Anda di halaman 1dari 13

MODUL IX

PENGENALAN PERANGKAT LUNAK DAN SENSOR

LAPORAN AWAL

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Penilaian Matakuliah


Praktikum Keahlian Fisika

MUTIARA NAWANSARI
140310160057

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................1

BAB I .......................................................................................................................2

1.1 Latar Belakang ..........................................................................................2

1.2 Tujuan........................................................................................................2

BAB II ......................................................................................................................3

BAB III ....................................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................12

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada era globalisasi yang mengedepankan Revolusi Industri 4.0 ini, membuat
teknologi menjadi poin penting dalam berputarnya roda kehidupan, baik dalam
aspek edukasi, ekonomi, maupun kehidupan sehari-hari pada umumnya.
Perkembangan teknologi sekarang ini telah mengalami peningkatan sedemikian
pesatnya hingga ke berbagai sisi kehidupan manusia. Perkembangan tersebut
didukung oleh tersedianya perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak
(software) yang semakin canggih dan meningkat kemampuannya. (F, 2015)
Sehingga kita sebagai generasi muda harus mengikuti perkembangan
teknologi seiring berkembangnya zaman. Mengenal dan memahami cara kerja dan
cara mengoperasikan perangkat lunak dan sensor menjadi salah satu dasar
pemahaman yang sangat penting dalam rangka bersaing di era globalisasi sekarang
dan kedepannya.

Praktikum kali ini tentang pengenalan perangkat lunak dan sensor yang secara
khusus menggunakan perangkat lunak codevision, proteus, dan ExtremeBurner
untuk menulis kode program pada mikrokontroler. Mikrokontroler yang akan
digunakan pada praktikum ini adalah ATMEGA8535.

1.2 Tujuan
1.2.1 Memahami dasar-dasar Sensor
1.2.2 Memahami dasar-dasar penggunaan Perangkat Lunak Proteus -ISIS,
CodeVision dan Prog-ISP

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perangkat Lunak


Perangkat lunak adalah (1) Perintah (program komputer) yang bila di
eksekusi memberikan fungsi dan unjuk kerja seperti yang di inginkan. (2) Struktur
data yang memungkinkan program memanipulasi informasi secara proporsional,
dan (3) Dokumen yang menggambarkan operasi dan kegunaan program. (Melwin,
2007)

2.1.1 Perangkat Lunak Codevision (CVAR)


CodeVisionAVR merupakan salah satu software pemograman yang
menggunakan bahasa C. CodeVision-AVR juga bisa digunakan untuk mengcompile
sintaks c++ dan menghasilkan menjadi sebuah file .hex, dimana file .hex tersebut
bisa dimasukkan ke dalam sebuah mikrokontroler yang kosong, sehingga
mikrokontroler tersebut bisa digunakan. Kemudian software ini cukup lengkap
karena telah dilengkapi simulator untuk LED, LCD dan monitor untuk komunikasi
serial. (Ariesta Priliani, 2014)

2.1.2 Perangkat Lunak Prog-ISP


Prog ISP v.1.72 adalah perangkat lunak untuk AVR downloader yang
digunakan dalam pemrograman mikrokontroler yang mengubah (download) data
program dari decimal ke heksadecimal karena mikrokontroler hanya mengenal
sistem bilangan decimal. ISP-Programmer merupakan program untuk memogram
mikrokontroler MCS-51 keluarga Atmel seperti AT89S51, AT89S52 dan
mikrokontroler jenis AVR seperti ATMEGA. Software ini bersifat portable jadi
tidak perlu di instal terlebih dahulu. (Ariesta Priliani, 2014)

2.1.3 Perangkat Lunak Proteus-ISIS


Software Proteus adalah sebuah software yang digunakan untuk mendesain
PCB yang juga dilengkapi dengan simulasi PSpice pada level skematik sebelum
rangkaian skematik di-upgrade ke PCB untuk memastikan PCB dapat berfungsi
dengan semestinya. Proteus mengkombinasikan program ISIS untuk membuat
skematik desain rangkaian dengan program ARES untuk membuat layout PCB dari
skematik yang dibuat. ISIS disini bukanlah ISIS yang merupakan kumpulan teroris
namun digunakan sebagai program untuk perancangan dan pendidikan, sedangkan
ARES atau disebut juga Advanced Routing and Editing Software digunakan untuk
membuat modul layout PCB. (Immersa Lab, 2018)

3
2.2 Mikrokontroler

Mikrokontroler adalah sebuah sistem komputer yang seluruh atau sebagian


besar elemennya dikemas dalam satu keping IC (integrated circuits) sehingga sering
disebut mikrokomputer cip tunggal. Lebih lanjut, mikrokontroler merupakan sistem
komputer yang mempunyai satu atau beberapa tugas yang sangat spesifik, berbeda
dengan personal computer (PC) yang memiliki beragam fungsi. (Taufiq Dwi Septian,
2010)

2.2.1 Mikrokontroler ATMEGA8535

Gambar 2.1 Pin out ATmega 8535 (ATMEL)

2.3 Sensor
Sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala
atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik,
energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya.
(Maulana, 2014)

2.3.1 Sensor Termistor


Sensor termistor adalah suatu jenis resistor yang sensitive terhadap adanya
perubahan suhu. Prinsip sensor termistor adalah memberikan perubahan resistansi
yang sebanding dengan perubahan suhu. Perubahan resistansi yang besar terhadap
perubahan suhu yang relatif kecil. Termistor yang dibentuk dari bahan oksida
logam campuran (sintering mixture), kromium, besi, kobalt, tembaga, atau nikel,
berpengaruh terhadap karakteristik termistor, sehingga pemilihan bahan oksida
tersebut harus dengan perbandingan tertentu.

4
Dimana termistor merupakan salah satu jenis sensor suhu yang mempunyai
koefisien temperatur yang tinggi. Komponen dalam thermistor ini dapat mengubah
nilai resistansi karena adanya perubahan temperatur. Dengan demikian dapat
mengubah energi panas menjadi energi listrik. Termistor dapat dibentuk dalam
bentuk yang berbeda- 10 beda, bergantung pada lingkungan yang akan dicatat
suhunya. Lingkungan ini termasuk kelembaban udara, cairan, permukaan padatan,
dan radiasi dari gambar dua dimensi. Termistor dapat dibedakan dalam 2 jenis,
yaitu termistor yang mempunyai koefisien negatif, disebut NTC (Negative
Temperature Coefisient). Termistor yang mempunyai koefisien positif yang disebut
PTC (Positive Temperature Coefisient). Kedua jenis termistor ini mempunyai
fungsinya masing-masing, tetapidi pasaran, yang lebih banyak digunakan adalah
termistor NTC. Karena termistor NTC material penyusunnya yaitu metal oksida,
dimana harganya lebih murah dari material penyusun PTC yaitu Kristal
tunggal.(Tridianto, 2015)

2.3.2 Sensor LDR (Light Dependant Resistor)


LDR digunakan sebagai sensor utama dalam tugas akhir ini, LDR (Light
Dependent Resistor) adalah salah satu jenis resistor yang nilai hambatannya
dipengaruhi oleh cahaya yang diterima. LDR dibuat dari Cadmium Sulfida yang
peka terhadap cahaya. Cahaya memiliki dua sifat yang berbeda yaitu sebagai
gelombang elektromagnetik dan foton/partikel energi (dualisme cahaya). Semakin
besar intensitas cahaya yang datang, semakin banyak elektron yang terlepas dari
ikatan. Sehingga hambatan LDR akan turun saat cahaya meneranginya.

LDR mempunyai nilai hambatan yang sangat besar ketika tak ada cahaya
yang meneranginya (gelap) yakni mencapai 1 M ohm. Sebaliknya jika terkena
cahaya, nilai hambatan LDR akan turun secara drastis hingga beberapa puluh ohm
saja. (Karim. Muhammad Naradi, 2016)

2.3.3 Sensor Suhu LM35


Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk
mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. LM35
memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan
sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang rendah dan
linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian
kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan. (Cahyonyo, 2015)

5
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat Penelitian

1. Modul IP-Sensors
2. Komputer Desktop yang terpasang perangkat lunak Proteus,Codevision
dan Prog-ISP
3. Modul Microcontroller ATMEGA 8535 dan ISP Downloader

3.2 Diagram Alir

Membuat
Mulai Membuka Proteus rangkaian sesuai
modul

Membuka Membuat program Mengcompile dan


Codevision di codevision build program

Menginput file yang


Membuka proteus sudah di build pada Selesai
mikrokontroler

6
BAB IV
TUGAS PENDAHULUAN

4.1 Tugas Pendahuluan

1. Jelaskan konversi bilangan binary, decimal dan hexadecimal


1. Konversi bilangan biner ke desimal. Cara mengkonversi bilangan biner
ke desimal adalah dengan mengalikan satu-satu bilangan dengan 2
(basis biner) pangkat 0 atau 1 atau 2 dst dimulai dari bilangan paling
kanan. Kemudian hasilnya dijumlahkan.
Misal, 11001 (biner) = (1x20) + (0x21) + (0x22) + (1x2) + (1x22) =
1+0+0+8+16 = 25(desimal).
2. Konversi bilangan hexadesimal ke desimal. Cara mengkonversi
bilangan biner ke desimal adalah dengan mengalikan satu-satu bilangan
dengan 16 (basis hexa) pangkat 0 atau 1 atau 2 dst dimulai dari bilangan
paling kanan. Kemudian hasilnya dijumlahkan.
Misal, 79AF(hexa) = (Fx20) + (9x21) + (Ax22) = 15+144+2560+28672
= 31391(desimal).
3. Konversi bilangan desimal ke biner.
Cara konversi bilangan desimal ke biner adalah dengan membagi
bilangan desimal dengan 2 dan menyimpan sisa bagi per seitap
pembagian terus hingga hasil baginya < 2. Hasil konversi adalah urutan
sisa bagi dari yang paling akhir hingga paling awal. Contoh:

125(desimal) = .... (biner)


125/2 = 62 sisa bagi 1
62/2= 31 sisa bagi 0
31/2=15 sisa bagi 1
15/2=7 sisa bagi 1
7/2=3 sisa bagi 1
3/2=1 sisa bagi 1
Hasil konversi : 111101
4. Konversi bilangan hexadesimal ke biner. Sama dengan cara konversi
bilanga octal ke biner, bedanya kalau bilangan octal binernya harus 3
buah, bilangan desimal binernya 4 buah. Misal kita konversi 2 hexa
menjadi biner hasilnya bukan 10 melainkan 0010. Contoh lihat gambar:

7
Gambar 1 konversi bilangan

5. Konversi bilangan biner ke hexadesimal.


Teknik yang sama pada konversi biner ke octal. Hanya saja
pengelompokan binernya bukan tiga-tiga sebagaimana pada bilangan
octal melainkan harus empat-empat. Contoh lihat gambar:

Gambar 2 Konversi Bilangan


6. Konversi bilangan desimal ke hexadesimal.
Cara konversi bilangan desimal ke octal adalah dengan membagi
bilangan desimal dengan 16 dan menyimpan sisa bagi per seitap
pembagian terus hingga hasil baginya < 16. Hasil konversi adalah urutan
sisa bagi dari yang paling akhir hingga paling awal. Apabila sisa bagi
diatas 9 maka angkanya diubah, untuk nilai 10 angkanya A, nilai 11
angkanya B, nilai 12 angkanya C, nilai 13 angkanya D, nilai 14
angkanya E, nilai 15 angkanya F. Contoh lihat gambar:

Gambar 3 konversi bilangan

8
2. Bagaimana penulisan masing- masing bilangan tersebut pada
perangkat lunek codevision
Dalam menggunakan mikrokontroler kita akan sering menemui 3 sistem
bilangan yang biasa digunakan pada pemprograman, yaitu bilangan
desimal, bilangan heksadesimal dan bilangan biner.

1. Bilangan Desimal
Bilangan desimal (basis 10) adalah bilangan yang memiliki sepuluh
simbol angka, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.
Aturan penulisannya langsung, misal 214.
2. Bilangan Heksadesimal
Bilangan heksadesimal (basis 16) adalah bilangan yang memiliki 16
simbol angka, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F.
Aturan penulisannya diawali dengan 0x, misal 0x2D.
3. Bilangan Biner
Bilangan biner (basis 2) adalah bilangan yang memiliki 2 simbol angka,
yaitu 0, 1.
Aturan penulisannya diawali dengan 0b, misal ob11011001.
Konversi bilangan:
1. Konversi Biner ke Hexadesimal
0b10110011 = ?
Bagi menjadi dua bagian nible atas (1011) dan nible bawah (0011)
1011 = 8+0+2+1 = B
0011 = 0+0+2+1 = 3
0b10110011 = 0xB3
2. Konversi Hexadesimal ke Biner
0x3F = ?
Cari nible atas (4) dan nible bawah (F)
3 = 0+0+2+1 = 0011 biner
F = 8+4+2+1 = 1111 biner
0x3F = 0b00111111
3. Konversi Biner ke Desimal
0b10110001 = ?
0b10110001 = (1×27)+(0×26)+(1×25)+ (1×24)+
(0×23)+(0×22)+(0×21)+(1×20)
0b10110001 = 128+0+32+16+0+0+0+1 = 177
4. Konversi Heksadesimal ke Desimal
0x2C = ?
0x2C = (2×161)+ (Ax160)

9
0x2C = 32+10 = 47
5. Konversi Desimal ke Heksadesimal
500 = ?
500/16 = 31 sisa 4 (lsd)
31/16 = 1 (msd) sisa 15 (dalam heksa = F)
500 = 14F
6. Konversi Desimal ke Biner
200 = ?
Ubah desimal ke heksadesimal lalu ke biner
200/16 = 12 (dalam heksa = C) sisa 8
200 = 0xC8
C = 8+4+0+0 = 1100 biner
8 = 8+0+0+0 = 1000 biner
200 = 0xC8 = 0b11001000

3. Jelaskan perbedaan antara LSB dan MSB


 MSB (most significant Binary Digit/Most Significant BIT) yaitu
digit bilangan biner yang mempunyau bobot palin besar
 LSB (Lesat Significant Binary Digit,Least Significant BIT) yaitu
digit bilangan biner yang mempunyai bobot paling kecil
Contoh : Bilangan Biner 1011 (4Bit)
1011(2) = (1 x 23) + (0 x 22) + (1 x 20)
=(1 x 8) + (0 x 0) + (1 x 2) + (1 x 1)

Dari sini dapat dilihat bahwa digit paling kanan mempunyai bobot
paling kecil (LSB). Sedangka paling kiri mempunyai bobot paling besar
(MSB)

4. Jelaskan perbedaan antara mikrokontroler AT89S51/52 dengan


ATMEGA8535

4.2 Simulasi Percobaan yang Akan Dilakukan (Untuk Instrumentasi, Lihat


LK)

10
Tampilan
1. Proteus

Analisis Sementara:

11
DAFTAR PUSTAKA
Ariesta Priliani, R. (2014) ‘SISTEM PENGAMAN KENDARAAN BERMOTOR
MENGGUNAKAN RADIO FREQUENCY IDENTIFICATION (RFID) DAN
SMS GATEWAY’, Politeknik Negeri Sriwijaya, pp. 4–29.
Cahyonyo, M. (2015) ‘RANCANG BANGUN PROTEKSI MESIN MOBIL
TERHADAP PANAS (OVER HEATING) DAN PERINGATAN TERHADAP
PERUBAHAN TEGANGAN UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN AKI’,
Digital Repository Unila.
F, R. (2015) ‘SENSOR ULTRASONIK SRF04 SEBAGAI ALAT NAVIGASI
PADA ROBOT PENDETEKSI API BERBASIS MIKROKONTROLLER
ATMEGA 8535’, Politeknik Negeri Sriwijaya, 9(1), pp. 76–99.
Immersa Lab (2018) Software Proteus Beserta Fitur-Fiturnya - Immersa Lab.
Available at: http://www.immersa-lab.com/software-proteus-beserta-fitur-
fiturnya.htm (Accessed: 3 March 2019).
Karim. Muhammad Naradi (2016) ‘APLIKASI SENSOR TPA81 SEBAGAI
PENDETEKSI API PADA ROBOT PEMADAM API BERBASIS
MIKROKONTROLLER ATMEGA 8535’, Universitas Indonesia.
Maulana, E. (2014) ‘Sensor dan Tranduser (Bahan Ajar)’, Bahan Ajar Elektronika
Kontrol - Sensor dan Transduser.
Melwin (2007) ‘Klasifikasi Perangkat Lunak’, pp. 15–37.
Tridianto, I. (2015) ‘APLIKASI SENSOR TPA81 SEBAGAI PENDETEKSI API
PADA ROBOT PEMADAM API BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA
8535’, Politeknik Negeri Sriwijaya, pp. 5–26.

12