Anda di halaman 1dari 34

GAMBARAN KESEHATAN MENTAL EMOSIONAL

REMAJA MELALUI SKRINING PSIKOSOSIAL


MENGGUNAKAN PSC-Y DI MTS IZHARIL ULUM
DESA MELAYU TENGAH, KEC. MARTAPURA TIMUR

Disusun Oleh :
dr. Septerina Purwasetya

Penulis Pembantu :
Dr. Dewi Ayu Rinjani

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


KABUPATEN BANJAR
PUSKESMAS MARTAPURA TIMUR
2017
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menempuh Internship di Puskesmas Martapura
Timur serta dapat menyusun dan menyelesaikan laporan penelitian mini project yang
berjudul “Gambaran Kesehatan Mental Emosional Remaja Melalui Skrining
Psikososial Menggunakan PCS-Y di MTs Izharil Ulum, Desa Melayu Tengah
Kec. Martapura Timur” untuk memenuhi salah satu syarat program Internship di
Puskesmas Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. H. M. Noor Islam, SE, SKM, MM, selaku Kepala Puskesmas Martapura Timur.
2. Dr. Dewi Ayu Rinjani sebagai dokter pendamping Internship di Puskesmas
Martapura Timur.
3. Kepala Sekolah MTs Izharil Ulum, yang telah mengizinkan terlaksananya
penelitian ini di MTs Izharil Ulum.
4. Kedua orang tua dengan segala curahan kasih sayang, restu, dan dukungan
kepada penulis.
5. Para siswa siswi MTs Izharil Ulum yang telah bersedia menjadi responden.
6. Rekan - rekan Dokter Internship.
Penulis menyadari bahwa laporan penelitian mini project ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk
perbaikan di masa yang akan datang.
Penulis berharap semoga laporan penelitian mini project ini bermanfaat bagi
semua pihak yang berkepentingan.

Penulis,

dr. Septerina Purwasetya


ABSTRAK

ii
Latar Belakang : Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting bagi masa
depan dan kesejahteraan remaja. Skrining psikosial untuk mengetahui masalah
mental, emosional dan perilaku sangat penting untuk mencegah kemunculan
gangguan mental yang lebih berat.
Tujuan : Mengetahui bagaimana gambaran kesehatan mental dan emosional remaja
melalui skrining psikosial menggunakan PSC-Y di MTs Izharil Ulum Desa Melayu
Tengah, Kec. Martapura Timur.
Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek
penelitian adalah siswa siswi MTs Izharil Ulum, Desa Melayu Tengah, Kec.
Martapura Timur. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner
Pediatric Symptom Checklist for Youth (PSC-Y). Data dianalisis secara deskriptif.
Hasil : Jumlah responden sebanyak 79 orang terdiri dari 28 laki-laki dan 51
perempuan. Jumlah siswa yang memiliki masalah psikosial 3 orang (3,8%), masalah
internalisasi 11 orang (13,9%), masalah atensi 1 orang (1,3%), masalah eksternalisasi
2 orang (2,5%), memiliki pemikiran untuk bunuh diri 1 orang (1,3%). Masalah
internalisasi lebih banyak pada perempuan (15,69%) dibandingkan dengan laki-laki
(10,7%). Pada laki-laki lebih banyak masalah eksternalisasi (3,57%), masalah atensi
(3,57%), dan pikiran untuk bunuh diri (3,57%), dibandingkan dengan perempuan
yakni masalah eksternalisasi (1,96%), masalah atensi dan pemikiran untuk bunuh diri
(0,0%). Siswa yang tidak mengalami masalah psikosial berdasarkan PSC-Y sebanyak
76 orang (96,2%).
Kesimpulan : Sebagian besar siswa siswi di MTs Izharil Ulum memiliki kesehatan
mental emosional yang baik (96,2%). Namun ditemukan sebagian kecil yang
mengalami masalah psikososial yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Kata Kunci : mental emosional, remaja, psikososial, PSC-Y

DAFTAR ISI

iii
Halaman Judul..................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................... ii
Abstrak ............................................................................................................. iii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................ 2
1.3. Tujuan Penelitian............................................................................. 2
1.4. Manfaat Penelitian........................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1............................................................................................................. Definisi
Remaja........................................................................................................... 3
2.2.............................................................................................................Pertumbu
han dan Perkembangan Remaja.................................................................... 4
2.3.............................................................................................................Kesehatan
Mental Emosional Remaja............................................................................ 5
2.4.............................................................................................................Pencegaha
n Masalah Mental Emosional Remaja........................................................... 13
2.4.1.PSC-Y (Pediatric Symptom Cecklist for Youth)........................... 13

BAB III. METODE PENELITIAN


3.1.Jenis dan Rancangan Penilitian.......................................................... 15
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian............................................................. 15
3.3.Populasi dan Sampel Penelitian.......................................................... 15
3.3.1.Populasi Penelitian.................................................................... 15
3.3.2.Sampel Penelitian...................................................................... 15
3.4.Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel................................ 16
3.5.Definisi Operasional........................................................................... 16
3.6.Instrumen Penelitian dan Pengambilan Data...................................... 17
3.7.Pengolahan dan Analisa Data............................................................. 17
3.7.1.Pengolahan Data........................................................................ 17
3.7.2.Analisa Data.............................................................................. 17
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

iv
4.1.Hasil Penelitian................................................................................... 18
4.1.1.Karakteristik Responden............................................................ 18
4.1.2.Gambaran Kesehatan Mental Emosional Remaja melalui
Skrining Psikososial menggunakan PSC-Y di Mts Izharil Ulum
Desa Melayu Tengah Kec. Martapura Timur..................................... 19
4.2.Pembahasan......................................................................................... 21
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan......................................................................................... 25
5.2.Saran................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 27
LAMPIRAN........................................................................................................ 29

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa remaja merupakan masa yang kritis dalam siklus perkembangan
seseorang, di mana pada masa ini terjadi banyak perubahan, baik perubahan biologik,
psikologik maupun perubahan sosial. Fase perubahan tersebut seringkali memicu
terjadinya konflik antara remaja dengan dirinya sendiri maupun konflik dengan
lingkungan sekitarnya. Apabila konflik-konflik tersebut tidak dapat teratasi dengan
baik maka dalam perkembangannya dapat membawa dampak negatif terutama
terhadap pematangan karakter remaja dan tidak jarang memicu terjadinya gangguan
mental (Wiguna, 2009).
Delapan puluh persen dari remaja berusia 11-15 tahun dikatakan pernah
menunjukkan perilaku berisiko tinggi minimal satu kali dalam periode tersebut,
seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta perilaku antisosial.
(Satgas Remaja IDAI, 2010)
Kelainan mental, emosional dan perilaku seperti depresi, masalah perilaku dan
penyalahgunaan zat di antara anak-anak dan remaja meyebabkan beban yang berat
bagi keluarga, bangsa dan diri mereka sendiri. Selain kesehatan fisik, kesehatan
mental merupakan faktor yang penting bagi masa depan dan kesejahteraan remaja.
Empat belas sampai 20% remaja mengalami kelainan mental, emosional dan perilaku.
Survey menunjukkan bahwa 50% dari seluruh kasus yang didiagnosa kelainan mental
dimulai sejak usia 14 tahun dan tiga-perempatnya dimulai sejak usia 24 tahun.
(Utami, 2012)
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, prevalensi
masalah mental dan emosional pada orang Indonesia dengan usia di atas 15 tahun
adalah 11.6%. Prevalensi gangguan mental emosional di provinsi Kalimantan selatan
adalah 11,3% (rentang: 2,2–20,2%), dengan lima kabupaten/kota yang prevalensinya

1
lebih tinggi dibandingkan prevalensi provinsi yaitu Kabupaten Banjar, Banjarmasin,
Balangan, Barito Kuala dan Tanah Bumbu. (RISKESDAS, 2009)
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai gambaran kesehatan mental emosional remaja, melalui skrining
psikosial menggunakan Pediatric Symptom Checklist for Youth (PSC-Y) pada siswa
siswi di MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur
Kabupaten Banjar.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah gambaran kesehatan mental emosional remaja, melalui skrining
psikosial menggunakan PSC-Y di MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah,
Kecamatan Martapura Timur?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui gambaran kesehatan mental emosional remaja pada siswa siswi di
MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur
2. Mengetahui hasil skrining psikososial menggunakan PSC-Y di MTs Izharil
Ulum Desa Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur

1.4 Manfaat Penelitian


1. Memberikan informasi mengenai gambaran kesehatan mental remaja di MTs
Izharil Ulum Desa Melayu Tengah, Kecamatan Martapura Timur.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat dan sekolah mengenai penggunaan
PSC-Y sebagai alat skrining psikososial kesehatan mental dan emosional pada
remaja.
3. Memberikan masukan kepada sekolah untuk menindaklanjuti ataupun
memberikan pendampingan kepada siswa yang mengalami masalah mental
dan emosional.
4. Sebagai bahan kajian untuk penelitian lebih lanjut.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Remaja


Masa remaja merupakan bagian dari fase perkembangan yang dinamis
dalam kehidupan seorang individu. Masa yang merupakan periode transisi dari
masa anak ke dewasa ini ditandai dengan percepatan perkembangan fisik,
mental, emosional, sosial dan berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan
(Utami, 2012). WHO mendefinisikan remaja bila anak telah mencapai 10 – 19
tahun. Dalam Undang Undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak,
remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum
menikah. Menurut Undang Undang Perburuhan, remaja adalah anak yang telah
mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal
sendiri. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menganggap remaja jika
sudah berusia 18 tahun yang sesuai dengan saat lulus dari sekolah menengah.
Menurut Hurlock remaja adalah anak yang berada dalam rentang usia 12-18
tahun. Monks, dkk memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut
Stanley Hall usia remaja berada pada rentang 12-25 tahun. Berdasarkan batasan-
batasan yang diberikan oleh para ahli, dapat dilihat bahwa mulainya masa remaja
relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. (Wiguna, 2009)
Masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan yaitu masa remaja awal,
remaja menengah dan masa remaja akhir. (Sarlito, 2002)
1. Masa remaja awal
Terjadi saat anak berusia 12-15 tahun. Pada masa ini terjadi pertumbuhan
dan pematangan fisik yang sangat pesat dan perkembangan intelektual yang
intensif. Minat anak terhadap dunia luar sangat besar dan anak tidak mau
dianggap kanak-kanak lagi, meskipun belum bisa meninggalkan pola
kekanakkanakannya. Remaja atau anak dalam masa ini sering merasa sunyi,
ragu ragu,tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa. (Sarlito, 2002)

3
2. Masa remaja menengah
Anak yang berusia 15-18 tahun akan memasuki masa remaja menengah.
Masa ini ditandai dengan hampir lengkapnya pertumbuhan pubertas, timbulnya
keterampilan-keterampilan berpikir yang baru, peningkatan pengenalan terhadap
datangnya masa dewasa, dan keinginan untuk memapankan jarak emosional dan
psikologis dengan orang tua. Remaja pada usia ini memiliki rasa percaya diri
untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukannya. Pada masa
ini remaja akan menemukan jati dirinya. (Sarlito, 2002)
3. Masa remaja akhir
Masa ini terjadi pada remaja berusia 18-21 tahun. Masa ini ditandai
dengan persiapan untuk peran sebagai orang dewasa, termasuk klarifikasi tujuan
pekerjaan dan internalisasi suatu sistem nilai pribadi. Remaja mulai terlibat
dalam kehidupan, pekerjaan dan hubungan di luar keluarga. (Sarlito, 2002)

2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja


Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa,
sehingga banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan.15
Pada masa ini terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai
fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan kognitif dan psikologis. Peristiwa
yang penting semasa remaja adalah pubertas, yaitu perubahan morfologis dan
fisiologis yang pesat dari masa anak-anak ke masa dewasa. Perubahan
psikososial yang menyertai pubertas disebut adolesen.(Sudoyo, 2006)

Tumbuh kembang adalah peristiwa yang terjadi sejak masa pembuahan


sampai masa dewasa. Proses tumbuh kembang dibedakan atas tumbuh kembang

fisis, tumbuh kembang intelektual dan tumbuh kembang emosional. Tumbuh


kembang fisis meliputi perubahan ukuran besar dan fungsi organ, mulai dari
tingkat molekuler sampai metabolisme yang kompleks dan perubahan fisik
hingga masa pubertas. Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan
kemampuan berkomunikasi dan menangani berbagai masalah abstrak dan

4
simbolik, seperti bicara, bermain, berhitung atau membaca. Sedang tumbuh
kembang emosional berkaitan dengan kemampuan membentuk ikatan batin,
berkasih sayang, mengelola rangsang dari luar serta kemampuan menangani
kegelisahan akibat suatu kegagalan.(Sudoyo 2006)

Konflik yang sering dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring


dengan perubahan yang mereka alami pada berbagai dimensi kehidupan dalam
diri mereka yaitu dimensi biologis, dimensi kognitif, dimensi moral dan dimensi

psikologis.(Dharmayanti, 2011)

Remaja dalam masa peralihan mengalami perubahan jasmani, kepribadian

intelektual dan peranannya dalam lingkungan. Karakteristik pertumbuhan dan

perkembangan remaja mencakup transisi biologis, transisi kognitif dan transisi

psikososial.(Gunarsa, 2007)

2.3 Kesehatan Mental dan Emosional Remaja

Perkembangan mental emosional adalah suatu proses perkembangan


seseorang dalam usaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
pengalamanpengalamannya. Masalah mental emosional dapat timbul jika
terdapat sesuatu yang menghambat seseorang dalam proses penyesuaian diri
dengan lingkungan dan pengalaman-pengalamannya.(Dharmayanti, 2011)

Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan mental,


emosional dan perilaku remaja. Terdapat interaksi yang kompleks dari
perubahan fisik biologis, psikologis individu atau perkembangan kognitif, dan
interaksi dari faktor-faktor sosial. (Dharmayanti, 2011)

Masalah mental, emosional dan perilaku dapat muncul akibat interaksi

faktor-faktor tesebut, dan didukung dengan ketidakseimbangan faktor risiko dan

faktor protektif. (Wiguna, 2009)

5
1. Faktor resiko

Faktor resiko dapat bersifat individual, konstektual (pengaruh lingkungan),


atau yang dihasilkan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Faktor risiko yang disertai dengan kerentanan psikososial, dan resilience pada
seorang remaja akan memicu terjadinya gangguan emosi dan perilaku yang khas
pada seorang remaja. (IDAI, 2013)

Faktor resiko dapat berupa:

a. Faktor individu

1. Faktor genetik/konstitutional; berbagai gangguan mental mempunyai latar


belakang genetik yang cukup nyata, seperti gangguan tingkah laku, gangguan
kepribadian, dan gangguan psikologik lainnya. (IDAI, 2013)

2. Kurangnya kemampuan keterampilan sosial seperti, menghadapi rasa takut,


rendah diri, dan rasa tertekan. Adanya kepercayaan bahwa perilaku kekerasan
adalah perilaku yang dapat diterima, dan disertai dengan ketidakmampuan
menangani rasa marah. Kondisi ini cenderung memicu timbulnya perilaku
risiko tinggi bagi remaja. (IDAI, 2013)

b. Faktor psikososial

1. Keluarga

Ketidakharmonisan antara orangtua, orangtua dengan penyalahgunaan


zat, gangguan mental pada orangtua, ketidakserasian temperamen antara
orangtua dan remaja, serta pola asuh orangtua yang tidak empatetik dan
cenderung dominasi, semua kondisi di atas sering memicu timbulnya perilaku
agresif dan temperamen yang sulit pada anak dan remaja. (IDAI, 2013)

2. Sekolah

Bullying merupakan salah satu pengaruh yang kuat dari kelompok teman
sebaya, serta berdampak terjadinya kegagalan akademik. Kondisi ini

6
merupakan faktor risiko yang cukup serius bagi remaja. Bullying atau sering
disebut sebagai peer victimization adalah bentuk perilaku pemaksaan atau
usaha menyakiti secara psikologik maupun fisik terhadap
seseorang/sekelompok orang yang lebih lemah, oleh seseorang/sekelompok
orang yang lebih kuat. (IDAI, 2013)

Bullying dapat bersifat fisik seperti, mencubit, memukul, memalak, atau


menampar; psikologik seperti, mengintimidasi, mengabaikan, dan
diskriminasi; verbal seperti, memaki, mengejek, dan memfitnah. Semua
kondisi ini merupakan tekanan dan pengalaman traumatis bagi remaja dan
seringkali mempresipitasikan terjadinya gangguan mental bagi remaja. (IDAI,
2013)

Hazing adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh anggota kelompok


yang sudah senior yang berusaha mengintimidasi kelompok yang lebih junior
untuk melakukan berbagai perbuatan yang memalukan, bahkan tidak jarang
kelompok senior ini menyiksa dan melecehkan sehingga menimbulkan
perasaan tidak nyaman baik secara fisik maupun psikik. Perbuatan ini
seringkali dilakukan sebagai prasyarat untuk diterima dalam suatu kelompok
tertentu. Ritual hazing ini sudah lama dilakukan sebagai tradisi dari tahun ke
tahun sebagai proses inisiasi penerimaan seseorang dalam suatu kelompok dan
biasanya hanya berlangsung singkat, namun tidak jarang terjadi perpanjangan
sehingga menimbulkan tekanan bagi remaja yang mengalaminya. (IDAI,
2013)

Bullying dan hazing merupakan suatu tekanan yang cukup serius bagi
remaja dan berdampak negatif bagi perkembangan remaja. Prevalensi kedua
kondisi di atas diperkirakan sekitar 10 - 26%. Dalam penelitian tersebut
dijumpai bahwa siswa yang mengalami bullying menunjukkan perilaku yang
tidak percaya diri, sulit bergaul, merasa takut datang ke sekolah sehingga
angka absebsi menjadi tinggi, dan kesulitan dalam berkonsetransi di kelas

7
sehingga mengakibatkan penurunan prestasi belajar; tidak jarang mereka yang
mengalami bullying maupun hazing yang terus menerus menjadi depresi dan
melakukan tindak bunuh diri. (IDAI, 2013)

3. Situasi dan kehidupan; telah terbukti bahwa terdapat hubungan yang erat
antara timbulnya gangguan mental dengan berbagai kondisi kehidupan dan
sosial masyarakat tertentu seperti, kemiskinan, pengangguran, perceraian
orangtua, dan adanya penyakit kronik pada remaja. (IDAI, 2013)

2. Faktor protektif

Faktor protektif merupakan faktor yang memberikan penjelasan bahwa tidak


semua remaja yang mempunyai faktor risiko akan mengalami masalah perilaku
atau emosi, atau mengalami gangguan jiwa tertentu. Rutter (1985) menjelaskan
bahwa faktor protektif merupakan faktor yang memodifikasi, merubah, atau
menjadikan respons seseorang menjadi lebih kuat menghadapi berbagai macam
tantangan yang datang dari lingkungannya. Faktor protektif ini akan berinteraksi
dengan faktor risiko dengan hasil akhir berupa terjadi atau tidaknya masalah
perilaku atau emosi, atau gangguan mental di kemudian hari. (IDAI, 2013)

Rae G N dkk. mengemukakan berbagai faktor protektif, antara lain adalah:

 Karakter/watak personal yang positif

 Lingkungan keluarga yang suportif

 Lingkungan sosial yang berfungsi sebagai sistem pendukung untuk


memperkuat upaya penyesuaian diri remaja

 Keterampilan sosial yang baik

 Tingkat intelektual yang baik

Menurut E. Erikson, dengan memperkuat faktor protektif dan menurunkan


faktor risiko pada seorang remaja maka tercapailah kematangan kepribadian dan
kemandirian sosial yang diwarnai oleh:

8
 Self awareness yang ditandai oleh rasa keyakinan diri serta kesadaran akan
kekurangan dan kelebihan diri dalam konteks hubungan interpersonal
yang positif.

 Role of anticipation and role of experimentation, yaitu dorongan untuk


mengantisipasi peran positif tertentu dalam lingkungannya, serta adanya
keberanian untuk bereksperimen dengan perannya tersebut yang tentunya
disertai dengan kesadaran akan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam
dirinya.

 Apprenticeship, yaitu kemauan untuk belajar dari orang lain untuk


meningkatkan kemampuan/keterampilan dalam belajar dan berkarya.

Menurut IDAI, masalah aktual kesehatan mental remaja saat ini, antaralain:

1. Perubahan psikoseksual

Produksi hormon testosteron dan hormon estrogen mempengaruhi fungsi


otak, emosi, dorongan seks dan perilaku remaja. Selain timbulnya dorongan
seksual yang merupakan manifestasi langsung dari pengaruh hormon tersebut,
dapat juga terjadi modifikasi dari dorongan seksual itu dan menjelma dalam
bentuk pemujaan terhadap tokoh-tokoh olah raga, musik, penyanyi, bintang film,
pahlawan, dan lainnya. (IDAI, 2013)

Remaja sangat sensitif terhadap pandangan teman sebaya sehingga ia


seringkali membandingkan dirinya dengan remaja lain yang sebaya, bila dirinya
secara jasmani berbeda dengan teman sebayanya maka hal ini dapat memicu
terjadinya perasaan malu atau rendah diri. (IDAI, 2013)

2. Pengaruh teman sebaya

Kelompok teman sebaya mempunyai peran dan pengaruh yang besar


terhadap kehidupan seorang remaja. Interaksi sosial dan afiliasi teman sebaya
mempunyai peranan yang besar dalam mendorong terbentuknya berbagai
keterampilan sosial. Bagi remaja, rumah adalah landasan dasar sedangkan

9
dunianya adalah sekolah. Pada fase perkembangan remaja, anak tidak saja
mengagumi orangtuanya, tetapi juga mengagumi figur-figur di luar lingkungan
rumah, seperti teman sebaya, guru, orangtua temanya, olahragawan, dan lainnya.
(IDAI, 2013)

Dengan demikian, bagi remaja hubungan yang terpenting bagi diri mereka
selain orangtua adalah teman-teman sebaya dan seminatnya. Remaja mencoba
untuk bersikap independent dari keluarganya akibat peran teman sebayanya. Di
lain pihak, pengaruh dan interaksi teman sebaya juga dapat memicu timbulnya
perilaku antisosial, seperti mencuri, melanggar hak orang lain, serta membolos,
dan lainnya. (IDAI, 2013)

3. Perilaku berisiko tinggi

Remaja kerap berhubungan berbagai perilaku berisiko tinggi sebagai bentuk


dari identitas diri. 80% dari remaja berusia 11-15 tahun dikatakan pernah
menunjukkan perilaku berisiko tinggi minimal satu kali dalam periode tersebut,
seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta perilaku
antisosial (mencuri, berkelahi, atau bolos) dan 50% remaja tersebut juga
menunjukkan adanya perilaku berisiko tinggi lainnya seperti mengemudi dalam
keadaan mabuk, melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, dan perilaku
criminal yang bersifat minor. Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa 50%
remaja pernah menggunakan marijuana, 65% remaja merokok, dan 82% pernah
mencoba menggunakan alkohol. (IDAI, 2013)

Dengan melakukan perbuatan tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka


merasa lebih dapat diterima, menjadi pusat perhatian oleh kelompok sebayanya,
dan mengatakan bahwa melakukan perilaku berisiko tinggi merupakan kondisi
yang mendatangkan rasa kenikmatan. Walaupun demikian, sebagian remaja juga
menyatakan bahwa melakukan perbuatan yang berisiko sebenarnya merupakan
cara mereka untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dalam diri mereka atau

10
mengurangi rasa ketegangan. Dalam beberapa kasus perilaku berisiko tinggi ini
berlanjut hingga individu mencapai usia dewasa. (IDAI, 2013)

4. Kegagalan pembentukan identitas diri

Menurut J. Piaget, awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang


besar menuju cara berpikir yang lebih abstrak, konseptual, dan berorientasi ke
masa depan. Remaja mulai menunjukkan minat dan kemampuan di bidang
tulisan, seni, musik, olah raga, dan keagamaan. E. Erikson dalam teori
perkembangan psikososialnya menyatakan bahwa tugas utama di masa remaja
adalah membentuk identitas diri yang mantap yang didefinisikan sebagai
kesadaran akan diri sendiri serta tujuan hidup yang lebih terarah. Mereka mulai
belajar dan menyerap semua masalah yang ada dalam lingkungannya dan mulai
menentukan pilihan yang terbaik untuk mereka seperti teman, minat, atau pun
sekolah. Di lain pihak, kondisi ini justru seringkali memicu perseteruan dengan
orangtua atau lingkungan yang tidak mengerti makna perkembangan di masa
remaja dan tetap merasa bahwa mereka belum mampu serta memperlakukan
mereka seperti anak yang lebih kecil. (IDAI, 2013)

Bila terjadi kegagalan atau gangguan proses identitas diri ini maka terbentuk
kondisi kebingungan peran (role confusion). Role confusion ini sering dinyatakan
dalam bentuk negativisme seperti, menentang dan perasaan tidak percaya akan
kemampuan diri sendiri. Negativisme ini merupakan suatu cara untuk
mengekspresikan kemarahan akibat perasaan diri yang tidak adekuat akibat dari
gangguan dalam proses pembentukan identitas diri di masa remaja ini. (IDAI,
2013)

5. Gangguan perkembangan moral

Moralitas adalah suatu konformitas terhadap standar, hak, dan kewajiban


yang diterima secara bersama, apabila ads dua standar yang secara sosial diterima
bersama tetapi saling konflik maka umumnya remaja mengambil keputusan untuk
memilih apa yang sesuai berdasarkan hati nuraninya. Dalam pembentukan

11
moralitasnya, remaja mengambil nilai etika dari orangtua dan agama dalam upaya
mengendalikan perilakunya. Selain itu, mereka juga mengambil nilai apa yang
terbaik bagi masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, penting bagi orangtua
untuk memberi suri teladan yang baik dan bukan hanya menuntut remaja
berperilaku baik, tetapi orangtua sendiri tidak berbuat demikian. (IDAI, 2013)

Secara moral, seseorang wajib menuruti standar moral yang ada namun
sebatas bila hal itu tidak mebahayakan kesehatan, bersifat manusiawi, serta
berlandaskan hak asasi manusia. Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki
usia dewasa, terbentuklah suatu konsep moralitas yang mantap dalam diri remaja.
Jika pembentukan ini terganggu maka remaja dapat menunjukkan berbagai pola
perilaku antisosial dan perilaku menentang yang tentunya mengganggu interaksi
remaja tersebut dengan lingkungannya, serta dapat memicu berbagai konflik.
(IDAI, 2013)

6. Stres di masa remaja

Banyak hal dan kondisi yang dapat menimbulkan tekanan (stres) dalam
masa remaja. Mereka berhadapkan dengan berbagai perubahan yang sedang
terjadi dalam dirinya maupun target perkembangan yang harus dicapai sesuai
dengan usianya. Di pihak lain, mereka juga berhadapan dengan berbagai
tantangan yang berkaitan dengan pubertas, perubahan peran sosial, dan
lingkungan dalam usaha untuk mencapai kemandirian. (IDAI, 2013)

Tantangan ini tentunya berpotensi untuk menimbulkan masalah perilaku


dan memicu timbulnya tekanan yang nyata dalam kehidupan remaja jika mereka
tidak mampu mengatasi kondisi tantangan tersebut. (IDAI, 2013)

12
2.4 Pencegahan Masalah Mental Emosional Remaja

Pencegahan dan penanganan masalah mental emosional secara tepat sejak


dini diharapkan dapat membantu remaja untuk perkembangan yang lebih baik
bagi masa depannya (Utami, 2012).

Salah satu usaha pencegahan agar permasalahan remaja tidak menjadi


gangguan atau penyimpangan pada remaja adalah usaha kita untuk dapat
melakukan pengenalan awal atau deteksi dini. Beberapa instrumen skrining sudah
banyak dikembangkan untuk melakukan deteksi dini terhadap penyimpangan
masalah psikososial remaja diantaranya adalah Pediatric Symptom Checklist
(PSC), the Child Behavior Checklist (CBCL), the Strengths and Difficulties
Questionnaire (SDQ). Ketiga instrument tersebut terbukti dapat meningkatkan
deteksi disfungsi psikosial pada anak dan remaja (Vogels et al., 2009).

Pediatric symptom checklist (PCS) adalah alat skrining untuk mendeteksi


secara dini kelainan psikososial untuk mengenali adanya masalah emosional dan
perilaku yang didalamnya berisi beberapa pertanyaan tentang kondisi-kondisi
perilaku anak yang dikelompokkan dalam 3 masalah yaitu atensi, internalisasi,
dan eksternalisasi. Terdapat 2 versi, yaitu PSC-17 yang diisi oleh orang tua untuk
anak usia 4-16 tahun dan PSC-35 yang diisi sendiri oleh remaja (Youth-PSC)
untuk remaja usia > 11 tahun. PSC-Y (Pediatric Checklist Symptom for Youth),
adalah PSC-35 yang memiliki dua pertanyaan tambahan mengenai pemikiran
untuk bunuh diri (Lazor, et al., 2014).

2.4.1 PCS-Y (Pediatric Sympton Checklist for Youth)

PCS adalah instrumen yang efektif untuk mengidentifikasi secara dini


masalah emosional dan psikososial pada remaja usia sekolah (Muzzolon SRB
et al., 2013). PCS-Y dapat digunakan untuk remaja usia 11-18 tahun. The
American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining untuk kesehatan
mental dilakukan setiap tahun (Lazor et al., 2014).

13
Pada kuesioner PSC-Y terdapat 35 pertanyaan dan 2 pertanyaan
tambahan mengenai bunuh diri (total 37 pertanyaan) . PSC-Y berdasarkan
individual problem area memiliki 4 kategori, yakni masalah internalisasi ( ),
masalah atensi ( ), masalah eksternalisasi ( ), dan memilki pikiran untuk
bunuh diri ( ). Jawaban dari pertanyaan kuesioner dikelompokan menjadi 3
yakni tidak pernah (skor 0), kadang-kadang (skor 1), dan sering (skor 2). Hasil
skor PCS-Y dikatakan positif (mengalami masalah psikosial) jika skor total
≥30 atau didapatkan jawaban “YA” pada pertanyaan mengenai bunuh diri (36
atau 37). Hasil menunjukan adanya masalah internalisasi jika skor ( ) ≥5,

masalah atensi jika skor ( ) ≥7, masalah eksternalisasi jika skor ( ) ≥7 dan

memiliki pikiran bunuh diri jika menjawab “YA” pada pertanyaan 36 atau 37.
Remaja dengan hasil PSC-Y yang positif harus dievalauasi lebih lanjut di
pelayanan kesehatan untuk menentukan benar adanya gangguan dan tindakan
selanjutnya. Kuesioner ini hanya mengindikasikan kemungkinan remaja yang
beresiko mengalami masalah mental yang signifikan atau bunuh diri. Hasil ini
tidak menentukan diagnosis ataupun pengganti evaluasi klinis (Lazor et al.,
2014).

14
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
memberikan gambaran kesehatan mental emosional remaja melalui skrining psikosial
menggunakan PCS-Y di MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah Kecamatan
Martapura Timur.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di ruang kelas MTs Izharil Ulum Desa Melayu
Tengah Kecamatan Martapura Timur, pada tanggal 30 September 2017.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa siwi di MTs Izharil Ulum
Desa Melayu Tengah Kecamatan Martapura Timur.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh siswa siwi di
MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah Kecamatan Martapura Timur, yang hadir
pada saat di laksanakan penelitian.
Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini yakni:
1. Siswa siswi kelas VII, VIII dan IX MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah
Kecamatan Martapura Timur
2. Berusia antara 11-18 tahun
3. Bersedia menjadi responden penelitian
Kriteria eksklusi pada sampel penelitian ini yakni:
1. Tidak hadir saat dilakukan penelitian

15
3.4 Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling,
dengan sasaran seluruh siswa siswi di MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah
Kecamatan Martapura Timur. Besar sampel yang digunakan adalah whole sample
atau sebesar populasi yang ada yang memenuhi kriteria inklusi yakni sebanyak 79
orang.

3.5 Definisi Operasional


Definisi
No Variabel Alat ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Operasional
1 Kesehatan Kesehatan Kuesioner  Mengalami masalah Nominal
mental mental emosinal Pediatric psikososial, jika skor
emosional remaja Symptom PCS-Y ≥ 30 atau
remaja berdasarkan Checklist for terdapat jawaban YA
hasil skrining Youth (PSC-Y) pada kuesioner nomor
psikososial pada 36 atau 37
siswa siswi  Tidak mengalami
masalah psikososial,
jika skor PCS-Y ≤ 30
 Mengalami masalah
internalisasi, jika skor
≥5
 Mengalami masalah
atensi, jika skor ≥7
 Mengalami masalah
eksternalisasi, jika skor
≥7
 Memiliki pikiran
bunuh diri jika pada
pertanyaan nomor 36
atau 37 menjawab YA

16
3.6 Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner PSC-Y yang
berisi 35 pertanyaan dengan 2 pertanyaan tambahan (total 37) untuk menilai
masalah psikosial dan perilaku pada remaja. Responden diberi waktu 5 menit
untuk mengisi kuesioner.
Pengumpulan data dilakukan setelah semua kuesioner terisi oleh
responden. Data primer diperoleh dari hasil kuisioner yang telah diisi oleh
responden.

3.7 Pengolahan dan Analisa Data


3.7.1 Pengolahan Data
Pengolahan data diawali dengan proses editing yakni meneliti kembali
apakah lembar kuesioner sudah cukup baik sehingga dapat di proses lebih lanjut.
editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika terjadi
kesalahan maka upaya perbaikan dapat segera dilaksanakan. dilanjutkan dengan
pengkodean (coding) yakni usaha mengklarifikasi jawaban-jawaban yang ada
menurut macamnya, menjadi bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan
kode, lalu pemberian nilai (scoring) dengan menilai hasil dari jawaban pada
kuesioner, sesuai aturan scoring dari kuesioner tersebut. Setelah itu dilakukan
pemasukan data (entry) dengan memasukan data ke dalam komputer sesuai
dengan kriteria. Kemudian dilakukan juga proses pembersihan data (Cleaning
data) yakni data yang telah di masukan kedalam komputer diperiksa kembali
untuk mengkoreksi kemungkinan kesalahan.
3.7.2 Analisa Data
Analisis data berupa analisis deskriptif. Kategori responden dan data yang
berskala nominal dianalisis secara deskriptif dan hasilnya dinyatakan dalam
distribusi frekuensi dan persentase, disajikan dalam bentuk tabel.

17
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian dilakukan pada tanggal 30 September 2017 di MTs Izharil Ulum
dengan jumlah responden sebanyak 79 orang, yang terdiri dari kelas VII sebanyak
22 orang, kelas VIII sebanyak 28 orang dan kelas IX sebanyak 29 orang.
4.1.1 Karakteristik Responden
Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia
No. Karakteristik Responden Frekuensi (n) Persentase (%)
1. Jenis Kelamin
- Laki-laki 28 35,44
- Perempuan 51 64,56
2. Usia
- 12 tahun 13 16,4
- 13 tahun 24 30,4
- 14 tahun 27 34,2
- 15 tahun 9 11,4
- 16 tahun 4 5,1
- 17 tahun 2 2,5

Berdasarkan tabel 1, didapatkan bahwa responden perempuan lebih


banyak dibandingkan responden laki-laki, yakni responden laki-laki
sebanyak 28 orang (35,44%) dan responden perempuan sebanyak 51 orang
(64,56%). Disamping itu didapatkan pula usia tebanyak responden adalah
14 tahun yakni sebanyak 27 orang (34,2%), diikuti usia 13 tahun 24 orang
(30,4%) dan usia paling sedikit adalah 17 tahun yakni sebanyak 2 orang
(2,5%).

18
4.1.2 Gambaran Kesehatan Mental Emosional Remaja Melalui Skrining
Psikososial menggunakan PSC-Y di MTs Izharil Ulum Desa Melayu
Tengah Kecamatan Martapura Timur
Pada penelitan ini kesehatan mental emosional remaja digambarkan
melalui deskripsi hasil skrining masalah psikosial dan interpretasi
menggunakan kuesioner PSC-Y yang digambarkan pada tabel-tabel berikut:

Tabel 2. Distribusi hasil skrining psikososial menggunakan PCS-Y pada


siswa siswi di MTs Izharil Ulum
No. PSC-Y Frekuensi Presentase
(n) (%)
1. Mengalami masalah psikososial 3 3,8
2. Tidak mengalami masalah psikososial 76 96,2
Total 79 100

Berdasarkan Tabel 2, didapatkan hasil skrining psikososial secara


keseluruhan dengan hasil 3 orang (3,8%) mengalami masalah psikososial
(skor PSC-Y ≥30) dan yang tidak mengalami masalah psikososial (skor
PSC-Y ≤ 30) sebanyak 76 orang (96,2%).

Tabel 3. Distribusi hasil skrining psikososial menggunakan PSC-Y


berdasarkan jenis kelamin
No. PSC-Y Laki-laki Perempuan
n(%) n(%)
1. Mengalami masalah psikososial 2(7,14) 1(1,96)
2. Tidak mengalami masalah psikososial 26(92,86) 50(98,04)
Total 28(100) 51(100)

Berdasarkan Tabel 3, didapatkan hasil dari 3 orang yang mengalami


masalah psikososial 2 orang adalah laki-laki dan 1 orang adalah perempuan.
Sedangkan yang tidak mengalami masalah psikososial pada laki-laki

19
sebanyak 26 orang (92,86%) dan pada perempuan sebanyak 50 orang
(98,04%).

Tabel 4. Distribusi interpretasi PSC-Y berdasarkan individual problem area


No. Interpretasai PSC-Y berdasarkan Frekuensi Persentase
individual problem area (n) (%)
1. Masalah Internalisasi (contoh: depresi, 11 13,9
ansietas)
2. Masalah Atensi (contoh: Attention deficit 1 1,3
hyperactive disorder/ADHD)
3. Masalah eksternalisasi (contoh: conduct 2 2,5
disorder)
4. Memiliki pemikiran untuk bunuh diri 1 1,3
5. Normal/ tidak bermasalah 64 81,0
Total 79 100

Berdasarkan Tabel 4, didapatkan hasil interpretasi PSC-Y pada


masing-masing individual problem area yakni masalah internalisasi seperti
depresi dan ansietas dialami oleh 11 orang (13,9%), masalah atensi seperti
ADHD dialami oleh 1 orang (1,3%), masalah eksternalisasi seperti conduct
disorder dialami oleh 2 orang (2,5%), memiliki pemikiran untuk bunuh diri
sebanyak 1 orang (1,3%) dan responden yang tidak bermasalah/ normal
sebanyak 64 orang (81%).

Tabel 5. Distribusi interpretasi PSC-Y berdasarkan individual problem area


menurut jenis kelamin
No. Interpretasai PSC-Y berdasarkan Laki-laki Perempuan
individual problem area n(%) n(%)
1. Masalah Internalisasi (contoh: depresi, 3(10,7) 8(15,69)

20
ansietas)
2. Masalah Atensi (contoh: Attention deficit 1(3,57) 0(0,0)
hyperactive disorder/ADHD)
3. Masalah eksternalisasi (contoh: conduct 1(3,57) 1(1,96)
disorder)
4. Memiliki pemikiran untuk bunuh diri 1(3,57) 0(0,0)
5. Normal/ tidak bermasalah 22(78,59) 42(82,35)
Total 28(100) 51(100)

Berdasarkan tabel 5, didapatkan hasil diantara siswa laki-laki yang


mengalami, masalah internalisasi seperti depresi dan ansietas sebanyak 3
orang (10,7%), maslah atensi seperti ADHD sebanyak 1 orang (3,57%),
masalah eksternalisasi seperti conduct disorder sebanyak 1 orang (3,57%),
memiliki pemikiran untuk bunuh diri sebanyak 1 orang (3,57%). Sedangkan
pada siswi perempuan didapatkan mengalami masalah internalisasi seperti
depresi dan ansietas sebanyak 8 orang (15,69%), masalah eksternalisasi
seperti conduct disorder sebanyak 1 orang (1,96%) dan tidak didapatkan
siswi yang mengalami masalah atensi seperti ADHD maupun memiliki
pemikiran untuk bunuh diri.

4.2 Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa di MTs
Izharil Ulum berdasarkan skor PSC-Y tidak mengalami masalah psikosial
(96,2%), sedangkan yang mengalami masalah psikosoial hanya 3,8%. Hal ini
dikarenakan remaja memiliki kemampuan untuk terhindar dari kebimbangan,
kebingungan, kecemasan, dan konflik internal maupun eksternal (Rahmawati,
2011). Meskipun demikian, masa remaja merupakan masa dimana seorang
individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan
mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh
dengan masalah-masalah. Karenanya remaja sangat rentan mengalami
masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai

21
akibat terjadinya perubahan sosial. Hal tersebut dapat memicu terjadi
kenakalan pada remaja. (Kartono, 2010)
PSC-Y (Pediatric symptom checklist for youth) adalah salah satu
kuesioner yang dirancang untuk mendeteksi secara umum adanya masalah
psikososial dan perilaku pada remaja. Responden dengan hasil skor PSC-Y
yang positif mengalami masalah psikosial harus di evluasi lebih lanjut di
pelayanan kesehatan primer untuk menentukan jika hasil kuesioner signifikan,
menyebabkan gangguan dan perlu dilakukan rujukan ke spesialis kesehatan
jiwa atau follow-up maupun tatalaksana oleh pelayanan kesehatan primer.
(Lazor, et al., 2014)
Petanyaan-pertanyaan pada kuesioner PCS-Y terdiri dari individual
problem area yang fokus pada masalah internalisasi, eksternalisasi dan atensi,
serta pertanyaan tambahan yang menilai adanya pikiran untuk bunuh diri. Dari
hasil penelitian ini didapatkan masalah terbanyak yang dialami siswa adalah
masalah internalisasi seperti depresi dan ansietas (kesemasan) yakni sebanyak
11 orang (13,9%), diikuti masalah eksternalisasi seperti conduct disorder
(gangguan perilaku menyimpang yang melanggar norma) sebanyak 2 orang
(2,5%), dan yang memiliki masalah atensi dan pemikiran bunuh diri masing-
masing 1 orang (1,3%).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa yang
mengalami masalah internalisasi adalah perempuan, yakni sebanyak 8 orang
atau 15,69% dari seluruh siswa perempuan, sedangkan pada laki-laki
presentasenya lebih rendah (10,7%), yakni sebanyak 3 dari seluruh siswa laki-
laki. Sebaliknya, untuk masalah atensi, ekternlisasi dan memiliki pikiran
untuk bunuh diri, presentase pada siswa laki-laki lebih besar dari pada
perempuan yakni pada laki-laki masalah atensi sebanyak 3,57% dan
perempuan 0%, masalah eksternalisasi pada laki-laki sebanyak 3,57% dan
perempuan 1,96%, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri pada laki-laki
3,57% dan perempuan 0%.

22
Masalah internalisasi adalah masalah perilaku yang negatif terhadap
diri sendiri. Orang yang memiliki masalah internalisasi menjadi sulit untuk
mengatasi situasi yang penuh stres atau emosi negatif dan cenderung
mengarahkannya ke dalam diri sendiri menjadi perilaku-perilaku seperti
menarik diri dari sosial, merasa bersalah, kesepian dan sedih yang
berkepanjangan, cemas, ketakutan, sering menegeluh gejala fisik yang tidak
jelas penyebabnya. Contoh dari masalah internalisasi adalah depresi dan
ansietas (kecemasan), yang merupan salah satu jenis gangguan jiwa ringan.
Masalah internalisasi memang lebih sering terjadi pada perempuan, karena
perempuan memiliki sifat yang cenderung melakukan internalisasi tehadap
emosinya. Sedangkan pada laki-laki lebih sering terjadi masalah
eksternalisasi. (Rowan, 2011)
Masalah eksternalisasi adalah perilaku negatif yang diarahkan kepada
lingkungan luar/ ekternal. Orang dengan masalah eksternalisasi
mengekspresikan emosi negatif dengan mengarahkan perasaannya kepada
orang lain misalnya melakukan perilaku-perilaku agresif dan impulsif seperti
berkelahi, mencuri, merusak properti, dan menolak untuk mematuhi
peraturan. Contohnya adalah conduct disorder/ gangguan perilaku
menyimpang yang melanggar norma (Rini, 2010). Laki-laki lebih sering
mengalami masalah eksternalisasi, karena pada laki-laki memiliki
kecenderungan untuk mengeksternalisasi distress yang dialami seperti
melakukan perilaku agresif. (Dingfelder, 2011)
Masalah atensi seperti ADHD (Attention deficit hyperactive disorder)
juga lebih sering dialami laki-laki daripada perempuan. ADHD adalah
gangguan perilaku yang ditandai dengan perilaku hipeaktif, sulit
berkonsentrasi yang dialami oleh anak dan remaja. (Motamedi, et al., 2016)
Bunuh diri adalah penyebab tetinggi ketiga kematian pada remaja.
Skrining pemikiran bunuh diri pada remaja dapat dilakukan untuk mencegah
kejadian bunuh diri pada remaja. Remaja yang meiliki resiko lebih tinggi

23
dalam memiliki pikiran bunuh diri antaralain adalah remaja yang mengalami
depresi, penggunaan alkohol, riwayat keluarga dengan gangguan jiwa, dan
masalah psikososial. Berdasarkan penilitan di Amerika jumlah kejadian bunuh
diri meningkat pada usia 15-19 tahun, dengan insidensi usaha untuk bunuh
diri lebih banyak tejadi pada perempuan daripada laki-laki. Namun kejadian
bunuh diri yang berhasil terjadi lebih banyak pada laki-laki daripada
perempuan (Rubin, 2013). Pada penelitian ini di dapatkan siswa yang
memiliki pikiran untuk bunuh diri adalah 1 orang yakni laki-laki dengan usia
16 tahun, yang juga memiliki mengalami masalah psikosial berdasarkan skor
PSC-Y.
Secara umum hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar
siswa di MTs Izharil Ulum memiliki kesehatan mental emosional yang baik.
Namun ada sebagian kecil yang memiliki masalah mental emosional sehingga
perlu dilakukan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini
diperoleh gambaran kesehatan mental emosional remaja melalui skrining PSC-

24
Y di MTs Izharil Ulum Desa Melayu Tengah Kecamatan Martapura Timur tahun
2017 sebagai berikut:
1. Siswa yang memiliki masalah psikosial 3 orang (3,8%)
2. Siswa yang memiliki masalah internalisasi 11 orang (13,9%)
3. Siswa yang memiliki masalah atensi 1 orang (1,3%)
4. Siswa yang memiliki masalah eksternalisasi 2 orang (2,5%)
5. Siswa yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri 1 orang (1,3%)
6. Siswa yang tidak memiliki masalah psikososial 76 orang (96,2%)
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
remaja di MTs Izhari Ulum Desa Melayu Tengah Kecamatan Martapura Timur
memiliki kesehatan mental emosional yang cukup baik dan hanya sebagian kecil
yang memilik masalah psikosial dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

5.2 Saran
Deteksi dini (skrining) masalah kesehatan mental dan emosional pada
anak usia sekolah sangat penting untuk mencegah gangguan yang lebih berat
pada kehidupan selanjutnya. Sekolah dan guru sebagai lingkungan sekunder
setelah keluarga merupakan pihak yang mempunyai peran penting dalam
perkembangan kesehatan mental anak. Skrining masalah mental dan emosional
remaja usia sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner PSC yang
dapat diisi oleh orangtua atau anak sendiri.
Bagi puskesmas dapat melakukan kegiatan skrining ini secara rutin dalam
upaya mencegah masalah kesehatan mental pada remaja. Bagi sekolah dan
keluarga perlu melakukan pendampingan kepada siswa yang memiliki memiliki
masalah psikosial beradarkan skor PSC, agar tidak berkembang menjadi masalah
mental yang lebih berat.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor resiko maupun
faktor protektif yang berhubungan dengan munculnya masalah mental dan
emosional pada remaja. Selain itu diperlukan jumlah sampel yang lebih besar

25
agar dapat dilakukan uji statistik. Penentuan sampel dengan teknik probability
sampling juga diperlukan agar hasil penelitian dapat digeneralisasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dingfelder, S., Study Uncovers A Reason Behind Sex Differences in Mental


Illness. Vol 42, No. 10. American Psychological Association. Monitor on
Psychology. November 2011.
2. Dhamayanti M. Masalah mental emosional pada remaja: deteksi dan
intervensi. Dalam: Majalah Sari Pediatri 2011; 13(Supll): 45-51.

26
3. Gunarsa DS. Psikologi remaja. Jakarta: Gunung Mulia; 2007.
4. IDAI. 10 Sep 2013. Masalah kesehatan mental emosional remaja. (Diakses
tanggal 29 Sep 2017). Diperoleh dari: www.idai.or.id/artikel/seputar-
kesehatan-anak/masalah-kesehatan-mental-emosional-remaja
5. Kartono, Kartini. Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Rajawali Persada; 2010. h.
3; 7.
6. Lazor, G., Joanna G., Seibel, J., Wheeler, A. PSC-Y. Laurel Pediatrics and
Teen Medical Center. 2014.
7. Motamedi, M., Bierman, K., Huang-Pollock, CL., Rejection Reactivity
Executive Function Skills and Social Adjustment Problems of Inattentive and
Hyperactive Kindergarteners. Soc Dev. 2016 Mei; 25(2):322-339.
8. Rahmawati, I. Skrining Psikososial dengan PSC pada Siswa-Siswi Kelas IX di
SMP Islam Al Hikmah Desa Pelemkerep Kecamatan Mayong Kabupaten
Jepara. 2011.
9. Rini, IRS., Mengenali Gejala dan Penyebab Conduct Disorder. Vol 8, No 1.
Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Psycho Idea Universitas Muhamadiyah
Purwokerto. 2010.
10. RISKESDAS. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Provinsi Kalimantan
Selatan Tahun 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
DEPKES-RI.2009.
11. Rowan K., (2011, Agustus 19). In Mental Illness, Women Internalize and Men
Externalized. (Diakses tanggal 4 Okt 2017) Diperoleh dari:
www.livescience.com/15658-mental-ilness-women-men-difference.html
12. Rubin, E., (2013, April 5). Suicidal Behaviour in Adolescents. (Diakses
tanggal 4 okt 2017) Diperoleh dari:
www.psychologytoday.com/blog/demystifying-psychiatry/201304/suicidal-
behaviors-in-adolecents
13. Satgas Remaja IDAI. Bunga rampai kesehatan remaja. Jakarta : Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010.
14. Sarlito, WS. Psikologi remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada; 2002.
15. Sudoyo, Aru W. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006.

27
16. Utami, DP. Masalah Mental dan Emosional pada Siswa SMP Kelas Akselarasi
dan Reguler. Semarang: FK UNDIP; 2012
17. Vogels, AG. Crone, MR., Hoekstra, F., Reijneveld, SA. Comparing Three
Short Quetionnaire to Detect Psychological Dysfunction among Primary
School Cildren: A Randomized Method. BMC Public Health. 2009 Des
28;9:489.
18. Wiguna T. Masalah kesehatan mental remaja di era globalisasi. Dalam : The
2nd adolescent health national symposia: current challenges in management.
Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM; 2009. h . 62-71.

LAMPIRAN

Kuesioner PSC-Y
No. Perilaku Tidak Kadang- Sering
Pernah kadang
1. Sering mengeluh nyeri atau sakit
2. Menyendiri
3. Mudah lelah, kurang energi
4. Gelisah sulit untuk duduk tenang
5. Bermasalah dengan guru disekolah
6. Kurang perhatian pada pelajaran di sekolah
7. Berperilaku seolah-olah dikendalikan oleh mesin

(seperti robot)
8. Terlalu banyak melamun
9. Perhatian mudah teralihkan

28
10. Takut pada situasi baru
11. Sedih dan murung
12. Mudah marah
13. Cepat putus asa
14. Susah berkonsentrasi
15. Tidak suka berkawan
16. Berkelahi dengan anak lain
17. Membolos sekolah
18. Penurunan prestasi disekolah
19. Memandang rendah diri sendiri
20. Ke dokter, tetapi tidak ditemukan kelainan
21. Gangguan tidur (sulit tidur)
22. Kecemasan yang berlebihan
23. Ingin bersama orang tua lebih lama
24. Merasa dirinya buruk
25. Mengambil resiko berlebihan
26. Ceroboh
27. Kurang gembira

28. Kekanak-kanakan bila dibandingkan anak


sebayanya
29. Tidak mengikuti peraturan
30. Tidak menunjukan perasaan
31. Tidak memahami perasaan orang
32. Mengganggu orang lain
33. Menyalahkan orang lain atas kesalahan diri
sendiri
34. Mengambil barang yang bukan kepunyaannya
35. Menolak untuk berbagi (tidak mau berbagi)
36. Dalam 3 bulan terakhir, apakah pernah berfikir Ya Tidak
untuk bunuh diri?
37. Apakah anda pernah mencoba untuk bunuh Ya Tidak
diri?

29

Anda mungkin juga menyukai