Anda di halaman 1dari 16

“PENGENDALIAN RESIKO ERGONOMI KASUS LOW BACK

PAIN PADA PERAWAT CSSD (Central Sterile Supply Department)


DI RS IBNU SINA tahun 2017”

Andi Cakra Irwansyah. 110 209 0048.


Fakultas kedokteran. Universitas Muslim Indonesia. Makassar

ABSTRACT
Nurses are at high risk of low back pain (LBP). This study aimed to assess physical
activities and working facilities as the risk factors that can lead to LBP in nurses in the wards
and the emergency units of several hospitals in Jakarta to provide recommendations for
controlling the risk of LBP. Observations were performed to identify high-risk activities and
the rapid entire body assessment (REBA) method was used to assess the ergonomic risk.
Questionnaires and Nordic body map were also used to assess the other risk factors and LBP-
related complaints. In addition, the cross-sectional design for association analysis,
measurement and analysis to assess the working tools were also applied. The results showed
that the prevalence of LBP among nurses was higher in the RSUD Tarakan emergency unit in
2013 (61.1%) and RS Bhayangkara wards in 2012 (31.8%). In the private
hospital emergency unit, the LBP is lower compared to the results of a global survey (43.1–
87%). The dominant causes of LBP were bending and patient-lifting. A significant
association was evident between the risk level of LBP and bending posture (p=0.031,
OR=1.18–133.89), curved spine angle (p=0.024, OR=1.65–196.31), and patients transfer
(p=0.011, OR=5.22–176.83). In conclusion, nurse physical activities and their work facilities
can induce LBP. Therefore, it is suggested to provide adjustable facilities and wall-mounted
tables in the toilets for urine measurements. Meeting the the minimum nurse: patient ratio,
providing SOPs, and educating the nurses to control the risks of LBP are also needed.
Key words: Ergonomic, low back pain, nurse
ABSTRAK
Perawat berisiko tinggi nyeri pinggang bawah. Tujuan penelitian ini menilai faktor
risiko akivitas fisik dan sarana kerja yang dominan dapat menimbulkan low back pain (LBP)
pada perawat di ruang Rawat Inap dan Unit Gawat Darurat Rumah Sakit di Jakarta serta
memberikan rekomendasi pengendalian risiko LBP. Observasi dilakukan untuk
mengidentifikasi aktivitas berisiko tinggi LBP, metode rapid entirebody assessment (REBA)
menilai tingkat risiko ergonomi, kuesioner dan Nordic body map menilai faktor risiko lainnya
serta keluhan LBP, desain potong lintang untuk analisis asosiasi, pengukuran dan analisis
untuk menilai alat kerja. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi LBP cukup tinggi pada
perawat UGD di RSUD Tarakan tahun 2013 (61,1%) dan perawat rawat inap di RS
Bhayangkara tahun 2012 (31,8%), namun rendah pada perawat UGD di RSS bila
dibandingkan dengan hasil survei global (43,1–87%); aktivitas yang dominan menimbulkan
LBP adalah membungkuk dan angkat angkut pasien. Didapatkan hubungan yang bermakna
postur membungkuk (p=0,031; OR=1,18–133,89), sudut lengkung punggung (p=0,024;
OR=1,65-196,31), dan transfer pasien (p=0,011; OR=5,22–176,83) dengan tingkat risiko
LBP. Simpulan, aktivitas fisik perawat dan sarana kerjanya dapat menyebabkan LBP
sehingga disarankan menyediakan sarana kerja yang adjustable serta ‘meja’ dinding di toilet
untuk pengukuran urin, memenuhi rasio perawat-pasien minimal, SOP, mendidik perawat
agar mampu melakukan pengendalian..
Kata kunci: Ergonomi, low back pain, perawat
PENDAHULUAN
Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah adalah salah satu masalah
kesehatan kerja yang paling sering ditemukan1 dan dapat menimbulkan absenteisme
tertinggi di tempat kerja.1–3 Pekerja berisiko tingggi LBP adalah pekerja yang
bekerja dengan postur janggal, manual handling serta dengan frekuensi dan durasi
yang tinggi termasuk pekerja kesehatan di rumah sakit, terutama pada perawat di area
kerja yang banyak mengangkat. Banyak penelitian di dunia melaporkan perawat
merupakan salah satu pekerjaan berisiko tinggi LBP, Hignett pada tahun 1996
merangkum 80 penelitian yang dipublikasi selama tiga dekade, menemukan
prevalensi LBP perawat lebih tinggi daripada populasi umum, terutama perawat yang
banyak melakukan kegiatan angkat-angkut atau mobilisasi pasien. Hasil penelitian
Hignett masih relevan, keadaan ini ditunjukkan dalam publikasi terkini pada tahun
2013 berupa Global Health Research Program yang dilaksanakan oleh The
University of British Columbia Canada; mereka merangkum 89 penelitian yang
dipublikasi tahun 1980–2012 terdiri atas berbagai macam desain penelitian, baik yang
longitudinal maupun potong lintang, bersifat analitik atau deskriptif di bidang
ergonomik, termasuk studi review. Hasil review Global Research ini juga
menunjukkan aktivitas perawat berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan
tulang belakang, terutama aktivitas angkat-angkut atau mobilisasi pasien. Hubungan
ini memenuhi postulat Hill yaitu asosiasi yang kuat, konsisten, temporal, plausible,
koheren, dan analog dengan hubungan pajanan-luaran; estimasi risiko LBP 1,2–5,5
kali bila dibandingkan dengan populasi umum.
Pada penelitian ini perawat yang diteliti adalah perawat yang bekerja di unit
CSSD (Central Sterile Supply Department) RS Ibnu Sina. Posisi yang salah atau
tidak ergonomis dalam melakukan pekerjaan sering menimbulkan ketidaknyamanan
yang salah satunya adalah low back pain. Seorang perawat yang mengalami low back
pain akan terganggu produktivitas kerjanya. Produktivitas kerja yang menurun pada
akhirnya akan berdampak pada kualitas pelayanan pasien.
Dari hasil survei awal yang dilakukan peneliti dengan wawancara pada satu
orang perawat CSSD RS Ibnu Sina didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa
perawat tersebut pernah mengalami low back pain setelah bekerja. Umumnya mereka
mengeluh low back pain setelah melakukan rangkaian proses sterilisasi alat kesehatan
seharian.
Berdasarkan gambaran tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui adakah
hubungan antara sikap dan posisi kerja dengan low back pain pada perawat CSSD RS
Ibnu Sina. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada
hubungan sikap dan posisi kerja dengan low back pain pada perawat CSSD RS Ibnu
Sina. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengidentifikasi karakteristik responden
(usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, masa kerja), menganalisis sikap dan
posisi kerja perawat CSSD RS Ibnu Sina, mengetahui hubungan antara usia dengan
low back pain pada perawat CSSD RS Ibnu Sina, mengetahui hubungan antar indeks
massa tubuh dengan low back pain pada perawat CSSD RS Ibnu Sina, mengetahui
hubungan antara masa kerja dengan low back pain pada perawat CSSD RS Ibnu Sina.

METODE
Subjek penelitian adalah perawat yang memberi pelayanan di ruang Sterilisasi
Alat kesehatan RS Ibnu Sina. Penelitian ini mempergunakan metode studi kasus
retrospektif dimana penelitian menggunakan alur mundur, yaitu data yang digali
adalah akibat yang terjadi kemudian dari dampak tersebut ditelusuri variabel –
variabel atau faktor resiko yang mempengaruhi.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 Maret 2017 – 15 Maret 2017 di Unit
CSSD RS Ibnu Sina. Populasi penelitian ini adalah perawat di RS terpilih, kriteria
inklusinya adalah perawat yang memiliki keluhan nyeri punggung bawah dan
bersedia mengikuti penelitian dengan dan menandatangani persetujuan ikut
penelitian atau informed consent (bila perlu), sedangkan kriteria eksklusinya pada
penelitian ini adalah perawat yang tidak memiliki keluhan nyeri punggung bawah.
Sampel penelitian adalah seluruh populasi yang memenuhi syarat penelitian, yaitu 1
orang perawat di unit CSSD RS Ibnu Sina, Makassar.
Data mengenai kondisi Low Back Pain yang dialami oleh responden
diperoleh melalui wawancara singkat menggunakan format berkas okupasi yang
terdiri dari :
1. Data responden (nama, alamat, umur, kedudukan dalam keluarga, jenis kelamin,
agama, pendidikan, dan pekerjaan, status perkawinan, dan alergi obat)
2. Anamnesis terpimpin + anamnesis Okupasi (BRIEF Survey – Baseline Risk
Identification of Ergonomic factors)
3. Pemeriksaan Fisik
4. Pemeriksaan Penunjang
5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan kriteria inklusi, responden merupakan subjek yang memiliki
keluhan utama berupa nyeri punggung bagian bawah. Berdasarkan Format Berkas
Okupasi, data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. DATA ADMINISTRASI
Data Administrasi
Nama Hastuti
Alamat Jl. Paccerakang C6/7
Umur 26 tahun
Kedudukan dalam keluarga Istri
Jenis kelamin Perempuan
Agama Islam
Pendidikan SI
Pekerjaan Perawat CSSD
Status perkawinan Menikah
Alergi obat Tidak ada

2. ANAMNESIS
a. Anamnesis terpimpin
Keluhan Utama : Nyeri punggung bawah
Keluhan pertama kali dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu, berupa rasa nyeri
yang dirasakan di punggung bawah. Nyeri seperti ditusuk – tusuk, tidak
dialami terus – menerus. Skala nyeri menurut pasien adalah 6 (skala 1-10).
Keluhan hanya muncul setelah pasien bekerja berat seharian dan membaik
setelah istirahat (berbaring). Pasien mengeluh gejala dirasakan memberat
sejak 2 bulan terakhir dan kadang – kadang mempengaruhi aktivitasnya.
Tidak ada gejala lain yang dikeluhkan oleh pasien. BAB dan BAK dalam
batas normal. Riwayat Hipertensi (-), Diabetes (-)
Tidak ada penyakit yang sama didalam keluarga. Riwayat kebiasaan: Pasien
terbiasa bekerja selama 7 – 10 jam per hari.
b. Anamnesis Okupasi
1) Jenis Pekerjaan
Jenis Bahan/material yg Tempat kerja Masa Kerja
pekerjaan digunakan
Perawat Sterilisasi alat CSSD RS Ibnu 3 bulan
CSSD menggunakan klorin dan Sina
autoclave

2) Uraian tugas
Pasien adalah seorang perawat yang bekerja sebagai petugas di unit
CSSD RS Ibnu Sina. Sebelumnya pasien adalah perawat di Ruang
Operasi. Pasien bekerja di kamar Operasi selama 12 tahun dengan jam
kerja dinas selama 7 - 10 jam setiap harinya, responden terbiasa
melakukan pekerjaan berat seperti mendorong atau mengangkat pasien,
ikut serta dalam operasi dalam jangka waktu lama serta melakukan
perawatan pasien di Recovery room. Responden mulai bekerja di Unit
CSSD seperti sekarang sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu, dengan jam
kerja 8 – 12 jam setiap harinya. Jam kerja pasien bertambah karena
kurangnya perawat di unit tersebut.
Bangun
(05.00)

Lanjut Sholat
dinas(13.0 (05.00 -
0 - 16.00) 05.30)

Istirahat Mandi
(12.00 - (05.35 -
13.00) 05.50)

Dinas Berangkat
(08.00 - dinas (06.
12.00) 10 - 07.00)
3) Bahaya Potensial
Urutan Bahaya Potensial Ggn Resiko
Kegiatan Fisik Kimia Biologi Ergonomi Psikososial Kes. Yg kecelakaan
mungkin kerja
Penerimaan Benda Klorin Bakteri, Berdiri dalam Waktu Resiko Trauma
Alat tajam virus jangka waktu kerja lama infeksi benda tajam
lama
Sterilisasi Suhu Klorin Bakteri, Membungkuk Waktu Myalgia Luka bakar
ekstrem Virus kerja lama
panas

4) Hubungan pekerjaan dengan penyakit yang dialami


Keluhan yang dialami pasien kemungkinan berkaitan dengan posisi
pasien saat bekerja. Posisi berdiri/duduk/membungkuk terlalu lama dapat
menyebabkan gangguan musculoskeletal.
5) Body discomfort Map

= Nyeri = Pegal pegal


6) BRIEF TM
Survey – Baseline Risk Identification of Ergonomic
Factors

3. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Pernapasan : 18x/mnt
- Nadi : 84x/mnt
- Suhu : 37,0 o C
- Status Gizi
Tinggi Badan : 168cm
Berat Badan : 62 Kg
IMT = 22,2kg/m2(Normoweight)

KEPALA LEHER
 Anemis : (-)  MT : (-)
 Mata : Hiperemis (-)  Pembesaran
 Ikterus : (-) Tiroid : (-)
 Sianosis : (-) KGB : (-)
 Edema : (-)  DVS : R+ 0 MmH20

THORAX JANTUNG
 Simetris : (D) = (S) I : IC tidak tampak
 Massa Tumor : (-) P : IC tidak teraba
 NyeriTekan : (-) P : Batas Jantung : dalam batas normal

 Perkusi : Sonor A : BJ : I/II murni regular

 Auskultasi Bising : (-)

BP : Vesikuler
Rh : - / - ; Wh : - / -
ABDOMEN EKSTREMITAS, dll
 Datar  Edema : (-)
 Peristaltik (+) Kesan normal  Deformitas : (-)
 MT : (-) NT (-)
 Hepar : Tidak teraba
 Lien : Tidak teraba
 Perkusi : Timpani
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

5. DIAGNOSIS
Diagnosis : Low-Back Pain akibat kerja
Diagnosis Banding : Myalgia
Diagnosis Okupasi :
Langkah Diagnosis Pertama
1. Diagnosis Klinis
Dasar diagnosis (anamnesis, pemeriksaan Berdasarkan keluhan yang dikemukakan
fisik, pemeriksaan penunjang, body map,
pasien pada saat anamnesis, pemeriksaan fisik,
brief survey)
body map, dan Brief survey maka dapat
ditegakkan diagnosis sementara yaitu Low-
Back Pain akibat kerja sebelum dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut
2. Pajanan di tempat kerja
Fisik Terdapat benda – benda tajam yang bisa
menyebabkan cedera
Kimia Terdapat zat – zat yang sifatnya iritan seperti
klorin dan zat lain yang berbahaya jika ditelan
yaitu alkohol
Biologi Pasien beresiko terkena penyakit menular
melalui mikroorganisme (bakteri/jamur/virus)
yang terdapat pada peralatan medis
Ergonomi Posisi duduk/berdiri/membungkuk yang
dilakukan berulang-ulang dan dipertahankan
dalam jangka waktu dalam dapat menyebabkan
gangguan musculoskeletal
Psikososial Kurangnya staff di unit CSSD menyebabkan
petugas (pasien) memiliki jam kerja yang
tinggi
3. Evidence Based (sebutkan secara teoritis) Hubungan sikap dan posisi kerja dengan Low-
pajanan di tempat kerja yang menyebabkan
Back Pain pada perawat di RS Purbalingga
diagnosis klinis di langkah 1.
Dasar teorinya apa? Penulis : Hirmawan Fathani
4. Apakah pajanan cukup
Masa kerja 7 Hari kerja
Jumlah jam terpajan/ hari 7 – 10 jam perhari
Pemakaian APD Ya
Konsentrasi pajanan Sedang
Lainnnya........... -
5. Apa ada faktor individu yang -
berpengaruh thd timbulnya diagnosis
klinis? Bila ada, sebutkan.
6 . Apa terpajan bahaya potensial yang Tidak
sama spt di langkah 3 luar tempat kerja?
Bila ada, sebutkan
7 . Diagnosis Okupasi
Apa diagnosis klinis ini termsk penyakit
Diagnosis tersebut merupakan diagnosis klinis
akibat kerja?
Bukan penyakit akibat kerja (diperberat oleh akibat kerja karena penyakit ini baru dialami
pekerjaan/
setelah bekerja sebagai perawat di Rumah
bukan sama sekali PAK)_
Butuh pemeriksaan lbh lanjut)? Sakit.

RESUME
Data primer hasil observasi mendapatkan aktivitas pekerjaan perawat yang berisiko
menimbulkan LBP di Unit CSSD yaitu seperti berikut.
1. Pekerjaan dengan posisi berdiri, yaitu ketika perawat menerima peralatan
medis dari kamar operasi, poli, ruang perawatan, atau laboratorium. Dan
ketika menyimpan peralatan di lemari alat yang berada di dinding.
2. Pekerjaan dengan posisi membungkuk, ketika perawat membersihkan
peralatan medis di tempat cuci alat, ketika melakukan packaging perlatan
medis, dan mensterilkan peralatan di alat sterilisasi.
3. Pekerjaan dengan posisi jongkok, ketika perawat mengambil peralatan medis
yang sudah disterilkan dari autoclave.
Responden berusia ≥42 tahun, dengan Indeks massa tubuh dalam batas normal,
responden mempunyai tinggi badan 167 cm dan berat badan 62 kg, responden
tersebut adalah laki-laki, dan merupakan merokok. Responden sebelumnya adalah
perawat yang bekerja di kamar Operasi selama 12 tahun dengan jam kerja dinas
selama 7 - 10 jam setiap harinya, responden terbiasa melakukan pekerjaan berat
seperti mendorong atau mengangkat pasien, ikut serta dalam operasi dalam jangka
waktu lama serta melakukan perawatan pasien di Recovery room. Responden mulai
bekerja di Unit CSSD seperti sekarang sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu, dengan
jam kerja 8 – 12 jam setiapharinya. Perawat ini bila dihubungkan dengan keluhan
LBP, maka didapatkan karakteristik individu yang berhubungan kejadian LBP antara
lain usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, jenis pekerjaan, masa kerja dan posisi
saat bekerja.

KATEGORI KESEHATAN
Kesehatan baik (sehat untuk bekerja = physical fitness),

PROGNOSIS
Klinik
ad vitam : dubia ad ad bonam
ad sanasionam : dubia ad ad bonan
ad fungsionam : dubia ad ad bonam
Okupasi : dubia ad bonam
Jenis permasalahan Rencana Tindakan (materi & metoda); Tatalaksana
No Medis & non medis medikamentosa; non medika mentosa(nutrisi, olahraga, Target Hasil yang
dll) konseling dan OKUPASI) waktu diharapkan
1. Medis : R/ Pemberian OAINS untuk mengurangi nyeri Segera Perbaikan
D/ Low Back Pain Non Medikamentosa Gejala klinis
- Istirahat cukup
- X-Ray untuk menentukan penyebab nyeri
Okupasi :
- Eliminasi : sulit dilakukan
- Subsitusi : sulit dilakukan
- Isolasi : sulit dilakukan
- Administrative control : tidak dilakukan shift
- APD : diperlukan penggunaan Gloves saat bekerja

KESIMPULAN
Berdasarkan keluhan yang dikemukakan pasien pada saat anamnesis, pemeriksaan fisik, body
map, dan Brief survey maka dapat ditegakkan diagnosis sementara yaitu Low-Back Pain
akibat kerja sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut

SARAN
1. Diperlukan tambahan petugas di unit CSSD agar beban kerja petugas di unit
tersebut tidak bekerja berlebihan
2. System shift perlu diberlakukan bagi petugas, agar tersedia cukup waktu untuk
pemulihan sebelum memulai pekerjaan kembali keesokan harinya
3. Perlu dilakukan pengenalan dan pelatihan untuk para petugas di unit tersebut
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja untuk meminimalisir penyakit atau
kecelakaan akibat kerja
REFERENSI

1. Borenstein, T. G. 1997. Back Pain and Renal Failure. Diakses pada tanggal 18 September 2008 dari
www.Proquest.com/pqdauto. Grandjean, E. 1988. Fitting The Task to The Man, A Text book of
Occupational Ergonomics, 4 th edition. London : Taylor and Francis Ltd.
2. Hastono, S. P., 2001. Analisis data. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Hasyim, H. 2000. Low Back Pain pada Operator. Temu Ilmiah Tahunan Fisioterapi TITAFI XV.
3. Idyan, Z. 2007. Hubungan Lama Duduk Dengan Keluhan Low Back Pain. Volume 4, No.3, November
2009
4. Kuntono, HP. 2002.Penggunaan Korset Lumbal dan Back exercise untuk mengurangi Keluhan Low
Back Pain Karyawati Garmen di PT Sritek Solo. Thesis S2 pada PPS UGM Yogyakarta
5. Maher, Salmond & Pellino. 2002. Low Back Pain Syndroma. Philadelpia: FA Davis Company.
6. Mansjoer, A. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, edisi III. Jakarta: Media Aesculapius Narbuko, C. &
Achmadi, A. 2000. Metode Penelitian, Edisi revisi, Jakarta: Rineka Cipta
7. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
8. Pheasant, S. 1991. Ergonomics, Work and Health. London : Macmillan Academic Profesional Ltd.
9. Rahayu, S. 2004. Analisis Risiko Ergonomi pada Pekerjaan Perawat Terhadap Kemungkinan Timbulnya
Musculoskeletal Disorders Akibat Postur Janggal di Unit ICU, Rumah Sakit Umum Serang, Banten,
tahun
SOAL
1.