Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum Genetika

Pewarisan Gen Ganda


Penentuan Pola dan Jumlah Sulur Jari Tangan

Disusun oleh:

Kelompok 5

1. Bagas Tri Nugroho (4401416009)


2. Silmi Aulia Ramadhani (4401416051)
3. Nida Falahati (4401416082)

Rombel 1 Pendidikan Biologi 2016

Rabu, 10 Oktober 2018

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2018
A. TUJUAN
1. Mengetahui pola sulur jari tangan pada mahasiswa jurusan Biologi.
2. Menghitung jumlah semua sulur per individu dan rata-ratanya pada populasi.
3. Menguji perbandingan genetic pola sulur menggunakan Chi-Kuadrat.

B. LANDASAN TEORI
Sulur-sulur dermis diwariskan secara poligen. Sulur-sulur ini akan menjadi
tetap mulai usia 3-4 tahun kehamilan, dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
Berdasarkan sistem galton dapat dibedakan 3 pola utama dari sulur-sulur dermis yaitu
pola arch atau pola lengkung, pola loop atau pola sosol, dan pola whorl atau pola
lingkaran. Pada pola loop ada dua macam yaitu loop radial bila terbuka keujung jari
dan loop ulnar bila terbuka ke pangkal jari. Pada pola loop mempunyai satu triradius,
pola whorl mempunyai lebih dari satu triradius. Triradius adalah titik-titik dari mana
sulur menuju ketiga arah dengan sudut kira-kira 120˚ (Widianti, 2014).
Frekuensi pola-pola tersebut berbeda untuk setiap bangsa, juga berbeda untuk
laki-laki dan perempuan. Untuk membandingkan frekuensi tipe pola pada populasi
yang berbeda digunakan indeks tipe pola dan indeks intensitas pola. Jumlah sulur
ujung jari tangan dihitung mulai dari triradius sampai ke pusat pola sulur. Jika ada dua
atau lebih triradius maka yang diambil adalah hasil perhitungan sulur terbanyak.
Untuk mendapatkan jumlah perhitungan sulur maka sulur dari semua jari
dijumlahkan, hal ini disebut sebagai total finger ridge count. Menurut Suryo (1986)
rata-rata jumlah semua sulur pada perempuan 127 sedangkan pada laki-laki 144.
Pada populasi orang kulit putih dan kulit hitam banyak dijumpai pada populasi
bangsa Mongoloid, populasi penduduk asli Australia dan populasi bangsa Melasiana
di Pasifik. Pada pola Arch dijumpai paling sedikit ditemukan untuk semua populasi
Bushman (Bangsa Negroid yang hidup di Afrika Selatan) pola Arch dijumpai lebih
dari 10%. Dalam suatu populasi rata-rata pola Arch 5%, pola loop 65-70%, dan pola
whorl 25-30% (Widianti,2014).
Dermatogifik sebagai alat identifikasi diperkenalkan pertamakali di India pada
tahun 1870-an oleh Sir William Herschel. Pada tahun 1880 Herschel dan Henry
Faulds memperkenalkan dermatogifik kepada masyarakat Inggris sebagai metoda
yang sangat potensial untuk mengidentifikasi kejahatan. Francis Galton kemudian
berupaya keras menggunakan dermatogifik yang didasari kaidah ilmiah. Istilah
dermatogifik diperkenalkan oleh Cummin dan Mifloo pada tahun 1926. Pada awalnya
dermatogifik hanya diketahui keberadaannya pada manusia. Namun kemudian
dermatogifik ditemukan pula pada semua jenis primata. Pada primata yang
menggunakan ekornya sebagai alat penggantung dermatogifik juga ditemukan pada
ekornya (Supriyo, 1989).
Menurut Schaumann dan Alter (1976) pola dermatogifik berdasarkan
klasifikasi Dalton dibedakan atas tiga pola dasar yaitu Arch (busur) genotipe ll, whorl
(pusaran) genotipe LL, dan loop (lengkung) genotipe Ll. Disamping ketiga pola dasar
tersebut juga dikenal pola dasar open field yang berupa garis lurus sejajar. Arch
adalah pola dermatogifik yang dibentuk oleh rigi epidermis yang berupa garis-garis
sejajar melengkung seperti busur. Ada dua macam pola Arch yaitu plain arch and
tented arch. Sekitar 10% sidik jari manusia berpola Arch. Pola Arch pada
dermatogifik monyet (Macaques) kurang umum dikenal. Justru sebaliknya pola open
field lebih dikenal pada dermatogifik monyet (Iwamoto dan Sukarto, 1990).
Ada empat macam pola whorl yaitu plain whorl, central pocket loop, double
loop, dan accidental whorl. Komponen pola dermatogifik ada tiga yaitu garis tipe
(type line), delta dengan tri radii-nya, dan pusat (core). Garis tipe adalah dua buah
garis yang paling dalam di daerah pola, yang berjalan sejajar, divergen, mengelilingi
atau cenderung mengelilingi daerah pola. Daerah pola adalah cetakan dermatoglifik
yang mengandung pola dermatoglifik yang difinitif. Delta merupakan daerah yang
berbentuk segitiga dengan pusat yang disebut tri radii. Titik tengah dari tri radii
disebut triradiant point. Triradial point merupakan titik dari mana garis-garis rigi
epidermis dihitung. Sedangkan pusat (core) adalah pusat dari pola dermatoglifik.
Walaupun secara umum garis-garis rigi epidermis yang membentuk pola
dermatoglifik kelihatan sama, tetapi bila diamati secara seksama akan
memperlihatkan detail yang berbeda-beda. Detail struktur rigi epidermis oleh Galton
disebut minutiae. Detail rigi ini sangat bervariasi dalam jumlah, tipe, bentuk, dan
posisi serta sangat khas untuk tiap individu (Naugler dan Ludman, 1996).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Tinta stempel
2. Kertas tulis
3. Lup (kaca pembesar)
4. Sepuluh jari tangan mahasiswa

D. CARA KERJA

Mengenakan 10 jari tangan pada tinta stempel.

Menempelkan masing-masing ujung jari tangan pada kertas yang tersedia.

Mengamati bekas sidik jari pada kertas dengan menggunakan kaca pembesar.

Menentukan pola sulur ke sepuluh jari tangan

Menghitung frekuensi masing-masing pola dan menggabungkan hasil frekuensi masing-


masing pola pada seluruh anggota kelas perempuan dan laki-laki
Menghitung jumlah rigi setiap jari dan menhitung jumlah sulur semua jari = JSS (Total Finger
Ridge Count).

Menguji dengan chi-square dengan taraf signifikasi 5%

Membuat kesimpulan apakah frekuensi pola sulur dalam kelas sesuai dengan frekuensi pola
sulur pada populasi umumnya.

E. HASIL PENGAMATAN
No. Nama Arch Loop Whorl JSS
Mahasiswa
1. Ramaudhita - 4 6 177
2. Sinta - 10 - 105
3. Sri - 10 - 119
4. Laut 1 8 1 115
5. Yohana - 8 2 123
6. Atika - 6 4 145
7. Ihrom - 8 2 85
8. Tyas - 6 4 141
9. Turoh - 8 2 114
10. Mita - 10 - 106
11. Rima - 8 2 124
12. Intan - 6 4 174
13. Elfa - 8 2 146
14. Anis - 9 1 128
15. Silmi - 10 - 149
16. Nus - 8 2 132
17. Bagas - 7 3 123
18. Nida - 6 4 155
19. Desi - 6 4 167
20. Puji - 4 6 175
21. Heni 1 7 2 129

∑ Arch =2
∑ Loop = 157
∑ Whorl = 51

F. ANALISIS DATA
Hipotesis :
Ho = tidak ada penyimpangan antara teori dengan praktikum.
Ha = ada penyimpangan antara teori dengan praktikum.
 Tipe/ Pola Sulur :
∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝐴𝑟𝑐ℎ
1. Arch =
∑ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑜𝑙𝑎
𝑥 100%
2
= 𝑥 100%
210
= 0,95%

∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝐿𝑜𝑜𝑝
2. Loop =
∑ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑜𝑙𝑎
𝑥 100%
157
= 𝑥 100%
210
= 74,76%

∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝑊ℎ𝑜𝑟𝑙
3. Whorl =
∑ 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑜𝑙𝑎
𝑥 100%
51
= 𝑥 100%
210
= 24,29%

Menggunakan Uji Chi-Square :


Db = n – 1
=3–1
=2
Sehingga diperoleh α = 0,05 dan x2 tabel = 5,99

∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝐴𝑟𝑐ℎ
 Arch (O) =
∑ 𝑀𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
𝑥 10
2
= 𝑥 10
21
= 0,95

d =O–e
= 0,95 – 5
= -4,05

𝑑2
x2 Arch =
𝑒
(−4,05)2
=
5
= 3,28

∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝐿𝑜𝑜𝑝
 Loop (O) =
∑ 𝑀𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
𝑥 10
157
= 𝑥 10
21
= 74,76
d =O–e
= 74,76 – 70
= 4,76

𝑑2
x2 Loop =
𝑒
(4,76)2
=
70
= 0,32

∑ 𝑃𝑜𝑙𝑎 𝑊ℎ𝑜𝑟𝑙
 Whorl (O) =
∑ 𝑀𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎
𝑥 10
51
= 𝑥 10
21
= 24,29

d =O–e
= 24,29 – 25
= -0,71

𝑑2
x2 Whorl =
𝑒
(−0,71)2
=
25
= 0,02

∑ x2 = x2 Arch + x2 Loop + x2 Whorl


= 3,28 + 0,32 + 0,02
= 3,62

Yang Pola Sidik Jari Jumlah


dicari Arch Loop Whorl
O 0,95 74,76 24,29 100
e 5 70 25 100
d -4,05 4,76 -0,71 0
d2/e (x2) 3,28 0,32 0,02 3,62

x2 hitung < x2 tabel


3,62 5,99
Berarti Ho diterima dan Ha ditolak karena tidak ada penyimpangan antara
teori dengan praktikum.

 Jumlah Sulur
Menggunakan Uji Chi-Square :
∑ 𝑆𝑢𝑙𝑢𝑟 𝑚𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑖−𝑙𝑎𝑘𝑖
 Mahasiswa laki-laki (O) =
∑ 𝑆𝑢𝑙𝑢𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢
208
=
2
= 104

d =O–e
= 104 – 144
= -40

𝑑2
x2 Loop =
𝑒
(−40)2
=
144
= 11,11

∑ 𝑆𝑢𝑙𝑢𝑟 𝑚𝑎ℎ𝑎𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎


 Mahasiswa perempuan (O) =
∑ 𝑆𝑢𝑙𝑢𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢
ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢
2624
=
19
= 138,11

d =O–e
= 138,11 – 127
= 11,11

𝑑2
x2 Whorl =
𝑒
(−11,11)2
=
127
= 0,97

Yang Jumlah Sulur Jumlah


dicari Mahasiswa laki-laki Mahasiswa
perempuan
O 104 138,11 242,11
e 144 127 271
d -40 11,11 -28,29
d2/e 11,11 0,97 12,08

Db =n–1
=2–1
=1
Sehingga diperoleh α = 0,05 dan x2 tabel = 3,84
x2 hitung > x2 tabel
12,08 3,84
Berarti Ho ditolak dan Ha diterima karena ada penyimpangan antara teori
dengan praktikum.

G. PEMBAHASAN
Berdasarkan data percobaan mengenai tipe pola sulur dapat diketahui bahwa
dari 21 mahasiswa (berarti total jari tangan yang diamati 210) jumlah sulur tipe arch
hanya berjumlah 2, 251 tipe loop, dan 51 tipe whorl. Berdasarkan data tersebut dapat
diketahui bahwa tipe sulur terbanyak adalah tipe loop. Pada tipe loop ini terdapat satu
triradius yang terdapat pada ujung jari. Sedangkan pada tipe whorl ditemukan dua
triradius pada ujung lainnya. Sedangkan pada tipe arch tidak ditemukan triradius.
Setelah dilakukan uji Chi-Square terhadap data tersebut didapatkan hasil
bahwa angka deviasi tipe arch yaitu 3,28; tipe loop 0,32; dan tipe whorl 0,02.
Kemudian x2 hitungnya sebesar 3,62. Tipe pola sulur jari tangan manusia ada tiga,
maka nilai db-nya sebesar 2. Nilai x2 hitung = 3,62 < x2 tabel = 5,99 maka Ho
diterima dan Ha ditolak, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil
praktikum dengan teori. Sedangkan pada perhitungan analisis Chi-Square pada jumlah
semua sulur pada populasi kelas diperoleh x2 hitung sebesar 12,08. Jumlah semua
sulur pada populasi kelas yang dibandingkan adalah antara laki-laki dan perempuan,
maka nilai db-nya adalah 1. Nilai x2 hitung = 12,08 > x2 tabel = 3,84 maka Ho ditolak
dan Ha diterima, sehingga ada ketidaksesuaian antara hasil praktikum dengan teori.
Ketidaksesuaian tersebut dapat terjadi karena kurang telitinya praktikan pada saat
menghitung jumlah sulur karena terlalu kecil meskipun sudah dibantu dengan
menggunakan lup/ kaca pembesar.
Pola sulur pada jari memiliki bentuk yang berbeda-beda tiap orangnya, bahkan
dalam jari yang sama ada yang memiliki pola sulur yang berbeda misalnya pada pola
sulur jari Heni diperoleh 1 tipe arch, 7 tipe loop, dan 2 tipe whorl. Pada data kelas
terlihat bahwa pola sulur terbanyak adalah tipe loop dengan persentase 74,76%,
persentase ini sedikit melebihi (mendekati) teori yang menyatakan bahwa kehadiran
loop sebesar 65-70% pada setiap individu. Bentuk loop ini sering ditemukan pada
sidik jari. Frekuensi kehadiran yang sering ditemukan membuat bentuk loop lebuh
banyak dikenal daripada bentuk yang lainnya. Kemudian persentase pola whorl
adalah 24,29%, hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan frekuensi kehadiran
pola whorl adalah 25-30%. Kemudian yang terakhir adalah pola arch dengan
persentase sebesar 0,95%, sedangkan menurut teori frekuensi kehadiran pada pola ini
adalah 5%, namun nilai ini masih bisa diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
perbedaan pola sulur bukan hanya terlihat dari orang yang berbeda saja namun dari
jari yang berbeda walaupun pada tangan yang sama dapat berbeda pula pola sulurnya.
Jumlah rigi tergantung dari pola sulurnya. Pola sulur whorl biasanya memiliki
jumlah rigi yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah rigi pada loop dan arch,
karena lingkaran rigi pada pola whorl lebih besar sehingga jumlah riginya lebih
banyak. Selain itu frekuensi pola sulur ditentukan oleh keturunan ras (suku bangsa),
untuk seluruh bangsa rata-rata pola arch paling kecil. Dari data kelas rata-rata jumlah
rigi mahasiswa perempuan sebesar 138,11 agak terlalu jauh dari jumlah rata-rata
standar perempuan sebesar 127. Sedangkan jumlah rata-rata rigi mahasiswa laki-laki
adalah 104, jumlah ini terlalu jauh dengan jumlah sulur pada laki-laki dalam teori
yakni 144. Oleh karena itu terjadi penyimpangan pada saat menganalisis dengan
menggunakan chi-square, dimana x2 hitung nilainya lebih besar dari pada x2 tabelnya.
Hal ini dapat disebabkan karena kurang telitinya praktikan pada saat menghitung
sulur dan seharusnya jumlah sulur laki-laki lebih banyak daripada jumlah sulur
perempuan.

H. SIMPULAN
1. Pada populasi kelas rombel satu Pendidikan Biologi ditemukan tiga pola sulur jari,
dimulai dari frekuensi yang terbanyak adalah loop, whorl, dan arch
2. Rata-rata jumlah sulur perindividu pada populasi kelas sebesar 138,11 untuk
perempuan dan 104 untuk laki-laki. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa jumlah sulur laki-laki lebih banyak daripada jumlah sulur
perempuan
3. Hasil analisis data pola tipe sulur menggunakan chi-square diperoleh bahwa x2
hitung < x2 tabel, maka Ho diterima sehingga tidak ada penyimpangan antara
praktikum dengan teori.
4. Hasil analisis data jumlah sulur menggunakan chi-square diperoleh bahwa x2
hitung > x2 tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada penyimpangan
antara praktikum dengan teori.

I. DAFTAR PUSTAKA
Soepriyo, A. 1989. Dermatoglifik Ensiklopedi Nasional Indonesia 4. Jakarta : Cipta
Adi Pustaka.
Suryo. 1986. Genetika Strata 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Widianti, T., Aini H.N., dan Ulung A., 2018. Petunjuk Praktikum Genetika.
Semarang : Jurusan Biologi FMIPA Unnes.

J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Poligen adalah pewarisan sifat yang dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada
lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau berlainan.
2. Contoh sifat lain yang diatur oleh poligen adalah pigmentasi kulit dan tinggi
badan.
3. Penentuan sidik jari adalah untuk mengetahui potensi genetic seseorang
dengan cara mengetahui peta fungsi-fungsi bagian otak manusia, sehingga
diperoleh sensitifitas daya tangkap seseorang atas informasi yang dia terima
melalui panca indera dan bagaimana otak memprosesnya, serta gaya berpikir
seseorang, Sidik jari dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang karena
didalam sidik jari terdapat DNA seseorang. DNA tiap individu berbeda-beda
dan tidak ada yang sama (kecuali saudara kemabar) sehingga akan lebih
mudah apabila mengidentifikasi seseorang dengan menggunakan sidik jari.
Sidik jari DNA dapat digunakan untuk menentukan hubungan kekerabatan
seseorang, membaca kepribadian seseorang, dan lain-lain
H. LAMPIRAN

1. Hasil penentuan pola sidik jari dan jumlah sulur praktikan Bagas

2. Hasil penentuan pola sidik jari dan jumlah sulur praktikan Silmi

3. Hasil penentuan pola sidik jari dan jumlah sulur praktikan Nida