Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

Pembimbing:

dr. Esther Sinswu, Sp.KJ

Disusun oleh:

Fulristami Zaenab

1102014110

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT TK. I BHAYANGKARA RADEN SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 16 APRIL 2018 – 19 MEI 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang
berjudul “Kegawatdaruratan Psikiatri” dengan baik dan tepat waktu.

Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta periode 16 April 2018 – 19 Mei 2018. Di
samping itu, referat ini ditujukan untuk menambah pengetahuan bagi kita semua tentang
gangguan fungsi organik.

Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya


kepada dr. Esther Sinswu, Sp.KJ selaku pembimbing dalam penyusunan referat ini, serta
kepada dokter–dokter pembimbing lain yang telah membimbing penulis selama di
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Bhayangkara TK. I Raden Said Sukanto.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan–rekan anggota Kepaniteraan Ilmu
Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Bhayangkara TK. I Raden Said Sukanto serta berbagai pihak
yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput dari
kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan, kritik maupun saran yang
membangun. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih yang sebesar–besarnya, semoga tugas ini
dapat memberikan tambahan informasi bagi kita semua.

Jakarta, April 2018

Penulis

1
KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI

Kegawatdaruratan psikiatrik adalah suatu keadaan gangguan dan/atau perubahan


tingkah laku, alam pikiran atau alam perasaan yang dapat dicegah (preventable) atau dapat
diatasi (treatable) yang membuat pasien sendiri, teman, keluarga, lingkungan, masyarakat atau
petugas profesional merasa perlu meminta pertolongan medik psikiatrik segera, cepat dan tepat,
karena kondisi itu dapat mengancam inegritas fisik pasien, integritas fisik orang lain integritas
psikologik pasien, integritas psikologik keluarga atau lingkungan sosialnya. Sebagai ujung
tombak di lapangan, peran dokter umum sangat penting; dalam hal ini adalah sebagai bagian
dari pelayanan kedaruratan medik yang terintegrasi (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti
Hadisukanto, 2017; Kepuusan Menteri Kesehatan RI Nomer 1627 (2010)).

Berdasarkan Elvira Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto (2017) hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam mempersiapkan tempat pelayanan kedaruratan psikiarik, diantaranya:

1. Keamanan
Terdapat tim yang terpadu yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu. Jumlah staf yang
bertugas harus cukup, terdiri atas psikiater dan/atau dokter umum, perawat, pembantu
perawat, serta idealnya terdapat juga pekerja sosial.
2. Pemisahan ruang secaara spesifik
Anak dan remaja sebaiknya dilayani di ruang terpisah, yaitu di ruang anak dan remaja.
Bila terdapat risiko terjadinya manifestasi perilaku, atau keadaan tidak memungkinkan,
pasien bisa saja dilayani di tempat dewasa, di tempat pertama kali pasien datang. Pasien
dengan tindak kekerasan atau agitatif dipisah dari pasien-pasien non-agitatif. Ruang
isolasi dan fiksasi harus terletak dekat ruang perawat agar dapat dilakukan pengawasan
yang ketat.
3. Akses langsung dan mudah ke tempat ruang gawat darurat medik lainnya serta
pelayanan diagnostik penunjang sangat diperlukan, 5-30% kondisi medik umum
menunjukan manifestasi psikiatrik.
4. Obat-obat psikofarmaka harus lengkap tersedia.
5. Tim yang bertugas harus mempunyai kepakaran yang spesifik dan siap bertindak
segera pada saat yang tepat.
6. Seluruh staf harus mengerti bahwa pasien sedang dalam keadaan distress fisik dan
kondisi emosional yang rapuh. Pengharapan dan fantasinya seringkali tidak realistis dan

2
ini akan mempengaruhi responsnya terhadap terapi. Oleh karena itu, setiap tindakan
yang akan dilakukan perlu didiskusikan, baik dengan pasien maupun keluarga.
7. Sikap, perilaku staf dan pasien, harus dijaga dan dipahami mulai saat pasien masuk
ke dalam ruang gawat darurat. Tindak kekerasan baik dari pasien maupun staf di tempat
pelayanan kedaruratan tidak dapat dibenarkan maupun ditolerir.
Adapun indikasi rawat inap antara lain adalah:
a. Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain,
b. Bila perawatan di rumah tidak memadai, dan
c. Perlu observasi lebih lanjut.

Bagan 1. Tahap Pelayanan Kegawadaruratan Psikiatri

DIRUJUK DARI BAGIAN LAIN DATANG SENDIRI DIANTAR AMBULAN ATAU

IGD/IGD PSIKIATRI

TRIASE/TRIASE PSIKIATRI
Kegawatdaruratan medis
Tanda Vital
Status lama
Rawat jalan Penetapan Status
Evaluasi Psikiatri Kegawadaruratan

Rujuk ke spesialis lain

Evaluasi Medis
Pelayanan sosial

OBSERVASI LEBIH LANJUT

Rawat Inap
Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomer 1627 (2010)

3
EVALUASI
Menurut Elvira Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto (2017) menilai kondisi pasien yang
sedang dalam krisis secara cepat dan tepat adalah tujuan utama dalam melakukan evaluasi
kedaruratan psikiatrik. Tindakan segera yang harus dilakukan secara tepat adalah:
- Menentukan diagnosis awal
- Melakukan identifikasi faktor-faktor presipitasi dan kebutuhan segera pasien
- Memulai terapi atau merujuk pasien ke fasilitas yang sesuai
Dalam proses evaluasi, dilakukan:
1. Wawancara Kedaruratan Psikiatrik
Wawancara dilakukan lebih terstruktur, secara umum fokus wawancara
ditujukan pada keluhan pasien dan alasan dibawa ke unit gawat darurat. Keterangan
tambahan dari pihak pengantar, keluarga, teman atau polisi dapat melengkapi
informasi, terutama pada pasien mutisme, tidak kooperatif, negativistik atau inkoheren.
Hubungan dokter-pasien sangat berpengaruh terhadap informasi yang diberikan.
Karenanya diperlukan kemampuan mendengar, melakukan observasi dan melakukan
interpretasi terhadap apa yang dkatakan ataupun yang tidak dikatakan oleh pasien, dan
ini dilakukan dalam waktu yang cepat.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan psikiatrik standar meliputi: riwayat perjalanan penyakit,
pemeriksaan status mental, pemeriksaan status fisik/neurologik dan jika perlu
pemeriksaan penunjang. Yang pertama dan terpenting yang harus dilakukan oeh
seorang dokter di unit gawat darurat adalah menilai tanda-tanda vital pasien. Tekanan
ddarah, suhu, nadi adalah sesuatu yang mudah diukur dan dapat memberikan informasi
bermakna. Misalnya seorang yang gaduh gelisah dan mengalami halusinasi, demam,
frekuensi nadi 120 per menit dan tekanan darah meningkat, kemungkinan besar
mengalami delirium dibandingkan dengan suatu gangguan psikiatrik.

Pertimbangan Dalam Penegakan Diagnosis Dan Terapi


1. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada beberapa hal
yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan data , misalnya penapisan
toksikologi ( tes urin untuk opioid, amfetamin), pemeriksaan radiologi, EKG dan tes
laboratorium. Data penunjang seperti catatan medik sebelumnya, informasi dari sumber
luar juga dikumpulkan sebelum memulai tindakan.

4
2. Terapi
Pemberian terapi obat atau pengekangan harus mengikuti prinsip terapi Maximum
tranquilization with minimum sedation. Tujuannya adalah untuk:
 Membantu pasien untuk dapat mengendalikan dirinya kembali
 Mengurangi/menghilangkan penderitaannya
 Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat suatu kesimpulan akhir

Obat-obatan yang sering digunakan adalah:


 Low-dose High-potency antipsychotics seperti haloperidol, trifluoperazine,
perphenazine dsb
 Atypical antipsychotics, seperti risperidone, quetiapine, olanzapine.
 Injeksi benzodiazepine. Kombinasi benzodiazepine dan antipsikotik kadang sangat
efektif.

Kasus kedaruratan psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang
memerlukan intervensi terapeutik segera. Berdasarkan Elvira, Sylvia D dan Gitayanti
Hadisukanto (2017). Terdapat beberapa keadaan yang sering dihadapi dokter di fasilitas gawat-
darurat psikiatri antara lain, tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri; Kondisi gaduh gelisah;
Neuroleptic Malignant Syndrome; dan Tindak kekerasan (violence). Di bawah ini akan
dijabarkan penjelasan dari kasus tersebut.

A. Tentamen Suicidum/ Percobaan Bunuh Diri


Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian yang diniatkan dan
dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto,
2017) atau segala perbuatan seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu
singkat (Maramis dan Maramis, 2009). Ada macam-macam pembagian bunuh-diri dan
percobaan bunuh-diri. Pembagian Emile Durkheim masih dapat dipakai karena praktis, yaitu:
1. Bunuh diri egoistik
Individu ini tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh
kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadi individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka
tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dengan

5
mereka yang menikah. Masyarakat daerah pedesaan mempunyai integrasi social yang lebih
baik dari pada daerah perkotaan, sehingga angka suiside juga lebih sedikit.
2. Bunuh diri altruistik
Individu itu terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri
karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa bahwa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya. Contoh: “Hara-kiri: di Jepang, “puputan” di Bali beberapa ratus
tahun yang lalu, dan di beberapa masyarakat primitive yang lain. Suiside macam ini dalam
jaman sekarang jarang terjadi, seperti misalnya seorang kapten yang menolak meninggalkan
kapalnya yang sedang tenggelam.
3. Bunuh diri anomik
Hal ini terjadi bila tedapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dengan
masyarakat, sehingga individu tersebut meningglakan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu itu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak dapat
memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada pengaturan dan pengawasan terhadap
kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini menerangkan mengapa percobaan bunuh diri pada orang
cerai pernikahan lebih banyak dari pada mereka yang tetap dalam pernikahan. Golongan
manusia yang mengalami perubahan ekonomi yang drastis juga lebih mudah melakukan
percobaan bunuh diri.

Helber Hendin mengemukakan beberapa hal psikodinamika bunuh-diri sebagai berikut:


1. Kematian sebagai pelepasan pembalasan (“Death as retaliatory abandonment”).
Suiside dapat merupakan usaha untuk mengurangi preokupasi tentang rasa takut akan
kematian. Individu mendapat perasaan seakan-akan ia dapat mengontrol dan dapat
mengetahui bilamana dan bagaimana kematian itu.
2. Kematian sebagai pembunuhan terkedik (ke belakang) (“Death as retroflexed murder”).
Bagi individu yang mengalami gangguan emosi hebat, suiside dapat mengganti kemarahan
atau kekerasan yang tidak dapat direpresikan. Orang ini cenderung untuk bertindak kasar
dan suiside dapat merupakan penyelesaian mengenai pertentangan emosi dengan
keinginan untuk membunuh.
3. Kematian sebagai penyatuan kembali (“Death as reunion”).
Kematian dapat mempunyai arti yang menyenangkan, karena individu itu akan bersatu
kembali dengan orang yang telah meninggal (reuni khayalan).
4. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (“Death as self punishment”).

6
Menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam pekerjaan jarang terjadi pada wanita,
akan tetapi seorang ibu tidak mampu mencintai, maka keinginan menghukum dirinya
sendiri dapat terjadi. Dalam rumah sakit jiwa, perasaan tak berguna dan menghukum diri
sendiri merupakan hal yang umum. Mula-mula mungkin karena kegagalan, rasa berdosa
karena agresi, individu itu mencoba berbuat lebih baik lagi, tetapi akhirnya ia menghukum
diri sendiri untuk menjauhkan diri dari tujuan itu.

Faktor Risiko
Berikut ini faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
a. Jenis kelamin
Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki. Akan
tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan metode
bunuh diri yang dipilih. Laki-laki lebih banyak dengan gantung diri, meloncat dari tempat
tinggi, dengan senjata api. Perempuan lebih banyak dengan overdosis obat-obatan atau
menggunakan racun.
b. Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki, angka
bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45 tahun sedangkan pada perempuan angka bunuh diri
tertinggi pada usia di atas 55 tahun. Orang yang lebih tua lebih jarang melakukan percobaan
bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.
c. Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan bunuh diri dibanding ras
kulit hitam.
d. Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika terdapat anak di rumah. Orang
yang tidak pernah menikah dua kali lebih beresiko untuk bunuh diri. Perceraian
meningkatkan resiko bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah meninggal juga
memiliki angka bunuh diri yang tinggi.
e. Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh diri, tetapi status sosial yang
rendah juga meningkatkan resiko bunuh diri. Pekerjaan sebagai dokter memiliki resiko
bunuh diri tertinggi dibanding pekerjaan lain. Spesialisasi psikiatri memiliki resiko tertinggi,
disusul spesialis mata dan spesialis anestesi. Pekerjaan lain yang memiliki resiko tinggi

7
untuk bunuh diri adalah pengacara, artis, dokter gigi, polisi, montir, agen asuransi. Orang
yang tidak memiliki pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi untuk bunuh diri.
f. Kesehatan fisik
Satu dari tiga orang yang melakukan bunuh diri memiliki masalah kesehatan dalam 6
bulan sebelum bunuh diri. Hilangnya mobilitas fisik, nyeri hebat yang kronik, pasien
hemodialisis meningkatkan resiko bunuh diri.
g. Gangguan mental
Sekitar 95% dari semua orang yang mencoba atau melakukan bunuh diri memiliki
gangguan mental. Gangguan mental tersebut terdiri dari depresi 80%, skizofrenia 10%, dan
demensia atau delirium 5%. Di antara semua pasien dengan gangguan mental, 25%
kecanduan juga kepada alkohol.
h. Kecanduan alkohol
Sekitar 15% pasien kecanduan alkohol melakukan bunuh diri. Sekitar 80% pasien
bunuh diri akibat kecanduan alkohol adalah laki-laki. Sekitar 50% dari pasien kecanduan
alkohol yang bunuh diri mengalami kehilangan anggota keluarga atau pasangan dalam satu
tahun terakhir.
i. Gangguan kepribadian
Sebagian besar orang yang bunuh diri memiliki gangguan kepribadian. Gangguan
kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan depresi. Selain itu juga
merupakan faktor predisposisi untuk kecanduan alkohol. Gangguan kepribadian juga dapat
menyebabkan konflik dengan keluarga dan orang lain.

Gangguan Jiwa yang sering Berkaitan dengan Bunuh Diri, adalah gangguan mood,
keterantungan alkohol, skizofrenia. Pencegahan tindak bunuh diri yang terbaik adalah dengan
mendeteksi dini dan menatalaksana gangguan jiwa yang mungkin menjadi faktor kontribusi
tadi.

Mengenali pasien yang berpotensi bunuh diri


Kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila (Tomb, 2004):
a. Pasien pernah mencoba bunuh diri
b. Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau berupa
ancaman: “kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi” (sering dikatakan pada
keluarga)
c. Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas

8
d. Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan, harga diri, dan lain-
lain)
e. Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-pesan, pembicaraan
serius dan mendalam dengan kerabat, membagi-bagikan harta/barang-barang miliknya.
f. Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri.
Panduan Wawancara dan Psikoterapi
 Pada waktu wawancaa, pasien mungkin secara spontan menjelaskan adanya ide bunuh
diri. Bila tidak, tanyakan langsung.
 Mulailah dengan menanyakan:
- Apakah anda pernah merasa ingin menyerah saja?
- Apakah anda pernah merasa bahwa lebih baik kalau anda mati saja?
 Tanyakan isi pikiran pasien:
- Berapa sering pikiran ini muncul?
- Apakah pikiran tentang bunuh diri ini meningkat?
 Selidiki :
- Apakah pasien bisa mendapatkan alat dan cara untuk melaukan rencana bunuh
dirinya?
- Apakah mereka sudah mengambilkah aktif, isalnya mengumpulkan obat?
- Seberapa pesimiskah mereka?
- Aakah mereka bisa memikirkan bahwa kehidupannya akan membaik?
Evaluasi dan Penatalaksanaan
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat di rumah (di tempat kejadian)
dan atau di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, di bagian penyakit dalam atau bedah. Dilakukan
pengobatan terhadap luka-luka dan atau keracunan. Bila keracunan atau luka sudah dapat
diatasi maka dilakukan evaluasi psikiatrik. Tidak ada hubungan antara beratnya gangguan fisik
dengan beratnya gangguan psikologis. Penting sekali dalam pengobatan untuk menangani juga
gangguan mentalnya. Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan psikoterapi dan obat
antidepresan (Maramis dan Maramis, 2009).
Ketika sedang mengevaluasi pasien dengan kecendrungan bunuh diri, jangan
tinggalkan mereka sendiri di ruangan. Singkirkan benda-benda yang dapat membahayakan dari
ruang tersebut. Etika mengevaluasi pasien yang baru melakukan percobaan bunuh diri, buatlah
penilaian apakah hal itu direncanakan atau dilakukan secara impulsif.
Penatalaksanaan tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pasien yang depresi berat
boleh saja berobat jalan asalkan keluarganya dapat mengawasi pasien secara ketat di ruma. De

9
bunuh diri pada pasien alkoholik umumnya hilang setelah sesudah menghentkan pengguanan
alkohol itu. Pasien dengan gangguan kepribadian akan berespon baik bila mereka ditangani
secara empatik dan dibantu untuk memecahkan masalah dengancara rasionald an bertanggung
jawab.
Rawat inap jangka panjang diperlukan bagi pasien yang cendrung dan mempunyai
kebiasaan melukai diri sendiri serta parasuicides. Parasuicides yaitu mereka yang berulangkali
melakukan hal-hal berbahaya tetapi menyangkal adanya ide-ide bunuh diri. (Elvira, Sylvia D
dan Gitayanti Hadisukanto, 2017)

Terapi psikofarmaka
Seorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati biasanya akan berfungsi lebih
baik setelah mendapat tranquilizer ringan, tertama bila tidurnya terganggu. Obat pilihannya
adalah golongan benzodiazepine, misalnya lorazepam 3x1 mg per hari selama 2 minggu.
Jangan memberukan obat dalam jumlah banyak sekaligus terhdap pasien(rrespkan sedikit-
seikit saja) dan pasien harus kontrol dalam bebeapa hari.

B. Keadaan Gaduh Gelisah


Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya, tetapi hanya
menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengan sekelompok gejala tertentu.
Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan sementara untuk suatu gambaran
psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dan gelisah. (Maramis dan Maramis, 2009).
Etiologi:
Keadaan gaduh gelisah merupakan manifestasi klinis salah satu jenis psikosis (Maramis
dan Maramis, 2009):
1. Delirium
2. Skizofrenia katatonik
3. Gangguan skizotipal
4. Gangguan psikotik akut dan sementara
5. Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
6. Amok

10
1. Delirium
Delirium merupakan sindrom mental organik akut yang berakiba hendaya
kognitif menyeluruh, yang dapat disebabkan oleh penyakit fisik (delirium akibat
kondisi medis umum), obat-obatan (intoksikasi zat atau delirium putus zat),
beberapa penyebab bersamaan (delirium akibat etiologi multiple), atau oleh kondisi
organik yang tidak diketahui. Pasien dengan keadaan gaduh-gelisah yang
berhubungan dengan sindrom otak organik akut menunjukan kesadaran yang
menurun.
Berdasrkan PERMENKES RI No 1627 Tahun 2010 gejala yang dapat
ditemukan pada pasien delirium antara lain, kesadaran pasien nampak berkabut
(clouded state of conciousness), penurunan kejernihan kesadaran akan lingkungan.
Keadaan ini ditandai oleh kesukaran memusatkan, memindahkan, dan
mempertahankan perhatian pada stimulus luar dan dalam.
Didapati sedikitnya dua dari gejala-gejala berikut:
1. Gangguan persepsi: salah tafsir, ilusi atau halusinasi
2. Pembicaraan kadang-kadang inkoheren
3. Gangguan siklus tidur bangun, dengan insomnia malam hari atau mengantuk pada
siang hari
4. Bertambah atau berkurang aktivivtas motorik
Di samping itu terdapat pula gangguan orientasi dan daya ingat. Gambaran klinis
ini timbul dalam waktu pendek (biasa beberapa jam atau hari) dan sering
berfluktuasi sepanjang hari.

Diagnosis Banding:

1. Gangguan Skizofrenia dan psikotik lainnya


2. Demensia
3. Gangguan buatan dengan gejala psikologik

Penatalaksanaan:

1. Perhatikan keadaan umum fisik: tekanan darah, suhu, nadi, dan pernafasan
2. Keadaan umum memburuk anjurkan dirawat di rumah sakit
3. Pasien gelisah dapat diberikan terapi antipsikotik secara parenteral, tetapi
pemberian antipsikotik yang mempunyai efek samping hipotensi ortostatik harus
dilakukan dengan hati-hati.

11
4. Obat-obatan yang harus digunakan dengan hai-hati:
 Neuroleptic :
Haloperidol =2-5 mg
Risepridon = 0,5-2 mg
 Short-acting sedatives :
Lorazepam = 1-2 mg

2. Psikosis bipolar
Pada psikosa bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi dalam arti kata
yang sebenarnya, tetapi pasien itu memperlihatkan jalan pikiran yang meloncat-loncat
atau melayang (“flight of ideas”). Ia merasa gembira luar biasa (efori), segala hal
dianggap mudah saja. Psikomotorik meningkat, banyak sekali berbicara (logorea) dan
sering ia lekas tersinggung dan marah (Maramis dan Maramis, 2009).
3. Amok
Amok adalah keadaan gaduh-gelisah yang timbul mendadak dan dipengaruhi
oleh faktor-faktor sosiobudaya. Karena itu PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan
Diagnosa Gangguan Jiwa ke-III di Indonesia) memasukkannya ke dalam kelompok
“Fenomena dan Sindrom yang Berkaitan dengan Faktor Sosial Budaya di Indonesia”
(“culture bound phenomena”). Efek “malu” (pengaruh sosibudaya) memegang peranan
penting. Biasanya seorang pria, sesudah periode “meditasi” atau tindakan ritualistic,
maka mendadak ia bangkit dan mulai mengamuk. Ia menjadi agresif dan destruktif,
mungkin mula-mula terhadap yang menyebabkan ia malu,tetapi kemudian terhadap
siapa saja dan apa saja yang dirasakan menghalanginya. Kesadaran menurun atau
berkabut (seperti dalam keadaan trance). Sesudahnya terdapat amnesia total atau
sebagian. Amok sering berakhir karena individu itu dibuat tidak berdaya oleh orang
lain, karena kehabisan tenaga atau karena ia melukai diri sendiri, dan mungkin sampai
ia menemui ajalnya (Maramis dan Maramis, 2009).

C. Sindroma Neuroleptik Maligna


Sindrom neuroleptik maligna adalah suatu sindrom toksik yang behubungan dengan
penggunaan obat antipsikotik. Gejalanya meliputi : kekakuan otot, distonia, akinesia
mutisme dan agitasi.

12
a. Gambaran Klinis dan Diagnosis
Ditandai oleh demam tinggi (dapat mencapai 41,5ºC), kekakuan otot yang nyata
sampai seperti pipa (lead-pipe rigidity), instabilitas otonomik (takikardia, tekanan darah
yang labil, keringat berlebih) dan gangguan kesadaran. Kekakuan yang parah dapat
menyebabkan rhabdomyolysis, myaglobinuria dan akhirnya gagal ginjal. Penyulit lain
dapat berupa tombosis vena, emboli paru dan kematian. Biasanya terjadi dalam hari-hari
pertama pengguanaan antipsikotik pada saat dosis mulai ditingkatkan, umunya dalam 10
hari pertama pengobatan antipsikotik. Sindrom neuroleptik maligna paling mungkin
terjadi pada pasien yang menggunakan antipsikotik potensi tinggi dalam dosis tinggi atau
dosis yang meningkat cepat.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis sindrom neuroleptik maligna ditegakkan jika
terdapat demam dan kekakuan otot yang parah disertai dengan 2 atau lebih gejala berikut:
1. Diaforesis 7. Takikardia
2. Disfagia 8. Tekanan darah yang meningkat atau
3. Tremor labil
4. Inkontinensia 9. Leukositosis
5. Penurunan kesadaran 10. Bukti laboratorium adanya kerusakan
6. Mutism otot rangka
b. Patofisiologi
Patofisiologi sindrom neuroleptik maligna belum diketahui secara jelas.
Timbulnya sindrom neuroleptik maligna akibat obat yang menghambat reseptor D2
menghasilkan hipotesis bahwa penghambatan reseptor D2 pada berbagai area di otak
menjelaskan gejala klinis yang timbul. Hambatan reseptor D2 di formatio retikularis dapat
menurunkan kesadaran. Hambatan reseptor D2 di jalur nigrostriatal dapat menyebabkan
rigiditas. Hambatan reseptor D2 di hipotalamus dapat menyebabkan instabilitas otonom,
gangguan pelepasan panas. Hiperpireksia terjadi akibat disfungsi hipotalamus dan
kekakuan otot
c. Faktor resiko
Jenis kelamin laki-laki dua kali lebih beresiko dibanding perempuan.Faktor
predisposisi munculnya sindrom neuroleptik maligna adalah dehidrasi, malnutrisi,
kelelahan, injeksi intramuskular neuroleptik, cedera kepala, infeksi, intoksikasi alkohol,
pengunaan antipsikotik bersama dengan litium (Hall and Chapman, 2006). Gangguan ini
dapat pula terjadi pada pasien yang baru menghentikan terapi dengan obat-obatan agoni
dopaminergik seperti carbidopa, levodopa, amantadine dan bromocriptine.

13
d. Panduan Wawancara dan Psikoterapi
Sindrom neuroleptik maligna adalah kegawatdaruratan medik sehingga perlu
dirawat di ICU. Kesadarannya terganggu, tanyakan perjalanan penyakitnya pada keluarga
dan teman-temannya.
e. Evaluasi dan Penatalaksanaan
 Pertimbangkan kemungkinan sindrom neuroleptik maligna pada pasien yang
mendapat antipsikotik yang mengalami demam serta kekakuan otot.
 Bila terdapat rigiditas rinan yang tidak berespon terhdap antikolinergik biasa dan bila
demamnya tak jelas sebabnya, buatlah diagnosis sementara sindroma neuroleptik
maligna.
 Hentikna pemberian antipsikotik segera.
 Monitor tanda-tanda vital secara berkala.
 Lakukan pmeriksaan laboratorium
 Hidrasi cepat intrvena daapt mencegah erjadinya renjatan dan menurnkan
kemungkinan terjadiny agagal ginjal.
 Sindrom ini biasanya berlangsung selama 15 hari. Setelah sebuh, masalah kemudian
adalah pemberian naipsikotik selanjutnya apakah mengganti dari kelas yang berbeda
atau kembali ke antipsikotik semula yang efektif.

f. Terapi Psikofarmaka
 Amantadine 200-400 mg PO/hari dalam dosis terbagi
 Bromocriptine 2,5 mg PO 2 atau 3 kali/hari , dapat dianikan sampai 45 mg/hari
 Levodopa 50-100 mg/hari IV dlam infus terus-menerus

D. Tindak kekerasan (violence)


Violence atau tindak kekrasan adalah agresi fisik yang dilakukan oleh seseorang terhadap
orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya sendiri, disebut mutilasi diri atau tingkah laku
bunuh diri (suicidal behavior). Tindak kekerasan dapat timbul akibat berbagai gangguan
psikiatrik, tetapi dapat pula terjadi pada orang biasa yang tidak dapat mengatasi tekanan hidup
sehari-hari dengan cara yang lebih baik.
a. Gambaran klinis dan diagnosis
Gangguan psikiatrik yang sering berkaitan dengan tindak kekerasan adalah:
 Gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan manik, terutama bila paranoid dan
mengalami halusinasi yang bersifat suruhan (commanding hallucination),

14
 Intoksikasi alkohol atau zat lain,
 Gejala putus zat akibat alkohol atau obat-obat hipnotik-seddatif
 Katatonik furor
 Depresi agitatif
 Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan gangguan pengendalian
impuls (misalnya gangguan kepribadian ambang dan antisosial),
 Gangguan mental organik, terutama yang mengenai lobus frontalis dan temporalis
otak.
Faktor risiko lain terjadinya tindak kekerasan adalah :
 Adanya pernyataan seseorang bahwa ia berniat melakukan tindak kekerasan,
 Adanya rencana spesifik,
 Adanya kesempatan atau suatu cara untuk terjadinya kekerasan,
 Laki-laki,
 Usia muda (15-24 tahun),
 Status sosioekonomi rendah,
 Adanya riwayat melakukan tndak kekrasan,
 Tindakan antisosial lainnya
 Riwayat percobaan bunuh diri.
Tujuan pertama menghadap pasien yang potensial untuk melakukan tindak kekerasan
adalah mencegah kejadian itu. Tindakan selanjutnya aadalah membuat diagnoss sebagai dasar
rencana penatalaksanaan, termasuk cara-cara untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
tindak kekerasan berikutnya.
Panduan wawancara dan Psikoterapi
 Bersikaplah suportif dan tidak mengancam, tegas dan berikan batasan yang jelas
bahwa kalau perlu pasien dapat diikat (physical restraints). Tentukan batasan itu
dengan memberikan pilihan (misalnya pilih obat atau diikat), dan bukan dengan
menyuruh pasien secara provokatif: “minum tablet ini sekarang”
 Kaakan langsung kepada pasien bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima,
 Tenangkan pasien bahwa ia aman di sini. Tunjukkan dan tularkan sikap tenang dan
penuh kontrol.
 Tawarkan obat kepada pasien untuk membantunya lebih tenang.
Evaluasi dan penatalaksanaan
1) Lindungi diri anda
- Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersenjata

15
- Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersikap beringas (violent) seorang
diri atau di ruang tertutup. Lepaskan hal-hal yang bisa dijambak/ditarik seperti
kalung atau dasi.
- Jangan melakukan pengikatan pasien seorang diri, serahkan urusan itu pada
anggota staf yang terlatih.
- Duduklah dengan jarak paling tidak sepanjang lengan
- Jangan menantang atau menentang pasien psikotik.
- Jangan duduk berdekatan dengan pasien paranoid, yang muungkin merasa
bahwa anda mengancamnya
- Waspadalah terhaddap tanda-tanda munculnya kekrasan. Selalu persiapkan rute
untuk melarikan diri seandainya pasien menyerrnag anda. Jangan pernah
membelakangi pasien
2) Waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan, antara lain:
- Adanya kekerasan terhadap orang atau benda yang terjadi belum lama ini, gigi
yang dikatupkan serta telapak yang dikepal,
- Ancaman verbal,
- Agitasi psikomotor,
- Intoksikasi alkohol atau obat atau zat lain,
- Waham kejar, dan
- Senjata atau benda-benda yang dapat digunakan sebagai senjata (seperti garpu,
asbak)
3) Pastikan bahwa terdapat jumlah staf yang cukup untuk mengikat pasien secara aman.
4) Pengikatan pasien hanya dilakukan oleh mereka yang telah terlatih. Biasanya setelah
pasien diikat diberikan benzodiazepin atau antipsikotik untuk menenangkan pasien.
5) Lakukan evaluasi diagnostik yang tepat, meliputi TTV, pemeriksaan fisik dan
wawancara pskiatrik.
Terapi Psikofarmaka
Terapi obat tergantung diagnosisnya. Biasanya untuk menenagkan pasien diberikan obat
antipsikotik atau benzodiazepin:
- Flufenazine, trifluoperazine atau haloperidol 5mg per oral atau IM,
- Olanzapine 2,5-10 mg per IM, maksimal 4 injeksi per hari, dengan dosis rata-rata per
hari 13-14mg,
- Atau lorazepam 2-4 mg, diazepam 5-10mg per IV secara pelahan (dalam 2 menit).

16
Bila dalam 20-30 menit kegelisahan tidak berkurang, ulangi dengan dosis yang sama.
Hindari pemberian antipsikotik pada pasien yang mempunyai risiko kejang. Utnuk penderia
epilepsi, mula-mula berikan antikonvulsan misalnya carbamazepine lalu berikan
benzodiazepine. Pasien yang menderita ganggauan organik kronik seringkali memberikan
respon yang baik dengan pemberian ß-blocker seperti propanolol. (Elvira, Sylvia D dan
Gitayanti Hadisukanto, 2017)

17
DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2017. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer 1627. 2010. Pedoman


Pelayanan Kegawatdaruratan Psikiatrik.

Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.

Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins.

Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.

18