Anda di halaman 1dari 19

HUMIDITAS

I. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat :
1. Mengukur temperatur bola basah maupun temperatur bola kering.
2. Mencari humidifitas dengan menggunakan grafik.
3. Mencari relatif humidifitas dengan menggunakan grafik.

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


 ALAT
1. Termometer Alkohol 1 buah
2. Karet Gelang 1 buah

 BAHAN
1. Aquadest
2. Tissue

III. DASAR TEORI


Temperatur bola kering dan temperatur bola basah dalam pemprosesan
sering diperlukan untuk menentukan uap air di dalam aliran gas. Operasi ini lebih
dikenal dengan proses humidifikasi. Penggunaan yang paling sederhana dan luas
dalam proses humidifikasi adalah proses pengeringan padatan basah dengan
pengukuran jumlah kandungan air dan pemakaian Ac. Untuk menentukan relatif
humidifitas dan humidifitas dari campuran air-uap digunakan grafik humidifikasi.
Cara penggunaan grafik humidifikasi adalah buat garis perpotongan antara
temperatur bola kering dan bola basah dari titik perpotongan tarik garis sampai
memotong garis relatif humidifitas sedangkan untuk menentukan humidifitas tarik
garis perpotongan temperatur bola kering dan bola basah sampai memotong garis
humidifitas.
Humidifitas (kelembaban) adalah nilai kuantitas air yang terkandung dalam
udara lembab. Nilai tersebut dapat ditampilkan sebagai Humiditas absolut (mv)
Rasio Humidifitas dan Humidifitas relatif 0. Humiditas absolut (mv) : total massa
uap air yang terkandung dalam suatu sistem campuran udara lembab dalam suatu
kuantitas volume tertentu. Humiditas relatif (lebih dikenal dalam meteorologi
sebagai relatif humiditi-RH) adalah nilai perbandingan antara tekanan parsial uap
air aktual terhadap tekanan parsial uap air pada keadaan saturasi dengan suhu
yang sama (suhu tabung kering).
Rasio humiditas (Humiditas spesifik) xv didefinisikan sebagai rasio jumlah
massa air yang terkandung dalam setiap satuan massa udara kering. Rasio
humiditas dalam udara lembab memiliki nilai antara xv = 0 (udara kering) dan
nilai maksimum xv = xvs (udara saturasi atau jenuh). Kelembaban relatif adalah
jumlah uap air di udara pada suhu tertentu dibandingkan dengan uap air
maksimum yang udara mampu menahan tanpa itu kondensasi, pada suhu tertentu.
Termometer bola basah ( wet-bulb ) merupakan suhu yang didapat bila
udara didinginkan pada tekanan konstan sampai jenuh ( 100% kelembaban ) oleh
penguapan air dengan panas laten yang berasal dari udara tersebut. Temperatur
bola kering merupakan suhu yang diperoleh dari pengukuran suhu yang terjaga
dari sinar matahari dan embun ( udara bebas ).
Kelembapan udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. jumlah uap
air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh
atmosfer, yaitu hanya kira-kira 2 % dari jumlah masa. Akan tetapi uap air ini
merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan
iklim.
Uap air adalah suatu gas, yang tidak dapat dilihat, yang merupakan salah
satu bagian dari atmosfer. Kabut dan awan adalah titik air atau butir-butir air yang
melayang-layang di udara. Kabut melayang-layang dekat permukaan tanah,
sedangkan awan melayang-layang di angkasa. Banyaknya uap air yang di
kandung oleh hawa tergantung pada temperature.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kelembapan :
1. Ketingian Tempat
Apabila semakin tinggi tempat maka tingkat kelembabannya juga tinggi
karena suhunya rendah dan sebaliknya semakin rendah tempat suhunya
semakin tinggi dan kelembabannya pun menjadi rendah.
2. Kerapatan Udara Kerapatan udara.
Ini juga berkaitan dengan suhu dimana apabila kerapatan udara pada
daerah tertentu rapat maka kelembabanya tinggi. Sedangkan apabila kerapatan
udara di suatu daerah renggang maka tinggkat kelembabannya juga rendah.
Diketahui pula antara kerapatan,suhu,dan ketinggian tempat juga saling
berkaitan..
3. Tekanan Udara.
Tekanan udara juga mempengaruhi kelembaban udara dimana apabila
takanan udara pada suatu daerah tinggi maka
kelembabanya juga tinggi,hal ini disebabkan oleh kapasitas lapang udaranya
yang rendah.
4. Radiasi Matahari.
Dimana adanya radiasi matahari ini menyebabkan terjadinya penguapan
air di udara yang tingkatannya tinggi sehingga kelembaban udaranya semakin
besar.
5. Angin
Adanya angin ini memudahkan proses penguapan yang terjadi pada air
laut menguap ke udara. Besarnya tingkat kelembaban ini dapat berubah
menjadi air dan terjadi pembentukan awan.
6. Suhu
Apabila suhu suatu tempat tinggi maka kelembabanya rendah dan
sebaliknya apabila suhu rendah maka kelembaban tinggi. Dimana hal ini antara
suhu dan kelembaban ini juga berkaitan dengan ketinggian tempat.
7. Kerapatan Vegetasi
Jika tumbuhan tersebut kerapatannya semakin rapat maka
kelembabannya jugatinggi hal ini di sebabkan oleh adanya seresah yang
menutupi pada permukaan tanah sangat besar sehingga berpengaruh pada
kelembabannya.Bahkan sebaliknya apabila kerapatannya jarang maka
tinggkat kelembabannya juga rendah karena adanyaseresah yang menutupi
permukaan tanah ini sedikit.
IV. PROSEDUR KERJA
1. Menyiapkan 2 buah termometer alkohol.
2. Membalut salah satu termometer dengan tisu yang telah dibasahi. Balutan
berada pada ujung bawah termometer. Termometer lainnya tidak diberi tisu.
3. Mengikat tisu pada termometer dengan karet gelang agar tidak lepas.
4. Mengukur dan mencatat suhu awal kedua termometer.
5. Menyalakan stopwatch selama 10 menit saat berada di lokasi yang akan diukur.
6. Mencatat hasil penunjukan suhu pada kedua termometer setelah 10 menit.
7. Melakukan percobaan kembali di tempat yang berbeda.
8. Melakukan percobaan di atas pada beberapa tempat berbeda.

V. DATA PENGAMATAN

 Tabel Data Pengamatan :

Temp. Bola Temp. Bola


No. Lokasi Basah Kering Humiditas
To ( C) T1 (oC)
o
To ( C) T1 (oC)
o

1 Depan AC Laboratorium 24 19 26 21 84 %
Depan Blower AC
2 31 29 29,5 41,5 67,14 %
Laboratorium
3 Tangga Laboratorium 30 27 30,5 30,5 80 %
4 Gazebo Laboratorium 32 28 31 32 73,8 %
5 Masjid 28 27 28 30 89 %
6 Lapangan Voli 31 27 32 32 67,14 %
7 Samping Bengkel Energi 32 26 31 30 73,33 %
8 Koridor Akuntansi 34 27 30 30 80 %
9 Selokan 27 26,5 31 20 78,3%
 Perhitungan Data Hasil Pengamatan :

1. Depan AC Laboratorium

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 24 + 19
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 21,5 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 26 + 21
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 23,5 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 80 % - 90 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 80 % - 90 % = 5 mm
* Jarak dari 80 % ke titik = 2 mm
5 𝑚𝑚 10 %
=
2 𝑚𝑚 𝑥
5 𝑥 = 20 %
𝑥 = 4%
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 80% + 4%
𝐻. 𝑅. = 84%

 Moisture Content
- Lokasi pada 15 – 20 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 15 ke 20 = 27 mm
* Jarak dari 15 ke titik = 2 mm
27 𝑚𝑚 5
=
2 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 10
𝑘𝑔
𝑥 = 0,37 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 15 + 0,37
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 15,37 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

2. Depan Blower AC Laboratorium

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 31 + 29
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 29,5 + 41,5
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 35,5 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 60 % - 70 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 60 % - 70 % = 7 mm
* Jarak dari 60 % ke titik = 5 mm
7 𝑚𝑚 10 %
=
5 𝑚𝑚 𝑥
7 𝑥 = 50 %
𝑥 = 7,14 %
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 60% + 7,14%
𝐻. 𝑅. = 67,14%

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik

- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 26,5 mm
27 𝑚𝑚 5
=
26,5 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 132,5
𝑘𝑔
𝑥 = 4,90 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 4,90
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 24,90 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

3. Tangga Laboratorium

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 30 + 27
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 28,5 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 30,5 + 30,5
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30,5 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 80 %, karena titik potong tepat berada di garis
humiditas relatif 80 %.
𝐻. 𝑅. = 80%

 Moisture Content
- Lokasi pada 21 – 22 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 21 ke 22 = 5 mm
* Jarak dari 21 ke titik = 2 mm
5 𝑚𝑚 1
=
2 𝑚𝑚 𝑥
5𝑥 =2
𝑘𝑔
𝑥 = 0,4 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 21 + 0,4
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 21,4 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

4. Gazebo Laboratorium

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 32 + 28
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 31 + 32
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 31,5 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 70 % - 80 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 70 % - 80 % = 6,5 mm
* Jarak dari 70 % ke titik = 2,5 mm
6,5 𝑚𝑚 10 %
=
2,5 𝑚𝑚 𝑥
6,5 𝑥 = 25 %
𝑥 = 3,8 %
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 70% + 3,8%
𝐻. 𝑅. = 73,8%

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 13 mm
27 𝑚𝑚 5
=
13 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 65
𝑘𝑔
𝑥 = 2,41 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 2,41
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 22,41 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

5. Masjid

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 28 + 27
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 27,5 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 28 + 30
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 29 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 80 % - 90 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 80 % - 90 % = 5 mm
* Jarak dari 80 % ke titik = 4,5 mm
5 𝑚𝑚 10 %
=
4,5 𝑚𝑚 𝑥
5 𝑥 = 45 %
𝑥 = 9%
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 80% + 9%
𝐻. 𝑅. = 89%

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 15 mm
27 𝑚𝑚 5
=
15 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 75
𝑘𝑔
𝑥 = 2,8 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 2,8
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 22,8 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

6. Lapangan Voli

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 31 + 27
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 29 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 32 + 32
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 32 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 60 % - 70 % dengan grafik psikometrik

- Perhitungan :
* Jarak 60 % - 70 % = 7 mm
* Jarak dari 60 % ke titik = 5 mm
7 𝑚𝑚 10 %
=
5 𝑚𝑚 𝑥
7 𝑥 = 50 %
𝑥 = 7,14 %
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 60 % + 7,14 %
𝐻. 𝑅. = 67,14 %

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 4 mm
27 𝑚𝑚 5
=
4 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 20
𝑘𝑔
𝑥 = 0,74 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 0,74
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 20,74 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

7. Samping Bengkel Energi

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 32 + 26
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 29 ℃
2 2

b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 31 + 30
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30,5 ℃
2 2
 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 70 % - 80 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 70 % - 80 % = 6 mm
* Jarak dari 70 % ke titik = 2 mm
6 𝑚𝑚 10 %
=
2 𝑚𝑚 𝑥
6 𝑥 = 20 %
𝑥 = 3,33 %
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 70% + 3,33%
𝐻. 𝑅. = 73,33%

 Moisture Content
- Lokasi pada 15 – 20 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 15 ke 20 = 27 mm
* Jarak dari 15 ke titik = 25 mm
27 𝑚𝑚 5
=
25 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 12,5
𝑘𝑔
𝑥 = 4,63 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 15 + 4,63
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 19,63 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

8. Koridor Akuntansi

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 34 + 27
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30,5 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 30 + 30
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 80 %, karena titik potong tepat berada di garis
humiditas relatif 80 %.
𝐻. 𝑅. = 80%

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 8 mm
27 𝑚𝑚 5
=
8 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 40
𝑘𝑔
𝑥 = 1,48 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 1,48
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 21,48 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

9. Selokan

 Rata – Rata Temperatur


a. Bola Basah
𝑇𝑜 + 𝑇1 27 + 26,5
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 26,75 ℃
2 2
b. Bola Kering
𝑇𝑜 + 𝑇1 31 + 29
̅
𝑡(°𝐶) =| |=| | = 30 ℃
2 2

 Humiditas Relatif
- Lokasi titik ekivalen pada 70 % - 80 % dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 70 % - 80 % = 6 mm
* Jarak dari 70 % ke titik = 5 mm
6 𝑚𝑚 10 %
=
5 𝑚𝑚 𝑥
6 𝑥 = 50 %
𝑥 = 8,33 %
* Titik ekivalen humiditas relatif :
𝐻. 𝑅. = 70% + 8,33%
𝐻. 𝑅. = 78,33 %

 Moisture Content
- Lokasi pada 20 – 25 dengan grafik psikometrik
- Perhitungan :
* Jarak 20 ke 25 = 27 mm
* Jarak dari 20 ke titik = 1 mm
27 𝑚𝑚 5
=
1 𝑚𝑚 𝑥
27 𝑥 = 5
𝑘𝑔
𝑥 = 0,19 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟

* Moisture Content :
𝐻. 𝑅. = 20 + 0,19
𝑘𝑔
𝐻. 𝑅. = 20,19 ⁄𝑘𝑔 𝑑𝑟𝑦 𝑎𝑖𝑟
VI. ANALISIS DATA
Pada praktikum kali ini dilakukan pengukuran nilai humiditas di beberapa
lokasi berbeda. Dalam pengukuran nilai humiditas ini digunakan termometer
alkohol. Pada pengukuran ini digunakan pengukuran terhadap temperatur bola
basah dan temperatur bola kering. Humiditas merupakan nilai untuk menyatakn
kandungan uap air yang ada di udara.
Pengukuran humiditas dilakukan pada 9 tempat berbeda. Hal ini dilakukan
agar dapat membandingkan lokasi mana saja yang memiliki tingkat kelembaban
rendah, sedang, atau tinggi.
Pengukuran temperatur bola basah dilakukan dengan melilitkan tisu basah
pada bagian ujung termometer. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar saat
dihembuskannya atau berhembusnya udara maka kelembaban dari tisu akan
mempengaruhi suhu yang terbaca oleh termometer.
Dari hasil percobaan yang telah diperoleh, didapatkan bahwa pengukuran
suhu berbeda-beda hasilnya di setiap tempat. Namun juga ada beberapa tempat
yang memiliki hasil yang sama. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan maupun
persamaan suhu yang ada pada udara dimana lokasi pengukuran dilakukan.
Dari data yang telah diperoleh, lokasi masjid memiliki tingkat kelembaban
yang paling tinggi yaknik sebesar 89 % dengan moisture content sebesar 23 kg/kg
dry air. Nilai humiditas ini cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh lokasi masjid
yang banyak terdapat genangan air. Sehingga kelembaban udara tentunya semakin
meningkat. Untuk lokasi lainnya nilai humiditas berkisar antara 67,14 % sampai
84 %.
Nilai humiditas terendah berada pada lokasi depan blower AC laboratorium
dan lapangan voli. Nilai humiditasnya sebesar 67,14 %. Lokasi ini memang terasa
cukup kering dan sangat panas. Pada gazebo, selokan, dan samping bengkel
energi memiliki nilai humiditas yang berkisar pada angka 70 % dan pada lokasi
depan AC laboratorium, tangga laboratorium, dan koridor akuntansi memiliki
nilai humiditas yang berkisar pada angka 80 %. Nilai ini juga cukup tinggi, hal ini
disebabkan pada lokasi tersebut banyak terdapat pepohonan dan sedikit genangan
air.

VII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Humiditas adalah nilai yang menunjukkan banyaknya uap air dalam udara.
2. Lokasi yang memiliki nilai humiditas tertinggi adalah masjid dengan nilai
sebesar 80 %.
3. Lokasi yang memiliki moisture content tertinggi adalah masjid dengan nilai
sebesar 23 kg/kg dry air.
4. Lokasi dengan nilai humiditas terendah berada pada depan blower AC
laboratorium dan lapangan voli yakni sebesar 67,14 %.
5. Lokasi gazebo, seloka, dan samping bengkel energi nilai humiditasnya cukup
tinggi yakni secara berturut-turut sebesar 73,8 %, 78,3 %, dan 73,33 %.
6. Lokasi depan AC laboratorium, tangga laboratorium, dan koridor akuntansi
nilai humiditasnya cukup tinggi yakni secara berturut-turut sebesar 84 %,
80%, dan 80 %.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Kasie Laboratorium Instrument dan Kontrol. (2019). “Penuntun Praktikum
Instrument dan Kontrol”. Palembang : Politeknik Negeri Sriwijaya.

Yenni. (2016). “Laporan Tetap Praktikum Humiditas Udara”. [Online]. Tersedia:


komalasariyenni.blogspot.com/2016/09/Laporan-tetap-praktikum-
humiditas-udara_82.html?m=1. Rabu, 14 September 2016, 00:44. [12 April
2019].

IX. GAMBAR ALAT


Termometer Alkohol Karet Gelang