga.
akan dirujuk ke Trauma Center

Temuan Negatif:
 Belum ada Poliklinik tersendiri,
ruang P3K masih tergabung
dengan ruang operator
timbangan.
 Sosialisasi tentang Narkoba dan
HIV/AIDS belum pernah

14
dilakukan.

Dokter Pemeriksa Kesehatan Tenaga Temuan Positif:  Pelayanan kesehatan  Permenaker No.
Kerja  Cek kesehatan terhadap tenaga berupa pemeriksaan awal 02/MEN/1980 tentang
kerja dilakukan setiap awal dilakukan setiap ada Pemeriksaaan
tahun. penerimaan karyawan Kesehatan Tenaga
 Perusahaan telah melakukan baru serta dengan Kerja dalam
pemeriksaan kesehatan terhadap pemeriksaan khusus bagi Penyelenggaraan
tenaga kerja seperti pemeriksaan pekerjaan tertentu dan Keselamatan Kerja
mata, pernafasan dan berkala dilakukan setiap Pasal 2 ayat 1
pendengaran yang bekerjasama tahun untuk menjaga  Permenaker
dengan pihak ketiga (Hyperkes). produktivitas dan No.03/Men/1982
kesehatan para pekerja tentang Pelayanan
Temuan Negatif:  Memiliki seorang dokter Kesehatan Tenaga
 Belum adanya pemeriksaan awal yang telah mengikuti Kerja Pasal 5.
untuk tenaga baru. pelatihan hyperkes
 Belum adanya dokter yang
ditunjuk perusahaan untuk
memeriksa kesehatan tenaga

15
kerja.
Paramedis Temuan Positif:  Menentukan dokter  Permenakertrans PER-
 Memiliki 1 orang perawat perusahaan dan 01/MEN/1979 tentang
paramedis yang telah Kewajiban Latihan
Temuan Negatif: mengikuti pelatihan dan Hyperkes, Kesehatan
 Perawat yang ada belum sertifikasi Hyperkes. dan Keselamatan
disertifikasi oleh Hyperkes Kerja bagi Paramedis
Perusahaan
Petugas P3K Temuan Positif:  Sesuai dengan peraturan,  Permenakertrans PER-
 Memiliki petugas P3K di setiap disarankan untuk 15/MEN/2008 tentang
area produksi menambah jumlah Pertolongan Pertama
petugas P3K pada Kecelakaan di
Temuan Negatif: Tempat Kerja
 Jumlah petugas P3K masih
kurang
 Petugas P3K yang ditunjuk
hanya 1 orang di setiap area
produksi.
Kotak P3K dan Isinya Temuan Positif: Sebaiknya perusahaan  Permenakertrans PER-
 Ada di area produksi, kantor dan menambah jumlah dan 15/MEN/VIII/2008

16
laboratorium menyediakaan kotak P3K tentang Pertolongan
pada tempat terlihat dan Pertama pada
Temuan Negatif: terjangkau. Kecelakaan di Tempat
 Kotak P3K lengkap hanya ada di Kerja Pasal 10 butir a
klinik serta lampiran II
 Isi kotak P3K yang ada di bagian tentang lambang kotak
produksi dipegang oleh petugas P3K serta isi kotak
P3K yang bertanggungjawab P3K, Lampiran III
pada masing-masing bagian tentang jumlah kotak
 Warna lambang pada kotak P3K P3K.
tidak berwarna hijau

17
Kantin, Gizi Kerja, Ergonomi Temuan Positif:  Sebaiknya perusahaan  Surat Edaran Menaker
 Memiliki kantin mengatur gizi makanan No. SE. 01/MEN/1979
 Setiap tenaga kerja mendapatkan tenaga kerja, baik tentang Pengadaan
tunjangan makan disediakan sendiri Kantin dan Ruang
 Waktu makan dan istirahat telah maupun bekerjasama Makan.
diatur dengan pihak ketiga.  Surat Edaran Menaker
 Sebaiknya ada sosialisai NO. : SE.86/BW/1989
Temuan Negatif: mengenai ergonomi Tentang perusahaan
 Perusahaan belum mengatur gizi dalam cara kerja. catering yang
pekerja. mengelola makanan
 Makanan untuk tenaga kerja  UU No. 1 Tahun 1970
disediakan oleh pihak ketiga tentang Keselamatan
 Tenaga kerja belum menerapkan Kerja Pasal 3 butir m
prinsip ergonomi dalam bekerja dan Pasal 9 ayat 1.

18
4.2 Analisis K3 Lingkungan Kerja, B3 dan Ergonomi
Tabel 4.2 Analisis Hasil Temuan K3 Lingkungan Kerja, B3 dan Ergonomi
Foto Temuan Analisis Potensi Bahaya Saran Dasar Hukum
Housekeeping/5R dan Toilet Temuan Positif:  Tingkatkan kebersihan  Peraturan Mentri
 Adanya sosialisasi dan slogan area kerja Perburuhan No. 7
mengenai 5R  Sosialisasi 5R semakin Tahun 1964 tentang
ditingkatkan Syarat Kesehatan,
 Sebelum pekerjaan dimulai
Kebersihan Serta
dan sesudah pelaksanaan Penerangan di Tempat
kerja dilakukan pemersihan Kerja Pasal 3
area kerja
 Jumlah toilet cukup memadai
 Kondisi toilet cukup bersih
 Tempat sampah tersedia

Temuan Negatif:
 Peralatan dan material masih
terlihat berantakan
 Penerapan 5R belum
dijalankan sepenuhnya oleh
tenaga kerja
 Tempat sampah yang tersedia
belum memadai dan tidak
bersih

19
 Tempat sampah tidak
memenuhi kaidah pemisahan
kategori sampah
K3 Kimia Temuan Positif:  Pengisolasian lokasi  Keputusan Menteri
 Terdapat gudang bahan kimia pembuangan limbah B3 Tenaga Kerja No. 187
dan telah dilakukan pemisahan sementara dibuat jauh
Tahun 1999 tentang
sesuai dengan kategori B3 yaitu dari area pejalan kaki.
padat dan cair Pengendalian Bahan
 Sudah ada SOP tentang Kimia Berbahaya di
penanganan limbah B3
Tempat Kerja Pasal 3
 Sudah ada label, symbol dan
MSDS

Temuan Negatif:
 Penempatan limbah B3
sementara belum tertata
 Lokasi Gudang bahan kimia
terlalu dekat dengan area
produksi
 Lokasi penampungan limbah B3
sementara masih terlalu dekat
dengan area produksi dan jalur
pejalan kaki.

20
NAB Kimia Temuan Positif:  Sebaiknya penggunaan  Peraturan Menteri
 Telah dilakukan pengukuran masker dengan filter Tenaga Kerja dan
lingkungan berupa faktor kimia yang lebih tebal atau Transmigasi No.
seperti SO2, CO, NO2 dan debu. respirator digunakan Per.13/MEN/X/2011
pada lokasi kerja. tentang Nilai Ambang
Temuan Negatif: Batas Faktor Fisika
 Potensi terjadinya gangguan dan Faktor Kimia.
pernafasan pada area produksi
tertentu terutama pada area
berdebu dan yang menggunakan
zat kimia.

NAB Fisika Temuan Positif:  Sebaiknya dilakukan  Peraturan Menteri


 Pengukuran lingkungan fisik pengendalian berupa Tenaga Kerja dan
seperti kebisingan telah engineering control Transmigasi PER-
dilakukan oleh pihak ketiga seperti peredam bising 13/MEN/X/2011
dan penggunaan ear plug Tahun 2011 tentang
Temuan Negatif: untuk mengurangi bunyi. Nilai Ambang Batas
 Tingkat kebisingan Faktor Fisika dan
berkemungkinan melebihi NAB Faktor Kimia Pasal 5

21
 Berpotensi menyebabkan ayat 1.
gangguan pendengaran akibat
tingginya tingkat kebisingan
pada area tertentu.

Alat Pelindung Diri (APD) Temuan Positif:  Sosialisasi tentang  Permenaker trans
 Perusahaan telah menyediakan pentingnya keselamatan No.PER.08/MEN/
APD bagi setiap tenaga kerja dan kerja menggunakan APD VII/2010 tentang
tamu yang memasuki area kerja untuk meningkat Alat Pelindung
atau area wajib APD kesadaran dari pekerja. Diri

Temuan Negatif:
 Masih ada tenaga kerja yang
kurang menyadari pentingnya
penggunaan APD.

22
K3 confined space (prosedur kerja,  Ruang terbatas tidak ada  JIka menggunakan ruang  Keputusan Direktur
petugas, dll) terbatas sebaiknya Jenderal Pembinaan
penggunaan dan Pengawas
pengelolaannya sesuai Ketenagakerjaan Kep-
dengan Undang-Undang 113/DJPPK/XI/2006
yang berlaku Tentang Pedoman dan
Pembinaan Teknis
Petugas K3 Ruang
Terbatas (Confined
Spaces)

K3 deteksi gas, dll (prosedur kerja, Temuan Positif:  Jika menggunakan gas  SE Menakertrans RI
petugas, dll)  Prosedur kerja (SOP) dan berbahaya dan mudah No.SE.01/Men/DJPP
penanggulangan kecelakaan meledak, sebaiknya K/VIII/2010 tentang
dalam penggunaan gas telah petugas yang ditunjuk Peningkatan
disediakan memiliki sertifikasi yang Pengawasan
sesuai dengan bidang Keselamatan dan
kerja serta penggunaan Kesehatan Kerja
dan pengelolaannya Pengggunaan Gas
sesuai dengan Undang- Elpiji.

23
Undang yang berlaku.

Personil K3: Petugas dan Ahli K3 Temuan Positif:  Mempekerjakan petugas  Keputusan Direktur
Kimia, Petugas Ruang Terbatas,  Sudah memiliki Ahli K3 Umum dan Ahli K3 Kimia Jenderal Pembinaan
Petugas Detektor Gas sebanyak 2 orang Pengawas
Ketenagakerjaan Kep-
Temuan Negatif: 113/DJPPK/XI/2006T
 Belum ada Ahli K3 Kimia entang Pedoman dan
maupun Ahli K3 khusus lainnya Pembinaan Teknis
Petugas K3 Ruang
Terbatas (Confined
Spaces)
 Keputusan Menteri
Tenaga Kerja No. 187
Tahun 1999 tentang
Pengendalian Bahan
Kimia Berbahaya di
Tempat Kerja

24
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan, PT. Kunango Jantan Group telah melaksanakan
program K3 Kesehatan Kerja, K3 Lingkungan Kerja dan B3 seperti:
1. Penerapan K3 di PT. Kunango Jantan belum sepenuhnya sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku karena P2K3 baru dibentuk mulai tahun 2016.
2. Sumber daya untuk penerapan K3 yakni tenaga kerja, anggaran serta sarana
prasarana belum memadai untuk segera diterapkan.
3. Perusahaan telah memiliki komitmen dalam penerapan K3, dibuktikan dengan
rencana upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan lingkungan kerja oleh
manajemen perusahaan.

5.2 Saran
1. Pelatihan dan sosialisasi penerapan K3 secara berkelanjutan untuk menciptakan
safety awareness
2. Membentuk tim HSE perusahaan dan perlunya kebijakan untuk menyediakan
anggaran dan fasilitas untuk K3
3. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan awal, khusus dan berkala bagi para
pekerja.
4. Penambahan Dokter dan paramedis yang tersertifikasi oleh Hyperkes agar
pelayanan kesehatan tenaga kerja semakin baik
5. Mempekerjakan Ahli K3 Kimia untuk laboratorium
6. Meningkatkan Penerapan 5R di lingkungan kerja
7. Pengelolaan dan pengelompokkan limbah B3 lebih teratur serta penyediaan
tempat sampah sesuai dengan kategori.

25

Anda mungkin juga menyukai