Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang terjadi


secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian.
Anafilaksis biasanya ditunjukkan oleh beberapa gejala
termasuk di antaranya ruam gatal, pembengkakan
tenggorokan, dispnea, muntah, kepala terasa ringan,
dan tekanan darah rendah.

Gejala-gejala ini akan timbul dalam hitungan menit


hingga jam.

Penyebab yang umum dari reaksi ini adalah gigitan


serangga, makanan, dan obat.

Penyebab lainnya dapat berupa paparan lateks. Selain itu


kasus dapat terjadi tanpa alasan yang jelas. Mekanisme
terjadinya anafilaksis melibatkan pelepasan mediator dari sel
darah putih tertentu. Pelepasan protein ini dapat disebabkan
oleh reaksi sistem imun ataupun oleh sebab lain yang tidak
berkaitan dengan sistem imun. Diagnosis anafilaksis
dilakukan berdasarkan gejala dan tanda pada seseorang
setelah terjadi paparan dengan alergen potensial.Tata laksana
awal anafilaksis adalah pemberian suntikan epinefrin.
pemasangan infus, dan pengaturan posisi tubuh
mendatar. Dosis epinefrin tambahan dapat diberikan apabila
diperlukan. Membawa injektor epinefrin otomatis dan tanda
pengenal mengenai kondisi medis direkomendasikan bagi
orang yang memiliki riwayat anafilaksis.Di seluruh dunia,
sekitar 0,05–2% dari populasi pernah mengalami anafilaksis
pada suatu saat dalam kehidupannya. Angka ini tampaknya
terus meningkat. Anafilaksis lebih sering terjadi pada
kalangan remaja dan wanita. Istilah ini berasal dari bahasa
Yunani Kuno ana yang berarti "lawan", dan phylaxis yang
berarti "pertahanan".

II. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana cara penatalaksanakan anafilaksik syok?

III. TUJUAN
Untuk mengetahui penatalaksanakan anafilaksik syok
BAB 2

PEMBAHASAN

1.1 Penatalaksanaan
Jika terjadi komplikasi syok anafilaktik setelah
kemasukan alergen baik peroral maupun
parenteral, maka tindakan pertama yang paling
penting dilakukan adalah mengidentifikasi dan
menghentikan kontak dengan alergen yang diduga
menyebabkan reaksi anafilaksis. Segera baringkan
penderita pada alas yang keras. Kaki diangkat
lebih tinggi dari kepala untuk meningkatkan aliran
darah balik vena , dalam usaha memperbaiki curah
jantung dan menaikkan tekanan darah.

Tindakan selanjutnya adalah penilaian airway,


breathing, circulation dari tahapan resusitasi
jantung paru untuk memberikan kebutuhan
bantuan hidup dasar.

 Airway/ Penilaian jalan nafas. Jalan nafas


harus dijaga tetap bebas agar tidak ada
sumbatan sama sekali. Untuk penderita tidak
sadar, posisi kepala dan leher diatur agar
lidah tidak jatuh kebelakang menutupi jalan
nafas, yaitudengan melakukan triple airway
manuver yaitu ekstensi kepala, tarik
mandibula kedepan, dan buka mulut.
Penderita dengan sumbatan jalan nafas total,
harus segera ditolong dengan lebih aktif,
melalui intubasi endotrakea, krikotirotomi,
trakeotomi.
 Breathing support segera memberikan
bantuan nafas buatan bila tidak ada tanda-
tanda bernafas spontan, baik melalui mulut
ke mulut atau mulut ke hidung. Pada syok
anafilaktik yang disertai udem laring , dapat
mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan
nafas total atau parsial. Penderita yang
mengalami sumbatan jalan nafas parsial,
selain ditolong dengan obat- obatan, juga
harus diberikan bantuan nafas dan oksigen
5-10 liter/menit.
 Circulation support yaitu bila tidak teraba
nadi pada arteri besar (a. karotis/
a.femoralis), segera lakukan kompresi
jantung luar.

1.2 obat -obatan


sampai sekarang adrenalin masih merupakan obat
pilihan pertama untuk mengobati syok anafilaktik.
Obat ini berpengaruh untuk meningkatkan tekanan
aktivitas otot jantung. Adrenalin bekerja sebagai
penghambat pelepasan histamin dan mediator lain
yang poten. Mekanisme kerja adrenalin adalah
meningkatkan cAMP dalam sel mast dan basofil
sehingga menghambat terjadinya degranulasi serta
pelepasan hestamine dan mediator lainnya.
Adrenalin akan selalu dapat menimbuilkan
fasokontriksi pembuluh darah arteri dan memicu
denyut dan kontraksi jantung sehingga
menimbulkan tekanan darah naik seketika dan
berakhir dalam waktu pendek.

Pemberian adrenalin secara intramukuler pada


lengan atas, paha, ataupun sekitar lesi pada
sengatan serangga merupakan pilihan pertama
pada penatalaksanaan syok anafilaktik. Adrenalin
memiliki onset yang cepat setelah pemberian
intramukular. Pada pasien dalam keadaan syok,
absorbsi, intramukuler lebih cepat dan lebih baik
daripada pemberian subkutan. Berikan 0,5 ml
larutan 1:1000 (0,3-0,5 mg) untuk orang dewasa
dan 0,01 ml/kg BB untuk anak. Dosis diatas dapat
diulang beberapa kali tiap 5-15 menit, sampai
tekanan darah dan nadi menunjukan perbaikan.

Adrenalin sebaiknya tidak diberikan secra


intravena kecuali pada keadaan tertentu saja
misalnya pada keadaan syok (mengancam nyawa)
ataupun selama anastesi. Pada saat pasien tampak
kesakitan serta kemampuan sirkulasi dan absorbsi
injeksi intramukuler yang benar-benar diragukan,
adrenalin mungkin diberikan dalam injeksi
intrvena lambat dengan dosis 500 mcg (5 ml dari
pengenceran injeksi adrenalin 1:10000) diberikan
dalam kecepatan 100 mcg/menit dan dihentikan
jika respobn dapat dipertahankan. Pada anak-anak
dibverikan dosis 10 mcg/kg BB (0,1 ml/kg BB
dari pengenceran injeksi adrenalin 1:10000)
dengan injeksi intravena lambat selama beberapa
menit. Individu yang mempunyai resiko tinggi
untuk mengalami syok anafilaktik perlu membawa
adrenalin setiap waktu dan selanjutnya perlu
diajarkan cara penyuntikan yang benar. Pada
kemasan perlu diberi label, pada kasus kolaps
yang cepat orang lain dapat memberikan adrenalin
tersebut.

Pengobatan tambahan dapat diberikan pada


penderita anafilaksis, obat-obat yang sering
dimanfaatkan adalah antihistamin, kortikosteroid,
dan bronkodilator. Pemberian antihistamin
berguna untuk menghambat proses vasodilatasi
dan peningkatan-peningkatan permeabilitas
vaskular yang diakibatkan oleh pelepasan
mediator dengan cara menghambat pada tempat
reseptor-mediator tetapi bukan merupakan obat
pengganti adrenalin. Tergantung beratnya
penyakit, antihistamin dapat diberikan oral atau
parenteral pada keadaan anafilaksis berat
antihistamin dapat diberikan intravena. Untuk
AH2 seperti simetidin (300 mg) atau ranitidin (150
mg) harus diencerkan dengan 20 ml NaCl 0,9 %
dan diberikan dalam waktu 5 menit. Bila
penderitra mendapatkan terapi teofilin pemakian
simetidin harus dihindari sebagai gantinya dipakai
ranitidin. Antihistimin yang juga dapat diberikan
adalah dipenhidramin intravena 50 mg secara
pelan-pelan (5-10 menit), diulang tiap 6 jam
selama 48 jam.

Kortikosteroid digunakan untuk menurunkan


respon keradangan, kostikosteroid tidak banyak
membantu pada tata laksana akut anafilaksis dan
hanya digunakan pada reaksi sedang hingga berat
untuk memperpendek episode anafilaksis atau
mencegah anafilaksis berulang. Glukokortikoid
intravena baru diharapkan menjadi efektif setelah
4-6 jam pemberian. Metilprednisolon 125
mgintravena dapat diberikan tiap 4-6 jam sampai
kondisi pasien stabil (yang biasanya tercapai
setelah 12 jam), atau hidrokortison intravena 7-10
mg/ Kg BB, dilanjutkan dengan 5 mg/kg BB
setiap 6 jam, atau dekametason 2-6 mg/kg BB .

1.3 Terapi Cairan


Bila tekanan darah tetap rendah, diperlukan
pemasangan jalur intravena untuk koreksi
hipovolemia akibat kehilangan cairan keruang
ekstravaskular sebagai tujuan utama dalam
mengatasi syok anafilaksis. Pemberian cairan akan
meningkatkan tekanan darah dan curah jantung
serta mengatasi asidosis laktat. Pemilihan jenis
cairan antara larutan kristaloid dan koloid tetap
merupakan mengingat terjadinya peningkatan
permeabilitas atau kebocoran kapiler. Pada
dasarnya, bila memberikan larutan kristaloid,
maka diperlukan jumlah 3-4 kali dari perkiraan
kekurangan volume plasma. Biasanya, pada syok
anafilaktik berat diperkirakan terdapat kehilangan
cairan 20/40% dari volume plasma. Sedangkan
bila diberkan larutan koloid dapat diberikan
dengan jumlah yang sama dengan perkiraan
kehilangan volume plasma. Cairan intravena
seperti larutan isotonik kristaloid merupakan
pilihan pertama dalam melakukan resusitasi cairan
untuk mengembalikan volume intravaskuler,
volume interstitial, dan intrasel. Cairan plama atau
pengganti plasma berguna untuk meningkatan
tekanan onkotik intravaskuler.

1.4 Observasi
Dalam keadaan gawat , sangat tidak bijaksana bila
penderita syok anafilaktik dikirim ke rumah sakit,
karena dapat meninggal dalam perjalanan. Kalau
dipaksakan dilakukan, maka penanganan penderita
ditempat kejadian harus seoptimal mungkin sesuai
dengan fasilitas yang tersedia dan transportasi
penderita harus dikawal oleh dokter. Posisi waktu
dibawa harus tetap dalam posisi terlentang dengan
kaki lebih tingga dari jantung. Kalau syok teratasi
,penderita jangan cepat-cepat dipulangkan, tetapi
harus diobservasi dulu selama 24 jam , 6 jam
berturut-turut tiap 2 jam sampai keadaan fungsi
membaik.

Hal-hal yang perlu di observasi adalah keluhan,


klinis (keadaan umum, kesadaran, vital sign, dan
produksi urine), analisa gas darah,
elektrokardiografi, dan komplikasi karna edema
laring,gagal nafas, syok dan cardiac arrest.
Kerusakan otak permanen karena syok dan
gangguan cardiovaskuler. Urtikaria dan
angoioedema menetap sampaibeberapa bulan,
infark miokard ,aborsi, dan gagalginjal juga
pernah dilaporkan. Penderita yang telah mendapat
adrenalin lebih dari 2-3 kali suntikan,harus dirawat
di rumah sakit.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Anafilaktik (cepat) merupakan suatu reaksi hipersensitivitas


biasanya tidak akan terjadi sesudah kontak pertama kali dengan
sebuah antigen. Reaksi terjadi pada kotak-ulang sesudah seseorang
yang memiliki predisposisi mengalami sensitisasi.Anafilaksis
merupakan respon klinis terhadap suatu reaksi imunologi cepat
(hipersensitivitas tipe 1). Anafilaksis adalah repon berlebihan system
imun yang melibatkan seluruh tubuh.

Tipe anfilaksia ada beberapa yaitu : Local,reaksi anafilaksis


local biasanya meliputi urtikaria serta angioedema pada tempat kontak
dengan antigen dan dapat merupakan reaksi yang berat tetapi jarang
fatal. Sistemik, reaksi sistemik terjadi dalam tempo kurang lebih 30
menit sesudah kontak dalam system organ berikut ini : kardiovaskuler,
respiratorius, gastrointestinal dan integument .

Saran

Makalah ini masih memiliki berbagai jenis kekurangan olehnya itu


kritik yang sifatnya membangun sangkat kami harapkan.