Anda di halaman 1dari 55

ASPEK HUKUM DALAM BISNIS

1. PEMAHAMAN SISTEM HUKUM BISNIS DI INDONESIA


Pengertian HUKUM

Hukum adalah himpunan peraturan peraturan yaitu berisi perintah perintah dan larangan larangan yang
mengurus tata tertib suatu masyarakat dan hal tersebut harus ditaati oleh masyarakat tersebut (ultrecht).

Hukum adalah suatu tata cara dan norma yang berlaku dalam suatu situasi, kondisi dan domisili pada wilayah
tertentu (Djoko Santoso).

Menurut prof.mr.dr.l.j. van Apeldoorn Hukum dibedakan atas 2 sudut pandang yaitu:

1.HUKUM MENURUT KALANGAN TERPELAJAR

Hukum berdasarkan pasal pasal yang tertera dalam peraturan perundang-undangan

2. HUKUM MENURUT ORANG AWAM

Hukum yang hanya terpikirkan berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai hukum selama ini

Pengertian HUKUM EKONOMI

Keseluruhan kaidah-kaidah dan putusan-putusan hukum yang secara khusus mengatur kegiatan dan kehidupan
ekonomi di Indonesia. (Sunaryati Hartono)

Keseluruhan peraturan, khususnya yang telah dibuat oleh pemerintah atau badan pemerintah, baik itu secara
langsung maupun tidak langsung bertujuan untuk mempengaruhi perbandingan ekonomi di pasar-pasar, yang
terwujud dalam perundangan perekonomian. Dalam perundangan itu diatur kehidupan ekonomi dari negara
termasuk rakyatnya. (Soedarto)

Sebagian dari keseluruhan norma yang dibuat oleh pemerintah atau penguasa sebagai satu personifikasi dari
masyarakat yang mengatur kehidupan kepentingan ekonomi masyarakat yang saling berhadapan. (Rochmat
Soemitro)

Pengertian Hukum Ekonomi adalah keseluruhan kaidah hukum yang mengatur dan mempengaruhi segala
sesuatu yang berkaitan dengan dan kehidupan perekonomian nasional negara, baik kaidah hukum yang bersifat
privat maupun publik, tertulis dan tidak tertulis, yang mengatur kegiatan dan kehidupan perekonomian nasional
negara.

Pengertian BISNIS

Menurut Mc Naughton, pengertian bisnis adalah pertukaran barang-barang, uang ataupun jasa untuk
keuntungan mutual.

Menurut Haney bisnis dapat didefinisikan sebagai aktivitas manusia yang dihubungkan dengan produksi
ataupun memperoleh kekayaan melalui pembelian dan penjualan barang.

Peterson dan Plowman menjelaskan bahwa bisnis merupakan serangkaian kegiatan yang berhubungan
dengan penjualan ataupun pembelian barang dan jasa yang secara konsisten berulang. Menurutnya, penjualan
jasa ataupun barang yang hanya terjadi satu kali saja bukan merupakan pengertian dari bisnis

Pengertian HUKUM BISNIS

Bestuur Rechts (Bld).


Hukum Bisnis adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan hukum, baik yang tertulis maupun tidak tertulis,
yang mengatur hak dan kewajiban yang timbul dari suatu perjanjian-perjanjian maupun perikatan-perikatan
yang terjadi dalam praktek bisnis.

Fungsi Hukum Bisnis

Sebagai sumber informasi yang berguna bagi praktisi bisnis, untuk memahami hak dan kewajibannya dalam
praktek bisnis, agar terwujud watak dan perilaku aktivitas di bidang bisnis yang berkeadilan, wajar, dan dinamis
(yang dijamin oleh kepastian hukum)

Aspek Pokok Dalam Hukum Bisnis

Aspek kontrak (perjanjian) yang menjadi sumber hukum utama dimana masing-masing pihak tunduk pada
perjanjian yang telah disepakati bersama.

Aspek kebebasan membuat perjanjian dimana para pihak bebas membuat dan menentukan isi dari
perjanjian yang disepakati bersama

Sumber-Sumber Hukum Bisnis

Peraturan perundang-undangan, yaitu peraturan hukum yang berlaku, seperti: Undang-Undang, Peraturan
Pemerintah, dan lain sebagainya.

Perjanjian atau kontrak, yaitu kesepakatan yang dibuat oleh para pihak dalam transaksi bisnis. Ada juga
pendapat yang menyatakan bahwa perjanjian atau kontrak berlaku sebagai Undang-Undang terhadap para pihak
yang membuatnya.

Traktat, yaitu ketentuan dalam hubungan dan hukum internasional, baik berupa kesepakatan antara para
pemimpin negara di dunia, peraturan dalam hukum internasional, pedoman yang dibuat oleh lembaga-lembaga
dunia, dan lain sebagainya yang diberlakukan di Indonesia.

Yurisprudensi, yaitu keputusan hukum yang biasanya menjadi pedoman dalam merumuskan atau menjadi
pertimbangan dalam penyusunan peraturan atau keputusan hukum berikutnya.

Kebiasaan-kebiasaan dalam bisnis, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh pelaku bisnis pada umumnya.

Doktrin, yaitu pendapat pakar atau ahli hukum yang berkaitan dengan hukum bisnis. Doktrin biasa pula disebut
dengan pendapat para sarjana hukum.

Contoh-Contoh Peraturan Perundang-undangan yang menjadi landasan bagi transaksi bisnis

Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang Perikatan

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 sebagaimana telah dubah menjadi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri


Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

SISTEM HUKUM
Pengertian Sistem Hukum

Menurut pendapat Sudikno Mertukusumo adalah Suatu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang
mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut.

Menurut Bellefroid, Pengertian Sistem Hukum ialah rangkaian kesatuan peraturan-peraturan hukum yang
disusun secara tertib menurut asas-asasnya.

Scolten mengatakan, Pengertian Sistem Hukum adalah kesatuan di dalam sistem hukum tidak ada peraturan
hukum yang bertentangan dengan peraturan-peraturan hukum lain dari sistem itu.

Menurut pendapat Subekti merupakan suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan dimana
terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusunan menurut suatu rencana atau pola, hasil dari
suatu pemikiran tersebut untuk mencapai suatu tujuan.

Dari pengertian sistem hukum diatas dapat disimpulkan bahwa,Pengertian Sistem hukum adalah suatu
kesatuan peraturan-peraturan hukum yang terdiri atas bagian-bagian (hukum) yang mempunyai kaitan
(interaksi) satu sama lain, yang tersusun sedemikian rupa menurut asas-asasnya, dimana berfungsi untuk
mencapai tujuan. Masing-masing bagian tidak berdiri sendiri, tetapi saling terikat. Arti pentingnya yaitu setiap
bagian terletak pada ikatan sistem, dalam kesatuan dan hubungannya yang sistematis dengan peraturan-
peraturan hukum lainnya.

SISTEM HUKUM DI INDONESIA

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat.

Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa, khususnya dari
Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-
Belanda (Nederlandsch-Indie).

Hukum agama karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau syariat
Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan, dan warisan.

Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang diserap dalam perundang-undangan atau
yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya
yang ada di wilayah nusantara.

2. PEMAHAMAN SISTEM HUKUM BISNIS DI INDONESIA (Lanjutan)


Obyek Hukum

Segala sesuatu yang memiliki hak dan kewajiban di dalam hukum

Meliputi Manusia (person) dan Badan Hukum (Perseroan Terbatas/PT.)

Subyek Hukum

Segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum dan yang dapat menjadi objek perhubungan hukum. berupa
kebendaan (segala barang dan hak yang dapat dimiliki oleh orang)
Klasifikasi Benda
Benda Tetap

Berupa tanah, rumah, gedung, mesin pabrik, hipotik (jaminan utang atas benda tetap)

Benda Tidak Tetap

Benda bergerak berwujud: alat transportasi (kapal,mobil,motor,dsb), alat telekomunikasi, mebel, hewan ternak.

Benda bergerak tidak berwujud : piutang/hak tagih, gadai, HKI (merek,paten,hak cipta), surat berharga, goodwill.

Pengecualian

Kapal Laut dengan bobot 20m3 keatas, dikategorikan benda tetap (314 KUHD), karena kapal tersebut terdaftar
dalam buku register kapal, sedangkan kapal dengan bobot dibawah 20m3 merupakan benda bergerak. Kapal laut
tersebut diatur dalam UU No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

Pesawat Terbang dan Helikopter, dikategorikan benda tetap karena memiliki tanda pendaftaran berdasarkan UU
No.15 Tahun 1992 tentang Penerbangan

Akibat Hukum Benda


Kedudukan Berkuasa (Bezit)

Benda Tetap, diakui kepemilikannya apabila terdapat bukti, karena seseorang yang menguasai benda tetap
belum tentu pemiliknya.

Benda Tidak Tetap, bezit atas benda tidak tetap berlaku sebagai titel yang sempurna (1977 KUHPer).
Kepemilikannya secara otomatis kecuali dapat dibuktikan sebaliknya

Penyerahan (Levering)

Benda Tetap, dilakukan pengu

muman akta (616 KUHPer). Terhadap pendaftaran hak atas tanah dan peralihan haknya dilaksanakan
berdasarkan Pasal 19 UUPA (UU No.5 Tahun 1960)

Benda Tidak Tetap, dilakukan penyerahan secara fisik/nyata dari tangan ke tangan (hand by hand) (612 KUHD)

Pembebanan Sebagai Benda Jaminan Utang (Bezwaring)

Benda Tetap : Pembebanan dilakukan dengan hipotik (Pasal 1162 KUHPer)

Benda Tidak Tetap : Pembebanan dilakukan dengan gadai (Pasal 1150 KUHPer)

Sejak berlakunya UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang
Berkaitan dengan Tanah (Lex Specialist) maka tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah hanya
dapat dibebankan dengan Hak Tanggungan (HM,HGB,HGU,dsb) dan dibuatkan APHT (Akta Pemberian Hak
Tanggungan)

Untuk benda bergerak dapat dijaminkan dengan lembaga fidusia berdasarkan UU No.42 Tahun 1999 Tentang
Jaminan Fidusia (Lex Specialist)

Daluwarsa (Verjaring)

Benda Tetap : Terdapat daluwarsa (Pasal 610 KUHPer)

Benda Tidak Tetap : Tidak ada daluwarsa (Pasal 1977 ayat (1) KUHPer)

Pemahaman Manajemen
Mary Parker Follet : Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Ini berarti bahwa
seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,


pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif
berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada
dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Hubungan Manajemen dengan Hukum Bisnis


Perusahaan/manajemen dalam mengatur, mengelola dan memimpin dalam dunia bisnis harus sesuai dan
berlandaskan hukum (hukum bisnis) dan etika-etika dalam berbisnis, hal ini dimaksudkan agar dalam
pelaksanaan berbisnis tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran atau tindakan-tindakan yang dapat merugikan
pihak-pihak yang terkait.

3. HUKUM JAMINAN
Definisi Jaminan

Transaksi dalam bentuk penyerahan atau kesanggupan untuk menyerahkan barangnya sebagai pelunasan
hutangnya

Dalam pemberian kredit

Jaminan merupakan keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai
kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya.

Kredit

Penyediaan uang atau tagihan, berdasarkan perjanjian atau kesepakatan pinjam meminjam antara pemberi
kredit dengan penerima kredit, yang mewajibkan pihak peminjam/penerima kredit untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Hukum Jaminan

Keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminan
dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.

Dasar Hukum

KUHPer (Buku II Tentang Kebendaan)

KUHD

Peraturan Perundang-Undangan lain.

Ruang Lingkup Hukum Jaminan

Jaminan Umum

Jaminan khusus :

Jaminan kebendaan (Benda bergerak dan benda tidak bergerak)

Jaminan perorangan (meliputi borgtoch, garansi bank)

1. GADAI

Dasar Hukum ,Pasal 1150-1161 KUHPer


Definisi

Hak kebendaan atas suatu benda bergerak milik orang lain, yang semata-mata diperjanjikan

dengan menyerahkan hak kebendaan atas benda tersebut dengan tujuan untuk mengambil pelunasan suatu
utang dari penjualan benda tersebut.

Objek Gadai meliputi

Benda bergerak/benda tidak tetap

Benda bergerak berwujud : perhiasan,mobil, handphone, mebel, dan barang lainnya

Benda bergerak tidak berwujud : piutang/hak tagih dalam bentuk surat berharga, misal obligasi

Hak Pemegang Gadai (Kreditur)

Menjual dengan barang gadai dengan kekuasaan sendiri

Menggadaikan kembali barang gadai (dikecualikan apabila ditentukan lain dalam perjanjian)

Hak untuk menahan barang gadai

Hak untuk mendapatkan pengembalian biaya yang telah dikeluarkan untuk keselamatan barang gadai

Perjanjian Gadai

Perjanjian gadai dilakukan dengan bentuk bebas. Artinya dapat dilakukan dalam perjanjian tertulis maupun
lisan.

Perjanjian gadai dilakukan secara accessoir

yaitu perjanjian tambahan dari suatu perjanjian pokok.

Perjanjian pokoknya merupakan perjanjian kredit dan perjanjian gadai merupakan perjanjian tambahan.

Berakhirnya gadai

Hapusnya perjanjian pokok

Kreditur melepaskan haknya

Musnahnya benda gadai

Karena sebab tertentu yang menyebabkan barang jaminan menjadi milik kreditur

2. HAK TANGGUNGAN

Dasar Hukum

UU No.4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah
(UUHT).

Definisi

Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah ,termasuk banda-benda lain yang merupakan kesatuan
dengan tanah tersebut, dengan tujuan untuk pelunasan utang tertentu.

Objek Hak Tanggungan

Objek hak tanggungan adalah hak atas tanah beserta benda-benda yang merupakan satu kesatuan dengan
tanah (UU No.5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria)/UUPA,meliputi :
Hak Milik,Hak Guna Usaha,Hak Guna Bangunan,Hak Pakai atas tanah negara,Hak pakai atas hak milik

Perjanjian Hak Tanggungan


Perjanjian bersifat accesoir

Merupakan perjanjian tambahan dari perjanjian pokok, sehingga keberadaan perjanjian hak tanggungan bukan
merupakan perjanjian yang berdiri sendiri.

Perjanjian Pokok pada Hak Tanggungan

Adalah perjanjian utang piutang sebagai perjanjian pokok yang melahirkan janji untuk menyerahkan benda
jaminan sebagai pelunasan utang (dapat dibuat dengan akta autentik maupun akta dibawah tangan) Perjanjian
Tambahan pada Hak Tanggungan

Perjanjian pembebanan/pengikatan hak tanggungan dilakukan tersendiri dan dibuat secara tertulis dengan akta
PPAT disebut akta pemberian hak tanggungan

Hapusnya hak tanggungan

Hapusnya utang yang dijamin dengan hak tanggungan

Dilepaskannya hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan

Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan

Penetapan Pengadilan

3. HIPOTEK

Dasar Hukum

KUHPer (Buku II Tentang Kebendaan)

Definisi

Hak Kebendaan atas benda tidak bergerak sebagai pelunasan atas suatu perikatan (Pasal 1162).

Objek Hipotek

Benda tidak bergerak (benda tetap) meliputi mesin pabrik,pesawat terbang dan helikopter, kapal laut bobot
20m3 keatas, dsb.

Hipotek Kapal Laut bobot 20m3 keatas

Kapal yang dapat dibebani hipotek adalah kapal yang terdaftar di Indonesia (UU No.17 Tahun 2008 Tentang
Pelayaran). Persyaratan pendaftaran kapal :

Kapal dengan ukuran tonase kotor minimal 7GT (tujuh gross tonnase/setaradengan 20m3)

Kapal milik WNI atau badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di
Indonesia

Kapal milik badan hukum Indonesia yang merupakan usaha patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh
WNI.

Perjanjian Hipotek

Perjanjian hipotek dilakukan secara accessoir dengan perjanjian pokoknya adalah perjanjian utang piutang

Perjanjian hipotik dibuat sebagai perjanjian tambahan dan dibuat secara tertulis dihadapan pejabat yang
berwenang (Notaris/PPAT)
4. FIDUSIA

Dasar Hukum

UU No.42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Definisi

Fidusia : pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang
hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap berada pada penguasaan pemilik benda

Jaminan fidusia : hak jaminan atas benda yang bergerak (berwujud/tidak berwujud) khususnya bangunan yang
tidak dapat dibebani oleh hak tanggungan.

Objek Fidusia

Benda bergerak dan benda tidak bergerak, meliputi :

Benda bergerak berwujud

Benda bergerak tidak berwujud

Benda tidak bergerak/benda tetap khususnya tanah/bangunan yang tidak dapat dibebani oleh hak tanggungan
(misal bangunan atas tanah hak pengelolaan

Perjanjian Fidusia

Perjanjian fidusia merupakan perjanjian accessoir, dengan perjanjian pokoknya berupa perjanjian kredit dan
perjanjian jaminan fidusia merupakan jaminan tambahan

Perjanjian fidusia dilaksanakan secara tertulis melalui akta autentik maupun akta dibawah tangan

Akta autentik yang dibuat dihadapan notaris/PPAT kemudian didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia agar
diterbitkan Sertifikat Pemegang Fidusia

Hapusnya Fidusia

Hapusnya perikatan pokok

Pelepasan hak oleh kreditur (kreditur tidak menghendaki benda jaminan/kreditur mengembalikan benda
jaminan kepada debitur) Musnahnya benda jaminan

5. JAMINAN PERORANGAN (BORGTOCH)

Dasar hukum, KUHPerdata

Definisi

Jaminan perorangan/penanggungan utang merupakan suatu perjanjian dimana dimana satu pihak (borg)
menyanggupi pada pihak lainnya (kreditur) bahwa ia menanggung pembayaran suatu hutang apabila debitur
tidak menepati kewajibannya

Ilustrasi :
Berdasarkan ilustrasi diatas,

Menunjukkan bahwa A sebagai Debitur memiliki sejumlah utang kepada C sebagai Kreditur, dan pihak B sebagai
penjamin atas pelunasan utang A, namun kewajiban memenuhi pelunasan utang tetap menjadi tanggung jawab
A, dan B hanya sebagai penanggung utang A.

Apabila A tidak melaksanakan kewajibannya untuk melunasi utang (wanprestasi) maka tanggung jawabnya
dibebankan pada B, dan apabila B melunasi utang A kepada C, maka B berhak menagih pengembalikan pelunasan
utang kepada A.

Klasifikasi Jaminan perorangan

Jaminan pribadi (personal guaranty)

Jaminan perusahaan (corporate guaranty)

Jaminan Pribadi (Personal Guaranty)

Jaminan yang diberikan oleh seseorang secara pribadi untuk menjamin utang suatu individu atau suatu badan
hukum (dalam kedudukannya sebagai debitur) terhadap kreditur.

Kedudukan pihak ketiga sebagai penjamin termasuk hingga harta benda pihak ketiga yang bersangkutan.

Penjaminan oleh pihak ketiga merupakan suatu bentuk kepercayaan kreditur terhadap debitur sebagai
pelunasan utangnya.

Contoh ;Widya sebagai karyawan PT.Abadi Makmur meminjam utang pada Bank Mandiri Arta Sukses yang
dijamin pelunasan utangnya oleh Bapak Andi Aziz sebagai Direktur PT.Abadi Makmur, sehingga apabila Widya
tidak dapat menyelesaikan pelunasannya kepada bank, maka Bapak Andi Aziz yang wajib melunasi utang
tersebut, dan apabila Bapak Andi Aziz tidak mampu melunasi maka harta Bapak Andi Aziz dapat disita sesuai
dengan jumlah utang yang belum dilunasi.

Jaminan Perusahaan (Corporate Guaranty)

Jaminan perusahaan pada dasarnya sama dengan jaminan pribadi, yang membedakan adalah pihak ketiga
sebagai penanggung /penjamin bukan individu (seseorang) namun adalah perusahaan.

Perusahaan sebagai penjamin/penanggung utang debitur meliputi harta kekayaan perusahaan sebagai jaminan.

Contoh 1

Ibu Reni Puspita merupakan Direktur PT.Asuransi Umum Bersama, dan yang bersangkutan meminjam sejumlah
uang untuk operasional pengembangan perusahaan kepada PT.Bank Central Indonesia dengan jaminannya
adalah PT.Asuransi Umum Bersama. Dengan demikian, apabila Ibu Reni Puspita wanprestasi terhadap pelunasan
utangnya, maka aset PT.Asuransi Umum Bersama dapat disita untuk memenuhi pelunasan utang Ibu Reni
Puspita.

Contoh 2
Ibu Liliana merupakan Direktur PT. Travel Sejahtera meminjam sejumlah uang untuk pengembangan modal
perusahaan pada PT.Bank Ekonomi Rakyat dengan jaminan PT.Travel Abadi Utama yang merupakan perusahaan
mitranya dan merupakan perusahaan terkenal yang memiliki reputasi baik.

6. Jaminan perorangan berupa garansi bank

Definisi

Garansi bank merupakan jaminan pembayaran yang diberikan oleh suatu bank sebagai jaminan apabila pihak
yang dijamin tidak dapat memenuhi kewajiban /wanprestasi. Bank memberikan jaminan kepada
perorangan/perusahaan sebagai debitur terhadap kreditur.

Manfaat Garansi Bank

Sarana untuk memperlancar lalu lintas perdagangan (barang maupun jasa).

Pihak penerima jaminan/Kreditur tidak akan menderita kerugian karena apabila pihak debitur
wanprestasi/lalai memenuhi kewajibannya maka kreditur sebagai penerima jaminan mendapat ganti rugi
pembayaran dari bank yang bersangkutan.

Contoh 1

PT.Bank Mandiri (persero) memberikan fasilitas Bank Garansi untuk jenis transaksi ,Bank Garansi untuk
tender,Bank Garansi untuk pelaksanaan kerja,Bank Garansi untuk pembelian/pengadaan bahan baku,Bank
Garansi kepada maskapai pelayaran,Bank Garansi untuk pita cukai tembakau

Contoh 2 PT.Bank Rakyat Indonesia (BRI) (persero) memberikan fasilitas Bank Garansi untuk jenis transaksi :
,Bank Garansi untuk pembebasan bea masuk pengadaan barang investasi,bank Garansi untuk jaminan uang
muka,Bank Garansi untuk pemeliharaan

4. HUKUM KONTRAK/PERJANJIAN
Dasar

KUHPerdata :

Buku I : Tentang Orang

Buku II : Tentang Kebendaan

Buku III : Tentang Perikatan

Buku IV : Tentang Pembuktian dan Daluwarsa

Definisi

Perikatan :

Suatu hubungan hukum yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yaitu pihak yang satu berhak atas suatu prestasi
(pemenuhan perikatan) dan pihak yang lainnya wajib memenuhi prestasi, demikian juga sebaliknya.

Kesimpulan :

Hubungan hukum

Dua belah pihak/lebih

Pihak memiliki hak (kreditur)/berpiutang

Pihak memenuhi kewajiban (debitur)/berutang

Perjanjian (1313 KUHPer) :


Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih
untuk melaksanakan sesuatu hal.

Kesimpulan :

Suatu perjanjian menimbulkan perikatan, dan suatu perjanjian merupakan salah satu sumber perikatan,
sehingga perikatan merupakan pengertian abstrak dan perjanjian merupakan peristiwa/hal yang konkrit.

Sumber Perikatan

Perikatan yang timbul dari perjanjian, perikatan tersebut harus dapat memenuhi syarat sah perjanjian (Pasal
1320 KUHPerdata)

Perikatan yang timbul dari undang-undang saja, perikatan-perikatan yang ditimbulkan oleh perhubungan
kekeluargaan. Contoh : Orang tua memelihara dan mendidik anaknya

Perikatan yang timbul dari undang-undang karena Perbuatan Manusia, yang :

perwakilan sukarela (zaakwaarneming) : Terjadi jika seseorang dengan sukarela dan dengan tidak diminta
mengurus kepentingan orang lain.

Perbuatan yang melanggar hukum (onrechtmatige daad) : Setiap perbuatan yang melanggar hukum mewajibkan
seseorang yang melakukan perbuatan karena kesalahannya telah menimbulkan kerugian, untuk membayar
kerugian tersebut.

Asas-Asas Hukum Perjanjian/Kontrak

Asas Kebebasan Berkontrak (Pasal 1338)

Para pihak dalam membuat perjanjian diberikan kebebasan untuk menentukan :

Membuat atau tidak membuat perjanjian

Mengadakan perjanjian dengan siapapun

Menentukan isi/ketentuan perjanjian,pelaksanaan dan persyaratannya

Menentukan bentuk perjanjian (tertulis atau lisan)

Kebebasan berkontrak tersebut dapat dilaksanakan asalkan tidak

bertentangan dengan undang-undang; ketertiban umum dan

Kesusilaan.

Asas Konsensualisme

Suatu perjanjian lahir pada saat tercapainnya kata sepakat antara kedua belah pihak mengenai hal-hal pokok
dan tidak harus memerlukan formalitas.

pengecualian :

Terhadap perjanjian tertentu, berdasarkan undang-undang ditetapkan adanya formalitas.

contoh : perjanjian hibah benda tetap; perjanjian jual beli tanah; perjanjian pendirian PT, dsb (diperlukan akta
notaris )

Asas Pacta Sunt Servanda

Semua perjanjian yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Artinya kedua belah pihak dalam perjanjian harus mematuhi dan melaksanakan perjanjian yang telah dibuat dan
disepakati tersebut (perjanjian mengakibatkan suatu kewajiban hukum).
Asas kepribadian/Personalitas

Suatu perikatan hukum yang dilahirkan oleh suatu perjanjian hanya mengikat orang-orang yang membuat
perjanjian itu (para pihak) dan tidak mengikat orang lain.

Asas Itikad Baik

Setiap perjanjian yang dibuat harus dilandasi dengan itikad baik (in good faith).

Itikad baik:

Perjanjian yang dibuat harus memperhatikan norma-norma kepatutan dan kesusilaan

Perjanjian yang dibuat harus mencerminkan suasana batin yang tidak menunjukkan adanya kesengajaan untuk
merugikan pihak lain.

Syarat sahnya perjanjian (1320 KUHPer)

Adanya kata sepakat antara para pihak yang mengikatkan diri

Kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian, harus saling sepakat (setuju) atau seia sekata mengenai hal-hal
pokok yang dibuat dalam perjanjian, tanpa adanya kekhilafan, paksaan maupun penipuan.

Adanya kecakapan untuk membuat suatu perjanjian

Para pihak yang mengadakan perjanjian haruslah cakap secara hukum (telah dewasa dan tidak dibawah
pengampuan).

Cakap hukum berdasarkan KUHPer : Pria 21tahun, Wanita 18tahun

Cakap hukum berdasarkan UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan : Pria min.18tahun atau sudah menikah,
Wanita 16 tahun atau sudah menikah

Golongan orang yang oleh Undang-Undang dianggap tidak cakap hukum :

Orang yang belum dewasa/anak dibawah umur (minderjarig)

Orang yang berada dibawah pengampuan (curatele)

Adanya Hal Tertentu

Sesuatu yang diperjanjikan harus jelas dan terinci. Artinya, para pihak yang mengadakan perjanjian harus
mengetahui kewajiban dan haknya masing-masing terhadap objek perjanjian, sehingga tidak terjadi perselisihan
antar kedua belah pihak.

Adanya Sebab yang Halal

Suatu isi perjanjian harus mempunyai tujuan (causa) yang sah dan patut (pantas), dan tidak boleh bertentangan
dengan undang-undang, kesusilaan atau ketertiban umum.

Prestasi

Definisi

Merupakan objek perikatan berupa pemenuhan perikatan. Pihak yang wajib memenuhi prestasi disebut
Debitur/Berhutang,dan pihak yang berhak menerima prestasi disebut Kreditur/Berpiutang.

Pemenuhan Prestasi

Diatur dalam Pasal 1234 KUHPer


Bentuk Prestasi :Memberikan sesuatu : misalnya, membayar barang sesuai harga yang tertera; menyerahakan
barang yang telah dibayar (dalam hal jual beli)

Berbuat sesuatu : misalnya, jasa catering; jasa dokter; jasa service kendaraan; jasa advokat; jasa salon, dsb.

Tidak berbuat sesuatu : misalnya,tidak melakukan penuntutan; tidak mendirikan bangunan; tidak membangun
sumur,dsb.

Wanprestasi

Definisi

Suatu keadaan dimana pihak yang berhutang tidak memenuhi kewajibannya, yang menyebabkan pihak tersebut
dapat digugat ke pengadilan. Tidak memenuhi kewajibannya dapat disebabkan karena yang bersangkutan alpa
(lalai) atau ingkar janji.

Bentuk Wanpretasi

Tidak melakukan sesuatu (sesuatu yang telah disanggupi untuk dilaksanakan)

Melakukan sesuatu yang diperjanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan

Melakukan sesuatu yang diperjanjikan, tetapi terlambat

Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Akibat Wanprestasi

Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur (ganti rugi)

Pembatalan perjanjian/pemecahan perjanjian : pembatalan perjanjian bertujuan membawa keduabelah pihak


kembali pada keadaan sebelum perjanjian diadakan (perjanjian ditiadakan)

Peralihan resiko : kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu peristiwa diluar kesalahan salah satu
atau kedua belah pihak, dan kerugian tersebut menimpa barang yang menjadi objek perjanjian.

Jenis Resiko :

Resiko dalam Perjanjian Sepihak : resiko ini ditanggung oleh kreditur

Resiko dalam perjanjian timbal balik : resiko ini terjadi dalam jual beli (ditanggung oleh pembeli); resiko dalam
tukar menukar (ditanggung oleh pemilik barang); dan resiko dalam sewa menyewa (ditanggung oleh pemilik
barang)

Somasi [ Definisi]

Keadaan dimana pihak debitur/berhutang diberikan peringatan oleh pihak kreditur/berpiutang untuk segera
memenuhi/melaksanakan kewajibannya.Somasi diumumkan dengan tenggang waktu pemenuhannya, apabila
pihak debitur tidak melaksanakan kewajibannya melebiha batas waktu somasi, maka pihak kreditur dapat
menggugat debitur ke pengadilan

Keadaan Memaksa (Overmacht/Force Majeur)

Definisi :Keadaan luar biasa/tidak terduga; tidak disengaja dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada
Debitur. Artinya, pihak Debitur tidak dapat melaksanakan kewajibannya dikarenakan keadaan memaksa yang
tidak dikehendaki terjadi.

Berlaku dalam Perjanjian :

keadaan memkasa dapat diberlakukan dalam perjanjian, dengan syarat, pihak Debitur yang membuktikan
adanya keadaan memaksa tersebut (1244 KUHPer)

Anatomi Kontrak/Perjanjian
Bagian 1: Pendahuluan

Judul kontrak

Tanggal pembuatan kontrak

Para pihak yang mengadakan kontrak (bertindak sebagai apa/mewakili siapa)

Pertimbangan/dasar dalam mengadakan kontrak

Bagian II: Isi

Bagian isi memuat mengenai ketentuan/klausula yang ditentukan/dibuat dalam perjanjian.

Klausula definisi

Klausula transaksi

Klausula spesifik

Klausula ketentuan umum

Bagian III : Penutup

Klausula/ketentuan penutup

Tanggal berlakunya perjanjian

Pihak-pihak yang menandatangani kontrak/perjanjian bersama dengan saksi (jika ada saksi).

5. BADAN USAHA
1 DEFINISI PERUSAHAAN

Prof.Molengraff

Keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, bertindak keluar untuk mendapatkan penghasilan
dengan cara memperniagakan barang-barang, menyerahkan barang-barang atau mengadakan perjanjian-
perjanjian perdagangan.

Mr.M.Polak

Perusahaan ada apabila diperlukan adanya perhitungan-perhitungan tentang laba-rugi yang dapat diperkirakan
dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan

UU No.3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan

Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus-
menerus dan yang didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah NKRI untuk tujuan memperoleh
keuntungan dan/atau laba.

Kesimpulan, Unsur-unsur perusahaan :Suatu badan usaha,Melakukan kegiatan usaha,Dilakukan secara terus-
menerus/kontinyu dan bersifat tetap,Dilakukan secara terang-terangan,Bertujuan mencari
keuntungan/laba,Mengadakan pembukuan

2 PENGATURAN HUKUM PERUSAHAAN :

KUHPer,KUHD

Peraturan Perundang-undangan lainnya

Definisi Pengusaha : orang yang menjalankan perusahaan atau owner/pemilik perusahaan

3 KLASIFIKASI PERUSAHAAN
A Berdasarkan jumlah pemiliknya :

Perusahaan Dagang/Perusahaan Perseorangan : perusahaan yang jumlah pemiliknya adalah satu orang

Perseroan/persekutuan : Perusahaan yang jumlah pemiliknya lebih dari satu orang

B Berdasarkan statusnya

Perusahaan yang berstatus badan hukum :

Perusahaan yang dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan-hubungan hukum;

Terdapat pemisahan harta kekayaan perusahaan dan harta kekayaan pribadi;

Mempunyai tujuan tertentu dan memiliki kepentingan sendiri;

Adanya organisasi yang teratur

Badan usaha dapat menggugat dan digugat di Pengadilan

Mempunyai hak dan kewajiban berdasarkan Undang-Undang

pendiriannya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

Contoh : PT, Koperasi, Yayasan

Perusahaan yang berstatus tidak badan hukum :

Tidak dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan hukum karena bukan merupakan subjek hukum

Kewenangan melakukan perbuatan hukum terdapat pada sekutu dari badan usaha yang bersangkutan

Tidak adanya pemisahan yang jelas antara harta kekayaan perusahaan dengan harta kekayaan pribadi

Pendirian dan pengaturan badan usaha diatur dalam KUHPer dan KUHD

Badan usaha tidak dapat digugat dan menggugat dihadapan pengadilan (tapi dapat ditujukan pada
pemilik/pengurusnya) Contoh : perusahaan perseorangan; persekutuan perdata (PP); Firma (Fa); Persekutuan
Komanditer/CV (Comanditaire Venootschaaf)

C Berdasarkan pemilik modal

Perusahaan negara/BUMN : perusahaan yang seluruh atau sebagian besar sahamnya milik negara/pemerintah

Perusahaan swasta : perusahaan yang seluruh atau sebagian besar sahamnya milik swasta terdiri dari :

swasta nasional

swasta asing

swasta campuran (asing dengan nasional)/joint venture

4 SIUP

Surat Izin Usaha Perdagangan yang selanjutnya disebut SIUP adalah Surat Izin untuk dapat melaksanakan
kegiatan usaha perdagangan, yang selanjutnya disebut SIUP.

Setiap perusahaan, koperasi, persekutuan maupun perusahaan perseorangan, yang melakukan kegiatan usaha
perdagangan wajib memperoleh SIUP yang diterbitkan berdasarkan domisili perusahaan dan berlaku di seluruh
wilayah Republik Indonesia.

Surat Izin Usaha Perdagangan di keluarkan oleh pemerintah daerah dan dibutuhkan oleh pelaku usaha
perseorangan maupun pelaku usaha yang telah berbadan hukum. Surat Izin Usaha Perdagangan tidak hanya di
butuhkan oleh usaha berskala besar saja melainkan juga usaha kecil dan menengah agar usaha yang dilakukan
mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari pihak pemerintah. Hal ini untuk menghindari terjadi masalah
yang dapat mengganggu perkembangan usaha di kemudian hari.

6. BADAN USAHA (Lanjutan)

BENTUK-BENTUK PERUSAHAAN

1. PERUSAHAAN DAGANG/PERUSAHAAN PERSEORANGAN

Perusahaan yang dimiliki, dikelola dan dipimpin oleh seseorang yang bertanggungjawab penuh terhadap semua
resiko dan aktivitas perusahaan.Dalam masyarakat dikenal dengan PD (Perusahaan Dagang) dan UD (Usaha
Dagang)

contoh : toko, bengkel, salon ,dsb

Prosedur pendirian :

Pengajuan permohonan izin usaha kepada Kepala Kantor Wilayah Perdagangan setempat

Pengajuan permohonan izin tempat usaha kepada Pemerintah Daerah setempat.

Membuat akta pendirian dari notaris (tanpa dibuat AD dan pembuatan akta ini tidak bersifat wajib)

Kewajiban-kewajiban pengusaha PD/UD,Pembukuan (Pasal 6 KUHD),Membayar pajak,pajak penghasilan (UU


No.7 Tahun 1983),Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa (UU No.8 Tahun 1983),Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (UU No.8 Tahun 1983).Pajak Bumi dan Bangunan (UU No.12 Tahun 1985)

Hubungan Hukum Perusahaan Dagang

Merupakan hubungan hukum antara pengusaha dengan pembantu-pembantu perusahaan, dan hubungan hukum
antara perusahaan dengan pihak ketiga.

hub.intern : hub. dgn pembantu perusahaan (hub.ketenagakerjaan dan hub.pemberian kuasa)

hub.ekstern : hub.hukum perusahaan dengan pihak ketiga

Hubungan Hukum Intern :

Hubungan hukum pengusaha dengan para pembantu perusahaan merupakan hubungan ketenagakerjaan dan
hubungan pemberian kuasa.

Hubungan ketenagakerjaan, meliputi hubungan pengusaha dengan para pembantunya, dimana kedudukan
pengusaha sbg majikan dan kedudukan pembantu perusahaan sbg buruh (manajer, pelayan toko, tukang,dsb)

Hubungan pemberian kuasa, meliputi hubungan pengusaha dengan para pembantu perusahaan yang berada
diluar perusahaan.(agen, sales, makelar, komisioner,notaris,akuntan, dsb.)

Hubungan Hukum Ekstern :

Hubungan hukum antara perusahaan (pengusaha/pembantu perusahaan) terhadap pihak ketiga menimbulkan
perikatan-perikatan terhadap pihak ketiga.

Perikatan-perikatan timbul dari perbuatan hukum

Perikatan-periktan yang timbul dari perbuatan melawan hukum

2. PERSEKUTUAN PERDATA/ PP (MAATSCHAP)

Definisi

Perjanjian antara dua orang/lebih yang mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan
dengan maksud untuk membagi keuntungan atau kemanfaatn yang diperoleh (Pasal 1618 KUHPer).
Unsur-unsur PP :

Perjanjian,Pemasukan (inbreng),Bertujuan memperoleh keuntungan/laba,Keuntungan dibagi bersama

Cara pendirian

Dengan perjanjian (tertulis/lisan) (1618 KUHPer)

Syarat pendirian PP

Perjanjian berdasarkan syarat sahnya (1320 KUHPer)

Perjanjian tersebut tidak bertentangan dengan hukum, kesusilaan dan ketertiban umum

Pembagian keuntungan merupakan keuntungan bersama

Adanya pemasukan (inbreng) yang merupakan gabungan kekayaan

Pengurusan PP

pengurusan PP melalui pengangkatan :

Sekutu statuter (gerant statutaire) : sekutu/pengurus yang diangkat pada saat PP tersebut didirikan untuk
menjalankan PP, dan kedudukan sekutu ini hanya dapat diberhentikan oleh PP.

Sekutu mandater (gerant mandataire) : sekutu yang diangkat setelah PP didirikan yang bertugas menjalankan
perusahan, namun kedudukannya sewaktu-waktu dapat dicabut.

Tanggung Jawab PP :

Merupakan tanggung jawab ekstern, yaitu pertanggungjawaban sekutu PP terhadap pihak ketiga, meliputi :

Tanggung jawab seorang sekutu yang melakukan hubungan hukum dengan pihak ketiga, termasuk terhadap
perbuatan-perbuatan yang dilakukan pihak ketiga

Tanggung jawab tersebut dapat mengikat terhadap sekutu lain, dalam hal terdapat surat kuasa dari sekutu lain;

hasil perbuatan hukum dinikmati secara bersama oleh PP; dan

perbuatan hukum dilakukan oleh beberapa sekutu sehingga tanggung jawabnya disama ratakan (kecuali ada
pengecualian dalam perjanjian)

Pembubaran PP :

Jangka waktu pendirian PP telah lampau

Musnahnya objek PP

Urusan/ tujuan didirikan PP telah tercapai/telah selesai

Atas inisiatif/kehendak dari satu orang/beberapa sekutu PP

Salah seorang sekutu meninggal dunia/dibawah pengampuan/dipailitkan

3.PERSEKUTUAN DENGAN NAMA BERSAMA (FIRMA)/ FA

Definisi

Firma merupakan persekutuan yang didirikan untuk menjalankan perusahaan dengan nama bersama. Nama
bersama yang digunakan merupakan gabungan antar anggota firma maupun dari salah satu anggota firma. (Pasal
16 KUHD)
Pada dasarnya Firma merupakan bentuk Persekutuan Perdata, namun memiliki bentuk yang lebih khusus, yaitu
menggunakan nama bersama sehingga disebut sebagai Persekutuan dengan Nama Bersama (Firma)

Contoh :

Fa Yudhitiya dan Rekan (gabungan nama dengan singkatan); Fa Yudhitiya Widya Utama (gabungan nama dari 3
sekutu); Fa Lestari

Unsur- Unsur Fa :

Badan usaha dengan bentuk persekutuan

Menggunakan nama bersama (sekutu) dalam kegiatan usaha

Pada umumnya sekutu-sekutu Fa merupakan suatu keluarga/mitra terdekat dan memiliki keahlian yang sama

Setiap sekutu menyerahkan kekayaan pribadi ke dalam Fa berdasarkan akta pendirian

Tanggung jawab masing-masing sekutu tidak terbatas (tanggung renteng)

Pendirian Fa

Fa didirikan berdasarkan Perjanjian dengan menggunakan akta otentik (Pasal 22 KUHD) dan perjanjian tersebut
merupakan Akta Pendirian Fa

Akta otentik bukan merupakan syarat mutlak/bukan merupakan syarat wajib

Pendaftaran Fa ke Panitera Pengadilan Negeri yang menjadi kedudukan/ domisili Fa (Pasal 23 KUHD)

Diumumkan pada Berita Acara Negara Republik Indonesia (Pasal 28 KUHD)

Kepengurusan Fa

Orang-orang/sekutu yang melakukan kepengurusan tercantum dalam Akta Pendirian Fa

Kepengurusan tersebut dibedakan mana yang memiliki kewenangan kepengurusan internal dan mana yang
memiliki kepengurusan eksternal

Tanggung Jawab Fa

Tanggung jawab yang dimaksud merupakan tanggung jawab eksternal terhadap pihak ketiga, meliputi :

Perikatan oleh sekutu yang diberikan hak bertindak keluar mewakili Fa menjadi tanggung jawab semua sekutu
yang bersifat tanggung renteng/tanggung jawab tidak terbatas

Perikatan oleh sekutu yang tidak diberikan hak mewakili Fa dalam hubungan keluar menjadi tanggung jawab
pribadi sekutu yang bersangkutan saja

Pembubaran Fa

Pada dasarnya Fa merupakan Persekutuan Perdata, maka pembubaran Fa sama seperti pembubaran pada
Persekutuan Perdata (PP)

4. PERSEKUTUAN KOMANDITER/COMMANDITAIRE VENNOOTSCHAP (CV)

A. Dasar Hukum CV

Pasal 19-21 KUHD

B. Definisi

CV merupakan persekutuan firma yang mempunyai satu atau beberapa orang sekutu komanditer .
Sekutu komanditer, sekutu yang hanya menyerahkan modal, dan tidak turut campur dalam
kepengurusan/penguasaan CV.

CV dapat disebut juga sebagai bentuk badan usaha yang didirikan oleh dua orang atau lebih untuk menjalankan
suatu kegiatan usaha

C. Sekutu CV

Sekutu Komanditer/Sekutu Pasif : merupakan sekutu/orang yang hanya menyerahkan modal, dan tidak turut
campur dalam kepengurusan maupun pengelolaan CV.

Sekutu Komplementer/Sekutu Aktif : merupakan sekutu/orang yang bertugas mengurus atau mengelola CV
(namun dapat turut serta menyerahkan modal meskipun pada dasarnya tugas utama adalah melakukan
kepengurusan CV)

Sekutu Komanditer/Sekutu Pasif

Sekutu komanditer memiliki hak&kewajiban :

Wajib menyerahkan modal ke dalam CV

Wajib bertanggung jawab atas kewajiban persekutuan terhadap pihak ketiga, namun hanya sebatas pada modal
yang disetor saja.

Berhak mendapatkan keuntungan dari CV

Sekutu komanditer tidak boleh melakukan pengurusan CV sebagaimana dilakukan sekutu komplementer,
apabila dilanggar maka tanggung jawab sekutu komanditer menjadi tidak terbatas/tanggung renteng.

Sekutu Komplementer/Sekutu Aktif

Sekutu komplementer memiliki hak dan kewajiban :

Wajib mengurus dan mengelola CV

Memiliki hak untuk turut serta memasukkan modal ke CV

Bertanggung jawab atas kepengurusan CV termasuk bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kewajiban
CV terhadap pihak ketiga

Berhak mendapatkan pembagian keuntungan CV

D. Macam CV

1 CV Diam-diam

CV yang belum menyatakan dirinya secara terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai CV.

Artinya :Secara internal, CV tersebut sudah menjadi CV karena sudah memiliki sekutu komanditer dan sekutu
komplementer,

Namun dalam hubungan eksternal, CV tersebut masih menyatakan dirinya sebagai Persekutuan Firma.

2 CV Terang-Terangan

CV yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai CV kepada pihak ketiga.

Makna terang-terangan diwujudkan melalui:

Pemasangan papan nama CV, tertera di reklame, dsb.


Dengan demikian, Segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh para sekutu bagi kepentingan CV, dilakukan atas
nama CV tersebut/ mewakili CV tersebut.

3 CV dengan Saham

CV dengan saham pada dasarnya merupakan CV secara terang-terangan, pembedanya adalah modal yang
digunakan CV terdiri dari saham-saham atau sero-sero.

E. Pendirian CV

CV didirikan atas dasar perjanjian (Akta Pendirian Otentik yang disahkan oleh Notaris).

Akta Pendirian CV disertakan Anggaran Dasar CV (AD) yang meliputi, nama CV dan tempat kedudukan CV; tujuan
pendirian CV; tanggal pendirian dan jangka waktu berdirinya CV; modal CV; penunjukkan sekutu komanditer
dan sekutu komplementer; hak dan kewajiban para sekutu; pembagian keuntungan/kerugian CV.

Akta Pendirian CV didaftarkan ke Panitera Pengadilan Negeri domisili CV berada.

Akta Pendirian CV diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Repubik Indonesia

F. Pembubaran CV

Jangka waktu pendirian CV telah lampau/daluarasa

Musnahnya objek CV

Kegiatan usaha CV telah selesai dilakukan/tujuan pendirian CV telah tercapai

Atas inisiatif dari salah seorang atau beberapa sekutu

Salah seorang sekutu meninggal dunia/dibawah pengampuan/dinyatakan pailit.

5. PERSEROAN TERBATAS (PT.)

Dasar hukum

UU No.40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Definisi (Pasal 1 angka 1)

Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha
dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam
UU PT

Perseroan

Perusahaan yang didirikan atas sero-sero (saham-saham)

Terbatas

Tanggung jawab pemegang saham PT yang bersifat terbatas. Artinya, terbatas pada saham yang dimiliki/disetor
saja

Hapusnya Tanggung Jawab Terbatas

Persyaratan pendirian PT sebagaimana diatur oleh UU PT belum atau tidak dipenuhi.

Pemegang saham mempunyai itikad tidak baik memanfaatkan PT. Untuk kepentingan pribadi

Pemegang saham PT melakukan/turut serta dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan PT yang
bersangkutan.
Pemegang saham PT melakukan perbuatan melawan hukum menggunakan kekayaan PT sehingga kekayaan PT
tidak mencukupi untuk membayar utang PT.

Dalam hal terbukti bahwa terdapat percampuran harta kekayaan pribadi dan harta kekayaan PT oleh pemegang
sahamnya.

Pendirian PT

PT didirikan atas dasar perjanjian (Pasal 7)

Perjanjian diwujudkan dalam Akta Otentik dihadapan Notaris dan dibuat dengan menggunakan Bahasa
Indonesia

Akta pendirian PT disertakan Anggaran Dasar PT dan keterangan lain tentang PT

Pengesahan oleh Menteri Hukum dan HAM RI untuk memperoleh status badan hukum

Pendaftaran PT oleh Direksi dalam Wajib Daftar Perusahaan yang diselenggarakan Menteri Hukum dan HAM

Pengumuman dalam Tambahan Berita Negara RI

Anggaran Dasar (AD) PT,AD PT minimal harus memuat (Pasal 15) :,Nama dan tempat kedudukan/domisili
PT,Tujuan kegiatan usaha PT,Jangka waktu pendirian PT,Besarnya modal PT (dasar,ditempatkan,disetor),Saham
(jumlah, klasifikasi, nilai saham),Anggota Direksi dan Komisaris (susunan, jumlah dan nama).Pembagian
keuntungan PT

Keterangan lain PT :

Identitas pendiri PT (Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, pekerjaan, kewarganegaraan) atau nomor
dan tanggal keputusan menteri mengenai pengesahan badan hukum PT.

Identitas anggota Direksi dan Dewan Komisaris pertama kali diangkat (nama lengkap, tampat tanggal lahir,
alamat, pekerjaan, kewarganegaraan)

Nama pemegang saham yang telah mengambil saham, rincian jumlah saham, nilai nominal saham yang telah
ditempatka dan disetor.

Modal PT

Fungsi

Fungsi modal dalam perusahaan adalah sarana kelangsungan hidup perusahaan dan sarana pengembangan
perusahaan sebagai lembaga perekonomian.

Klasifikasi Modal

Modal dasar

Modal disetor

Modal ditempatkan

Modal Dasar

Modal dasar PT terdiri atas seluruh nilai nominal saham. Modal dasar PT. minimal Rp 50.000.000 (dapat lebih
besar dari Rp.50.000.000 dalam hal kegiatan usaha tertentu yang diatur dalam UU tertentu).

Modal Ditempatkan
Modal yang disanggupi oleh para pendiri untuk disetor ke dalam kas PT pada saat perseroan didirikan. Modal
ditempatkan minimal 25 % dari modal dasar.

Modal Disetor

Modal yang disetor ke dalam kas PT, minimal 25% dari modal yang ditempatkan.

Penambahan Modal

Penambahan modal dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS

RUPS dalam rangka penambahan modal dasar,disetor dan ditempatkan sah dengan kuorum kehadiran ½ bagian
dari seluruh jumlah saham dengan hak suara dan disetujui oleh ½ bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan.

Penambahan modal wajib diberitahukan Menteri Hukum dan HAM untuk kemudian dicatat dalam daftar
perseroan.

Saham PT

Saham perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya. Selanjutnya, nilai saham harus dicantumkan dalam mata
uang rupiah (Pasal 48 ayat (1))

Klasifikasi saham

Saham dengan hak suara atau tanpa hak suara

Saham dengan hak khusus untuk mencalonkan anggota direksi dan atau anggota dewan komisaris

Saham yang setelah jangka waktu tertentu ditarik kembali atau ditukar dengan klasifikasi saham lain

Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima deviden lebih dulu dari pemegang saham
klasifikasi lain atas pembagian deviden secara kumulatif atau non kumulatif

Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima lebih dulu dari pemegang saham klasifikasi
lain atas pembagian sisa kekayaan perseroan dalam likuidasi.

Hak yang melekat pada pemegang saham,Hak untuk dicatat dalam daftar pemegang saham,Hak untuk
menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS,Hak untuk menerima deviden yang dibagikan,Hak untuk
menerima sisa kekayaan hasil likuidasi,Perlindungan terhadap pemegang saham minoritas,Hak pemegang
saham untuk mengajukan gugatan terhadap PT apabila pemegang saham dirugikan oleh tindakan PT,Hak
pemegang saham untuk meminta pada PT agar membeli sahamnya dengan harga wajar,Hak pemegang saham
untuk dapat mengajukan permohonan pemeriksaan kepada pengadilan untuk memperoleh data karena adanya
dugaan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh PT

Dalam penentuan kuorum perubahan AD, pembubaran, penggabungan, peleburan dan pengambilalihan
ditentukan berdasarkan suara terbanyak

Dalam hal penggabungan, peleburan dan pengambilalihan harus ditentukan secara tegas perbuatan tersebut
telah memperhatikan kepentingan saham minoritas

Kemungkinan kepemilikan saham oleh karyawan PT

Jika penambahan modal PT dan pemegang saham yang ada tidak mengambil bagian, sebelum ditawarkan kepada
orang lain, PT harus menawarkan terlebih dahulu kepada karyawan.

Jika pemegang saham akan menjual sahamnya kepada orang lain, diharuskan menawarkan lebih dahulu kepada
karyawan

Tanggung jawab pemegang saham terbatas pada jumlah atau nilai saham yang dimilikiny
Adanya pengaturan tentang pemindahan hak atas saham (saham atas nama maupun atas tunjuk).

Organ PT

Organ PT terdiri dari 3 bagian, meliputi :

RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)

Dewan Komisaris

Direksi

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS merupakan organ tertinggi dalam PT

RUPS memiliki wewenang yang tidak diberikan kepada Komisaris maupun Direksi dalam batas waktu yang
ditentukan dalam UU/AD (Pasal 75 ayat 1)

Sebelum Direksi menyelenggarakan RUPS, didahului oleh pemanggilan RUPS

Wewenang RUPS yang tidak diberikan kepada Direksi dan Komisaris :

Mengangkat dan memberhentikan komisaris dan direksi

Menyetujui penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan

Menyetujui permohonan agar PT dinyatakan pailit

Menyetujui perpanjangan jangka waktu PT

Mengubah Anggaran Dasar

Membubarkan PT

Klasifikasi RUPS :

RUPS Tahunan : diselenggarakan maksimal 6 bulan setelah tahun buku berakhir

RUPS Lainnya : misalnya adalah RUPS Luar Biasa. RUPS ini dapat diselenggarakan setiap waktu berdasarkan
kebutuhan PT.

Dewan Komisaris

Dewan Komisaris merupakan organ PT yang memiliki tugas untuk melakukan pengawasan secara umum dan
atau khusus sesuai dengan AD. Pengawasan tersebut meliputi pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya
pengurusan PT secara umum.

Dewan Komisaris juga memiliki tugas untuk memberikan nasehat kepada Direksi

Pengawasan dan pemberian nasehat oleh Dewan Komisaris dilakukan untuk kepentingan PT berdasarkan tujuan
PT

Setiap anggota Dewan Komisaris wajib melaksanakan tugas dan wewenangnya dengan itikad baik, kehati-hatian
dan bertanggung jawab.

Setiap anggota Dewan Komisaris bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian PT apabila yang bersangkutan
melakukan kesalahan/lalai menjalankan tugasnya
Apabila Dewan Komisaris terdiri dari dua orang atau lebih, maka tanggung jawabnya menjadi tanggung renteng
untuk setiap anggota Dewan Komisaris

Direksi

Organ PT yang berwenang dan bertanggung jawab atas pengurusan dan pengelolaan PT (Pasal 29 ayat (1))
berdasarkan tujuan PT baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai AD PT. Sehingga kewenangan tersebut
meliputi kewenangan kepengurusan PT dan kewenangan mewakili PT di pengadilan

Anggota Direksi dapat terdiri dari satu orang atau lebih. Orang yang dapat diangkat menjadi anggota Direksi
adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 tahun sebelum
pengangkatannya, yang bersangkutan pernah :

Dinyatakan pailit

Menjadi anggota direksi atau komisaris yang dinyatakan bersalah sehingga menyebabkan PT pailit

Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keungan negara dan atau yang berkaitan dengan
bidang keuangan.

PT dapat melakukan Go Public

Go Public PT

PT yang menjual sahamnya kepada publik (masyarakat) melalui pasar saham (bursa saham/bursa efek) dengan
tujuan untuk melakukan pengembangan PT.

PT. Yang melakukan Go Public semula merupakan PT. Tertutup berubah menjadi PT.Terbuka yang disingkat Tbk.
(contoh : PT.BCA, Tbk)

PT Tertutup

PT yang didirikan dengan maksud untuk tidak menjual sahamnya kepada masyarakat. PT Tertutup biasanya
merupakan PT yang dimiliki oleh suatu keluarga, sehingga kepemilikan sahamnya terbatas hanya dimiliki
keluarga.

PT.Terbuka (Tbk)

PT yang menjual sahamnya ke masyarakat melalui pasar saham dengan tujuan melakukan penambahan modal
(pengembangan PT)

Kewenangan Proses dan Mekanisme Go Public

Proses yang dilakukan PT

Persiapan Go Public oleh PT yang bersangkutan dengan melengkapi syarat dan mempelajari tata cara Go Public

Proses yang dilakukan oleh suatu Otorias Negara :

Dulu : BAPEPAM LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) Sekarang : OJK (Otoritas Jasa
Keuangan)

Konsekuensi PT. Go Public

Dampak Positif

Penambahan modal

Net work/ jaringan mitra menjadi meluas

Dapat melakukan ekspansi/restrukturisasi PT (merger, akuisisi, konsolidasi)

Reputasi PT. menjadi meningkat dan terkenal sehingga pasar lebih meluas
Likuiditas PT dan saham menjadi lebih baik

Kestabilan PT lebih terjamin dari penyimpangan karena disorot oleh masyarakat

Dampak Negatif

Keharusan transparansi informasi memberikan celah informasi bagi pesaing

Pemilik PT kehilangan fleksibilitas dalam melakukan tindakan tertentu, karena dibutuhkan izin dari pemegang
saham/otoritas tertentu

Pengurusan administrasi dan dana tambahan yang cukup besar untuk proses Go Public

Kehilangan kontrol dari pemegang saham sendiri jika porsi saham yang dijual terlalu besar

Pembayaran pajak yang lebih tinggi

Keunggulan PT

Kedudukan PT sebagai Badan Hukum yang merupakan Subjek Hukum

PT merupakan badan usaha yang dijamin dari aspek hukum (dijamin dalam peraturan perundang-undangan)

PT merupakan badan usaha yang memiliki nilai lebih secara ekonomi (berfungsi sebagai badan usaha yang
sempurna karena dijamin oleh hukum)

PT banyak diminati masyarakat yang ingin mendirikan badan usaha dengan modal yang cukup besar

Pembubaran PT

Berdasarkan keputusan RUPS.

Jangka waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penetapan pengadilan.

Dicabutnya kepailitan berdasarkan putusan pengadilan niaga yang inkracht, harta pailit perseroan tidak cukup
untuk membayar biaya pailit.

Harta pailit perseroan yang telah dinyatakan pailit berada dalm keadaan insolvensi.

Dicabutnya izin perseroan sehingga mewajibkan perseroan melakukan likuidasi.

6. KOPERASI

Dasar Hukum

UU No.12 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian

Definisi

Badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas kekeluargaan

Prinsip Koperasi

Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka

Pengelolaan dilakukan secara demokratis


Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil, dan sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing
anggota

Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal

Kemandirian

Pendirian Koperasi

Rapat Pembentukan

Permohonan Pengesahan

Rapat Pembentukan

Rapat pembentukan koperasi, dihadiri minimal 20 orang calon anggota. Dalam rapat pembentukan, ditentukan
Akta Pendirian Koperasi dan Anggaran Dasar Koperasi.

Akta pendirian tersebut dibuat secara otentik dihadapan Notaris.

Anggaran Dasar Koperasi minimal,memuat:

Daftar nama pendiri,Nama dan tempat kedudukan,Maksud dan tujuan serta bidang usaha,Ketentuan mengenai
keanggotaan,Ketentuan mengenai rapat anggota,Ketentuan mengenai pengelolaan,Ketentuan mengenai
permodalan,Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya,,Ketentuan mengenai pembagain SHU,Ketentuan
mengenai sanksi

Permohonan Pengesahan

permohonan pengesahan diajukan secara tertulis oleh para pendiri koperasi kepada Kementerian Koperasi dan
UKM (melampirkan berita acara rapat pembentukan; akta pendirian dan anggaran dasar)

setelah dilakukan pengesahan, selanjutnya dilakukan pengumuman pada Berita Negara Republik Indonesia

Perangkat Organisasi Koperasi

Perangkat organisasi koperasi terdiri dari :

Rapat Anggota

Pengurus Koperasi

Pengawas

Rapat Anggota

Rapat anggota koperasi merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam pengelolaan koperasi

Rapat ini diselenggarakan minimal satu kali dalam satu tahun, dengan hasil keputusan dilaksanakan berdasarkan
musyawarah untuk mufakat

Kewenangan Rapat Anggota diatur dalam Pasal 23 UU Perkoperasian

Pengurus Koperasi

pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota

Untuk kepentingan pengelolaan koperasi, pengurus dapat mengangkat pengelola untuk mengelola usaha
koperasi. Pengelola tersebut bertanggung jawab kepada pengurus, dan hubungan hukum antara pengurus dan
pengelola merupakan hubungan hukum ketenagakerjaan.

Tugas Pengurus Koperasi :

Mengelola koperasi dan usahanya


Mengajukan rancangan rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi

Menyelenggarakan rapat anggota

Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas,dan

Memelihara daftar buku anggota dan pengurus

Kewenangan Pengurus :

Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan

Memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta pemberhentian anggota sesuai ketentuan AD

Melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan koperasi sesuai dengan tanggung jawabnya
keputusan rapat anggota.

Pengawas

pengawas dipilih dari dan oleh anggota koperasi melalui rapat anggota koperasi

Tugas Pengawas :

Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan koperasi

Membuat laporan tertulis mengenai hasil pengawasan

Wewenang pengawas :

Meneliti catatan yang ada pada koperasi

Mendapatkan keterangan yang diperlukan

Merahasiakan hasil pengawasan kepada pihak ketiga

Modal Koperasi dan Sisa Hasil Usaha (SHU)

Modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman

Modal sendiri,meliputi :

Simpanan pokok,Simpanan wajib,Dana cadangan,Hibah

Modal Pinjaman :

Berasal dari anggota

Berasal dari koperasi lain dan atau anggotanya

Berasal dari pinjaman bank dan lembaga keuangan lainnya

Berasal dari penerbitan obligasi dan surat uang lainnya

Sumber lain yang sah

SHU (Sisa Hasil Usaha)

SHU adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku, dikurangi dengan biaya penyusutan
dan kewajiban lainnya, termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan

SHU setelah dikurangi dana cadangan, wajib diberikan kepada anggota

7. YAYASAN

Dasar Hukum
UU No.16 Tahun 2001 Tentang Yayasan,UU No.28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UU,No.16 Tahun 2001
Tentang Yayasan

Definisi

Badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di
bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota

(Pasal 1 angka 1 UU No.16 Tahun 2001)

Pendirian Yayasan

Akta Pendirian Yayasan yang disertakan AD Yayasan dibuat dihadapan Notaris

Akta Pendirian Yayasan disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM untuk memperoleh status Badan Hukum

Diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia

Organ Yayasan,Badan Pembina,Badan Pengurus,Badan Pengawas

Kekayaan Yayasan

Internal dapat berupa uang dan barang

Eksternal merupakan kekayaan lain yang dapat diperoleh melalui :

Sumbangan / bantuan yang tidak mengikat

Wakaf,Hibah,Hibah Wasiat

Sumber lain yang tidak bertentangan dengan AD Yayasan dan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

Berakhirnya Yayasan

jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir

tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;

putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan:

Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;

tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau

harta kekayaan

7. MERGER, KONSOLIDASI DAN AKUISISI


RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN
Pengertian

Pengertian Restrukturisasi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah penataan kembali (supaya struktur
atau tatanannya baik)

Sedangkan Restrukturisasi Perusahaan adalah Upaya untuk melakukan pengembangan perusahaan ke arah yang
lebih baik.

Tujuan Restrukturisasi Perusahaan adalah untuk memperbaiki dan memaksimalkan kinerja perusahaan.
Adapun bentuk Restrukturisasi Perusahaan adalah :

Merger,Konsolidasi,Akuisisi

A. Merger (Penggabungan) Perusahaan

Perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perusahaan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan
perusahaan lain yang telah ada, dan mengakibatkan aktiva dan pasiva perusahaan yang menggabungkan diri
beralih kepada perusahaan yang menerima penggabungan diri, sehingga perusahaan yang menggabungkan diri
menjadi berakhir/hilang.

Merger terbagi menjadi tiga, yaitu:

Merger horizontal, adalah merger yang dilakukan oleh usaha sejenis (usahanya sama), misalnya merger antara
dua perusahaan roti, perusahaan sepatu.

Merger vertikal, adalah merger yang terjadi antara perusahaan-perusahaan yang saling berhubungan, misalnya
dalam alur produksi yang berurutan. Contohnya: perusahaan pemintalan benang merger dengan perusahaan
kain, perusahaan ban merger dengan perusahaan mobil.

Konglomerat ialah merger antara berbagai perusahaan yang menghasilkan berbagai produk yang berbeda-beda
dan tidak ada kaitannya, misalnya perusahaan sepatu merger dengan perusahaan elektronik atau perusahaan
mobil merger dengan perusahaan makanan. Tujuan utama konglomerat ialah untuk mencapai pertumbuhan
badan usaha dengan cepat dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Caranya ialah dengan saling bertukar saham
antara kedua perusahaan yang disatukan.

Bentuk Penggabungan Badan Usaha

Bentuk kerja sama atau penggabungan badan usaha di antaranya :

Trust

Trust adalah peleburan beberapa badan usaha menjadi sebuah perusahaan yang baru, sehingga diperoleh
kekuasaan yang besar dan monopoli. Contoh: Bank Mandiri merupakan gabungan dari Bank Bumi Daya, Bank
Dagang Negara, Bank Pembangunan Indonesia, Bank Ekspor Impor Indonesia

Kartel

Kartel adalah bentuk kerja sama antara beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha yang sama
dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan, memperkecil kondisi persaingan, dan memperluas atau
menguasai pasar. Macam-macam kartel yang sering dijumpai antara lain:

Kartel wilayah adalah penggabungan yang didasarkan pada perjanjian pembagian wilayah atau daerah
penjualan dan pemasaran barangnya

Kartel produksi adalah penggabungan yang bertujuan untuk menyelenggarakan produksi bersama secara
massal, tetapi masing-masing perusahaan ditetapkan batas jumlah produksi yang diperbolehkan (kuota
produksi)

Kartel bersyarat atau kartel kondisi adalah penggabungan dengan menetapkan syarat-syarat penjualan,
penyerahan barang, dan penetapan kualitas produksi

Kartel harga adalah penggabungan dengan menetapkan harga minimum dari produk yang dihasilkan masing-
masing anggota

Kartel pembelian dan penjualan adalah penggabungan untuk pembelian dan penjualan hasil produksi, agar tidak
terjadi persaingan.
Holding Company

Holding Company adalah suatu PT yang besar yang menguasai sebagian besar sero atau saham perusahaan
lainnya. Meskipun secara yuridis badan usaha yang dikuasai tetap berdiri sendiri namun diatur dan dijalankan
sesuai dengan kebijakan PT yang menguasai.

Concern

Sebenarnya concern sama halnya dengan holding company, yaitu memiliki sebagian besar saham-saham dari
beberapa badan usaha. Perbedaannya adalah holding company sering berbentuk PT, sedangkan concern sering
dimiliki perseorangan, yaitu seorang hartawan yang mempunyai modal yang amat besar.

Corner dan Ring

Corner dan ring adalah penggabungan beberapa badan usaha yang tujuan mencari keuntungan besar, dengan
cara menguasai penawaran barang untuk memperoleh monopoli dan menaikkan harga.

Syndicate

Syndicate adalah kerja sama sementara oleh beberapa badan usaha untuk menjual atau mengerjakan suatu
proses produksi.

Joint Venture

Joint venture adalah penggabungan beberapa badan usaha untuk mendirikan satu bentuk usaha bersama dengan
modal bersama pula, dengan tujuan untuk menggali kekayaan alam dan mendidik tenaga ahli untuk
menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Production Sharing

Production sharing adalah kerja sama bagi hasil antara pihak-pihak tertentu.

Waralaba (Franchise)

Waralaba merupakan sistem usaha yang tidak memakai modal sendiri, artinya untuk membuka gerai waralaba
cukup menggunakan modal milik investor lain. Seorang franchise (pembeli usaha waralaba) harus memenuhi
syarat-syarat khusus yang ditetapkan oleh franchisor (perusahaan waralaba), karena pada franchise akan
menggunakan merek yang sama dengan franchisor sehingga harus memiliki standar yang sama. Keuntungan
yang diperoleh investor waralaba antara lain terhindar dari biaya trial and error, karena sudah terlebih dahulu
dikeluarkan oleh pemilik usaha.

B. Konsolidasi (Peleburan) Perusahaan

Perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua perusahaan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara
mendirikan satu perusahaan baru. Dengan demikian, aktiva dan pasiva perusahaan yang meleburkan diri
menjadi milik perusahaan baru, dan beberapa perusahaan yang meleburkan diri menjadi berkahir/hilang.contoh
: pembentukan Bank Mandiri yang berasal dari peleburan empat Bank BUMN yang sedang sekarat akibat dampak
krisis moneter 1997/1998, yaitu Bank BDN, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor, dan Bank Bapindo

Ciri-Ciri Konsolidasi Perusahaan

Ada dua atau lebih perusahaan yang meleburkan diri untuk membentuk perusahaan baru.

Perusahaan yang meleburkan diri, bubar demi hukum tanpa likuidasi.

Perusahaan baru hasil peleburan harus mendapatkan status badan hukum yang baru dari menhukham.

Rancangan konsolidasi dan konsep akta konsolidasi wajib disetujui RUPS di masing-masing perseroan.
Konsep akta konsolidasi yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta konsolidasi yang dibuat di hadapan
notaris dalam bahasa Indonesia.

Salinan akta konsolidasi dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan keputusan Menhukham
mengenai pengesahan badan hukum perseroan hasil peleburan.

Perseroan hasil konsolidasi memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya keputusan
Menhukham mengenai perusahaan yang meleburkan diri bubar demi hukum tanpa proses likuidasi.

Aktiva dan pasiva perusahaan yang meleburkan diri demi hukum akan beralih ke dalam perusahaan baru hasil
konsolidasi berdasarkan titel umum

C. Akuisisi (Pengalihan) Perusahaan

Perbuatan hukum yang dilakukan oleh perusahaan atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham
perusahaan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perusahaan tersebut. Dengan demikian,
perusahaan yang sahamnya diakuisisi oleh perusahaan lain tetap ada dan tidak berakhir.

Dapat dikatakan pula bahwa akuisisi adalah pengambil alihan perusahaan oleh perusahaan lain yang ditempuh
dengan dua cara, yaitu: pertama, mengambil alih aset perusahaan target. Kedua, membeli saham-saham dari
perusahaan target.

Contoh : BenQ secara resmi melakukan akuisisi terhadap salah satu bisnis mobile device (MD) milik perusahaan
elektronik raksasa Jerman Siemens AG tahun 2005.

Tipe-Tipe Akuisisi

Moin (2003) dalam Lestari (2008),mengklasifikasikan akuisisi secara umum menjadi lima tipe yaitu :

Akuisisi horizontal adalah akuisisi antara dua atau lebih perusahaan yang bergerak dalam industri yang sama.
Sebelum terjadi akuisisi perusahaan- perusahaan ini bersaing satu sama lain dalam pasar atau industri yang
sama. 2.

Akuisisi vertikal adalah integrasi yang melibatkan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam tahapan-
tahapan proses produksi atau operasi. Akuisisi tipe ini dilakukan jika perusahaan yang berada pada industri hilir
memasuki industri hilir menjadi industri hulu.

Akuisisi konglomerat adalah akuisisi perusahaan yang masing masing bergerak dalam industri yang tidak terkait
atau bisnisnya tidak berhubungan, tetapi tidak termasuk dalam kategori akuisisi horisontal dan akuisisi vertikal.

Akuisisi ekstensi pasar adalah akuisisi yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan untuk secara bersama-
bersama memperluas area pasar. Tujuan akuisisi ini terutama untuk memperkuat jaringan pemasaran bagi
produk masing- masing perusahaan.

Akuisisi ekstensi produk adalah akuisisi yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan untuk memperluas lini
produk masing-masing perusahaan.
8. KEPAILITAN DAN PKPU
KEPAILITAN

Dasar Hukum

UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU Kepailitan dan
PKPU)

Definisi

Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitur pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan
oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas

(Pasal 1 angka 1).

Unsur Kepailitan

Sita harta kekayaan,Utang,Debitur,Kreditur,Kurator

Syarat Kepailitan (Pasal 2 ayat (1))

Debitur yang mempunyai minimal dua kreditur atau lebih

Debitur minimal memiliki satu utang yang telah jatuh waktu/jatuh tempo dan dapat ditagih

Pihak yang dapat mengajukan Kepailitan

Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan debitur sedikitnya tidak membayar satu utang yang telah
jatuh waktu dan dapat ditagih

Kreditur atau beberapa Kreditur

Kejaksaan RI untuk kepentingan umum

Bank Indonesia untuk permohonan pailit Debitor Bank

Bapepam-LK, untuk permohonan pailit Debitor perusahaan efek, bursa efek,lembaga kliring dan penjamin serta
lembaga penyimpanan dan penyelesaian

Menteri Keuangan, untuk permohonan pailit Debitor perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun
atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik

Dengan adanya Undang-Undang No.21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK), maka pengaturan
dan pengawasan terhadap kegiatan di sektor perbankan, pasar modal, dan di sektor perasuransian, dana pensiun
, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya menjadi kewenangan OJK (Pasal 6), termasuk dalam
hal permohonan pengajuan pailit yang berkaitan dengan sektor tersebut.

Prosedur Kepailitan

Putusan pernyataan pailit diucapkan maksimal 60 hari setelah tanggal permohonan pernyataan pailit
didaftarkan (Pasal 13 ayat (5))

Kemudian dilakukan verifikasi yaitu rapat pencocokan piutang oleh Hakim Pengawas, Panitera, Debitur, Kurator
dan Para Kreditur yang ditetapkan maksimal 14 hari setelah putusan pailit (Pasal 113 ayat (1))
Debitur dapat mengajukan rencana perdamaian kepada Kreditur (Pasal 144)

Dalam rapat rencana perdamaian, Hakim Pengawas dapat menentukan dapat disahkan atau tidaknya rencana
perdamaian yang diajukan oleh Debitur (Pasal 156 ayat (1))

Dalam hal rencana perdamaian dikabulkan :

Dilakukan sidang homologasi untuk mengesahkan perdamaian dan Debitur wajib untuk membayar utangnya
kepada Kreditur, kemudian dilakukan tahap rehabilitasi yaitu upaya mengembalikan nama baik Debitur (Pasal
215).

Setelah dilakukan rehabilitasi maka kepailitan berakhir dan perusahaan Debitur dapat melakukan kegiatan
usaha kembali.

Dalam hal rencana perdamaian ditolak atau tidak disahkan:

Ditolak karena tidak disetujui oleh Krediturnya berdasarkan Pasal 151

Tidak disahkan oleh hakim pengawas dalam hal harta yang dimiliki Debitur tidak cukup untuk melunasi
utangnya (Pasal 159 ayat (2))

Dalam hal pengesahan perdamaian ditolak maupun disahkan, dapat diajukan upaya Kasasi (Pasal 160)

Dalam hal rencana perdamaian ditolak atau tidak disahkan maka Debitur dalam keadaan insolvensi (Pasal 178
ayat (1))

Tahap selanjutnya dilakukan pemberesan harta pailit (Pasal 187 ayat (1)) dan setelah selesai maka kepailitan
berakhir dan perusahaan bubar.

Skema Kepailitan

Dalam Skema Kepailitan, putusan pailit diberikan dalam hal pemohon pailit telah memenuhi syarat kepailitan

Kurator dapat melakukan pinjaman kepada pihak ketiga dalam rangka meningkatkan harta pailit atas
persetujuan Hakim Pengawas

Terhadap pinjaman tersebut, harta pailit dapat dibebankan dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,
hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya
Pengurusan Harta Pailit

Pengurusan dan pemberesan harta pailit dilakukan oleh Kurator.

Pemberesan harta pailit diartikan sebagai pengalihan aset harta pailit milik Debitur untuk membayar utang
Debitur.

Setelah harta pailit dalam keadaan insolvensi, maka hakim pengawas dapat mengadakan rapat kreditur untuk
mendengar mengenai cara pemberesan harta pailit

Dalam rapat kreditur, apabila hakim berpendapat terdapat cukup uang untuk melunasi kepada kreditur, maka
kurator diperintahkan untuk melakukan pembagian uang kepada kreditur yang utangnya telah dicocokkan

apabila dalam rapat pencocokan piutang tidak ditawarkan rencana perdamaian, atau rencana perdamaian yang
diajukan tidak diterima, maka kurator atau kreditur yang hadir dalam rapat dapat mengusulkan supaya
perusahaan debitur pailit tetap dilanjutkan

Usulan tersebut dapat dijalankan apabila disetujui oleh kreditur yang mewakili lebih dari setengah semua
piutang yang diakui dan diterima dengan sementara yang tidak dijamin dengan hak agunan kebendaan

Pemberhentian kelanjutan perusahaan juga dapat dilakukan oleh hakim pengawas atas permintaan kreditur atau
kurator

setelah pemberhentian kelangsungan perusahaan dilakukan, maka kurator mulai menjual semua harta pailit

Kebendaan yang berupa harta pailit tersebut dijual dimuka umum sesuai tata cara yang ditentukan dalam
perundang-undangan

Apabila penjualan dimuka umum tidak tercapai, maka dapat dilakukan penjualan di bawah tangan dengan izin
hakim pengawas

Pihak-Pihak dalam Pemberesan Harta Pailit

Hakim pengawas : bertugas untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit

Kurator : Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh Pengadilan untuk mengurus dan
membereskan harta Debitur pailit

Panitia Kreditur : terdiri atas tiga orang dari kreditur yang mendaftarkan diri untuk diverifikasi piutangnya
(rapat pencocokan piutang)

Jenis-jenis kreditur

Kreditur konkruen, merupakan kreditur yang harus berbagi dengan para kreditur yang lain

Kreditur preferen, merupakan kreditur yang didahulukan dari kreditur-kreditur lainnya untuk memperoleh
pelunasan tagihannya dari hasil penjualan harta pailitasalkan benda tersebut telah dibebani dengan hak jaminan
tertentu bagi kepentingan kreditur yang bersangkutan

Kreditur separatis, merupakan kreditur pemegang hak istimewa yang oleh undang-undang diberikan
kedudukan, dalam hal ini lebih didahulukan daripada kreditur konkruen maupun kreditur preferen

Tugas Pokok Kurator

Pengamanan harta pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek dan surat surat berharga
lainnya dengan memberikan tanda terima.
Pencatatan harta pailit maksimal 2 hari setelah menerima surat pengangkatan sebagai Kurator

Membuat daftar yang menyatakan sifat, jumlah piutang dan utang harta pailit serta nama dan tempat tinggal
Kreditur beserta jumlah piutang masing-masing Debitur

Kurator dapat melanjutkan usaha Debitur yang dinyatakan pailit walaupun terhadap putusan pernyataan pailit
tersebut diajukan Kasasi/Peninjauan kembali (atas persetujuan panitia Kreditur sementara)

Menyimpan sendiri uang,perhiasan, efek, dan surat berharga lainnya

Melakukan rapat pencocokan piutang yang diserahkan oleh kreditur dengan catatan yang telah dibuat
sebelumnya dan keterangan debitur pailit, maupun berunding dengan kreditur jika terdapat keberatan terhadap
penagihan yang diterima

Membuat daftar piutang sementara yang diakui

Akibat Hukum Kepailitan

Kepailitan meliputi seluruh kekayaan debitur pada saat putusan pernyataan palit diucapkan serta segala sesuatu
yang diperoleh selama kepailitan

Debitur secara hukum telah kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus harta kekayaannya yang
termasuk dalam harta pailit sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan

Semua perikatan yang diterbitkan debitur sesudah putusan pernyataan pailit, tidak dapat dibayar dari harta
pailit, kecuali perikatan tersebut menguntungkan harta pailit

Pengecualian kepailitan (Pasal 22)

Benda, termasuk hewan yang benar-benar dibutuhkan oleh debitur sehubungan dengan pekerjaannya,
perlengkapannya, alat-alat medis yang dipergunakan untuk kesehatan, tempat tidur, dan perlengkapannya yang
dipergunakan oleh debitur dan keluarganya, dan bahan makan untuk 30 hari bagi debitur dan keluarganya yan
terdapat di tempat itu

Segala sesuatu yang diperoleh debitur dari pekerjaannya sendiri sebagai penggajian dari suatu jabatan atau jasa
sebagai upah, pensiun, uang tunggu atau uang tunjangan, sejauh yang ditentukan oleh hakin pengawas

Uang yang diberikan kepada debitur untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-
undang

Berakhirnya Kepailitan

Kepailitan berakhir dalam hal disahkannya perdamaian oleh Hakim dan telah memperoleh Kekuatan Hukum
Tetap/Inkracht (Pasal 166 ayat (1))

Kepailitan berakhir dalam hal semua kreditur yang diakui piutangnya telah dibayar lunas (Pasal 202 ayat (1))

Kepailitan berakhir dalam hal daftar pembagian penutup menjadi mengikat dan telah memperoleh Kekuatan
Hukum Tetap/Inkracht (Pasal 202 ayat (1)). Dikatakan telah Inkracht apabila dalam pembagian akhir sudah
ditandatangani oleh Hakim Pengawas dan kemudian diumumkan dan selam pengumuman tidak ada keberatan
atau keberatan telah dapat diselesaikan.

Setelah dilakukan pemberesan harta pailit, maka kurator memiliki kewajiban untuk
Membuat pengumuman mengenai berakhirnya kepailitan dalam berita negara RI dan surat kabar

Memberikan pertanggungjawaban mengenai pengurusan dan pemberesan yang telah dilakukan kepada hakim
pengawas dalam waktu maksimal 30 hari setelah berakhirnya kepailitan

Menyerahkan semua buku dan dokumen mengenai harta pailit yang ada pada kurator kepada kreditur dengan
tanda bukti penerimaan yang sah

9. KEPAILITAN DAN PKPU (Lanjutan)

PKPU

(Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)

Definisi PKPU

PKPU = Tundaan pembayaran utang/suspention of payment

Adalah suatu masa yang diberikan oleh undang-undang melalui putusan hakim niaga dimana dalam masa
tersebut kepada pihak kreditur dan debitur diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara
pembayaran utangnya dengan memberikan rencana pembayaran seluruh atau sebagian utangnya (Munir Fuady)

Pihak yang dapat mengajukan permohonan PKPU (Pasal 222)

Diajukan oleh debitur yang mempunyai lebih dari 1 kreditur

Diajukan oleh debitur yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-
utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Kreditur yang memeprkirakan bahwa debitur tidak dapat melanjutkan membayar utang-utangnya yang sudah
jatuh waktu dan dapat ditagih

Dalam hal debitur adalah bank; perusahaan efek; bursa efek; lembaga kliring dan penjaminan; lembaga
penyimpanan dan penyelesaian; perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun; BUMN yang
bergerak dibidang kepentingan umum dapat mengajukan permohonan PKPU adalah instansi dalam pasal 2 ayat
(3), (4) dan (5))

Setelah adanya UU tentang OJK, maka kewenangan permohonan pada debitur tersebut diatas diajukan oleh OJK

Tujuan dilakukan PKPU

Agar penyelesaian utang piutang dapat melalui perdamaian/disetujuinya perdamaian, yang meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada krediturnya.

Untuk memungkinkan seorang debitur meneruskan usahanya meskipun ada kesukaran pembayaran

Untuk menghindari kepailitan

Pihak –pihak dalam Proses PKPU

Debitur,Kreditur,Pengurus,Majelis Hakim

SKEMA PKPU
Tahap PKPU

PKPU Sementara

PKPU-S merupakan tahap pertama proses PKPU

Apabila debitur mengajukan permohonan PKPU (dengan syarat terpenuhi),Pengadilan harus segera
mengabulkannya maksimal 3 hari sejak tanggal didaftarkannya surat permohonan

Apabila PKPU diajukan oleh kreditur, pengadilan harus segera mengabulkan permohonan PKPU maksimal
20hari sejak didaftarkannya permohonan

Kemudian pengadilan menunjuk hakim pengawas dan mengangankat satu/lebih pengurus

Putusan pengadilan tentang PKPU-S berlaku maksimal 45 hari

Dalam jangka waktu tersebut harus diputuskan apakah PKPU tersebut dapat dilanjutkan menjadi suatu PKPU-T

PKPU Tetap

Setelah penetapan PKPU-S, Pengadilan Niaga yang diwakili Pengurus memanggil debitur dan kreditur untuk
hadir pada sidang pertimbangan pelaksanaan PKPU-T (sidang diselenggarakan maksimal 45 hari sejak
penetapan PKPU-S)

Dalam sidang pertimbangan pelaksanaan PKPU-T akan diputuskan apakah dapat diberikan PKPU-T atau tidak
dengan maksud memungkinkan debitur,pengurus dan para kreditur untuk mempertimbangkan dan menyetujui
perdamaian

Pengadilan Niaga menetapkan PKPU-T maksimal 270 hari setelah putusan PKPU-S diucapkan

PKPU-T disetujui apabila memenuhi syarat

Disetujui oleh lebih dari setengah jumlah kreditur konkruen yang haknya diakui atau sementara diakui yang
hadir dan mewakili minimal 2/3 bagian dari seluruh tagihan yang diakui atau yang sementara diakui dari
kreditur konkruen atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut
Disetujui oleh setengah jumlah kreditur yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak
tanggungan,hipotik atau hak agunan atas kebendaan lainnya, yang hadir dan mewakili minimal 2/3bagian dari
seluruh tagihan kreditur atau kuasanya yang hadir dalam sidang tersebut

Prosedur PKPU

Permohonan PKPU diajukan ke Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri tempat kedudukan debitur dengan
ditandatangani oleh pemohon PKPU dan kuasa hukumnya

PKPU diajukan debitur sebelum adanya putusan pailit, apabila putusan pailit telah diucapkan oleh hakim
terhadap debitur, maka yang bersangkutan tidak lagi dapat mengajukan permohonan PKPU

Permohonan PKPU dapt diajukan bersama permohonan kepailitan, namun yang diperiksa terlebih dulu oleh
hakim adalah permohonan PKPU

Permohonan PKPU menyertakan daftar (memuat sifat, jumlah piutang dan utang debitur beserta surat bukti)

Pengadilan Niaga mengangkat panitia kreditur apabila :

Permohonan PKPU meliputi utang yang melibatkan banyak kreditur

Pengangkatan tersebut disetujui oleh kreditur yang mewakili minimal setengah bagian dari seluruh tagihan yang
diakui

PROSES PKPU

Bila debitur dinyatakan PKPU, maka debitur tanpa persetujuan pengurus tidak dapat melakukan tindakan
kepengurusan atau kepemilikan atas seluruh atau sebagian hartanya

Apabila debitur melakukan kepengurusan, maka pengurus berhak untuk melakukan segala sesuatu yang
diperlukan untuk memastikan bahwa harta debitur tidak dirugikan karena tindakan debitur

Dalam PKPU tidak ada kurator, namun ada pengurus yang membantu dalam mengelola harta kekayaannya
selama PKPU berlangsung

Bila debitur pada waktu yang sama dimohonkan pailit dan PKPU,maka kepailitan tidak diperiksa, yang diperiksa
adalah PKPU, dengan syarat PKPU diajukan dalam sidang pertama kepailitan, yaitu sebelum adanya putusan
pailit

Dalam PKPU, debitur tidak perlu meminta persetujuan dari kreditur karena debitur masih berwenang terhadap
harta kekayaannya, namun harus tetap melaporkan kepada pengurus, yaitu perbuatan hukum apa saja yang
dilakukan terhadap harta kekayaan sampai PKPU berakhir

Perdamaian dalam PKPU

Inti dilaksanakannya PKPU adalah tercapainya perdamian

Rencana perdamaian dalam PKPU dapat dilakukan dengan mengadakan restrukturisasi utang, baik untuk
seluruh maupun sebagian utang

Rencana perdamian berhak diajukan oleh debitur pada saat pengajuan permohonan PKPU atau setelahnya
Setelah permohonan perdamaian diterima oleh panitera Pengadilan, Hakim Pengawas menetukan haru terakhir
tagihan harus disampaikan kepada pengurus dan sekaligus menentukan tanggal dan waktu rencana perdamaian
yang diusulkan akan dibicarakan dan diputuskan dalam rapat kreditur yang dipimpin Hakim Pengawas

Dalam hal rencana perdamian diterima, Hakim Pengawas wajib menyampaikan laporan tertulis kepada
Pengadilan pada tanggal yang telah ditentukan untuk keperluan pengesahan perdamian

Pengurus dan kreditur dapat menyampaikan alasan yang menyebabkan dikehendaki pengesahan atau penolakan
perdamaian

Dalam hal rencana perdamaian ditolak, maka Hakim Pengawas wajib memberitahukan penolakan tersebut
kepada pengadilan dan pengadilan menolak mengesahkan perdamian dan menyatakan debitur pailit

Pengadilan menolak mengesahkan perdamaian, dalam hal

Harta debitur jauh lebih besar daripada jumlah daripada jumlah yang disetujui dalam perdamaian

Pelaksanaan perdamian tidak cukup terjamin

Perdamaian dicapai karena penipuan atau persekongkolan dengan satu atau beberapa kreditur

Imbalan jasa dan biaya yang dikeluarkan oleh ahli dan pengurus belum dibayar atau tidak diberikan jaminan
untu pembayaran

Perbedaan perdamaian dalam Kepailitan dan PKPU

1. Dari segi waktu

Perdamaian dalam PKPU diajukan pada saat atau setelah permohonan PKPU

Perdamaian pada kepailitan diajukan setelah ada putusan pailit terhadap debitur dari hakim

2. Dari segi pembicaraan (penyelesaian)

Perdamaian pada PKPU dilakukan pada sidang pengadilan yang memeriksa permohonan PKPU

Perdamaian pada kepailitan dibicarakan pada saat verifikasi setelah putusan kepailitan

3. Dari segi syarat penerimaan perdamaian

Syarat perdamaian pada PKPU

perdamaian harus disetujui lebih dari ½ jumlah kreditur konkruen yang haknya diakui atau sementara diakui
yang hadir pada rapat kreditur

kreditur tersebut bersama-sama mewakili minimal 2/3 bagian dari seluruh tagihan yang diakui atau sementara
diakui dari kreditur konkruen atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut

disetujui lebih dari ½ kreditur yang piutangnya dijamin dengan hak jaminan atas kebendaan dan hadir mewakili
minimal 2/3 bagian dari seluruh tagihan kreditur atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut

Syarat perdamaian pada kepailitan :

Harus disetujui lebih dari ½ jumlah seluruh piutang konkruen yang diakui atau yang untuk sementara diakui
dari kreditur konkruen atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut

4. Dari segi kekuatan mengikat


Perdamaian pada PKPU berlaku pada semua kreditur (konkruen maupun preferen)

Perdamaian pada kepailitan hanya berlaku bagi kreditur konkruen

PKPU tidak berlaku dalam hal

Tagihan yang dijamin dengan agunan kebendaan

Tagihan biaya pemeliharaan , pengawasan atau pendidikan yang sudah harus dibayar dan hakim pengawas harus
menentukan jumlah tagihan yang sudah ada dan belum dibayar sebelum PKPU yang bukan merupakan tagihan
dengan hak untuk diistimewakan

Tagihan yang diistimewakan terhadap benda tertentu milik debitur maupun terhadap seluruh harta debitur yang
tidak tercakup diatas

Berakhirnya PKPU

PKPU dapat diakhiri atas permintaan Hakim Pengawas, Kreditur atau atas prakarsa Pengadilan, dalam hal :

Debitur selama PKPU bertindak dengan itikad buruk dalam melakukan pengurusan terhadap hartanya

Debitur telah merugikan atau mencoba merugikan krediturnya

Debitur meakukan kepengurusan terhadap hartanya tanpa izin dari pengurus

Penyelesaian Sengketa Kepailitan&PKPU

Kasus yang berkaitan dengan Kepailitan&PKPU dapat diselesaikan melalui :

1. Non Litigasi/ Alternative Dispute Resolution (ADR)

Definisi

Merupakan penyelesaian sengketa diluar pengadilan dengan menggunakan cara-cara :

Lembaga Arbitrase,Konsultasi,Negoisasi,Mediasi,Konsiliasi,Penilaian Ahli

2. Litigasi/pengadilan

Permohonan pernyataan pailit dapat diajukan pada Pengadilan Niaga

Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan peradilan umum yang berwenang
memeriksa, mengadili dan memberi putusan terhadap perkara :

Kepailitan dan PKPU

HKI

Sengketa proses likuidasi bank oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Upaya hukum terhadap permohonan pailit melalui Pengadilan Niaga meliputi :

Pengadilan Tingkat Pertama (Pengadilan Niaga)

Kasasi (Mahkamah Agung)

Putusan Hakim Inkracht (Berkekuatan Hukum Tetap) Artinya Putusan Hakim dapat dijalankan

Terhadap putusan Hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan
peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung (MA)

Syarat permohonan peninjauan kembali (Pasal 295 ayat (2))

Ditemukan bukti baru yang bersifat menetukan yang pada waktu perkara diperiksa Pengadilan sudah ada, tapi
belum ditemukan, atau
Dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata

10. HAK PATEN


Dasar Hukum = UU No.14 Tahun 2001

Definisi

Hak eksklusif yang diberikan negara kepada inventor atas hasil invensinya pada bidang teknologi, yang selama
waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut/memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk
melaksanakannya.

Invensi

Ide dari inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik dalam bidang
teknologi dapat berupa produk/proses/penyempurnaan dan pengembangan produk/proses.

Invensi (Temuan bidang Teknologi)

Teknologi baru (Novelty)

Teknologi dapat diterapkan dalam industri

Inventor

Perorangan/beberapa orang yang melaksanakan ide yang dituangkan dalam kegiatan yang menghasilkan
invensi

Pemegang paten

Inventor sebagai pemilik paten/pihak yang menerima hak tersebut dari pemilik paten/pihak yang menerima
lebih lanjut hak tersebut, yang terdaftar dalam daftar umum paten

Paten tidak diberikan untuk invensi :

Proses/produk yang pengumuman/pelaksanaannya bertentangan dengan undang-undang, moralitas agama,


kesusilaan dan ketertiban umum

Metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan manusia/hewan

Teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan&matematika

Semua makhluk hidup kecuali jasad renik

Masa Berlakunya Paten

Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 tahun dan tidak dapat diperpanjang

Setelah masa berlaku selesai, maka paten tersebut menjadi milik umum dan dapat dipergunakan secara bebas

Perlindungan Hukum Paten

Perolehan Hak paten hanya dapat diperoleh dengan cara didaftarkan pada Direktorat Jendral HKI

Tata Cara Pendaftaran Paten

Inventor mengajukan permohonan tertulis kepada Direktorat Jendral Paten Kementerian Hukum dan HAM RI

Pengumuman dan pemeriksaan substantif oleh Ditjen Paten Kemenkumham RI

1. Permohonan Tertulis
Mengisi formulir permohonan pendaftaran paten (4 lembar dan bermaterai)

Bila melalui kuasa harus mnyertakan surat kuasa

Identitas pemohon bila melalui kuasa

Judul invensi, klaim, deskripsi invensi, gambar invensi untuk memperjelas (rangkap 4)

Bukti prioritas asli dan terjemahan bahasa Indonesia

Terjemahan deskripsi invensi bahasa indonesia

Bukti biaya permohonan paten yang telah ditentukan

1. Pengumuman dan Pemeriksaan Substantif

a. Pengumuman

Ditjen paten mengumumkan permohonan yang diajukan (telah memenuhi syarat) dalam Berita Resmi Paten
maupun dalam sarana khusus yang disediakan Ditjen HKI agar dapat diakses oleh masyarakat

Tujuan pengumuman

Publikasi kepada masyarakat agar tidak ada pihak lain yang meniru/ melakukan tindak pelanggaran pada paten
yang bersangkutan

Publikasi masyarakat dengan tujuan memberikan kesempatan kepada pihak tertentu untuk mengajukan
keberatan atas permohonan paten apabila paten yang diumumkan terdapat kesamaan

b. Pemeriksaan substantif

Ditjen Paten melakukan pemeriksaan meliputi :

Meneliti penemuan yang dimintakan paten dengan penemuan lain yang telah ada

Mempertimbangkan pandangan/keberatan yang diajukan masyarakat(bila ada) beserta penjelasan


keberatan/sanggahannya

Mempertimbangkan dokumen-dokumen yang diajukan/dilengkapi pemohon serta tambahan penjelasan oleh


pemohon (bila diperlukan)

Pembatalan Paten

Pembatalan paten dapat terjadi karena :

Batal demi hukum (pemegang paten tidak memenuhi kewajiban membayar biaya tahunan dalam jangka waktu
3 tahun berturut-turut)

Pembatalan berdasarkan permohonan paten

Pembatalan berdasarkan gugatan

Pengalihan Hak Paten = Hak Cipta, yaitu melalui:

Pewarisan,Hibah,Wasiat,Perjanjian Tertulis,Sebab karena undang-undang,Lisensi Paten

Lisensi Paten

Lisensi paten diberikan melalui imbalan yang disebut royalti. Bentuk lisensi paten ditentukan oleh perjanjian
tertulis berdasarkan kesepakatan para pihak yang mengadakan lisensi paten

3 bentuk lisensi paten :


Lisensi eksklusif : pemegang lisensi boleh menggunakan paten dan pemegang paten tidak berhak menjalankan
invensinya lagi

Lisensi tunggal : pemegang paten mengalihkan patennya kepada pihak lain, namun pemegang paten tetap boleh
menjalankan haknya sebagai pemegang paten

Lisensi non eksklusif : pemegang paten mengalihkan kepemilikannya dan sekaligus tidak menjalankan patennya

CONTOH PATEN

Air Conditioner/AC (Teknologi pendingin)

Windows (Teknologi Software )

Mobil (Teknologi transportasi)

Handphone (Teknologi komunikasi)

Smartphone (Teknologi komputer mini)

11. HAK CIPTA (Copyrights)


Definisi :

Hak eksklusif bagi pencipta / pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku

Mengumumkan :

Pembacaan, penyiaran, pameran,penjualan, pengedaran/penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat


apapun, termasuk media internet/melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca,
didengar/dilihat orang lain

Memperbanyak :

Penambahan jumlah suatu ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan
menggunakan bahan-bahan yang sama/tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen/temporer

Perlindungan Hak Cipta

Ide yang telah berwujud dan asli (original)

Hak cipta secara otomatis melekat setelah ciptaan diwujudkan

Hak cipta melekat tanpa melalui pendaftaran (tidak wajib)

Hak cipta dapat dicatatkan ke Direktorat Jendral HKI

Hak Cipta = didapatkan secara otomatis tanpa pendaftaran


Hak cipta didapatkan secara otomatis tanpa pendaftaran, namun ciptaan dapat dicatatkan ke Ditjen HKI untuk
membuktikan kepemilikan atas ciptaan khususnya yang mempunyai nilai komersial/nilai yang cukup penting

Pentingnya Pencatatan Hak Cipta yaitu untuk Melindungi/memproteksi ciptaan

Untuk lebih meyakinkan Hak ataskepemilikan ciptaan yang telah tercatat pada Ditjen HKI melalui Surat
Pencatatan Ciptaan sebagai alat bukti di Pengadilan

Subjek Hak Cipta

Pencipta :

Seorang/beberapa orang secara bersama-sama yang dari inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk khas dan
bersifat pribadi (Pasal 1 angka 2)

Pemegang Hak Cipta

Pemegang hak cipta yaitu pencipta sevagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut dari
pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut dari pihak tersebut (Pasal 1 angka 4)

Hak yang Melekat pada Hak Cipta

Hak Moral (Moral Rights)

Hak Ekonomi (Economic Rights)

1. Hak Moral (Moral Rights)

Hak-hak yang melindungi kepentingan pribadi si pencipta, berupa:

Dicantumkan nama pencipta dalam ciptaan/salinannya dalam hubungan dengan penggunaan secara umum

Larangan mengubah ciptaan(pemotongan,penggantian,dsb kecuali dengan persetujuan pencipta/ahli warisnya

“Meskipun hak cipta diserahkan/dialihkan kepada pihak lain, namun nama pencipta tetap harus dicantumkan
dalam ciptaannya, dan pengubahan ciptaan hanya boleh dilakukan atas persetujuan pencipta”

Hak Ekonomi (Economic Rights)

Hak yang dimiliki oleh seorang pencipta untuk mendapatkan keuntungan (manfaat ekonomi) atas ciptaanya,
berupa :

Hak reproduksi/penggandaanatas ciptaan (reproduction rights)

Hak adaptasi (adaptation rights)

Hak distribusi (distribution rights)

Hak pertunjukan (performance rights)

“pemilik hak cipta yang telah menyerahkan hak ciptanya maka telah terjadi pengalihan keseluruhan hak ekonomi
yang dapat dieksploitasi dari suatu ciptaan yang dialihkan kepada penerima/pemegang hak”

Ciptaan yang dilindungi hak cipta :

Buku, program komputer,pamflet, susunan perwajahan karya tulisan diterbitkan, dan semua hasil karya tulis
lainnya

Ceramah, kuliah, pidato/ciptaan lainnya yang diwujudkan dengan cara diucapkan

Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan
Ciptaan lagu/musik dengan atau tanpa teks termasuk karawitan dan rekaman suara

Drama,tari , pewayangan,pantomim

Karya pertunjukan

Karya siaran

Seni rupa dalam segala bentuk seni lukis, gambar, seni ukir, kaligrafi,pahat, patung, karajinan tangan

Arsitektur,Peta,Seni batik,Fotografi,Sinematografi

Terjemahan,tafsir,saduran,bunga rampai dan karya lain dari hasil pengalihwujudan

Perlindungan hak cipta tidak diberikan pada :

Hasil rapat terbuka lembaga-lembaga negara

Peraturan perundang-undangan

Pidato kenegaraan dan pidato pejabat pemerintah

Putusan pengadilan dan penetapan hakim

Keputusan badan arbitrase/keputusan badan sejenisnya

Lambang negara dan lagu kebangsaan

Berita (dari kantor berita,lembaga penyiaran/televisi dan surat kabar dengan menyebutkan sumber beritanya)

“terhadap ciptaan yang tidak dilindungi hak cipta sebagaimana disebutkan diatas, maka setiap orang boleh
memperbanyak, mengumumkan, menyiarkan karena bukan merupakan pelanggaran hak cipta”

Masa berlaku Hak Cipta :

Masa berlaku hak cipta adalah seumur hidup pencipta ditambah 50tahun

Setelah masa berlaku habis,maka hak atas ciptaan dapat dinikmati oleh masyarakat secara bebas sebagai milik
umum (public domain)

Pengalihan Hak Cipta :

Pewarisan

Proses pengalihan hak cipta terjadi apabila pencipta meninggal dunia, secara otomatis kepemilikan berpindah
kepada keturunannya dalam garis lurus kebawah

Hibah

Pemilik hak cipta menghibahkan ciptaannya kepada pihak lain atas dasar perjanjian hibah (akta notaris/dibawah
tangan)
Wasiat

Merupakan pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendaki setelah meninggal dunia

Perjanjian lain yang tertulis

Perjanjian tertulis yang dibuat sesuai kesepakatan antara pemilik dengan pihak lain tentang ciptaan tertentu

Sebab lain berdasarkan peraturan perundang-undangan

Misal karena putusan pengadilan


Lisensi Hak Cipta

perjanjian dengan lisensi merupakan suatu izin yang diberikan kepada pihak lain dengan suatu perjanjian
untukmenggunakan, memakai atau melaksanakan haknya dalam waktu tertentu dengan imbalan berupa royalti

12. MERK/TRADEMARK

Dasar Hukum UU No.15 Tahun 2001

Definisi :

Merek merupakan tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf, angka-angka, susunan, atau kombinasi dari
unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang/jasa.

Contoh Merk

Toshiba, Guess, Panasonic, Samsung, Nokia, Polo, Bank Mandiri, Garuda Indonesia, Lion Air, PERSIB, PERSIJA,
Alexander Christie, Nevada, Toyota, Lexus, Sony, Tupperware, Unilever, KFC, Pizza Hut, RS Hermina, Gramedia
dll.

Hak Merek

Hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek untuk
jangka waktu tertentu untuk menggunakan merek tersebut atau memberikan ijin untuk menggunakannya
kepada orang lain.

Fungsi Merk

Sebagai tanda pengenal untuk membedakan hasil produksi yang sejenis

Sebagai alat promosi atas hasil produksi suatu perusahaan (melalui periklanan/pemasaran)

Sebagai jaminan atas mutu barang (reputasi kualitas)

Sebagai jaminan asal barang yang diproduksi

Menunjukkan adanya hak kepemilikan atas merek

Jenis Merk

1. Merek Dagang

Merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan seseorang/beberapa orang untuk membedakan
barang-barang sejenis lainnya

Contoh : Bolpoin (snowman,faster,standar,dll)

2. Merek Jasa

Merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan secara bersama-sama/badan hukum untuk membedakan
jasa-jasa sejenis lainnya
Contoh : Jasa Pengiriman (Tiki, JNE, DHL,dll)

3. Merek Kolektif

Merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama dengan diperdagangkan oleh
beberapa orang/badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa lain yang
sejenis

Contoh : Big Cola dengan Coca Cola, Pop Ice dengan Top Ice

Perlindungan Hukum Merek

Sistem konstitutif :Hak atas merek dapat diperoleh apabila dilakukan pendaftaran

Sistem deklaratif:

Hak atas merek dapat diperoleh kaarena yang pertama mendeklarasikan mereknya/menggunakan pemakaian
mereknya walaupun belum terdaftar

Sistem pendaftaran merek di Indonesia adalah sistem konstitutif, karena :

Sistem konstitutif lebih menjamin kepastian hukum (hak atas merek terdaftar dalam Daftar Umum Merek)

Sistem deklaratif kurang kepastian hukum, karena sulit menentukan ukuran (pembuktian riil) pertama kali yang
menggunakan merek yang bersangkutan

Tata Cara Pendaftaran Hak Atas Merek

A. Permohonan secara Tertulis

Pemohon mengisi permohonan pendaftaran merek

Melampirkan surat kuasa (bila melalui kuasa)

Identitas pemohon

Identitas kuasa (bila melalui kuasa)

Contoh merek yang diajukan/etiket

Surat pernyataan bahwa merek yang dimintakan pendaftaran adalah miliknya

Bukti biaya permohonan merek yang telah ditentukan

B. Pemeriksaan Substantif

Apabila pemeriksaan pendaftaran merek sudah memenuhi kelengkapan syarat pendaftaran.Pemeriksaan


substantif meliputi :

Pemeriksaan merek apakah dapat didaftarkan/tidak

Pemeriksaan permintaan pendaftaran merek berdasarkan persamaan pada pokoknya/keseluruhannya dengan


merek lain yang sudah terdaftar lebih dahulu

Pemeriksaan permintaan pendaftaran merek berdasarkan persamaan pada pokoknya/keseluruhannya dengan


merek lain yang sudah terkenal

Mempunyai persamaan pada pokoknya/keseluruhan dengan indikasi geografis yang sudah dikenal

Objek yang tidak dapat didaftarkan sebagai Merek

Merek yang permohonannya diajukan atas dasar itikad tidak baik (kepemilikan merek tidak milik
sendiri/meniru merek lain)
Merek yang bertentangan dengan undang-undang, moral dan ketertiban umum

Merek yang tidak memiliki daya pembeda

Tanda yang telah menjadi milik umum(sedap,laris,enak,dsb)

Masa Berlaku Perlindungan Hak atas Merek

Hak atas Merek memiliki jangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 10 tahun
(perpanjangan min.12 bulan sebelum batas waktu berakhir)

Pengalihan Merek=Pengalihan Hak Cipta=Pengalihan Paten

Dalam Hak atas Merek, pengalihan wajib dicatat dalam Daftar Umum Merek, diarsipkan oleh Kantor HKI dan
diumumkan dalam Berita Resmi Merek (pasal 40 (2) dan (4))

13. RAHASIA DAGANG, DESAIN INDUSTRI dan DTLST


A. RAHASIA DAGANG (Trade Secret)

Dasar Hukum : UU No.30 Tahun 2000

Definisi (Pasal 1 ayat (1))

Informasi yang tidak diketahui umum di bidang teknologi/bisnis yang mempunyai nilai ekonomis karena
berguna dalam kegiatan usaha dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang

Lingkup Rahasia Dagang,Metode produksi,Metode pengolahan,Metode penjualan

Informasi lain di bidang teknologi/bisnis yang bernilai ekonomi dan tidak diketahui masyarakat umum

Rahasia Dagang memperoleh perlindungan Hukum, dalam hal :

Informasi bersifat rahasia

Memiliki nilai ekonomis

Dijaga kerahasiaannya

Informasi bernilai ekonomi, apabila :

Sifat kerahasian informasi hanya diketahui oleh pihak tertentu/tidak diketahui masyarakat

Sifat kerahasian informasi dapat digunakan :

Menjalankan kegiatan usaha/usaha yang bersifat komersial

Dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi

Informasi dijaga kerahasiannya, apabila : Pemilik/pihak yang menguasai melakukan langkah-langkah/usaha


yang layak dan patut

Perlindungan Hukum Rahasia Dagang :

Informasi Teknologi, meliputi informasi tentang :

Penelitian dan pengembangan teknologi

Teknologi produk/proses
Informasi kontrol mutu

Informasi Bisnis, meliputi informasi tentang :

Berkaitan dengan penjualan dan pemasaran produk

Informasi laporan keuangan

Contoh Rahasia Dagang

Resep Ayam Mcd, Resep Coca Cola, Resep PizzaHut, Resep Melilea Organic dsb

B. DESAIN INDUSTRI (Industrial Design)

Dasar Hukum : UU No.31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri

Desain Industri :

Kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis/warna, atau garis dan warna atau gabungannya

Berbentuk 3 dimensi atau 2 dimensi

Memberi kesan estetis

Dapat diwujudkan dalam pola 3dimensi/2dimensi

Dapat dipakai untuk menghasilkan produk barang, komoditas industri, kerajinan tangan

Contoh Desain Industri :

Desain fitur handphone, Desain motif karpet, Desain motif kain, Desain motif/payet kebaya, Desain
gedung/bangunan, Desain Cover Laptop, Desain Mebel, Desain lampu pada mobil dsb

C. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu/DTLST

(Layout Design of Integrated Circuit)

Dasar Hukum : UU No.32 Tahun 2000

Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu :

Kreasi berupa rancangan peletakan 3 dimensi, minimal 1 dari elemen tersebut adalah elemen aktif serta sebagian
atau semua interkoneksi dalam suatu sirkuit terpadu dan peletakkan 3 dimensi dimaksudkan untuk persiapan
pembuatan sirkuit terpadu
Contoh DTLST

Desain tata letak IC pada rangkaian elektronik di dalam Pocket PC

Desain tata letak IC pada rangkaian elektronik di dalam Smartphone

14. PERLINDUNGAN KONSUMEN


PERLINDUNGAN KONSUMEN

Dasar Hukum

UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Definisi

Segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada Konsumen

Subjek Perlindungan Konsumen

Konsumen

setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan sendiri,
keluarga, orang lain maupun untuk makhluk hidup lain dan untuk tidak diperdagangkan

Contoh :

Tiap manusia yang membutuhkan barang dan jasa untukmemenuhi kebutuhan sehari-hari

Pelaku usaha

Setiap orang perseorangan/badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di NKRI baik secara sendiri maupun
bersama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi

Contoh :

Pedagang; Swalayan; Toko Kelontong; Agen/Grosir; Distributor; Koperasi; Investor; perusahaan swasta dan
BUMN

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM)

Lembaga non pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh pemerintah, yang mempunyai kegiatan menangani
perlindungan konsumen

Contoh :

Lembaga Pembelaan&Perlindungan Konsumen di Semarang; Lembaga Peduli Konsumen Masyarakat di Jakarta;


Lembaga Konsumen Siaga di Jogjakarta, Yayasan Bina Konsumen Indonesia di Bandung, dsb

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

Badan yang bertugas menangani dan menyelesaikan sengketa antar pelaku usaha dan konsumen

Contoh :

Terdapat dalam tiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang menenagani sengketa konsumen diluar
peradilan, misal

BPSK Kota Semarang


BPSK Kota Surakarta

BPSK Kabupaten Boyolali

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)

Badan yang dibentuk untuk membantu upaya pengembangan perlindungan konsumen

Contoh :

Periode III Masa jabatan 2013-2016 BPKN beranggotakan 23 orang yang terdiri dari unsur pemerintah, pelaku
usaha, LPKSM, Akademisi, Tenaga Ahli dan dibentuk berdasarkan Keppres RI No.80/P Tahun 2013

Tujuan Perlindungan Konsumen

Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri

Mengangkat harkat dan martabat konsumen (menghindarkan dari akses negatif pemakaian barang/jasa)

Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih,menentukan dan menuntut haknya sebagai konsumen

Menetapkan sistem perlindungan konsumen (kepastian hukum; keterbukaan informasi dan akses memperoleh
informasi)

Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha pentingnya perlindungan konsumen (sika jujur&tanggung jawab dalam
berusaha)

Meningkatkan kualitas barang/jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang.jasa, kesehatan,
kenyamanan, keamanan dan keslamatan konsumen

Asas Perlindungan Konsumen

1. Asas Manfaat

Segala upaya dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya
bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan

2. Asas Keadilan

Memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya secara adil

3. Asas keseimbangan

Memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil dan
spiritual

4. Asas Keamanan&Keselamatan Konsumen

Memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan
pemanfaatan barang dan atau jasa yang dikonsumsi/digunakan

5. Asas Kepastian Hukum

Antara Pelaku usaha dan konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan
perlindungan konsumen serta negara menjamain kepastian hukum

Hak&Kewajiban Konsumen

1. Hak Konsumen

Diatur dalam Pasal 4 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :


Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang jasa

Hak untuk memilih barang.jasa serta mendapatkan barang/jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan

Hak atas informasi yang benar,jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa

Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang/jasa yang digunakan

Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen dan upaya penyelesaian sengketa perlindunngan
konsumen secara patut

Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen

Hak untuk diperlakukan adil/dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan status
sosialnya

Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian apabila barang/jasa yang diterima tidak sesuai
dengan perjanjian

Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya

2. Kewajiban Konsumen

Diatur dalam pasal 5 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :

Membaca, mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian/pemanfaatan barang/jasa demi keamanan
dan keselamatan

Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang jasa

Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati

Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut

Hak&Kewajiban Pelaku Usaha

1. Hak Pelaku Usaha

Diatur dalam Pasal 6 UU Perlindungan Konsumen, meliputi :

Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar
barang/jasa yang diperdagangkan

Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik

Hak untuk melakukan pembelaan diri di dalam penyelesaian sengketa konsumen

Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan
oleh barang/jasa yang diperdagangkan

Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya

2. Kewajiban Pelaku Usaha

Diatur dalam Pasal 7 UU Perlindungan Konsumen, yaitu :

Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya

Melakukan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang/jasa serta memberi
penjelasan penggunaan,perbaikan dan pemeliharaan
Memperlakukan/melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; pelaku usah dilarang
membedakan konsumen dalam memberikan pelayanan dan dilarang membedakan mutu pelayanan kepada
konsumen

Menjamin mutu barang/jasa yang diproduksi/diperdangankan berdasarkan ketentuan standar mutu


barang/jasa yang berlaku

Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji/mencoba barang/jasa tertentu serta memberi
jaminan/garansi atas barang yang dibuat/diperdagangkan

Memberi kompensasi, ganti rugi/penggantian atas kerugian akibat penggunaan,pemakaian dan pemanfaatan
barang/jasa yang diperdagangkan

Memberi kompensasi ganti rugi/penggantian barang/jasa yang dterima/dimanfaatkan tidak sesuai dengan
perjanjian

Larangan Perbuatan Bagi Pelaku Usaha

Pasal 8 sampai dengan Pasal 17 UU Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dilarang :

1. Larangan memproduksi/memperdagangkan barang/jasa, misalnya barang/jasa tersebut :

Tidak memenuhi/tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dalam Undang-Undang

Tidak sesuai dengan ukuran,takaran,timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya

Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan/kemajuran dalam label, etiket/keterangan produk/jasa

Dsb

2. Larangan dalam menawarkan/mempromosikan/mengiklankan barang/jasa secara tidak benar/menyesatkan


atau seolah-olah :

Barang tersebut dalam keadaan baik/baru

Barang tersebut tidak terkandung cacat tersembunyi

Secara langsung/tidak langsung merendahkan barang/jasa lain

3. Larangan dalam penjualan secara obral/lelang dengan maksud mengelabuhi/menyesatkan konsumen, misal
berupa :

Menyatakan barang/jasa seolah-olah telah memenuhi standar mutu

Menaikkan harga/tarif barang/jasa sebelum melakukan obral

Menyatakan barang/jasa tersebut seolah-olah tidak mengandung cacat tersembunyi

4. Pelaku Usaha dilarang memproduksi iklan (Larangan Periklanan)

Larangan periklanan misal dalam bentuk :

Mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas bahan, kegunaan dan harga barang/jasa serta ketepatan
waktu pengiriman barang/jasa

Mengelabui jaminan/garansi terhadap barang/jasa

Tidak memuat mengenai risiko pemakaian barang/jasa


Pada Kenyataannya di lapangan, Pelaku Usaha masih banyak yang tidak “mengindahkan” larangan perbuatan
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Salah satunya karena mekanisme pengawasannya yang masih
kurang memadai

Klausula Baku Perjanjian

Dalam Kegiatan usaha/bisnis pelaku usaha tidak terlepas dari Perjanjian yang berkaitan dengan barang/jasa

Klausula baku:

Setiap aturan dan ketentuan serta syarat yang ditetapkan lebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang
dinyatakan dalam perjanjian

Berdasarkan Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dalam menawarkan barang/jasa


(perdagangan) dilarang membuat/mencantunkan klausula baku pada setiap dokumen /perjanjian,mengenai :

Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha

Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerhan kembali barang yang dibeli konsumen

Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang.jasa
yang dibeli konsumen

Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung/tidak langsung untuk
melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli konsumen secara angsuran

Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang/pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen

Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa/ mengurangi harta kekayaan konsumen yang
menjadi objek jual beli jasa

Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan/pengubah
lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelau usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya

Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan
terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran

Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak/bentuknya sulit terlihat/tidak dapat dibaca
secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti

Apabila pelaku usaha mencantumkan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang dalam
dokumen/perjanjian maka perjanjian Batal Demi Hukum

Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Kapan Tanggung Gugat Produk ?

Konsumen mengalami kerugian sebagai akibat produk (barang/jasa) yang cacat

Pelaku usaha kurang cermat dalam produksi

Barang/jasa tidak sesuai yang diperjanjikan

Kesalahan yang dilakukan oleh pelaku usaha

Dasar Hukum

Pasal 19-Pasal 28 UU Perlindungan Konsumen


Tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk yang dihasilkan/diperdagangkan dengan memberi ganti
kerugian atas kerusakan,pencemaran dan kerugian konsumen

Bentuk kerugian konsumen dengan ganti rugi

Berupa pengembalian uang

Penggantian barang/jasa yang sejenis/setara nilainya

Perawatan kesehatan

Pemberian santunan sesuai peraturan perundang-undangan

Pasal 20 dan Pasal 21

Tanggung jawab pelaku usaha tidak hanya berlaku untuk kerugian barang konsumsi yang diperdagangkan, tapi
juga bertanggung jawab terhadap iklan-iklan barang/jasa termasuk barang import yang diiklankan

Pasal 22

Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana merupakan beban dan tanggung jawab
pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian

Pasal 23

Pelaku usaha yang menolak/tidak memberi tanggapan dan tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen,
dapat digugat melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen/ mengajukan ke pengadilan

Pasal 27

Hal-hal yang membebaskan pelaku usaha dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen, apabila :

Barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan/tidak dimaksud untu diedarkan

Cacat barang timbul dikemudian hari

Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan kualifikasi barang

Kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen

Lewatnya jangka waktu penuntutan 4 tahun sejak barang dibeli/lewat jangka waktu yang diperjanjikan

Sanksi Perlindungan Konsumen

Sanksi Administratif

Diatur dalam Pasal 60 UU Perlindungan Konsumen. Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi

Sanksi Pidana

Diataur dalam Pasal 61-Pasal 63 UU Perlindungan Konsumen. Sanksi pidana berupa Pidana pokok dan Pidana
tambahan

Pidana Tambahan, meliputi : perampasan barang tertentu;,pengumuman keputusan hakim;,pembayaran ganti


rugi;,perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan kerugian;,kewajiban penarikan barang
dariperedaran/pencabutan izin usaha)