Anda di halaman 1dari 1

AQUARIUS, Sang Pembawa Air

Tanda kesebelah dalam zodiak disimbolkan oleh Pembawa Air, sesosok manusia yang
membawa buli-buli atau wadah yang darinya air tercurah membentuk aliran.

Simbol Pembawa Air bisa dilacak jejaknya kembali ke agama Mesir dan Babilonia. Di
Mesir, Sang Pembaca Air adalah dewa Hap, personifikasi sungai Nil. Hap membawa dua
vas air, yang merepresentasikan Nil Selatan dan Utara, dan dipandang sebagai penopang
kehidupan. Seluruh makhluk yang hidup akan mati tanpa adanya air dari Hap.

Dalam literatur Yunani, konstelasi Aquarius disebut sebagai Penuang Air, dan terkadang
dipandang merepresentasikan dewa Jupiter, yang perintahnya menyebabkan air
dituangkan dari langit. Ia juga merupakan peringatan tentang Deucalion, satu-satunya
manusia yang bisa melewati Banjir Besar tanpa terluka.

Pada permulaan penciptaan, dewa-dewa dan umat manusia hidup dengan harmonis
sepanjang era yang disebut sebagai Era Keemasan. Bumi menghasilkan makanan tanpa
manusia harus menggarapnya; air mengalir bersama anggur dan madu. Kemudian
Pandora membuka kotak kejahatan, lalu wabah serta penyakit pikiran dan raga
dilepaskan di bumi.

Dewa agung Jupiter melihat ke bawah dan memutuskan untuk membersihkan dunia
manusia dan menciptakan satu ras baru yang lebih layak hidup. Dengan bantuan
saudaranya, Neptunus, Jupiter menutupi bumi dengan air. Hanya dua orang yang
selamat, Deucalion dan istrinya, Pyrrha, yang adil sekaligus alim dan menyembah dewa
dengan setia. Mereka berlindung di Gunung Parnassus, dan ketika Jupiter melihat
mereka maka dia teringat akan kehidupan mereka yang pantas dicontoh. Dia pun
menyuruh air untuk surut dan bumi untuk mengering. Kemudian Deucalion dan Pyrrha
diperintahkan untuk membuang tulang-belulang ibu mereka di belakang mereka.
Deucalion menafsirkan “tulang-belulang ibunya” sebagai batu-batu di bumi, maka dia
dan Pyrrha mulai mengambil batu-batu dan membuang batu-batu itu di belakang
mereka seiring mereka berjalan. Batu-batu ini dengan perlahan berubah menjadi
manusia; batu-batu yang dilemparkan Deucalion menjadi kaum pria, dan batu-batu yang
dilemparkan Pyrrha menjadi kaum wanita. Begitulah, Deucalion menjadi bapak ras baru
umat manusia.