Anda di halaman 1dari 12

PENERAPAN METODE THEORY RUN UNTUK PERHITUNGAN

KEKERINGAN PADA DAS ROKAN PROVINSI RIAU


Lia Fitriani1, Donny Harisuseno2, Ussy Andawayanti 2
1
Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2
Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
1
Email: liaf023@gmail.com

ABSTRAK
Terjadinya pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim menimbulkan
dampak terhadap ketersediaan air di bumi. Dampak nyata dari pemanasan global adalah
terjadinya peningkatan intensitas kekeringan di berbagai wilayah. Tujuan dari analisa
ini adalah untuk mengetahui karakteristik kekeringan yang terjadi disuatu wilayah yang
berupa jumlah kekeringan, durasi, tingkat kekeringan, dan sebaran kekeringan yang
nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam pencegahan dan penanggulangan
bencana kekeringan.
Metode yang digunakan untuk menganalisa kekeringan adalah metode theory run.
Lokasi studi penelitian berada pada DAS Rokan Provinsi Riau. Data yang digunakan
adalah data curah hujan bulanan selama 22 tahun (1993-2014) dari 8 stasiun hujan yang
berada di DAS Rokan dan 1 stasiun hujan yang berada diluar DAS Rokan. Untuk
penggambaran sebaran kekeringan menggunakan tools IDW pada software ArcGIS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kekeringan kumulatif terbesar terjadi
pada tahun 2014 sebesar -2750 mm pada stasiun hujan Pekan Tebih. Untuk durasi
kekeringan terpanjang paling lama sebesar 25 bulan pada tahun 2014. DUrasi tersebut
merupakan lanjutan dari bulan Desember 2012 hingga Desember 2014 di Stasiun
Bangko Jaya. Berdasarkan hasil pembuatan peta sebaran kekeringan menggunakan
bantuan metode IDW pada software ArcGIS, kecamatan yang mengalami kekeringan
terparah adalah Kecamtan Rokan IV Koto
Kata kunci: Analisa Kekeringan, Theory Run, Sebaran Kekeringan, IDW

ABSTRACT
Global warming leads to climate change impacts on water availability in the earth.
The real impact of global warming is an increase in the intensity of droughts in many
areas. The purpose of this analysis is to determine the characteristics of the drought that
occurred in a area that be the amounts of droughts, duration, level of drought, and
distribution of drought which can later be used as a reference in the prevention and
mitigation of drought.
The method used to analyze the drought is the method of theory run. The location
is at a watershed studies Rokan Riau Province. The data used is the monthly rainfall
data for 22 years (1993-2014) of 8 stations that are in the watershed rainfall and 1
station Rokan rains that are beyond the DAS Rokan. For the depiction of the
distribution of drought using IDW tools on ArcGIS software.
The results showed that the greatest number of cumulative drought occurred in
2014 amounted to -2750 mm in the rain station Pekan Tebih. For the duration of the
longest drought of 25 months in 2014. The duration of the continuation of the December
2012 to December 2014 at Bangko Jaya Station. Based on the results of making
distribution map of drought using IDW method in ArcGIS software, which is
experiencing its worst drought districts are District of Rokan IV Koto
Keywords: Drought Analysis, Theory Run, Distribution of Drought, IDW
PENDAHULUAN Dari data tersebut tersebut terdapat 3
Kekeringan merupakan suatu kondisi Kabupaten berstatus kekeringan, salah
dimana terjadi kekurangan air untuk satunya adalah Kabupaten Rokan Hulu.
memenuhi kebutuhan. Kekeringan juga Penelitian dengan menggunakan
merupakan kejadian klimatologis yang metode Theory Run dan pembuatan peta
alami dan dapat terjadi secara bervariasi sebaran dengan menggunakan software
antara suhu wilayah dengan wilayah ArcGIS sudah banyak dilakukan.
lainnya dan biasanya dimulai Menurut Adidarma (2004), dari hasil
berkurangnya jumlah curah hujan perhitungan kekereringan dengan
dibandingkan dengan kondisi normalnya menggunakan metode Theory Run dapat
dan tergantung berapa lama keadaan diketahui seberapa besar jumlah
tersebut berlangsung. kekeringan terbesar dan durasi
Badan Nasional Penanggulangan kekeringan terpanjang pada lokasi studi
Bencana (BNBP) telah mengeluarkan yang sedang di analisa.
peta indeks resiko bencana kekeringan Selain itu, dalam penelitian lainnya,
(drought disaster risk index map ) di Riau. menurut Pratama (2014), dalam
Peta tersebut memperlihatkan bahwa pembuatan peta sebaran kekeringan
sebagian besar wilayah di Riau memiliki menggunakan data dari hasil perhitungan
tingkat resiko kekeringan yang sedang menggunakan metode Theory run dan
dan tinggi. bantuan software ArcGis dapat diketahui
DAS Rokan mempunyai peranan daerah mana yang mengalami kekeringan
penting bagi masyarakat kabupaten rokan terparah pada daerah studi.
karena berpengaruh pada ketersediaan air Dengan demikian, dalam studi ini
bersih dan suplai air untuk pertanian. akan dilakukan analisa perhitungan
Menurut data sementara Unit Pelaksana kekeringan dengan menggunakan metode
Teknis (UPT) Perlindungan Tanaman Theory Run untuk perhitungan
Pangan dan Hortikultura Propinsi Riau, kekeringan pada lokasi studi. Dan untuk
hingga saat ini terdapat beberapa pembuatan peta sebaran kekeringan
Kabupaten di Propinsi Riau yang lahan menggunakan bantuan dari software
pertaniannya dalam status kekeringan. ArcGis.

Gambar 1 Peta Lokasi Stasiun Hujan Dan AWLR DAS Rokan


METODOLOGI PENELITIAN - Pemodelan Peta Sebaran Kekeringan
Lokasi Penelitian Penggambaran peta sebaran
Studi ini dilakukan di DAS Rokan indeks kekeringam menggunakan
yang berada di wilayah Sungai Rokan ArcGIS 10.1 dengan metode IDW
dengan luas 22,454 km2 dan secara (Inverse Distance Weighted ).
astronomis terletak antara 99,622 BT- - Perbandingan antara nilai Theory Run
101,809 BT serta 0,068 LU-2,307 LU. terhadap debit
DAS Rokan masuk dalam 3 (tiga ) Hasil perhitungan kekeringan
wilayah administrasi Pemerintahan nilai surplus dan defisit metode
Daerah Provinsi, Provinsi Riau, Provinsi Theory Run dibandingkan terhadap
Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera data debit.
Selatan. Untuk studi ini hanya
menggunakan wilayah administrasi Indeks Kekeringan Theory Run
Pemerintahan Daerah Provinsi Riau. Run adalah deret yang berada di
Pada DAS Rokan memiliki 8 stasiun atas (surplus) atau di bawah (defisit) dari
hujan dan 5 stasiun AWLR. Untuk studi seri data curah hujan (Adidarma, 2004:3).
ini menggunakan 9 stasiun hujan yang Prinsip perhitungan Metode Run
ditambah dari stasiun yang berada diluar mengikuti proses peubah tunggal
DAS Rokan. Lokasi stasiun hujan dan (Univarite ) dengan menentukan rata-rata
stasiun AWLR dapat dilihat pada Gambar hujan bulanan jangka panjang sebagai
1. nilai pemepatan, Y (m).
Setelah nilai pemepatan ditentukan,
Pengumpulan Data-data dari seri data hujan dapat dibentuk dua
Data-data yang diperlukan untuk seri data baru yaitu durasi kekeringan
menyelesaikan studi ini adalah sebagai (Ln) dan jumlah kekeringan (Dn).
berikut: Persamaan umum Teori Run adalah :
1. Data curah hujan bulanan stasiun a. Jika Y (m) < X (t,m), maka D(t,m)
hujan yang ada di DAS Rokan = X (t,m) – Y (m)
Provinsi Riau dari tahun 1990- b. Jumlah Kekeringan
2014. Dn = ∑
2. Data AWLR tahun 2007-2014. c. Durasi Kekeringan
3. Peta rupa bumi digital yang Ln = ∑
mencakup seluruh areal DAS Dengan :
Rokan. A (t,m) : indikator bernilai 0, jika Y (m)
4. Peta batas DAS Rokan dan peta >X (t,m)
stasiun hujan. A (t,m) : indikator bernilai 1, jika Y (m) <
Tahapan Analisa X (t,m)
m : bulan ke m ; t adalah tahun ke t
- Pengumpulan Data Y(m) : pemepatan bulan m
Pengumpulan data-data sekunder X(t,m) : seri data hujan bulanan bulan m
yaitu, peta digital, data curah hujan, tahun t
data AWLR. Dn : jumlah kekeringan dari bulan
- Analisa Data Hujan ke m sampai ke m+i (mm)
- Uji konsistensi data menggunakan Ln : durasi kekeringan dari bulan ke
kurva massa ganda. m sampai ke m+i (bulan).
- Analisa Kekeringan A (t,m) : indikator defisit atau surplus.
Analisa indeks kekeringan pada
studi ini menggunakan Metode Theory Setelah mendapatkan nilai jumlah
Run. kekeringan dan durasi kekeringan setiap
tahunnya, tahap selanjutnya menghitung
dan mengklasifikasikan tingkat
kekeringan.
Tabel 1 Klasifikasi Tingkat Kekeringan
Curah Hujan Dari Tingkat
Kondisi Normal kekeringan
70-85% Kering
50-70% Sangat kering
<50% Amat sangat kering

Sumber : Sonjaya (2007:2)


Klasifikasi tingkat kekeringan ini
mempunyai tujuan untuk mengetahui
tingkat kekeringan yang terjadi pada Gambar 2 Uji Konsistensi Sta. Lubuk
setiap stasiun hujan pada daerah studi. Bendahara
Terlihat pada grafik (Gambar 2) ada
Pembuatan Peta Sebaran Kekeringan data yang tidak konsisten pada tahun
Menggunakan IDW 2008 hingga 2011 sebesar dan
Adapaun tahapan dalam pembuatan , Faktor koreksi :
durasi, jumlah dan tingkat kekeringan
menggunakan metode IDW adalah
sebagai berikut :
1. Penggambaran durasi, jumlah dan
tingkat kekeringan menggunakan
software ArcGIS versi 10.1. = 0.318
2. Data yang digunakan berupa
koordinat X, Y, Z dimana data X Hz = x
dan Y adalah koordinat stasiun = 0.318 x 1202
hujan dan Z adalah data jumlah, = 3846 mm
durasi dan tingkat kekeringan Setiap data yang tidak konsisten
terbesar pada setiap stasiun hujan. tersebut dikali dengan nilai Fk yang telah
3. Setelah data diproses dihitung dan diplotkan kembali kedalam
menggunakan aplikasi IDW, grafik kurva massa ganda yang dapat
selanjutnya dilakukan overlap dilihat seperti pada Gambar 3 berikut ini.
hasil plotting isohyet dengan peta
DAS Rokan dan peta
Administrasi Kabupaten Rokan
Hulu dan Hilir.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Uji Konsistensi (Kurva Massa


Analisa Hidrologi

Ganda)
Berdasarkan hasil uji konsistensi
menggunakan kurva massa ganda pada
DAS Rokan didapatkan adanya data yang
menyimpang sehingga data hujan
tersebut perlu diperbaiki. Gambar 3 Uji Konsistensi Sta. Lubuk
Bendahara setelah dikoreksi
Setelah data hujan sudah melewati durasi kekeringan terpanjang seluruh
uji konsistensi dan data hujan yang diuji stasiun pada DAS Rokan
konsisten maka data dapat digunakan Tabel 2 Tabel Komulatif Durasi
untuk perhitungan selanjutnya. Kekeringan Hujan Bulanan Stasiun
Hujan Dalu-dalu
Analisa Kekeringan Metode Theory Curah Hujan Bulanan ( mm )
TAH J
Run UN Ja
n
F
eb
M
ar
A
pr
M
ei
Ju
n
u
Ag
ust
S
ep
O
kt
N
op
D
es
l
Langkah pertama yang dilakukan 1993
1994
1
0
2
0
0
0
1
1
2
2
0
3
1
4
2
5
3
6
0
7
1
0
2
1
adalah perhitungan surplus dan defisit 1995
1996
0
3
0
4
1
5
0
0
0
1
1
2
2
3
3
0
4
1
0
2
1
3
2
4
1997 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 0 0
dari seri data hujan DAS Rokan selama 1998
1999
0
0
1
0
2
0
3
1
4
2
0
0
0
1
0
0
1
0
2
0
3
1
0
2
22 tahun. Diperoleh dengan 2000
2001
0
2
1
0
0
1
0
0
1
1
0
0
1
1
2
2
0
3
1
0
0
0
1
1

mengurangkan data asli dengan rata-rata 2002


2003
0
0
1
0
2
0
3
0
4
1
0
2
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
1
0
2004 1 2 0 0 1 2 0 1 2 0 0 0
dari seluruh data tersebut. 2005
2006
0
1
1
2
2
3
3
0
4
1
5
2
0
3
1
4
0
0
1
0
2
0
0
0
Setelah nilai surplus dan defisit 2007
2008
0
1
0
2
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
2009 1 0 0 1 2 3 0 0 1 0 0 0
didapat, selanjutnya menghitung jumlah 2010 1 0 0 1 2 0 1 0 0 1 2 3
2011 4 0 0 0 1 2 3 4 0 1 0 1
kekeringan dan panjang durasi 2012
2013
1
5
0
0
1
1
0
2
1
3
2
4
3
0
0
1
1
2
2
3
3
4
4
0

 Perhitungan
kekeringan pada DAS Rokan. 2014 1 2 3 4 5 0 1 0 1 2 3 4

 Perhitungan
durasi kekeringan Sumber : Perhitungan
dilakukan dengan langkah sebagai jumlah kekeringan
berikut : dilakukan dimana jika nilai run positif
a. Jika nilai yang dihasilkan adalah (surplus) diberi nilai 0 dan apabila
positif, maka akan diberi nilai nol nilai run negatif (defisit) maka diberi
(0) dan jika nilai yang dihasilkan nilai sebesar nilai negatif run tersebut.
adalah negatif diberi nilai satu (1). Dan apabila terdapat bulan dengan
b. Jika terjadi nilai negatif secara nilai negatif run yang berurutan maka
berurutan, maka nilai yang negatif nilai negatif tersebut dijumlahkan
dijumlahkan terus sampai hingga dipisahkan kembali dengan
dipisahkan kembali oleh nilai nol, angka 0.
kemudian dihitung kembali dari Untuk melihat jumlah kekeringan
nol. salah satu stasiun yang di analisa dapat
Untuk melihat durasi kekeringan dilihat pada Tabel 3 dan untuk melihat
terpanjang dapat dilihat pada Tabel 2 dan rekapitulasi jumlah kekeringan seluruh
Pada Tabel 4 merupakan rekapitulasi dari stasiun dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 3. Jumlah Kekeringan Kumulatif Hujan Bulanan Stasiun Hujan Dalu-dalu
Curah Hujan Bulanan ( mm )
TAHUN
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des
1993 -70.2 -130.9 0.0 -40.3 -66.9 0.0 -10.7 -77.6 -194.3 0.0 -38.3 -168.3
1994 0.0 0.0 0.0 -12.3 -115.9 -220.1 -303.3 -377.2 -414.4 -458.1 0.0 -226.0
1995 0.0 0.0 -62.4 0.0 0.0 -57.6 -123.3 -172.9 -263.7 0.0 -80.3 -113.5
1996 -163.0 -237.1 -260.7 0.0 -129.4 -149.3 -154.1 0.0 -32.0 -116.2 -220.0 -296.1
1997 -418.6 -507.5 -512.7 -542.5 -679.5 0.0 -10.0 -128.5 -215.4 -388.5 0.0 0.0
1998 0.0 -79.8 -84.7 -165.6 -241.9 0.0 0.0 0.0 -19.5 -67.6 -278.1 0.0
1999 0.0 0.0 0.0 -117.3 -247.0 0.0 -9.8 0.0 0.0 0.0 -46.7 -246.9
2000 0.0 -94.8 0.0 0.0 0.0 0.0 -12.2 -33.4 0.0 -150.0 0.0 -4.8
2001 -45.6 0.0 -92.0 0.0 -41.0 0.0 -37.7 -71.8 -81.0 0.0 0.0 -31.5
2002 0.0 -72.7 -132.9 -139.7 -264.2 0.0 0.0 -74.9 0.0 -42.1 0.0 -17.5
2003 0.0 0.0 0.0 0.0 -80.6 -123.5 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
2004 -123.5 -175.7 0.0 0.0 -121.6 -202.8 0.0 -8.4 -12.6 0.0 0.0 0.0
2005 0.0 -90.2 -165.9 -223.7 -282.2 -352.5 0.0 -54.7 0.0 -33.6 -36.2 0.0
2006 -9.1 -59.6 -98.8 0.0 -39.9 -135.7 -175.4 -257.9 0.0 0.0 0.0 0.0
2007 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -59.7 0.0 0.0 0.0
2008 -44.1 -111.3 0.0 0.0 -163.5 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 -98.0 0.0
2009 -147.5 0.0 0.0 -99.8 -150.3 -193.4 0.0 0.0 -121.5 0.0 0.0 0.0
2010 -20.3 0.0 0.0 -49.0 -146.7 0.0 -7.2 0.0 0.0 -154.5 -237.0 -299.7
2011 -306.7 0.0 0.0 0.0 -217.8 -248.6 -333.6 -365.3 0.0 -106.2 0.0 -43.1
2012 -172.7 0.0 -162.6 0.0 -136.3 -171.9 -235.3 0.0 -95.9 -167.0 -175.1 -309.1
2013 -381.5 0.0 -122.8 -245.2 -310.9 -322.2 0.0 -87.1 -188.3 -206.7 -343.6 0.0
2014 -85.0 -164.0 -340.4 -428.3 -586.3 0.0 -98.9 0.0 -31.9 -130.7 -280.9 -287.4
Sumber : Perhitungan
Tabel 4 Rekapitulasi Komulatif Durasi Kekeringan Hujan Bulanan Seluruh Stasiun Hujan Pada DAS Rokan
Max (bulan)
Stasiun Hujan
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Dalu-dalu 3 7 4 5 9 4 2 2 3 4 2 2 5 4 1 2 3 3 4 4 5 5
Lb. Bendahara 8 6 5 7 9 10 5 6 4 4 3 4 3 3 5 5 2 2 2 2 3 7
Pasar tangun 2 10 2 7 9 4 4 4 6 6 3 4 3 2 2 2 2 3 5 2 7 3
Pekan Tebih 9 2 2 1 4 2 4 2 3 2 3 2 2 5 2 2 3 3 2 1 12 24
Kota Lama 8 2 13 14 2 4 4 1 3 4 2 3 3 1 2 4 7 2 4 5 7 13
Bangko Jaya 3 4 3 4 2 1 1 1 3 3 2 4 3 2 7 9 10 6 7 3 13 25
Bagan Batu 3 2 2 3 3 3 3 6 2 4 2 2 6 3 2 3 4 1 7 3 4 4
Sedingin 2 3 5 5 5 3 2 3 2 3 1 2 5 4 1 3 5 3 3 4 8 12
Kandis 2 3 2 3 7 6 6 4 7 4 1 2 3 5 2 3 4 3 6 3 8 12
Sumber : Perhitungan

Tabel 5 Rekapitulasi Komulatif Jumlah Kekeringan Hujan Bulanan Seluruh Stasiun Hujan Pada DAS Rokan
Max (mm)
Stasiun Hujan
1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Dalu-dalu -194 -458 -264 -296 -679 -278 -247 -150 -92 -264 -124 -203 -353 -258 -60 -163 -193 -300 -365 -309 -381 -586
Lb. Bendahara -956 -501 -266 -734 -1080 -1100 -604 -783 -359 -457 -230 -522 -390 -568 -404 -557 -167 -184 -125 -536 -659 -1308
Pasar tangun -150 -2095 -187 -519 -611 -309 -328 -471 -546 -482 -142 -271 -338 -153 -174 -189 -233 -211 -406 -136 -675 -222
Pekan Tebih -670 -184 -90 -60 -375 -248 -283 -112 -115 -160 -143 -254 -157 -255 -143 -147 -125 -381 -234 -109 -1421 -2750
Kota Lama -416 -154 -2217 -2252 -138 -169 -223 -148 -222 -172 -112 -121 -176 -92 -285 -364 -528 -160 -227 -292 -616 -1615
Bangko Jaya -111 -243 -102 -162 -170 -144 -111 -150 -71 -170 -60 -297 -117 -130 -327 -606 -737 -266 -385 -305 -1221 -2704
Bagan Batu -129 -183 -125 -250 -216 -266 -182 -287 -160 -147 -137 -157 -299 -239 -97 -264 -246 -26 -357 -177 -259 -395
Sedingin -95 -134 -220 -303 -388 -208 -195 -227 -73 -204 -16 -123 -292 -208 -68 -288 -314 -169 -322 -199 -788 -1168
Kandis -72 -362 -57 -142 -458 -339 -339 -247 -246 -345 -62 -171 -146 -312 -112 -137 -117 -80 -350 -102 -552 -891
Sumber : Perhitungan
Klasifikasi Tingkat Kekeringan Tabel 6. Klasifikasi Tingkat Kekeringan
Untuk mengetahui tingkat Stasiun Dalu-dalu
kekeringan pada stasiun Hujan Jumlah
Jumlah
Curah
diperlukan menghitung jumlah curah Curah Prosentase
Hujan
Tahun Hujan Curah Klasifikasi
Bulan-
hujan normal untuk klasifikasi Normal
Bulan
Hujan (%)
(mm)
kekeringan. Curah hujan normal adalah Kering
1993 426.79 232.50 54.48 SK
nilai rata-rata hujan suatu bulan di 1994 1182.64 724.50 61.26 SK
seluruh tahun pengamatan. Selain curah 1995 538.06 274.40 51.00 SK
1996 931.22 635.10 68.20 SK
hujan normal, dihitung juga jumlah curah 1997 2324.03 1644.55 70.76 K
1998 628.68 350.60 55.77 SK
hujan bulan yang kering, dilakukan 1999 432.87 185.90 42.95 ASK
dengan cara menjumlahkan curah hujan 2000 211.71 61.70 29.14 ASK
2001 211.19 119.20 56.44 SK
bulan-bulan kering yang berurutan. 2002 793.23 529.00 66.69 SK
Jumlah curah hujan bulan-bulan kering 2003 341.85 218.30 63.86 SK
2004 341.85 139.00 40.66 ASK
dibandingkan dengan jumlah curah hujan 2005 904.50 552.00 61.03 SK
2006 603.92 346.00 57.29 SK
normal maka didapatkan klasifikasi 2007 164.71 105.00 63.75 SK
tingkat kekeringan. 2008 230.57 67.10 29.10 ASK
2009 544.14 350.70 64.45 SK
Tahun 1993 : 2010 766.50 466.80 60.90 SK
- Jumlah curah hujan normal 3 bulan 2011 456.01 90.69 19.89 ASK
2012 931.22 622.10 66.80 SK
= CH normal bulan Juli + Agustus + 2013 2324.03 1942.57 83.59 K
September 2014 1019.47 433.20 42.49 ASK

=114,2 + 147,9 + 164,7= 426,79 mm Sumber : Perhitungan


- Jumlah curah hujan bulan yang Untuk hasil perhitungan
kering klasifikasi tingkat kekeringan seluruh
= CH bulan Juli + Agustus + stasiun dapat dilihat pada Tabel 7.
September Analisa Peta Sebaran Kekeringan
= 104 + 81+ 48
= 232,5 mm Peta persebaran hasil kekeringan
- Perbandingan jumlah curah hujan dibuat dengan menggunakan software
bulan kering dengan jumlah curah ArcGIS 10.1, proses interpolasi
hujan normal dilakukan dengan metode IDW (Inverse
Distance Weighted ). Selanjutnya
= = 0,5448 dilakukan analisa peta sebaran
- Prosentase perbandingan jumlah kekeringan defisit maksimum, peta
curah hujan bulan kering sebaran durasi kekeringan terbesar, peta
dengan jumlah curah hujan normal sebaran tingkat kekeringan yang
mengalami kekeringan terbesar dalam
= 0,5448 x 100% = 54,48% tiap tahunnya yang dapat dilihat pada
- Maka pada tahun 1993 termasuk gambar 4, Gambar 5 dan Gambar 6
Sangat Kering Berdasarkan nilai theory run tahun
Untuk hasil perhitungan paling kering terjadi pada tahun 2014,
klasifikasi tingkat kekeringan tahun sedangkan tahun paling basah terjadi
selanjutnya dapat dilihat pada tabel pada tahun 2003. berdasarkan daerah
6. administrasi, kecamatan yang mengalami
kekeringan menurut analisa adalah
kecamatan Rokan IV Koto.
Tabel 7 Rekapitulasi Tingkat Kekeringan Seluruh Stasiun Hujan Pada DAS Rokan
Stasiun Hujan
Tahu
n Dalu- Lb. Pasar Pekan Kota Bangko Bagan Sedingi Kand
dalu Bendahara tangun Tebih Lama Jaya Batu n is
1993 SK ASK ASK SK SK SK K SK K
1994 SK SK ASK ASK ASK SK ASK ASK ASK
1995 SK K K SK ASK K K SK B
1996 SK SK K SK ASK K SK SK K
1997 K SK K ASK ASK ASK SK SK SK
1998 SK SK ASK SK K ASK SK SK SK
1999 ASK SK SK ASK SK ASK ASK ASK SK
2000 ASK K SK K ASK ASK K SK SK
2001 SK SK SK K SK K SK ASK K
Kriteri 2002 SK SK SK SK K SK ASK ASK ASK
a
2003 SK ASK K K SK K SK B SK
2004 ASK K K ASK SK ASK ASK SK ASK
2005 SK ASK SK SK ASK K K SK ASK
2006 SK K ASK K SK ASK ASK SK SK
2007 SK SK ASK K SK SK K SK SK
2008 ASK ASK K SK SK SK SK SK K
2009 SK SK SK K SK SK SK SK B
2010 SK K K ASK SK K K SK K
2011 ASK SK SK ASK K SK SK ASK SK
2012 SK ASK SK SK K ASK SK SK K
2013 K K ASK ASK SK ASK SK ASK SK
2014 ASK SK SK ASK ASK ASK ASK ASK SK
Sumber : Perhitungan
Keterangan : B = Basah
K = Kering
SK = Sangat Kering
ASK = Amat Sangat Kering

Gambar 4. Peta Sebaran Kekeringan Defisit Maksimum Pada DAS Rokan


Tahun 2014
Gambar 5. Peta Durasi Kekeringan Terpanjang Pada DAS Rokan Tahun 2014

Gambar 6. Peta Sebaran Tingkat Kekeringan Pada DAS Rokan Tahun 2014

 Perbandingan Hasil Analisa Data debit yang digunakan


Kekeringan Terhadap Data Debit didapatkan dari hasil pencatatan pos duga
air Lubuk Bendahara. Analisa hanya
Dalam perbandingan yang dilakukan ini dilakukan pada tahun 2007, 2008, 2009,
bertujuan untuk mengetahui apakah ada 2010, 2011, 2013, 2014 karena
hubungan antara kekeringan meteorologi keterbatasan data. Pos duga air Lubuk
dengan debit sungai. Dengan Bendahara terletak pada hulu sungai
membandingkan hasil analisa kekeringan rokan dan terdapat 5 stasiun hujan yang
dengan data debit pada sebuah grafik letaknya pada hulu sungai rokan juga
akan terlihat perbandingannya. Gambar yaitu Lubuk Bendahara, Pasar Tangun,
hasil perbandingan dapat dilihat pada Kota Lama, Dalu-dalu, pekan Tebih.
gambar 7. Pada gambar 7 dapat dilihat bahwa
ada hubungan antara nilai surplus dan
defisit terhadap data debit pos duga air Nilai kecocokan =
Lubuk bendahara. Ketika nilai surplus
= 75 %
maka debit air pun juga mengalami
Untuk perbandingan nilai surplus
kenaikan, begitu juga ketika terjadi nilai
defisit terhadap data debit tahun 2007-
defisit maka debit juga mengalami
2014 dapat dilihat pada Gambar 8.
penurunan dimana kejadian tersebut
dinamakan kecocokan pola. Tabel 8 Rekapitulasi Kecocokan Pola
antara Nilai Surplus dan Defisit dengan
Data Debit Pos Duga Air Lubuk
Bendahara Tahun 2007-2014
Tahun Kecocokan Pola (%)
2007 75.00
2008 75.00
2009 66.67
2010 58.33
2011 75.00
2012 58.33
2013 33.33
2014 66.67
Rata-rata 63.54

Gambar 7. Perbandingan Nilai Surplus Sumber: Hasil Analisa


Defisit Run dan Data Debit Pos Duga Air Rata-rata perbandingan antara data
Lubuk Bendahara Tahun 2007 debit dan data hasil analisa metode
Nilai kecocokan pola nilai surplus Theory Run pada Tabel 5 sebesar
dan defisit pada 5 stasiun hujan dengan 63,54%. Hal tersebut menunjukkan
debit pos duga air Lubuk Bendahara bahwa antara debit dan data hasil analisa
Tahun 2007 adalah selama 9 bulan yang metode Theory Run memiliki kesesuaian
mengalami kecocokan pola. yang baik.

Gambar 8 Grafik Hasil Perbandingan Nilai Surplus Defisit Run dan Data Debit
Pos Duga Air Lubuk Bendahara Tahun 2007-2014
PENUTUP DAFTAR PUSTAKA
Kesimpulan Adidarma, Wanny. 2004. Analisa
Berdasarkan dari hasil analisa dan Kekeringan Dengan Berbagai
perhitungan yang telah dilakukan, maka Pendekatan . Bandung. Pusat
dapat diambil beberapa kesimpulan Penelitian dan Pengembangan
sebagai berikut : Sumber Daya Air, Departemen
1. Berdasarkan hasil pembuatan peta Pemukiman dan Prasarana Wilayah
sebaran kekeringan pada DAS Rokan
dengan menggunakan interpolasi Br. Sri. Harto. 1993. Analisa Hidrologi .
metode IDW pada software ArcGis Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
10.1 dapat diketahui bahwa tahun
Departemen Pekerjaan Umum, 2004.
paling kering terjadi pada tahun
Perhitungan Indeks Kekeringan
2014, sedangkan tahun paling basah
Menggunakan Teori RUN.
terjadi pada tahun 2003. Dari peta
Bandung : Departemen Pekerjaan
sebaran kekeringan berdasarkan
Umum.
daerah administrasi, kecamatan yang
mengalami kekeringan menurut Ersydarfia, Novreta, Fauzia, Manyuk.,
analisa adalah kecamatan Rokan IV Sujatmoko, Bambang. Perhitungan
Koto. Indeks Kekeringan Menggunakan
2. Perbandingan antara hasil analisa teori RUN Pada Daerah Aliran
kekeringan menggunakan metode Sungai (DAS) Indragiri. Riau :
Theory Run terhadap debit pos duga Jurusan Teknik Sipil Fakultas
air Lubuk Bendahara tahun 2007- Teknik Universitas Riau.
2014 memiliki kesesuai yang baik
dengan prosentase rata-rata sebesar Prahasta Eddy. 2002. Sistem Informasi
63.54%. Pada tahun 2007, 2008, 2011 Geografis: Tutorial ArcView.
memiliki maksimum prosentase Bandung : CV. Informatika.
kecocokan sebesar 75% dan prosentasi
minimum kecocokan sebesar 33,33% Pramono, Gatot H. 2008. Akurasi Metode
pada tahun 2013. Hal ini menunjukan IDW dan Kriging Untuk Interpolasi
bahwa antara debit air dengan nilai
Sebaran Sedimen Tersuspensi Di
surplus dan defisit metode Theory Run
memiliki kesesuaian yang baik. Maros, Sulawesi Selatan . Forum
Geografis, 22 (1). Pp 145-158.
3. SARAN
Berdasarkan hasil analisa yang telah Soemarto, C.D. 1987. Hidrologi Teknik.
dilakukan, adapun saran yang dapat Surabaya : Usaha Nasional
digunakan sebagai rekomendasi, yaitu :
- Untuk mendapatkan hasil yang Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi
akurat diperlukan persebaran stasiun Metode Statistika Untuk Analisa
hujan yang merata di wilayah studi Data Jilid I. Bandung : Nova
dan wilayah studi yang lebih sempit
agar mendapatkan hasil analisa yang
akurat. Dan diperlukan juga data
hujan yang panjang agar dapat
melihat trend kekeringan.