Anda di halaman 1dari 20

RESPIRASI

Rory Sera Ayudya (135080500111040)

ABSTRAK

Setiap organisme memiliki organ respirasi yang berbeda-beda yang berkembang


untuk pertukaran gas. Repirasi merupakan proses pengikatan O2 dan pelepasan CO2. Ikan
bernafas membutuhkan O2 untuk membuat energi dan mengeluarkan CO2 sebagai proses
ekspirasi. Pada praktikum tentang respirasi, metode yang digunakan yaitu dengan
menggunakan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang diamati dalam toples yang diberi perlakuan
suhu yang berbeda kemudian toples ditutup dan pengamatan yang dilakukan adalah dengan
menghitung bukaan operculum ikan serta jumlah DO. Berkurangnya jumlah DO
menunjukkan bahwa ikan mengkonsumsi O2 untuk berespirasi dan semakin sedikit Oksigen
yang terlarut maka sistem fisiologi berubah dan bukaan operculum melemah.
Kata Kunci : Respirasi, O2, CO2, Oksigen Terlarut

Abstract
Eachorganismhas a respiratory organ varying growing for gas exchange. Respirationis the process
of binding of O2 and CO2 release. Fish breathe requires O2 to create energy and emit CO 2as
theexpirationprocess. In the lab of respiration, the method usedis by using Tilapia(Oreochromis niloticus) were
observed in the treated jars of different temperatures and then the jar is closed and the observations madeis to
calculate the fish operculum openings and the number of dropouts. Decreasing the number of DO indicates
that the fish consume O2 to respiring and the less dissolved oxygen it turns physiological systems and weakens
the operculum openings.
Keywords: respiration, O2, CO2, DissolvedOxygen
1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hewan air uniseluler tidak memiliki sistem respiratori dan mereka

melakukan pengambilan gas dari lingkungannya denga cara difusi melalui

permukaan tubuhnya. Tetapi kebanyakan hewan multiseluler membutuhkan

organ-organ respiratori yang khusus dan mereka memiliki sistem respiratori yang

berkembang baik yang dipergunakan utuk pengambilan serta pengeluaran gas.

Namun demikian ada beberapa hewan air yang disamping menggunakan insang

utuk keperluan pertukaran gas, mereka juga masih menggunakan permukaan

tubuhnya untuk pengambilangas (Yuwono dan Sukardi, 2001).

Insang adalah organ pernapasan utama dan semua jalur metabolisme

tergantung pada efisiensi insang energi untuk mereka pasokan dan kerusakan

pada organ vital ini menyebabkan rantai merusak peristiwa, yang akhirnya

menyebabkan kesulitan pernapasan (Magare dan Patil, 2000 dalam Patil dan

David, 2008).

Mekanisme pernafasan pada ikan melalui dua tahap yakni inspirasi dan

ekspirasi. Pada fase inspirasi O2 dan air masuk kedalam insang melalui O2 diikat

oleh kapiler darah untuk dibawa oleh darah dan jaringan akan bermuara ke

insang dan dari insang di eksresikan keluar (Yudiarti et al., 2004)

Ikan yang bernafas dan memerlukan O2 bagi tubuhnya untuk kelansungan

hidupnya. Ikan juga melakukan respirasi, mengambil oksigen dari lingkungannya.

Insang merupakan organ respirasi utama. Oksigen yang diperoleh dari proses

respirasi dialirkan dalam darah dan dialirkan keseluruh tubuh.


1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas didapat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana proses respirasi.

2. Bagaimana pengaruh respirasi pada ikan.

3. Bagaimana oksigen bisa masuk dalam air.

4. Bagaimana pengaruh keonsumsi oksigen pada respirasi ikan demersal

dan ikan pelagis.

5. Bagaimana pengaruh suhu dengan tingkat respirasi.

1.3. Tujuan

Tujuan dari praktikum Fisiolgi Hewan Air adalah mengetahui sampai mana

batas toleransi dalam mengkonsumsi oksigen yang digunakan untuk respirasi

melalui insang.

1.4. Waktu dan Tempat

Praktikum Fisiologi Hewan Air dengan materi Respirasi dilaksanakan pada

hari Sabtu, tanggal 27 September 2014 di Laboratorium Biologi dan Reproduksi

Ikan, Gedung D Lantai 1, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas

Brawijaya, Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Respirasi

Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasukkan oksigen ke

dalam tubuh serta membuang CO2 dari dalam tubuh. Penyelenggaraan respirasi

harus didukung oleh alat pernafasan yang sesuai, yaitu alat yang digunakan oleh

hewan untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya. Alat yang

dimaksud dapat berupa alat pernafasan khusus ataupun tidak (Isneni, 2006).

Proses respirasi dimana oksigen membutuhkan untuk pembakaran bahan

organik sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan CO 2 dan

H2O, oksigen sebagai bahan pernafasan dibuthkan oleh sel untuk berbagai

reaksi metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan ditentukan oleh

kemampuan memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungan (Kantun, 2006).

2.2. Faktor Respirasi

2.2.1 Faktor Internal

Respirasipadaikan berhubungan dengan luas permukaan organ respirasi

darah, dan kemampuan dari organisme untuk mendeteksi pengurangan oksigen

pada lingkungan dan upaya penyesuaian fisiologis untuk

mengimbangikekuranganoksigen (Mattians et al.,1998 dalam Ratningsih, 2008).

Menurut Effendie (2000) dalam Silaban et al. (2012), faktor internal

merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan ikan itu sendiri dan sulit

untuk dikontrol seperti umur dan sifat genetik ikan yang meliputi keturunan, jenis

kelamin, kemampuan memanfaatkan makanan dan ketahanan terhadap

penyakit. Faktor eksternal merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan

tempat hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air, ruang gerak,

ketersediaan nutrient dan penyakit.


2.2.2 Faktor Eksternal

Menurut Effendie (2000) dalam Silaban et al. (2012), menjelaskan bahwa

faktor eksternal merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat

hidup ikan yang meliputi sifat fisika dan kimia air, ruang gerak, ketersediaan

nutrien dan penyakit. Faktor eksternal yang mempengaruhi dalam pertumbuhan

yaitu padat tebar, penyakit, serta kualitas air (sifat fisika dan kimia) dari suatu

linkungan perairan. Dengan demikian kelangsungan hidup ikan dapat bervariasi.

Pengaruh oksigen terlarut terhadap fisiologis organisme air terutama

adalah dalam proses respirasi berbeda dengan faktor temperatur yang

mempunyai pengatur yang merata terhadap fisiologis semua organisme air,

konsentrasi yang memang mutlak membutuhkan oksigen terlarut untuk

respirasinya (Barus, 2002).

2.3 Sumber Oksigen di Perairan

Sumber utama oksigen dalam air laut adalah udara melalui proses difusi

dan dari proses fotosintesis fitoplankton. Oksigen terlarut dalam laut

dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zat-zat

organic oleh mikroorganisme (Simanjuntak dan Yusuf, 2012).

Parameter kimia oseanografi lainnya yang berperan penting dalam proses

dan perkembangan hidup organisme adalah oksigen terlarut. Sumber utama

oksigen dalam air laut adalah dari udara melalui proses difusi dari hasil proses

fotosintesis fitoplankton. Meskipun tidak ada perbedaan nyata antara kandungan

oksigen di permukaan dengan dasar, tetapi distribusinya menunjukkan lapisan di

dasar cenderung memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah dibandingkan

dengan di permukaan. Hal ini diduga karena lebih tingginya proses dekomposisi

bahanorganik di lapisan dasar yang membutuhkan oksigen. Oksigen berfungsi


sebagai senyawa pengoksidasi dalam dekomposisi material organik (regenerasi)

yang menghasilkan zat hara (Ulqodry et al., 2010).

2.4 Pengaruh Suhu dengan Tingkat Respirasi

Menurut Prasenoet al. (2010), suhu mempengaruhi aktivitas ikan, seperti

pernafasan, pertumbuhan, dan reproduksi. Kecepatan difusi oksigen tergantung

dari udara, tergantung dari beberapa factor, seperti kekeruhan, suhu, salinitas,

pergerakan massa air, dan udara.

Suhu tinggi lebih meningkatkan laju respirasi karena jaringan memerlukan

lebih banyak oksigen pada suhu tersebut dibandingkan pada suhu rendah.

Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara

melalui kontak antara permukaan air dengan udara,dan dari proses fotosintesis.

Selanjutnya air kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke

atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dan semua organisme air (Barus, 2002).

2.5 Perbedaan Pengambilan Oksigen Ikan Demersal dan Ikan Pelagis

Gurame termasuk ikan yang tahan terhadap kekurangan oksigen karena

gurame mampu mengambil oksigen dari udara bebas. konsumsi oksigen juvenile

gurame bahwa semakin tinggi nilai salinitas maka semakin tinggi juga konsumsi

oksigen juvenile gurame. Sehingga kenaikan nilai salinitas berbanding lurus

dengan kenaikan. konsumsi oksigen juvenile gurame. Setelah diperoleh nilai

konsumsi oksigen juvenile gurame, maka di lanjutkan untuk menghitung nilai laju

konsumsi oksigen juvenile gurame. gurame dapat beradaptasi dengan baik di

salinitas yang lebih tinggi dari pada salinitas tawar, dari penelitian yang dilakukan

pada juvenile gurami tentang laju konsumsi oksigen pada salinitas yang berbeda

didapat salinitas yang baik dan mempunyai nilai Laju konsumsi oksigennya yaitu

pada salinitas 8‰ dengan nilai Laju Konsumsi Oksigen 0,3298 mgO2/g/h

(Yurisma et al., 2013).


Wunder (1936) dalam Nikolsky (1963) dalam Rahardjo et al, (2011)

mengelompokkan ikan dalam empat kelompok berdasarkan jumlah oksigen

terlarut yang dibutuhkan ikan untuk bernapas secara normal sebagai berikut:

1. Ikan-ikan yang membutuhkan oksigen perairan yang tinggi. Kondisi yang

normalbagi ikan ialah 7-11cc oksigen per liter, dan pada kadar oksigen 5cc

per liter beberapa diantara ikan tersebut mulai menderita. Ikan yang termasuk

golongan ini antara lain trout (Salmo trutta), minnow (Phoxinus phoxinus),

loach (Nemachilus barbatulus), dan bullhead (Cottus gobio).

2. Ikan-ikan yang membutuhkan sejumlah besar oksigen tetapi dapat hidup

pada kadar oksigen 5-7cc per liter. Kelompok ini termasuk grayling

(Thymollus thymollus), chub (Leuciscus cephalus), dan gudgeon (Gobio

gobio).

3. Ikan-ikan yang membutuhkan oksigen relative sedikit dan dapat hidup pada

kadar oksigen 4cc per liter, misalnya roach (Rutilus rutilus) dan ruff (Acernia

cernua).

4. Ikan-ikan yang dapat hidup pada kondisi kadar oksigennya sangat rendah,

contohnya tench (Tinca tinca).


3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Fungsi Alat

Pada praktikum Fisiologi Hewan Air tentang respirasi adapun alat-alat yang

digunakan adalah sebagai berikut ini:

 Aquarium : Untuk wadah media dari objek yang diamati

 DO meter : Untuk mengukur kadar DO di dalam aquarium

 Termometer : Untuk mengukur suhu air

 Hand Tally Counter : Untuk mengukur jumlah bukaan operculum

 Stopwatch : Untuk mengukur waktu dalam pengamatan

 Nampan : Sebagai alat bantu untuk memindahkan ikan ke

aquarium

 Heater Aquarium : Untuk menaikkan suhu air di dalam aquarium

 Seser : Untuk mengambil ikan dari aquarium

 Washing Botttle : Untuk tempat aquades

3.2 Fungsi Bahan

Pada praktikum Fisiologi Hewan Air tentang respirasi adapun bahan yang

digunakan adalah sebagai berikut:

 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) : Sebagai objek yang diamati proses

respirasinya

 Air tawar dengan salinitas tertentu : Sebagai media hidup ikan

 Plastik : Sebagai penutuppermukaanaquarium saat

pengamatan

 Karet gelang : Sebagai pembantu penutup atau pengikat plastik

di aquarium

 Aquades : Untuk mengkalibrasi DO meter


3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum Fisiologi Hewan Air tentang pengamatan

respirasi langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan

bahan. Adapun alat yang digunakan antara lain heater aquarium, aquarium, DO

meter, stopwatch, hand tally caounter dan seser. Sedangkan bahan yang

digunakan antara lain ikan nila (Oreochromis niloticus), aquades, air tawar,

plastic, dan karet gelang.

Langkah selanjutnya disiapkan aquarium lalu diisi air hingga permukaan

aquarium lalu diisi air hingga permukaan aquarium dengan tujuan untuk

mencegah terjadinya difusi antara udara ke air di dalam aquarium, lalu heater

aquarium dimasukkan kedalam aquarium yang telah diisi air untuk menyesuaikan

suhu sesuai yang diinginkan disesuaikan dengan perlakuan. Selanjutnya

thermometer dimasukkan dlam aquarium dan media air ditunggu sampai pada

suhu yang ditentukan yaitu pada meja 1 suhu 25°C, meja 2 suhu 28°C, meja 3

suhu 30°C, meja 4 suhu 25°C, dan meja 5 suhu 28°C. Perlakuan ini bertujuan

untuk mengetahui batas toleransi ikan dalam mengkonsumsi oksigen untuk

respirasi melalui insang pada suhu yang berbeda. Kemudian diukur DO awal dan

dicatat sebagai DO awal (DO0) dengan menggunakan DO meter yang berfungsi

untuk mengukur kadar oksigen yang terlarut didalam air. Selanjutnya ikan nila

sebanyak 1 ekor dimasukkan kedalam aquarium dengan tujuan agar mengetahui

kecepatan konsumsi oksigen ketika spesies ikan banayk maka konsumsi oksigen

akan cepat habis. Ikan nila dimasukkan kedalam aquarium dengan

menggunakan seser untuk mempermudah pengambilan, lalu aquarium ditutup

denag plastic agar tidak mudah menguap dan mencegah masuknya difusi

oksigen dari udara lain. Lalu ditunggu selama 10 menit untuk membiarkan ikan

berespirasi dan lakukan perhitungan buka tutup operculum menggunakan hand

tally counter pada ikan tiap 10 menit diulang tiga kali. Setelah itu dilakukan
perhitungan DO akhir dengan menggunakan DO meter untuk mencari DO akhir

(DOt) dan dicatat hasilnya.

Adapun mekanisme penggunaan DO meter adalah langkah pertama

dikalibrasikan dengan aquades lalu dibersihkan dengan menggunakan tisu,

kemudian dimasukkan ke media (air). Ditekan tombol “ON/OFF” untuk

menghidupkan DO meter lalu ditekan tombol “CAL” ditunggu hingga “READY”

pada layar lalu dilihat dan dicatat angka yang muncul dan tekan tombol

“ON/OFF” untuk mematikan DO meter.


4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Hasil

Pada praktikum Fisiologi Hewan Air materi Respirasi didapatkan hasil pada

meja 1 pada suhu 25°C didapatkan DOo (awal) sebesar 7,37 mg/l dan Dot (akhir)

didapat nilai sebesar 3,30 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa oksigen yang

dikonsumsiikan selama 30 menit dan menjelaskan sedikit kandungan oksigen

pada akuarium dengan selisih 4,07 mg/l. Dari praktikum respirasi pada

pengamatan DO diperoleh hasil DOo (awal) pada meja 1 sampai meja 5 berturut-

turut 7,73; 7,51; 7,33; 7,4; 7,15 gram dan DOt (akhir) diperoleh hasil dari meja 1

sampai meja 5 berturut-turut 3,3; 2,27; 2,62; 3,7; 3,37. Dengan suhu berturut-

turut dari meja 1 sampai meja 5 yaitu 25°C; 27°C; 30°C; 25°C; 27°C.

Dibandingkan dengan hasil yang diperoleh meja 1 dengan suhu 25°C

didapatkan hasil DOo (awal) sebesar 7,37 mg/l dan DOt (akhir) didapatkan nilai

sebesar 3,30 mg/l . Hal ini menunjukkan bahwa oksigen yang dikonsumsi ikan

selama 30 menit dihitung selama 3 kali dan mendapatkan selisih kadar oksigen

yang digunakan ikan sebanyak 4 ekor yaitu mendapatkan selisih 4,07 mg/l.

Dari data yang diperoleh menandakan bahwa pada suhu yang lebih dingin

ikan cenderung tidak membutuhkan banyak oksigen sebab ikan tersebut tidak

banyak melakukan gerak, dan pada pengamatan suhu yang tinggi (27°C) DO

mengalami penurunan secara drastis karena kondisi lingkungan yang panas

akan mengalami pergerakan yang banyak sehingga membutuhkan oksigen yang

banyak pula.

Menurut Tantarpale et al. (2012), penelitian ini dilakukan antara

mengetahui dampak suhu yang berbeda (35°C dan 15°C) pada ikan air tawar.

Perubahan suhu yang diamati pada bukaan operculum dan peningkatan

pernapasan menunjukkan tren, sedangkan gerakan operculum rata-rata permenit


dibawah suhu karena karena menunjukkan penurunan dibandingkan dengan nilai

suhu normal. Pada suhu 35°C, tingkat pernafasan meningkat dibandingkan

dengan nilai normal sementara pada suhu 15°C tingkat pernafasan menurun.

Pada pengamatan suhu yang paling tinggi DO mengalami penurunan

secara drastic karena kondisi lingkungan yang panas sehingga membutuhkan

okigen (O2) yang banyak. Sesuai dengan pendapat Efendie (2003) dalam Amrial

(2009), suhu yang tinggi akan menurunkan jumlah kadar oksigen terlarut dalam

perairan, demikian sebaliknya suhu yang lebih dingin akan menurunkan

kecepatan metabolism dan respirasi organism sehingga konsumsi lebih stabil.

Jadi dapat disimpulkan bahwa suhu ini sangat berpengaruh terhadap

oksigen yang terlarut karena pada metabolisme berbanding lurus dengan suhu

dan berbanding terbalik dengan DO.


4.2 Analisis Grafik

12
9.83
9.53 9.56 9.54
10
8.33 8.63
7.96
8 7.55
7.15
6.63
6.62 6.68 25°C
6.05 5.75 5.6
6 28°C
4.5 4.32
3.78 30°C
4 3.11
2.47 25°C2
2 28°C2

0
DO 0 DO 1 DO 2 DO 3
GRAFIK DO

Dari grafik di atas dapat dianalisa bahwa dari pengamatan DO dengan

DO awal tertinggi pada meja 2 dengan suhu 28ºC sebesar 9,83 mg/l dan DO

awal terendah pada meja 4 dengan suhu 25ºC sebesar 8,33 mg/l. Pada DO 1

tertinggi diperoleh meja 1 dengan suhu 25ºC sebesar 8,63 mg/l dan DO1

terendah oleh meja 5 dengan suhu 28ºC sebesar 6,63 mg/l. Pada DO2 tertinggi

diperoleh meja 1 dengan suhu 25ºC sebesar 7,15 mg/l dan DO2 terendah

diperoleh meja 5 dengan suhu 28ºC sebesar 3,78 mg/l. Pada DO akhir tertinggi

diperoleh meja 1 dengan suhu 25ºC sebesar 5,75 mg/l dan DO akhir terendah

dengan suhu 25ºC sebesar 2,47 mg/l.

Kesimpulan yang diperoleh dari data di atas adalah pada meja dengan

suhu yang tinggi maka DO yang tersedia akan berkurang jauh dibandingkan

dengan suhu yang relatif rendah. Sehingga, suhu di perairan mempengaruhi

jumlah DO di perairan tersebut. Jika suhu tinggi, maka tinggi pula metabolism

dari setiap organisme dan konsumsi oksigen yang dibutuhkan pun tentu akan

meningkat.
4.3 Faktor Koreksi

Adapun faktor koreksi yang ada pada praktikum Fisiologi Hewan Air

tentang respirasi adalah:

 Masih banyak jumlah ikan yang tersisa.

 Kurang akuratnya hasil perhitungan DO dan bukaan operculum.

 Ada masalah dalam menaikkan suhu air pada akuarium menggunakan

heater.

 Ada heater yang pecah akibat salah perlakuan.

 Kabel roll yang terkena air sehingga membahayakan asisten dan

praktikan.

4.4 Manfaat di Bidang Perikanan

Dari praktikum Fisiologi Hewan Air tentang respirasi didapatkan manfaat

sebagai berikut yaitu, kita dapat mengetahui kebutuhan oksigen bagi setiapikan

yang nantinya dibudidayakan, karena berhubungan dengan laju pertumbuhan

ikan. Selain itu, kita dapat mengetahui pengaruh kepadatan ikan terhadap

konsumsi oksigen.
5. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Pada praktikum Fisiologi Hewan Air tentang respirasi dapatkan kesimpulan

sebagai berikut:

 Respirasi adalah proses pengikatan O2 dan pelepasan CO2.

 Respirasi digolongkan menjadi 2 aerob dan anaerob. Aerob merupakan

respirasi yang membutuhkan oksigen, sedangkan respirasi anaerob

merupakan respirasi yang tidak membutuhkan oksigen.

 Faktor yang mempengaruhi respirasi adalah ukuran, aktivitas, kondisi

kesehatan, spesies dll. Sedangkan factor luar yaitu takanan parsial

oksigen dan suhu.

 Suhu tinggi maka DO rendah sehingga bukaan operculum semkain

banyak.

 Jenis-jenis respirasi terbagi menjadi 2 yaitu respirasi inspirasi dan

respirasi ekspirasi

 Data hasil pengamatan respirasi bukaan operculum yang tertinggi

adalah pada meja 4pada ulangan ke 2 dengan suhu 25ºC yaitu 2223

kali bukaan operculum dan yang paling sedikit pada meja 4 pada

ulangan ke 2 dengan suhu 25ºC yaitu 620 kali bukaan operculum.

 Data hasil pengamatan kadar DO paling tinggi adalah pada meja 1

dengan 8,63 ppm, sedangkan kadar DO terendah pada meja 4 dengan

kadar DO 6,62.
5.2 Saran

Saran pada praktikum Fisiologi Hewan Air tentang respirasi adalah

seharusnya pengamatan dilakukan secara teliti apa saja yang terjadi, sehingga

didapatkan hasil yang akurat.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, A., Soemarno dan M. Purnomo. 2013. Kajian Kualitas Air dan Status Mutu Air
Sungai Metro di Kecamatan Sukun Kota Malang. Bumi Lestari. 13 (2): 265-
274.

Amrial, V. 2009. Produksi Ikan Corydoras Corydoras Aenus Pada Padat


Penebaran 8,12 dan 16 ekor/liter dalam Sistem Resirkulasi. Institut
Pertanian Bogor Press: Bogor.

Barus, T. A. 2002. Pengantar Limnologi. USUPress: Medan.

Harbowo, D. L. 2011. Pengaruh Limbah Cair Perawatan Candi Borobudur


Terhadap Fisiologis Ikan Mas. Jurnal Ilmu Kelautan. 2(4): 23-43.

Kantun, Wayan. 2012. Suhu dan Tingkah Laku Ikan Tuna Sirip Kuning
(Tunusenum albacores)Hubungannya dengan Model
Pengelolaan.Stiteks: Ralikaliwa

Miftahuddin, I. 2002. Kelangsungan Hidup Ikan Patin (Pangasius hipotalamus)


yang Diangkut dalam Sistem Terbuka Dengan Ketinggian Air yang
Berbeda.Skripsi. IPB: Bogor.

Navaraj, P.S dan A.K. Kumaraguru,. 2013. Sinergism of Heavy Metals on the
Respiration of Oreochromismossambicus. Annual Research and Review
in Biology. 4(5): 805-816.

Patil, V.K. dan David. 2008. Behavior and Respiratory Dysfunction Asan Index of
Malathion Toxicity in the Freshwater Fish. Labeo Rohita (Hamilton).
Karnatak University Research Laboratory, Enviromental and Molecular
Toxicology Division, Dapartement of Zoology. Karnatak Science College,
Dharwad 580 001. Karnatak: India.

Praseno, O., H. Krettiawan., S. Asih., A. Sudrajat. 2010. Uji Ketahanan Salinitas


Beberapa Strain Ikan Mas yang Dipelihara di Akuarium.Prosiding Forum
Inovasi Teknologi Akuakultur: Jakarta Selatan.

Rahardjo, M. F., Djadja S. S., Ridwan A., dan Sulistiono. 2011. Iktiology.
Bandung: Lubuk Agung.

Ratningsih, N. 2008. Uji Toksisitas Motilitas terhadap Respirasi Ikan mas


(Cyprinus carpio). Jurnal Biotika. 6(1): 22-23.

Silaban, T.S., Limin dan Suparmono. 2012. Dalam Peningkatan Kerja Filter Air
Untuk Menurunkan Konsentrasi Amonia Dan Pemeliharaan Ikan mas
(Cyprinus carpio). Jurnal Rekayasa dan Teknologi BudidayaPerairan.
1(1): 47-56.
Simanjuntak, M. dan Y. Kamlasi. 2012. Sebaran Horizontal Zat Hara di Perairan
Lamalera, Nusa Tenggara Timur. Ilmu Kelautan,17(2): 99-108.

Tantarpale, V. T., S. H. Rathot and S. Kapil. 2012. Temperature Stress on


Opercullar Beats and Respiratory Rate of Freshwater Fish Channa
punctatus. International Journal of Research Publication. 2(2): 1-5.

Ulqodry, T. Z. Yulisman, Syandan. M. dan Santoso. 2010. Karakteristik dan


Sebaran Nitrat, Fosfat, dan Oksigen Terlarut di Perairan Karimun
Jawa, Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sains.13 (1): 35-41.

Yurisma, E.H., Nurlita, A., dan Gunti, M. 2013. Pengaruh Salinitas yang Berbeda
terhadap Laju Konsumsi Oksigen Ikan Gurame (Osphronemous
gouramy) Skala Laburan. Jurnal Sains. 1(1): 1-4.

Yuwano, E. P. S. 2001. Fisiologi Hewan Air. CV Saguseto: Jakarta.


LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja

Toples 3 L

- Diisi air hingga permukaan akuarium


- Dimasukkan termometer ke dalam toples
- Disesuaikan suhu air dengan perlakuan
- Ditunggu media air sampai pada suhu
Perlakuan : 1 = 25ºC
2 = 28ºC
3 = 30ºC
4 = 25ºC
5 = 28ºC
- Diukur dengan DO0 (DO awal) dengan DO meter

3 Ikan Nila

- Dimasukkan dalam toples


- Ditutup toples dengan plastic
- Ditunggu selama 10 menit
- Diukur DO akhir (DOt) dengan DO meter

Hasil
Lampiran 2. Hasil Pengamatan

A. Bukaan Operculum

Meja Ulangan Pengamatan Jumlah Rata-rata


10 menit1 10 menit2 10 menit3 Respirasi
8,63 7,15 5,75
1 2198 732,6
620 690 888
7,55 6,05 4,32
2 4721 1573,6
1220 1658 1843
7,96 6,68 5,60
3 4250 1416,6
1230 1400 1620
6,62 4,50 2,47
4 5373 1791
1300 2223 1850
6,63 3,78 3,11
5 5166 1722
1347 1776 2043

B. Kadar Oksigen Terlarut (DO)

Meja Perlakuan DO0 (Mg/L) DOt (Mg/L) ∆ DO (Mg/L)


Suhu
1 25ºC 9,53 5,75 3,78
2 28ºC 9,83 4,32 5,51
3 30ºC 9,56 5,60 3,96
4 25ºC 8,33 2,47 5,86
5 28ºC 9,54 3,11 6,43