Anda di halaman 1dari 16

MENELISIK SEJARAH PENDEKATAN FEMINISME

DALAM ISLAM
Zulfikri1

Islam is as a rahmah religion, make a way for its people to follow revolution. In other
word, what we learn and we get in normative Islam, we should try to correlate it to the world
science historically, empirically, sociologically. We can see the revolution in appearing of
feminism approach. This approach grew up at previous year ago but this approach showed up
in Europe in 18-19 M with its own belief, liberal, radicalism, Marxis-Sosialis and
ekofeminism. In the next time, this approach is adopted and adapted and finally it can
influence Islam theology in early 20 century. Because of that, this approach gives any
influences to worldview, paradigm, moslem and it comes to Indonesia. The revolution of this
approach which is “legitimated” in term of any approaches in their own theories, and it makes
pro and contra side of moslem. In fact, feminism approach always develops and gives any
effect for moslem citizens. It makes moslem feminism and feminism Islam.

Key word : Islam, Aprroach, Feminisme, Gender, and Exegesis (Tafsir)

PENDAHULUAN
Penelitian merupakan suatu proses yang panjang, ia berawal pada minat untuk
mengetahui fenomena tertentu dan selanjutnya berkebang menjadi gagasan, teori, metode,
konseptualisasi, dan seterusnya. Hasil akhirnya akan melahirkan gagasan dan teori baru pula
sehingga merupakan suatu proses yang tiada henti. Salah satunya yang gagasan mengenai
seputar kajian-kajian perempuan, yang beberapa dekade belakangan ini terus mencuat.
Berbagai pro dan kontra muncul dari berbagi pihak. Persoalan perbedaan dapat dipertemukan
dengan persoalan indentitas.
Banyak perbincangan tentang feminisme ini didorong oleh keprihatinan terhadap
realitas kecilnya peran perempuan dalam kehidupan sosial-ekonomi, terlebih lagi dalam
aspek politik dibandingkan dengan kaum laki-laki. Umum diketahui peran perempuan selalu
didominasi oleh peran laki-laki yang itu bisa saja kaum perempuan melakukannya. Dominasi
laki-laki dalam peran publik dan dominastikasi perempuan bukanlah hal yang baru, namun
ini sudah berlangsung sepanjang sejaranh peradaban hingga mengakar di system kultur setiap
masyarakat individu.

1
Pengajar di STIT Diniyyah Puteri Rahmah El-Yunusiyyah Padang Panjang dan STAI-YDI Lubuk
Sikaping, zoulfikri@gail.co.id

1
Dalam upayanya untuk mencapai suatu kajian atau penelitian yang objektif
berdasarkan data-data, maka selain pendekatan sosiologi, antropologi dan fenomenologi,
rupanya pendekatan feminis ikut berperan serta dalam pembentukan masyarakat yang
heterogen ras, keyakinan, suku dll. Terkhusu Indonesia yang mayoritas pendudukanya
menganut Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan hadis. Dalam tema kali ini akan mengorek
sedikit mengenai pendekatan feminis dan aneka ideologis yang melatarbelakanginya, serta
seperti apa kontribusi pendekatan ini dilakukan dan apakah layak untuk di aplikasikan, yang
kesemuanya itu dapat kita coba tarik dalam ranah Islam (al-Qur’an). Semuanya akan dibahas
selanjutnya.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Feminisme
Para feminis berbeda pendapat mengenai pengertian feminisme. Hal ini disebabkan
feminisme tidak mengambil dasar konseptual dan teoritis dari rumusan teori tunggal, oleh
karena itu defenisi feminis selalu berubah-ubah sesuai dengan realitas sosio-kultural yang
melatarbelakanginya, tingkat kesadaran, presepsi, serta tindakan yang dilakukan oleh feminis
itu sendiri. Namun demikian untuk terbentuknya suatu pemahaman yang utuh, sejalan,
feminis mau tidak mau paling tidak harus didefenisikan.
Ada beberapa defenisi feminisme, diantaranya seperti menurut Kamla Bhasin
Akhmad dan Night Said Khan menjelaskan bahwa feminisme ialah ; adanya suatu kesadaran
akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat di tempat kerja dan
dalam keluarga serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah
keadaan tersebut2. Walaupun demikian ada juga dari kaum perempuan menolak gerakan
feminisme tersebut. Setidaknya ada dua alasan atas penolakan tersebut, pertama tidaklah
semua perempuan memahami secara utuh maksud dari feminisme tersebut atau bahkan keliru
memahaminya sehingga feminisme tersebut dianggap sebagai sebuah perjuangan yang
bersifat “anti laki-laki”, menentang kodrat sebagai perempuan,dll, kedua, penolakan tersebut
merupakn bagian dari manifestasi dari ketakutan akan adanya perubahan.
Sedangkan dalam pengertian lain, menurut Yunahar Ilyas feminisme dapat diartikan
sebagai kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam
keluarga maupun masyarakat serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk

2
Euis Amalia, “Feminisme ; Konsep, Sejarah dan Perkembangan” dalam Pengantar Kajian Gender,
(Jakarta: PSW UIN Syarif Hidayatullah & McGill-ICIHEP, 2003), hlm. 88.

2
mengubah keadaan tersebut.3 Walaupun para feminis memiliki tujuan yang sama tentang
adanya ketidakadilan gender4 terhadap perempuan, namun mereka berbeda pendapat dalam
menganalisis sebab-sebab ketidakadilan tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa feminisme tersebut ialah suatu aliran atau
gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan adanya penindasan terhadap
kaum perempuan dalam strata sosial masyarakat, baik yang berdasarkan doktrinitas agama,
serta adanya suatu tindakan kesadaran untuk mengubah hal tersebut, yang dilakukan secara
kelompok maupun secara individu, baik dari kaum perempuan maupun laki-laki.

B. Historisitas Kemunculan Feminisme Secara Umum


Ketika berbicara mengenai feminis, maka konstruk pemikiran yang berkembang ialah
adanya upaya untuk mengubah cara pandang, pola pikir seseorang, khususnya bila dikaitkan
dengan studi agama5, yang kemudian sering menimbulkan prasangka, stigma, stereotype
yang negatif. Istilah feminis dan konseptualisasi mungkin datang dari Barat bisa dibenarkan.
Gerakan ini bermula di Eropa dan Amerika Utara, dan ini terus berkembang yaitu dimulai
pada abad ke-18 dan 19, dan selanjutnya dimulai pada tahun 1960-an. Diantara tokohnya
yaitu Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis den Condorcet yang berjuang untuk
pendidikan perempuan. Gelombang feminisme pertama pada abad ke-18 dan 19 diletakkan
dalam konteks sejarah Revolusi Perancis, Industrialisasi, dan perang kemerdekaan Amerika
Utara yang semuanya telah membawa masalah untuk dan oleh perempuan6. Sedangkan di
Indonesia sendiri muncul pada abad ke-18, yang diprakarsai oleh RA Kartini melalui ide-ide
persamaan hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan. Para feminis sering
disebut dengan istilah “gelombang/wave” dan tak jarang menimbulkan
kontroversi/perdebatan. Mulai dari feminis gelombang pertama dari abad 18 sampai ke pra
1960, kemudian gelombang kedua setelah 1960, dan bahkan gelombang ketiga atau Post
Feminism.
Istilah feminis baru muncul pada tahun 1880 M, namun sebagai sebuah bangunan
teoritis, sebenarnya sudah ada sejak abad pertengahan. Pada saat itu telah terjadi debat publik

3
Yunahar Ilyas, Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an; Studi Pemikiran Para Mufassir, (Yogyakarta :
Labda Press, 2006). Hlm. 16.
4
Dalam kalangan feminis, istilah “gender” memiliki dua pengertian, pertama, gender dalam arti jenis
kelamin, namun yang lebih tepat dalam bahasa anatomi bilogis disebut dengan sex (jenis kelamin), kedua,
gender dalam artian non-biologis, yaitu suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-
laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Selengkapnya lihat Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan
Gender dalam al-Qur’an, (Jakarta : Paramadina, 2001). hlm. 35.
5
Rita M.Gross, Feminism and Religion, (USA : Beacon Press, 1996). hlm. 16.
6
Euis Amalia, “Feminisme ; Konsep, Sejarah,...hlm. 90.

3
yang cukup serius meski dilakukan oleh kaum laki-laki. Akan tetapi sebenarnya pada abad
ke-15 suara perempuan sudah mulai terdengar. Kemudian Ide tentang feminisme ini berlanjut
sampai abad ke-17, ini ditandai dengan gerakan protes sekuler yang dilancarkan oleh
kalangan feminis melalui tulisan-tulisan dengan nama samaran. Gerakan perempuan pada
abad ke-17 ini berbeda dengan sebelumnya karena; pertama, skala keterlibatan perempuan
yang cukup tinggi yang tidak pernah terjadi sebelumnya, kedua, gerakan ini muncul
bersamaan dengan perubahan yang sangat cepat dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik.
Dengan kondisi demikian bentuk gerakan feminis semakin intens berkembang.
Adanya perkembangan keilmuan lain seperti antropologi, sosiologi, dan filsafat, ini
sangat mempengaruhi gagasan feminis awal, lebih-lebih pada keilmuan filsafat Cartesian
yang beranggapan bahwa semua manusia diberi akal karena itu pengetahuan yang benar pada
prinsipnya dapat dicapai oleh semua orang. Selain itu juga pemikiran seperti Mary Astell
misalnya beranggapan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan nalar yang
sama. Pendapat ini sangat mungkin dipengaruhi oleh pemikiran filsafat yang berkembang
saat ini.
Kemudian berlanjut pada abad ke-18 wacana gerakan perempuan masih didominasi
oleh persoalan rasionalitas dan otoritas tradisional. Mereka menyadari bahwa dalam
perjalanan sejarahnya HAM dibarat lebih dirasakan oleh kaum laki-laki yang dianggap
makhluk rasional sehingga perempuan tidak diberikan hak-hak sebagai warga Negara
sebagaimana laki-laki.7 Berlanjut pada abad ke -19 hingga awal abad ke-20 (1870-1920) dan
pada pertengahan hingga akhir abad dua puluh (1960-an-1970-an) kegiatan feminis
khususnya periode pertama, kegiatan feminis sangat kuat di Amerika, di negeri-negeri Eropa
dimana protestan dominan, dan juga di Inggris di mana secara ekonomi dan industri lebih
maju. Kawasan-kawasan ini sangat menjadi daerah yang dipengaruhi feminisme, seiring
dengan perkembangan dibelahan negara lain.
Gerakan feminis pada abad 19 ini mulai terlihat lebih jelas. Revolusi Industri pada
masa ini mempercepat urbanisasi dan diferensi antara kelas. Diferensi ini mempunyai
dampak terhadap perempuan. Perempuan-perempuan kelas menengah secara hukum
tergantung sepenuhnya pada suami dan terikat dirumah. Hal itu muncul dari gagasan yang
berkembang dan dominan dipengaruhi oleh gagasan Mary Wollstonecraft dlam bukunya A
Vidication of the Right of Women (1792), buku ini sangat berpengaruh ketika abad ke-20
yang menekankan persamaan pembagian kerja tanpa memandang jenis kelamin atau

7
Euis Amalia, “Feminisme ; Konsep, Sejarah,.. hlm. 91.

4
mempersoalkan ketergantungan perempuan kepada laki-laki sebagai hasil pengkondisian
sosial dan alasan yang digunakan kaum laki-laki untuk membenarkan pengingkaran terhadap
hak-hak perempuan. Inilah yang disebut awal feminisme individualis, yang nantinya
melahirkan feminisme lain.
Munculnya feminisme sendiri agaknya tidak bisa dilepaskan dari konflik antara
kawan dan pencerah (baca; ilmuwan, para terpelajar dan pendeta, rahib). Zaman Pencerahan
yang mendorong orang untuk lebih menghargai rasionalisme, akal dan kemajuan sangat
menentang dominasi gereja. Inilah kemudian yang melahirkan sekularisme dan
antiklerikalisme pemikiran Pencerahan secara keseluruhan. Agama merupakan faktor yang
kuat dalam membentuk dan mengarahkan gerakan feminisme Amerika. Keterlibatan feminis
dengan agama pada abad ke-19 ini merupakan suatu bentuk yang tumpang tindih antara
ideologi gereja dan pembebasan itu sendiri. Namun ini mengilhami munculnya gerakan
feminis lain dengan berbagai tanggapan yang konservatif. Yang jelas proyek kritis para
feminis ini dimulai dengan pembahasan yang komprehensif dan mendalam terhadap teks-teks
misoginitas agama Barat8.
Pada awal abad-20 gerakan feminisme masih menekankan tuntutan yang sama dengan
masa sebelumnya. Kalangan feminis berusaha memasukkan ide bahwa perempuan juga
merupakan makhluk yang sama dengan laki-laki, dan mempunyai hak yang sama pula
dengan laki-laki. Asumsi dasarnya ialah tidak adanya perbedaan laki-laki dan perempuan
seperti halnya filsafat eksistensialisme, yang memberikan landasan teoritis akan kesamaan
laki-laki dan perempuan dalam potensi rasionalitasnya9, kemudian hal yang menarik dari
konsep teologi feminis Eropa adalah bahwa mereka bukan hanya sebatas menuntut
kesetaraan hak dengan kaum laki-laki, namun agar perempuan bisa terlibat aktif dalam
pembentukan teori teologis, dalam artian pemahamannya tentang teologi sebagai ilmu
pengetahuan dan pemahaman atas isinya.

C. Sejarah Gagasan Feminisme dalam Islam


Gerakan Feminisme lahir dari sebuah ide yang diantaranya berupaya melakukan
pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan
perempuan, sampai upaya penciptaan pembebasan perempuan secara sejati. Feminisme

8
Sue Morgan, “ Pendekatan Feminis” dalam Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama,
(Yogyakarta : LKiS, 2002). hlm. 71.
9
Euis Amalia, “Feminisme ; Konsep, Sejarah...hlm. 94.

5
adalah basis teori dari gerakan pembebasan perempuan, demi terciptanya nunasa yang
egaliter, dan adil di berbagai aspek dalm pranata sosial kemasyarakatan.
Berangkat dari gagasan ideologis “demokrasi dan “emansispasi” diatas, memberi
dampak bahkan suatu keniscayaan bagi umat Islam untuk menelaah kembali tentang posisi
perempuan yang telah termarginalkan, dengan kata lain adanya semacam “legalitas
interpretasi” dari teks-teks suci (baca al-Qur’an dan Hadis) yang dianggap “memihak” pada
jenis kelamin dan yang demikian dipertajam dengan pergesekan nilai-nilai budaya yang
hidup dalam suatu komunitas masyarakat tertentu, implikasi jauhnya ialah adanya sikap
pembatasan setiap gerak (intelektual, aspirasi, kehidupan) perempuan muslim di belahan
dunia. Hal semacam inilah agaknya bermula lahirnya para intelektual muslim yang berpikir
kritis kemudian merespon terhadap fenomena tersebut, ini ditandai munculnya atensi yang
deras dari intelek Mesir dengan cara belajar ke Eropa. Kemudian wacana-wacana yang
berkembang di eropa “diadopsi” yang kemudian dikembangkan dengan istilah “pembebasan
perempuan”, model istilah ini cepat berkembang ketika para perempuan menyadari akan
posisi yang dialaminya, sebagai akibat dari kolonialisme dan modernisme.
Bila diamati dalam Islam, sejarah feminisme tersebut bermula awal abad-abad 20.
walaupun tidak secara spesifik menggunakan istilah tersebut. Hal itu cukup tercover dalam
gagasan-gagsan yang dilahirkan oleh beberapa tokoh awalnya, yang merintis dalam
menumbuhkan kesadaran atas persoalan gender, termasuk dalam melawan kebudayaan
ideologi masyarakat yang hendak mengungkung kebebasan perempuan, diantara tokohnya,
seperti Aisyah Taimuriyyah, Zaynab Fawwaz (Mesir), Rokeya Sakhawat Hossain dan Nazzar
Sajjad Haidar (Lebanon), Sleian itu tokoh Indonesia yang terkenal yaitu R.A.Kartini, Taj al-
Shaltanah (Iran), Huda Sya’rawi, Nabawiyah10,dll.
Bagian persoalan yang cendrung mendapatkan prioritas perhatian yang besar dalam
feminisme (dalam) Islam adalah persoalan “patriakhi” yang oleh para feminis muslim
dianggap sebagai asal-usul dari seluruh kecendrungan “missoginis” yang menjadi dasar
penulisan buku-buku teks keagamaan yang bias kepentingan laki-laki. Dimana ketika karya-
karya tersebut dalam hal relasi gender kurang memiliki kepekaan “perasaan” dan juga dialik
itu adanya dominasi kepentingan kaum laki-laki11, yang berimplikasi pada terkonstruknya
dalam masyarakat menomorduakan esensi perempuan.

10
Budhy Munawar Rachman, “Penafsiran Islam Liberal atas Isu-isu Gender dan feminisme di
Indonesia”, dalam Siti Ruhaini Dzuhayatin,dkk, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam
Islam, ( Yogyakarta ; PSW IAIN Suka, Mc-Gill, dan ICIHEP, 2002). hlm. 28.
11
Ahmad Baidowi, Tafsir Feminis; Kajian Perempuan dalam al-Qur’an & Para Mufassir
Kontemporer, (Yogyakarta ; Nuansa, 2005). hlm. 45.

6
Feminisme di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1970-an, ketika tulisan-tulisan
ilmiah muncul di jurnal, dan surat kabar. Ketika itu hingga tahun 80-an masih banyak orang
yang alergi ketika mendengar kata feminisme, dan menganggap feminisme adalah gerakan
perempuan yang anti laki-laki, anti perkawinan, perusak keluarga, dll. Selanjutnya pada tahun
90-an feminisme dapat diterima, meskipun dengan sikap ekstra hati-hati. Khususnya sejak
terbitnya buku terjemahan, antara lain Rifaat Hasan, Fatima Mernisi, Amina Wadud, Asghar
Ali Engineer,dll.
Pada umunya feminisme Islam tidaklah muncul dari satu pemikiran teoritik dan
gerakan tunggal yang berlaku bagi seluruh perempuan di negara Islam. Mereka (feminis
Islam) tidaklah menyetujui secara penuh, mutlak setiap konsep-konsep atau pandangan
feminis yang berasal dari Barat. Namun mereka lebih pada upaya menengahi kelompok
tradisional-konservatif disatu pihak dan pro-feminisme di pihak lain.

D. Aliran dan Bentuk Pendekatan Feminisme


Dalam dua dekade terakhir kelompok feminis memunculkan beberapa teori yang
secara khusus menyoroti kedudukan perempuan dalam kehidupan masyrakat. Para feminis
berupaya menggugat kemapanan patriakhi dan berbagai bentuk stereotip gender lainnya
yang berkembang luas di masyarakat. Ketidakadilan tersebut dan perbedaan pendapat dalam
menganalisisnya melahirkan sejauh ini beberapa aliran feminisme12, diantaranya;

1. Feminisme Liberal
Dasar pemikiran kelompok ini ialah semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan
diciptakan seimbang dan serasi dan mestinya tidak terjadi penindasan antara satu dengan
yang lainnya. Secara ontologis feminis liberal ini menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan
memiliki kekhususan hak-hak yang sama. Walaupun demikian ada beberapa hal yang
mendasar yang mereka tolak seperti yang berhubungan dengan fungsi reproduksi,
bagaimanapun fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekuwensi logis di
dalam kehidupan masyarakat. Kelompok ini bias dikatakan paling moderat, karena
membenarkan perempuan bekerja bersama laki-laki. Dengan demikian tidak ada lagi satu

12
Penjelasan-penjelasan mengenai aliran-aliran feminisme secara lengkap bisa dilihat di Nasaruddin
Umar, Argumen Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an, (Jakarta : Paramadina, 2001). hlm. 64-67, lihat juga
Yunahar Ilyas, Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an; Studi Pemikiran Para Mufassir, (Yogyakarta : Labda
Press, 2006). hlm. 17-24 dan juga uraian dalam thesis Magisternya yaitu Feminisme dalam Kajan Tafsir al-
Qur’an, Klasik dan Kontemporer, ( Yogyakarta; LPPI UMY, 2000), hlm 46-52. Juga di Mansour Fakih, “Posisi
Perempuan dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender” dlam Mansour Fakih, Membincang Feminisme;
Diskursus Gender Perspektif Islam, (Surabaya : Risalah Gusti, 1996). hlm. 38-43. dll.

7
kelompok jenis kelamin yang mendominasi. Diantara tokohnya ialah Margaret Fuller, Susan
Anthony, Angalina Grimke,dll.

2. Feminisme Radikal
Menurut kelompok ini perempuan tidak hanya tergantung kepada laki-laki, bukan saja
dalam hal pemenuhan kepuasan kebendaan tetapi juga pemenuhan kebutuhan seksual. Selain
itu ketertindasan perempuan adalah akibat dominasi laki-laki, di mana penguasaan fisik
perempuan oleh laki-laki dianggap sebagai dasar penindasan. Dalam menjelaskan penyebab
penindasan perempuan, mereka menggunakan pendekatan a-historis, di mana patriakhi
merupakan penyebab universal dan mendahului segala bentuk penindasan.
Aliran ini banyak mendapat tantangan luas, bukan saja dari kalangan sosiolog, tetapi
juga dari kalangan feminis sendiri. Yang menjadi inti dari perjuangan aliran ini ialah
berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status dan peran social antara laki-
laki dan perempuan sehingga tidak lagi terjadi adanya ketimpanagn gender di masyarakat.

3. Feminis Marxis-Sosialis
Aliran ini berupaya menghilangkan sturktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis
kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu
sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Feminis aliran ini berpendapat
bahwa ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis
yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan dilingkungan rumah
tangganya. Berangkat dari itu, mereka menawarkan bahwa urusan rumah tangga mesti
ditransformasikan menjadi industri sosial, dan juga kritik terhadap kapitalisme mesti disertai
dengan kritik terhadap dominasi atas perempuan. Implikasi inklusifnya dapat merangkul
keragaman bentuk kondisi manusia dan dengan demikian bersifat transformatif13.

4. Ekofeminisme
Aliran teori ini timbul tahun 1980an, aliran ini cendrung menerima perbedaan laki-laki
dan perempuan. Mereka mulai percaya bahwa perbedaan gender bukan semata-mata
dikonstruksi sosial budaya, tetapi juga intrinsik. Teori ekofeminisme bertolak belakang
dengan teori-teori feminisme modern yang telah berkembang sejak abad 20an-sampai akhir
1970.

13
Janet L.Jacobs, “Gender and Power in New Religion Movements : A Feminist Discourse on The
Scientific Study of Religion”, dalam Darlene M.Juschka (edt), Feminism in The Study of Religion, ( New York:
Contiuum, 2006). hlm. 177.

8
Kelompok ini beranggapan bahwa kompetensi masuknya perempuan dalam dunia
maskulin menyebabkan peradaban modern semakin diwarnai oleh kualitas maskulin.
Akibatnya sering terjadi adanya kompetisi, dominasi, dan eksploitasi. Tragisnya semakin
banyak anak-anak yang terlantarkan. Keseimbangan diri dan alam menjadi patokan aliran
ini14. Ini dilakukan agar dominasi sistem maskulin dapat diimbangi15. Teori ini cukup
mendapat sambutan positf dari kaum feminis seperti Rifaat Hasan, Fatiam Mernisi,dll.
Dari rangkaian aliran tersebut muncul berbagai teori gender yang cukup banyak
digunakan dan dikenal dalam menganalisis perbedaan dan persamaan peran gender laki-laki
dan perempuan16, diantaranya;
 Psikonalisa ; perbedaan gender ditentukan oleh faktor psikologis. Perkembangan relasi
gender mengikuti perkembangan psikoseksual, terutama dalam masa phallic stage (masa-
masa identifikasi)
 Struktural Fungsionalism ; sistem yang terintegrasi dari berbagai unsur menjadi
masyarakat stabil. Laki-laki dan perempuan masing-masing menjalankan perannya
masing-masing.
 Teori Konflik ; Menekankan pembagian kelas, sebagian diuntungkan, sebagian
dirugikan. Basis ekonomi yang tidak adil menjadi pemicu terjadinya konflik dan
perubahan sosial, Adanya subordinasi.
 Teori-teori Feminis ; Kodrat perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan
factor budaya masyarakat.
 Teori Sosio-Biologis ; Gabungan faktor biologis dan faktor sosial menyebabkan laki-laki
lebih unggul daripada perempuan. Fungsi reproduksi dianggap sebagai penghambat untuk
mengimbangi kekuatan dan peran laki-laki.

Apabila ditarik secara umum teori feminis merupakan suatu pembebasan yang
memfokuskan pada hubungan individu atau kelompok dengan dunia sebagaimana yang bisa
disusun, maka asumsi penulis secara tidak langsung dalam hal kondisi pranata sosial
masyarakat bagian dari teori-teori feminisme akan bersentuhan dengan teori sosiologi, karena
teori sosiologi ini sebagian besar didasarkan pada apa yang dikenal dengan hubungan
individu dengan dunia sebagaimana adanya dan yang dipertahankan17. Lebih dari itu mungkin
saja dalam penelitian pendekatan feminisme ini suatu keniscayaan juga akan melihat aspek-

14
Lebih lengkap lihat Euis Amalia, “Feminisme ; Konsep, Sejarah,.. hlm108.
15
Selengkapnya lihat Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda, (Bandung : Mizan, 1999). hlm. 191.
16
Lihat Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hlm. 45-68.
17
Jane C. Ollenburger dan Helen A. Moore, Sosiologi Wanita, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996). hlm. 44.

9
aspek dari teori fenomenologi, antropologi, bahkan dalam seputar teori konsep doktrinitas
agama.
Sifat inovatif penelitian feminis terdapat pada pilihannya untuk meneliti kelompok-
kelmpok perempuan yang selama ini kurang di sentuh begitu dalam dalam kerangka ilmu
sosial. Hal ini beralasan karena para peneliti feminis menganggap bahwa riset sosial dan
budaya yang selama ini cendrung dilakukan oleh para peneliti pria cenderung memarginalkan
peran perempuan. Sehingga mereka perlu melakukan suatu penelitian yang akan
memperlihatkan kepada dunia tentang keberadaan perempuan. Namun, pendekatan feminis
yang menekankan pada penelitian tentang perempuan, untuk perempuan dan oleh perempuan
(on, for and by women) tidak cukup memuaskan untuk mengangkat pentingnya isu
perempuan di ranah penelitian ilmu sosial.
Standpoint dari model pendekatan feminis ini adalah suatu metode yang ketika
dipakai untuk mencari tahu tentang sesuatu hal akan memberikan ruang kepada subyek, yang
selama ini ditiadakan, beserta pengalaman-pengalaman riilnya yang dianggap tidak pernah
ada. Jadi pendekatan feminisme dilakukan berdasarkan kondisi disertai dengan teori-teori
yang berkembang seputar studi perempuan. Yang bertujuan untuk menciptakan perubahan
sosial18 yang equal, berusaha menampilkan keberagaman manusia,dll.

E. Wacana Pendekatan Feminisme dalam Islam.


Feminis Islam berupaya untuk memperjuangkan apa yang disebut oleh Rifaat Hasan
sebagai “Islam pasca-patriakhi” yang memperhatikan pembebasan perempuan ataupun laki-
laki dari perbudakan tradisionalisme, otoritarianisme (agama, politik, ekonomi, dll), rasisme,
sekisme, dll yang itu bias menghalangi manusia untuk mengaktualisasikan visi qur’ani.
Salah satu langkah awal dari terwujudnya ide-ide kesetaraan ialah adanya kajian-
kajian kritis terhadap teks-teks keagamaan, baik al-Qur’an dan hadis, yang secara literal
menampakkan adanya kesenjangan dalam hasil interpretasinya. Dalam hal ini para feminis
melakukan upaya penafsiran ulang dengan dasar filosofis feminis yang tertuang dalam teori-
teorinya. Selain itu keterlibatan pendekatan hermeneutika dan pisau analisis ilmu-ilmu sosial
dimungkinkan dalam penafsiran tersebut.
Hal itu cukup beralasan terjadi, karena selama ini (dalam kerangka atau perspektif
feminis) mengingat rentang waktu yang panjang dari masa Islam awal hingga sekarang
berbagai interpretasi atau penafsiran dari teks-teks suci (al-Qur’an;red) maupun hadis yang

18
Shulamit Reinharz, Metode-metode Feminisme dalam Penelitian Sosial, (Jakarta: Women Research
Institute, 2005). hlm. 336.

10
terejawantahkan dalam karya-karya yang lahir maupun berupa ideologi, mindside dari hasil
ekspresi dan eksplorasi dua teks tersebut sangat rentan akan nuansa patriakhi, dan cenderung
mempertahankan makna literal. Hal itu didukung oleh faktor kultural-sosio, perkembangan
peradaban disetiap zaman.
Dalam pandangan para feminis, wilayah agama khususnya Islam, Yahudi, dan Kristen
sering dinilai sebagai wilayah yang seksis. Artinya agama yang mencitrakan Tuhan yang
laki-laki, serigkali ujung-ujungnya mensahkan superioritas laki-laki atas perempuan. Posisi
agama merupakan unsur utama kesadaran sosial dan determinan atas berbagai tradisi yang
ada dimasyarakat, membuat pandangan tentang superioritas laki-laki memperoleh justifikasu
dari agama. Apa yang oleh feminis disebut “ketidakadilan gender yang dijustifikasi agama”
ini dianggap oleh para feminsi menjadi pangkal terjadinya penindasan terhadap kaum
perempuan.
Berbagai penafsiran dari ayat al-Qur’an dan hadis dalam hal relasi laki-laki dan
perempuan yang ditafsirkan oleh para mufassir klasik secara literalistik-skipturalistik ini
semakin memperkukuh adanya superioritas laki-laki atas perempuan. Adalah suatu hal yang
wajar adanya berbagai ketegangan dalam tradisi lama jika dikonfrontasikan dengan
kecenderungan baru yang berkembang, yang belakangan ini merupakan konsekuwensi logis
dari evolusi kesadaran dan peradaban manusia. Terlebih lagi mengenai supremasi
kepemimpinan perempuan, yang pada umumnya secara tekstual mendapat legitimasi dalam
al-Qur’an. Hal ini sebagai contoh tergambar dalam surat an-Nisa>’ ayat 34 dan hadis Nabi19
yang seolah-olah membedakan status laki-laki dan perempuan, yang menurut sebagian
penafsiran hanya dipahami secara literal-normatif semata, namun juga disisi lain penafsiran
dipahami secara kontekstual-historis. Varian penafsiran muncul ketika menginterpretasikan
surat an-Nisa>’ ayat 34 tersebut, misal Musthofa Al-Maraghi mengatakan diantara tugas laki-
laki ialah memimpin kaum perempuan dengan melindungi dan menanggung pemeliharaan
atas mereka (kaum perempuan).20 Hal ini karena Allah melebihkan laki-laki atas perempuan

19
“Telah bercerita kepada kami Ustman bin al-Haitsam, telah bercerita kepada kami ‘Auf dari al-
Hasan dari Abu Barkah berkata: “Sesungguhnya Allah memberi manfaat kepadaku dengan sebuah kalimat pada
hari perang (jamal). Tatkala Nabi mendengar orang-orang Persia mengangkat anak perempuan Kisra sebagai
pemimpin, maka beliau bersabda: “Tidaklah sekali-kali suatu kaum memperoleh kemakmuran, apabila
menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (H.R. al-Bukhari), Lihat Abi Abdilla>h Isma>il bin Ibra>him
bin al-Mughira>h bin Bardizbah al-Bukha>ri, Shahih al-Bukha>ri, Jilid IV (Beirut: Da>r al-Fikr, 1981), hlm.
97.
20
Maulana> Muhammad Ali, Qur’an Suci Terjemah dan Tafsir (Jakarta: Darul Kutubul Islamiyah,
2006), hlm. 237.

11
dalam perkara kejadian, dan memberi mereka kekuatan yang tidak diberikan kepada kaum
perempuan,21 juga memberi nafkah kepada kaum wanita, membela, dan melindungi mereka.22
Di lain sisi, contoh pemikir Islam kontemporer seperti Asghar Ali Enginner yang
disebut juga sebagai feminis muslim mengkritik metode para mufasir yang hanya memahami
ayat dengan nilai teologis dan mengenyampingkan nilai sosiologis23, senada dengan Asghar,
Fazlur Rahma>n mengungkapkan bahwa ungkapan laki-laki sebagai qawwa>mu>n bukanlah
perbedaan hakiki namun lebih bersifat fungsional24. Demikian juga Amina Wadud Muhsin, ia
juga mengkritik penafsiran-penafsiran yang selama ini ada, terutama tafsir perempuan.
Menurutnya dalam suatu penafsiran tersebut ada tiga kategori yang perlu diperhatikan, yaitu
tradisional, reaktif, dan holistik. Pada kategori ketiga inilah dimana seorang penafsir
menggunakan seluruh metode penafsiran tersebut, termasuk didalamnya apa yang disebut
sebagai istilah “ilmu hermeneutika”, dan mengkaitkannya dengan berbagai persoalan sosial,
moral, ekonomi, dan politik yang ada di era modern ini25, yang kesemuanya bermuara pada
“pelindung”26, dan ini juga terdapat pada ayat lainnya27. Pada umumnya feminis muslim
menggugat paham konsevatif karena dianggap tidak sejalan dengan ide feminis yakni
terciptanya kesetaraan equal antara laki-laki dan perempuan. Pemahaman yang beragam ini,
pada gilirannya, menempatkan interpretasi (exegesis) sebagai disiplin keilmuan yang tidak
mengenal kering, bahkan senantiasa hidup bersamaan dengan perkembangan teori
pengetahuan para pengimannya.28
Sebagai contoh adanya pergeseran pemahaman ketika mengartikan kata-kata
qawwamun pada an-Nisa’;34 kebanyakan para mufassir mengartikan dengan pemimpin29,
selain itu dalam penterjemahan kata tersebut, dalam al-Qur’an versi Departemen Agama
Indonsia kata tersebut diterjemahkan dengan “pemimpin”, yang menurut pandangan feminis

21
Ahma>d Musthafa al-Maraghi>, Tafsir al-Ma>ra>ghi (Beirut: Da>r al-Fikr), hlm. 27.
22
Abu Abdilla>h Muhammad Ibn Ahmad al-Ansari Al-Qurt}u>bi>, Tafsir al-Qurt}u>bi> al-
Ja>mi’ Li Ahka>m Al-Qur’an (Kairo: Da>r al-Katib al-‘Arabiyah, 1967), hlm. 168.
23
Asghar Ali Enginner, Hak-hak Perempuan Dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha
Assegaf (Bandung: LSPPA dan CUSO Indonesia, 1994), hlm. 57.
24
Fazlur Rahma>n, Tema-Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka, 1983),
hlm. 72.
25
Amina Wadud Muhsin, Wanita dalam Al-Qur’an, terj, Yazia Radianti (Bandung:: Pustaka, 1994),
hlm. 2.
Bisa dilihat al-Qur’an versi terjemahan Ali Ozek,dkk, The Glorious Qur’an, (Istanbul ; Birlik kagit
26

ve matbaacilik Tic, 2006). hlm. 83. Juga bisa dilihat terjemahan Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an,
dan statement ini dipegang oleh femins muslim Indonesia yaitu Nasaruddin Umar. Lihat Nasaruddin Umar,
Argumen Kesetaraan Gender, hlm. 150.
27
Seperti Q.S. 4;34, Q.S. 4;10, Q.S. 7;189, Q.S. 4; 11, Q.S. 2 ; 282.dll.
28
M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006).
hlm. 1.
29
Lihat contoh Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Beirut: Dar al-Fikr), hlm. 27.

12
muslim Indonesia dianggap bias gender, adapun terjemahan Bukan hanya itu dari segi bahasa
al-Qur’an menunjukkan keberpihakannya pada jenis kelamin tertentu.
Dengan melihat gejala model pemahan seperti itu, para feminis mengungkapkan
bahwa sebagai sebuah kitab suci, ayat-ayat al-Qur’an sendiri seringkali lebih banyak
dipahami secara teologis. Karena dipahami secara teologis, maka penafsiran yang muncul
pun sering dogmatis, membenarkan gagasan al-Qur’an sesuai dengan bunyi pernyataannya
secara tekstual. Dengan begitu, bias dipahami jika kemudian yang muncul adalah penafsiran-
penafsiran yang dalam kaitan ini, memposisiskan perempuan dalam posisi inferior disbanding
laki-laki. Dan tentu saja hasil penafsiran menjadi lain ketika ayat-ayat lebih dipahami secara
historis–sosiologis. Model penafsiran seperti inilah yang dikembangkan oleh para feminis
muslim (khususnya mufassir) dengan semangat filosofinya. Hal ini beralasan bahwa ketika
ayat al-Qur’an tersebut merupakan penjelmaan “kehadiran” Tuhan, namun ketika adanya
interpretasi memasuki wilayah seejarahnya (firman), ia “terhenti/vakum” oleh batasan-
batasan kultural yang berlaku30. Selain itu, menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan,
sebuah penafsiran tentunya tidak terlepas dari kepentingan mufassir, ragam kondisi turut
mewaranai bahasa-bahasa yang dikeluarkan oleh mufassir tersebut.
Begitu pula dalam hal pemahaman hadis, para feminis muslim seperti Fatma Mernisi
dan Rifaat Hasan mencoba melihat kembali nilai/maksud apa yang terkandung di balik hadis
tersebut. Sebagai contoh Fatima Mernisi menggugat sejumlah hadis dan menilainya sebagai
hadis misoginis yang itu mengandung bias gender. Hampir sama dengan metodologi yang
ada dalam interpretasi teks al-Qur’an salah satunya melihat aspek sosio-historis dari hadis
tersebut. Bila dipetakan31 lebih jauh dasar pemikiran feminisme muslim tersebut ialah ingin
berlepas dari keterkaitan masa lalu yang mengakibatkan pintu ijtihad tertutup, maslahat
sebagai tujuan dari syari’at, memaksimalkan rasio sebagai perwujudan muslim agent of
change, dan keadilan sebagai bentuk maslahat utama. Wallahu ‘alam bi al-Shawwab []

30
Ahmad Baidowi, Tafsir Feminis…hlm. 58.
31
Lebih jauh bisa lihat Faisar Ananda Arfa, Wanita Dalam Konsep Islam Modernis, (Jakarta: Pustaka
Firdaus,2004, hlm. 138

13
KESIMPULAN

Dari pemaparan diatas studi keilmuan humaniora (seperti tafsir, hadis, fiqih, sosiologi,
antropologi [Islam] sastra, dll) terus berkembang, keberkembangan ini beriringan dengan
dengan mencuatnya wacana feminisme. Hal itu berimplikasi pada munculnya berbagai teori-
teori khususnya teori feminisme yang pada umumnya bertujuan pada adanya usaha untuk
menghapus kesenjangan yang terus mengakar dalam masyarakat antara laki-laki dan
perempuan dalam berbagai hal. khususnya yang berawal pada bentul ideologi keber-agama-
an yang kemudian mengatur pranata sosial yang sudah dianggap mapan dan baku.
Pendekatan feminisme dipandang cukup berperan penting dalam pembentukan sturktur
masyarakat yang egaliter, harmonis, dan dinamis.
Meskipun tidak adanya kesatuan dalam pengertian mengenai pendekatan feminisme,
namun ideologi para feminis yang tergambar dalam berbgai aliran dan teori-teorinya cukup
menginterpretasikan bahwa feminisme tidak hanya memberikan sumbangan berarti dalam
perubahan sosial dan intelektual, tetapi ikut memberikan sumbangan yang berarti dalam
munculnya metode-metode yang relevan dalam interpretasi teks-teks keagamaan, yang
selama ini menurut para feminis tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yaitu kesetaraan,
kemanusiaan,dll. Berbagai metode feminis muslim muncul ketika adanya upaya untuk
merelevansikan nilai-nilai qur’ani dengan kemanusiaan.

14
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Euis, “Feminisme ; Konsep, Sejarah dan Perkembangan” dalam Pengantar Kajian
Gender, (Jakarta: PSW UIN Syarif Hidayatullah & McGill-ICIHEP, 2003)
Yunahar Ilyas, Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an; Studi Pemikiran Para
Mufassir, (Yogyakarta : Labda Press, 2006)
Ali, Maulana> Muhammad, Qur’an Suci Terjemah dan Tafsir (Jakarta: Darul Kutubul
Islamiyah, 2006)
Arfa, Faisar Ananda, Wanita Dalam Konsep Islam Modernis, (Jakarta: Pustaka Firdaus,2004)
al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir al-Maraghi (Beirut: Dar al-Fikr)
Rahma>n, Fazlur, Tema-Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka,
1983)
Baidowi, Ahmad, Tafsir Feminis; Kajian Perempuan dalam al-Qur’an & Para Mufassir
Kontemporer, (Yogyakarta ; Nuansa, 2005)
Enginner, Asghar Ali, Hak-hak Perempuan Dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha
Assegaf (Bandung: LSPPA dan CUSO Indonesia, 1994)
Gross, Rita M., Feminism and Religion, (USA : Beacon Press, 1996)
Jacobs, Janet L., “Gender and Power in New Religion Movements : A Feminist Discourse on
The Scientific Study of Religion”, dalam Darlene M.Juschka (edt), Feminism
in The Study of Religion, ( New York: Contiuum, 2006)
Megawangi, Ratna, Membiarkan Berbeda, (Bandung : Mizan, 1999)
Morgan, Sue, “ Pendekatan Feminis” dalam Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama,
(Yogyakarta : LKiS, 2002)
Ollenburger, Jane C. dan Helen A. Moore, Sosiologi Wanita, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996)
Ozek, Ali dkk, The Glorious Qur’an, (Istanbul ; Birlik kagit ve matbaacilik Tic, 2006)
Rachman, Budhy Munawar, “Penafsiran Islam Liberal atas Isu-isu Gender dan feminisme di
Indonesia”, dalam Siti Ruhaini Dzuhayatin,dkk, Rekonstruksi Metodologis
Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam, ( Yogyakarta ; PSW IAIN Suka,
Mc-Gill, dan ICIHEP, 2002)
Rahma>n, Fazlur, Tema-Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyuddin (Bandung: Pustaka,
1983),
Reinharz, Shulamit, Metode-metode Feminisme dalam Penelitian Sosial, (Jakarta: Women
Research Institute, 2005.
Setiawan, Nur Kholis, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2006).
Umar, Nasaruddin, Argumen Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an, (Jakarta : Paramadina,
2001)
Al-Qurt}u>bi>, Abu Abdilla>h Muhammad Ibn Ahmad al-Ansari, Tafsir al-Qurt}u>bi> al-
Ja>mi’ Li Ahka>m Al-Qur’an (Kairo: Da>r al-Katib al-‘Arabiyah, 1967
Wadud Muhsin, Wanita dalam Al-Qur’an, terj, Yazia Radianti (Bandung:: Pustaka, 1994),

15
Curriculum Vitae
Nama : Zulfikri, S.Th.I., M.Hum
TTL : Bantul, 27 November 1988
Pendidikan : S1 Tafsir-Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
S2 Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Alamat : Jl. Abdul Hamid Hakim No. 7 Padang Panjang
Pekerjaan : Dosen Tafsir, MSI, & Filsafat Islam STIT Diniyyah Puteri dan STAI-YDI
Lubuk Sikaping
Email : Zoulfikri@gmail.co.id
HP : 081374834651

16