Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

MIOMA UTERI

DI RUANG OPERASI RSI SITI HAJAR

SIDOARJO

Di susun oleh:

YOSSY PRAMITA PRADANA


NIS: 049/034.076

SMK PLUS NAHDLATUL ULAMA

SIDOARJO

2013
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN INI DI SAHKAN DI RUANG OPERASI RSI SITI HAJAR


PADA :

Tanggal, 18 Juli 2013

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Ruangan

SMK Plus NU Operasi RS Siti Hajar

Kepala Ruangan

Operasi RS Siti Hajar

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT .karena berkat


perlindungan-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan kegiatan prakerin ini dan
dapat menyusun laporan prakerin ini.dengan dilaksanakannya prakerin atau
[praktek kerja industri] diharapkan dapat menambah pengetahuan kita sebagai
seorang calon perawat agar pada kedepannya skill kita semakin meningkat.

Dengan diadakannya prakerin ini siswa dapat semakin memahami,


mengerti dan dapat mengaplikasikannya dalam diri pribadi.

Dalam pelaksanaan Prakerin, kami menyadari sepenuhnya bahwa


keberhasilan Prakerin di RSI SITI HAJAR tidak lepas dari bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak, oleh karena kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs.M.Fatchul Djinan CH.,Selaku kepala sekolah SMK PLUS


NAHDLATUL ULAMA’
2. Bapak dan Ibu guru pembimbing akademik yang telah berusaha
semaksimal mungkin untuk membimbing kami,
3. Karyawan RSI SITI HAJAR dan semua pihak yang tidak bisa kami
sebutkan satu persatu.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari


sempurna, sehingga kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak yang
membutuhkan.

Sidoarjo, 4 Juli 2013

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..............................................................................................i

Daftar isi ..........................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................1

1.1 Lembar Pengesahan ...................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................................2

BAB 2 TINJAUAN TEORI .................................................................................3

2.1 Pengertian ..............................................................................................4


2.2 Penyebab ..............................................................................................5
2.3 Tanda dan Gejala ..................................................................................7
2.4 Pemeriksaan Diagnostik ......................................................................8
2.5 Penatalaksanaan ..................................................................................8
2.6 Komplikasi ..................................................................................8

BAB 3 PEMBAHASAN ................................................................................10

3.1 MIOMA UTERI ................................................................................10

BAB 4 PENUTUP ............................................................................................14

4.1 Kesimpulan ................................................................................14


4.2 Saran ............................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................16

LAMPIRAN ........................................................................................................17

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Myoma kadang-kadang disebut juga fibroid atau lemiomata adalah
tumor jinak yang berasal dari sel-sel otot polos. Tumor itu mengandung
sejumlah jaringan ikat yang berbeda yang mungkin terdiri dari sel-sel otot
polos yang telah mengalami degenerasi. Umumnya fibroid ditemukan dalam
dekade ke empat atau kelima dari kehidupan.
Myoma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya menyebabkan
infertil, bisa terjadi sebagai akibat keguguran spontan, berulang atau
tertutupnya bagian tuba yang berbeda di dalam rahim. Komplikasi kehamilan
bias berbentuk persalinan premature, abortus, solutio plasenta dan distocia
fibroid bias tumbuh cepat dalam masa hamil dan mengalami infark. Sebuah
fibroid yang mengalami infark dapat menimbulkan rasa nyeri dan bias
merupakan sebuah komplikasi kehamilan yang sangat sulit menanganinya.
Berdasarkan otopsi norax menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
memiliki sarang myoma. Myoma uteri belum pernah (dilaporkan) terjadi
sebelum menarche. Setelah menopause hanya kira-kira 10% myoma yang
masih tumbuh. Di Indonesia myoma uteri ditemukan 2,39-11,7% pada semua
penderita ginekologi yang dirawat.
Adapun dampak bila myoma uteri tidak diangkat yaitu terjadi
pertumbuhan leimiosarkoma, nekrosis, dan infeksi. Untuk mencegah agar
tidak terjadi dampak-dampak yang lebih parah, maka ada beberapa cara
pengobatan yang dapat dilakukan, diantaranya adalah terapi operatif yaitu
dengan histerektomi total abdominal.
Histerektomi total abdominal dengan atau tanpa salphingektomi adalah
salah satu operasi ginekologi yang paling sering dilakukan sehingga hal ini
menjadi salah satu tindakan standar bagi ahli bedah ginekologi yang
berpraktek. Meskipun klien telah mengalami pembedahan bukan bebrarti
masalah sudah teratasi, tapi akan timbul dampak-dampak akibat pembedahan
antara lain perubahan siklus hormone, menopause dini, timbul masalah coitus,

1
peningkatan insien osteoporosis, adanya nyeri, lebih lama dalam mendapatkan
kembali fungsi usus, kesulitan miksi. Oleh karena itu diperlukan perawatan
yang tepat untuk mengurangi rasa sakit pada klien, mencegah
komplikasisetelah operasi dan menolong penyembuhan dalam fungsi-fungsi
yang normal.
Perawat sebagai bagian dari integral dari pelayanan kesehatan memiliki
peranan yang besar dalam proses penyembuhan penderita.

Tumor merupakan salah satu penyakit yang diikuti oleh wanita, sehingga
masalah yang muncul pada klien myoma uteri ini tidak hanya masalah fisik tetapi
juga terkait dengan masalah psikososial. Masalah fisik umumnya menyangkut
nyeri, perdarahan dan masalah psikkososial mencakup cemas, gangguan body
image dan proses kehilangan

1.2. Tujuan Penulisan


1.2.1. Tujuan Umum :
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
pembuatan makalah mata kuliah prakerin.
1.2.2. Tujuan Khusus :
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui definisi tentang myoma uteri
2. Mengetahui etiologi myoma uteri
3. Mengetahui manifestasi klinik dari myoma uteri
4. Mengetahui komplikasi myoma uteri
5. Mengetahui penatalaksanaan myoma uteri

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Paritas
2.1.1. Definisi Paritas
Para adalah wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup
(viable) (Prawirohardjo et al, 2006).
Paritas merupakan suatu istilah untuk menunjukkan jumlah kehamilan
bagi seorang wanita yang melahirkan bayi yang dapat hidup pada setiap
kehamilan (Oxford Concise Medical Dictionary, 2007).

2.1.2. Klasifikasi Istilah Paritas


Menurut Cunningham et al (2005) terdapat beberapa istilah yang
merujuk kepada jumlah paritas, yaitu:
1. Nullipara: seorang wanita yang tidak pernah menjalani proses
kehamilan melebihi minggu ke-20.
2. Primipara: seorang wanita yang pernah melahirkan hanya sekali
atau beberapa kali melahirkan janin yang hidup atau mati dengan
estimasi
lama waktu gestasi antara 20 atau beberapa minggu.
3. Multipara: seorang wanita yang pernah menjalani waktu
kehamilan
dengan sempurna 2 atau lebih dengan waktu gestasi 20 minggu
atau lebih.

2.1.3. Penentuan Paritas


Paritas ditentukan dari jumlah kehamilan yang mencapai 20 minggu
dan bukan dari jumlah bayi yang dilahirkan. Oleh itu, paritas tidak lebih besar
apabila yang dilahirkan adalah janin tunggal, kembar, atau kuintuplet, atau
lebih kecil apabila janin lahir mati (Cunningham et al, 2005).
Paritas adalah ringkasan dari riwayat kehamilan dan 2 angka
digunakan untuk dokumentasi. Penambahan kedua angka ini memberi nilai
untuk kehamilan sebelumnya. Sebagai contoh para 0+0 bererti tidak
mempunyai riwayat kehamilan sebelumnya. Angka yang pertama merupakan
jumlah angka janin yang masih hidup, ditambah dengan angka janin yang hidup
3
selepas 24 minggu gestasi. Angka yang kedua merupakan angka kehamilan
sebelum 24 minggu di mana janin tidak dilahirkan hidup (Drife et al, 2004).

2.2. Anatomi Uterus


Uterus pada seorang dewasa berbentuk seperti buah advokat atau buah pear
yang sedikit gepeng. Ukuran panjang uterus adalah 7,0–7,5cm, lebarnya adalah
5,25cm dan tebalnya 2,5cm. Uterus terdiri atas korpus uteri (dua pertiga bagian atas)
dan serviks uterinya (sepertiga bagian bawah) (Saifuddin et al, 2005).
Uterus terletak di dalam kavum pelvik diantara anterior dari vesika
urinaria dan posterior dari rektum. Hampir keseluruhan dinding posterior uterus
diselaputi oleh serosa atau peritoneum. Bagian bawah uterus membentuk
batasan bagian anterior dari kavum Douglas. Hanya bagian atas dari dinding
anterior uterus yang tertutup. Bagian bawahnya menyatu dengan bagian
posterior dinding vesika urinaria (Cunningham et al, 2005).

Uterus terdiri dari fundus uteri, korpus uteri dan serviks uteri. Fundus
uteri adalah bagian uterus proksimal dan merupakan tempat di mana kedua tuba
Falloppii masuk ke uterus. Korpus uteri adalah bagian yang terbesar dan rongga
yang terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim. Serviks
uteri terdiri dari pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio dan pars
supravaginalis servisis uteri adalah bagian serviks yang berada di atas vagina.
Saluran yang terdapat pada serviks disebut kanalis servikalis yang berbentuk
seperti saluran lonjong dengan panjang
2,5cm. Pintu saluran serviks sebelah dalam disebut ostium uteri internum dan
pintu di vagina disebut ostium uteri eksternum (Prawirohardjo et al, 2006).
Dinding uterus terdiri atas miometrium, yang merupakan otot polos
berlapis tiga; yang sebelah luar longitudinal, yang sebelah dalam sirkuler,
yang diantara kedua lapisan ini saling beranyaman. Miometrium secara
keseluruhannya dapat berkontraksi dan relaksasi. Kavum uterus dilapisi oleh
selaput lendir yang kaya dengan kelenjar, disebut endometrium.
Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar dan stroma yang kaya
dengan pembuluh darah yang berkeluk-keluk (Saifuddin et al, 2005).
Arteri pada uterus masing-masing berasal dari arteri internal iliaka
yang menperdarahi bagian yang meluas dari ligamen hingga ke uterus. Setiap
arcuate artery akan membentuk suatu lingkaran yang

4
menperdarahi uterus dan beranastomosis dengan arcuate artery
yang lain. Sepanjang perdarahan, arteri-arteri yang kecil akan penetrasi ke
bagian miometrium sehingga ke endometrium dan menghasilkan arteri spiral
(Kenneth, 2007).

2.3. Mioma Uteri


2.3.1. Definisi Mioma Uteri
Leiomioma (dikenali sebagai fibroid atau mioma) merupakan
proliferasi secara lokal pada sel otot polos yang dikelilingi oleh kompresi
otot fiber dari pseudokapsul. Prevalensi tertinggi adalah pada dekade yang
kelima dari usia wanita, kemungkinan muncul 1 pada 4 wanita kulit putih dan 1
pada 2 wanita kulit hitam (Beckmann et al, 2010).
Dalam Cunningham, F.G. et al (2005), leiomioma merupakan tumor
jinak otot polos yang sering ditemukan sewaktu kehamilan. Rice et al (1989)
melaporkan sebanyak 1,4% dari lebih 6700 kehamilan merupakan komplikasi
dari mioma uteri. Sheiner et al (1989) melaporkan 1 dari 500 wanita hamil
mempunyai komplikasi yang berhubungan dengan leiomioma.
Mioma sering ditemui sekitar 1 hingga 2% pada kehamilan yang
didiagnosis menggunakan ultrasonografi. Risiko mioma mulai berkurang
dengan peningkatan jumlah paritas dan peningkatan usia kehamilan. Wanita
dengan sekurang-kurangnya dua kehamilan cukup bulan mempunyai separuh
risiko untuk mendapat mioma. Merokok mengurangkan risiko terjadinya
mioma uteri karena adanya pengurangan tingkat estrogen, dan obesitas
meningkatkan risiko terjadinya mioma uteri akibat dari peningkatan tingkat
estrogen. Walaupun pengurangan risiko terjadinya mioma ada hubungannya
dengan faktor pengurangan tingkat estrogen, termasuk wanita yang kurus,
merokok, dan olahraga, namun penggunaan kontrasepsi secara oral tidak ada
hubungan dengan peningkatan risiko mioma uteri. Walaubagaimanapun,
Nurses’ Health Study melaporkan terjadinya sedikit peningkatan risiko apabila
menggunakan kontrasepsi secara oral pada usia awal remaja (Speroff et al, 2005).
2.3.2. Faktor Risiko Mioma
Uteri
Terdapat beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan pertumbuhan
dari fibroid, yaitu:
1. Umur:
Wanita pada umur 30-an dan 40-an sering mengalami pertumbuhan fibroid.
5
Namun
begitu, sebanyak 30% dari seluruh wanita mengalami pertumbuhan fibroid
apabila umur mereka mencapai 35 tahun. Dari hasil estimasi yang
dilakukan, seramai
20% dari wanita kulit putih dan 50% dari wanita kulit hitam dengan usia di atas
30 tahun mengalami fibroid (Rosenthal, 2003).
2. Riwayat keluarga:
Adanya ahli keluarga dengan fibroid meningkatkan faktor risiko. Jika ibu
kepada wanita mempunyai fibroid, maka risiko yang dihadapinya sekitar 3 kali
lebih tinggi berbanding dengan tiada riwayat keluarga (National Women’s
Health Information Center).
3. Ras dan etnik:
Statistik menggambarkan wanita dari Afrika-Amerika mempunyai 3
hingga 5 kali lipat risiko mengalami fibroid berbanding wanita
kulit putih (Shriver E.K., 2005).
4. Obesitas:
Obesitas akan menjurus kepada peningkatan BMI sekaligus meningkatkan
risiko kejadian dan perkembangan fibroid. (Bieber et al, 2006)
5. Pemakanan:
Makan daging yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya fibroid.
Makan makanan mengandungi sayuran hijau dapat melindungi wanita dari
pertumbuhan fibroid (National Women’s Health Information Center).

2.3.3. Karakteristik dan Klasifikasi Mioma Uteri


Leiomioma dapat membesar hingga lebih dari 45kg. Setiap tumor
dibatasi oleh pseudokapsul, bidang pembelahan potensial yang berguna
untuk enukleasi dengan pembedahan. Leiomioma mungkin terjadi satu atau
multinoduler dan biasanya berwarna lebih muda dibanding miometrium normal.
Pada irisan tertentu, leiomioma menunjukkan pola trabekulasi atau pusaran
(whorled) otot polos dan jaringan ikat fibrosa dengan perbandingan yang
bervariasi. Secara mikroskopis, dijumpai miosit yang sudah matang dan
berukuran seragam dengan penampakan jinak yang khas. Sel otot polos tersusun
dalam berkas-berkas dengan jaringan fibrosa berselang seling yang berhubungan
dengan perluasan atrofi dan degenerasi yang sudah terjadi (Benson et al, 2009).
Suplai darah biasanya melalui satu atau dua arteri besar dan tumor
cenderung memperbesar suplai darahnya dengan degenerasi berikutnya. Pada

6
leiomioma yang lebih besar, dua pertiga menunjukkan beberapa degenerasi.
Degenerasi leiomioma akut relatif jarang tetapi dapat menjadi nekrotik,
hemoragik atau septik (Benson et al, 2009).
Menurut Beckmann et al (2010), leiomioma dapat diklasifikasikan ke
dalam subkelompok berdasarkan hubungan anatomi terhadap lapisan dari uterus.
Tiga jenis yang biasa ditemui adalah:
1. Intramural yang terletak di bagian tengah dari dinding otot uterus;
2. Subserosal yang berada di bawah lapisan serosa uterus;
3. Submukosal yang letaknya berada di bawah endometrium.

Mioma submukosal dapat tumbuh bertangkai menjadi polips,


kemudian dilahirkan melalui saluran serviks yang dikenali sebagai
myomgeburt. Mioma subserosal dapat tumbuh diantara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi mioma intra ligamenter. Selain itu, mioma
subserosal dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus,
sehingga disebut sebagai wandering atau parasitic fibroid. Mioma pada serviks
dapat menonjol ke dalam saluran serviks sehingga ostium uteri eksternum
berbentuk bulan sabit. (Saifuddin, 2005).

7
Gambar 2.1. Berbagai Jenis Mioma Uteri (Saifuddin, 2005)

2.3.4. Gejala Klinis Mioma Uteri


Sekitar dua pertiga wanita dengan leiomioma tidak menunjukkan
gejala. Munculnya gejala tergantung pada jumlah, ukuran, letak, keadaan
dan kondisi. Gejala ginekologi yang paling umum adalah perdarahan uterus
abnormal, efek penekanan, nyeri dan infertilitas. Perdarahan uterus abnormal
dijumpai pada kira- kira 30% penderita leiomioma uteri. Menoragia merupakan
pola perdarahan uterus abnormal yang paling umum. Meskipun pola apa saja
mungkin terjadi, namun yang paling sering berupa perdarahan bercak
premenstruasi dan sedikit perdarahan terus menerus setelah menstruasi. Anemia
defisiensi besi sering terjadi akibat kehilangan darah menstruasi yang banyak
(Benson et al, 2009).
Selain itu, gejala dari tekanan dan desakan leiomioma bervariasi.
Paling umum adalah pertambahan lingkar perut, rasa penuh atau berat
pada pelvis, gangguan frekuensi miksi akibat terdorongnya kandung kemih dan
sumbatan ureter. Gejala lain yang lebih jarang dijumpai adalah tumor besar

8
yang menyebabkan bendungan pelvis dengan edema ekstremitas bawah atau
konstipasi. Tumor parasitik dapat menyebabkan sumbatan usus. Tumor pada
serviks pula dapat menyebabkan leukorea, perdarahan pervaginam, dispareunia
atau infertilitas. Abortus mungkin terjadi 2 hingga 3 kali lebih sering pada
penderita leiomoma (Benson et al, 2009).

2.3.5. Patofisiologi Mioma Uteri


Nyeri abdomen dapat disebabkan oleh torsi, degenerasi atau perdarahan
di dalam tumor. Nyeri kram dapat disebabkan oleh kontraksi uterus sebagai
upaya untuk mengeluarkan suatu polip fibroid melalui kanalis servikalis (Taber,
1994).
Rasa nyeri bukan merupakan gejala khas tetapi dapat timbul karena
gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat
dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosa yang akan dilahirkan,
pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan
dismenore (Saifuddin et al,
2005).

Lokasi mioma penting dalam menentukan tingkat keparahan perdarahan


yang berhubungan dengan fibroid. Mioma submukosa dapat meningkatkan
terjadinya menoragia baik secara efek lokal terhadap endometrium atau alterasi
endometrium terhadap permukaan fibroid. Namun, tiada bukti dari histeroskopik
atau mikroskopik yang menyokong hipotesa ini (Bieber et al, 2006).
Perubahan dari vaskular dapat menjadi mekanisme yang berpotensi
terhadap fibroid dalam mempengaruhi menoragia. Miometrium yang
berdekatan dengan mioma mengalami kompresi vena yang mengarah kepada
formasi venous lake di dalam miometrium sekaligus mempengaruhi corak
perdarahan (Bieber et al, 2006).
Berhubungan dengan lokasi mioma diantara miometrium, fibroid
dapat bertumbuh besar sehingga menekan organ yang berdekatan dan
mengganggu fungsi pelvik. Oleh itu, penderita akan mengalami sakit di bagian
bawah abdominal, sakit belakang atau masalah berkemih (Rosenthal,2003).
Gangguan penekanan dari mioma tergantung dari besar dan lokasi
mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada
uretra dapat menyebabkan retensio urin, pada ureter dapat menyebabkan

9
hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi
dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat
menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul (Saifuddin et al, 2005).
Ukuran fibroid yang sangat besar dapat mengganggu kehamilan
karena mioma mengambil terlalu banyak ruang. Tambahan pula, fibroid dapat
bertambah besar sehingga penderita yang tidak hamil dapat menyerupai
wanita hamil (Rosenthal,2003).
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan
pars interstisialis tuba, sedangkan mioma submukosa memudahkan terjadinya
abortus oleh karena distorsi rongga uterus (Saifuddin et al, 2005).

Wanita dengan mioma subserosa dan mioma intramural tidak


mempunyai risiko infertilitas walaupun subanalisis dari 4000 pasien mengarah
kepada penurunan kadar implantasi yang signifikan. Presentasi mioma
submukosa menghasilkan 68% penurunan implantasi dan 73% penurunan
kehamilan klinis. Ini adalah penting bagi menunjukkan dari meta-analisis
bahwa tiada makna yang signifikan dalam peningkatan infertilitas pada
wanita dengan jumlah fibroid yang banyak atau lokasi leiomioma. Kebanyakan
peneliti menyokong kepada konsep fibroid dan fertilitas dengan penurunan
signifikan dari lokasi anatomik submukosa kepada intramural kepada
subserosa (Bieber et al, 2006).

2.3.6. Patogenesis Mioma Uteri


Mioma uteri berkembang sebagai klon sel yang abnormal hasil dari satu
sel progenitor dimana tempat berlakunya mutasi. Penelitian menunjukkan
bahawa mioma uteri adalah monoklonal. Perbedaan kadar pertumbuhan
menggambarkan perbedaan abnormalitas sitogenetik pada suatu tumor.
Kehadiran mioma multipel pada uterus yang sama tiada hubungan klonisasi
dan setiap tumor tumbuh tidak bergantungan antara satu sama yang lain (Speroff
et al, 2005).
Keadaan di dalam leiomioma adalah hiperesterogenik. Konsentrasi
estradiol meningkat dan leiomioma mengandungi lebih banyak reseptor
estrogen dan progesteron. Tingkat ekspresi dari gen dan enzim aromatase
meningkat pada leiomioma. Malah, tisu-tisu leiomioma menjadi
hipersensitifitas terhadap estrogen dan tidak dapat merangsang regulator untuk
10
membatasi respon dari estrogen. Pada miometrium dan leiomioma, puncak
aktivitas mitotik berlaku semasa fase luteal. Pemberian progestational agents
dengan dosis tinggi dapat meningkatkan aktivitas mitotik. Ini menunjukkan
terdapat stimulus dari progesteron terhadap peningkatan aktivitas mitotik
dalam leiomioma, tetapi dalam penelitian terhadap binatang menunjukkan
terdapat stimulus dan inhibisi dari pertumbuhan miometrium (Speroff et al,
2005).
Konsentrasi reseptor progesteron dijumpai meningkat pada
leiomioma. Walaupun masih kontroversi, konsentrasi reseptor progesteron
pada fibroid meningkat sepanjang siklus menstruasi. Penemuan ini patut diberi
perhatian karena siklus menstruasi yang normal akan menstimulasi
peningkatan daripada reseptor progesteron. Tiada sistem regulator di dalam
fibroid sehingga konsentrasi reseptor progesteron akan tetap meningkat.
Peningkatan progesteron akan meningkatkan indeks mitotik dalam fibroid di
mana potensiasi pertumbuhan fibroid sewaktu perubahan siklus hormonal dari
siklus menstruasi berlaku (Bieber et al, 2006).
Estrogen dan progesteron saling berinteraksi dengan growth factors
yang bervariasi di dalam leiomioma untuk mempengaruhi dan menstimulasi
pertumbuhan. Epidermal growth factor (EGF) dan reseptornya (EGF-R)
dapat dijumpai pada miometrium dan sel leiomioma. Menurut Maruo et al
dalam Bieber et al (2006), esterogen dapat meningkatkan produksi lokal
dari EGF dalam sel leiomioma, manakala progesteron secara sinergis
meningkatkan EGF-R. Faktor ini menyebabkan meningkatnya potensi mitogenik
dari sel leiomioma.

2.3.7. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Mioma Uteri


Tergantung dari lokasi dan ukuran, leiomioma kadang kala dapat
dipalpasi dengan pemeriksaan pelvis bimanual atau pada pemeriksaan
abdominal. Pemeriksaan bimanual menemukan pada pembesaran uterus yang
irregular dan mengeras dengan lumpy-bumpy atau protrusi batu bulat
(cobblestone) yang dapat teraba agak keras semasa palpasi (Heffner et al, 2004).
Pemeriksaan ginekologik secara rutin kadang kala dapat menemukan
fibroid. Semasa pemeriksaan ini, pemeriksa memeriksa ukuran uterus dengan
meletakkan dua jari dari sebelah tangan ke dalam vagina manakala tangan

11
yang berlawanan memberi sedikit penekanan ke atas abdomen. Jika terdapat
fibroid, uterus akan teraba lebih besar atau uterus akan membesar mengarah
ke kawasan yang tidak sepatutnya (Shriver, 2005).
Semasa mengambil sampel endometrium kadang kala dapat
ditemukan kavum uterus yang irregular. Selalunya diagnosis menunjukkan
adanya penilaian patologis terhadap spesimen uterus dari indikasi yang
berbeda. Pada pemeriksaan abdominal pelvis teraba suatu massa pelvis yang
besar, midline, irregular-contoured mobile dengan karakteristik hard feel atau
keras (Beckmann et al, 2010).
Pelvis ultrasonografi digunakan untuk memastikan (bila perlu)
kehadiran mioma uteri, tetapi biasanya ditegakkan secara klinis. Komponen kista
sering terlihat hipoekogenik dan penampakan yang konsisten dengan
mioma yang melalui degenerasi. Struktur adneksal termasuk ovari dapat
dibedakan dari tumor. CAT dan MRI berguna untuk evaluasi mioma yang
berukuran besar karena ultrasonografi tidak dapat menggambarkannya
(Beckmann et al, 2010).
Histeroskopi dapat digunakan untuk evaluasi pembesaran uterus
secara langsung dari kavum endometrium dengan menggambarkan
peningkatan ukuran kavum dan mioma submukosal dapat divisualisasi dan
diangkat (Beckmann et al,2010).

2.4 Hubungan Kehamilan Dengan Mioma Uteri


Reseptor esterogen menurun pada miometrium yang normal semasa
fase sekresi dari siklus menstruasi dan semasa kehamilan (Benassayag and
colleagues,1999).
Pada mioma, reseptor esterogen terdapat sepanjang siklus menstruasi,
tetapi mengalami supresi progesteron terdapat pada miometrium dan mioma
sepanjang siklus menstruasi dan kehamilan. Tambahan pula mioma berkembang
pada awal kehamilan akibat dari stimulasi hormonal dan growth factors yang
sama yang memicu perkembangan uterus. Paradoks, mioma memberi respon
yang berbeda pada setiap individu wanita dan tidak dapat dipredeksi secara
akurat perkembangan setiap mioma (Cunningham et al, 2005).
Pada trimester pertama, ukuran mioma tidak berubah atau makin
membesar sehubungan dengan peningkatan estrogen. Pada trimester kedua,

12
mioma yang berukuran 2 hingga 6cm selalunya tidak berubah atau membesar,
namun bagi mioma yang berukuran besar akan mengecil, kemungkinan dari
inisiasi penurunan regulasi reseptor esterogen. Pada trimester ketiga, tanpa
mengirakan ukuran mioma, selalunya mioma tidak berubah atau mengecil
akibat dari penurunan regulasi reseptor esterogen (Cunningham et al, 2005).
Volume leiomioma yang meningkat semasa kehamilan jarang
membesar lebih dari 25%. Lebih 10% wanita dengan mioma mengalami
komplikasi tipe antepartum, intrapartum atau postpartum. Komplikasi akibat
leiomioma termasuk keguguran, antepartum dan postpartum hemoragik,
gangguan plasenta, peningkatan risiko kelahiran preterm dan persalinan,
peningkatan kadar seksio sesarea dan perubahan akut iskemia dan degenerasi
kedua fibroid dapat mengurangkan perfusi atau torsi. Fibroid dapat
meningkatkan risiko keguguran secara spontan semasa trimester pertama
(Bieber et al, 2006).
Terdapat dua faktor yang penting dalam menentukan morbiditas yaitu
ukuran mioma dan lokasi. Jarak mioma dengan daerah implantasi sangat penting.
Terjadinya aborsi, abrupsio plasenta, kelahiran preterm dan postpartum hemoragik
dapat meningkat jika plasenta berhampiran atau diimplantasi pada mioma. Tumor
pada serviks atau bagian bawah segmen uterus dapat mengganggu persalinan.
Mioma ukuran besar dapat menyebabkan distorsi pada anatomi dan menolak
ureter ke lateral. (Cunningham et al, 2005)
Degenerasi merah dari mioma dapat terjadi pada kehamilan yang lebih
lanjut, di mana suatu kondisi yang berakibat dari infark hemoragik sentral pada
mioma. Pada kondisi ini gejala utamanya adalah sakit, sering dikaitkan
dengan rebound tenderness, demam yang ringan, leukositosis, mual dan muntah
(Speroff et al, 2005).
2.5 Penatalaksanaan
Rawat inap darurat diindikaikan apabila perdarahan mengancam jiwa atau
nyeri akut abdomen. Perencanaan tata laksana harus disesuaikan dan spesifik atas
pertimbangan : keparahan gejala, keinginan mempunyai anak di kemudian hari,
dan ukuran tumor.

13
1. Kuretagge endometrium
Dapat mengidentifikasi kelainan pada endometrium dan menyingkirkan
kemungkinan keganasan endometrium. Apabila leiomioma ukurannya kecil, tidak
mengubah rongga endometrium dan apabila endometrium menunjukkan
perdarhan anvoluntair maka dapat dipertimbangkan untuk menekanovarium
dengan tablet kombinasi estrogen-progestrin. Hormon – _ystem_ tersebut harus
digunakan dengan hati-hati, karena dapat membangkitkan leiomioma yang sudah
ada.
2. Pengobatan operatif ( Miomektomi dan Histerektomi )
Miomektomi dianjurkan apbila pasien hendak mempertahankan atau
meninkatkan potensinya untuk hamil.
Histerektomi merupakan pengobatan definitive untuk gejala yang
persisten. Namun, hiterektomi dianjurkan bagi pasien-pasien simptomatik yang
tidak lagi menghendaki anak di kemudian hari.
3. Radioterapi

Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga


penderita mengalami menopause. Radioterapi ini umumnya hanya dikerjakan
kalau terdapat kontra indikasi untuk tindakan operatif.

14
BAB 3
PEMBAHASAN

Mioma uteri adalah tumor/benjolan padat seperti 'daging/pentol bakso'


yang tumbuh di rahim. Tumor atau benjolan ini bersifat jinak bukan ganas, namun
pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh hormon wanita yaitu estrogen maupun
progesteron. Oleh karenanya tumor ini tumbuh dan berkembang pada wanita usia
reproduksi tetapi tumor ini akan terhambat pertumbuhannya atau bahkan dapat
mengecil jika wanita tersebut sudah menopause.

Gejala atau keluhan wanita dengan mioma uteri sangat bervariasi, mulai
dari tidak ada keluhan hingga timbul keluhan yang dapat mengganggu aktifitasnya
sehari. Jika tidak ada keluhan, wanita dengan tumor ini, terdeteksi saat periksa ke
dokter dengan keluhan lain misalnya ingin punya anak atau keputihan dsb. Wanita
yang mengalami hal ini, apakah perlu diambil/dioperasi mioma uterinya ? Hal ini
menjadi 'perdebatan/kontroversi' dibidang kedokteran. Ada yang berpendapat
meskipun tidak ada keluhan, miomanya harus diambil karena kalau dibiarkan
(terutama usia reproduksi) maka mioma uteri akan membesar, sedangkan
pendapat yang lain, untuk apa dilakukan operasi jika tidak ada keluhan, cukup
dilakukan monitoring saja pada wanita tersebut apalagi jika wanita itu usianya
mendekatai menopause. Toh pada menopause miomanya akan mengecil
sendirinya.

Namun disepakati bersama oleh para ahli dokter ginekologi bahwa jika
mioma uteri tersebut mengganggu kesuburan seorang wanita (krn mioma uterinya
berada di rongga rahim misalnya) maka mioma tersebut harus diambil/dioperasi.
Sehingga menurut pendapat saya, penanganan mioma pada wanita yang tanpa
keluhan, perlu diskusi bersama antara dokter, pasien & suami/keluarga pasien
untuk mengambil keputusan yang terbaik buat pasien/wanita tersebut.

Sedangkan mioma yang disertai keluhan dapat berupa benjolan di perut


bagian bawah, nyeri saat haid ataupun diluar haid, gangguan BAK atau BAB dan
adanya gangguan haid. Nah, wanita dengan keluhan-keluhan seperti ini sebaiknya
dilakukan operasi/pengambilan mioma uteri.

15
Pengobatan/terapi, pilihan terapi pada wanita dengan mioma uteri ini ada 2
(dua) macam yaitu; yang pertama adalah Non Operatif terapi hanya dengan
monitoring/kontrol/check up rutin untuk melihat perkembangan miomanya apakah
ukurannya tetap atau bertambah besar. Obat-obatan untuk mioma hingga saat ini
tidak ada yang 100% efektif menyembuhkan/menghilangkan mioma uteri (baik
obat minum ataupun obat suntik). Jika obat-obatan tersebut dihentikan maka
miomanya akan tumbuh besar lagi atau keluhannya muncul lagi.

Yang kedua adalah Operatif yaitu melakukan tindakan pembedahan atau


pengambilan mioma dengan cara dioperasi. Terapi ini sangat dianjurkan kepada
wanita-wanita dengan mioma uteri yang telah terdapat keluhan/gejala. Tindakan
operasi/pembedahan pada mioma uteri ini dapat dilakukan dengan 2 macam
pendekatan yaitu pertama pendekatan pembedahan konservatif (hanya mengambil
miomanya saja disebut dengan miomektomi), yang kedua pembedahan radikal
(tidak hanya mengambil miomanya saja tetapi mengangkat rahim sekaligus
disebut dengan histerektomi) masing-masing mempunyai keuntungan dan
kerugian sendiri-sendiri.

Miomektomi, mempunyai keuntungan yaitu pada wanita tersebut masih


bisa haid setelah dilakukan operasi dan masih mempunyai kemungkinan bisa
hamil karena rahimnya tidak diambil/diangkat. Sehingga tindakan ini dilakukan
pada wanita-wanita yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksi/ingin
punya anak lagi. Kerugian tindakan ini adalah ada kemungkinan wanita tersebut
dapat terkena mioma uteri lagi di kemudian hari/pasca operasi karena
rahim/uterusnya masih ada apalagi wanita tersebut masih usia reproduksi belum
menopause.

Histerektomi atau angkat kandungan, mempunyai keuntungan bahwa


wanita tersebut tidak akan terkena/menderita mioma uteri lagi dimasa yang akan
datang/pasca operasi karena rahimnya juga sudah diangkat. Kerugiannya, wanita
yang menjalani histerektomi ini tidak akan haid dan tidak akan bisa hamil lagi

16
pasca operasi. Sehingga tindakan ini dilakukan pada wanita-wanita yang sudah
punya anak cukup dan tidak ingin punya anak lagi.

17
BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Mioma uteri adalah suatu neoplasma jinak dari lapisan otot rahim yang
bersifat konsistensi padat dan kenyal serta berbatas tergas dan mempunyai
pseudokapsul
Penyebab mioma uteri dapat terjadi beberapa sebab, yaitu :
Kanker serviks dan mioma uteri merupakan kanker terbanyak pada wanita.
Kanker serviks penyebabnya tidak jelas namun diduga dipengruhi oleh : prilaku
sek, personal higiene, lingkungan maupun pelayanan kesehatan. pada klien yang
menderita kanker serviks merupakan suatu bentuk yang komprehensif dan unik
tergantung dari fase dan derajat kanker yang ditemukan serta kondisi bio-psiko-
sosial dari klien.

4.2 Saran

Untuk mengatasi abortus iminens sebaiknya disarankan:


1. Pengobatan Non Operatif terapi hanya dengan monitoring/kontrol/check
up rutin untuk melihat perkembangan miomanya apakah ukurannya tetap
atau bertambah besar. Obat-obatan untuk mioma hingga saat ini tidak ada
yang 100% efektif menyembuhkan/menghilangkan mioma uteri (baik obat
minum ataupun obat suntik). Jika obat-obatan tersebut dihentikan maka
miomanya akan tumbuh besar lagi atau keluhannya muncul lagi

2. Miomektomi atau pengangkatan mioma, mempunyai keuntungan yaitu


pada wanita tersebut masih bisa haid setelah dilakukan operasi dan masih
mempunyai kemungkinan bisa hamil karena rahimnya tidak
diambil/diangkat. Sehingga tindakan ini dilakukan pada wanita-wanita
yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksi/ingin punya anak
lagi. Kerugian tindakan ini adalah ada kemungkinan wanita tersebut dapat
terkena mioma uteri lagi di kemudian hari/pasca operasi karena

18
rahim/uterusnya masih ada apalagi wanita tersebut masih usia reproduksi
belum menopause.

3. Histerektomi atau angkat kandungan, mempunyai keuntungan bahwa


wanita tersebut tidak akan terkena/menderita mioma uteri lagi dimasa yang
akan datang/pasca operasi karena rahimnya juga sudah diangkat.
Kerugiannya, wanita yang menjalani histerektomi ini tidak akan haid dan
tidak akan bisa hamil lagi pasca operasi. Sehingga tindakan ini dilakukan
pada wanita-wanita yang sudah punya anak cukup dan tidak ingin punya
anak lagi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anderson Price Sylvia,dkk. 1991. Patofisiologi Edisi 2 Bagian 4. Penerbit


EGC. Jakarta
Heller Luz. 1991. Gawat Darurat Ginekologi Dan Obstetri. Penerbit EGC.
Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. 2005. PATOFISIOLOGI : konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta : EGC.
R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Scott, James R. 2002. Buku saku Obstetri dan Ginekologi. Penerbit Widya
Medika. Jakarta.
Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta
: EGC.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta : EGC.

______, 2007, apendisitis, terdapat pada:www. harnawatiarjwordpress.com


diakses tanggal 10 Juli 2013.
______http://nursingbegin.com/askep-apendisitis/
______http://putrisayangbunda.blog.com/2010/02/10/askep-apendisitis-usus-
buntu/

20