Anda di halaman 1dari 8

Terpaan Perkebunan Sawit

Dari Tekanan Harga Hingga Ancaman Kekeringan

Harap-harap cemas, itulah kesimpulan yang saya dapat setelah melakukan diskusi dengan
para pekebun besar baik dari agronomits, riset dan pebisnis CPO. Perjalanan ke lembaga-
lembaga riset dari Medan, Pekanbaru hingga Kalimantan menyisakan berbagai permasalahan
yang “ngejelimet” tetapi memang mesti kita urang satu per satu demi perkembangan sawit
kita.
Ketika Pak Hendra Purba memberikan tema ini, saya jadi teringat kembali dengan konsep-
konsep dasar. Mulai dari kesuburan tanah, pemupukan, konservasi tanah dan air hingga
analisis bisnis yang tepat sehingga efek pengurangan, terutama dosis pemupukan, tidak
terlalu memberikan efek negatif untuk dua tahun kedepan.

Efisiensi Pemupukan
Membuka kembali makalah Notohadiprawiro, T (2006) mengenai Pengelolaan Kesuburan
Tanah dan Efisiensi Pemupukan. Ada dua pengertian kesuburan tanah yang harus
dibedakan jelas. Yang satu ialah kesuburan tanah aktual, yaitu kesuburan tanah hakiki
(alamiah). Yang lain ialah kesuburan tanah potensial, yaitu kesuburan tanah maksimum
yang dapat dicapai dengan intervensi teknologi yang mengoptimumkan semua faktor.
Seberapa banyak intervensi teknologi yang layak diterapkan tergantung pada:
1. Imbangan antara tambahan hasilpanen atau nilai tambah mata dagangan
(commodity) yang diharapkan akan dapat dihasilkan, dan tambahan biaya
produksi yang harus dikeluarkan.
2. Kemampuan membiayai intervensi itu, dan
3. Keterampilan teknik menerapkan intervensi tersebut secara sinambung.

Tidaklah mudah menentukan efisiensi pemupukan karena masing-masing metode dapat


meberikan hasil yang bervariasi. Dan hubungan antara unsur hara dan tanaman yang harus
diperhatikan agar program efisiensi terlaksana dengan baik. Beberapa unsur hara (mikro)
hanya diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi bila tidak ada akan mempengaruhi proses
fisiologi (enzimatis) dan bila berlebih akan menimbulkan toksisitas.
Efisiensi pemupukan dapat diperkirakan menurut kenaikan hasil panen (TBS) yang akan
berkorelasi dengan unsur-unsur hara yang terbawa dalam setiap kilo gram TBS ditambah
dengan kebutuhan unsur hara untuk pertumbuhan daun dan batang (vegetatif). Atau seperti
telah banyak dilakukan para pekebun yaitu dengan menganalisis (daun dan tanah) sehingga
kita bisa mengetaui berapa (ppm) unsur hara yang terserap dan tersisa dalam tanah.
Selanjutnya komposisi atau dosis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan.
Keadaan lingkungan, mulai dari curah hujan, gulma yang dapat menimbulkan persaingan
hara, lengas tanah, sinar matahari dan bio hayati tanah sangat menentukan efisiensi. Faktor
ini kita hubungkan dengan pengelolaan kesuburan tanah yang mencakup:
1. Imbangan ketersediaan hara asli tanah.
2. Antagonisme atau sinergisme ion dalam jaringan.
3. Fiksasi atau imobilisasi ion-ion hara dalam tanah.
4. Pencucian (leraching), aliran permukaan (runoff) yang melindi hara.
5. Defisiensi (kekahatan) tanah.
6. Tekstur, struktur dan konsistensi tanah.
7. Keekonomisan penggunaan teknologi hara (misal: sulfur coated urea, control released
fertilizer) dalam hubungannya dengan pH, KTK dan kondisi tanah.

Sumber Air
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit.
Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu,
berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif.
Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak
tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah.
Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman
yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif
kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya
pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah
muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.

El Nino diramalkan akan terjadi kembali di 2016. Beberapa teknologi sudah tersedia mulai
dari irigasi berupa pocket irigasi (polimer penyimpan air- stockosorb), drip irrigasi dan dam
irigasi hingga bio-pore disekitar tanaman sawit. Tetapi dalam jangka waktu yang panjang
baiknya membuat HUTAN BUATAN.
Bercermin dari negara gurun pasir, dengan Teknologi Reserve Osmosis yang mengubah air
laut menjadi air tawar? Ya mereka memiliki teknologi tersebut. Tetapi cost nya terlalu mahal.
Lalu bagaimana bisa menciptakan Air Tawar untuk kebutuhan areal perkebunan dan
pertanian nya? Caranya adalah dengan membangnun hutan. Hutan dapat menciptakan
HUJAN BUATAN. Karena kondisinya yang selalu lembab dan basah. Sehingga dapat
mengurangi penguapan oleh matahari.

Hutan akan menciptakan embun embun awan air melalui dedaunan. Semakin Banyak pohon
dalam hutan maka semakin banyak gelembung-gelembung air embun yang terbentuk oleh
pepohonan di pagi dan malam hari. Hal ini akan menyebabkan kondisi yg disebut hutan hujan
tropis. Sehingga walaupun Israel memasukin musim kemarau, hutan ini tetap akan
menurunkan hujannya.

Air tawar dari hutan ini lah yang kemudian di salurkan ke Waduk, Bendungan dan Sungai
Buatan. Yang kemudian di alirkan kembali ke lahan pertanian. Begitu terus terjadi secara
berulang-ulang. Negara Israel sendiri sebenarnya adalah Gurun Pasir yang tandus. Orang
Israel telah menanam Pohon di Padang Pasir selama Lebih dari 140 Tahun. Di Perkirakan,
pada Tahun 2015, jumlah Pohon Hutan Buatan yg di Tanam telah berjumlah 240.000.000.

Penulis:

Dadang Gusyana, S.Si, M.Agr


Agronomist & Technical Manager
PT Lautan Luas Tbk.
Tanya:
Yth Redaksi, Mohon dibahas mengenai berbagai macam jenis
minyak asal tumbuhan. Terutama minyak sawit, kedelai dan
jagung. Perbedaannya keungulan dan kekurangannya.
Thanks
Irna Safira Inayah

Jawab:
Minyak merupakan salah satu jenis makanan yang banyak digunakan
untuk diet sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh keuntungan minyak yang
telah dirasakan oleh segenap lapisan orang, yaitu untuk meningkatkan
cita rasa, memperbaiki tekstur, dan pembawa flavor, disamping fungsi
fisiologis dan sebagai sumber energi.

Minyak erat kaitannya jantung, hal ini disebabkan oleh isu penyakit
jantung koroner yang merupakan salah satu penyebab kematian
peringkat atas di Indonesia. Konsumsi minyak dan lemak merupakan
faktor paling dominan dan mendapat perhatian paling luas.

Studi pengaruh konsumsi minyak atau lemak terhadap penyakit jantung


koroner sudah dimulai pada pertengahan 1950-an oleh Ahren, Kinsell,
Keys dan Hegsted serta formula Keys yang disempurnakan oleh Hegsted.
Pertengahan 1980 kebanyakan penelitian tentang asam lemak jenuh
(saturated fat).
Berbagai hasil penelitian menyatakan bahwa terjadinya peningkatan
kolesterol sangat bergantung pada panjang rantai karbon, terutama
C12:0 dan C14:0, yang berasal dari bahan bakunya. Sebaliknya asam
lemak tak jenuk rantai panjang (poly-unsaturated fatty acid) mempunyai
pengaruh yang dapat menurunkan kolesterol sedangkan asam lemak tak
jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty acid) pada saat itu belum
mendapat perhatian khusus.

Kolesterol
Kolesterol adalah molekul sejenis lipid yang ditemukan dalam aliran darah
dan sel tubuh. Merupakam senyawa lemak kompleks, yang 80%
dihasilkan dari dalam tubuh (organ hati) dan 20% sisanya dari luar tubuh
(zat makanan) untuk bermacam-macam fungsi di dalam tubuh, antara
lain membentuk dinding sel. Kelebihan kolesterol dapat mengakibatkan
penumpukan lemak dalam darah yang dapat menyumbat pembuluh
darah. Pada akhirnya, jantung dan otak akan kekurangan pasokan darah
yang dapat menimbulkan risiko serangan jantung dan stroke.

Sifat-sifat minyak dipengaruhi oleh asam lemak penyusunnya, yaitu asam


lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dan asam lemak tak jenuh
(unsaturated fatty acid/UFA), yang terdiri atas mono-unsaturated fatty
acid (MUFA) dan poly-unsaturated fatty acid (PUFA) atau high
unsaturated fatty acid. Para ahli biokimia dan ahli gizi lebih mengenalnya
dengan sebutan asam lemak tak jenuh Omega 3, Omega 6 dan Omega 9.

Penelitian lainnya menunjukkan bila kita mengkonsumsi PUFA (Omega 6)


yang berlebihan tanpa diimbangi konsumsi Omega 3 memang dapat
menurunkan LDL kolesterol, akan tetapi HDL kolesterol juga dilaporkan
ikut mengalami penurunan. Bila keseimbangan antara Omega 3 dan
Omega 6 terganggu, menyebabkan darah mudah menggumpal. Kedua hal
ini tidak menguntungkan karena rasio LDL/HDL (Indeks penyakit jantungn
koroner) yang menurun dan mudahnya darah menggumpal tidak dapat
mencegah terjadinya penyakit jantung koroner, bahkan dapat memicu
terjadinya penyakit jantung koroner.
Hasil riset Grundy pada tahun 1985 dan Mensink pada tahun 1987
menyatakan bahwa MUFA dapat menurunkan kolesterol (LDL-kolesterol)
sehingga MUFA mulai mendapat perhatian. Salah satu jenis MUFA adalah
Omega 9 (Oleat) yang berdasarkan penelitian pada 1992, 1998, 1999 dan
2000, menyimpulkan bahwa Omega 9 memiliki daya perlindungan yang
mampu menurunkan LDL kolesterol darah, meningkatkan HDL kolesterol
yang lebih besar dibanding Omega 3 dan Omega 6, lebih stabil
dibandingkan dengan PUFA.

Hal ini dapat dilihat dari masyarakat yang hidup di kawasan Mediteranian
yang jarang ditemukan penderita jantung koroner karena tingginya
konsumsi Omega 9 dan Omega 3. Sedangkan di kawasan barat (AS dan
Eropa) konsumsi lemaknya memiliki rasio 10:1 (Omega 6, Omega 3),
yang dianggap tidak sehat.

Berdasarkan penelitian dan kajian epidemilogi di atas, mulai terjadi


perubahan pandangan dari konsumsi minyak kaya Omega 6 dan Omega 3
dengan kembali mengkonsumsi minyak yang berimbang yaitu 30%
saturated fat, 40% MUFA (Omega 9) dan 30% PUFA (Omega 6 dan
Omega 3).

Minyak Sawit
Minyak sawit ada yang berwarna jernih dan ada pula yang berwarna
merah (red palm oil). Warna yang berbeda ini disebabkan karena
pengolahannya yang berlainan. Dengan proses bleaching maka warna
merah seolah-olah dipisahkan, sehingga produk minyak menjadi jernih.
Padahal di dalam warna merah inilah terkandung banyak beta karoten.

Klaim produk minyak sawit sebagai produk sehat telah banyak dilakukan
penelitian mendasar, sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar yang
kuat. Meskipun minyak sawit mengandung Omega 9 cukup tinggi,
kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat) juga tinggi yaitu 40%.
Namun, asam palmitat yang ada dalam minyak sawit mempunyai nilai
positif karena dapat menurunkan kolesterol LDL.
Asam lemak Omega 9 dapat mencegah penyakit jantung koroner yang
telah teruji secara laboratoris dan epidemilogis, di mana penelitian yang
dilakukan selalu menggunakan minyak dengan kadar asam lemak jenuh
yang rendah (sekitar 5%). Ada hasil riset yang menyatakan bahwa
Omega 6 dalam bentuk tunggal memiliki sifat negatif karena berkaitan
dengan peningkatan produksi eicosanoids (stimulan pertumbuhan tumor
pada binatang percobaan). Namun dengan adanya Omega 9 dan Omega
3, dalam proporsi yang sesuai akan memiliki potensi memblokir produk
senyawa eicosanoids tersebut, sehingga lagi-lagi peran Omega 9 dapat
mencegah stimulasi negatif Omega 6.

Minyak sawit memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya


terdiri atas 35 – 40% asam palmitat, 38 – 40% oleat dan 6 – 10% asam
linolenat serta kandungan mikronutriennya seperti karitenoid, tokoferol,
tokotrienol dan fitosterol. Tokoferol atau Vitamin E merupakan suatu
komponen lipid yang esensial terdiri dari selaput-selaput biologi yang
saling berhubungan dengan radikal peroxyl yang berfungsi dalam
mencegah perkembangan lipid peroxidan.

Tokoferol pertama kali ditemukan tahun 1922 sebagai salah satu faktor
anti ketidak suburan (anti-infertilitas). Lebih lanjut dijelaskan oleh vitamin
E merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang terdiri dari campuran
dan substansi tokoferol (a, b, g, dan d) dan tokotrienol (a, b, g, dan d),
pada manusia a-tokoferol merupakan vitamin E yang paling penting untuk
aktifitas biologi tubuh. Bentuk vitamin E ini dibedakan berdasarkan letak
berbagai grup metil pada cincin fenil rantai cabang molekul dan
ketidakjenuhan rantai cabang.

Sedangkan fitosterol adalah sterol yang terdapat dalam tanaman dan


mempunyai struktur mirip kolesterol. Secara alami fitosterol dapat
ditemukan di dalam sayuran, kacang-kacangan, gandum. Fitosterol dapat
membantu menurunkan kadar kolesterol dengan cara menghambat
penyerapan kolesterol di usus sehingga membantu menurunkan jumlah
kolesterol yang memasuki aliran darah.

Di samping itu keunggulan minyak sawit sebagai minyak makan adalah


tidak perlu dilakukan parsial hidrogenasi untuk pembuatan margarin dan
minyak goreng (deep frying fat), trans-fatty acid rendah, dan unit cost
murah.

Minyak Kedelai
Dari tempointeraktif disebutkan bahwa para ilmuwan telah menemukan
lemak jenuh, yang bisa ditemukan dalam makanan seperti krim, keju,
dan mentega, buruk bagi jantung. Minyak kedelai pernah dilirik untuk
menjadi pengganti yang lebih sehat . Tetapi minyak kedelai akan rusak
bila dipanaskan. Selain itu juga harus melalui proses hidrogenasi agar
minyak tetap stabil. Hidrogenasi ini membuat minyak memproduksi lemak
trans.Lemak trans ini juga buruk dampaknya bagi jantung.

Kini, sebuah tim peneliti Universitas Missouri, Amerika Serikat, telah


mengembangkan kedelai yang menghasilkan minyak yang secara alami
rendah lemak jenuh dan trans.
Menurut Kristin Bilyeu, seorang peneliti pada Pusat Riset Pertanian USDA
di Sekolah Pertanian, Makanan, dan Sumber Daya Alam Universitas
Missouri. Timnya mencari minyak yang dampaknya baik bagi jantung dan
layak secara ekonomi untuk dikembangkan.

Bilyeu menemukan, asam oleat yang merupakan komponen dalam


minyak yang stabil dan bukan merupakan lemak jenuh. Asam ini tak
perlu proses hidrogenasi, yang menciptakan lemak trans. Asam oleat
merupakan komponen utama minyak zaitun, tetapi bukan merupakan
suatu komponen utama dalam minyak kedelai. Minyak Zaitun terbukti
baik bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. ”Kami berusaha
mengembangkan kedelai yang menghasilkan asam oleat dalam kacang,”
kata dia. Melalui prosedur penyerbukan alami, Bilyeu dan Grover
Shannon, profesor ilmu tanaman di Universitas Missouri,
mengembangkan minyak kedelai yang sangat tinggi kadar asam oleat,
yang tak hanya stabil, tapi juga lebih sehat.

Pembiakan alami ternyata meningkatan kadar asam oleat dalam kacang


dari 20 persen menjadi 80 persen dan menurunkan jumlah lemak jenuh
dalam sebesar 25 persen. Selain itu, karena minyak yang baru lebih stabil
dan tidak memerlukan proses hidrogenasi.

Selanjutnya dari penelitian ini akan diuji coba ditanam di iklim yang
berbeda apakah kedelai ini akan membuahkan hasil ekonomis yang sama.
Hasil sementara terlihat menjanjikan.

Menurut Bilyeu, produk sampingan dari penelitian ini tidak hanya


bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga menarik bagi pasar biodiesel.
Tingginya jumlah asam oleat memberikan minyak kedelai karakteristik
tertentu yang membuat itu baik untuk biodiesel.

Dari indobic.or.id diberitakan minyak kedelai dengan tingkat asam oleat


yang lebih tinggi menjadi lebih sehat karena menghilangkan kebutuhan
hidrogenasi yang menciptakan lemak trans. Pioneer Hi-Bred berharap
menjadikan produk ini tersedia bagi konsumen sebagai Plenish ™ di tahun
2012. Tanaman biotek tersebut juga telah mengurangi 20 persen lemak
jenuh melebihi komoditas minyak kedelai.

Plenish ™ diharapkan menerima persetujuan regulator AS akhir tahun ini,


menjalani uji minyak dan uji coba lapangan pada tahun 2011, dan
akhirnya dikomersialisasikan pada tahun 2012. “Perbaikan kualitas
minyak tersebut hanya merupakan separuh dari tantangan. Kita juga
harus mengembangkan varietas oleat tinggi yang menghasilkan sama
seperti kedelai konvensional sehingga para pengusaha akan berkeinginan
menanam mereka,” ujar ilmuwan peneliti Susan Knowlton. “Kami sangat
senang dengan apa yang telah kita lihat sejauh ini bagi kualitas dan hasil
minyak dalam uji lapangan.”

Minyak Sawit vs Minyak Kedelai


Indonesia Voice.com menyebutkan persaingan perdagangan minyak sawit
dengan minyak kedelai benar-benar menjadi tidak sederhana. Asia
Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia yang memproduksi minyak sawit
harus bersaing dengan Eropa yang memproduksi minyak kedelai untuk
merebut pasar yang sama, yaitu pasar minyak nabati. Tentunya pada
segmen pasar yang sama. Pada masa yang akan daang produksi minyak
nabati CPO dari Indonesia dan Malaysia mampu menguasai 25 persen
pangsa pasar minyak nabati dunia.
Hal ini sangat mengkhatirkan Eropa. Uni Eropa berusaha untuk
menyelamatkan minyak kedelai yang semakin lama semakin tergerus
dengan produk minyak sawit. Apalagi diketahui bahwa minyak sawit
terdapat unsur bahan transgenik yang belum dapat
dipertanggungjawabkan keamanannya. Selain itu untuk memproduksi
suatu volume yang sama minyak kedelai membutuhkan lahan yang luas.

Eropa dan Amerika tidak cocok untuk menanam sawit. Sehingga minyak
nabati AS dan Eropa mengandalkan minyak kedelai dan minyak sayur
lainnya yang menjadi produk andalan petani Eropa dan Amerika. Habitat
aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di
daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di
ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%.
Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm
setahun. Kondisi seperti ini ada di Asia Teneggara.

Banyak alasan mengapa minyak sawit lebih layak menggantikan minyak


kedelai dan minyak sayur lainnya. Tanaman kedelai adalah adalah salah
satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak
makanan dari Asia Timur seperti minyak nabati, kecap, tahu, dan tempe.
Tanaman sejenis ini tidak produktif untuk memproduksi oksigen,
sedangkan kepala sawit sangat rakus menhisap karbon dan memproduksi
oksigen. Sehingga untuk mendapatkan minyak kedelai tidak seekonomi
minyak sawit. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelapa sawit
tumbuh lebih baik di Malaysia dan Indonesia akibat pasokan sinar
matahari yang relatif lebih banyak.

Ongkos produksi minyak sawit yang lebih rendah mengakibatkan minyak


kedelai tidak mampu bersaing. Secara kualitas minyak sawit lebih unggul
dari minyak kedelai. Kandungan Trans Fatty Acid (TFA) yang berbahaya
bagi kesehatan yang ditemukan di minyak kedelai telah mendorong
konsumen beralih ke minyak sawit yang bebas TFA.
Harga yang lebih mahal dan keamanan yang belum dapat
dipertanggungjawabkan pada minyak kedelai inilah yang menyebabkan
pasar lebih tertarik untuk membeli minyak sawit yang berasal dari
Indonesia dan Malaysia. Tidak dapat dihindari, dominasi minyak kedelai
akhirnya tergeser oleh minyak sawit. Pada tahun 2004 produksi dan
konsumsi minyak sawit melampaui volume minyak kedelai, 2 tahun lebih
cepat dari perkiraan semula.

Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa minyak sayur dari CPO terbukti
tidak membahayakan kesehatan. Tanaman kelapa sawit dijamin tidak
merusak lingkungan. Kampanye negative Uni Eropa tidaklah tulus untuk
memerangi pemanasan global tetapi justru jahat dan akan memicu
penanaman pertanian kedelai yang tidak memiliki kemampuan
menghasilkan oksigen, dan justru menghabiskan lahan hutan.

Pada tahun 2015 Indonesia akan menjadi penghasil minyak nabati


terbesar di dunia, dengan proyeksi produksi minimal 17 juta ton per
tahun. Sawit memiliki potensi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Mana
yang akan anda pilih? Semuanya berpulang kepada anda sebagai
konsumen.

Dadang Gusyana, dari berbagai sumber.