Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN ORAL MEDICINE

(KASUS VARIASI NORMAL)

A. REKAM MEDIK
1. DATA PRIBADI
Nama pasien : Iradah Sakinah Angguni
Tempat lahir/tgl lahir : Bandar Lampung, 19 September 1999
Suku : Melayu
Jenis Kelamin : Wanita
Status Perkawinan : Belum kawin
Agama : Islam
Alamat tetap : Jl. Bonsai Raya, no.6, RT/RW 14/9, Lorok Pakjo, Ilir
Barat 1, Palembang
Alamat termudah dihubungi : Jl. Bonsai Raya, no.6, RT/RW 14/9, Lorok Pakjo, Ilir
Barat 1, Palembang
Pendidikan terakhir : SLTA
Pekerjaan : Mahasiswa
Peserta Asuransi :-

2. RIWAYAT PENYAKIT
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik

3. STATUS UMUM PASIEN


Keadaan Umum : Compos mentis
Tinggi Badan : 155 cm
Berat Badan : 48 kg
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 72x/menit
Pernapasan : 19x/menit
Pupil Mata : Normal
4. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Pasien wanita (19 tahun) datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Husein
Palembang datang dengan keluhan permukaan depan lidahnya terdapat bercak putih
dan bergaris. Pasien menyadari lidahnya seperti ini sejak ±3 tahun yang lalu. Pasien
mengaku bercak putih pada lidahnya sering berpindah-pindah tempat tanpa periode
yang pasti, tidak pernah terasa sakit, dan tidak mengalami sensitivitas terhadap
makanan panas atau pedas.
b. Riwayat perawatan gigi
Pasien pernah menambal gigi bawah belakang kiri dengan tambalan sewarna gigi ±6
tahun yang lalu
c. Kebiasaan buruk
Tidak ada
d. Riwayat sosial
Pasien adalah seorang mahasiswa preklinik kedokteran gigi di Universitas Sriwijaya

5. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL


Wajah : Simetris
Bibir : Sehat
Kelenjar getah bening submandibula
Kanan : tidak teraba dan tidak sakit
Kiri : tidak teraba dan tidak sakit

6. KEADAAN UMUM INTRA ORAL


Debris : ada, regio a, c, d, f
Plak : ada, regio a,c,d,f
Kalkulus : ada, regio d,f
Perdarahan papila interdental : ada, regio d,f
Gingiva : sehat
Mukosa : terdapat garis putih di mukosa bukal, memanjang dari
P2-M2, bilateral, tidak sakit saat palpasi, batas jelas

Palatum : sehat
Lidah : * Terdapat atrofi papila di 2/3 anterior lidah,
berbentuk pulau, multipel, kemerahan, tepi berwarna
putih, batas jelas, tidak sakit saat palpasi.
* terdapat cerukan dengan kedalaman ±3 mm,
berbatas jelas, terletak di lateral lidah sebelah kanan,
tidak sakit saat palpasi, tunggal
Dasar Mulut : sehat
Hubungan rahang : ortognati
Kelainan gigi geligi : tidak ada
OHI-S : 1 (baik)

7. PEMERIKSAAN GIGI GELIGI DAN JARINGAN PENYANGGA


- Karies sekunder : gigi 36
- Malposisi : gigi 11,21,31,41,42,32
- Relasi molar : Kanan (klas I), Kiri (klas I)

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Tidak diperlukan dan tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

9. TEMUAN MASALAH
- Gingivitis kronis pada gingiva
- Line alba pada mukosa bukal
- Geographic tongue pada 2/3 anterior lidah dan fissure tongue pada lateral lidah
sebelah kanan
- Malposisi gigi 11,21,41,42,31,32

10. URUTAN PRIORITAS MASALAH


- Pro Periodonsia : Scaling dan DHE
- Pro OM : Observasi dan edukasi kepada pasien bahwa variasi normal
tidak berbahaya
- Pro Konservasi : Tumpatan ulang RK Klas I gigi 36
- Pro Ortodonsia : Perawatan removable appliance pada rahang atas dan rahang
bawah
11. PERAWATAN
- Tanggal 26 Oktober 2018 (Pemeriksaan Awal)
Pemeriksaan Subjektif : Pasien wanita (19 tahun) datang ke Rumah Sakit
Umum Pusat Mohammad Husein Palembang datang
dengan keluhan permukaan depan lidahnya terdapat
bercak putih dan bergaris. Pasien menyadari lidahnya
seperti ini sejak ±3 tahun yang lalu. Pasien mengaku
bercak putih pada lidahnya sering berpindah-pindah
tempat tanpa periode yang pasti, tidak pernah terasa
sakit, serta tidak mengalami sensitivitas terhadap
makanan panas dan pedas.
Pemeriksaan Objektif : Terdapat atrofi papila di 2/3 anterior lidah, berbentuk
pulau, multipel, kemerahan, tepi berwarna putih, batas
jelas, tidak sakit saat palpasi.

Assassement : Geographic tongue


Plan : Edukasi kepada pasien, observasi, kontrol 1 minggu
kemudian

- Tanggal 10 Desember 2018 (Kontrol 1)


Pemeriksaan Subjektif : Pasien sudah mengetahui bahwa permukaan lidah
yang berwarna tidak rata merupakan variasi normal
rongga mulut. Warna yang tidak rata pada lidah
tersebut tidak sakit dan sedikit mengalami perubahan
Pemeriksaan Objektif : Terdapat atrofi papila di 2/3 anterior lidah,
berbentuk pulau, multipel, kemerahan, tepi berwarna
putih, batas jelas, tidak sakit saat palpasi.

Assassement : Geographic tongue


Plan : Edukasi kepada pasien

B. Tinjauan Pustaka

1. Definisi
Geographic tongue adalah kondisi inflamasi jinak yang biasanya terdapat pada ujung,
lateral, dorsum, dan terkadang pada bagian ventral lidah disebabkan oleh deskuamasi keratin
superfisial dan papila filiformis.1-3 Seringkali terdeteksi pada pemeriksaan rutin mukosa
mulut. Pasien terkadang berkonsultasi terhadap klinisi jika kondisi ini terjadi untuk
mengetahui tampilan yang tidak biasa pada lidah mereka atau jika mukosa lidah menjadi
sensitif terhadap makanan pedas atau panas.1 Etiopatogenesis dari geographic tongue masih
tidak diketahui secara pasti tetapi sering dikaitkan dengan stres, defisiensi nutrisi, dan
keadaan herediter.1-3 Diagnosis ditegakkan melalui riwayat dan tampilan klinis, ditandai
dengan pola migrasi dari lesi.3 Geographic tongue juga dikenal dengan beberapa istilah lain,
yaitu: benign migratory glossitis, erythema migrans, wandering rash, erythema areata
migrans; stomatitis areata migrans1,2,4
2. Epidemiologi
Secara keseluruhan, prevalensi geographic tongue adalah sekitar 11-16% sedangkan
pada populasi pediatrik berkisar antara 0,37-14,3%.4,5 Geographic tongue dapat terjadi pada
semua usia tanpa kecenderungan ras yang jelas.6 Geographic tongue lebih sering dilaporkan
pada orang dewasa daripada anak-anak namun beberapa penelitian lain menyatakan
geographic tongue lebih umum pada individu yang lebih muda.5,7 Geographic tongue sering
terlihat pada pasien usia pertengahan.8 Hal ini didukung oleh beberapa penelitian lain yang
menyatakan mayoritas kasus terjadi di atas usia 40 tahun.9 Namun Nandini menyatakan
bahwa insiden tertinggi berkisar sekitar 39,4% yang terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun.3
Perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-laki dengan rasio 1,5:1 sedangkan
beberapa penelitian lain melaporkan kondisi tersebut lebih sering mempengaruhi laki-laki.5,7
Geographic tongue sering dihubungkan dengan prosiasis dan sering ditemukan dengan
fissured tongue.4,10

3. Etiopatogenesis
Etiopatogenesis geographic tongue masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa
penelitian mengklasifikasikannya sebagai anomali kongenital sementara penelitian lainnya
menyatakan hal tersebut sebagai gangguan herediter. Beberapa penelitian menyarankan
geographic tongue sebagai kondisi inflamasi kronis. Beberapa faktor etiologi yang telah
diusulkan oleh peneliti diantaranya:

a. Faktor Herediter
Anak dari orang tua yang memiliki geographic tongue menunjukkan prevalensi yang
lebih tinggi dibandingkan anak dari orang tua yang tidak memiliki geographic tongue. Hal
tersebut menunjukkan adanya peran keluarga dan faktor herediter.2-5,7,8 Penilaian antigen
histokompabilitas di antara pasien geographic tongue menunjukkan peningkatan antigen DR5
dan DRW6 yang signifikan dalam serum pasien geographic tongue bila dibandingkan dengan
kontrol, sedangkan serum DR2 berkurang secara komparatif.5

b. Berhubungan dengan Penyakit Sistemik


Geographic tongue umumnya dikaitkan dengan penyakit sistemik seperti atopi, alergi,
stres, anemia, psoriasis, gangguan gastrointestinal, dan variasi hormonal. Geographic tongue
mungkin dihubungkan dengan beberapa sindrom seperti Sindrom Reiter, Sindrom Down,
Sindrom Aarskog, Sindrom Hidantoin pada janin dan Sindrom Robinow.2,5,7,10 Tetapi tidak
ada yang menunjukkan hubungan kausal yang pasti.5

c. Asma/Atopi
Marks dan Tait menunjukkan peningkatan insidensi jaringan tipe HLA-B15 pada
pasien atopik dengan geographic tongue yang memberikan dukungan tambahan untuk dasar
genetik. Mereka mengamati hubungan positif antara geographic tongue dan atopi atau asma
yang mendasari peneliti untuk menyarankan patogenesis serupa untuk kedua entitas penyakit.
Jainkittivong et al. menyatakan bahwa geographic tongue lebih sering ditemukan pada pasien
dengan alergi terhadap obat, makanan atau hal lain.1-3,5,7

d. Berhubungan dengan Psoriasis


Karena kesamaan dalam temuan klinis, histopatologi dan imunohistokimia, beberapa
peneliti menganggap geographic tongue sebagai manifestasi oral psoriasis. Kesamaan
histopatologi dapat mendukung hipotesis bahwa geographic tongue dapat dianggap sebagai
ekspresi psoriasis oral.2,3,5,7,8,10

e. Berhubungan dengan Fissured Tongue


Penelitian yang dilakukan oleh Jainkittivong et al. dan Ghose et al. menyatakan
bahwa geographic tongue dan fissured tongue terlihat pada 60,1% pasien yang menunjukkan
hubungan genetik antara dua kondisi tersebut.4,5,7 Geographic tongue dan fissured tongue
memiliki etiologi genetik yang sama. Fisur yang dalam pada dorsum lidah menggambarkan
stagnasi dan kelanjutan perkembangan menuju glossitis. Geographic tongue dan fissured
tongue telah dilaporkan berhubungan dengan penyakit granulomatosa kronis.5 Fissured
tongue juga disarankan sebagai tahap akhir dari geographic tongue.4,11

f. Faktor Psikosomatik dan Stres


Faktor psikosomatis tampaknya memiliki peran signifikan dalam etiologi geographic
tongue. Redman et al. menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dari geographic tongue pada
pasien dengan penyakit mental.5,7 Ebrahimi et al. menunjukkan hubungan antara stres dan
geographic tongue. Penelitian tersebut menemukan bahwa penurunan stres pada pasien
geographic tongue dapat membantu dalam menyembuhkan lesi.12 Alikhani et al menyatakan
bahwa stres dapat menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya dan
kekambuhan geographic tongue pada pasien dewasa.13
g. Faktor Hormonal
Ysocky dan Daley menemukan hubungan antara geographic tongue dan diabetes dan
menemukan peningkatan empat kali lipat dalam prevalensi geographic tongue pada pasien
diabetes. Penelitian tersebut juga menemukan prevalensi 8% pada pasien diabetes tipe 1.
Sebaliknya, Guggenheimer et al. melaporkan tidak ada korelasi yang signifikan antara
geographic tongue dan diabetes melitus dependen insulin. Geographic tongue dapat
berkembang sebagai akibat dari fluktuasi hormon seks. Wanita yang menggunakan pil
kontrasepsi oral telah terbukti mengembangkan lesi geographic tongue yang menjadi parah
pada hari ketujuh belas siklus.3,5,7

h. Defisiensi Vitamin
Defisiensi vitamin B6, B12, asam folat, zat besi dan seng telah diusulkan menjadi
faktor yang berkontribusi dalam geographic tongue.5,7 Hal tersebut dihubungankan dengan
fungsi zat-zat tersebut dalam memelihara kesehatan epitel.14

4. Gambaran Klinis
Secara klinis, geographic tongue tampak pada dua pertiga dorsum lidah.1 Tampak
sebagai lesi tunggal atau multipel dengan tampilan migrasi melingkar dan daerah eritema
yang menunjukkan atropi papila filiformis yang dikelilingi oleh peninggian margin keratorik
berbatas jelas berwarna putih kekuningan.1,4,8,10 Seringkali lesi diawali oleh bercak putih
kecil, yang kemudian berkembang menjadi zona atropik eritema sentral dan membesar secara
sentrifugal.1

Geographic tongue berpindah secara melingkar dan meninggalkan daerah eritematosa


yang menunjukkan atrofi papila filiformis. Lesi bermula pada titik awal yang berbeda, zona
periferal menyatu, dan fitur klinis khas dari geographic tongue muncul. Zona perifer
menghilang setelah beberapa waktu, dan dimulailah penyembuhan daerah yang mengalami
depapilasi dan eritema.4 Geographic tongue ditandai masa remisi dan eksaserbasi dengan
durasi waktu berbeda. Lesi ini bertahan hingga beberapa jam, hari, atau minggu kemudian
dan nampak kembali pada daerah lain.4,8,10

Sebagian besar pasien tidak memiliki gejala tetapi beberapa pasien dewasa
mengeluhkan rasa sakit, perih, atau terbakar ketika lesi dalam keadaan aktif terutama jika
mengonsumsi makanan panas dan pedas, serta minuman beralkohol.1,4,8,10 Daerah penipisan
epitel dan inflamasi mungkin menyebabkan gejala pada beberapa kasus.8 Keparahan gejala
bervariasi seiring waktu dan seringkali merupakan indikator dari intensitas lesi.10 Lesi jarang
ditemukan memberikan sensasi terbakar hebat dan konstan.1

5. Gambaran Histopatologis
Terdapat penipisan epitel pada pertengahan lesi, papila filiformis atropik, dengan
limfosit dan neutrofil intraepitel.8,10 Pada zona perifer terdapat hiperkeratosis, akantosis,
inflamasi subepitel limfosit T, granulosit neutrofilik yang berpindah-pindah pada subepitel.
Sel ini mungkin bagian dari mikroabses yang terbentuk dekat permukaan.4 Pada jaringan ikat
terdapat sel inflamasi kronik.8 Infiltrasi sel inflamasi dalam lamina propria terdiri dari
neutrofil, limfosit, dan sel plasma.10

6. Diagnosa Banding
Geographic tongue biasanya didiagnosis melalui riwayat dan gambaran klinis yang
unik. Temuan histologis jarang diperlukan.5,7 Berdasarkan pola lesi yang sering bermigrasi
dengan khas untuk penyakit tersebut, menurut Grska, dianjurkan untuk memeriksa kembali
pasien setelah beberapa hari untuk memastikan diagnosis. Tes laboratorium rutin termasuk
tes darah, laju sedimentasi eritrosit, serta kadar protein C-reaktif dan glukosa, biasanya dalam
rentang normal.7

Diagnosis banding geographic tongue meliputi kandidiasis eritematus akut dan


psoriasis.3,5,7 Semua lesi tersebut memiliki kesamaan dengan geographic tongue berupa
eritema di dorsum lidah. Selain itu, terdapat beberapa persamaan lain yang terlihat. Pada
kandidiasis eritematus akut, terdapat persamaan gambaran klinis berupa depapilasi dorsum
lidah. Pada psoriasis terdapat persamaan histopatologis berupa mikroabses.

Terdapat perbedaan tampilan klinis dan histopatologis andidiasis eritematus akut


adalah infeksi Candida albicans yang ditandai dengan tampilan kemerahan dari lidah.1 1

Psoriasis adalah penyakit autoimun noninfeksius kronis yang mempengaruhi kulit, sendi, dan
kuku.2 Lichen planus adalah penyakit inflamasi kronis yang mengenai kulit dan membran
mukosa.4
7. Perawatan
Geographic tongue biasanya tidak memerlukan perawatan jika tidak menunjukkan
gejala.1,2,4,8,10 Follow-up secara berkala untuk mengkonfirmasi diagnosis diperlukan dalam
kasus kunjungan pertama dan ketika riwayat tidak jelas. Yakinkan pasien tentang sifat lesi
yang jinak dan akan sembuh dengan sendirinya.5 Jika ada rasa sakit dan ketidaknyamanan
yang berlebihan, analgesik seperti asetaminofen, anti-inflamasi, antihistamin seperti
diphenhydramine hydrochloride, larutan kumur dengan anestesi topikal seperti gel lidokain,
kortikosteroid topikal seperti betametason, siklosporin, terapi vitamin A seperti tretionin,
vitamin B, dan zink dapat diberikan. Kesembuhan lesi telah dicatat setelah beberapa minggu
suplemen.5,7 Ketidaknyamanan dari geographic tongue dapat dibatasi atau dicegah dengan
menghindari alkohol; produk tembakau; makanan panas, pedas, dan asam; buah-buahan dan
minuman asam; pasta gigi yang mengandung aditif pengontrol kalkulus atau bahan pemutih;
kacang kering dan kacang asin yang dapat memperburuk kondisi. Namun, tidak ada
perawatan tersebut yang benar-benar efektif.5

C. Pembahasan

Pasien wanita (19 tahun) datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Husein
Palembang datang dengan keluhan permukaan depan lidahnya terdapat bercak putih dan
bergaris. Pasien menyadari lidahnya seperti ini sejak ±3 tahun yang lalu. Pasien mengaku
bercak putih pada lidahnya sering berpindah-pindah tempat tanpa periode yang pasti, tidak
pernah terasa sakit, serta tidak mengalami sensitivitas terhadap makanan panas dan pedas.
Pemeriksaan objektif menunjukkan terdapat atrofi papila di 2/3 anterior lidah, berbentuk
pulau, multipel, kemerahan, tepi berwarna putih, batas jelas, tidak sakit saat palpasi. Pada
kontrol pertama yang dilakukan 7 hari setelah kunjungan awal, ditemukan letak atrofi masih
pada tempat yang sama akan tetapi sedikit berkurang dan tidak sakit saat dipalpasi.
Dari pemeriksaan subjektif dan objektif, dapat ditegakkan diagnosa kasus tersebut
adalah geographic tongue. Etiologi pada pasien tersebut kemungkinan karena keturunan.
Pasien mengaku mempunyai sepupu yang juga memiliki kondisi lidah yang sama. Diagnosa
banding pada kasus tersebut adalah kandidiasis eritematosa dengan gambaran klinis yang
menyerupai geographic tongue.
Rencana perawatan pasien tersebut meliputi observasi lesi serta memberi penjelasan
kepada pasien bahwa bercak tersebut bukan suatu yang membahayakan sehingga pasien tidak
perlu melakukan perawatan khusus.

D. Kesimpulan
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis, maka diagnosa kasus tersebut adalah
geographic tongue. Rencana perawatan pasien tersebut meliputi observasi lesi serta memberi
penjelasan kepada pasien bahwa lekukan tersebut bukan suatu yang membahayakan sehingga
pasien tidak perlu melakukan perawatan khusus.
DAFTAR PUSTAKA

1. Neville BW, Damm DD, Allen CM, Chi A. Oral and maxillofacial pathology. 4nd ed.
Philadelphia: WB Saunders Company; 2015. p. 677-9
2. Scully C, Flint SR, Bagan JV, Porter SR, Moos KF. Oral and maxillofacial diseases. 4 th
ed. Colchester: Informa Healthcare; 2010. p. 239-41.
3. Shahzad M, Sattar A, Ali SMF. Geogrhapic tongue: case report and literature review.
PODJ. 2014; 34(3):409-10.
4. Glick M. Burket's oral medicine. 12th ed. Ontario; BC Decker Inc; 2015. p. 103-4.
5. Nandini DB, Bhavana SB, Deepak BS, Ashwtersebut R. Pediatric geographic tongue: a
case report, review, and recent updates. J Clin Diagn Res. 2016:10(2);5-9.
6. Jainkittivong A, Langlais RP. Geographic tongue: clinical characteristics of 188 cases. J
Contemp Dent Pract. 2005:6(1);123-35
7. Nastaj M, Jagnicka A, Kniaz ES, Miszczuk JW. Geographic tongue – a review of
contemporary literature and a case study. Dental forum. 2014:2;39-42.
8. Cawson RA, Odell EW. Cawson's essentials of oral pathology and oral medicine. 9 th ed.
Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier; 2017. p. 277-9.
9. Purnachandrarao NN, Ravi KA, Samatha Y, Naveenkumar B, Venkata NVK. Geographic
tongue: an epidemiological study. EC Dent Sci. 2018:17(1);2-6
10. Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan RCK. Oral pathology clinical pathologic correlations. 7 th
ed. Missouri:Saunders. 2017. p. 90-2
11. Hamissi JH, Esfehani M, Hamissi Z. Treatment of geographic tongue superimposing
fissured tongue: a literature review with case report. Sch J Dent Sci.
2015:2(7);409-13
12. Ebrahimi H, Pourshahidi S, Tadbir AA, Shyan SB. The relationship between geographic
tongue and stress. IRCMJ 2010: 12(3);313-5
13. Abdulraheem SM. Impact of stress on geographic tongue in Iraqi population. MDJ.
2015:12(1);107-15
14. Vahedi M, Abdolsamadi HR, Mortazavi M, Abdollahzadeh SH. Evaluation of the
therapeutic effects of zinc sulfate in patients with geographic tongue. DJH. 2009:1(1);11-
4
15. Kuyama K, Sun Y, Taguchi C, Endo H, Wakami M, Fukumoto M, et al. A clinico-
pathological and cytological study of oral candidiasis. OJST. 2011:1;212-7
16. Cimmino MA. Epidemiology of psoriasis adn psoriatic arthritis. Reumatismo.
2007;59(1):19-24