Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batubara merupakan salah satu komoditas unggulan untuk sektor pertambangan di
Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ke- 6 terbesar untuk negara yang kaya
akan sumber daya tambang seperti terlihat pada Gambar 1.1 (World Energy
Council, 2015). Jumlah produksi batubara mencapai 246 juta ton dan peringkat
ke- 2 terbesar di dunia sebagai eksportir sejumlah 203 juta ton. Data penggunaan
batubara di Sumatera Selatan seperti terlihat pada Tabel 1.1. Namun berdasarkan
data Pemprov Sumatera Selatan, pemanfaatan batubara belum optimal dimana
baru 10% dari 22,24 miliar ton total cadangan batubara di Sumatera Selatan yang
sudah dikelola. Oleh karena itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel
Robert Heri bersama Pemprov Sumatera Selatan mendorong peningkatan
produksi batubara supaya mencapai 100 juta ton per tahun pada 2018 untuk
meningkatkan nilai ekspor batubara di Sumatera Selatan. Berdasarkan data Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Selatan, volume ekspor batubara
Sumatera Selatan pada 2010 mencapai 5,254 juta ton, meningkat dibandingkan
tahun sebelumnya 4,316 juta ton.

Untuk meningkatkan nilai ekspor batubara, maka potensi batubara di Sumatera


Selatan harus ditunjang dengan infrastruktur yang memadai untuk melakukan
aktivitas pengiriman batubara ke luar negeri (ekspor). Negara tujuan ekspor
batubara di Indonesia seperti terlihat pada Gambar 1.2, yaitu ekspor ke Cina (40
%), India (20 %), Vietnam (20 %), dan sisanya ke Thailand, Kamboja.
Infrastruktur yang utama untuk melakukan ekspor adalah transportasi laut yang
menjadi tumpuan Indonesia sebagai negara kepulauan. Pelabuhan merupakan
infrastuktur laut yang penting untuk melaksanakan proses bongkar muat batubara.
Pengembangan dan pengawasan yang terpadu di pelabuhan sangat dibutuhkan
untuk meningkatkan sistem logistik nasional dalam upaya menunjang pemerataan
pembangunan di seluruh Indonesia.

1
1

Gambar 1.1 Negara penghasil batubara terbanyak


(Sumber: World Energy Council, 2015)

Gambar 1.2 Tujuan negara ekspor batubara dari Indonesia


(Sumber: IchorCoal, 2015)

Untuk menunjang aktivitas pengangkutan batubara dibutuhkan fasilitas bongkar


muat yang berada di luar Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan
Kepentingan Pelabuhan, dapat dibangun Terminal Khusus (Tersus). Apabila
dilakukan di dalam Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan
Kepentingan Pelabuhan maka dapat dibangun Terminal Untuk Kepentingan
Sendiri (TUKS). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Laut per
tahun 2016, saat ini terdapat 430 terminal yang terdiri dari 263 Tersus dan 167
TUKS tersebar di seluruh Indonesia. Tiga provinsi dengan potensi sumberdaya
batubara terbesar di Indonesia adalah provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan dan Sumatera Selatan.

Tabel 1.1 Penggunaan batubara di Sumatera Selatan


Penjualan (ton)
Tahun Dalam negeri Ekspor Jumlah
2005 7,047,776 2,492,201 9,539,977
2006 6,762,539 3,194,657 9,957,196
2007 3,126,922 3,808,057 6,934,979
2008 8,097,128 4,383,116 12,480,244
2009 7,547,714 4,416,311 11,964,025
Total 32,582,079 18,294,342 50,876,421
(Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel, 2017)

Sektor pertambangan di Sumatera Selatan didominasi oleh batubara dimana pada


tahun 2014 produksinya berjumlah 27,004 juta ton. Angka ini meningkat dari 24
juta ton pada tahun 2013. Berdasarkan Perpres 22 Tahun 2017 tentang Rencana
Umum Energi Nasional, Sumatera Selatan diketahui memiliki total sumberdaya
batubara 50.223,3 juta ton. Total batubara tersebut tidak sepenuhnya digunakan
untuk domestik, tetapi ada yang diekspor. Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM
Nomor 7 tahun 2017 pada BAB IV pasal 11 yang berisi tentang laporan penjualan
mineral logam atau batubara untuk ke dalam atau luar negeri. Apabila kegiatan
ekspor yang dilakukan tidak memenuhi dokumen yang tercantum dalam
peraturan, maka kegiatan ekspor termasuk kegiatan yang merugikan
perekonomian negara. Maka dibutuhkan perencanaan yang komprehensif dalam
penyusunan Rencana Pelabuhan Induk Terpadu Batubara di Indonesia sehingga
dapat mendukung tercapainya cita-cita pemerintah untuk dapat membangun
pelabuhan terpadu batubara. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama
perlunya rencana pengembangan pelabuhan terpadu batubara disamping
pertimbangan lain berkenaan dengan aspek kelestarian lingkungan dan rencana
strategis lain yang berkaitan dengan pengembangan komoditas batubara.
Rencana pembangunan pelabuhan induk terpadu batubara di Sumatera Selatan
memiliki dua alternatif, yaitu pembangunan pelabuhan di darat dengan
membangun struktur dermaga jetty atau menggunakan STS. Dalam menentukan
pembangunan pelabuhan induk batubara, dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut
mengenai perbedaan dari kedua rencana pelabuhan, karena dalam pembangunan
pelabuhan di darat atau laut membutuhkan kajian teknis mengenai kondisi
geografis wilayah Sumatera Selatan. Pemilihan lokasi pembangunan pelabuhan ini
sangat penting, guna menunjang nilai perekonomian Sumatera Selatan dari sektor
pertambangan. Selain itu, akan diketahui pelabuhan induk terpadu batubara di
Sumatera Selatan untuk dibangun di darat atau di laut menggunakan STS.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan bahwa
permasalahan yang terjadi pada Perencanaan Pelabuhan Induk Terpadu Batubara
di Sumatera Selatan adalah sebagai berikut.
1. Belum ada kebijakan yang komprehensif dalam penyusunan Rencana
Pelabuhan Induk Terpadu Batubara di Sumatera Selatan yang dapat
menunjang produksi dan distribusi komoditas batubara.
2. Angkutan batubara yang dilakukan dengan jalur darat bisa menimbulkan
risiko kerusakan yang lebih besar pada fasilitas jalan karena penggunaan truk-
truk pengangkut batubara.
3. Perlu dilakukan kajian dan evaluasi mengenai lokasi pelabuhan induk terpadu
batubara di darat atau laut untuk kondisi geografis Sumatera Selatan.

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk:
1. Membandingkan perencanaan pelabuhan induk terpadu batubara
menggunakan pelabuhan di darat dengan struktur dermaga jetty dan STS.
2. Membuat desain dermaga dan layout alur pelayaran pelabuhan induk terpadu
di daratan.
3. Menghitung dimensi dan elevasi dermaga untuk kedalaman mother vessel
50.000 DWT.
4. Mengetahui lokasi transshipment yang memenuhi kebutuhan draft untuk
mother vessel 50.000 DWT.
5. Menghitung total waktu bongkar muat batubara dengan STS.
6. Menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan pelabuhan induk
di laut dan pelabuhan di darat.

1.4 Batasan Penelitian


Batasan masalah yang dipakai di dalam Perencanaan Pelabuhan Terpadu Induk
Batubara di Sumatera Selatan adalah sebagai berikut.
1. Analisis perhitungan dilakukan berdasarkan data sekunder hasil survey di
beberapa perusahaan lokasi pertambangan dan terminal khusus/TUKS
batubara di Sumatera Selatan.
2. Tinjauan yang dilakukan untuk data sekunder di beberapa lokasi
pertambangan memiliki cakupan daerah sepanjang Sungai Musi.
3. Pada perencanaan pelabuhan induk batubara di darat, digunakan program
PLAXIS untuk perhitungan analisis stabilitas lereng tanpa memperhitungkan
gaya gempa dan tsunami, serta data tanah yang terbatas.

1.5 Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan memiliki manfaat:
1. Bahan pembelajaran mengenai perkembangan operasional pelabuhan di laut,
dengan metode STS.
2. Memberikan rekomendasi bagi pemerintah dalam mengidentifikasi lokasi
potensial bagi pengembangan pelabuhan terpadu batubara sesuai dengan
kriteria pelabuhan induk batubara di Sumatera Selatan, berdasarkan hasil
perbandingan antara perencanaan pelabuhan laut (STS) dan pelabuhan darat.
3. Penerapan metode STS dapat menjadi inovasi baru untuk menunjang aktivitas
pengiriman batubara ke luar negeri.