Anda di halaman 1dari 16

MODUL 1

ANALISIS BIOEKIVALEN (BE) IN VITRO : UJI DISOLUSI


TERBANDING

1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mampu memperlajari perbedaan profil disolusi berbagai obat generik
yang sudah beredar
2. Mampu membandingkan kemiripan antar obat generik tersebut dengan
inovator

1.2 Prinsip
Prinsip dari praktikum ini adalah :
1. Berdasarkan penentuan konstanta kecepatan disolusi tablet dan kadar zat
terdisolusi dalam media dengan pengambilan sampel tiap menitnya pada
suhu 37°C. Dan berdasarkan hukum Lambert-beer dengan menyatakan
bahwa besarnya serapan (absorbansi) sebanding dengan besarnya
konsentrasi zat uji.

2. Berdasarkan pengukuran kadar paracetamol dari berabagi merek dagang


yang terdisolusi dalam medium dapar HCl 0,1 N menggunakan alat
disolusi dan membandingkan dengan inovator paracetamol yaitu
Panadol.

1.3 Teori
Uji bioekivalensi adalah uji bioavabilitas komperatif yang dirancang untuk
menunjukan bioekivalensi antar produk uji dengan produk pembanding (BPOM,
2004). Uji ini diperlukan karena metode fabrikasi dan formulasi dapat
mempengaruhi bioavailabilitaas produk-produk obat tersebut.
Uji disolusi merupakan suatu metode fisika yang penting sebagai
parameter dalam pengembangan mutu sediaan obat yang didasarkan pada
pengukuran kecepatan pelepasan dan pelarut zat aktif dari sediaannya. Uji disolusi

1
2

digunakan untuk uji bioavailabilitas secara in vitro karena hasil disolusi


berhubungan dengan ketersediaan hayati obat dalam tubuh. Uji disolusi bertujuan
untuk memprediksi korelasi bioavailabilitas in vivo dari produk obat.
Disolusi suatu jenis khusus dari suatu reaksi heterogen yang menghasilkan
transfer massa karena adanya pelepasan dan pemindahan menyeluruh ke pelarut
dari permukaan padat. Disolusi obat suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat kedalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketesediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut kedalam media pelarut sebelum diserap kedalam tubuh. Sediaan
obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semipadat, seperti
kapsul, tablet atau salep Uji disolusi penting sebagai : (Allen dkk., 2005)
1. Petunjuk untuk pengembangan formulasi dan produk obat
2. Kontrol kualitas selama proses produksi
3. Memastikan kualitas bioekivalen in vitro antara batch
4. Regulasi pemasaran produk obat
Uji disolusi terbanding dapat digunakan untuk memastikan kualitas dan
sifat-sifat produk obat dengan perubahan minor dalam formulasi atau pembuatan
setelah izin pemasaran. BPOM memberikan ketentuan uji disolusi terbanding
yaitu dengan melihat nilai f2 (faktor kemiripan) antara produk uji dengan produk
pembanding (BPOM, 2004)
Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu bentuk
sediaan utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu sendiri.
Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari sediaannya didefinisikan
sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit waktu di bawah kondisi antar
permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi media yang dibakukan. Kecepatan
pelarutan memberikan informasi tentang profil proses pelarutan persatuan waktu.
Hukum yang mendasarinya telah ditemukan oleh Noyes dan Whitney sejak tahun
1897 dan diformulasikan secara matematik sebagai berikut :
dc / dt = kecepatan pelarutan (perubahan konsentrasi per satuan waktu)
Cs = kelarutan (konsentrasi jenuh bahan dalam bahan pelarut)
Ct = konsentrasi bahan dalam larutan untuk waktu t
K = konstanta yang membandingkan koefisien difusi, voume
3

larutan jenuh dan tebal lapisan difusi (Martin, 1993)


Dari persamaan di atas dinyatakan bahwa tetapnya luas permukaan dan
konstannya suhu, menyebabkan kecepatan pelarutan tergantung dari gradien
konsentasi antara konsentrasi jenuh dengan konsentrasi pada waktu (Shargel,
2005).
Lapisan difusi adalah lapisan molekul-molekul air yang tidak bergerak
oleh adanya kekuatan adhesi dengan lapisan padatan. Lapisan ini juga dikenal
sebagai lapisan yang tidak teraduk atau lapisan stagnasi. Tebal lapisan ini
bervariasi dan sulit untuk ditentukan, namun umumnya 0,005 cm (50 mikron) atau
kurang (Tjay, 2002).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh,suatu obat yang diberikan secara oral
dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat
larut dalam cairan. Pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal
dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau basa, obat
tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus. Proses
melarutnya suatu obat disebut disolusi (Tjay, 2002)
Bila suatu tablet atau sediaan lainnya dimasukan kedalam saluran cerna,
obat tersebut mulai masuk kedalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet
tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami desintegrasi menjadi
granul-granul dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel
halus. Desintegrasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan
melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 2008).
Mekanisme disolusi tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau reaktivitas partikel-
partikel padat terlarut kedalam zat cair , dengan mengalami dua langkah berturut-
turut: (Martin, 2008).
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang tetap atau
film disekitar partikel.
2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair .
Uji hancur pada suatu tablet didasarkan pada kenyataan bahwa, tablet itu
pecah menjadi partikel-partikel kecil, sehingga daerah permukaan media pelarut
menjadi lebih luas, dan akan berhubungan dengan tersedianya obat dalam cairan
4

tubuh. Namun, sebenarnya uji hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan
tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan. Uji ini tidak memberikan
jaminan bahwa partikel-partikel itu akan melepas bahan obat dalam larutan
dengan kecepatan yang seharusnya. Oleh sebab itu, uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet. Laju absorpsi dari obat-obat
bersifat asam yang diabsorpsi dengan mudah dalam saluran pencernaan sering
ditetapkan dengan laju larut obat dalam tablet (Martin, 2008)
Agar diperoleh kadar obat yang tinggi di dalam darah, maka kecepatan
obat dan tablet melarut menjadi sangat menentukan. Karena itu, laju larut dapat
berhubungan langsung dengan efikasi (kemanjuran) dan perbedaan bioavaibilitas
dari berbagai formula. Karena itu, dilakukannya evaluasi mengenai apakah suatu
tablet melepas kandungan zat aktifnya atau tidak bila berada di saluran cerna,
menjadi minat utama dari para ahli farmasi (Martin, 2008)
Diperkirakan bahwa pelepasan paling langsung obat dari formula tablet
diperoleh dengan mengukur bioavaibilitas in vivo. Ada berbagai alasan mengapa
penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas, yaitu lamanya waktu yang diperlukan
untuk merencanakan, melakukan, dan mengitepretasi; tingginya keterampilan
yang diperlukan bagi pengkajian pada manusia.; ketepatan yang rendah serta
besarnya penyimpangan pengukuran; besarnya biaya yang diperlukan;
pemakaian manusia sebagai obyek bagi penelitian yang “nonesensial”; dan
keharusan menganggap adanya hubungan yang sempurna antara manusia yang
sehat dan tidak sehat yang digunakan dalam uji. Dengan demikian, uji disolusi
secara in vitrodipakai dan dikembangkan secara luas, dan secara tidak langsung
dipakai untuk mengukur bioavabilitas obat, terutama pada penentuan pendahuluan
dari faktor-faktor formulasi dan berbagai metoda pembuatan yang tampaknya
akan mempengaruhi bioavaibilitas. Seperti pada setiap uji in vitro, sangat penting
untuk menghubungkan uji disolusi dengan tes bioavaibilitas in vitro. Ada dua
sasaran dalam mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk menunjukkan :
1. Penglepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100%
2. Laju penglepasan obat seragam pada setiap batch dan harus sama dengan
laju penglepasan dari batch yang telah dibuktikan bioavaibilitas dan efektif
secara klinis (Shargel, 1988).
5

Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan


zat aktif dari satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu
diketahui sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat
berharga tentang konsistensi dari “batch” satu ke “batch” lainnya. Tes disolusi ini
didesain untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang ada di
dalam suatu sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat diulangi
(Yudhapraja, 2013).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari
kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada
zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh terhadap
kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika disolusi makin
cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat aktif dari sediaan padat (tablet, kapsul,
serbuk, seppositoria), sediaan system terdispersi (suspensi dan emulsi), atau
sediaan-sediaan semisolid (salep,krim,pasta) mengalami disolusi dalam
media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam sirkulasi
sistemik (Yudhapraja, 2013).
Kecepatan disolusi dalam berbagai keadaan dapat menjadi tahap
pembatasan kecepatan zat aktif ke dalam cairan tubuh. Apabila zat padat ada
dalam saluran cerna, mama terdapat dua kemungkinan tahap pembatasan
kecepatan zat aktif tersebut, yaitu : (Martin, 2008)
1. Zat aktif mula-mula harus larut.
2. Zat aktif harus dapat melewati membrane saluran cerna.
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis
yang penting dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis disolusi
telah masuk persyaratan wajib USP untuk persyaratan tablet dan kapsul, sejak
tahun 1960. Berbagai studi telah berhasil dalam korelasi disolusi invivo dengan
disolusi invitro. Namun, disolusi bukan merupakan suatu peramal koefisien terapi,
tetapi disolusi lebih merupakan parameter mutu yang dapat memberikan informasi
berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk (Martin, 2008).
Pengembangan dan penggunaan uji disolusi invitro untuk mengevaluasi
dan menggambarkan disolusi dan absorbsi invitro bertujuan : (Martin, 2008)
a. Untuk mengetahui kepentingan bahwa sifat-sifat fisikokimia yang ada
6

dalam model disolusi dapat berarti atau berpengaruh dalam proses invivo
apabila dikembangkan suatu model yang berhasil meniru situasi invivo
b. Untuk menyaring zat aktif penting dikaitkan dengan formulasinya dengan sifat
disolusi dan absorbsinya sesuai.
c. Sistem uji disolusi invitro dapat digunakan sebagai prosedur pengendalian
mutu untuk produk akhir.
d. Menjamin kesetaraan hayati (bioekivalen) dari batch yang berbeda dari bentuk
sediaan solid apabila korelasi antara sifat disolusi dan ketersdiaan hayati telah
ditetapkan.
e. Metode yang baik sekali dan handal untuk memantau proses formulasi dan
manufaktur.
f. Penetapan kecepatan disolusi intrinsik berguna untuk mengetahui sifat disolusi
zat aktif yang baru.
g. Agar sistem disolusi invitro bernilai maka system harus meniru secara dekat
system invivo sampai tingkat invitro-invivo yang konsisten tercapai. Oleh
karena itu keuntungan dalam biaya, tenaga kerja, kemudahan dapat diberikan
dengan penggunaan sistem.
Sebelum melakukan uji bioavaibilitas, dilakukan uji disolusi terbanding, yaitu
dengan memakai beberapa titik waktu pengambilan sampel. Pada uji ini,
yang dibandingkan adalah profil disolusi dari sediaan uji dengan sediaan
pembanding (produk inovator) pada 3 pH, yaitu 1,2; 4,5; 6,8 pada waktu
pengambilan sampel, yaitu 10,20,30,40,50, dan 60 menit. Dari hasil uji kemudian
dihitung faktor similaritasnya (f2).
f2=50 log [100/√1+(Σ (Rt – Tt)2)/n]
Apabila nilai f2 50 atau lebih besar (50-100), hal ini menunjukkan bahwa
terdapat kesamaan atau ekivalensi ke-2 kurva yang berarti mempunyai kemiripan
profil disolusi kedua produk.
Jika produk copy atau produk pembanding memiliki uji disolusi yang
cepat (≥85%) larut dalam waktu ≤15 menit dalam ke-3 media dengan metode uji
yang dianjurkan, maka uji disolusi terbanding tidak perlu dilakukan.
7

Kriteria obat pembanding:


1. Produk obat inovator
2. Primary market di negara lain atau
3. Market leader di Indonesia
Produk pembanding yang digunakan harus mendapatkan persetujuan dari
BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

1.4 Alat dan Bahan


1.4.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Gelas kimia, Thermometer, Vial , Syringe, Kuvet , Bakteri filter,
Spektrofotometri uv-vis
1.4.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Dapar HCl 0,1 N, Tablet parasetamol dari beberapa merk (innovator :
pandol, obat uji: fasidol dan parasetamol).

1.5 Prosedur
1.5.1 Pembuatan Kurva Baku Paracetamol
Larutan Induk dibuat dari parasetamol 500 mg dengan melarutkan
serbuk standar parasetamol dalam etanol. Kemudian ditambahkan aquadest
hingga 100 ml. dari larutan induk tersebuut dibuat pengenceran menjadi 5
ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm dan 30 ppm. Kemudian diukur
absorbansi menggunakan spekrofotomete UV-Vis dengan panjang
gelombang 249 nm.
1.5.2 Uji Disolusi
Alat dan bahan disiapkan sesuai kebutuhan, kemudian membuat
medium larutan dapar pH asetat sebanyak 900 ml. Alat disolusi disiapkan
dan medium dimasukkan kedalam labu sebanyak 500 ml, dipastikan
waterbath dalam alat disolusi telah mencapai suhu 37o ± 0,5oC. Dayung
dipasang dan dimasukkan tablet kedalam labu kemudian dayung diputar
dengan kecepatan 50 rpm. Pengujian dilakukan dengan masing-masing
8

medium disolusi dengan selang waktu 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. Setiap
sampel yang diambil lalu digantikan dengan medium disolusi sebanyak 5
ml. kemudian cuplikan sampel yang diperoleh diukur absorbansinya dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
1.5.3 Pembuatan dapar HCL 0,1 N
Pertama diambil HCL 12 N sebanyak 58,3 mL lalu dimasukan dalam
akuadest 94,7 mL kemudian ad sampai 7000 mL, di dapatkan dapar HCL
0,1 N.

1.5.4 Evaluasi Data


Dibuat grafik hubungan jumlah obat yan terdisolusi terhadap fungsi
waktu. Kemudian hasil dihitung kadar larutan sample yang diambil dan
interpolasikan data kedalam persamaan faktor similaritas (f2) fan faktor
perbedaan (f1)
1.6 Data Pengamatan
1.6.1 Pembuatan Kurva Baku
Tabel 1.1 Hasil Pengukuran Paracetamol 100 ppm
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
5 0.371
10 0.573
15 0.838
20 1.133
25 1.352
30 1.622

Kurva Baku Paracetamol


2 y = 0.0508x + 0.0927
R² = 0.9979
Absorbansi

1.5
1
Abs
0.5
Linear (Abs)
0
0 10 20 30 40

Konsentrasi (ppm)

Gambar 1.1 Hasil Kurva Baku Parasetamol


9

1.6.2 Penentuan Persen Terdisolusi


Tabel 1.2 Data Pengamatan Uji Disolusi Panadol (Reference) dalam
berbagai media disolusi
% Terdisolusi Panadol
Waktu
(Menit) Dapar Dapar Fosfat Dapar Fosfat Dapar HCL Dapar HCL
Asetat pH 5 pH 6,8 pH 7,2 0,1 N 1,2 N
0 0.078 0.07 0.154 22.97 0.30
1 0.390 2.61 1.347 25.94 45.00
2 0.491 14.04 4.831 29.08 80.63
3 0.729 26.73 5.089 33.16 86.63
4 0.936 43.41 5.092 56.07 88.50
5 1.431 63.51 5.192 88.73 95.26
10 1.870 74.74 5.171 94.35 120.01
15 1.987 79.79 5.150 94.23 121.13
20 1.971 93.09 5.222 94.58 123.38
25 1.880 89.75 5.117 95.65 125.26
30 1.939 81.21 5.196 96.72 187.89
35 5.221 124.88
40 5.211 141.76
45 5.191 136.88

Uji disolusi Panadol diberbagai


macam media
200.00
180.00
% Terdisolusi

160.00
140.00 HCl 0.1 N
120.00
100.00 HCl pH 1.2
80.00
60.00 ASETAT pH5
40.00
20.00 FOSFAT pH6.8
0.00 FOSFAT 6.8
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Waktu (menit)

Gambar 1.2 Grafik Uji Disolusi Panadol Dalam Berbagai Macam


Media
10

Tabel 1.3 Data Pengamatan Uji Disolusi Panadol (Reference) dengan


Fasidol dan Parasetamol generik (Test) dalam medium disolusi dapar HCL
0,1 N

Panadol Fasidol Parasetamol generik


Waktu
Konsentrasi % Konsentrasi % Konsentrasi %
(Menit)
(ppm) Terdisolusi (ppm) Terdisolusi (ppm) Terdisolusi
0 126.89 22.97 340.55 0.62 120.19 21.76
1 142.63 25.94 119.40 21.62 138.70 25.23
2 159.173 29.08 214.68 38.98 165.47 29.95
3 180.827 33.16 237.40 4.63 182.40 33.01
4 306.417 56.07 457.87 8.65 213.11 38.57
5 485.157 88.73 56.811 10.69 237.91 43.06
10 513.504 94.35 430.41 78.37 278.07 50.33
15 520.591 94.23 438.28 79.33 298.93 54.11
20 522.559 94.58 466.83 84.50 308.38 55.82
25 528.465 95.65 459.94 83.25 323.74 58.60
30 534.37 96.72 456.98 82.71 331.22 59.95

Kurva Baku Uji disolusi terbanding


Panadol dengan Fasidol
120.00
% Terdisolusi

100.00
80.00 PANADOL
60.00
FASIDOL
40.00
20.00
0.00
0 10 20 30 40
Waktu (menit)

Gambar 1.3 Grafik Hasil Uji Disolusi Terbanding Panadol Dengan Fasidol
11

Kurva Baku Uji disolusi terbanding


Panadol dengan Paracetamol
120.00

% Terdisolusi
100.00
80.00
60.00 PANADOL
40.00
20.00 PARASETAMOL
GENERIK
0.00
0 10 20 30 40
Waktu (menit)

Gambar 1.4 Grafik Hasil Uji Disolusi Terbanding Panadol


Dengan Parasetamol Generik

1.7 Pembahasan
Pada praktikum biofarmasi dan farmakokinetika kali ini dilakukan uji
disolusi secara in vitro dengan metode disolusi terbanding untuk menganalisis
bioekivalensi (BE). Uji disolusi terbanding suatu metode pengujian yang dapat
digunakan untuk memastikan ekivalensi dan sifat-sifat produk obat. Uji disolusi
terbanding juga suatu uji bioekivalen secara in vitro karena hasil uji disolusi
berkolerasi dengan ketersediaan hayati obat dalam tubuh, sehingga dengan begitu
kesetaraan sifat dan kerja obat di dalam tubuh suatu obat “copy” dibandingkan
dengan obat innovator sebagai pembanding dapat terlihat. Pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui profil disolusi antara produk innovator dan produk pembanding
dengan menganalisis bioekivalensinya. Uji disolusi terbanding juga dapat
digunakan untuk memastikan kemiripan kualitas dan sifat-sifat produk obat
dengan perubahan minor dalam formulasi atau pembuatan setelah izin pemasaran
obat.
Pada praktikum ini digunakan sampel tablet generic yaitu (paracetamol dan
fasidol) dan produk innovator (panadol) yang berisi parasetamol 500 mg sebagai
produk innovator karena merupakan suatu produk obat paten. Produk Inovator
yang dimaksud adalah obat yang pertama kali dikembangkan dan berhasil muncul
di pasaran dengan melalui serangkaian pengujian, termasuk pengujian
bioavailabilitas atau bioekivalensi.
12

Percobaan ini dilakukan berdasarkan uji disolusi terbanding, yaitu mengukur


% disolusi masing-masing obat tersebutdalam beberapa medium yaitu dapar HCl
pH 1.2, HCl 0,1 N, Asetat pH 4,5 Fosfat 6.8 dan Fosfat pH 6.8 . Sehingga
diperoleh nilai faktor perbedaan dan faktor similaritas masing-masing merk
dagang terhadap Panadol sebagai inovator dari Paracetamol. Tujuan dari
praktikum ini untuk mempelajari perbedaan profil disolusi dari masing-masing
produk.
Sebelum melakukan uji disolusi ini, dilakukan pembuatan larutan baku
parasetamol untuk membuat kurva baku yang akan digunakan untuk
membandingkan sampel dengan inovator. Pembuatan larutan baku dilakukan
dengan cara dilarutkan terlebih dahulu parasetamol dengan dapar HCL 0,1 N
hingga larut, karena sulit larut dalam air sehingga bisa digunakan larutan dapar
HCL yang telah dibuat, Selanjutnya dibuat kurva baku dan dengan konsentrasi
parasetamol 100 ppm yang diencerkan menjadi 5, 10, 15, 20, 25, 30 ppm pada
panjang gelombang 230 nm. Dari kurva baku diperoleh persamaan linear
y=0,0508x + 0,0927 Setelah itu, didapat regresi dengan nilai 0,9979. Persamaan
ini digunakan untuk menghitung konsentrasi sample, sehingga diperoleh persen
disolusi dari masing-masing sampel. dimana jika nilai R yang diperoleh dari kurva
baku mendekati 1,00 yang menunujukan garis lurus linear pada rentang
konsentrasi yang dibuat.
Selanjutnya dilakukan uji disolusi suhu media dipertahankan dengan suhu
yang diatur 37±0,50C, dengan tujuan agar sesuai dengan suhu fisiologis suhu
tubuh manusia. Hal ini sebagai pembanding jika obat tersebut berada dalam tubuh
manusia. Dalam uji disolusi alat yang digunakan adalah alat disolusi tipe 2 (tipe
dayung) karena sampel yang akan digunakan adalah tablet pada alat disolusi tipe 2
(tipe dayung) Jarak 25mm ± 2mm antara daun dan bagian dalam dasar wadah
dipertahankan selama pengujian berlangsung. Pengujian disolusi dilakukan
selama 30 menit dengan rentang waktu pada menit ke-0, 1, 2, 3, 4, 5, 10, 15, 20,
25, 30 untuk mengetahui kadar obat yang terdisolusi didalam medium disolusi.
Dari hasil pengambilan media pada tiap waktu yang ditentukan kemudian dicek
absorbansi dan dilakukan perhitungan untuk mendapatkan hasil % terdisolusi dari
obat yang diujikan.
13

Selanjutnya untuk menguji disolusi suatu obat diperlukan beberapa media


untuk perbandingan antara media yang digunakan yaitu dapar HCl pH 1.2, HCl
0,1 N, Asetat pH 4,5 Fosfat 6.8 dan Fosfat pH 6.8 pengujian ini bertujuan untuk
mengetahui pada medium mana obat inovator akan terdisolusi dengan baik. obat
inovator hasil persen terdisolusi dari masing-masing media tersebut yang sesuai
dengan berdasarkan nilai Q30 yaitu medium HCl 0,1 N dan HCl pH 1.2 hal
tersebut dilihat profil disolusinya dari medium HCl 0,1 N sebesar 96.72% dan
HCl pH 1.2 sebesar 187.89% hasil tersebut memenuhi persyaratan nilai Q30
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995) dalam waktu 30 menit obat harus
larut tidak kurang 80% dari jumlah yang tertera dalam etiket. Sehingga bila
dibandingkan dengan hasil % disolusi dapar fosfat 6.8, fosfat pH 6.8 dan asetat
pH 5 hasil disolusinya kurang dari 80% pada menit ke-30 hal ini dapat disebabkan
karena pH pada media tersebut berbeda. pH pada media dapar HCl sama dengan
pH lambung yaitu bersifat asam sehingga obat akan mudah terdesintegrasi.
Sedangkan ketika dilakukan pengujian pada media basa mengalami perubahan
profil disolusi yang kurang baik.
Kemudian dari hasil uji disolusi terbanding diperoleh hasil obat generik
yang mempunyai similaritas dengan obat inovator panadol yaitu fasidol. Hal
tersebut dilihat dari grafik profil disolusi yang memiliki pola yang mirip dan %
terdisolusinya yang hampir sama dengan grafik profil disolusi dan % terdisolusi
panadol. Sedangkan grafik disolusi dan % disolusi paracetamol generik sangat
jauh dengan grafik disolusi panadol. Profil disolusi tersebut khas untuk pola profil
disolusi produk tablet immediate release. Pada menit awal jumlah obat yang
terdisolusi naik dengan cepat karena tablet mengalami disintegrasi yang diikuti
dengan disolusi. Selanjutnya terjadi peningkatan perlahan lahan karena obat yang
belum terdisolusi tinggal sedikit. Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa
factor antara lain suhu,kecepatan perputaran, factor alat dan kondisi lingkungan
pada disolusi terbanding. Dan perbedaan profil disolusi antar produk disebabkan
karena adanya perbedaan bahan tambahan yang digunakan, sumber bahan aktif
yang berbeda, proses produksi yang berbeda dari masing-masing pabrik.
Pengecualian terjadi pada produk fasidol yang memiliki profil disolusi yang
hampir sama. Oleh sebab itu sifat akhir suatu sediaan seperti ketersediaan hayati
14

dan stabilitasnya sangat bergantung pada eksipien yang dipilih dan dipakai dan
interaksinya dengan zat aktif atau sesama eksipien.

1.8 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan hasil uji disolusi
panadol dalam beberapa media yang sesuai dengan berdasarkan nilai Q30 yaitu
medium HCl 0,1 N dan HCl pH 1.2 dan hasil uji disolusi terbanding dari hasil
obat generik yang mempunyai similaritas sama dengan obat inovator Panadol
yaitu Fasidol.
15

1.9 Daftar Pustaka


Allen, L. V. Jr., Popovich,N.G., and Ansel, H.C., 2005, Ansel’s
Pharmaceutical Dosage From and Drug Delivery System, Eight
Edition, Lippincot Williams and Wilkins, Philadelphia, 154-162,
238-239.

Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Diterjemahkan oleh


Farida Ibrahim, Edisi IV, Jakarta : Universitas Indonesia Press

BPOM, 2004, Pedoman Uji Bioekivalensi, available at www. Pom.go.id/


publik/ hukum_perundangan/pdf/HK.0005.3.1 818.pdf, BPOM RI,
Jakarta.

Shargel, l., AND Kanfer, I., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika


Terapan. Edisi Kedua. Surabaya : Airlangga University Press

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-obat Penting. Jakarta :
PT. Elex Media Komputindo

Martin, A., et all., 2008. “Farmasi Fisika:. Edisi II, Bagian II, Penerbit UI
Jakarta, 827.

Yudhapraja, Ervan. 2013. Pengaruh pH Dapar Fosfat Terhadap Laju


Disolusi Sediaan Parasetamol Tablet 500 mg. Karya Tulis Ilmiah.
Sidoarjo: Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri
16

1.10 Lampiran
Rumus Perhitungan Persen (%) Terdisolusi

Mg Terdisolusi = ppm x Media Disolusi (ml)


1000 ml

Faktor Koreksi = ppm x Sampling (ml)


1000 ml

Mg Terkoreksi = mg Terdisolusi x FK (sebelumnya/keseluruhan)

mg Terkoreksi
% Terdisolusi = x 100 %
Bobot Zat Aktif (Sampel)

1.11 Rincian Distribusi Kerja


Distribusi Kerja Nama
Tujuan,Prinsip, Alat dan Bahan Aditya Yusuf
Teori Alma Rahmalia , Jenisa
Prosedur Fitri Nuraini
Pembahasan dan Kesimpulan Alma Rahmalia, Jenisa
Editor Alma Rahmalia