Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.

)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

Pertumbuhan Bibit Karet (Hevea brasiliensis Mull Arg.) Setelah Pemberian


Beberapa Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Indigineous Dari Hutan
Pendidikan Dan Penelitian Biologi (HPPB) Universitas Andalas Padang

Growth of Rubber Seedling (Hevea brasiliensis Mull Arg.) inoculated using


Indigineous Arbuscular Mycorrizhal Fungy (AMF) from Biology Forest Research
Center (BFRC) Andalas University Padang

Akhyar Salim *), Zozy Aneloi Noli dan Suwirmen

Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Andalas, Kampus UNAND
Limau Manis Padang – 25163
*)Koresponden : akhyarsalim@gmail.com

Abstract

An experimental study on the growth of rubber seedling (Hevea brasiliensis Mull Arg.) after
inoculated with various doses of indigineous Arbuscular Mycorrizhal Fungy (AMF) from
Biology Forest Research Center (FRCB) Andalas University Padang has been done from
February to September 2013 in wire house and Plant Physiology Laboratory, Biology
Department, Andalas University, Padang. The study aimed to find appropriate doses of
indigineous Arbuscular Mycorrizhal Fungy (AMF) to growth rubber seedling. The experimental
used Completely Randomized Design (CRD) with four treatments (control, 10, 20, and 30 g
inoculants) and six replications. The results showed that 10 g inoculant gave significant effect to
growth and dry weight of rubber stem due to high percentage of root infection. However rubber
assosiatian with mycorrizha are less dependency.

Keywords : rubber, AMF, inoculant, seedling growth

Pendahuluan (Boerhendhy dan Amypalupy, 2006). Salah


satu strategi untuk meningkatkan ketahanan
Tumbuhan karet (Hevea brasiliensis Mull bibit karet yang dipindahkan ke lapangan
Arg.) merupakan tanaman perkebunan yang adalah membekali bibit dengan mikoriza.
berperan sangat penting dalam Pemberian atau pembekalan bibit karet
perekonomian nasional, antara lain sebagai dengan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta dapat meningkatkan dan mempertahankan
petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga pertumbuhan pada kondisi tanah yang tidak
kerja lainnya (Ditjenbun, 2005). Saat ini ideal (Yuleli, 2009).
karet banyak digunakan untuk berbagai Hutan Pendidikan dan Penelitian
kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah Biologi memiliki FMA indigineous yang
tangga hingga industri. Pemanfaatan terbukti mampu meningkatkan
lainnya dapat digunakan sebagai kayu api pertumbuhan tanaman. Penelitian mengenai
dan bahan untuk membuat patung dan isolasi dan potensi FMA juga telah
furnitur (Suhono dan Tim Penulis LIPI, dilakukan oleh Contessa (2012). Dari hasil
2010). penelitian tersebut didapatkan isolat unggul
Secara umum permasalahan utama tanaman pionir di HPPB dari genus
perkebunan karet adalah masih rendahnya Glomus, Sclerocystis, Acaulospora dan
produktivitas tanaman karet (Departemen Gigaspora yang terbukti dapat
Pertanian, 2007; Azwir et al., 2012) dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
tingginya tingkat kematian bibit setelah Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
beberapa saat tanam di lapangan

Accepted: 27 November 2014


32
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

dosis FMA indigineous di HPPB yang terdiri dari akar, batang dan daun dipotong-
sesuai untuk pertumbuhan bibit karet. potong. Sampel tersebut ditimbang dengan
timbangan digital dan dibungkus dengan
Metode Penelitian kertas koran kemudian dimasukan ke dalam
oven pada suhu 800 C selama 2 x 24 jam
Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai beratnya konstan. Pengamatan
sampai September 2013 di Rumah Kawat Mycorrizhal dependency dihitung
dan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan menggunakan rumus (Habte and
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Manjunath, 1991).
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Andalas Padang. Penelitian ini Analisis Data
menggunakan metode Rancangan Acak Analisis data dilakukan terhadap rata-rata
Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan pertambahan tinggi tanaman, rata-rata
dan enam kali ulangan. Perlakuan terdiri pertambahan jumlah daun, dan bobot kering
dari tanpa inokulan (kontrol), inokulan 10 tanaman dengan menggunakan analisis
g, 20 g dan 30 g/polybag. sidik ragam. Bila pengaruh perlakuan
berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji
Cara Kerja lanjut DNMRT pada taraf 5%. Analisis
Inokulasi dilakukan dengan cara setengah Data persentase bibit yang hidup, derajat
media tanam yang terdiri dari tanah kebun infeksi akar dan ketergantungan tanaman
dan pupuk NPK terlebih dahulu di terhadap mikoriza disajikan dengan cara
masukkan kedalam polybag ukuran 10 kg, deskriptif.
setelah itu bibit karet dimasukkan kedalam
polybag, dilanjutkan dengan pemberian Hasil dan Pembahasan
inokulan pada lubang tanam, kemudian
setengah dari sisa media tanam dimasukkan Persentase Bibit yang Hidup
kedalam polybag untuk menutupi bibit yang Persentase bibit karet yang hidup dapat
sudah diinokulasi. dilihat pada Tabel 1
Pengamatan persentase bibit hidup
dilakukan setelah bibit berumur delapan Tabel 1. Persentase bibit yang hidup setelah
belas minggu. Pertambahan tinggi tanaman delapan belas minggu diinokulasi dengan
menggunakan alat ukur dan pertambahan perlakuan beberapa dosis inokulan
jumlah daun dilakukan sekali dua minggu. Dosis Inokulan FMA (g) Persentase hidup (%)
Perhitungan persentase infeksi FMA 0 100
dilakukan pada akhir pengamatan dengan 10 100
cara sampel akar dibersihkan dari tanah, 20 100
akar tanaman yang muda diambil dan 30 100
dipotong 1 cm untuk masing-masing
sampel setelah itu Potongan akar Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa
dimasukan ke dalam botol film yang berisi persentase bibit karet yang hidup setelah
larutan KOH 10% sampai terendam dan delapan belas minggu pengamatan pada
diinkubasi selama 24 jam, kemudian dibilas masing-masing perlakuan adalah 100
dengan aquadest lalu potongan akar persen. Perlakuan dosis inokulan yang
direndam dengan HCL 2% selama 3 menit diberikan tidak memberi pengaruh terhadap
hingga perakaran terlihat bersih kemudian persentase bibit hidup karet karena
diberi pewarna staining dan dibiarkan pemberian FMA dan tanpa pemberian FMA
selama 24 jam setelah itu dibuang larutan pada bibit karet memiliki persentase hidup
tersebut dan diganti dengan larutan yang sama. Hal ini dikarenakan tanaman
distaining kemudian potongan akar diamati karet merupakan tanaman yang memiliki
dibawah mikroskop. daya hidup tinggi pada berbagai kondisi
Penghitungan bobot kering lingkungan. Heru dan Andoko (2008)
dilakukan pada akhir pengamatan dengan menyatakan bahwa, tanaman karet
cara sampel berat basah tanaman yang merupakan tanaman yang relatif toleran
33
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

terhadap tanah yang kurang subur, curah Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun
hujan dan suhu harian yang tidak menentu Rata-rata pertambahan tinggi tanaman dan
dan memiliki tingkat toleran yang tinggi jumlah daun bibit karet dapat dilihat pada Tabel
terhadap hama dan penyakit. 2.

Tabel 2. Rata-Rata Pertambahan Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun bibit karet yang diinokulasi dengan
Beberapa Dosis FMA

Dosis Inokulan FMA (g) Pertambahan tinggi tanaman (cm) Pertambahan jumlah daun (helai)

0 9.9 a 1.53 a
10 20.6 b 1.95 a
20 7.4 a 1.45 a
30 9.4 a 1.34 a
Keterangan: Perlakuan yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama, berbeda nyata pada
Uji taraf 5 %

Hasil analisis sidik ragam daun. Hal ini diduga dikarnenakan


menunjukkan bahwa pemberian dosis lambatnya pertumbuhan daun pada tanaman
inokulan FMA memberikan pengaruh yang ini. Tanaman perkebunan memerlukan
berbeda nyata pada pertambahan tinggi waktu sekitar enam bulan untuk melihat
tanaman dan tidak berbeda nyata pada pengaruh FMA terhadap pertambahan
pertambahan jumlah daun. Dosis inokulan biomassa tanaman (Setiadi, 2001).
FMA sebanyak 10 g memberikan pengaruh Pada pertambahan tinggi batang,
yang berbeda nyata terhadap pertambahan pemberian dosis 10 g FMA pada bibit karet
tinggi tanaman dibandingkan dengan sudah memberikan pengaruh pada awal
perlakuan lain. Hal ini diduga karena dosis pengamatan dan dua pengamaan setelahnya
yang optimum yang dibutuhkan untuk dan meningkat sangat signifikan pada
tanaman karet adalah 10 g/bibit dan pengamatan keenam dan setelahnya. Hal ini
tingginya infeksi FMA terhadap akar pada diduga asosiasi pada dosis ini sudah terjadi
dosis ini. Jumlah dan tingkat infeksi spora dengan baik terhadap pemberian FMA
yang diinokulasi merupakan faktor yang sehingga mampu memacu pertumbuhan
mempengaruhi pertumbuhan dan pada bibit karet. Pada pertambahan jumlah
perkembangan mikoriza serta daun bibit karet, pemberian inokulan FMA
mempengaruhi hubungannya dengan pada setiap satu kali pengamatan tidak
tanaman. Perbedaan respon tanaman meberikan pengaruh yang signifikan
terhadap FMA erat hubungannya dengan terhadap semua pemberian dosis. Hal ini
tingkat infeksinya. Respon FMA dengan diduga dosis FMA yang diberikan belum
tanaman semakin meningkat sejalan dengan mampu mamacu pertumbuhan daun karet
bertambahnya tingkat infeksi FMA pada dalam rentang waktu penelitian. Pengaruh
akar tanaman (Farda, Syarif dan Kasli, pemberian inokulan FMA terhadap
2012). pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah
Pada Tabel 2 juga dapat diketahui daun bibit karet dalam waktu pengamatan
bahwa tidak terdapat perbedaan yang satu kali dua minggu dapat diliha pada
signifikan terhadap pertambahan jumlah gambar berikut ini.
34
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

Gambar 2. Pertambahan Tinggi Tanaman karet yang di inokulasi beberapa dosis FMA selama
delapan belas minggu pengamatan. A. Tanpa inokulasi, B. 10 g, C. 20 g, D. 30 g per
tanaman.

Gambar 3. Pertambahan Jumlah Daun tanaman karet yang di inokulasi beberapa dosis FMA selama
delapan belas minggu pengamatan. A. Tanpa inokulasi, B. 10 g, C. 20 g, D. 30 g per
tanaman.

Persentase Derajat Infeksi Akar Bibit dengan perlakuan beberapa dosis inokulan
Persentase derajat infeksi akar bibit karet FMA dapat dilihat pada Tabel 3.
setelah delapan belas minggu diinokulasi

Tabel 3. Derajat Infeksi FMA pada Akar Tanaman Karet Pada Dosis Berbeda
Dosis Inokulan FMA (g) Derajat infeksi akar (%) Kriteria
0 51 Tinggi
10 83 Sangat tinggi
20 58 Tinggi
30 53 Tinggi
35
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa Kecocokan antara FMA dengan


dosis 10 g merupakan dosis yang sangat tanaman inang juga dipengaruhi oleh jenis
tinggi derajat infeksinya terhadap akar bibit FMA yang digunakan. Mikoriza
karet dibandingkan dengan dosis lainnya. indigineous merupakan mikoriza yang
Hal ini diduga bahwa dosis 10 g meruakan memiliki potensi yang tinggi untuk
dosis optimum dan cocok yang dibutuhkan membentuk infeksi yang intensif karena
oleh bibit karet untuk bersimbiosis dengan dapat mengenali tanaman inangnya secara
FMA karena tidak mengakibatkan cepat, sehingga FMA indigineous akan
persaingan antar FMA untuk mendapatkan lebih baik perananya dalam memacu
hara dari tanah sebelum menginfeksi akar. pertumbuhan tanaman dari pada FMA
Menurut Farda, Syarif dan Kasli (2012) introduksi (Delvian 2006).
jumlah spora tidak berkorelasi dengan
tingkat infeksi FMA pada akar tanaman. Bobot Kering Tanaman
Jumlah spora yang banyak belum tentu Pengaruh pemberian FMA terhadap bobot
menginfeksi akar dengan tinggi karena kering tanaman bibit karet setelah delapan
tingkat infeksi ditentukan oleh kecocokan belas minggu pengamatan disajikan dalam
FMA dengan tanaman, ketersediaan hara bentuk Tabel 4.
dalam tanah dan keberadaan FMA alami
pada tanaman.

Tabel 4. Bobot Kering Bibit Karet yang Diinokulasi Selama Delapan Belas Minggu dengan Beberapa
Dosis Inokulan
Dosis Inokulan FMA (g) Rata-rata Bobot Kering
Daun Batang Akar
0 1,59 a 1,26 a 1,28 a
10 1,91 a 1,60 b 1,48 a
20 1,82 a 1,14 a 1,26 a
30 1,92 a 1,36 a 1,29 a

Keterangan: Perlakuan yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata
pada Uji taraf 5%, perlakuan yang diikuti oleh huruf berbeda pada kolom yang sama
berbeda nyata pada Uji taraf 5%

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan daun dan akar. Hal ini diduga dikarenakan
bahwa pemberian dosis inokulan FMA pertambahan bobot kering tanaman seiring
memberikan pengaruh yang nyata terhadap dan dipengaruhi oleh pertumbuhan organ
bobot kering batang bibit karet. Hal ini vegetatif dari tanaman. Goldsworthy dan
didukung oleh hasil penelitian ini yaitu, Fisher (1992) menyatakan bahwa bobot
pertambahan pertumbuhan tinggi batang kering tanaman yang dihasilkan pada
yang optimum terjadi juga pada dosis 10 g. pertumbuhan didukung oleh pertumbuhan
Tanaman yang diinokulasi FMA akan lebih organ vegetatif tanaman. Pertumbuhan
baik pertumbuhan dan biomassanya karena tanaman akan lebih baik jika tanaman
dapat memfasilitasi perbaikan unsur hara membentuk asosiasi dengan FMA yang
tanaman sehingga tanaman mampu tumbuh cocok dibandingkan dengan tanaman yang
lebih baik dari pada tanaman tanpa tidak berasosiasi.
bermikoriza (Danu et al., 2012).
Pada penelitian ini pemberian Ketergantungan Terhadap FMA
beberapa dosis FMA belum memberi Kriteria ketergantungan bibit karet terhadap
pengaruh yang nyata terhadap bobot kering FMA disajikan dalam Tabel 5
36
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

Tabel 5. Ketergantungan Bibit Karet Yang Diinokulasi Selama Delapan Belas Minggu dengan Beberapa
Dosis Inokulan

Dosis Inokulan FMA (g) Mycorrihizal dependency (%) Kriteria


10 16,93 Kurang
20 2,13 Kurang
30 9,84 Kurang

Keterangan: Pada penelitian ini ketergantungan tanaman terhadap mikoriza dibandingkan dengan
tanaman kontrol

Tabel 5 menunjukkan kurangnya Melalui Penggunaan Bahan Tanam,


ketergantungan tanaman terhadap mikoriza. Pemeliharaan, Sistem Eksplotasi dan
Kurangnya ketergantungan tanaman Peremajaan Tanaman. Jurnal
terhadap FMA menandakan bahwa tanaman Litbang Pertanian 30 (1): 23-30.
karet akan mampu tumbuh meskipun tanpa Contessa, E. 2012. Isolasi dan Potensi
adanya FMA. Inokulasi dengan dosis 10 g Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
memiliki persentase ketergantungan Indegienus dari Tanaman Pionir Di
tertingg hal ini diduga karena dosis 10 g Hutan Pendidikan dan Penelitian
merupakan dosis terbaik untuk Biologi (HPPB) Universitas Andalas
pertumbuhan bibit karet dibandingkan dosis Padang. Tesis Pasca Sarjana
lainnya. Program Studi Jurusan Biologi
Universitas Andalas. Padang. Tidak
Kesimpulan Dipublikasikan.
Danu, F. T,. Husna,. Arif, A dan Mansur, I.
Berdasarkan penelitian yang telah 2012. Pupuk Hayati Mikoriza Untuk
dilakukan dapat disimpulkan bahwa dosis Budidaya dan Rehabilitasi wilayah
FMA Indegineous HPPB yang sesuai untuk pantai. Bogor. SEAMEO BIOTROP
pertumbuhan bibit karet adalah 10 g/bibit. Delvian. 2006. Peranan Ekologi Dan
Pertumbuhan bibit karet dan jumlah daun Agronomi Cendawan Mikoriza
pada dosis 10 g lebih cepat dibandingkan Arbuskula. Departemen Kehutanan.
dengan dosis lainnya. Rata-rata bobot Fakultas Pertanian. Universitas
kering batang, daun dan akar lebih tinggi Sumatera Utara. Medan.
pada dosis 10 g dibandingkan dengan dosis Departemen Pertanian. 2007. Prospek dan
lainnya. Arah Pengembangan Agribisnis
Karet Edisi kedua. Badan Penelitian
Ucapan Terima Kasih dan Pengembangan Pertanian.
Ucapan terima kasih M. Idris M.Si, Jakarta.
Dr.phill.nat. Nurmiati, Dr. Nurainas, M.Si Direktorat Jenderal Perkebunan
yang telah memberikan masukan dalam [Ditjenbun]. 2005. Statistik
penelitian dan penyelesaian artikel ini. Perkebunan. Ditjenbun. Jakarta
Farda, E. H., Syarif, A., Kasil. 2012.
Daftar Pustaka Mikoriza Sebagai Pendukung Sistem
Pertanian Berkelanjutan dan
Azwir, N. Hasan., Buharman., Ismon dan Berwawasan Lingkungan. Andalas
Yunasri. 2012. Kajian Pengaruh University Press. Padang
Penggunaan Bibit Karet Cabutan Goldsworthy, P. R. and N. M. Fisher. 1992.
(seddling) dan Klonal (okulasi) Fisiologi Tanaman Budidaya
Terhadap Pertumbuhan dan Tropik. Gadjah Mada Press.
Produksi Lateks Pada Perkebunan Yogyakarta
Rakyat Di Sumatera Barat. BPTP Habte, M. and A. Manjunath. 1991.
Sumbar. Padang. Categories of vesicular arbuskular
Boerhendhy, I dan K. Amypalupy. 2010. mycorrihizal dependency of host
Optimalisasi Produktivitas Karet spesies. Mycorrihiza 1 (1) : 3-12.
37
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 31-37 (ISSN : 2303-2162)

Heru, D.S dan Andoko, A. 2008. Petunjuk Suptiyanto, J. 2010. Pengembangan Usaha
Lengkap Budi Daya Karet. Agro Agribisnis Perdesaan (PUAP)
Media Pustaka. Jakarta. Provinsi Jambi. Balai Pengkajian
Setiadi, Y. 2001. Optimalisasi Penggunaan Teknologi Pertanian (BPTP). Jambi
Mikoriza Arbuskula dalam Yuleli. 2009. Penggunanan Beberapa Jenis
Rehabilitasi Lahan-Lahan Kritis. Fungi Untuk Meningkatkan
Makalah disampaikan dalam rangka Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
“Workshop Mikoriza untuk di Tanah Gambut. Tesis Program
Pertanian Organik dan Rehabilitasi studi biologi Pascasarjana
Lahan Kritis” Balitsa, Lembang. 24- Universitas Sumatera Utara. Medan
29 April 2001. .http://repository.usu.ac.id/
Suhono, B. dan Tim Penulis LIPI. 2010 bitstream/123456789/5793/1/09E01
Ensiklopedia Flora 5. PT Kharisma 975.pdf. Diakses Tanggal 1 Maret
Ilmu. Bogor. 2012.