Anda di halaman 1dari 3

Laporan Ilmu Ukur Tanah Tahun 2018 Nilai:

Acara VI Waktu Praktikum


Differential Levelling Senin, 11:00 WIB
Disusun oleh Asisten Praktikum Tanggal Praktikum
Nama Praktikan: 1. 31-10-2018
NIM:
Lampiran (Terlampir)
I. Metode Memanjang
1. Perhitungan Jarak
2. Perhitungan Beda Tinggi
II. Metode Melintang
1. Perhitungan jarak alat-baak ukur
2. Perhitungan beda tinggi
3. Perhitungan jarak antar titik
III. Sketsa Pengukuran Metode Memanjang dan Melintang
Pembahasan

Beda tinggi diartikan sebagai selisih antara dua bidang nivo yang melalui dua titik di
permukaan bumi. Bidang nivo adalah suatu bidang horisontal bersifat ekuipotensial yang tegak lurus
dengan garis arah gaya berat yang melalui suatu titik (Umaryono,1988; Rinaldy dan Anwari, 2013).
Levelling atau sipat datar merupakan proses dalam menemukan elevasi titik atau beda elevasi titik-
titik. Apabila jarak antara dua buah titik yang akan diukur beda tingginya relative jauh, maka
dilakukan pengukuran berantai. Pengukuran tak dapat dilakukan dengan satu kali berdiri alat. Oleh
karena itu antara dua buah titik kontrol yang berurutan dan pengukurannya dibuat secara berantai
(differential levelling). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan waterpass. Waterpass
merupakan alat yang memiliki ketelitian yang cukup tinggi, mampu melakukan pengukuran beda
tinggi secara lebih cepat, dan centering lebih cepat karena hanya centering untuk nivo. Ketelitian
suatu waterpass dengan nivo tergantung pada kepekaan nivo dan pembesaran teropong. (Brinker,
dkk 2000).

Pengukuran differential levelling dilakukan dengan dua metode yaitu memanjang dan
melintang. Hasil pengukuran jarak metode memanjang pada segmen 1 adalah 6.5 m, segmen 2
adalah 7m, dan segmen 3 adalah 10m. Hasil pengukuruan beda tinggi total diperoleh 0.44 m untuk
segmen 1, 0.475 untuk segmen 2 dan, 0.65 untuk segmen 3. Hasil pengukuran jarak mapun beda
tinggi total sesuai dengan permukaan yang diukur dimana memiliki panjang total 23.5 m dan memiliki
bidang permukaan yang kedua ujung nya memiliki beda tinggi. Pengukuran dilakukan dari ketinggian
tertinggi sehingga pada segmen terakhir merupakan ketinggian terendah dan memiliki beda tinggi
paling besar dibandingkan segmen pertama dan kedua.

Kelebihan dalam metode memanjang diantaranya adalah dalam setiap pengukuran alat
berpindah tempat sehingga kalibrasi dilakukan berulang ulang saat sebelum pengukuran. Hal ini
bermanfaat ketika terjadi kesalahan dalam pengukuran pertama maka kesalahan pengukuran tidak
akan terulang pada pengukuran seterusnya. Pengukuran dalam tiap segmen juga lebih detail , cocok
digunakan dalam permukaan yang memiliki topografi terjal karena jumlah segmen menyesuaikan
perbedaan topografi. Kelamahan pengukuran metode memanjang diantaranya adalah pengukuran
dilakukan dengan membagi kedalam beberapa segmen sehingga memerlukan pemindahan,
pemasangan dan kalibrasi waterpass membutuhkan waktu yang lama, kurang efisien secara waktu
dan tenaga.

Hasil pengukuran jarak metode melintang didapatkan 10 m pada titik A, 4 m pada titik B, 6 m
pada titik C, dan 15 m pada titik D. Hasil pengukuran sesuai karena titik A dan titik D merupakan titik
terjauh dari alat sementara titik B dan C berada di tengah kedua titik sehingga memiliki jarak yang
lebih singkat terhadap alat pengukuran. Hasil beda tinggi pada titik A adalah 0.61m, 0.165m pada
titik B, -0.305m pada titik C dan -0.96 pada titik D. Hasil perhitungan beda tinggi pada titik C dan D
menunjukkan hasil negatif menandakan kedua titik berada dibawah alat pengukur dan sesuai. Hasil
pegukuran jarak antar titik pada pengukuran metode melintang adalah AB 6.7 m, BC 7,2 m dan CD
9,8 m dan hasil total pengukuran jarak antar titik adalah 23.7m.

Kelebihan dalam metode melintang diantaranya adalah pengukuran dilakukan dari satu titik ,
sehingga secara waktu dan dan tenaga lebih efisien. Kelemahan dari pengukuran metode melintang
diantaranya adalah pengukuran dilakukan pada satu titik dimana pada kondisi lapangan yang
memiliki permukaan terjal sulit untuk dilakukan karena pemasangan antar instrument sulit untuk
diukur dari satu titik. Apabila terjadi kesalahan seperti pengaturan nivo dan penentuan arah utara
dalam pengukuran pertama kesalahan tersebut juga terjadi pada pengukuran berikutnya sehingga
data yang dihasilkan dapat tidak sesuai seluruhnya.

Terdapat perbedaan hasil jarak total pada metode memanjang dan melintang yaitu sebesar
0.02m. Sumber kesalahan yang dapat terjadi diantaranya bersumber dari alat yaitu instrument tidak
dalam keadaan yang teratur, panjang baak ukur tidak tepat, dan kaki tiga longgar. Kesalahan
alamiah diantaranya kelengkungan bumi, adanya bias, dan keragaman suhu yang mempengaruhi
pemuaian gelembung nivo. Sementara kesalahan yang dapat disebabkan oleh pengamat
diantaranya penyesuaian nivo tidak tepat, adanya paralaks, kesalahan dalam membaca rambu, baak
ukur yang tidak lurus dan pemasangan titik bidik sasaran tidak tepat.
Kesimpulan

1. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk differential levelling adalah waterpass tahapan
pertama adalah setting alat, tahapan kedua menentukan titik baak ukur, tahapan ketiga
memastikan baak ukur tegak lurus dan pengukuran dapat dilakukan. Perbedaan metode
memanjang dan melintang terletak pada kedudukan alat, metode memanjang alat mengikuti
segmen dan pada metode melintang alat berada pada titik tengah pengukuran.

2. Penampang melintang dengan metode memanjang dan melintang digambarkan melalui hasil
pengukuran jarak antar titik, beda tinggi, beda tinggi total, dan jarak titik ke alat yang di skala kan
sehingga dapat menggambarkan kondisi topografi bidang pengukuran.
Referensi
Brinker, R.C., Wolf, P. R., dan Walijatun D. 2000. Dasar Dasar Pengukuran Tanah Jilid 1: Edisi ke
tujuh. Jakarta: Penerbit Erlangga
Rinaldy., dan Anwari, C. 2013. Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi dari Hasil Survei
GPS dan Sipat Datar. Reka Geomatika Vol 1 No 2 Tahun 2013
Tabel 6.1 Pengukuran Differential Levelling Metode Memanjang
No Segmen Tinggi Titik Stadia (dm) Azimuth D D BT BT BT D
Alat Total TOTAL total
(dm) Cb Ct Ca
1 12.5 A 15.9 16.05 16.25 28 35 -3.55 4.4
I
2 12.5 B 11.5 11.65 11.8 192 30 65 0.85 4.4 4.4
3 12.5 B 9.55 9.75 9.95 194 40 2.75 4.75
II 235
4 12.5 C 14.35 14.5 14.65 21 30 70 -2 -4.75 4.75
5 12.5 C 8.75 9 9.25 199 50 3.5 6.5
III
6 12.5 D 15.25 15.5 15.75 21 50 100 -3 -6.5 6.5
Sumber: Pengukuran Lapangan, 2018

Tabel 6.2 Pengukuran Differential Levelling Metode Melintang


Tinggi Alat Stadia
No (dm) Titik Cb Ct Ca Azimuth D BT
1 12.6 A 6 6.5 7 165.5 100 6.1
2 12.6 B 10.75 10.95 11.15 137 40 1.65
3 12.6 C 15.35 15.65 15.95 46.5 60 -3.05
4 12.6 D 21.45 22.2 22.95 22 150 -9.6
Sumber: Pengukuran Lapangan, 2018