Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM DAYA TUMBUH GULMA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Ilmu Gulma

Dosen:

Dr. H. M. Ibrahim Danuwikarsa, MS.

Disusun Oleh:

Dela Fitri Maulani 41035003161001

Huda Anugrah 41035003161013

Ryan Wahidin Nawawi 41035003161023

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
Jl. Soekarno Hatta No.530 Bandung 40286
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur khadirat Allah SWT. yang telah memberikan kita banyak kenikmatan, sehingga
penulis mampu menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Shalawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjunan kita yaitu Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyusunannya penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Ilmu Gulma Bapak Dr. H. M. Ibrahim Danuwikarsa, MS. yang telah memberikan
bimbingan serta dukungan kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan pembuatan
laporan praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan praktikum ini masih banyak
kekurangan maupun kesalahan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung
untuk penyusunan laporan praktikum yang lebih baik lagi ke depannya. Semoga laporan praktikum
ini dapat memberi manfaat bagi yang membutuhkannya.

Bandung, Mei 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Benih benih gulma telah lama dikenal mempunyai kemampuan tumbuh yang sangat tinggi
dibandingkan dengan tanaman budidaya dan tetap dapat tumbuh setelah bertahun-tahun,
dormasinya terkenal sangat lama. Hal ini disebabkan mungkin karena terdapatnya mekanisme
khusus adaptasi pada benih gulma. Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap
tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat
inilah yang membedakan antara gulma dengan tanaman budidaya. Kemampuan gulma
mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma parenial. Gulma parenial dapat
menyebar dengan cara vegetatif. Luasnya penyebaran karena daun dapat dimodifikasikan,
demikian pula pada bagian-bagian lain, hal inilah yang membuat gulma unggul dalam persaingan
dengan tanaman budidaya. Di samping itu, gulma juga dapat membentuk biji yang jumlahnya
banyak yang memungkinkan gulma untuk cepat berkembangbiak.(Moenandir, 1988). Dilapangan
faktor air (termasuk kandungan air tertentu dalam benih) biasanya memegang peranan penting
untuk berkecambahnya benih gulma, disamping faktor-faktor lainnya seperti faktor kedalaman
tanah (adanya benih dalam tanah), cahaya matahari dan sebagainya.
Biji yang dihasilkan gulma sebagian besar jatuh ke tanah dan berada pada lapisan olah tanah
atau rhizosfer sehingga terakumulasi (Seed Bank). Biji gulma mempunyai viabilitas yang tinggi
dalam waktu yang lama meskipun biji belum sempurna atau masih muda. Biji gulma hanya akan
menimbulkan masalah bila tumbuh menjadi individu dewasa. Seed bank di lahan pertanian,
ditimbulkan oleh banyak spesies, meskipun dalam suatu saat ciri infestasi gulma akan didominasi
oleh spesies tertentu saja.
Faktor yang paling penting dalam suatu populasi gulma di suatu daerah pertanian atau habitat-
habitat lainnya adalah biji-biji gulma yang berada dalam tanah yang dihasilkan oleh gulma yang
tumbuh sebelumnya. Pada kebanyakan lahan pertanian terdapat biji-biji gulma yang sewaktu-
waktu dapat berkecambah dan tumbuh bila keadaan lingkungan menguntungkan.
Banyaknya biji-biji gulma dalam tanah (seed bank) merupakan gabungan dari biji-biji yang
dihasilkan oleh gulma sebelumnya dan biji-biji yang masuk dari luar dikurangi dengan biji yang
mati dan berkecambah serta biji yang terbawa ke luar. Biji-biji yang berasal dari luar daerah
sumbangannya tidak berarti dalam menentukan ukuran seed bank, dibandingkan dengan biji-biji
yang dihasilkan oleh gulma sebelumnya.

1.2.Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui potensi benih-benih gulma yang
terdapat dalam tanah. Pengamatan dilakukan dengan melihat kecambah-kecambah gulma yang
tumbuh pada setiap lapisan tanah yang diamati.

1.3.Identifikasi Masalah
Bagaimana potensi daya tumbuh benih-benih gulma yang terdapat dalam setiap lapisan tanah?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengetian Gulma
Tjitrosoedirdjo (1984) menyatakan bahwa gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang
tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki oleh manusia atau tumbuhan yang kegunaannya belum
diketahui.
Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuhan tersebut
merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya tumbuhan
dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai daya guna manusia menurut
Mangoensoekarjo (1983).
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan tidak
dikehendaki serta mempunyai nilai negatif menurut Sutidjo (1974). Gulma merupakan tumbuh-
tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan kerugian bagi
kehidupan manusia. Kerugian yang ditimbulkan antara lain pengaruh persaingan (kompetisi)
mengurangi ketersediaan unsur hara tanaman mendorong efek alelopati (Nasution, 1986).
Gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak diingikan
oleh manusia. Dengan demikian apa saja yang termasuk tanaman budidaya, dapat dipandang
sebagai gulma apabilah tumbuh pada tempat yang tidak diingkan.Tumbuhan yang lebih lazim
sebagai gulma biasanya cendrung mempunyai sifat-sifat atau ciri khas tertentu yang
memungkinkanya untuk mudah tersebar luas dan mampuh menimbulkan kerugian dan ganmgguan
(Anderson, 1977).
Gulma yatu tumbuhan liar yang dapat berkembang biak secara vegetatif maupun generatif
dan biji yang dihasilkan secara vegetatif maupun generatif adalah dengan rhizoma, stolon, dll.
Pembiakan melalui spora umumnya dilakukan oleh bangsa pakisan sedangkan pembiakan biji
dilakukan oleh bangsa gulma semusim atau tahunan, (Sukman dan Yakub,1995).
Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh di suatu tempat dalam waktu tertentu tidak
dikehendaki oleh manusia (Tjokrowardojo, A. S. dan Endjo D., tanpa tahun). Gulma tidak
dikehendaki karena bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan dan dibutuhkan biaya
pengendalian yang cukup besar yaitu sekitar 25-30% dari biaya produksi (Soerjani et al. 1996).
Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang memiliki dampak negatif terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengaruh gulma tidak terlihat secara langsung, dan umumnya
berjalan lambat. Gulma perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit, mampu menjadi
kompetitor utama dalam memperebutkan unsur hara, air, ruang tumbuh dan cahaya matahari.
Beberapa spesies gulma juga dapat memproduksi zat racun yang dapat menghambat pertumuhan
tanaman utama, yang disebut alelopati.
2.2. Bank Biji
Bank biji didefinisikan sebagai jumlah biji viabel yang tersimpan di permukaan tanah dan
di dalam tanah, kerapatan biji yang tersimpan di tanah menurun dengan bertambahnya altitude,
latitude dan semakin bertambahnya usia proses suksesi serta menurunnya intensitas gangguan
Secara umum terbentuknya vegetasi dapat melalui dua cara yaitu melalui biji (secara generatif)
atau pembiakan secara vegetatif. Beberapa jenis tumbuhan dapat berkembang melalui tunas-tunas
yang tumbuh dari bulbus, dan tunas rizome dan umbi seperti kebanyakan dari famili Liliaceae,
Amaryllidaceae dan Oxalidaceae. Berbeda dengan seed bank, bud bank biasanya telah ada secara
vegetatif. Namun tumbuhan yang terbentuk dari biji, propagul-propagul vegetatifnya dapat
tersebar melalui ruang dan waktu dan memerlukan faktor-faktor lingkungan tertentu untuk
memecahkan dormansinya seperti kelembaban atau temperatur (Utomo, 2006b).
Bank Biji adalah kumpulan dari biji yang belum tumbuh dan memiliki kemampuan
potensial untuk menggantikan tanaman-tanaman dewasa baik itu tanaman semusim ataupun
tahunan yang dapat mati oleh penyakit, atau gangguan lainnya. Bank biji dapat ditemukan pada
berbagai habitat, seperti rumput musiman, padang rumput, tanah pertanian, lahan terlantar, di
dalam hutan bahkan dapat pula ditemukan di rawa (Alessio et al., 1989).
2.3. Klasifikasi Gulma
Menurut Tjokrowardojo, A. S. dan Endjo D dalam Gulma Dan Pengendaliannya Pada
Budidaya Tanaman Nilam, ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan gulma agar memudahkan
dalam upaya pengendalinnya.
2.3.1. Klasifikasi Berdasarkan Daur Hidupnya atau Umur
2.3.1.1. Gulma Semusim (Annual Weed)
Gulma ini berkembang biak secara generatif melalui biji, hanya dapat hidup selama satu
daur yang biasanya kurang dari satu tahun, contoh Ageratum conyzoides (babandotan).
2.3.1.2. Gulma Tahunan (Perenial Weed).
Gulma tahunan berkembang biak secara generatif melalui biji, dan secara vegetatif elalui
rimpang, stolon dan setek batang.
Gulma ini hidup lebih dari satu tahun atau hidup sepanjang tahun dan berbuah berulangkali.
Untuk gulma yang membentuk rimpang atau umbi dapat hidup sepanjang tahun, contoh Imperata
cylindrica (alang-alang).
2.3.2. Klasifikasi Berdasarkan Habitat
2.3.2.1. Gulma Fakultatif
Tumbuh di habitat yang belum ada campur tangan manusia. Gulma ini tumbuh pada lahan
yang belum dikelola untuk budidaya tanaman, seperti padang alang-alang.
2.3.2.2. Gulma obligat
tumbuh di habitat yang sudah ada campur tangan manusia. Gulma ini biasanya tumbuh
menyertai tanaman budidaya, seperti sawah, ladang dan perkebunan.
2.3.3. Klasifikasi berdasarkan kerugian yang ditimbulkan:
2.3.3.1. Gulma Lunak (Soft Weed).
Gulma lunak yaitu jenis gulma yang tidak begitu berbahaya bagi tanaman yang
dibudidayakan, namun dalam keadaan populasi tinggi harus dikendalikan, contoh Ageratum
conyzoides.
2.3.3.2. Gulma Keras Atau Gulma Berbahaya (Noxius Weed).
Gulma berbahaya adalah jenis gulma yang berpotensi allelopati, contoh I. cylindrica,
Mikania micrantha (sembung rambat), Chromolaena odorata (kirinyuh), Cyperus rotundus (teki
berumbi).
2.3.4. Klasifikasi Berdasarkan Kesamaan Relatif Dalam Sifat Bersaing Dan Responnya Terhadap
Herbisida
2.3.4.1. Gulma Golongan Rumput (Grasses).
Gulma golongan rumput sebagian besar termasuk dalam famili Gramineae atau Poaceae,
dengan ciri-ciri umum adalah: Berbatang bulat memanjang, dengan ruas-ruas batang berongga
atau padat. Daun berbentuk pita, bertulang daun sejajar, lidah-lidah daun berbulu, permukaan daun
ada yang berbulu kasar atau halus. Buah berbentuk butiran tersusun dalam bentuk malai. Berakar
serabut, berstolon atau membentuk rimpang, contoh I. cylindrica, Digitaria ciliaris, Eleusine
indica.
2.3.4.2. Gulma Golongan Berdaun Lebar (Broad Leaved).
Gulma golongan berdaun lebar sebagian besar temasuk tumbuhan berkeping dua
(Dicotyledoneae) dari berbagai famili. Ciri-ciri umum: Batang tubuh tegak dengan
percabangannya, ada pula yang tumbuh merambat. Daun tunggal maupun majemuk, helaian daun
bulat/bulat telur Bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau
bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselang-seling. Bunga tunggal atau majemuk
tersusun dalam suatu karangan bunga. Contoh Borreria alata, Ageratum conyzoides, Synedrella
nodiflora.
2.3.4.2. Gulma Golongan Teki (Sedges).
Famili Cyperaceae mempunyai ciri-ciri umum: Daun berbentuk pipih atau berlekuk segi
tiga, memanjang yang tumbuh langsung dari pangkal batang. Permukaan daun biasanya licin tidak
berbulu atau ada yang berbulu agak kasar, tangkai bunga berbentuk seperti lidi, muncul dari
tengah-tengah pangkal batang dan ujungnya tersusun karangan bunga. Perakaran biasanya
membentuk stolon dan bercabang dimana setiap cabang membentuk umbi, contoh Cyperus
rotundus dan Cyperus kyllingia.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum dilaksanakan selama 7 minggu sejak tanggal 30 Maret 2019 sampai tanggal 11 Mei
2019. Dengan dilakukan pengamatan selama 1 minggu sekali.
Pengambilan tanah dilaksanakan di Desa Rancatungku, Kec.Pameungpeuk Kab.Bandung,
sedangkan pengamatan dan sampel disimpan di Green House, Kampus.
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam pelaskanaan ini adalah 3 buah polybag, cangkul,
penggaris, sampel tanah, kertas label, air.
3.3. Cara Kerja
1) Tentukan lokasi yang akan diambil tanahnya untuk dijadikan sampel.
2) Gali dan ambil tanah dengan menggunakan cangkul dengan kedalaman 10 cm pertama dari
atas permukaan tanah (ukur kedalaman menggunakan penggaris).
3) Lanjutkan pengambilan tanah pada bekas pengambilan tanah pertama dengan kedalaman 10
cm (diambil dari kedalaman 11 cm-20 cm, lakukan juga peng-ambilan 10 cm tanah dari
kedalaman 21-30 cm).
4) Masukkan masing-masing sampel tanah ke dalam polybag.
5) Beri label pada masing-masing sampel tanah (10 cm (1), 10 cm (2), 10 cm (3))
6) Simpan ketiga polybag yang berisi sampel tanah di tempat terbuka dan terkena paparan sinar
matahari.
7) Siram sampel tanah pada pagi dan sore hari. Lakukan pengamatan pada sampel tanah selama
1 minggu sekali
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengambilan sampel tanah Desa Rancatungku, Kec.Pameungpeuk


Kab.Bandung, ………………………………………………………………… menurut Barus
(2003), faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan gulma, antara lain yaitu:
1) Suhu
Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan biji gulma beragam tergantung jenis gulma. Gulma
di daerah beriklim sedang digolongkan dalam gulma musim dingin dan gulma musim panas.
Gulma musim dingin suhunya 5-15ºC untuk perkecambahannya, sedangkan gulma musim panas
suhunya 18-35°C.
2) Kelembaban
Selain suhu, kelembaban juga berpengaruh pada pertumbuhan gulma, kelembaban berkisar
antara 70-80%. Perkecambahan dapat berlangsung bila menyerap (imbibisi) air yang cukup.
3) Oksigen
Perkecambahan gulma tergantung pada oksigen dalam tanah, umumnya biji-biji gulma yang
berukuran kecil berkecambah pada lapisan tanah setebal kurang dari 1 cm.
4) Cahaya
Biji-biji gulma memerlukan intensitas cahaya yang cukup untuk perkecambah-annya.
Namun, berdasarkan hasil dari pengamatan praktikum, gulma tidak tumbuh meskipun
mendapat perlakuan yang sesuai dengan faktor yang mem-pengaruhi pertumbuhan gulma. Hal ini
dapat dikatakan bahwa biji gilma masih dalam keadaan dorman, di mana biji dalam kondisi diam
atau tidak tumbuh meskipun dalam keadaan yang memungkinkannya untuk tumbuh. Menurut
Anonim (2017) dormansi dibagi menjadi dua, yaitu impoised dormancy atau pertumbuhan
tanaman menjadi gagal karena terhambat oleh faktor lingkungan, dan inmate dormancy atau
pertumbuhan tanaman gagal karena faktor internal atau organ tanaman rusak.
Namun, jika dilihat dari adanya gulma yang tumbuh hanya beberapa hari, dapat
menunjukkan adanya beberapa faktor pertumbuhan yang tidak terpenuhi, seperti terlalu tingginya
suhu atau kurangnya oksigen di dalam tanah sampel. Dapat dikatakan juga bahwa biji gulma
mengalami tekanan dari luar seperti seringnya pengolahan tanah secara intensif sehingga biji
gulma menjadi mati, adanya kecacatan biji gulma saat sampai ke dalam tanah, dan lain sebagainya.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan selama praktikum, dapat dikatakan bahwa gulma yang tidak
tumbuh dapat disebabkan karena keadaan biji gulma yang masih dalam keadaan dorman atau diam,
biji mengalami kecacatan saat jatuh ke tanah atau mati karena pengolahan tanah yang intensif, dan
dapat disebabkan karena faktor luar seperti keadaan suhu yang tidak cocok dengan biji gulma,
serta kurangnya kadar oksigen di dalam tanah.
5.2. Saran
Sebaiknya pengolahan tanah dilakukan secara intensif agar menekan pertumbuhan biji
gulma dalam tanah. Kesediaan hara dalam tanah juga dapat ditentukan dari tumbuh atau tidaknya
gulma di sekitar pertanaman.
DAFTAR PUSTAKA