Anda di halaman 1dari 81

TUTORIAL ONLINE

Mata Kuliah
Teori Komunikasi

Dr. Basuki Agus Suparno, MSi


Dr.Sri Sediyaningsih, MSi

Program Studi Ilmu Komunikasi


Unversitas Terbuka
2018
INISIASI 1

Pengantar
Untuk perhatian. Bacalah pokok-pokok pikiran dalam materi Inisiasi ke-1. Teori adalah
sesuatu yang sangat fundamental dalam suatu kajian ilmu termasuk dalam bidang
ilmu komunikasi. Oleh karenanya, kita perlu memahami teori itu, terlebih teori dalam
ilmu komunikasi. Cobalah pelajari apa yang dimaksud Pendekatan, pengertian,
Kerangka Analisis dan Perspektif dalam bahasan teori komunikasi yang tersajikan
dalam materi dalam Inisiasi 1.

Materi Inisisasi 1
Memahami Teori Komunikasi:
Pendekatan, Pengertian, Kerangka Analisis dan Perspektif

Pendahuluan
Ilmu komunikasi bersifat multidisiplin. Artinya, sebagai ilmu, ilmu komunikasi dapat
dilihat dari sejumlah perspektif (sudut pandang). Ilmu Komunikasi itu sendiri, dalam
sejarah perkembangan keilmuannya dipengaruhi oleh disiplin ilmu-ilmu lain seperti
sosiologi, linguistik, psikologi, budaya bahkan termasuk matematika dan teknik.
Kenyataan ini membuat ilmu komunikasi memiliki pendekatan-pendekatan tertentu,
lokus perhatian, definisi yang luas dan beragam serta analisis-analisis yang bervariasi.
Melalui inisiasi ke-1 mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pokok-pokok
pikiran yang ada di dalam Modul 1 dalam Mata Kuliah Teori Komunikasi. yakni upaya
memahami Teori Komunikasi dari sisi Pendekatan, Pengertian, Kerangka Analisis dan
Perspektif yang ada.

Pendekatan dalam Teori Komunikasi


Secara umum pendekatan dalam dunia akademik (keilmuan) terdapat tiga
pendekatan, yakni pendekatan scientific, pendekatan humaniora dan pendekatan
sosial. Pendekatan Scientific umumnya berkembang dan dikembangkan dalam ilmu
ilmu eksakta dan ilmu ilmu alam. Hal yang penting dalam pendekatan scientific
bersifat objektif dan menemukan regularitas terhadap fenomena yang diamati.
Pendekatan humaniora pada umumnya berkembang pada ilmu-ilmu sejarah,
kesenian, dan kebudayaan. Interpretasi dan subjektifitas menjadi hal yang menonjol
di dalam pendekatan humaniora. Sedangkan pendekatan sosial lebih menekankan
pada kajian terhadap perilaku dan interaksi. Bagaimana dengan ilmu komunikasi?
Sebagaimana telah disampaikan bahwa Ilmu Komunikasi bersifat multi perspektif.
Ilmu komunikasi memiliki semua pendekatan tersebut. Teori-teori komunikasi
tertentu pada umumnya didekati dengan pendekatan Scientific. Teori-teori
komunikasi yang lain didekati dengan pendekatan Humaniora, sedangkan teori-teori
komunikasi yang lain didekati dengan pendekatan sosial. Poinnya adalah kita sebagai
calon sarjana ilmu komunikasi perlu mengetahui dan menguasai pendekatan-
pendekatan tersebut yang mencerminkan bahwa ilmu komunikasi merupakan bidang
ilmu yang multiperspektif.

Pengertian Ilmu dan dan Teori dalam Komunikasi


Bagaimana ilmu dapat terbentuk? Manusia mengembangkan pengalaman (empiris)
dan kemampuan pikirnya (rasionalitas), untuk memahami sesuatu yang diperlukan
bagi kehidupan yang lebih baik. Dari pengalaman, menjadi pengetahuan, kemudian
berkembang menjadi teori-teori dan tersusun secara sistematis dalam kodifikasi
keilmuan tertentu. Lantas apa yang dimaksud dengan Ilmu? Ilmu merupakan
pengetahuan, yang tersusun secara sistematis, teruji kebenarannya, dari suatu
fenomena tertentu, yang merupakan generalisasi, yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Apa bedanya dengan Teori? Teori-teori
bagian dari ilmu itu sendiri. Teori merupakan hubungan antara konsep-konsep yang
menjelaskan suatu fenomena tertentu yang teruji kebenarannya. Teori terdiri dari
konsep-konsep yang menjelaskan suatu fenomen tertentu. Apa yang dimaksud
dengan konsep?

Konsep merupakan sebuah istilah yang dipakai untuk merepresentasikan suatu


gagasan tertentu. Teori dengan demikian merupakan abstraksi dari realitas sosial
yang kompleks dan dengan demikian merupakan hasil konstruksi yang dilakukan oleh
para ahli. Jadi, ilmu komunikasi terbangun dari teori-teori komunikasi. Teori-teori
komunikasi terbangun dari konsep-konsep. Sedangkan konsep-konsep tersebut
digunakan untuk mewakili suatu gagasan tertentu. Ilmu komunikasi itu sendiri
diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang produksi, proses dan pengaruhnya
dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan-pengembangan teori
yang dapat diuji dan digeneralisasi dengan tujuan menjelaskan fenomena yang
didalami.

Fungsi dan Kegunaan Teori Komunikasi


Menurut Kaplan (1964), teori bukan hanya dimaksudkan untuk menemukan fakta
yang tersembunyi, tetapi sekaligus, teori juga membantu kita dalam melihat suatu
fakta. Seorang akademisi dalam melihat suatu fakta dapat dibedakan dengan cara
orang awam melihat fakta. Seorang akademisi melihat fakta berdasarkan pada
prinsip-prinsip berpikir ilmiah, kebenaranya diperoleh adalah kebenaran akademis,
sebagai kebenaran ilmu. Oleh karena itu, teori membantu kita dalam melihat suatu
fakta, mengorganisasikan fakta, menganalisis fakta dan menyajikan fakta. Di dalam
penelitian, teori digunakan untuk membangun kerangka teoritik, sebagai pijakan
dalam membangun hipotesis penelitian, merumuskan jawaban sementara dan
memprediksian gejala yang akan terjadi. Menurut Stephen W Littlejon (2002)
terdapat sembilan fungsi teori:

1. Teori berfungsi mengorganisasikan dan menyimpulkan. Sebagai penjelasan


terhadap suatu fenomena, teori disusun secara sistematis, menjelaskan
unsur-unsur yang sebelumnya terlihat tidak tertata. Datanglah seorang ahli
yang kemudian menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi, sebab dan
akibatnya, dan konklusi yang dapat diberikan. Dengan demikian teori
membantu mengorganisasi serpihan-serpihan fenomena menjadi suatu
penjelasan yang terintegrasi dan utuh.

2. Teori berfungsi memfokuskan. Hanya pada persoalan-persoalan yang penting


dan utama, mendapat perhatian dalam teori. Tidak semua hal tercakup di
dalam suatu teori. Dengan bantuan ini, seseorang tidak perlu terlalu jauh
dengan persoalan yang bukan esensi dan utama terhadap pokok persoalan
yang ingin diamati dan diteliti

3. Teori berfungsi menjelaskan. Arti penting penjelasan adalah mengungkapkan


pengertian, membangun pemahaman, dan menunjukkan adanya gagasan dan
relasi dari konsep-konsep yang ada terhadap fenomena yang dibangun dalam
suatu teori. Penjelasan ini menuntun seseorang dalam melihat gagasan dan
ide yang disampaikan dalam teori
4. Teori berfungsi membantu dalam pengamatan. Ketersediaan teori dapat
dipakai untuk membantu suatu pengamatan. Gejala dari suatu pengamatan,
makna dan artinya dapat dibantu dengan adanya teori-teori yang ada yang
mengkaji sesuatu yang berkaitan dengan pengamatan tersebut

5. Teori berfungsi memprediksi. Karena teori memberi penjelasan dari suatu


kausalitas, sebab dan akibat, hubungan-hubungan antara konsep satu
terhadap konsep yang lain dalam menggambarkan suatu realitas, maka
dengan sendirinya, teori mempunyai kemampuan untuk memprediksi
terhadap gejala-gejala tertentu sehingga bisa melakukan tindakan preventif
atau antisipatif.

6. Teori berfungsi heuristics. Arti dari heuristics adalah kemampuan


menghasilkan yang baru. Dengan perkataan lain, bahwa teori seharusnya
menjadi pijakan bagi ditemukannnya atau ditelusurinya teori-teori yang baru.
Teori yang lama menjadi lahirnya sebuah teori yang baru

7. Teori berfungsi mengkomunikasikan. Penyampaian, makna, dan pemahaman


adalah unsur=unsur utama dalam proses komunikasi. Jika teori berfungsi
mengkomunikasikan berarti teori tersebut membantu banyak orang untuk
mendapatkan pemahaman dan pengertian terhadap suatu fenomena
tertentu. Bahkan suatu teori dapat menimbulkan suatu diskusi dan dialog
untuk mendapatkan pemahaman yang bersama, munculnya perbaikan dan
koreksi.

8. Teori berfungsi sebagai kontrol. Teori mampu mengendalikan dan mengontrol


sesat pikir, asumsi-asumsi yang dibangun tidak didasarkan pada landasan
ilmiah. Teori juga mampu digunakan untuk mengendalikan penyimpangan-
penyimpangan dalam berpikir, membangun argumen, hipotesa dan penarikan
kesimpulan.

9. Teori berfungsi generatif. Teori dapat memicu dinamika masyarakat, temuan-


temuan baru yang bekaitan dengan inovasi, teknologi, dan pandangan-
pandangan baru. Sifat semacam ini adalah sifat generatif. Pada akhirnya teori
memiliki kegunaan fungsional bagi perbaikan dan perubahan masyarakat yang
lebih baik.

Dengan mencermati paparan itu, kita dapat melihat kegunaan teori berhubungan
langsung dengan kepentingan akademik dan kegunaan teori bagi kepentingan
kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Mengembangkan Teori
Bagaimana mengembangkan suatu teori? Apakah suatu teori dapat berubah dan
dapat salah? Pertama, mari kita cermati dahulu pertanyaan pertama. Bagaimana
mengembangkan suatu teori? Teori dapat dikembangkan dari dua sumber
pengetahuan, yakni dari realitas empiris dan dari pemikiran. Namun pada umumnya,
teori dikembangkan berasal dari realitas empiris. Misalnya, fenomena tentang cara-
cara seseorang yang tidak saling mengenal berusaha mengenal dan kemudian
menjadi seorang sahabat. Melalui fenomena tersebut muncullah Teori Penetrasi
Sosial (Social Penetration Theory).

Dari realitas sosial yang terjadi, seseorang mengalami kejadian atau berada di dalam
realitas sosial itu, kemudian ia mengamatinya fenomena ini, menentukan gejala-
gejala utama yang dapat ditangkap, membangun hubungan antara gejala satu dengan
gejala yang lain. Dibangun kesimpulan. Diuji kembali untuk menguatkan pemikiran-
pemikiran yang dibangun, apakah kesimpulan yang telah disusun tersebut sudah
benar, valid dan reliabel. Gambaran seperti itulah bagaimana suatu teori dibangun
dan dikembangkan. Dalam Modul 1 Mata Kuliah Teori Komunikasi disebutkan bahwa
Pengembangan suatu teori dapat dilakukan melalui empat tahap:

1. Mengembangkan pertanyaan
2. Membangun hipotesis
3. Melakukan pengujian hipotesis
4. Merumuskan teori

Komponen Konseptual dan Jenis Teori Komunikasi


Berdasarkan definisi Komunikasi dari Harold D Laswell, rumusan komunikasi
disebutkan sebagai Who Says What in Which Channel to Whom With What Effect.
Berdasarkan rumusan itu, komponen utama komunikasi terdiri dari Komunikator,
Pesan, Media, Khalayak, dan Efek Komunikasi. Teori-teori komunikasi pun dapat
dilihat dari unsur-unsur komunikasi tersebut. Tetapi bila dilihat dari keseluruhan
definisi komunikasi yang pernah dikumpulkan oleh Frank F.X Dance, komponen
konseptual komunikasi tercakup sebagai berikut:

1. Memberi perhatian pada simbol verbal


2. Memberi perhatian pada pencapaian pemahaman
3. Melihat komunikasi sebagai interaksi atau proses sosial
4. Sebagai upaya untuk mengurangi ketidakpastian
5. Sebagai proses penyampaian pesan
6. Sebagai pertukaran pesan
7. Menghubungkan antara satu pihak dengan pihak
8. Komunikasi dilihat sebagai kebersamaan
9. Sebagai saluran
10. Sebagai replikasi memori
11. Respon diskriminatif
12. Sebagai stimuli
13. Sebagai sesuatu yang disengaja atau sesuatu yang dimaksudkan
14. Sebagai situasi
15. Sebagai kekuasaan

Dalamilah komponen-komponen konseptual tersebut yang tercermin dalam definisi-


definisi tentang komunikasi yang ada. Baca pula Modul yang telah disediakan sebagai
bahan pendalaman materi.

Begitu luasnya teori-teori komunikasi, beberapa ahli mengusulkan cara-cara tertentu


untuk mengelompokkannya. Ada ahli yang mengelompokkan teori-teori komunikasi
berdasarkan level komunikasi seperti Teori-teori Komunikasi Interpersonal, Teori-
teori Komunikasi Kelompok, Teori- teori Komunikasi Organisasi dan Teori teori
Komunikasi Massa. Ada pula ahli yang lain mengelompokkan teori-teori komunikasi
dengan cara yang lain. Misalnya memasukkan teori-teori komunikasi dalam kelompok
teori struktural fungsional, teori-teori komunikasi kognitif dan behavioral, teori-teori
komunikasi interaktif dan teori-teori komunikasi yang bersifat Kritis dan Interpretif.
Semua itu adalah cara-cara pengelompokkan teori-teori komunikasi agar mudah
dipahami dan dibedakan antara satu dengan yang lain

Segi-Segi Pengembangan Teori


Apa yang dimaksud dengan perspektif? Perspektif merupakan cara pandang (point of
view). Sudut pandang dalam melihat sesuatu sehingga ada yang menyebutnya
sebagai “a way of seeing”. Itulah kenapa, muncul keberagaman pandangan tentang
komunikasi. Dalam pengembangan teori, para ahli mengembangkan teori ada yang
berdasarkan pada prinsip-prinsip ketercakupan hukum. Maksudnya, teori yang
dikembangkan berdasarkan pada pola-pola konstan yang dapat diamati, sebagai
patokan dalam menjelaskan fenomena.

Ada pula yang mengembangkan teori berdasarkan pada rules-aturan-aturan yang


ada. Perilaku komunikasi dapat diamati karena perilaku tersebut mengikuti aturan-
aturan yang ada. Ada pula ahli mengembangkan teori berdasarkan pada pendekatan
sistem. Bahwa antara satu dengan yang lain saling berhubungan satu sama lain. Di
samping segi-segi tersebut ada pula yang mengembangkannya berdasarkan pada
hubungan interaksi dan penggunaan simbol.

DISKUSI 1
Mari untuk memperkaya pemahaman terhadap materi baik dari modul dan Inisiasi
ke-1, kita diskusikan bersama. Diskusi dapat Saudara nyatakan dalam pernyataan,
pertanyaan, tanggapan atau pendapat yang merupakan opini sebagai cerminan atas
pemahaman Saudara. Peran serta dan partisipasi Saudara dalam Diskusi mempunyai
kontribusi bagi kesuksesan proses Tutorial Online ini.

Soal-Soal
1. Teori berkaitan dengan konsep-konsep. Apa yang dimaksud dengan konsep?
A. Konsep merupakan pola komunikasi yang diperlukan dalam penelitian
B. Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu
realitas tertentu
C. Konsep merupakan persepsi individu terhadap suatu objek
D. Konsep merupakan makna yang diberikan peneliti terhadap objek
penelitian
2. Teori merupakan abstraksi. Maksudnya?
A. Penyederhanaan dari fenomena yang sangat kompleks yang mencakup
hal-hal pokok dari fenomena yang diamati
B. Ringkasan dari hasil penelitian yang mencakup latar belakang, kerangka
teori dan landasan pikir
C. Gagasan yang sulit dipahami
D. Penyingkatan gagaan yang kompleks
3. Teori dapat dikembangkan dari dua sumber, yakni:
A. Sarjana dan penelitian
B. Penelitian dan Hipotesis
C. Pengamatan dan perasaan
D. Realitas empiris dan Rasionalitas
4. Di dalam mempelajari teori komunikasi, kita dapati adanya sejumlah
perspektif, sehingga teori komunikasi bersifat multiperspektif. Apa yang
dimaksudkan dengan multiperspektif?
A. Banyak disiplin ilmu lain tertarik dengan kajian komunikasi
B. Mendapat sumbangan pemikiran dari ilmu lain
C. Sebagai ilmu belum diakui
D. Memiliki sudut pandang yang beragam
5. Maksud dari Teori memiliki fungsi prediktif adalah:
A. Dapat memastikan kejadian yang akan datang
B. Mampu menghasilkan pemikiran baru
C. Dapat memperkirakan kecenderungan dari suatu fenomena tertentu
D. Dapat mengkontrol kondisi sesuatu yang kita kehendaki

Jawaban-Jawaban
1. (B). Konsep merupakan sebuah istilah (term) yang digunakan untuk
merepresentasikan suatu gagasan atau fenomena tertentu
2. (A). Teori merupakan penyederhanaan penjelasan dari suatu fenomena atau
suatu gagasan yang kompleks dengan melihat hal-hal yang pokok.
3. (D) Teori dikembangkan dari realitas empiris (empirisme) dan berdasarkan
pada pemikiran (rasionalisme)
4. (D). Cukup Jelas. Perspektif adalah sudut pandang “ a way of seeing”.
Multiperspektif berarti memiliki sudut pandang yang beragam
5. (C) Dapat memperkirakan kecenderungan dari suatu fenomena tertentu
INISIASI 2

Pengantar
Dalam inisiasi ke-2 Saudara akan diajak untuk menyelami Teori Komunikasi Antar
Pribadi yang juga dikenal sebagai Komunikasi Inter Personal. Individu sebagai
perhatian utama dalam komunikasi inter personal. Pemahaman terhadap individu-
menjadi penting untuk menangkap karakteristik teori-teori komunikasi yang bersifat
inter personal ini. Untuk perhatian. Bacalah materi dalam Inisiasi ke-2 ini dan temukan
pokok-pokok pikiran utamanya. Bila ada yang belum jelas. Bisa didiskusikan bersama.

Materi Inisiasi 2
Teori Komunikasi Antarpribadi: Dimensi Pribadi dan Relasional

Individu dalam Komunikasi Antarpribadi


Dalam komunikasi antarpribadi, individu adalah partisipan komunikasi. Sebagai
partisipan komunikasi, karena dalam komunikasi antarpribadi bersifat timbal balik,
maka individu tersebut secara simultan adalah seorang komunikator dan seorang
komunikan sekaligus. Saat ia menyampaikan pesan, individu itu kedudukannya
sebagai komunikator, saat ia menerima pesan ia adalah seorang komunikan. Hal yang
menarik adalah dalam proses penyampaian pesan atau dalam hal menerima pesan,
dalam proses-proses tersebut seorang individu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
ada di dalam orang tersebut, seperti intelektualitas, karakter, faktor-faktor psikologis,
sosiologis, formasi kognitif, dan sikap-sikapnya.

Individu memainkan peran sentral dalam proses komunikasi antarpribadi. Ia


memproduksi pesan, menerima pesan, menafsirkan pesan, menginterpretasikan
pesan, dan menentukan hubungan-hubungan yang terjadi dalam sejumlah bentuk
komunikasi antarpribadi.

Proses-proses komunikasi yang terjadi pada individu dapat dipandang sebagai proses-
proses psikologis yang memusatkan pada karakteristik individu. Pertama, proses
komunikasi dapat dijelaskan melalui karakteristik statik dari individu. Ini yang disebut
sebagai trait . Kedua, penjelasan yang menitikberatkan pada perilaku. Bentuk-bentuk
perilaku komunikasi dapat dijelaskan dari dorongan psikologisnya. Sedangkan yang
ketiga adalah penjelasan kognitif yang melihat proses-proses komunikasi melalui
mekanisme yang terjadi pada pikiran seseorang.
Dalam pendekatan Retorika, posisi individu sebagai komunikator disebut sebagai
Ethos. Sebagai komunikator, di dalamnya ada tiga hal yang diperhatikan, yakni
pertama karakter. Karakter adalah bentuk-bentuk perilaku yang diperlihatkan
berulang kali yang menunjukkan sifat dari seseorang. Barangkali jika ada seseorang
berbohong satu kali, kita belum bisa menyebutnya sebagai pembohong. Namun
apabila orang itu secara berulang-ulang berbohong, kita dapat menyebutnya sebagai
pembohong untuk menunjukkan karakter orang itu. Kedua, intelektualitas. Tercakup
dalam kategori kecerdasan adalah pengalaman, ketrampilan, keahlian, kecakapan
dan lainnya. Ketiga adalah ketulusan dalam berkomunikasi. Motivasi seseorang dalam
berkomunikasi menentukan kualitas komunikasi antarpribadi.

Untuk diketahui bahwa tingkat keterlibatan personal dan emosional dalam


komunikasi antarpribadi adalah tinggi. Faktor-faktor keterbukaan, empati, kejujuran,
kedekatan menjadi faktor penting dalam keberhasilan dalam komunikasi antarpribadi

Individu dan Persepsi


Proses psikologis yang diasosiasikan dengan interpretasi dan pemberian makna
terhadap objek atau orang dikenal dengan persepsi. Persepsi merupakan proses
inderawi. Artinya proses pencerapan yang dilakukan oleh alat pancaindera kita. Jadi
persepsi adalah pengetahuan tentang apa yang ditangkap oleh inderawi kita.
Beberapa tahap penting dalam persepsi:

1. Persepsi mempersyaratkan keberadaan objek eksternal yang ditangkap oleh


panca indera
2. Adanya informasi yang ditangkap dan diproses dalam proses-proses kognitif
3. Pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan apakah suatu objek,
melainkan sebatas sesuatu yang ditangkap oleh pancaindera. Persepsi
memiliki kemampuan untuk menangkap apa yang tampak, bukan menangkap
sesuatu yang tersembunyi. Dalam proses komunikasi, persoalan komunikasi
bukan sebatas apa yang kita dengar dan lihat, melainkan di balik apa yang kita
dengar dan kita lihat itu terhadap sesuatu yang tersembunyi. Di sinilah
diperlukan pemaknaan terhadap apa yang dipersepsikan tersebut.

Sifat-Sifat Persepsi
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa persepsi adalah proses inderawi. Ia hanya
menangkap yang tampak. Ia tidak mampu menangkap sesuatu yang tersembunyi.
Interpretasi dan penafsiran merupakan proses lanjut dari persepsi. Penangkapan
inderawi terhadap objek dilakukan oleh pancaindera, tetapi proses lebih lanjut terjadi
di dalam benak pikiran kita.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diketahui terhadap sifat-sifat persepsi agar kita
mengetahui batas-batasnya, dan agar jangan mencampurkan adukan antara proses
persepsi dengan proses pemaknaan dan penafsiran:

1. Persepsi adalah pengalaman. Artinya pengalaman itu adalah seseorang yang


pernah mengalami. Dengan perkataan lain, ia pernah merasakan, melihat,
merasakan, menyentuh, dan mendengar. Semua bentuk pengalaman
bersumber dari persepsi. Pengalaman ini dapat menjadi sumber pengetahuan
2. Persepsi adalah selektif. Maksudnya adalah realitas sosial yang terjadi di
dalam lingkungan kita sangat besar dan tidak terbatas. Kenapa hanya objek-
objek tertentu saja, yang mendapat perhatian dari kita. Oleh karena itu,
persepsi adalah bersifat selektif.
3. Persepsi adalah penyimpulan. Penyimpulan yang dilakukan melalui persepsi
pada dasarnya adalah tidak lengkap. Namun demikian, informasi-informasi
yang diberikan melalui proses persepsi dapat dijadikan dasar bagi pengertian
yang lebih lengkap dan utuh
4. Persepsi tidak akurat. Jangan terlalu yakin dengan apa yang dilihat. Banyak hal
yang tidak luput dari apa yang dilihat dan didengar. Karena persepsi adalah
proses selektif, maka banyak hal yang mungkin luput dari perhatian. Ini
menjadi salah satu faktor bahwa persepsi tidak akurat
5. Persepsi bersifat subjektif. Penangkapan terhadap objek yang ditangkap oleh
indera seringkali dipengaruhi oleh penilaian subjektif, keyakinan diri, sifat-sifat
dan karakter yang dimiliki individu

Elemen-Elemen Persepsi
Penting artinya kita melihat elemen-elemen persepsi yang menentukan sifat dan
karakteristik dari persepsi yang dilakukan seseorang. Kenapa? Persepsi bukan proses
yang berdiri sendiri. Bahkan proses yang lain mengikutinya secara simultan.

1. Persepsi dan interpretasi berjalan secara simultan. Persepsi dan interpretasi


berjalan secara simultan. Hampir sebagian besar proses persepsi diikuti
dengan pemaknaan. Antara persepsi dan pemaknaan tidak bisa ditempatkan
sebagai sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Dalam proses berpikir,
seperti pemaknaan, interprerasi, respon terhadap stimuli merupakan
simultansi antara persepsi dan proses-proses kognitif lainnya.
2. Kesan kuat atau lemah dari suatu persepsi terbentuk karena adanya
kecenderungan adanya harapan-harapan tertentu. Seseorang memiliki
harapan terhadap apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan.
3. Latar belakang dari suatu objek tertentu menentukan sifat dan karakteristik
persepsi yang dilakukan seseorang. Suatu objek tertentu biasanya berada di
dalam dan diantara objek-objek yang lain. Hubungan antara objek-objek ini
seringkali menentukan kualitas persepsi yang ditangkap oleh seseorang
4. Persepsi ditentukan oleh keberadaan pembanding. Pembanding diperlukan
untuk menentukan konsistensi dan ketidakkonsistenan sesuatu sekaligus
dapat membedakan antara suatu objek dengan objek yang lain. Cara
seseorang menerima dan menangkap suatu objek ditentukan adanya
pembanding terhadap objek tersebut
5. Konteks merupakan elemen persepsi yang juga menentukan karakteristik dan
sifat dari objek yang dipersepsikan. Suatu objek seringkali maknanya
ditentukan oleh suatu konteks tertentu

Nah dengan paparan itu, kita telah membahas persoalan penting yang menentukan
cara dan kualitas persepsi seseorang. Sekali lagi persepsi bukan merupakan proses
yang berdiri sendiri. Cara-cara seseorang menangkap suatu objek yang dipersepsikan
ternyata ditentukan sejumlah kondisi tertentu yang mempengaruhi interpretasi dan
pemaknaannya dalam interaksi sosial atau komunikasi secara antarpribadi.

Kesadaran Diri
Diri adalah objek sosial. Dengan demikian, diri juga dipersepsikan. Siapa yang
mempersepsikan diri kita? Pertama, diri kita dipersepsikan oleh orang lain. Tetapi diri
kita bisa kita persepsikan sendiri. Kemampuan kita mempersepsikan diri kita sendiri,
karena merupakan objek perseptual itulah yang kemudian melahirkan konsep diri.
Siapa diri kita? Inilah yang melahirkan kesadaran diri. Ada pandangan, cara kita
melihat diri kita ditentukan oleh cara orang lain melihat diri kita.

Dari kesadaran diri itu lahirlah kemampuan untuk mengidentifikasi diri. Siapa diri saya
dapat dijawab melalui identifikasi diri seperti nama, jenis kelamin, agama, cantik atau
tampan, mahasiswa UT, Jawa, suka musik, pandai masak, santun, religius dan
seterusnya. Inilah yang kemudian disebut sebagai identitas individu. Kesadaran diri ini
tercakup dalam tiga area, yakni konsep diri (self), kebanggan diri (self esteem) dan
kedirian (multiple Selves).

Pada umumnya melihat diri seseorang berdasarkan sifat pribadi, sifat sosial dan peran
sosial. Seperti yang telah dicontohkan, identifikasi diri seperti santun, cantik, dan
religius merupakan sifat pribadi. Tetapi hal-hal seperti populer dan mudah bergaul
adalah sifat-sifat sosial. Sedangkan seorang guru, dosen, mahasiswa adalah contoh-
contoh peran sosial.

Kesadaran diri ini menentukan bentuk komunikasi antarpribadi. Sebab cara-cara


seseorang mendefinisikan diri menentukan cara-cara orang berkomunikasi dengan
orang lain. Misalnya self esteem. Self Esteem adalah kesadaran dalam menilai diri
sendiri. Jika seorang menilai dirinya tinggi, maka biasanya ia memiliki kecenderungan
mandiri, percaya diri, mengontrol pembicaraan, dan dominan.

Kemampaun adaptif kita dalam berbagai situasi sosial, karena kita juga memiliki
kemampuan dalam menilai diri dengan cara yang bermacam-macam. Kedirian
(multiple selves) merupakan kemampuan dalam menempatkan diri dalam berbagai
situasi yang berbeda-beda. Kesadaran diri kita tidaklah tunggal tetapi bermacam-
macam.

Kesadaran dan kedirian kita ini akan terus berkembang. Bahkan dalam perjalanan
kehidupan seseorang, konsep diri ini dapat mengalami perkembangan dan
perubahan. Sepertinya tidak ada seorang pun yang konsep dan kesadarannya
berhenti dan bersifat statis. Interaksi dengan banyak orang, pengalaman dengan
banyak peristiwa, pendidikan yang dijalani, dapat mengubah dan menumbuh
kembangkan kesadaran diri yang baru. Proses perkembangan dan perubahan konsep
diri dan kesadaran ini melalui tiga tahap: reflexive self, social self dan becoming self.

Konsep Other dalam Komunikasi


Dalam komunikasi antarpribadi, komunikasi terjadi antara diri kita dengan orang lain.
Pertanyaannya adalah apakah kita perlu mengetahui siapa orang lain itu dalam
berkomunikasi? Jawabannya adalah ya. Kenapa? Karena dengan “memahami” orang
lain, proses komunikasi yang berjalan dapat sesuai yang diharapkan. Sengaja kata
memahami, ditulis dalam tanda petik. Sebab, dalam komunikasi apa pun kita
sebenarnya tidak benar-benar mengetahui terhadap orang lain. Kita hanya berusaha
memahami berdasarkan tanda-tanda yang diberikan dalam perilaku komunikasinya.
Dengan tanda-tanda itu kita berusaha memahaminya.

Setidaknya ada tiga hal yang diperlukan untuk memahami orang lain sebagai
partisipan komunikasi antarpribadi:

a. Motivasi dan tujuan dari orang yang berkomunikasi


b. Kondisi internal psikologis orang tersebut
c. Kesamaan apa yang ada pada orang itu dengan diri kita sebagai partisipan
komunikasi antarpribadi

Dari tiga hal tersebut, persepsi terhadap orang lain menjadi sangat penting. Dalam
komunikasi antarpribadi, persepsi terhadap orang lain, mencakup persepsi
karakteristik dan persepsi terhadap perilaku komunikasi. Ini berguna untuk
memperkirakan apa yang menjadi maksud dan tujuan dari orang lain ketika
berkomunikasi.

Perspesi terhadap orang lain juga mencakup upaya memahami kondisi internal
psikologis orang lain serta mencari situasi dan hal-hal tertentu yang merupakan
kesamaan. Salah satu esensi komunikasi adalah kesamaan pemahaman terhadap
orang lain. Coba dalami lebih jauh cara-cara seseorang melakukan persepsi terhadap
karakteristik dan perilaku komunikasi orang lain. Kembangkan pemahaman Saudara
dengan mendalami Modul yang ada

Memahami Hubungan Antarpribadi


Hubungan antarpribadi memainkan peran penting dalam kehidupan kita. Dalam
kehidupan sosial kita, berinteraksi dan bergaul dengan orang lain adalah hal yang
sangat penting. Kita memerlukan hubungan antarpribadi untuk dua alasan, yakni
mengembangkan perasaan dan ketergantungan kepada orang lain. Kita tidak dapat
hidup sendiri, karena itu kita memerlukan orang lain. Perasaan mengacu pada
pengembangan emosional, sedangkan ketergantungan mengacu pada perlunya
kerjasama, pertolongan orang lain, persetujuan, kesepakatan, dan bantuan.

Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kualitas hubungan antarpribadi.


Di dalam individu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hubungan
antarpribadi, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, afiliasi organisasi, status
sosial dan ekonomi. Faktor-faktor itu sangat mempengaruhi kualitas hubungan
antarpribadi.

Berikut-adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk memahami kualitas hubungan


antarpribadi dengan merujuk dengan beberapa teori dan konsep yang berhubungan
dengan hubungan antarpribadi. Pertama, pemahaman tentang konsep Self
Disclosure. Dalam teori Social Penetration Theory, misalnya, kepribadian seseorang
itu terbentuk dalam lapis-lapis kepribadian seperti lapis-lapis dalam bawang merah.
Semakin dalam lapisan itu, merujuk pada konsep dan jati diri yang paling dalam. Orang
tidak dengan mudah mengungkapkan konsep diri yang paling dalam, kecuali
dilakukan dalam hubungan antarpribadi yang intim.

Model lain yang dapat digunakan untuk memahami konsep diri orang lain dengan
Johari Window. Menurut model ini, seseorang memiliki atribut yang hanya diketahui
oleh dirinya sendiri, hanya diketahui oleh orang lain, diketahuii oleh dirinya dan orang
lain, serta tidak diketahui oleh siapa pun. Dari posisi tersebut, jika komunikasi
antarpribadi berjalan dengan baik, akan terjadi pengungkapan diri yang mendorong
informasi diri masing-masing.

Tetapi adakalanya, pengungkapan diri berlangsung tidak seperti yang kita harapkan.
Dalam komunikasi antarpribadi adakalanya, satu sisi terbuka, sedangkan sisi lain,
tertutup sehingga komunikasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Proses
pengungkapan diri sendiri, tidak bisa berlangsung tanpa batas. Umumnya terbuka
untuk hal-hal yang sifatnya umum, sedangkan hal-hal yang bersifat pribadi pada
umumnya sulit terbuka.

Pandangan lain melihat hubungan antarpribadi dari sisi pertukaran tertentu. Artinya
orang mengevaluasi kualitas hubungan tertentu berdasarkan pada pertukaran apa
yang diperoleh dari hubungan antarpribadi. Lainnya lagi melihat hubungan
antarpribadi berdasarkan prinsip untung dan rugi. Komparasi semacam ini mungkin
dipakai untuk meninjaui kembali stabilitas hubungan antarpribadi yang telah
dijalankan.

Seseorang yang merasa hanya dimanfaatkan saja, dapat menghentikan dan


membatasi hubungan antarpribadi yang telah berlangsung. Perkembangan hubungan
antarpribadi berlangsung dari tahap Inisiasi, eksperimen, intensifikasi, integrasi dan
ikatan.
DISKUSI 2
Saatnya kita mendiskusikan bahan-bahan yang tersajikan dalam Inisiasi 2. Hal-hal
yang belum dimengerti bisa didiskusikan bersama. Bukankah cara terbaik untuk
mendapatkan pemahaman dengan mengkomunikasikan dengan orang lain. Diskusi ini
dapat Saudara mulai dengan pernyataan, pertanyaan, dan tanggapan terhadap yang
lain terhadap seluk beluk komunikasi antarpribadi.

Soal-Soal
1. Dalam komunikasi antar pribadi, memahami karakteristik individu sangat
penting agar komunikasi berlangsung sukses. Karakteristik statis individu
biasanya disebut:
A. Emosi
B. Trait
C. Persepsi
D. Sinkroni
2. Persepsi bersifat selektif, artinya adalah:
A. Dari objek yang begitu luas dan terbatas, hanya objek tertentu yang
mendapat perhatian individu
B. Pilihan persepsi dapat dinegosiasikan
C. Faktor-faktor ekternal menghambat proses persepsi sehingga bersifat
terbatas
D. Tergantung pada proses perseptual yang saat itu terjadi dari kemungkinan
penggunaan dari pancaindera kita
3. Berikut ini adalah pengertian dari apa yang disebut sebagai Kesadaran Diri
A. Kemampuan seseorang dalam mempersepsi diri sendiri
B. Kepekaan diri terhadap kehadiran orang lain
C. Kepercayaan diri terhadap orang lain
D. Kemampuan adaptif ketika berinteraksi dengan orang lain
4. Prinsip-prinsip Johari Window dalam menentukan keberhasilan komunikasi
antarpribadi terlihat dari:
A. Kesadaran terhadap kemampuan diri sendiri dan terbuka terhadap orang
lain
B. Keterbukaan dari orang lain dan kepercayaan diri sendiri
C. Memusatkan pada kesadaran diri sendiri
D. Kesadaran pada kehadiran orang lain
5. Tiga hal yang diperlukan dalam memahami partisipan dalam komunikasi antar
pribadi
A. Motivasi, kondisi psikologis dan kesamaan yang ada
B. Status sosial ekonomi, pendidikan dan ketulusan
C. Motivasi, ketulusan dan karakter
D. Intelektualitas, ketulusan dan pengalaman

Jawaban-Jawaban
1. (B). Sifat statis dari individu biasa disebut sebagai trait
2. (A). Bersifat selektif adalah hanya objek tertentu saja yang mendapat
perhatian individu
3. (A) Kesadaran diri penting bagi komunikasi antar personal. Kesadaran diri
adalah kemampuan diri dalam mempersepsi diri sendiri
4. (A) Prinsip-prinsip Jendala Jauhari adalah kesadaran terhadap kemampuan diri
sendiri dan terbuka kepada orang lain
5. (A) Tiga hal yang diperlukan dalam memahami partisipan dalam komunikasi
adalah Motivasi, kondisi psikologis dan kesamaan dari partisipan
INISIASI 3

Pengantar
Saatnya kita mendalami teori-teori dalam tataran komunikasi kelompok. Hidup dalam
kelompok merupakan ciri bahwa kita adalah mahluk sosial. Hampir tidak mungkin
pula kita menghindari dalam kehidupan sosial berkelompok. Dalam inisiasi 3 ada
empat hal yang kita dalami. Pertama, prinsip-prinsip kelompok. Kedua, komunikasi
dalam kelompok. Ketiga, pendekatan teoritis dalam komunikasi kelompok. Keempat,
pendekatan penelitian dalam komunikasi kelompok. Agar tutorial ini berjalan efektif,
dalamilah materi inisiasi 3 ini.

Materi Inisiasi 3
Teori Komunikasi Kelompok

Pengertian Komunikasi Kelompok


Pertama, penting untuk memahami pengertian dari komunikasi kelompok.
Komunikasi kelompok didefinisikan sebagai interaksi tatap muka dari tiga orang atau
lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan dikehendaki sehingga semua
anggota dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota yang lain. Perhatikanlah
definisi tersebut baik-baik. Apa yang dapat dicermati dari definisi tersebut? Apa yang
Saudara dapat dari pencermatan tersebu? Saudara akan mendapatkan hal-hal
sebagai berikut:

Pertama, interaksi tatap muka. Komunikasi kelompok merupakan komunikasi


langsung tatap muka. Keberadaan partisipan komunikasi sebagai sesuatu yang
penting dan sekaligus sebagai prasyarat pertama bagi komunikasi kelompok

Kedua, jumlah partisipan komunikasi. Komunikasi disebut sebagai komunikasi


kelompok jika dilakukan lebih dari 3 orang. Jumlah orang dapat menentukan batas-
batas bentuk komunikasi, apakah masih disebut sebagai kelompok atau bukan.
Jumlah komunikasi kelompok dapat dibedakan dengan komunikasi massa. Sebab
kelompok dan massa memiliki karakteristik jumlah partisipan komunikasi yang
berbeda.

Ketiga, ada tujuan yang dikehendaki bersama. Ini yang membedakan dengan bentuk
komunikasi massa. Kesadaran diri sebagai anggota kelompok menentukan kesadaran
bersama terhadap tujuan komunikasi itu sendiri. Tujuan bersama membentuk
komitmen dan kerjasama di antara anggota-anggota kelompok.

Keempat, karakteristik kelompok dapat berkembang tanpa perlu mengorbankan


karakteristik individu. Justru karena seseorang berada di dalam suatu kelompok, ia
dapat mengembangkan karakteristik individu tersebut secara bersama dengan
karakteristik individu yang lain bagi kepentingan kelompok.

Ada pendapat lain yang menambahkan batasan komunikasi kelompok tersebut


dengan waktu. Artinya, kelompok terbentuk pada umumnya memerlukan waktu yang
relatif lama sehingga menjadi kelompok yang “established”.

Karakteristik Komunikasi Kelompok


Ada dua karakteristik yang melekat dalam suatu kelompok, yakni norma dan peran.
Norma adalah persetujuan dari orang-orang yang ada di dalam kelompok tentang
bagaimana mereka berperilaku satu sama lain. Kadang-kadang norma ini disebut
sebagai hukum (law), kadang pula disebut sebagai aturan (rules). Norma itu sendiri
terdapat tiga kategori, yakni norma sosial, norma prosedural dan Norma Tugas.
Norma sosial mengatur hubungan di antara anggora kelompok. Norma prosedural
merupakan norma yang mengatur bagaimana suatu kelompok harus bekerja.
Sedangkan norma tugas merupakan norma yang mengatur tentang bagaimana tugas
dijalankan. Adapun peran adalah pola-pola perilaku yang diharapkan dari setiap
anggota kelompok. Peran ini memiliki kegunaan, yakni kegunaan tugas dan kegunaan
pemeliharaan.

Fungsi Komunikasi Kelompok


Apa fungsi penting yang diperlihatkan dari komunikasi kelompok? Komunikasi
kelompok memiliki fungsi-fungsi penting dalam kehidupan sosial. Berikut ini adalah
fungsi-fungsi komunikasi kelompok:

1. Komunikasi kelompok memiliki fungsi bagi hubungan sosial. Ghalibnya sebagai


mahluk sosial, kita memerlukan hubungan-hubungan sosial tersebut.
Aktualisasi, saling ketergantungan, dan mengembangkan emosi psikologis
dapat dipelihara dalam hubungan-hubungan sosial
2. Komunikasi kelompok memiliki fungsi pendidikan. Proses belajar dan
mendapatkan pengetahuan dikembangkan dan diperoleh melalui kelompok
sosial yang ada. Proses-proses komunikasi kelompok dapat berfungsi sebagai
forum belajar bersama
3. Komunikasi kelompok memiliki fungsi persuasi. Keberhasilan persuasi dan
penerimaan ide-ide baru cenderung lebih dilakukan dalam kelompok.
Kelompok pada umumnya membentuk identitas kelompok tertentu sehingga
proses-proses persuasi lebih mudah dilakukan dalam kelompok
4. Komunikasi kelompok berfungsi dalam pembuatan keputusan. Proses-proses
pengambilan keputusan yang efektif dilakukan di dalam kelompok. Keputusan
dalam kelompok lebih teruji dan mendapatkan sejumlah pertimbangan serta
alternatif dalam mengevaluasi suatu keputusan tertentu
5. Komunikasi kelompok berfungsi terapi. Fungsi terapis digunakan untuk
mendiagnosis suatu gejala tertentu. Resep-resep pencegahan terhadap
bentuk patologis sosial dapat dilakukan dalam kelompok

Memahami Komunikasi dalam Kelompok


Mari kita mengenal tipe-tipe kelompok. Dalam keseharian kita mengenal banyak tipe
kelompok. Seperti kelompok belajar, kelompok pemikir, kelompok pengambil
keputusan, kelompok pemecah masalah dan seterusnya. Kita fokuskan saja
pembicaraan ini ke dalam tiga tipe kelompok, yakni Kelompok Belajar, Kelompok
Pemecah Masalah dan Kelompok Pertumbuhan.

1. Kelompok Belajar
Ciri penting dalam Kelompok Belajar adalah pertukaran informasi. Sedangkan
informasi yang paling penting di dalamnya adalah pengetahuan. Di dalam
masyarakat banyak sekali kelompok-kelompok belajar. Seperti kelompok
belajar berenang, kelompok bimbingan belajar, kelompok pendaki gunung,
kelompok belajar penyelam. Intinya di dalam kelompok tersebut terdapat
upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan di antara anggota
kelompok

2. Kelompok Pemecah Masalah


Pernah mendengara istilah Think Tank. Ada pula istilah Group Think. Dua
istilah tersebut ada hubungan dengan kelompok pemecah masalah. Mereka
kelompok pemikir yang berikhtiar untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi di masyarakat. Para pemimpin pemerintah memiliki kelompok-
kelompok pemecah masalah. Sumbang sarannya dibutuhkan karena mereka
kelompok terlatih dalam mengidentifikasi dan merumuskan pemecahan
masalah

3. Kelompok Pertumbuhan
Berbeda dengan dua kelompok yang lain. Apa yang dimaksud dengan
Kelompok Pertumbuhan adalah kelompok di mana orang-orang yang di
dalamnya berusaha membantu satu dengan yang lain untuk menumbuh
kembangkan potensi yang dimiliki individu-individu dalam organisasi

Metode Pengambilan Keputusan dalam Kelompok


Cara lain dalam memahami efektifitas kelompok adalah mendalami sejumlah metode
dalam pengambilan keputusan. Dalam suatu kelompok terdapat sejumlah variasi
dalam pengambilan keputusan. Ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik dan
peran-peran yang dijalankan anggota kelompok. Oleh karenanya, kita sering
menyaksikan adanya kemungkinan-kemungkinan tertentu dalam pengambilan
keputusan. Berikut ini metode-metode pengambilan keputusan dalam kelompok:

1. Keputusan yang diambil berdasarkan kewenangan tanpa diskusi


Keputusan dengan metode ini umumnya diambil dalam kelompok otokratik.
Kelompok-kelompok militer merupakan satu contoh dalam pengambilan
keputusan metode ini. Kelebihan dalam keputusan metode ini adalah cepat.
Kelemahan pengambilan keputusan ini adalah mengabaikan pandangan lain
yang mungkin lebih baik
2. Keputusan yang diambil berdasarkan pada pendapat ahli
Keahlian seseorang di dalam anggota kelompok sering dijadikan pijakan dalam
pengambilan keputusan. Keahlian dengan demikian memberikan kewenangan
dan kekuasaan bagi seseorang untuk dipercaya di dalam mengambil
keputusan
3. Keputusan yang diambil berdasarkan Kewenangan setelah Diskusi.
Keputusan ini mempertimbangkan pendapat orang lain. Metode dapat
meningkatkan kualitas hasil dari keputusan. Selain itu, metode menjadi
anggota merasa bahwa keputusan ini merupakan hasil bersama sehingga
meningkatkan rasa tanggung jawab untuk mengamankan hasil keputusan
tersebut
4. Keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan.
Keputusan ini didasarkan pada persetujuan seluruh anggota. Keputusan ini
dikenal sebagai konsensus. Keputusan ini memiliki kelebihan terhadap rasa
tanggung jawab seluruh anggota untuk menaati hasil keputusan kesepakatan
tersebut.

Catatan.
Tidak ada salah satu metode tersebut yang paling baik. Masing-masing memiliki
kelebihan dan kelemahan. Setiap keputusan yang diambil untuk menyelesaikan
sesuatu, ditentukan oleh faktor-faktor tertentu, seperti ketersediaan waktu dalam
pengambilan keputusan, kompleksitas masalah yang dihadapi, bobot kepentingan
yang dihadapi, kemampuan kritis dari anggota peserta pengambilan keputusan dan
kualitas pimpinan dalam memimpin jalannya pengambilan keputusan.

Kepemimpinan Kelompok
Ada dua hal penting yang perlu dicermati dalam keepemimpinan kelompok ini, yakni
fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan dalam kelompok. Keberadaan
pemimpin kelompok sangat penting dalam menentukan corak dan arah kelompok
tersebut.

1. Fungsi Kepemimpinan Kelompok


Fungsi kepemimpinan kelompok ini dapat dilihat dari fungsi inisiasi, fungsi
keanggotaan, fungsi integrasi, fungsi pengorganisasian, fungsi representasi,
fungsi manajemen informasi dan fungsi penyaring informasi. Fungsi inisiasi
seorang pemimpin dapat memberi inspirasi dan keteladanan kelompok.
Fungsi keanggotaan menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga adalah
bagian dari anggota kelompok yang tidak berbeda dengan mereka pada
umumnya. Fungsi pengorganisasian merupakan fungsi yang mencerminkan
upaya untuk melembagakan unsur-unsur yang ada di dalam kelompok. Fungsi
integrasi merupakan fungsi yang memusatkan unsur-unsur yang berbeda-
beda menjadi satu kekuatan dalam mencapai tujuan. Fungsi penyaring
informasi berarti pemimpin menentukan kualitas informasi yang masuk dan
keluar yang digunakan untuk menjaga kelayakan dan kepatutan informasi
yang berkembang di kalangan anggota kelompok.

2. Gaya Kepemimpinan Kelompok


Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai tingkat pengendalian yang
digunakan seseorang di dalam mendapatkan kepatuhan anggota dalam suatu
kelompok. Tipe-tipe gaya kepemimpinan kelompok mencakup: a) gaya
kepemimpinan autoritarian, b) gaya kepemimpinan birokratik; c) gaya
kepemimpinan demokratik; d) gaya kepemimpinan laissezfair; dan e) gaya
kepemimpinan group centered.

Setiap gaya kepemimpinan memiliki ciri tersendiri. Seperti halnya dengan metode
pengambilan keputusan, sejumlah gaya kepemimpinan dapat efektif pada situasi
tertentu, tetapi pada situasi yang lain, kurang berhasil.

Hal semacam ini disebabkan, struktur kelompok, bentuk kelompok, dan kualitas dari
orang-orang yang dipimpin, turut menentukan kuat lemahnya pengaruh kekuatan
pengendali yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan gaya
kepemimpinannya. Dalam struktur kelompok yang mengikuti garis komando
misalnya, gaya kepemimpinan yang autoritarian mungkin sangat tepat diterapkan
dibandingkan dengan kelompok komunitas seniman di Yogyakarta. Demikian pula
untuk gaya kepemimpinan yang lain dapat cocok terhadap situasi-situasi kelompok
tertentu. Dengan perkataan lain, seorang pemimpin dapat menerapkan secara
simultan terhadap sejumlah gaya kepemimpinan untuk mengendalikan perilaku
anggota kelompok agar berjalan efektif.

Komunikasi Kelompok dalam Perspektif Teoritis


Sekedar kembali mengingatkan bahwa kelompok dalam perspektif interaksional,
adalah tiga orang atau lebih yang berinteraksi satau sama lain. Ada pandangan bahwa
kumpulan orang-orang masih dalam kategori disebut sebagai kelompok adalah
dengan batas jumlah anggota sampai dengan 20 orang. Dikatakan di dalam
pandangan tersebut, kelompok yang ideal adalah kelompok dengan jumlah lima
orang. Sedangkan suatu kelompok yang baik apabila kelompok ini terbentuk melalui
proses, waktu, memiliki tujuan dan struktur interaksi.

Berikut ini akan kita bahas tentang Komunikasi Kelompok dengan Pendekatan
Teoritis. Beberapa pendekatan yang akan kita bahasa tersebut adalah Teori
Perbandingan Sosial, Teori Kepribadian Kelompok, Teori Pencapain Kelompok, Teori
Pertukaran Sosial dan Teori Sosiometri.

1. Teori Perbandingan Sosial


Teori ini menjelaskan bahwa tindakan komunikasi dalam kelompok
berlangsung karena adanya kebutuhan-kebutuhan individu untuk
membandingkan pemikiran, sikap dan perilaku mereka dengan anggota
kelompok yang lain.
2. Teori Kepribadian Kelompok
Di dalam suatu kelompok, di samping dihadapkan pada dimensi-dimensi yang
memang langsung berhubungan dengan kelompok itu sendiri, seringkali
keberadaan kelompok dihadapkan oleh situasi yang ditimbulkan adanya
perbedaan dalam kepribadian masing-masing anggota dalam kelompok.
Kelompok tidak memfokuskan diri pada tujuan-tujuan kelompok itu sendiri,
melainkan disibukkan dengan urusan pengelolaan yang berkaitan dengan
perbedaan kepribadian yang ada. Dengan perkataan lain, teori kepribadian
kelompok memberi perhatian bahwa interaksi yang terjadi di dalam kelompok
tidak semata-mata digerakkan oleh keinginan tujuan kelompok, tetapi
kelompok itu sendiri dapat menjadi tempat untuk mendialogkan dan
mengembangkan kepribadaian individu dalam suatu kelompok tertentu

3. Teori Pencapaian Kelompok


Teori ini memfokuskan pada produktivitas kelompok. Bagaimana suatu
kelompok merupakan kelompok yang produktif, sedangkan kelompok yang
lain tidak. Hal-hal apa yang menyebabkan suatu kelompok bisa bertindak
produktif, sedangkan kelompok yang lain tidak produktif. Pencapaian
kelompok ini dapat dianalisis melalui variabel-variabel tertentu, seperti input
dari para anggota, peran serta, harapan, kualitas interaksi yang berlangsung.
Struktur formal dalam kelompok juga dipertimbangkan sebagai variabel yang
lain yang turut menentukan pencapaian suatu kelompok

4. Teori Pertukaran Sosial


Teori ini menekankan pada perhatian bahwa dalam interaksi kelompok, yang
terjadi bukan hanya bagaimana setiap individu berpartisipasi dalam
membangun kohesivitas kelompok, kerjasama dan harapan. Tetapi di dalam
interaksi tersebut sebenarnya juga terjadi pertukaran antara anggota
kelompok. Inilah yang disebut sebagai pertukaran sosial. Pertukaran sosial ini
pula menjelaskan bahwa tindakan-tindakan sosial dalam kelompok juga
ditentukan oleh kepentingan mereka, yakni apa yang mereka berikan dan apa
yang mereka peroleh.

5. Teori Sosiometrik
Teori ini merupakan konsep-konsep yang menjelaskan individu-individu dalam
suatu kelompok memiliki tingkat kecenderungan berinteraksi yang berbeda-
beda sehingga menimbulkan perbedaan kedekatan, intensitas, frekuensi
dalam berinteraksi. Derajat kecenderungan interaksi yang sebenarnya
mencerminkan ketertarikan ini dapat diukur dengan tes yang disebut sebagai
sosiometri tersebut.

Komunikasi Kelompok dan Pendekatan Penelitian


Banyak para ahli dalam bidang ilmu-ilmu psikologi dan sosiologi telah memberi
perhatian pada komunikasi kelompok. Penelitian-penelitian semacam itu penting,
utamanya memberikan pemahaman terhadap posisi strategis kelompok dan
komunikasi kelompok dalam masyarakat. Berikut ini dipaparkan contoh-contoh
penelitian yang telah dilakukan para ahli yang dijadikan acuan oleh para peneliti-
peneliti sosial yang lain:

1. Penelitian Norma-Norma Kelompok


Penelitian ini pernah dilakukan oleh Muzafer Sherif. Sherif memberi perhatian
bahwa suatu kelompok biasanya memiliki standar dan norma tertentu yang
mengikat para anggotanya untuk berperilaku dalam kelompok. Perhatian
utama Sherif adalah bagaimana suatu kelompok membangun dan
memantabkan norma-norma kelompok tersebut. Sherif membuktikan melalui
penelitian bahwa setiap orang yang datang dalam suatu kelompok membawa
penilaian sendiri-sendiri terhadap sesuatu. Jarak penilaian ini antara satu
orang dengan orang yang lain bisa sangat jauh dan tidak pasti. Tetapi ketika
penilaian itu dihadapkan dengan penilaian orang dalam suatu interaksi
kelompok, maka perbedaan-perbedaan penilaian itu bisa semakin
dikompromikan. Dalam pandangan Sherif seperti itulah norma kelompok
dapat dibentuk dan dimantabkan.

2. Penelitian Kurt Lewin tentang Keputusan Kelompok


Dalam suasana perang dunia ke 2 Kurt Lewin terlibat dalam suatu program
melalui tindakan komunikasi untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan makan.
Karena keadaan tertentu, daging jeroan diharapkan juga dimanfaatkan
sebagai makanan yang memiliki nilai gizi. Dalam program tersebut, Lewin dkk
menjelaskan tentang kandungan gizi dan resep-resep makanan yang dapat
digunakan untuk mengolah daging jeroan itu. Bagi masyarakat AS, mereka
tidak pernah mengkonsumsi daging-daging jeroan itu. Metode yang
digunakan dalam mempengaruhi perilaku kelompok dengan ceramah dan
kondisi keputusan kelompok. Hasilnya hanya ada 3 persen saja yang kemudian
berminat untuk mencobanya seminggu kemudian, sedangkan 32 persen mau
melakukan berada dalam kondisi keputusan kelompok untuk minggu yang
akan datangnya. Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tertentu
bekerja dalam mempengaruhi keputusan kelompok

3. Kelompok dan Sikap Politik


Penelitian ini pernah dilakukan pada era tahun 1940-an sebagai milestone
penelitian yang menguji kembali tentang besarnya pengaruh media massa
terhadap pemilihan calon Presiden di Amerika Serikat pada waktu. Penelitian
dilakukan oleh Paul Lazarfeld dan Bernard Berelson. Temuannya sangat
mengejutkan bahwa ternyata tidak memiliki andil yang besar dalam
menentukan pilihan calon presiden dalam pemilihan umum. Temuan barunya
menunjukkan bahwa ternyata sikap politik atau pilihan politik seseorang tidak
terlalu dipengaruhi oleh media massa tetapi oleh pengaruh personal di dalam
kelompok primernya. Temuan ini kembali menegaskan bahwa bentuk-bentuk
hubungan personal dalam kelompok-kelompok primer justru memberikan
pengaruh besar bagi sikap-sikap politik

DISKUSI 3
Mari kita pertajam kegiatan Belajar tentang Komunikasi dalam Kelompok melalui
diskusi. Diskusi kita ini, bisa melengkapi keterbatasan-keterbatasan pemahaman kita
terhadap bahan yang disajikan. Diskusi dapat Saudara inisiasi dengan pernyataan,
pertanyaan, usulan, atau tanggapan di antara teman-teman mahasiswa atau pun
respon dari Tutor. Pergunakan kesempatan Diskusi ini karena akan memberi
kontribusi bagi pencapain pembelajaran dan pemahaman terhadap topik bahasan
Komunikasi dalam Kelompok

Soal-Soal
1. Aspek-aspek utama yang dapat dicermati dalam definisi Komunikasi
Kelompok:
A. Jumlah yang tetap, bertujuan, ciri pribadi melebur dalam kelompok,
munculnya pemimpin
B. Interaksi tatap muka, Terdiri dari dua orang atau lebih, Memiliki tujuan dan
seeorang tidak perlu kehilangan ciri pribadinya
C. Jumlah kelompok, tujuan, bersifat reversibel, dan konstan
D. Interaksi tatap muka, jumlah kelompok, tujuan dan konstan
2. Teori Pertukaran Sosial memfokuskan pada:
A. Tingkat produktifitas anggota kelompok dalam mendapatkan keuntungan
di dalam kelompok
B. Pola komunikasi yang menentukan tingkat intensitas dan kepentingan dari
masing-masing individu dalam kelompok
C. Tindakan-tindakan sosial dalam kelompok ditentukan oleh kepentingan
mereka, yakni apa yang mereka berikan dan apa yang mereka peroleh
D. Tindakan dalam mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana
3. Bagaimana penelitian yang dilakukan oleh Kurt Lewin dalam proses
pengambilan keputusan kelompok dalam terhadap jeroan
A. Keputusan kelompok berperan besar dalam mendorong dalam
pengambilan keputusan
B. Daging Jeroan tetap tidak dikonsumsi oleh rakyat AS pada saat perang
Dunia II di saat ada keterbatasan kesediaan makanan
C. Perubahan keputusan individu tetap bersifat mandiri tidak dapat
dipengaruh keputusan kelompok
D. Penelitian mengalami kegagalan dalam menentukan pengaruh keputusan
kelompok terhadap individu
4. Ada hubungan jelas antara Kelompok dan Persuasi, tampak dari:
A. Dominasi kelompok terhadap pendirian individu
B. Keberhasilan persuasi dan penerimaan ide-ide baru cenderung lebih
dilakukan dalam kelompok.
C. Persuasi tidak terlalu efektif dalam kelompok yang solid
D. Hubungan antara kelompok dan persuasi sangat dekat
5. Paul Lazarfeld dan Bernard Berelson, pada tahun 1940, melihat kekuatan
media massa dan kekuatan kelompok dalam pengambilan keputusan
A. Media massa tidak memberi andil secara signifikan dalam keputusan
dalam memberikan pilihan dalam pemilihan presiden
B. Media massa memberi kekuatan yang besar dalam menentukan
pengambilan keputusan dalam memilih calon presiden
C. Kekuatan kelompok tidak cukup kuat dalam menentukan pengambilan
keputusan
D. Baik media massa dan kelompok tidak memberi pengaruh pada
pengambilan keputusan dalam menentukan pilihan calon presiden

Jawaban-Jawaban
1. (B). Interaksi tatap muka, terdiri dari dua orang atau lebih, memiliki tujuan dan
seeorang tidak perlu kehilangan ciri pribadinya
2. (C). Tindakan-tindakan sosial dalam kelompok ditentukan oleh kepentingan
mereka, yakni apa yang mereka berikan dan apa yang mereka peroleh
3. (A) Keputusan kelompok berperan besar dalam mendorong dalam
pengambilan keputusan
4. (B). Keberhasilan persuasi dan penerimaan ide-ide baru cenderung lebih
dilakukan dalam kelompok.
5. (A). Media massa tidak memberi andil secara signifikan dalam keputusan
dalam memberikan pilihan dalam pemilihan presiden

TUGAS 1

1. Jelaskanlah hubungan antara keberadaan kelompok dan proses-proses


pengambilan keputusan
2. Jelaskanlah karakteristik komunikasi kelompok
3. Jelaskanlah gaya kepemimpinan dalam kelompok

Jawaban diketik dalam kertas kuarto dengan margin atas 4 cm tepi kanan 3
cm, tepi bawah 3cm dan tepi kiri 4 cm. Jawaban Saudara mencerminkan
pemahaman Saudara bukan merupakan copypaste dari materi inisiasi.
Jawaban untuk setiap pertanyaan minimal 1 halaman.
INISIASI 4

Pengantar
Ada pandangan bahwa manusia adalah “organisational creature”. Ada organisasi
keagamaan, bisnis, pendidikan, politik, militer, sosial, budaya dan organisasi seniman
misalnya. Orang kemudian memikirkan bagaimana tujuan-tujuan organisasi dapat
berjalan dengan baik secara efektif dan efisien. Di dalam organisasi, terdapat
sejumlah jenis sumber daya, seperti sumber daya ekonomi, sumber daya manusia dan
sumber daya budaya. Dalam organisasi, fungsi-fungsi manajerial menjadi sangat
penting. Tetapi fungsi-fungsi manajerial tersebut, kehilangan maknanya ketika
komunikasi tidak diperhitungkan sebagai aset dan kekuatan yang menentukan
keberhasilan roda organisasi. Oleh karena itu ada pandangan bahwa life blood of
organisation is communication.

Materi Inisiasi 4
Teori-Teori Komunikasi Organisasi

Definisi Komunikasi Organisasi


Sebelum mendefinisikan apa Komunikasi Organisasi, ada baiknya kita kembali melihat
batasan dan pengertian komunikasi terlebih dahulu, memberi tinjauan terhadap
organisasi dan baru kemudian menjelaskan tentang komunikasi organisasi. Apa yang
dimaksud dengan komunikasi. Komunikasi diartikan sebagai sama. Orang
berkomunikasi sesungguh mencari kesamaan pengertian dan pemahaman antara
partisipan komunikasi terhadap partisipan komunikasi yang lain. Komunikasi ini dapat
dilihat dari 3 model. Model pertama adalah model komunikasi linear. Model ini
merupakan komunikasi satu arah. Seorang komunikator menyampaikan pesan
kepada komunikan tanpa adanya umpan balik.

Model kedua adalah komunikasi interaksional. Model ini merupakan komunikasi dari
komunkator kepada komunikan tetapi ditunjukkan adanya hubungan timbal balik
sehingga di dalam model ini dikenal adanya umpan balik atau feedback. Model ini
dikenal sebagai komunikasi dua arah. Kadang-kadang disebut pula sebagai cyclical
process. Model yang ketiga adalah model transaksional. Model ini memandang semua
bentuk perilaku adalah komunikasi. Namun demikian komunikasi hanya dapat
dipahami dalam konteks hubungan antara komunikator dan komunikan.
Adapun tentang organisasi, merupakan kumpulan individu, suatu sistem, yang di
dalamnya terdapat hirarki, pembagian kerja dan secara kolektif untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan . Dengan demikian, komunikasi organisasi dapat
diartikan sebagai komunikasi yang terjadi dalam konteks organisasi. Komunikasi
organisasi merupakan bentuk komunikasi jejaring yang sifat hubungannya saling
bergantung satu sama lain.

Di dalam organisasi terdapat dua arus komunikasi yang bisa dicermati, yakni arus
komunikasi vertikal (dari bawahan ke atasan atau sebaliknya) dan komunikasi
horisontal (komunikasi yang terjadi pada jenjang yang sama dalam level manajemen
suatu perusahaan atau organisasi). Masing-masing arus komunikasi organisasi
tersebut penting dan memberi ciri bagi proses-proses komunikasi organisasi secara
keseluruhan. Coba anda cermati fungsi-fungsi yang diperlihatkan dari jenis-jenis arus
komunikasi dalam organisasi tersebut

Empat Fungsi Komunikasi dalam Organisasi


Ada empat fungsi komunikasi dalam organisasi yang dapat dicermati, yakni fungsi
informatif, fungsi regulatif, fungsi persuasif dan fungsi integratif. Dalam fungsi
informatif, kegunaannya adalah megurangi ketidakpastian yang terjadi dalam
organisasi. Komunikasi berfungsi regulatif berarti komunikasi dapat memberi
panduan dan prosedur serta tata cara tertentu di dalam menjalankan pekerjaan-
pekerjaan dalam organisasi. Fungsi persuasif berarti komunikasi digunakan untuk
memotivasi, mempengaruhi dan mendorong setiap anggota organisasi untuk
bertindak sesuai dengan tujuan organisasi. Fungsi integratif bearti komunikasi
digunakan untuk mensinkronkan dan mensinergikan semua potensi dan kekuatan
organisasi bagi upaya pencapaian tujuan organisasi

Memahami Komunikasi dalam Organisasi


Ada dua hal yang dipaparkan dalam bagian ini, yakni gaya komunikasi dalam
organisasi dan kekuasaan dalam organisasi. Kedua hal ini berkaitan, sebab gaya
komunikasi dalam organisasi pada umumnya mencerminkan upaya dalam
menjalankan kekuasaan yang ada di dalam organisasi.

Gaya Komunikasi
Seperti yang telah dijelaskan bahwa gaya komunikasi dalam organisasi berkaitan
dengan upaya menjalankan pengaruh dalam situasi-situasi organisasi yang berbeda
yang dapat ditemukan. Dengan perkataan lain, gaya komunikasi ini merupakan
bentuk kompetensi komunikasi yang berhubungan daya pengaruh bagi organisasi.
Dalam hal ini ada 6 gaya komunikasi dalam organisasi yang akan kita bicarakan secara
ringkas:

a. Controlling style
Karakteristik gaya ini adalah adanya keinginan untuk membatasi,
mengendalikan, mendikte, mengatur dan bahkan memaksa. Gaya komunikasi
ini tidak tertarik pada keinginan untuk membangun relationship secara
personal. Arah komunikasi yang terjadi bersifat satu arah. Fungsi komunikasi
lebih banyak dipakai untuk memerintah, mengatur, membujuk dan bahkan
memaksa

b. The Equalitarian Style


Karakteristik gaya ini adalah adanya kesetaraan dan kesamaan kedudukan.
Membangun hubungan secara personal menjadi perhatian utama dalam gaya
komunikasi ini. Arah komunikasi ini bersifat dua arah. Adanya keterbukaan
dan menghendaki adanya partisipasi bersama dalam berkomunikasi.

c. The Structuring Style


Karakteristik gaya komunikasi ini adalah adanya perencanaan, penyusunan,
prosedur, jadwal, ada indikator kinerja dalam proses-proses komunikasi dalam
organisasi. Semua pesan komunikasi dilakukan secara terstruktur secara
sistematis dalam proses-proses kehidupan organisasi. Gaya ini memberi
pengaruh bagi efektifitas organisasi. Sebab semua dilakukan secara sistematis
dan terstruktur

d. The Dynamic Style


Gaya ini berorientasi pada hasil. Oleh karena itu, gaya komunikasi ini
merangsang para anggotanya untuk bekerja lebih giat, lebih cepat dan lebih
baik. Sosok komunikator merupakan sosok yang progresif.

e. The Relinguishing Style


Gaya komunikasi ini memiliki karakteristik untuk lebih mendengar dan
menerima saran, pendapat dan pandangan dari orang lain. Gaya ini efektif
ketika seseorang menjadi bagian dari suatu tim dalam menjalankan suatu
pekerjaan dan tugas organisasi
f. The Withdrawal Style
Gaya komunikasi ini menghindari atau keinginan menarik diri dari keterlibatan
dalam suatu pekerjaan. Akibat dari gaya komunikasi semacam ini adalah akan
melemahnya pengaruh dan kontrol terhadap orang lain.

Kekuasaan dalam Organisasi


Seperti halnya dengan gaya komunikasi, sumber sumber kekuasaan yang dapat
digunakan untuk mengendalikan dan memperoleh kepatuhan dari anggota organisasi
juga bermacam-macam. Pemanfaatan terhadap sumber-sumber kekuasaan ini juga
ditentukan oleh sejumlah situasi agar berjalan efektif.

1. Reward Power
Jenis sumber kekuasaan ini ditunjukkan dari kemampuan seseorang dalam
memberi ganjaran atau memberi imbalan. Kepatuhan anggota organisasi
seringkali ditentukan oleh seberapa besar imbalan yang diterimanya. Seorang
pemimpin juga mengetahui bahwa imbalan mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan seperti yang dikehendaki

2. Coercive Power
Merupakan tipe kekuasaan yang bersifat paksaan. Kemampuan melakukan
paksaan terhadap bawahan dapat mencakup pemberi sanksi, pemotongan
gaji, teguran keras dan ancaman pemecatan. Kekuasaan ini menegaskan
bahwa atasan dapat melakukan hal-hal tegas yang memaksa bawahan untuk
menaati perintah dan ketentuan yang ada. Tetapi hubungan yang semata-
mata didasarkan pada kekuasaan paksaan ini dapat menimbulkan perlawanan
dan dendam secara pribadi

3. Referent Power
Tipe kekuasaan ini merupakan jenis kekuasaan di mana seorang pemimpin
telah memiliki preferensi tertentu terhadap orang-orang yang disukai atau
yang tidak disukai. Seorang pemimpin lebih menyukai terhadap bawahannya
yang memiliki kualifikasi tertentu dibandingkan dengan mereka yang tidak
kompeten

4. Expert Power
Keahlian, ketrampilan dan penguasaan pengetahuan tertentu memiliki
kekuasaan terhadap orang lain. Kepatuhan seseorang terhadap atasan salah
satunya didasarkan pada pengertian bahwa atasa memiliki keahlian,
kecakapan dan ketrampilan yang tidak dimilikinya dalam menjalankan
pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi

5. Legitimate Power
Jenis kekuasaan ini didasarkan pada pertimbangan yuridis formal. Kepatuhan
bawahan terhadap atasan karena atas memiliki dasar hukum atas
kekuasaannya secara sah. Hak untuk berkuasa atas orang-orang diterima dan
disepakati. Inilah yang disebut sebagai legitimate power

Kompetensi Komunikasi Organisasi


Dalam komunikasi antar manusia, efek terhadap orang lain , mempunyai dua
kemungkinan, yakni efek yang dikehendaki dan efek yang tidak dikehendak. Jadi,
dalam proses komunikasi efektifitas komunikasi tidak selalu terjadi. Hanya
komunikasi yang memberi efek yang dikehendaki saja yang merupakan komunikasi
yang efektif. Oleh karena itu, berikut ini cara-cara memperbaiki kompetensi
komunikasi secara umum dan khususnya dalam komunikasi organisasi:

1. Menetapkan tujuan komunikasi. Di dalam menetapkan tujuan ini ada dua hal
yang perlu dipertimbangkan, yakni memastikan tujuan tersebut terwujud dan
kedua mempertimbangkan apakah tujuan yang hendak diwujudkan itu
sesuatu yang realistis, sesuatu yang mungkin diwujudkan

2. Memahami karakteristik audience yang menjadi sasaran pesan komunikasi.


Identifikasi terhadap audience memudahkan seseorang untuk mendapatkan
pengaruh efektif atas pesan yang disampaikan

3. Pemanfaatan saluran dan atau media komunikasi yang tepat. Setiap saluran
dan media komunikasi memiliki kelebihan sebagai cara dalam penyampaian
pesan. Pemanfaatan media secara efektif harus dilakukan sebagai sistem
penyampaian pesan yang efektif (message deliery system). Secara garis besar
saluran komunikasi ini dapat dilakukan secara tertulis atau secara lisan.

Pendekatan-Pendekatan dalam Komunikasi Organisasi


Pada bagian inisiasi ini, akan dipaparkan tentang pendekatan-pendekatan komunikasi
organisasi. Ada dua hal yang dipaparkan di sini, yakni pendekatan Struktur dan Fungsi
Organisasi dan Pendekatan Human Relations.
1. Pendekatan Struktur dan Fungsi Organisasi
Pendekatan Struktur dan Fungsi Organisasi yang paling fenomena adalah
pemikiran yang disumbangkan oleh Max Weber tentang konsep Birokrasi
dalam Organisasi. Weber melihat efektifitas organisasi harus dijalankan
melalui prinsip-prinsip birokrasi. Konsep birokrasi berhubungan dengan
konsep kekuasaan, wewenang dan legitimasi. Kekuasaan adalah kemampuan
seseorang dalam setiap hubungan sosial dalam mempengaruhi orang lain.
Kewenangan mencakup kewenangan tradisional, kewenangan legal formal
dan kewenangan karismatik. Dalam pandangan Weber, ada 6 prinsip yang
terkandung dalam organisasi birokratik:

a. Birokrasi didasarkan pada aturan-aturan dalam menyelesaikan


persoalan organisasi
b. Ada pembagian kerja secara sistematis berdasarkan hak dan
kewajiban
c. Adanya jenjang dan hirarki
d. Pemimpin diangkat berdasarkan kemampuan dan kapabilitas
e. Memiliki kebebasan dalam mengalokasikan sumber daya dalam
lingkup pengaruhnya
f. Mempersyaratkan pengelolaan informasi dan dokumen secara
tertib

2. Pendekatan Hubungan Manusia


Pendekatan hubungan manusiawi merupakan respon dari pendekatan
struktur fungsional organisasi yang menekankan pada aspek teknis dan
produktivitas, sehingga perhatian pada hubungan manusiawi terabaikan.
Akibatnya muncul kompetensi teknis tinggi, menjadikan kompetensi
hubungan manusiawi terkurangi. Premis-premis pokok dalam pendekatan
Hubungan Manusiawi ini antara lain:
a. Produktivitas ditentukan oleh hubungan antar individu dalam organisasi
b. Penghargaan manusiawi yang bersifat non ekonomis sangat penting dalam
memotivasi para karyawan
c. Reaksi terhadap persoalan lebih merupakan sikap kelompok daripada
sikap individu
d. Kepemimpinan sebagai faktor penting baik formal atau pun informal
e. Komunikasi sebagai faktor penting dalam organisasi
3. Pendekatan Proses
Dalam pendekatan ini, komunikasi dipandang sebagai proses
pengorganisasian itu sendiri. Dalam teori pengorganisasian, organisasi tidak
dipandang sebagai struktur, melainkan sebagai aktivitas. Aktivitas yang
dilakukan secara terus menerus itulah yang menjadikan organisasi dapat
mencapai tujuannya. Selain teori pengorganisasian yang melihat organisasi
sebagai proses kegiatan, pendekatan lain tentang organisasi yang juga melihat
organisasi sebagai proses –interplay antara individu dan struktur adalah teori
Strukturasi Organisasi. Dalam pandangan ini aktivitas organisasi dapat dilihat
dari tiga lokasi. Pertama, lokasi di mana konsep-konsep dirumuskan. Lokasi ini
merupakan lokasi di mana segala kebijakan dan keputusan dilahirkan. Kedua,
tempat implementasi. Implementasi sebenarnya merupakan kodifikasi formal
dan pemberitahuan terhadap kebijakan dan keputusan yang telah diambil
tersebut. Ketiga, tempat penerimaan di mana hasil keputusan, implementasi
kemudian dilaksanakan dan diterima oleh seluruh anggota organisasi

4. Pendekatan Kultur
Melihat oganisasi sebagai cara hidup dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam
budaya organisasi, terdapat kebiasaan-kebiasaan, kebanggaan, identitas dan
budaya organisasi. Cara-cara kehidupan dalam organisasi ini dapat dilihat dari
ritual, seremoni, norma sosial, identitas organisasi, dan penampilan organisasi
secara keseluruhan.

Teori Integratif dalam Komunikasi Organisasi


Bahasan dalam materi Teori Integratif dalam Komunikasi Organisasi, memberi
perhatian pada pendekatan sistem. Sekilas, pendekatan ini memiliki kemiripan
dengan Pendekatan Struktur Fungsional, tetapi dalam kenyataannya, pendekatan
sistem memberi pemahaman yang lebih kompleks, substantif dan lebih reliabel
dibandingkan dengan pendekatan struktur fungsional yang telah dipaparkan.
Pendekatan teori sistem mendasarkan pada fungsi informasi yang diartikan sebagai
derajat ketidakpastian. Informasi dipandang sebagai prediktor di dalam
mengendalikan fungsi dan bekerjanya suatu sistem. Analisis sistem ini mencakup
jenjang-jenjang analisis. Pertama, level hubungan antar pelaku dalam organisasi,
seperti level dyadik, level kelompok, level organisasional. Analisis kedua mencakup
pada aspek tindakan, yang mencakup produksi, inovasi dan pemeliharaan. Analisis
ketiga terhadap struktur organisasi. Dari analisis tersebut, pendekatan sistem mampu
mendeteksi situasi yang underload dan mana yang overload. Sistem informasi dapat
memastikan kondisi-kondisi yang bekerja dalam suatu sistem.

Hubungan yang terjadi dalam level pelaku dalam organisasi pada gilirannya
membentuk suatu jaringan yang menentukan pola Who talks to Whom. Pola-pola
jaringan komunikasi ini dapat dipakai untuk menentukan peran-peran sentral individu
dan peran penghubung terhadap individu atau kelompok lain dalam organisasi.

DISKUSI 4
Hal-hal yang belum jelas, baik dari hasil pemahaman Saudara dari membaca Modul
atau pun Inisiasi 4, dapat Saudara diskusikan di sini. Diskusi akan memberi penjelasan
tambahan terhadap hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami. Diskusi dapat Saudara
nyatakan dalam pernyataan, pertanyaan, respon, atau penegasan dari pemahaman
Saudara agar dibahas bersama.

Soal-Soal
1. Empat fungsi komunikasi dalam organisasi:
A. Informatif, Persuasif, Regulatif dan Integratif
B. Managerial, Kontrol, Kordinatif dan Informatif
C. Integratif, konsolidatif, persuasif, dan imaginatif
D. Persuasif, Regulatif, Kordinatif, dan integratif
2. Salah satu prinsip dari 6 prinsip dalam pemikiran birokrasi dari Max Weber,
yakni:
A. Ada jenjang dan hirarki
B. Satu komando
C. Mengutamakan human relations
D. Prosedur yang berbelit-belit
3. Salah satu premis dalam pendekatan Komunikasi Organisasi hubungan
manusiawi
A. Pemenuhan kebutuhan dasar dalam organisasi ditentukan kinerja
B. Organisasi sebagai cara hidup
C. Produktivitas ditentukan oleh hubungan antar individu dalam organisasi
D. Adanya relasi kuasa
4. Legitimate power diartikan sebagai
A. Kepatuhan bawahan terhadap atasan karena atas memiliki dasar hukum
atas kekuasaannya secara sah.
B. Kepatuhan bawahan terhadap atasan karena kompetensi dan keahlian
C. Kepatuhan bawahan terhadap atasan karena sifat-sifat dan karakter yang
dimiliki
D. Kepatuhan bawahan terhadap atasan karena imbalan
5. Gaya kepemimpinan Structuring Style mengacu pada:
A. Adanya perencanaan, penyusunan, prosedur, jadwal, ada indikator kinerja
dalam proses-proses komunikasi dalam organisasi.
B. Mendelegasikan kewenangan kepada struktur di bawahnya
C. Ikut serta dalam penyusunan tim kerja
D. Berorientasi pada hasil pekerjaan dari pada kehadiran

Jawaban-Jawaban
1. (A) Cukup Jelas
2. (A) Cukup jelas
3. (C) Produktivitas ditentukan oleh hubungan antar individu dalam organisasi
4. (A) Kepatuhan bawahan terhadap atasan karena atas memiliki dasar hukum
atas kekuasaannya secara sah
5. (A) Adanya perencanaan, penyusunan, prosedur, jadwal, ada indikator kinerja
dalam proses-proses komunikasi dalam organisasi.
INISIASI 5

Pengantar
Inisiasi 5 kali ini, kita akan bahas tentang Teori Komunikasi Massa, yang memberi
perhatian pada Media, Efek dan Khalayak/Audience. Televisi, Surat Kabar, Majalah,
dan Radio adalah contoh-contoh media massa yang telah memberi sumbangan
penting bagi masyarakat.

Kemampuannya dalam mengarahkan perhatian publik, membangun kesadaran,


menciptakan opini publik, mendidik, memberikan hiburan adalah contoh-contoh yang
memperlihatkan kajian tentang Komunikasi Massa sebagai sesuatu yang sangat
penting. Mari kita dalami bagian per bagian yang menjadi pokok-pokok pemikiran
yang ada di dalam Teori Komunikasi Massa

Materi Inisiasi 5
Teori Komunikasi Massa: Media, Efek dan Khalayak

Teori-Teori Dasar Komunikasi Massa


Penelitian-penelitian awal komunikasi massa, pada umumnya menguji tentang
efektifitas pesan melalui media massa. Penelitian propaganda, persuasi dalam
periklanan, pengaruh media massa terhadap keputusan politik dalam pemilihan
umum.

Dukungan penelitian ini kemudian berkembang dengan melibatkan pendekatan


sosiologis dan psikologis. Berikut ini akan disajikan paparan terhadap konsep-konsep
dan teori-teori dasar yang memberi andil bagi perkembangan kajian komunikasi
massa secara umum.

1. Formula Harold D Laswell


Sumbangan penting yang diberikan Laswell adalah rumusan tentang
komunikasi yang kemudian diadopsi menjadi dasar pijakan bagi proses-proses
komunikasi massa. Sumbangan tersebut berupa rumusan: Who says what in
which channel to whom with what effect. Meskipun rumusan ini
menyederhanakan fenomena komunikasi massa yang kompleks, rumusan ini
telah memberi andil dalam memotret unsur-unsur penting dalam komunikasi.
Analisis-analisis tentang komunikasi massa dapat dirujukkan pada unsur-unsur
yang diusulkan Laswell tersebut.

2. Pendekatan Transmisi
Pendekatan Transmisi memperlihatkan bagaimana proses penyampaian
pesan itu dapat diamati. Seperti istilahnya, tramisi merupakan istilah teknis
yang menjelaskan adanya aliran pesan yang bergerak dari suatu tempat ke
tempat yang lain. Istilah-istilah lain yang menyertai dalam pendekatan ini
adalah transmitter, noisy, receiver, encode, decode, encripsy dan lainnya. Dari
istilah tersebut, terasa adanya nuansa teknis. Karena memang pada
kenyataannya, pendekatan transmisi ini lahir dari bidang teknik enginering
yang dikemukakan oleh Claude E Shannon. Pemikiran ini kemudian diadopsi
untuk menjelaskan proses-proses penyampaian pesan dalam komunikasi
massa. Proses-proses transmisi yang terjadi dalam media televisi atau pun
radio misalnya dapat dijelaskan melalui pendekatan transmisi.

3. Pendekatan Psikologi Sosial


Pendekatan teori ini menjelaskan bahwa informasi mengenai sesuatu
peristiwa dari atau didapat oleh anggota masyarakat dengan mengacu pada
pengalaman pribadi, sumber dari kalangan elit, media massa atau kombinasi
ketiganya. Hal penting dari pendekatan ini adalah ada situasi dinamis yang
dihasilkan dari hubungan antara publik, kekuatan elit politik, sikap-sikap publik
terhadap media, dan hubungan elit dan media. Pengaruh media massa dapat
dipahami secara lebih sosiologis dan secara psikologis. Pendekatan terhadap
media massa dapat dianalisis melalui hubungan-hubungan tersebut. Adanya
kelompok primer, kelompok rujukan, dan kelompok penekan –dalam relasiya
dengan praktek-praktek media menimbulkan pemahaman baru terhadap
keberadaan media massa dan komunikasi massa.

Pengaruh Komunikasi Massa terhadap Individu


Kajian ini umumnya berkaitan dengan keyakinan dan adanya temuan bahwa media
adalah powerful. Media memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi individu, kelompok,
organisasi atau pun masyarakat. Misalnya adanya pandangan bahwa media memberi
pengaruh langsung kepada audience. Ada pula pandangan yang menjelaskan bahwa
apa yang dianggap penting oleh media, maka publik pun menganggapnya juga
penting.
Apa yang diangkat oleh media, pada umumnya menjadi bahan pembicaraan dalam
masyarakat. Masyarakat berperilaku mengikuti nilai-nilai yang ditawarkan oleh
media. Walter Lippman pernah menjelaskan efek dan kekuatan media kepada
individu dengan suatu ungkapan “picture in our head”. Gambaran realitas di dalam
benak kita dibentuk dan ditentukan oleh media massa.

a. Stimulus-Respons
Ketika kita menerima stimulus, biasanya kita akan bereaksi terhadap stimulus
tersebut. Hubungan antara stimulus respons ini dipakai untuk menjelaskan
jenis-jenis stimulus tertentu akan menimbulkan respon tertentu. Ada
kecenderungan respon tersebut sudah dapat diperkirakan berdasarkan
pengetahuan jenis stimulus yang diberikan. Teori ini menjadi dasar bagi teori
komunikasi Massa Jarum Suntik. Ada pula yang menyebutnya sebagai Bullet
theory. Ibarat peluru langsung menghunjam ke sasaran. Hubungan antara
media dan audience diibaratkan antara jarum dan pasien atau antara peluru
dengan sasaran. Pasien hanya menerima apa yang disuntikkan. Reaksi yang
muncul dari stimulus tersebut tergantung pada jenis stimulus yang disuntikkan
tadi. Pemikiran ini menempatkan audience sebagai individu yang pasif.
Pendekatan ini juga mengisolasi faktor-faktor lain yang dipandang turut
mempengaruhi kuat dan lemah pengaruh media terhadap individu.

b. Two Step Flows


Bermula dari penelitian Paul Lazarfeld tentang pengaruh media massa dalam
pemilihan umum, konsep Two Step Flows ini muncul. Konsep ini menjelaskan
bahwa tahap pertama, pesan komunikasi itu mengenai semua audience.
Tetapi diantara audience itu terdapat individu-individu yang memiliki
kapasitas dan kredibilitas tertentu dan lebih besar dari pada umumnya
audience. Orang ini yang kemudian memberi pengaruh tambahan terhadap
pesan yang telah disampaikan media massa kepada audience. Peran ini
kemudian dikenal sebagai opinion leader. Konsep Two Step Flows
menjelaskan bahwa ada dua tahap pengaruh media massa. Pertama,
pengaruh menyeluruh terhadap semua audience. Baru pada tahap kedua,
terdapat orang-orang tertentu yang dapat mempengaruhi lebih lanjut efek
media itu. Apakah orang ini memperlemah efek dari media massa atau
memperkuat efek dari media massa tersebut.
c. Difusi Inovasi
Salah satu pendekatan teoritik dalam komunikasi massa, yang lain adalah
ketika media massa digunakan untuk pembangunan. Media massa digunakan
untuk kepentingan sosialisasi, mendorong perubahan perilaku, dan
mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam kegiatan pembangunan.
Sebagaimana diketahui, kebiasaan-kebiasaan lama, karena telah berurat
berakar, menerima sesuatu yang baru tidak mudah. Ada banyak faktor yang
perlu dipertimbangkan agar suatu inovasi dapat segera diterima masyarakat.
Tahap-tahap komunikasi dalam pemikiran Difusi Inovasi ini, perlu
mempertimbangkan beberara faktor:

a. Pengetahuan-merupakan kesadaran individu terhadap adanya inovasi,


kegunaan dan manfaatnya ketika inovasi ini diterima
b. Persuasi-dilakukan untuk membujuk dan mempengaruhi. Cara-cara
komparatif terhadap kegunaan fungsional terhadap cara-cara lama
dibandingkan dengan cara-cara yang baru. Hal ini akan membentuk sikap
audience-kecenderungan menerima atau menolaknya
c. Keputusan-merupakan tindakan adopsi, yakni menggunakan hal yang baru
dan meninggalkan yang lama. Adopsi merupakan bentuk keputusan yang
menunjukkan peralihan dari hal-hal yang lama dengan menerima dan
menggunakan hal-hal baru
d. Konfirmasi-merupakan bentuk penguatan terhadap keputusan terhadap
pemanfaatan hal-hal yang baru. Penguatan dapat berasal hasil dan
perbandingan ril dari pemanfaatan hal yang baru tersebut, termasuk
penguatan dari pihak lain terhadap keputusannya dalam mengadopsi yang
baru

Pengaruh Komunikasi Massa terhadap Masyarakat dan Budaya


Efek komunikasi tidak hanya terjadi pada level individu, jangka pendek dan
mudah sirna. Pada bagian ini, dipaparkan sejumlah pendekatan teori yang
menunjukkan bahwa efek komunikasi massa berlangsung lama, seringkali tidak
disadari, dan berdampak pada nilai-nilai dan norma-norma sosial serta budaya secara
keseluruhan.
Efek pesan ini bukan merupakan efek pesan yang terbatas dan tertentu,
melainkan efek ini karena pesan yang disampaikan sebagai suatu sistem pesan yang
menyeluruh. Oleh karena itu, pengaruh komunikasi massa ini tertuju pada masyarakat
dan budaya.
1. Agenda Setting
Pendekatan ini menjelaskan adanya hubungan antara agenda media dan
agenda publik. Apa yang dimaksud dengan agenda media? Agenda media
adalah cara media dalam menyusun isu atau pemberitaan yang mana yang
dianggap penting. Media memiliki cara-cara tertentu dalam menstruktur isu-
isu yang ada di dalam masyarakat untuk diangkat sebagai agenda
pemberitaannya. Apa yang dianggap penting oleh media dalam cara mereka
menyusun isu-isu berdasarkan nilai berita misalnya, maka apa yang dilakukan
ini berkaitan dengan cara-cara publik dalam menjadi agenda pembicaraan
mereka sehari-hari. Dengan perkataan lain, media berhasil membawa
audience untuk mengikuti apa yang menjadi agenda media. Dengan perkataan
lain, apa yang dianggap penting oleh media, maka khalayak pun menilainya
penting. Ketika media membicarakan suatu kasus tertentu, maka publik turut
membicarakan seperti apa yang dibicarakan media.

2. Teori Dependensi
Teori ini menjelaskan hubungan antara individu, struktur sosial dan media.
Hubungan ketiga unsur ini saling bergantung satu sama lain. Proses
pemeliharaan, perubahan dan konflik dalam masyarakat di mana individu ada
di dalam proses-proses tersebut, posisi media massa sangat penting. Media
massa menjadi sumber informasi penting bagi individu untuk melihat apa yang
terjadi di dalam masyarakat. Demikian pula hubungan antara individu dan
masyarakat. Individu menjadi bagian dari masyarakat. Masyarakat
mempengaruhi individu, di sisi lain individu mempengaruhi sistem yang
berjalan di dalam masyarakat. Hubungan antara masyarakat dan media
menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi.

3. Spiral of Silence
Teori ini menjelaskan hubungan antara efek komunikasi massa dengan opini
pribadi, dan opini kelompok. Efek komunikasi massa terhadap individu dan
pembentukan opini dirasakan sangat nyata. Tetapi pendapat pribadi tidak
semata-mata ditentukan oleh efek media. Pendapat pribadi sering kali
ditentukan oleh hubungan dengan orang-orang lain dalam suatu kelompok.
Ada kecenderungan seseorang tidak ingin terisolasi terhadap pandangan
dominan yang lain. Orang memiliki kecenderungan untuk mengamati apakah
pendapat pribadinya merupakan pendapat yang selaras dengan pendapat-
pendapat yang lain. Pendapat pribadinya bukan merupakan pendapat
minoritas. Jika ia merasa minoritas, ia akan diam. Demikian pula orang-orang
yang lain akan melakukan hal yang sama. Inilah yang disebut sebagai spiral of
silence. Sikap diam itu akan menular kepada orang lain, ketika ia mengetahui
bahwa pendapatnya bukan merupakan pendapat dominan dalam suatu
kelompok tertentu.

4. Information Gaps
Teori ini menjelaskan bahwa meningkatnya informasi yang disalurkan oleh
media massa memberi efek bagi meningkatnya pula informasi yang diterima
masyarakat. Namun dalam sejumlah penelitian, ditemukan juga fakta bahwa
meningkatnya informasi kepada masyarakat diikuti juga adanya kesenjangan
informasi. Ada kelompok-kelompok tertentu yang menguasai dan meningkat
informasi dan pengetahuan yang diperoleh, lebih besar dari kelompok sosial
yang lain. Kesenjangan ini menjadikan kelompok satu yang dominan
menguasai kelompok lain yang tidak dominan. Perbedaan ini juga
menghasilkan perbedaan dalam sikap dan perilaku. Media massa dapat
menimbulkan perbedaan atau kesenjangan informasi disebabkan adanya
sebaran dan akses terhadap media berbeda. Selain itu, karakteristik individu,
posisi sosial dan struktur sosial juga dapat menimbulkan terjadinya
kesenjangan informasi. Jarak atau lebar kesenjangan informasi itu sendiri
dapat tetap menganga atau menyempit. Melebarnya kesenjangan atau pun
menyempitnya kesenjangan itu, ditentukan oleh sejumlah faktor. Cobalah
cermati di dalam modul, hal-hal apa saja yang menjadikan kesenjangan ini
tetap seperti itu, atau kemudian menutup.

Pengaruh Audience dalam Komunikasi Massa


Untuk diketahui bahwa pengaruh media khususnya media dalam proses komunikasi
massa pada umumnya menempatkan media memiliki efek yang powerful. Audience
dipandang pasif dan menerima begitu saja terhadap efek dari media tersebut. Agenda
Setting Theory, Cultivation Theory, dan Bullet Theory merupakan teori-teori dalam
komunikasi massa yang memfokuskan bahwa efek media sangat kuat. Karena itu,
sudut pandang yang dibangunnya berangkat dari: What do media do to people.

Kali ini, kita akan melihat pemikiran lain dalam teori-teori komunikasi massa.
Pandangan ini tidak bertumpu pada what do media do to people, melainkan what do
people do to media. Pandangan ini memberi perhatian bahwa audience memiliki cara-
cara tertentu dan tersendiri dalam menentukan dan mengkonsumsi isi media. Ada
harapan, faktor-faktor psikologis dan sosiologis yang menentukan dan menggerakan
seseorang dalam menggunakan media dalam memenuhi kebutuhan informasi.

a. Uses and Gratification


Teori Uses and Gratification dibangun berdasarkan premis yang dinyatakan
oleh Elihu Katz (1974). Ia menyatakan bahwa kondisi sosiologis dan psikologis
seseorang akan menyebabkan adanya kebutuhan yang menciptakan harapan-
harapan terhadap penggunaan media massa dan sumber-sumber media yang
lain yang membawa kepada perbedaan pola penggunaan media atau
keterlibatan aktivitas lainnya sehingga menghasilkan pemenuhan kebutuhan
atau konsekuensi lainnya. Teori ini menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan
sosiologis dan psikologis seseorang membawa akibat pada cara-cara
seseorang dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Harapan-harapan
tertentu yang dicari, membawa pada perbedaan kepuasan yang ingin
dipenuhi. Teori Uses and Gratification menunjukkan bahwa ada banyak
variabel yang dapat dipotret yang memperlihatkan alur hubungan antara
faktor-faktor sosiologis, faktor-faktor psikologis, harapan-harapan terhadap
tingkat kepuasan audience dalam menggunakan media. Hubungan antara
Gratification Sought dan Gratification Obtained menjadi hal penting yang
dicermati dan dibahas dalam teori ini

b. Teori Uses and Effects


Teori ini merupakan jalan tengah antara pemikiran media effect yang
powerful, dengan teori yang menegaskan bahwa individu memiliki
kemandirian dalam menentukan penggunaan media. Dalam teori Uses and
Gratifitcation ditegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dan harapan
menentukan penggunaan media. Hubungan yang biasa diperlihatkan adalah
antara penggunaan dan pemuasaan kebutuhan. Sedangkan teori efek media
yang powerful menegaskan bahwa media memberi efek-efek yang tegas dan
jelas terhadap individu bahkan sampai pada pengaruh terhadap perilaku.
Teori Uses and Effect ini berusaha mempertemuakan dua pemikiran tersebut.
Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa hubungan antara individu dan media
bagaimana pun memberi pengaruh atau efek kepada individu. Baik karena
penggunaan itu disebabkan adanya harapan atau kebutuhan tertentu atau
tidak, media memberi pengaruh kepada audience. Berdasarkan pemikiran
tersebut, teori Uses and Effect ini mengatakan bahwa penggunaan, harapan-
harapan, faktor-faktor motivasi lain, justru dapat dipakai untuk menjelaskan
bahwa efek media yang terjadi. Misalnya apakah faktor motivasi ini
memperkuat efek atau memperlemah efek media. Dengan demikian, faktor
motivasi, harapan-harapan dan kecenderungan yang didorong oleh faktor
sosiologis dan psikologis sebagai variabel antara yang digunakan untuk
menjelaskan efek media terhadap individu.

c. Information Seeking
Keberadaan media massa sangat banyak. Media televisi misalnya ada Trans
TV, Net TV, TV One, Metro TV, Kompas TV, Jak TV dan seterusnya. Untuk media
Cetak (surat kabar) ada Kompas, Media Indonesia, the Jakarta Post,
Kedaulatan Rakyat dan seterusnya. Banyaknya media, dengan sendirinya
menyediakan banyak informasi. Bahkan ketersediaan informasi ini sangat
berlimpah. Teori Information Seeking ini menjelaskan bagaimana cara-cara
individu dalam mencari dan menemukan informasi yang diperlukan.
Pendekatan teori ini kental diwarnai pemikiran psikologis utamanya psikologi
sosial. Pencarian informasi dikaitkan dengan cara-cara seseorang dalam
mencari, memroses dan menghindari informasi. Tidak semua informasi cocok
dengan karakteristik inidvidu. Hanya informasi yang relevan saja yang cocok
dengan individu. Sementara informasi-informasi yang tidak relevan dihindari.
Tetapi bagaimana dengan situasi yang dihadapi seseorang ketika ia
mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan dirinya. Proses-proses
semacam ini yang menjadi bagian penting dalam pendekatan teori ini.
Adakalanya memroses informasi secara serius, di waktu lain, ia tidak
menghiraukannya.

DISKUSI 5
Manfaatkanlah bahan-bahan yang sudah dipaparkan dalam Inisiasi 5 tentang Teori-
Teori Komunikas Massa sebagai bahan Diskusi. Mari kita diskusikan bersama.
Tanyakan hal-hal yang kurang jelas. Nyatakanlah pemahaman Saudara agar dievaluasi
dengan pemahaman yang lain. Dengan diskusi, kita bisa mematangkan pemahaman
kita. Dengan Diskusi, kita juga bisa mengoreksi pemahaman kita apakah sudah akurat
dan tepat. Saudara dapat memulai diskusi dengan membuat pernyataan atau
pertanyaan. Diskusi ini akan membantu memperdalam pemahaman yang saudara
sudah miliki menjadi lebih baik lagi.
Soal-Soal
1. Teori Two Step Flow mengacu pada pengertian:
A. Kekuatan komunikasi massa langsung tertuju pada khalayak
B. Dua langkah kerja komunikasi dari komunikasi interpersonal ke
komunikasi massa
C. Efek komunikasi massa dikuatkan oleh keberadaan sosok opinion leader
D. Apa yang dianggap penting media dianggap penting oleh khalayak
2. Who do people do to media merupakan pijakan dari teori komunikasi massa,
yakni:
A. Agenda Setting
B. Uses and Gratification
C. Spiral of Silence
D. Bullet theory
3. Formula Harold D Lasswell
A. Sender-Message-Receiver
B. Who says what in which channel to whom with what effect
C. Source-Encode-Noisy-Decode, Destination
D. Message Centered-Audience Center
4. Prinsip Agenda Setting Theory
A. Media sangat kuat dan memberi pengaruh langsung kepada khalayak
B. Khalayak memiliki pilihan dalam menentukan media yang dipakai
C. Apa yang dianggap penting oleh media berhubungan dengan apa yang
dibicarakan dan dipikirkan oleh khalayak
D. Pengaruh efek media dalam jangka panjang
5. Kegunaan konfirmasi dalam teori Difusi Informasi adalah:
A. Merupakan bentuk penguatan terhadap keputusan terhadap
pemanfaatan hal-hal yang baru
B. Adanya kejelasan terhadap inovasi yang disosialisasikan
C. Respon dari petugas terhadap inovasi
D. Kepastian diterima atau ditolaknya inovasi yang ditawarkan

Jawaban-Jawaban
1. (C) Efek komunikasi massa lebih dikuatkan oleh opinion leader
2. (B) Cukup Jelas
3. (B) Cukup Jelas
4. (C ) Cukup Jelas
5. (A) Merupakan bentuk penguatan terhadap keputusan terhadap pemanfaatan
hal-hal yang baru

TUGAS 2

1. Jelaskan pokok-pokok pemikiran yang ada di dalam teori Spiral of Silence


2. Jelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar proses Difusi Inovasi berhasil
dilakukan
3. Jelaskan pokok-pokok pemikiran dalam teori Agenda Setting

Jawaban diketik dalam kertas kuarto dengan margin tepi atas 4 cm tepi kanan
3 cm, tepi bawah 3cm dan tepi kiri 4 cm. Jawaban Saudara mencerminkan
pemahaman Saudara bukan merupakan copypaste dari materi inisiasi.
Jawaban untuk setiap pertanyaan minimal 1 halaman.
INISIASI 6

Pengantar
Komunikasi Verbal dan Non Verbal merupakan kajian penting yang tidak dapat
diabaikan dalam Teori-Teori Komunikasi. Setelah mendalami Teori Komunikasi
Intepersonal, Komunikasi Kelompok, Komunikasi Organisasi, dan Komunikasi Massa,
maka Teori Komunikasi yang membicarakan bentuk Verbal dan Non Verbal tiba
gilirannya dalam materi yang akan kita bicarakan dalam Inisiasi 6. Pemahaman
terhadap apa yang dimaksud dengan Komunikasi Verbal dan NonVerbal menjadi
prasyarat untuk memahami lebih jauh tentang keduanya misalnya perbedaan-
perbedaannya, pendekatan-pendekatan yang ada serta teori-teori yang ada di
dalamnya.

Materi Inisiasi 6
Teori Komunikasi Verbal dan Non Verbal

Ciri-Ciri Utama
Ada beberapa hal yang bisa kita cermati antara bentuk komunikasi verbal dan
nonverbal. Pertama, bentuk komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi
yang lebih dulu ada dibandingkan dengan bentuk verbal. Artinya sistem lambang
bahasa (tertulis) berkembang kemudian setelah bentuk nonverbal.Kedua, bahasa
verbal dipandang kurang bersifat universal dibandingkan dengan komunikasi
nonverbal. Ini dapat dibuktikan ketika kita bepergian keluar negeri, dalam suatu
keadaan, yang satu sama lain tidak mengerti komunikasi verbal, kita cenderung
mengatasinya dengan menggunakan bentuk komunikasi nonverbal. Ketiga,
komunikasi verbal (tertulis) dipandang merupakan kegiatan komunikasi yang lebih
intelektual, maju dan beradab dibandingkan dengan kegiatan komunikasi nonverbal.
Penggunaan bahasa verbal, konseptualisasi dan abstraksi suatu gagasan atau
representasi dari suatu realitas yang kompleks dapat dilakukan dengan mudah
melalui penggunaan bentuk komunikasi yang verbal.

Relevansi dan Definisi


Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Non Verbal? Nah kenapa kita hanya tanyakan
batasan dari Komunikasi Non Verbal. Coba perhatikan definisi-definisi komunikasi
yang Saudara ketahui. Bukankah begitu banyak definisi komunikasi yang telah
disajikan dan diberikan. Misalnya Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari
komunikator kepada komunikan baik langsung atau melalui media yang menimbulkan
efek dan respon timbal balik. Apa yang dapat kita cermati dari definisi semcam itu?
Definisi komunikasi semacam itu merupakan definisi komunikasi yang memberi
perhatian pada komunikasi verbal.

Definisi yang dikumpulkan F X Dance dan Carl E Larson sebanyak 126 definisi
komunikasi, kita jumpai hanya satu definisi tentang komunikasi non verbal. Oleh
karena itu, kita perlu memulai bahasan dalam inisiasi ini dengan mencari tahu batasan
atau definisi Komunikasi Non Verbal. Maksudnya, karena ada kesulitan-kesulitan
tertentu dan sedikitnya perhatian terhadap bentuk komunikasi ini, maka pemahaman
dasar tentang komunikasi non verbal kita pelajari lebih dahulu.

Secara sederhana, kita dapat mulai dengan memilah istilah Non-Verbal. Non-Verbal
berarti selain Verbal. Sementara yang dimaksud dengan Verbal, adalah bentuk
komunikasi tulis. Kata Verbal merujuk pada komunikasi tulis. Ini merujuk pada segi
linguistik. Berikut beberapa definisi Komunikasi Non Verbal:

a. Sebuah stimuli yang tidak tergantung pada isi simbolik untuk memaknainya
(F.X Dance dan Carl E Larson)
b. Sebuah kode yang luas ditulis tidak di mana pun, diketahui oleh tidak seorang
pun dan dimengerti oleh semua (Edward Sapir)
c. Komunikasi tanpa kata-kata

Perbedaan Komunikasi Verbal dan Non Verbal


Pada prinsipnya, dalam kegunaan fungsional keduanya saling melengkapi, satu sama
lain saling berkaitan serta saling melengkapi. Namun demikian, keduanya dapat kita
bedakan satu terhadap yang lain. Perbedaan itu mencakup tiga hal: a) kesengajaan
pesan; b) tingkat simbolisme dalam tindakan dan pesan; dan c) mekanisme
pemrosesan

a. Kesengajaan
Komunikasi verbal umumnya dilakukan dengan kesengajaan. Artinya,
komunikator mampu mengendalikan apa yang menjadi niat dan tujuan dari
pesan yang disampaikan. Sedangkan komunikasi non verbal, sebagian besar
komunikator tidak menyadari tujuan pesan non verbal. Komunikator tidak
mampu mengendalikan bentuk-bentuknya bahkan tujuan yang disampaikan.

b. Tingkat Simbolisme
Komunikasi verbal memiliki tingkat simbolisme yang rendah, to the point,
mengacu pada makna yang eksplisit, sedangkan komunikasi non verbal
memiliki tingkat simbolisme yang tinggi, abstrak, dan sering kali makna yang
ditangkap bukan hubungan langsung dari apa yang yang dipersepsikan.
Kontektualisasi menjadi sangat penting di dalam memahami makna dari
pesan-pesan komunikasi non verbal

c. Mekanisme Pemrosesan
Mekanisme pemrosesan komunikasi non verbal cenderung spontan, tidak
terstruktur, terkait dengan pengalaman langsung. Sedangkan mekanisme
pemrosesan komunikasi verbal cenderung terstruktur, melihat hubungan
antara kata dengan kata, struktur kalimat, proposisi dan seterusnya.
Komunikasi non verbal bersifat terputus-putus, dan mungkin menimbulkan
lompatan-lompatan tertentu dalam memaknai suatu pesan.

Perbedaan-perbedaan lain yang bisa diperbandingkan antara komunikasi verbal dan


Tidak terstruktur; bersifat linguistik versus non linguistik; bersifat kontinum versus
diskret; Nurture (dipelajari) versus Nature (alamiah); diproses di otak kiri versus otak
kanan. Cobalah Saudara gali penjelasan ini di dalam Modul yang telah disediakan.

Fungsi Komunikasi Verbal dan Non Verbal


Sebagaimana telah dijelaskan, baik komunikasi verbal atau non verbal, keduanya
sangat penting bagi keomunikasi insani yang efektif dan menarik. Keduanya memiliki
hubungan satu sama lain. Komunikasi non Verbal ini bagi komunikasi verbal dapat
berfungsi: a) Melakukan pengulangan; b) bertolak belakang; c) bersifat substitusi; d)
sebagai pengaturan; e) memberi penekanan dan f) melengkapi.

Sebagai ilustrasi untuk mendemostrasikan fungsi tersebut misalnya, seseorang


meninggikan suara, mengacungkan jempol, melambaikan tangan, menggoyang-
goyangkan jari telunjuk ke muka seseorang. Contoh-contoh lain coba Saudara cari
dalam praktek-praktek kehidupan kita sehari-hari.
Komunikasi Nonverbal: Karakteristik
Untuk memahami komunikasi nonverbal, kita harus menyadari bahwa ada
karakteristik tertentu yang dapat dibedakan dengan komunikasi verbal. Karakteristik
tersebut mencakup eksitensinya, perannya dalam menyampaikan perasaan, situasi
psikologis tertentu, atau emosi-emosi, ambuigitas makna dan keterikatan atau
keterkaitan dengan budaya tertentu.

Jenis dan Bentuk Komunikasi Nonverbal


Jenis dan bentuk komunikasi non verbal menunjuk pada sejumlah cara bagaimana
komunikasi non verbal itu disampaikan. Ada pula yang menyebutnya sebagai kategori
komunikasi non verbal. Artinya ada kelompok atau jenis yang dapat diamati terhadap
cara-cara komunikasi non verbal ini dilakukan. Berikut kategori-kategori tersebut:

1. Vocalics
Komunikasi non verbal ditunjukkan oleh variasi cara melalui vokal. Maksudnya
suara yang berasal dari rongga mulut kita sering digunakan sebagai bentuk
pesan non verbal. Intonasi suara, cepat lambatnya suara, dan penekanan
suara. Kita bisa cermati bentuk-bentuk komunikasi non verbal vocalics ini
misalnya merintih, mendesah, menekan suara, merendahkan suara,
menggumam, menjerit, dan seterusnya. Pendek kata, penggunaan sejumlah
variasi suara untuk baik disadari atau tidak dapat merupakan bentuk
komunikasi non verbal vocalics

2. Kinesics
Lebih tepat merupakan bentuk-bentuk komunikasi non verbal yang
berhubungan dengan ekspresi emosi dasar manusia. Ekspresi wajah, gerak
kaki, tangan, posisi tubuh, gerak kepala, dan pandangan mata. Pendek kata,
komunikasi non verbal kinesics merupakan ekspresi emosi dinyatakan dalam
gerak anggota tubuh dan ekpresi wajah. Contoh-contohnya sangat banyak,
seperti geleng-geleng kepala, melotot, bersedekap, menunjukkan jari,
mengeryitkan dahi, membuang muka dan lainnya.

3. Proxemics
Bentuk komunikasi non verbal proxemics merupakan kategori komunikasi non
verbal yang memanfaatkan ruang (space) dan jarak ruang (space distance).
Kita memiliki cara untuk menunjukkan kedekatan kita kepada seseorang. Jauh
dekatnya jarak tersebut dapat ditunjukkan melalui bentuk-bentuk komunikasi
non verbal proxemics. Keintiman seseorang dapat dilihat dari pemanfaatan
ruang yang digunakan. Terhadap jauh dan dekatnya jarak ini, kita dapat
membedakannya menjadi empat. Pertama, intimate distance; personal
distance, social distance dan public distance.

4. Haptics
Jenis ini memiliki keterkaitan dengan proxemics yang dapat digunakan untuk
melihat keintiman dan kedekatan seseorang. Jika proxemics memanfaatkan
jarak dan ruang, maka jenis komunikasi non verbal haptics adalah jenis
komunikasi non verbal yang menggunakan sentuhan.Menepuk bahu misalnya
menunjukkan rasa bangga seseorang atau kekaguman tertentu. Membelai
menunjukkan rasa kasih sayang. Mencium pipi menunjukkan rasa kasih
sayang. Sebaliknya, menampar, menjambak, mencubit, memukul dan
sejenisnya merupakan bentuk sentuhan yang menunjukkan ketidaksukaan
atau kebencian tertentu. Kecuali mencubit mungkin mengekspresikan
kegemasan tertentu.

5. Chronemics
Ini berkaitan dengan waktu. Seseorang yang tidak menyukai seseorang, dapat
dinyatakan dengan mengulur-ulur waktu, untuk dapat bertemu. Orang yang
tepat waktu menunjukkan ia seorang displin. Membuat urutan mana yang
didauhulukan dan mana yang diakhirkan, juga merupakan bentuk komunikasi
non verbal dalam kategori chronemics. Rasa tidak minat mendatangi acara,
ditunjukkan dengan kterlambatan dalam acara tersebut.

Segi Kesejarahan Komunikasi Nonverbal


Segi kesejarahan komunikasi nonverbal dapat dilacak dari beberapa kajian dan
perhatian. Pertama, segi kesejarahan ini dapat dilihat dari karya Cicero-Pronountiatio
yang berhubungan dengan teknik berpidato. Dalam pidato aspek vocalics dan kinesics
merupakan hal yang sangat diperhatikan.

Kedua, segi kesejarahan di mana komunikasi nonverbal mendapat perhatian yang


digunakan sebagai bahasa drama yang dikenal dengan Prosody. Bahasa drama dapat
disajikan seperti notasi musik. Bahasa dapat disajikan dalam lantunan musik. Vocalics
kembali memegang peran penting
Ketiga, segi kesejarahan di mana gerak-gerak tubuh dipahami sebagai bahasa. Seni
tari disajikan dengan penuh makna berdasarkan pada gerak-gerak tubuh tertentu.
Konsep ini dikenal dengan sebutan sebagai elocutionary system. Konsep ini
menjelaskan gerakan-gerakan badan dihubungkan dengan bahasa tertentu.

Keempat, segi kesejarahan yang menjelaskan bahwa adanya perpaduan antara suara
dengan gerakan badan. Hubungan antara pesan nonverbal satu terhadap pesan
nonverbal yang lain menghasilkan makna tersendiri. Dalam hal ini kajian yang
memadukan antara komunikasi nonverbal suara dengan gerakan-gerakan tubuh.

Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Komunikasi Nonverbal


Charles Darwin memberi sumbangan pemikiran penting dalam meletakkan landasan
pendekatan dalam Teori Komunikasi Nonverbal. Dalam karyanya yang berjudul The
Expression of emotion in Man and Animals telah melahirkan pendekatan-pendekatan
tertentu dalam Teori Komunikasi Nonverbal:

1. Pendekatan Etologi
Pendekatan etologi menyatakan bahwa bentuk komunikasi nonverbal mahluk
hidup seperti manusia dan binatang pada dasarnya adalah sama. Tidak ada
perbedaan dalam cara-cara mahluk hidup dalam menyampaikan pesan
nonverbal. Dalam pandangan ini dikatakan, cara-cara ini diperoleh secara
alamiah (nature) bukan secara nurture (dipelajari). Mahluk hidup sejak awal
memiliki kemampuan semacam itu. Salah satu buktinya bahwa semua
manusia di mana pun berada memiliki cara yang sama dalam hal tersenyum.
Mari kita lihat secara ringkas dua teori yang berada dalam pendekatan ini:

a. Teori Struktur Kumulatif


Teori ini memberikan perhatian pada makna dari gerakan tubuh dan
ekpresi wajah pada satu sisi, sedangkan di sisi lain, bagaimana posisi
keduanya dengan komunikasi verbal. Teori ini lebih memberi perhatian
makna struktur kumulatif makna ketimbang struktur perilaku. Lebih jauh,
teori ini kemudian mengidentifikasi sejumlah kategori yang masuk dalam
domain bentuk-bentuk perilaku ekspresif: emblem, ilustrator, regulator,
adaptor, dan penggambaran perasaan
b. Teori Tindakan
Perilaku tidak terbentuk begitu saja,melainkan terbagi ke dalam suatu
rangkaian panjang dari kejadian-kejadian yang terpisah. Teori ini memberi
perhatian pada komunikasi nonverbal kinesics yang digunakan untuk
membangun suatu tindakan tertentu. Ada bentuk-bentuk tindakan yang
didasarkan pada bentuk komunikasi nonverbal kinesics ini yang dapat
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Pertama, tindakan yang
diperoleh dari bawaan. Kedua, tindakan yang ditemukan. Ketiga, tindakan
yang diperoleh dari penyerapan. Keempat, tindakan yang diperoleh dari
latihan. Kelimat, tindakan yang diperoleh dari campuran tipe-tipe
tersebut.

2. Pendekatan Antropologi
Pendekatan ini melihat bahwa komunikasi nonverbal erat kaitannnya dengan
persoalan budaya masyarakat. Bahkan ada yang berpandangan, komunikasi
nonverbal merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Setiap budaya memiliki
cara-cara tersendiri dalam mengembangkan bentuk komunikasi nonverbal.
Mari kita lihat lebih dekat dua teori yang berada dalam pendekatan
antropologi:

a. Analogi Linguistik
Seperti namanya, analogi linguistik mengasumsikan bahwa komunikasi
nonverbal memiliki komponen dan struktur seperti dalam bahasa. Seperti
diketahui bahwa bahasa memiliki elemen-elemen pembentuk yang dapat
distrukturkan seperti dari unsur bunyi, kata, kalimat, paragraf, dan
komposisi. Dalam teori ini dikatakan bahwa hal yang sama, ada di dalam
bentuk komunikasi nonverbal. Satuan bunyi dalam komunikasi nonverbal
disebut sebagai allokines. Hubungan antara allokine akan membentuk
kines yang akan membentuk struktur seperi dalam bahasa verbal

b. Analogi kultural
Teori ini memberi perhatian pada bentuk komunikasi nonverbal proxemics
dan chronemics. Teori ini mengungkapkan batasan-batasan mengenai
ruang. Menurut pencetusnya, batasan-batasan ruang ini dapat dibedakan
antara lingkungan (artifactual), ruang teritorial dan ruang personal. Dari
sana terus dikembangkan adanya informal spaces, personal spaces dan
mixed spaces. Semua ini berkaitan dengan kultur. Seperti halnya dengan
persoalan ruang, persoalan waktu sebagai bentuk komunikasi nonverbal
juga demikian. Ada informal time, formal time dan technical time. Semua
ini juga terikat dengan persoalan budaya

3. Pendekatan Fungsional
Pendekatan fungsional berbeda dari dua pendekatan sebelumnya.
Pendekatan fungsional memfokuskan pada tujuan dan fungsi yang dibatasi
oleh situasi dan waktu tertentu. Oleh karena itu, kita akan temukan teori-teori
komunikasi nonverbal fungsional ini dengan fungsi yang berbeda-beda.
Berikut teori-teori komunikasi nonverbal yang masuk dalam pendekatan
fungsional:

a. Teori Metaforis-Mehrebian
Dalam teori ini komunikasi nonverbal berada tiga kelompok fungsi.
Pertama, fungsi yang memperlihatkan dominan-submisif. Kedua, fungsi
yang menunjukkan kegunaan yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan. Ketiga, fungsi yang memperlihatkan kegunaan
menggairahkan dan tidak menggairahkan. Menunjuk dapat dimaknai
sebagai fungsi dominan-submisif karena memperlihatkan hubungan yang
lebih kuasa. Melambaikan tangan, dapat digunakan untuk menyatakan
kegembiraan karena menyambut kedatangan. Mata berbinar-binar dapat
digunakan untuk menyatakan hasrat. Kegunaan fungsional ini dapat
merupakan kombinasi dari fungsi-fungsi tersebut

b. Teori Equilibrium
Equilibrium merupakan keseimbangan. Komunikasi nonverbal dapat
befungsi untuk memberi keseimbangan, mendekatakan yang jauh atau
menjauhkan yang dekat. Sentuhan, kedekatan, keintiman, pemanfaatan
ruang dan waktu dapat difungsikan untuk menjaga keseimbangan dalam
komunikasi antar manusia.

c. Teori Fungsional dari Patterson


Patterson secara langsung menunjuk lima fungsi komunikasi nonverbal,
yakni: memberikan informasi; mengekspresikan keintiman; pengaturan
interaksi; kontrol sosial; dan membantu pencapaian tujuan. Dengan
telunjuk kita dapat memberi tahu arah. Dengan sentuhan kita dapat
menyatakan keintiman, Dengan memberi jeda, kita memberi kesempatan
orang untuk gantian berbicara; dengan meninggikan suara, kita sedang
memperingatkan orang dan dengan intonasi suara, kita menegaskan
sesuatu.

d. Teori Fungsional Komunikatif


Teori ini memberi perhatian pada peran komunikasi nonverbal pada hasil
dari komunikasi. Peran komunikasi nonverbal terhadap hasil komunikasi
dapat dilihat dari sejumlah cara. Komunikasi nonverbal dapat
menegaskan, menegasikan, melemahkan, menguatkan, mengarahkan,
berlawanan dan sebagainya.

Teori-Teori Komunikasi Verbal


Perhatian kita dalam teori-teori komunikasi verbal ada pada bahasa. Lebih spesifik lagi
terhadap simbol-simbol verbal. Sedangkan sistem simbol paling penting adalah
bahasa. Hal menarik adalah melihat hubungan antara bahasa dan realitas. Kegunaan
fungsional bahasa sering dikaitkan dengan kemampuannya dalam mensruktur
realitas. Bahasa dipandang sebagai kendaraan makna. Bahasa dipakai sebagai alat
untuk mempresentasikan realitas, merefleksikan realitas atau merepresentasikan
realitas. Mari kita lihat lebih dalam lagi.

1. Pendekatan Natural
Teori ini mengatakan bahwa pada dasarnya kita memiliki kemampuan bawaan
dalam berbahasa. Dengan perkataan lain, kita memiliki kemampuan alamiah
dalam mengembangkan kebahasaan kita. Namun ada pula yang menyatakan
bahwa meski kita memiliki kemampuan bawaan dalam berbahasa, tetapi
sebenarnya perkembangan ini, bukan yang pertama. Manusia terlebih dahulu
mengalami perkembangan koginitif terlebih dahulu, baru kemudian
perkembangan kemampuan berbahasa itu muncul. Inti dari teori ini
menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa kita tidak kita peroleh dari
belajar, melainkan secara alamiah kita terima sebagai kemampuan bawaan

2. Pendekatan Nurture
Teori ini berlawanan dengan Teori Natural. Dalam pandangan teori ini,
kemampuan berbahasa bukan merupakan kemampuan bawaan (given)
melainkan harus dipelajari (nurture). Kita melihat kenyataan bahwa bahasa
dari suatu masyarakat berbeda satu dengan yang lain. Bahasa juga merupakan
gambaran mental suatu masyarakat. Di dalam bahasa terdapat aturan dan
ketentuan yang berbeda-beda. Kita tidak dapat menguasai suatu bahasa
begitu saja, melainkan harus mempelajarinya dengan tekun. Sistem bahasa
Jawa berbeda dengan sistem bahasa Inggris. Sistem mental yang dibangun di
dalam kedua bahasa tersebut juga berbeda.

3. Pendekatan Semantik
Persoalan makna menjadi perhatian utama dalam Pendekatan General
Semantics. Makna semantik sendiri diartikan sebagai hubungan antara nama
(bahasa) dengan benda. Tetapi penggunaan fungsional bahasa dapat diperluas
dan lebih dari sekedar hubungan antara nama dengan benda. Dalam linguistik
kita mengenal suatu makna, seperti makna semantik, makna gramatika dan
makna pragmatika. Makna semantik merupakan makna kata dengan
objeknya. Jika mengatakan gelas, kita dapat merujuk pada benda yang
digunakan sebagai alat yang digunakan untuk mewadahi air yang akan kita
minum, yang berbeda dengan mangkok. Kita bisa membedakan mana gelas
dan mana mangkok berdasarkan penamaan dan bentuk objeknya. Sementara
makna gramatika, merupakan makna yang terbentuk dalam hubungan antara
tanda dengan tanda. Misalnya, kata L E K A T. Kita melihat hubungan antara
tanda L, tanda E, tanda K, tanda A dan tanda T. Ketika huruf-huruf itu berdiri
sendiri mungkin mempunyai makna tersendiri, tetapi ketika hubungkan dari
satu tanda dengan tanda yang lain, maka terbentuklah kata LEKAT. Kata ini
merujuk pada kedekatan tertentu. Inilah yang disebut sebagai makna
gramatika. Sedangkan makna pragmatika merupakan makna ketika kata
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang tergantung pada kegunaan,
konteks dan pengalaman sehari-hari. Seorang mahasiswa mengatakan kepada
temannya,” Lihat bening lewat…” Kata bening ternyata digunakan untuk
merujuk pada seorang perempuan yang sangat cantik.

4. Pendekatan Konstruktivisme Bahasa


Seperti namanya, pendekatan Konstruktivisme Bahasa-menyatakan bahwa
seseorang memiliki kognisi sosial, skemata mental dan cara-cara berpikir.
Faktor-faktor tersebut pada gilirannya menentukan bagaimana seseorang
mengkonstruksi bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Ada tiga
prinsip yang perlu diperhatikan:
a. Konstruksi episodik dan kecenderungan seseorang dibentuk atau
diorganisasikan melalui skemata intepersonal
b. Adanya kesan interpersonal memberi pemahaman dan antisipasi terhadap
konteks, relevansi, ruang dan waktu yang dihadapi
c. Seseorang memiliki kemampuan untuk merespon dan mengorganisasikan
pesan verbal terhadap situasi yang berbeda-beda sebagai kapasitas yang
dimiliki

DISKUSI 6
Setelah saudara mencermati materi dalam Inisasi 6, mungkin ada hal-hal yang belum
atau kurang jelas, atau saudara sudah mendapatkan kejelasan terhadap bahasan
tentang Komunikasi verbal dan nonverbal, tetapi ingin mempertajam dan
mendalaminya lebih jauh. Untuk itu, mari kita diskusikan bahan-bahan yang ada agar
kita mendapatkan pemahaman yang lebih. Saudara dapat menanyakan hal-hal
tertentu, memberi opini atau pendapat, memberi pernyataan tertentu atau
mengkritisi terhadap pemikiran-pemikiran yang ada. Besar harapan kita, diskusi ini
menjadi lebih efektif dan membantu kesuksesan studi Saudara. Selamat berdiskusi.

Soal-Soal
1. Sifat mekanisme pemrosesan komunikasi Non Verbal menunjukkan ciri:
A. Terstruktur dan kontektual
B. Spontan dan tidak terstruktur
C. Bersifat leksikon dan eksplisit
D. Spontan dan terstruktur
2. Aspek penting dari komunikasi Non Verbal Proxemics tampak dari:
A. Pemanfaatan ruang dan jarak ruang untuk menyatakan kedekatan dan
keintiman
B. Pemanfaatan waktu untuk menunjukkan priortas dan tingkat kepentingan
C. Pemanfaatan ekspresi dan gerak tubuh
D. Pemanfaatan jeda waktu untuk menyatakan relevansi kepentingan
tertentu
3. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Nurture terhadap kemampuan
sesoerang dalam berbahasa?
A. Kemampuan tersebut diperoleh sebagai bawaan
B. Kemampuan yang diperoleh dengan sendiri
C. Kemampuan alamiah manusia
D. Kemampuan yang diperoleh melalui proses belajar
4. Fungsi komunikasi non verbal bagi komunikasi verbal:
A. Pengulangan, substitusi, dan penegasian
B. Eksplanasi, diferensiasi dan koeksistensi
C. Diferensiasi, konotasi dan manipulasi
D. Komplemen, substitusi dan konjungsi
5. Komunikasi non verbal vocalics menunjukkan ciri pada
A. Gerak dan ekspresi tubuh
B. Pemanfaatann suara, tinggi rendah, ritme suara
C. Sentuhan dalam mengekspresikan perasaan
D. Pemanfaatan waktu

Jawaban-Jawaban
1. (B) Spontan dan tidak terstruktur
2. (A) Pemanfaatan ruang dan jarak untuk menyatakan kedekatan atau posisi
serta kedudukan seseorang
3. (D) Kemampuan yang diperoleh melalui proses belajar
4. (A) Cukup jelas
5. (B) Cukup Jelas
INISIASI 7

Pengantar
Dalam Inisiasi 7, kita bahas topik Komunikasi Antar Budaya (Inter Cultural
Communication). Sebagai calon sarjana ilmu komunikasi, menguasai dan memahami
komunikasi antara budaya menjadi keharusan. Di dalam masyarakat, bangsa dan
negara tumbuh cara hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu, nilai, keyakinan,
kebiasaan, kebanggaan, ritual dan identitas sosial juga berbeda. Perbedaan ini sering
menimbulkan kebanggaan eksluvitas, menegasikan yang lain atau a priori terhadap
hal-hal di luar dirinya. Komunikasi antar budaya memberi pemahaman bahwa
mengkomunikasikan budaya, sudut pandang, kebiasaan-kebiasaan, nilai, dan norma-
norma yang ada dapat memberi pemahaman bersama, memunculkan pengalaman
baru, kerja sama, penghormatan kepada yang lain.

Materi Inisiasi 7
Teori-Teori Komunikasi Antar Budaya

Definisi dan Dimensi Komunikasi Antar Budaya


Kajian terhadap komunikasi antar budaya, dipicu oleh adanya kesadaran bahwa
perbedaan kebiasaan hidup, nilai, orientasi, gaya hidup, keyakinan, ideololgi, cara
berpikir, kebanggaan, dan ritual dapat menimbulkan konflik, permusuhan, kekerasan,
kebencian, sikap apriori, etnosentrisme dan lainnya. Kesadaran inilah yang
menumbuhkan keinginan agar satu sama lain saling dapat mengenal dan belajar dari
budaya satu terhadap budaya lain. Mereka memerlukan interaksi agar mendapat
pemahaman dan pengertian terhadap suatu budaya tertentu. Kesadaran ini dapat
dilihat dari:

1. Kesadaran Pribadi
Di era di mana kemajuan teknologi transportasi begitu pesat, mobilitas
individu semakin mudah, interaksi sosial yang semakin terbuka dan luas, maka
kesadaran individu berinteraksi dengan banyak orang dengan latar belakang
budaya yang berbeda sangat besar. Ada banyak manfaat yang dapat dipetik
dari ketika seseorang melakukan komunikasi antar budaya:
a. Kepuasan dan kebahagiaan karena menemukan dan turut merasakan hal-
hal baru bersama dengan kebudayaan baru ketika ia berkomunikasi
dengan orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda
b. Semakin luas pemahaman dan pengertian terhadap kebudayaan-
kebudayaan yang ada
c. Terbukanya kesempatan yang lebih luas bekerja, berinteraksi,
berkolaborasi dengan orang-orang dalam kebudayaan yang beragam
d. Kepercayaan diri ketika bertemua dengan orang yang berbeda budaya dan
memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih fleksibel

2. Kesadaran Domestik
Sebagai bangsa pun, Indonesia tidak dapat melepaskan pengaruh dari kuatnya
arus globalisasi, dalam kancah pergaulan internasional pada satu sisi,
sedangkan di sisi lain, bangsa Indonesia terdiri dari suku, adat, bahasa, dialek
dan etnis yang sangat banyak. Sebagai bangsa, pemerintah menyadari betul,
bahwa saling memahami keberagaman, pentingnya persatuan dan kesatuan,
sehingga komunikasi antar budaya menjadi sangat penting kedudukannya.
Selain itu, kesadaran individu, telah mendorong kesadaran bersama akan
pentingnya komunikasi antar budaya.

3. Kesadaran Internasional
Mobilitas internasional, di mana orang bergerak dari satu negara ke negara
lain, kebanyakan karena alasan kebudayaan, selain alasan diplomatik, bisnis,
keluarga atau pekerjaan. Namun apa pun alasannya, pertemuan dengan
mereka di berbagai forum yang berbeda, memerlukan pemahaman terhadap
adanya perbedaan-perbedaan tertentu dari masing-masing negara.
Perkembangan teknologi dan informasi serta alat transportasi yang semakin
canggih membuat dunia ini dikatakan sebagai dusun global (global village).
Dunia ini terasa kecil dan sempit. Kebutuhan komunikasi antar budaya tidak
dapat dihindarkan, sebagai mesti keharusan dan kemestian. Inilah kesadaran
global yang menempatkan komunikasi antar budaya sebagai sesuatu yang
sangat strategis.

Definisi Komunikasi Antar Budaya


Berikut ini beberapa definisi Komunikasi Antar Budaya. Cermati definisi di bawah ini,
hal-hal apa yang bisa Saudara tangkap dari definisi-definisi berikut.
1. Komunikasi antar budaya diartikan sebagai “the art of understanding” dan
“”being understood” by the audience of another culture.
2. Apa yang disebut sebagai komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang
terjadi diantara orang-orang yang berbeda, dengan budaya yang berbeda-
beda
3. Komunikasi antar budaya itu adalah komunikasi yang terjadi di bawah kondisi
adanya perbedaan kultural-yang mencakup perbedaan bahasa, nilai,
kebiasaan-kebiasaan
4. Komunikasi antar budaya tidak lain adalah interaksi antara anggota dari
budaya yang berbeda
5. Komunikasi antar budaya adalah pertukaran pemikiran dan makna di antara
orang-orang yang berbeda budayanya
6. Komunikasi antar budaya adalah fenomena komunikasi, yang memperlihatkan
adanya perbedaan budaya, di antara para partisipannya yang berasal dari latar
belakang

Dimensi-Dimensi Komunikasi Antar Budaya


Untuk memperjelas definisi yang telah disajikan, perlu kita lihat dimensi-dimensi yang
dapat kita temukan dalam Komunikasi Antar Budaya. Pertama, istlah budaya telah
dipakai untuk menunjuk pada cakupan dan tingkatan terhadap kompleksitas
organisasi sosial. Misalnya tingkatan atau cakupan ini dipakai untuk suatu kawasan,
seperti Budaya Timur dan Budaya Barat. Dari kawasan diturunkan menjadi sub
kawasan seperti budaya Amerika Latin dan Budaya Asia Tenggara dan seeterusnya.
Kedua, Penggunaan istilah komunikasi antar budaya juga dapat dilihat dari konteks
sosial. Misalnya dalam konteks bisnis, politik, kepariwisataan, ekonomi, budaya dan
pendidikan. Dimensi ketiga, adalah menyangkut saluran komunikasi. Komunikasi
antar budaya dapat berlangsung secara langsung tatap muka, konferensi, dialog,
rapat, atau salurang komunikasi dapat terjadi dengan menggunakan media.

Keterkaitan Komunikasi dan Kebudayaan


Apa unsur penting dari komunikasi? Jawabannya akan memberi gambaran tentang
apa yang sebenarnya dimaksud komunikasi. Di dalam komunikasi terdapat unsur
komunikator (individu), pesan, saluran komunikasi, mitra komunikasi (audience),
interaksi dan makna. Sedangkan budaya adalah cara hidup seseorang hidup di dalam
masyarakat. Di dalam budaya terdapat nilai, kebiasaan, keyakinan, adat dan tradisi,
ideologi, orientasi, alat dan piranti, norma, dan ritual. Bagaimana hubungannya?
Tidak mungkin kebiasaan hidup suatu masyarakat, tanpa kehadiran komunikasi.
Komunikasi menyampaikan pesan, makna, ide dan gagasan-gagasan kepada orang
lain. Proses-proses dan aktivitas-aktvitas budaya dijalankan dalam ranah komunikasi.
Dengan komunikasi, kebudayaan itu hidup dan berkembang. Dengan komunikasi, nilai
dan keyakinan dipertukarkan, dipahami, dijalankan dan disebarkan luaskan atau
diajarkan kepada anak-anak generasi penerus. Komunikasi dan kebudayaan memiliki
kterkaitan yang sangat erat. Makna, tanda, simbolisme, ritual, intepretasi, nilai dan
keyakinan memiliki kedekatan dengan persoalan komunikasi sekaligus menjadi
persoalan budaya

Komunikasi Antar Budaya: Hakikat Kebudayaan


Kita memulainya dengan mencermati definisi tentang Kebudayaan. Apa yang
dimaksud dengan kebudayaan? Apa yang bisa kita temukan dari definisi-definisi ini
tentang hakikat kebudayaan.

1. Definisi Kebudayaan dari Kim


Kebudayaan merupakan kumpulan pola kehidupan yang dipelajari oleh
sekelompok manusia tertentu dari generasi sebelumnya dan diteruskan
kepada generasi berikut. Lebih lanjut Kim mengatakan bahwa kebudayaan
tertanam dalam diri individu sebagai pola-pola persepsi

2. Definisi Kebudayaan dari Samovar


Kebudayaan mengkondisikan manusia secara tidak sadar menuju cara-cara
khusus bertingkah laku dan berkomunikasi

3. Definisi Kebudayaan dari Dadd


Kebudayaan merupakan konsep yang bergerak kontinum mulai dari kognisi
hingga keyakinan, termasuk nilai-nilai hingga pola-pola perilaku, adat
kebiasaan

4. Definisi Kebudayaan dari Ruben


Kebudayaan bersifat kompleks dan banyak segi, pada dasarnya tidak dapat
dilihat, yang berubah sejalan dengan waktu

Dengan empat definisi terhadap kebudayaan tersebut, pencermatan terhadap


definisi tersebut dapat mengarahkan kepada Saudara terhadap hakikat kebudayaan.
Kebudayaan berada dan berkembang dalam masyarakat atau kelompok sosial,
bersifat kompleks, dipelajari dan diwariskan dari generasi ke generasi, bersifat
kompleks mencakup nilai, keyakinan, norma, kebiasaan, adat dan mengalami
perubahan sejalan dengan waktu.

Unsur-Unsur Kebudayaan
Seperti halnya dengan komunikasi yang memiliki unsur-unsur yang dapat diamati,
maka kebudayaan pun memiliki unsur-unsurnya. Identifikasi terhadap unsur-unsur
kebudayaan itu adalah sangat penting, karena dapat memberikan sasaran kajian yang
tepat terhadap hal-hal apa yang harus dipelajari di dalam kebudayaan. Samovar
(1981) membagi unsur-unsur kebudayaan tersebut menjadi tiga kelompok, yakni:

1. Sistem keyakinan dan Nilai


Posisi pendirian seseorang terbentuk dari beberapa cara dan sekaligus
menentukan derajat kepercayaan terhadap suatu objek atau kejadian
tertentu. Keyakinan seseorang dapat terbentuk dari pengalaman. Pengalaman
memberikan suatu bentuk keyakinan tertentu terhadap sesuatu. Selain
pengalaman yang dapat membentuk keyakinan seseorang, keyakinan juga
dapat bersumber dari informasi. Informasi merupakan sumber pengetahuan,
yang dapat membentuk keyakinan seseorang.Sumber-sumber informasi itu
dapat berasal dari individu atau media informasi. Sumber keyakinan yang
ketiga adalah berasal dari penarikan kesimpulan.

Adapun yang dimaksud dengan nilai adalah merupakan aspek evaluatif dari
sikap dan keyakinan. Sistem nilai ini dapat merupakan sistem moral, sistem
etika, sistem aestetika. Nilai-nilai budaya dapat dikategorisasikan ke dalam
tingkat-tingkat yang berbeda, seperti primer, sekunder dan tersier. Nilai-nilai
primer merupakan nllai-nilai asasi di mana seseorang sampai matipun rela
untuk mempertahankannya.

2. Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan orientasi kebudayaan, meskipun dalam derajat
tertentu hal ini bersifat abstrak, tetapi kedudukannya sangat penting dalam
memahami komunikasi antar budaya. Dalam banyak situasi komunikasi antar
budaya yang terjadi, pandangan hidup dari individu, memberi corak nyata bagi
interaksi yang terjadi. Pandangan hidup seseorang mempengaruhi proses
perseptual ketika ia berinteraksi dalam proses-proses komunikasi. Pandangan
hidup ini bisa bersifat individual, tetapi juga dapat menggambarkan
pandangan hidup suatu masyarakat atau pun bangsa. Misalnya bangsa
Indonesia memiliki Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.

3. Organisasi Sosial
Organisasi sosial dapat diartikan sebagai organisasi-organisasi yang dibentuk
oleh masyarakat kebudayaan tertentu. Tetapi organisasi sosial dapat diartikan
lebih luas dari itu, yakni cara-cara masyarakat kebudayaan mengatur, menata,
mengorganisasikan pranata-pranata sosial sehingga mereka dapat menjaga
dan merawat sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem pandangan hidup
mereka. Ketiga hal tersebut dapat dilihat secara lebih nyata dalam organisasi
sosial, yakni cara mereka mengelola dan mengatur pranata-pranata sosial.
Lembaga-lembaga sosial kebudayaan penting antara lain institusi keluarga,
institusi pendidikan, institusi adat, institusi keagamaan, sebagai contoh-
contonya.

Selain ketiga unsur tersebut yang telah dipaparkan, ada pula ahli lain yang
mengklasifikasikan unsur-unsur kebudayaan lebih terperinci: yakni: a) Komunikasi
dan bahasa; b) pakaian dan penampilan; c) makanan dan cara makan; d) konsep dan
kesadaran terhadap waktu; e) pemberian imbalan dan pengakuan; f) corak relasi; g)
nilai dan norma; h) Kesadaran ruang dan kesadaran diri; i) proses mental dan belajar;
dan kepercayaan dan sikap. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif
tentang unsur-unsur kebudayaan ini, Coba Saudara dalami dalam Modul yang telah
disediakan.

Kebudayaan sebagai Filter


Kebudayaan mendorong para anggota masyarakat kebudayaan untuk menjaga dan
merawatnya. Kebudayaan bukanlah merupakan proses instan, melalui dijalankan dan
dilaluinya dari proses pengalaman, pembelajaran dan refleksi terhadap realitas yang
dihadapi. Kebudayaan yang terbentuk dalam suatu masyarakat, dapat dikatakan
merupakan bentuk yang secara relatif tepat dan cocok bagi masyarakatnya.

Disinilah ditunjukkan bahwa kebudayaan masyarakat merupakan filter. Nilai,


keyakinan, sistem kepercayaan dan sistem pandangan hidup tertentu, yang berasal
dari luar budaya mereka, tidak serta merta relevan, cocok dan tepat bagi kebudayaan
masyarakat tersebut. Kebudayaan masyarakat yang baik, tentu tidak tertutup
terhadap kebudayaan lain, tetapi juga tidak menjadi pervasif, dengan menerima
begitu saja kebudayaan luar tersebut yang belum tentu cocok dan sesuai.
Kebudayaan tersebut telah membentuk sistem nilai pada diri individu, keyakinan dan
sikap-sikap tertentu. Hal ini yang menjadi parameter di mana penilaian perseptual
individu akan memfilter hal-hal yang baru, apakah kebudayaan dari luar akan
diterima, atau ditolaknya

Pemahaman tentang Persepsi


Persepsi adalah kegiatan inderawi, yakni mendengar, melihat, merasakan,
menyentuh, membau dan seterusnya. Proses ini yang merangsang individu untuk
mendapatkan gambaran terhadap stimuli yang ditangkap oleh pancaindera kita. Ada
tiga hal penting dimana proses-proses perseptual ini menujukkan atribut dan
kualitasnya, yakni:
a. Struktur
Setiap objek yang ditangkap oleh pancaindera pada umumnya objek tersebut
memiliki struktur dan tertata. Musik yang mengalun, adalah stimuli yang kalau
dirasakan memiliki struktur dan pola atau bentuk. Apa yang dihadapi sebagai
objek atau stimuli tersebut ditangkap oleh pancaindera tercerap bentuk,
ukuran, warna, irama, tekstur, intensitas, keberulangan dan seterusnya.
Melalui proses itu, kemampuan persepsi kita ditentukan oleh pengamatan
terhadap struktur ini yang memunculkan kategorisasi yang membedakan
antara stimuli atau objek satu terhadap objek yang lain.

b. Stabilitas
Struktur terhadap objek yang diamati ternyata mengajari kita tentang suatu
bentuk perubahan. Stabilitas mengacu pada pemahaman perseptual bahwa
suatu keadaan memiliki cara dan batas-batas sendiri untuk mempertahankan
kondisi tertentu hingga mengalami suatu perubahan. Es ternyata memiliki
stabilitas tertentu ketika ia mencair menjadi air. Tinggi badan seseorang
ternyata tidak sama dengan tinggi bayang-bayang orang tersebut. Inilah
persoalan perseptual yang berhubungan dengan stabilitas

c. Makna
Pada gilirannya hubungan antara struktur dan stabilitas dari suatu objek yang
dicerap secara perseptual tadi memberi indikasi yang berbeda-beda. Manusia
kemudian menamainya dengan cara yang berbeda-beda. Pemaknaan dalam
proses perseptual dipengaruhi dari hubungan antara struktur dan stabilitas
objek yang dipersepsi tersebut. Sesuai dengan pengalaman, hubungan antara
struktur dan stabilitas tersebut diperoleh dalam pengalaman-pengalaman,
kejadian-kejadian sepanjang waktu

Dimensi Perseptual
Ada dua hal penting dimensi perseptual ini, yakni pertama dimensi fisik dan kedua
dimensi peikologis. Tahap fisik ini adalah hubungan antara pancaindera dengan objek-
objek yang dicerap yang kemudian ditransmisikan ke dalam simpul-simpul saraf.
Persepsi adalah tahap inderawi di mana proses ini akan menghasilkan noktah-noktah
informasi yang menyusun suatu pengetahuan. Ada proses mekanisme biologis,
anatomis dan neurologis yang bekerja dalam mekanisme pada dimensi fisis ini.

Dimensi kedua adalah dimensi psikologis. Dalam proses perseptual, seorang individu
tidak diasumsikan sebagai individu yang kosong, tetapi ia adalah individu yang secara
sosiologis dan psikologis telah terbentuk. Dengan perkataan lain, ia telah memiliki
kepribadian, kecerdasan, emosi, keyakinan, nilai, motivasi dan sikap. Semua ini
berada di dalam dimensi psikologis. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi proses
perseptual yang lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan proses perseptual
yang berlangsung secara fisis.Faktor-faktor itu mempengaruhi proses selektif
terhadap apa yang dipersepsikan. Pada umumnya, proses selektif dalam persepsi ini
mencakup: Selective exposure, selective attention dan selective retention. Saudara
perlu mendalami ketiga hal tersebut.

Persepsi dan Kebudayaan


Pengalaman pribadi dan latar belakang budaya merupakan dua faktor yang
mempengaruhi proses-proses perseptual dan hasilnya. Semakin besar perbedaan
pengalaman pribadi dan latar belakang budaya, semakin lebar pula kesenjangan
perseptual yang terjadi antara individu satu dengan individu yang lain. Cara-cara
orang Jawa di dalam menyampaikan pesan cenderung implisit, sedangkan cara orang
berkebudayaan Amerika cenderung eksplisit dan langsung. Satu sisi dipersepsikan
tidak jelas dan berbelit-belit, sedangkan di sisi lain dipersepsikan tidak memiliki sopan
santun dan kasar.

Stereotip dan Prasangka


Stereotip menunjuk pada suatu keyakinan yang terlalu digeneralisir, terlalu mudah
dan terlalu disederhanakan serta dilebih-lebihkan pada suatu kategori tertentu dari
suatu kelompok. Keyakinan demikian diwarnai penilaian subjektif, emosional dan
kaku. Stereotip sering dilekat pada suatu budaya, etnis atau suatu bangsa tertentu.
Misalnya etnis tertentu, wanita-wanitanya materialistis, laki-lakinya pelit dan
pemalas. Ini baru sebagian contoh saja, sedangkan contoh-contoh yang lain tersebar
dan ada di mana-mana. Stereotip dan prasangka merupakan dua hal yang saling
berkaitan. Di mana ada stereotip, di situ ada prasangka. Dugaan penilaian yang
didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu, yang umumnya tidak benar.

Dimensi yang dapat diamati dari stereotip adalah: a) arah, b) intensitas, c) ketepatan
dan d) isi. Stereotip dapat memperlihatkan arah penilaian, apakah arahnya positif
atau negatif. Intensitas menunjuk pada seberapa kuat, keyakinan atas kebenaran atau
kekeliruan terhadap stereotip yang diprasangkakan. Ketapatan menunjuk pada
apakah stereotip itu mendekati gambaran yang distereotipkan atau sangat jauh dari
gambaran yang ada. Sedangkan isi menyangkut sifat-sifat khusus yang ada, dan tidak
ada pada kelompok sosial yang lain

Prasangka
Stereotip merupakan keyakinan, sedangkan prasangka merupakan sikap. Prasangka
adalah suatu sikap kaku yang didasarkan pada keyakinan atau pra konsepsi yang
salah. Ada tiga karakteristik dari prasangka ini:

a. Merupakan sikap yang ditujukan pada kategori tertentu


b. Membawa serta keyakinan-keyakinan yang salah, terlalu disederhanakan,
digeneralisir, dan dilebih-lebihkan
c. Merupakan sikap emosional yang kaku

Manifestasi Prasangka
Sebagai sikap, prasangka dapat termanifestasikan ke dalam sejumlah kondisi dan
keadaan, tergantung pada situasi yang seperti apa, manifestasi ini muncul. Secara
teoritik, manifestasi prasangka ini dapat berwujud ke dalam 5 kemungkinan
manifestasi:
a. Antilokusi-adanya kecenderungan untuk berbicara di dalam kelompoknya
sendiri
b. Melakukan penghindaran diri atau menghindari kesempatan yang ada
c. Diskriminasi
d. Serangan fisik dengan adanya dorongan emosi yang dominan
e. Pemusnahan
DISKUSI 7
Materi Inisiasi 7 menarik, bukan! Untuk itu mari kita diskusikan lebih lanjut. Diskusi ini
memberi kesempatan kepada Saudara untuk menggali lebih jauh terhadap topik yang
kita bahas. Bisa jadi, Saudara memiliki pengetahuan dan pengalaman terhadap
bentuk-bentuk komunikasi antar budaya. Sebab kita ini juga menjadi bagian dari
anggota masyarakat budaya tertentu. Gunakan kesempatan diskusi ini. Saudara dapat
menyatakan pendapat, opini, penilaian, pernyataan atau pertanyaan. Mari kita
diskusikan.

Soal-Soal
1. Tiga faktor yang mendorong komunikasi antar budaya dirasakan semakin
penting dan urgen:
A. Globalisasi, kemajuan teknologi dan industri pariwisata
B. Kemajuan teknologi informasi, pemanfaatan media sosial, dan
perdagangan
C. Kesadaran pribadi, kesadaran domestik dan kesadaran internasional
D. Mobilitas sosial, tingkat kesejahteraan dan tingginya pendidikan
2. Stereotip dan Prasangka merupakan dua hal yang berkaitan yang sering
menjadi kendala dalam komunikasi antar budaya. Baik stereotip atau pun
prasangka terdapat hal yang dapat dibedakan, yakni
A. Stereotip berkaitan dengan mitos, sedangkan prasangka berkaitan dengan
pengalaman masa lalu
B. Stereotip merupakan keyakinan yang mengeneralisir, menyederhanakan
keadaan dari suatu kategori tertentu suatu kelompok, sedangkan
prasangka merupakan bentuk dari sikap
C. Stereotip dan prasangka memiliki arah negatif
D. Stereotip menyangkut kebudayaan tertentu, sedangkan prasangka
berkaitan dengan politik
3. Persepsi seseorang tergantung pada atribut dan kualitas perseptual itu sendiri
yang mencakup:
A. Intensitas, Durasi dan Frekuensi
B. Intensitas, Stabilitas dan Konsistensi
C. Intensitas, Struktur dan Durasi
D. Struktur, Stabilitas dan Makna
4. Manifestasi terburuk dari Prasangka adalah
A. Pemusnahan
B. Diskriminasi
C. Serangan fisik
D. Penghindaran diri
5. Menurut Samovar, unsur-unsur kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi
tiga bagian besar, yakni:
A. Ide, Karya dan Norma
B. Sistem nilai, pandangan hidup dan organisasi sosial
C. Struktur sosial, Artefak, dan Sistem nilai
D. Artefak, ideologi dan pandangan hidup

Jawaban-Jawaban
1. (C). Kesadaran pribadi, kesadaran domestik dan kesadaran internasional
2. (B) Cukup jelas
3. (D) Cukup Jelas
4. (A) Cukup jelas
5. (B) Samovar membaginya menjadi tiga: Sistem Nilai, Pandangan Hidup
dan Organisasi Sosial

Tugas 3

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi antar budaya


2. Jelaskan hubungan antara komunikasi dan kebudayaan
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kebudayaan sebagai filter

Jawaban diketik dalam kerta kuarto dengan margin atas 4 cm tepi kanan 3 cm,
tepi bawah 3cm dan tepi kiri 4 cm. Jawaban Saudara mencerminkan pemahaman
Saudara bukan merupakan copypaste dari materi inisiasi. Jawaban untuk setiap
pertanyaan minimal 1 halaman.
INISIASI 8

Pengantar
Ada tiga materi penting sekaligus penutup dalam inisiasi ke-8 ini, yakni Teori
Konstruksi Realitas Sosial, Teori Komunikasi Interpretif dan Teori-teori Komunikasi
Kritikal. Ketiganya merupakan teori-teori komunikasi yang sangat luas. Inisiasi ini
sekedar membantu mengarahkan hal-hal yang utama. Sedangkan detil dan
penjelasannya, Saudara perlu mendalaminya lebih jauh melalui bacaan-bacaan
literatur, Modul yang disediakan dan sumber-sumber pengayaan lainnya.

Materi Inisiasi 8
Teori Konstruksi Realitas, Interpretif dan Kritikal

Teori Konstruksi Realitas Sosial


Teori ini memberi perhatian pada perdebatan tentang realitas. Apa yang dimaksud
dengan realitas? Apa realitas itu sesuatu yang objektif atau sesuatu yang subjektif.
Apakah kita berada di luar realitas, berada di dalam realitas, atau realitas itu ada di
dalam diri kita? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan filsafati. Tetapi yang penting,
komunikasi ternyata mengambil peran penting dalam mengkonstruksi realitas.
Realitas merupakan produk atau konstruksi dari interaksi. Realitas sosial adalah
produk komunikasi.

Komunikasi dan Konstruksi Realitas Sosial


Ada pernyataan yang menarik, yang perlu dipahami. “Realitas kehidupan sehari-hari
saya bukan semata-mata realitas pribadi saya, tetapi berawal dari hubungan antar
subjek yang dialami, diperoleh, dibagikan dan dimaknai secara bersama-
sama…Realitas dibentuk bersama melalui hubungan dengan orang lain”

Jelas, dari pandangan itu, realitas sosial dibangun melalui interaksi. Sedangkan esensi
dari interaksi adalah komunikasi. Ada empat asumsi yang mendasari pemikiran ini,
yakni:
a. Realitas tidak hadir dengan sendirinya secara objektif, tetapi diketahui dan
dipahami dalam kelompok sosial melalui komunikasi
b. Bahasa memegang peran penting untuk memahami realitas secara situasional
dan tempat tertentu
c. Adanya konvensi-konvensi yang disepekati melalui peran komunikasi
d. Pemahaman bersama ini membentuk aspek sosial yang lebih luas

Eksistensi Personal dan Sosial


Gagasan penting dari gagasan tentang eksisten personal dan sosial adalah apa yang
disebut “Self” memiliki dimensi personal dan dimensi sosial. Cara seseorang melihat
dirinya itu disebut “Self” sedangkan atribut yang melekat pada diri, sering
dihubungkan dengan identitas diri.

Teori interaksi simbolik memberi sumbangan dan andil yang besar dalam menjelaskan
tentang eksistensi diri dan sosial ini. Dalam pandangan ini, “self” adalah hasil
konstruksi melalui interaksi dengan orang lain. Siapa diri saya, sebenarnya ditentukan
oleh cara orang lain melihat saya. Masih di dalam teori interaksi simbolik, konstruksi
terhadap “self” terjadi dalam kelompok-kelompok sosial, peer group, keluarga,
teman, sekolah dan lingkungan pergaulan secara luas. Ada orang-orang yang secara
signifikan mempengaruhi konstruksi diri ini

Akuntabilitas Sosial
Teori ini memperluas arti penting komunikasi dalam mengkontruksi realitas. Seperti
yang telah dijelaskan bahwa realitas sosial terbentuk dari interaksi dengan orang lain.
Realitas adalah hasil dari interaksi dan komunikasi memegang peran penting di dalam
memaknainya. Dalam teori ini dijelaskan bahwa makna diperoleh melalui pengalaman
komunikasi, tetapi lebih dari itu, jika dapat menjelaskan suatu dengan cara-cara
komunikasi, sehingga makna itu dipahami, maka orang itu dipandang sebagai orang
yang kompeten dan bertanggung jawab. Dengan perkataan lain, pemaknaan dari
realitas sesungguhnya tergantung pada penjelasan seseorang melalui cara-cara
komunikasi. Penjelasan terhadap realitas dalam mendapatkan makna yang lebih
berarti itu dipandang sebagai akuntabilitas sosial

Rules dan Filsafat Bahasa

a. Rules Theory
Rules theory merupakan teori yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip orang
berinteraksi dalam menggunakan bahasa. Ada pandangan bahwa Rules Theory ini
memiliki persamaan dengan teori Interaksi Simbolik. Pandangan ini wajar, sebab, baik
interaksi simbolik atau Rules Theory memberi perhatian pada komunikasi
interpersonal, interaksi sosial di mana bahasa memegang peran penting di dalam
membangun makna bersama. Rules merupakan aturan di mana mekanisme perilaku
diorganisasi. Ada tiga prinsip aturan yang dapat dicermati, pertama Rule-Following;
kedua, Rule-governed dan yang ketiga Rule-Using. Aturan Rule-Following merupakan
aturan yang memperkirakan bentuk-bentuk perilaku. Rule-governed merupakan
aturan yang mengarahkan pada yang seharusnya dilakukan. Sedangkan Rule-Using
adalah aturan yang menentukan hal-hal apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi
yang lebih kompleks

b. Filsafat Bahasa
Dalam pemikiran teori ini dikatakan bahwa makna dari penggunaan bahasa
tergantung pada penggunaan aktual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian
makna ini bersifat pragmatik. Di samping itu, teori ini menunjukkan bahwa di dalam
penggunaan bahasa yang maknanya ditentukan dalam kehidupan sehari-hari, bahasa
memperlihat adanya permainan bahasa. Untuk kepentingan tertentu bahasa menjadi
suatu permainan, yang digunakan untuk menghasilkan makna, konteks, dan cerita
yang dikehendaki. Ada salah satu teori yang masuk dalam kelompok ini, yakni Speech
Act Theory. Teori ini menyatakan bahwa sebenarnya seseorang yang sedang
berkomunikasi (talk) sebenarnya melakukan tindakan (performing acts). Dari
mengucapkan ujaran, menyusun kalimat, proposisi, tujuan dan tindakan yang
diharapkan dari ucapannya itu. Proses itu adaah tahapan tindakan berkomunikasi. Di
dalam teori ini juga dipaparkan bahwa di dalam cara-cara orang berkomunikasi,
menggunakan prinsip rules. Rules dalam teori ini mencakup dua rules, yakni
Constitutive Rules dan Regulatives Rules

Coordinated Management Meaning


Mudah-mudahan Saudara masih ingat dengan sejumlah teori yang sudah dipelajari
sebelumnya, Sebab teori Coordinated Management Meaning merupakan integrasi
dari sejumlah teori, seperti teori Interaksi Simbolik, Ethogeny, Teori Sistem, Speech
Act Theory dan Relational Communication. Dengan memahami prinsip-prinsip dari
terori tersebut jauh lebih mudah dalam memahami teori CMM ini. Teori CMM
memberi perhatian pada bagaimana Rules baik yang Constitutive atau Regulative
digunakan untuk melakukan pemaknaan terhadap situasi. Setiap orang memiliki cara-
cara tertentu yang dituntun oleh pemahamannya terhadap konteks yang dihadapi.
Constitutive Rules dan Regulative rules ini tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks
yang dihadapi oleh tiap-tiap individu. Dalam CMM ini konteks dibedakan menjadi
empat, yakni: Relationship context; episode contex, self context dan archetype
context.

Relativisme Kebahasaan
Teori ini cukup populer dan banyak dirujuk. Penting artinya bagi calon sarjana
komunikasi memahami teori ini. Teori ini sebenarnya kembali membahas antara
realitas dan bahasa. Bagaimana realitas itu dipresentasikan atau direfleksikan melalui
penggunaan bahasa. Teori ini menyatakan bahwa struktur bahasa dalam suatu
budaya tertentu menentukan perilaku dan pola pikir masyarakatnya. Sebagai contoh,
bagaimana struktur bahasa Jawa. Secara jelas perilaku orang Jawa dan pola pikirnya
dipengaruhi oleh struktur bahasa yang digunakan. Ada pandangan pula karena
stukutr bahasa ini, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menentukan perilaku dan
cara berpikirnya. Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal tenses, yang dapat
membedakan gambaran situasi dan konteks yang dihadapi. Dalam bahasa Jawa,
konteks jauh lebih penting dibandingkan hal-hal yang eksplisit. Semua ini dipengaruhi
oleh struktur bahasa. Bahasa sendiri dipandang sebagai cermin realitas. Tetapi
ternyata realitas yang dibentuk dalam interaksi sosial manusia ditentukan oleh
struktur bahasa yang dibangun oleh masyarakat budaya tersebut.

Etnografi Komunikasi
Etnografi merupakan deskripsi budaya. Keinginan untuk mengetahui suatu budaya
yang tadinya sama sekali tidak dipahami, menjadi diketahui karena pekerjaan yang
dilakukan peneliti melalui pendekatan etnografi. Peneliti memasuki suatu budaya
yang ingin di dalaminya. Untuk keperluan itu, tidak cukup di dalam pengamatannya
dilakukan dengan cara berjarak. Ia harus berada dalam ranah experience near dan
experience-distance. Peneliti harus secara silih berganti dalam dua posisi itu, sehingga
ia dapat menangkap perilaku budaya, nilai-nilai, norma, keyakinan-keyakinan, dan
kebiasaan-kebiasaan yang mereka anut, dengan turut hadir di tengah-tengah mereka,
pada kali waktu yang lain, melakukan pengamatan berjarak.

Ini dilakukan agar ia mendapatkan makna yang genuine dari suatu budaya tertentu.
Nah dari penjelasan ini, etnografi komunikasi merupakan penerapan metode tersebut
untuk mengetahui pola-pola dan peristiwa-peristiwa komunikasi dalam suatu budaya
tertentu, seperti cara berbicara, kompetensi komunikasi dalam budaya tertentu,
ujaran-ujaran, konteks budaya, rules baik yang contitutive atau pun regulative
Teori-Teori Interpretatif dan Kritikal
Ada perbedaan nyata antara teori-teori interpretatif dengan teori-teori Kritikal dalam
bidang kajian komunikasi. Teori-teori Interpretatif dalam bidang komunikasi memberi
perhatian pada cara-cara kita memaknai peristiwa komunikasi, termasuk di dalamnya
memaknai suatu teks tertentu. Interpretasi menjadi hal utama dan menjadi ciri pokok
dalam pemikiran interpretatif. Menemukan makna dalam peristiwa komunikasi
diperlukan agar kita mengerti dan memahami segi manusiawi yang dirasakan
sehingga kita bisa tepat dan benar di dalam berinteraksi. Sedangkan pemikiran Kritikal
melihat bahwa hubungan-hubungan sosial yang terjadi, pada umumnya tidak setara
dan adil. Dalam relasi sosial apa pun selalu terjadi ketidakseimbangan peran dan
posisi yang menjadikan ada yang tertindas atau terekploitasi. Oleh karena itu, tujuan
utama pemikiran Kritikal ingin membangun kesadaran dan perubahan terhadap
relasi-relasi sosial yang dirasa tidak manusiawi tersebut.

Kelompok Teori Interpretatif


Seperti yang sudah disampaikan teori-teori interpretatif memberi perhatian pada
pemaknaan terhadap peristiwa komunikasi, perilaku komunikasi dan termasuk teks.
Teori-teori ini cukup beragam. Untuk itu perlu kejelian dalam melihat apakah suatu
teori berada dalam ranah teori interpretatif atau bukan. Berikut ini beberapa aliran
pemikiran yang masuk di dalam kelompok ini:

a. Fenomenologi
Fenomenologi merupakan studi yang menempatkan pengalaman diri secara
langsung dan kesadaran diri, menjadi sumber penemuan “kebenaran”
pengetahuan. Dalam pandangan teori ini, kebenaran dan interpretasi itu
diperoleh melalui pengalaman langsung dan kesadaran diri. Seperti yang
diungkapkan oleh Maurice Marleu Ponty. Ia mengatakan bahwa seluruh
pengetahuan saya tentang dunia bahkan pengetahuan ilmiah saya diperoleh
dari sudut pandang saya sendiri.

b. Hermeneutik
Seperti halnya dengan fenomenologi, hermeneutik merupakan kajian yang
melihat persoalan pemaknaan tindakan komunikasi dan teks, atau hubungan
antara tindakan komunikasi dan teks. Ada banyak pendekatan yang bisa
dicermati semacam cabang-cabangnya. Seperti kajian teks keagamaan yang
disebut sebagai exegesis. Interpretasi terhadap makna teks karya sastra yang
disebut sebagai philology. Hermeneutik sosial yang memfokuskan pada makna
dari tindakan komunikasi di dalam masyarakat. Ada pula hermeneutik filosofi
yang menekankan pada kajian tentang pemaknaan itu sendiri. Secara umum
pendekatan hermeneutik ini dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian besar,
yakni: Pertama, mereka yang mengkaji interpretasi tindakan dalam suatu
konteks tertentu; kedua, mereka yang mengkaji teks terlepas dari konteks di
mana teks tersebut dibuat dan dikonsumsi; dan ketiga mereka yang mengkaji
persoalan filsafati tentang pemahaman itu sendiri.

Teori-Teori Interpretasi dan Tokoh-Tokoh


Bila ditelusuri cukup banyak teori Interpretasi dan tokoh-tokohnya. Untuk
kepentingan Inisiasi ini akan dicukilkan beberapa teori dan tokohnya yang memiliki
relevansi dan cukup luas dikenal, baik di kalangan ilmu sosial atau pun di kalangan
akademisi dalam bidang komunikasi. Berikut teori dan tokoh-tokohnya:

1. Teori Interpretasi Sosial-Alfred Schutz


Proses interpretasi yang dilakukan Schutz sangat menarik. Ia meneliti kejadian
sosial berdasarkan pada perspektif orang yang berada di dalam peristiwa itu.
Asumsi yang dibangun Schutz adalah pertama, realitas dan struktur kehidupan
dipandang konstan. Kedua, kebanyakan orang merasa bahwa pengalaman
mereka terhadap kehidupan adalah valid. Ketiga, kebanyakan orang merasa
bahwa persepsi yang dimiliki adalah akurat. Schutz kemudian menunjukkan
bahwa Realitas, jika disaring melalui situasi biografis saya, akan menjadi
realitas saya. Apa artinya, adanya pengalihan dari realitas objektif menjadi
realitas subjektif, menjadi miliknya sendiri. Schutz ingin mengatakan bahwa
apa yang nyata bagi kita tergantung pada kategori yang digunakan untuk
mengkonseptualisasikan pengalaman. Jadi pemaknaan bisa menjadi berwarna
warni karena adanya pengalihan realitas objektif itu ke realitas subjektif.

2. Teori Intepretasi Tekstual-Paul Ricour


Ricour menempatkan teks jauh lebih penting dan menarik untuk dilakukan
interpretasi atas makna yang dihasilkan. Tanpa mengesampingkan bahwa
percakapan langsung sebagai sesuatu yang penting, dan penggunaan kata
dalam percakapan langsung, juga dapat menimbulkan makna yang bersifat
polisemik, Ricour melihat teks yang terpisah dari konteks di mana percakapan
langsung jauh lebih kompleks dan rumit. Teks memiliki umur yang lebih lama.
Interpretasi terhadap teks tetap dapat dilakukan tanpa melihat konteks di
mana teks tersebut diproduksi. Hubungan antara teks dan pembacanya juga
dapat menimbulkan interpretasi yang menarik dan luar biasa.

3. Teori Interpretasi tentang Keberadaan-Gadamer


Dalam pandangan Gadamer, orang tidak pernah bisa dilepaskan dari teks.
Karena hal itu, maka orang pasti terlibat dalam menganalisis dan
menginterpretasikannya. Namun dalam pandangan Gadamer, interpretasi itu
sendiri adalah bagian esensial dari “being”- untuk menjadi. Pada umumnya
orang memahami pengalaman dari praduga. Pengamatan, penalaran, dan
pemahaman tidak akan pernah objektif murni, semua akan diwarnai oleh
horison dari orang tersebut, perjalanan biografinya, sejarah, dari masa lalu,
kini dan proyeksi akan datang. Dalam pandangan Gadamer, pengalaman
menyatu dengan bahasa. Ia mengatakan bahwa identitas dari makna ada di
dalam kata itu sendiri. Dengan demikian, Gadamer menyamakan bahwa
bahasa adalah realitas itu sendiri.

Teori-Teori Kritikal
Teori-teori Kritikal pada umumnya berusaha bergerak lebih jauh, tidak hanya pada
upaya untuk melakukan interpretasi, melainkan menunjukkan adanya relasi sosial
yang tidak adil dan adanya dominasi. Dalam perspektif ini, ada keinginan untuk
membangun kesadaran dan melakukan perubahan terhadap relasi sosial yang tidak
adil dan menindas tersebut.

a. Teori-teori Feminis
Pemikiran teori-teori Feminis didasarkan pada pemahaman tentang relasi laki-
laki dan perempuan. Umumnya pemikiran ini dipaparkan di bawah konsep
Gender. Gender merupakan pemikiran yang menjelaskan adanya variasi relasi
antara laki-laki dan perempuan, terutama terhadap peran dan hak-hak serta
kewajibannya. Secara umum, dalam pandangan ini, peran perempuan seperti
yang digambarkan dalam peran domestik, seperti menyapu, mencuci,
memasak adalah kodrat perempuan. Dalam pandangan Gender, ini bukan
kodrat tetapi dikonstruksi oleh laki-laki. Banyak peran-peran perempuan
bukan merupakan peran perempuan saja, melainkan laki-laki pun juga bisa
melakukan. Pandangan inilah yang menjadi dasar dari teori-teori Feminis.
Aliran pemikiran Feminis ini sendiri cukup beragam. Menjadi tugas Saudara
untuk meneliti lebih jauh ragam pemikiran feminis ini
b. Muted Group Theory
Teori menjelaskan bahwa perempuan sebagai kelompok bungkam (bisu)
bukan karena tidak memiliki kemampuan berbicara, tetapi karena dibungkam
oleh dominasi laki-laki. Akibatnya dalam forum-forum publik, perempuan
merasa kurang nyaman dan bebas dalam berkomunikasi. Bahkan dalam cara-
cara tertentu, perempuan mesti menggunakan cara-cara laki-laki dalam
berkomunikasi. Dari situasi semacam ini, perempuan kemudian mengambil
cara berkomunikasi sendiri, misalnya dengan memanfaatkan buku harian,
membuat puisi atau coretan-coretan lain. Fenomena ini dipandang sebagai
akibat dominasi laki-laki terhadap perempuan dalam cara-cara berkomunikasi.

c. Pemikiran Frankfurt School


Frankfurt School populer digunakan untuk menunjuk sejumlah pemikiran dari
tokoh-tokoh seperti Max Horkhiemer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan
lainnya. Pemikiran-pemikiran mereka dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx
sehingga mereka dikenal dengan pemikirannya yang Marxis. Pada umumnya
pemikiran mereka melihat relasi kuasa. Dalam istilah Marx hubungan antara
kaum Borjuis dengan kaum proletar. Poinnya adalah mereka melihat adanya
relasi-relasi yang tidak adil yang bermotifkan ekonomi sehingga pemikiran Karl
Marx ini dikenal juga dengan pemikiran yang Economics Deterministics.
Semua relasi sosial yang tidak adil dan manusiawi disebabkan adanya motif-
motif ekonomi yang ingin dikuasai atau dilanggengkan.

d. Pragmatics Universal
Dalam pemikiran ini ada tiga hal penting yang ada di dalam masyarakat.
Pemikir dari teori ini adalah Jurgen Habermas. Ia mengatakan bahwa di dalam
masyarakat terdapat tiga hal penting, yakni persoalan teknis, persoalan
interaksi dan persoalan power. Misalnya seorang Rektor ingin memajukan
perguruan tinggi yang dipimpinnya menjadi perguruan tinggi berkelas
internasional. Untuk memajukan itu, maka Rektor tersebut membenahi
lingkungan, melengkapi ruang perkuliahan maju dan modern,
mengembangkan sistem di perpustakaan, membeli alat transportasi,
menambah daya listrik, dan sebagainya. Dalam pandangan Habermas,
persoalan yang baru diselesaikan baru tahap persoalan teknis. Sedangkan
persoalan interaksi belum. Persoalan interaksi jauh lebih kompleks
dibandingkan dengan persoalan teknis. Karena persoalan ini menyangkut
hubungan manusia dengan manusia, yang dimensinya sangat kompleks.
Kegagalan di dalam menyelesaikan persoalan interaksional, maka langkah
teknis tadi menjadi tidak ada artinya jika komitmen karyawan rendah,
kerjasama antara bidang satu dengan yang lain diwarnai konflik, adanya
kecurigaan, rendahnya penghormatan, rendahnya perhatian satu sama lain.
Persoalan ketiga adalah persoalan power, yakni menyangkut kewenangan dan
otoritas. Power relations menimbulkan hubungan satu dengan yang lain
dalam tataran yang tidak sama. Ini juga menimbulkan masalah tersendiri.
Melalui pandangan itu, Habermas ingin mengatakan bahwa tiga hal tersebut
sangat krusial yang akan menentukan kemajuan suatu masyarakat.

DISKUSI 8
Apa yang disajikan dalam inisiasi 8 dapat dikatakan cukup banyak dan luas, bahkan
banyak segi yang belum sempat dipaparkan. Sebab, ada tiga hal besar yang disajikan
di bagian ini sekaligus. Oleh karena itu, untuk menutup kekurangan itu, mari kita
diskuiskan hal-hal yang dirasa masih perlu diperdalam. Saudara dapat bertanya,
menyatakan pikiran, berbagi pemahaman. Pendek kata, Diskusi, kita gunakan untuk
mempertajam dan memperluas pemahaman kita terhadap teori-teori konstruksi
realitas sosial, teori-teori dengan pendekatan interpretif dan teori-teori Kritikal.

Soal-Soal
1. Tiga hal penting dalam pemikiran Jurgan Habermas tentang Pragmatics
Universal:
A. Teknis, Interaksi dan Power
B. Kerja, Hasil dan Kepuasan
C. Power, interaksi dan relasi
D. Power, Interaksi dan Responsible
2. Gagasan pokok yang ada di dalam Muted Group Theory
A. Keserasian relasi antara perempuan dan laki-laki
B. Ketidakmampuan perempuan berkomunikasi secara lugas karena
dominansi laki-laki kepada mereka
C. Perlawanan perempuan untuk bersuara terhadap dominasi laki-laki
D. Gerakan emansipasi wanita
3. Pokok gagasan dari Teori Interpretasi Teks Paul Ricour yakni:
A. Ricour melihat teks yang terpisah dari konteks di mana percakapan
langsung , jauh lebih kompleks dan rumit
B. Hubungan teks dengan pengarangnya
C. Hubungan teks dengan asal usul bagaimana diciptakan
D. Hubungan teks dengan tindakan sosial
4. Relativisme Linguistik menjelaskan persoalan kebahasaan dan realitas,
utamanya tentang:
A. Bahasa merupakan realitas itu sendiri
B. Struktur bahasa menentukan perilaku dan cara berpikir masyarakat
C. Bahasa merupakan sistem simbol terpenting bagi masyarakat
D. Bahasa digunakan untuk mengkonstruksi realitas
5. Salah satu ciri dari teori-teori Kritikal dalam bidang komunikasi adalah:
A. Membicarakan tentang ekonomi dalam bidang komunikasi
B. Fokus kajian pada bidang media
C. Mencirikan adanya keberpihakan yang dtujukan bagi perubahan sosial
D. Dipeolpori oleh pemikirannya Paul Lazarfeld

Jawaban-Jawaban
1. (A) Persoalan teknis, persoalan interaksi dan persoalan power
2. (B) Cukup Jelas
3. (A) Cukup jelas
4. (B) Struktur bahasa menentukan perilaku dan cara berpikir masyarakat
5. (C). Cukup jelas