Anda di halaman 1dari 5

Refleksi Diri

Bernardus Nathanael A. H. (1606889446)


1. Deskripsi
Salah satu pengalaman yang saya alami selama berkuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Namun, pada
refleksi ini saya akan fokus ke pengalaman yang menurut saya cukup menyulitkan, yaitu
sulit untuk mengelola waktu antara kegiatan belajar di kampus, organisasi, dan
kepanitiaan. Pengalaman ini saya alami saat semester 3, dimana merupakan saat-saat
tersibuk bagi sebagian besar mahasiswa di FEB UI. Pada semester itu, mata kuliah yang
saya ambil lumayan banyak, yaitu berjumlah dengan 21 SKS. Selain itu saya pun
mengikuti organisasi dan berperan sebagai staf Biro Komunikasi dan Informasi. Saya pun
berperan sebagai baik koordinator, wakil koordinator maupun sebagai staf di beberapa
kepanitian mencakup The 16th FEB UI Cup, The 8th Music Gallery, The 40th Jazz Goes
to Campus, Econtal, dan masih banyak kepanitiaan lainnya. Selama saya berbagi cerita
dengan teman-teman saya yang tak lain adalah sesama mahasiswa FEB UI yang
seangkatan dengan saya, mereka ternyata memiliki pengalaman yang cukup sama dengan
saya pada hal ini. Mengapa saya mengambil begitu banyak tanggung jawab dalam
organisasi dan kepanitiaan? Menurut saya hal ini dikarenakan saya cenderung ikut-ikutan
dengan teman agar tetap dapat ​catch up dalam bergaul, selain itu saya juga menelan
dengan mentah iming-iming ​soft skill yang akan meningkat signifikan dengan mengikuti
kegiatan-kegiatan tersebut. Saya pun ditawarkan beberapa jabatan dalam kepanitiaan
yang tidak enak saya tolak karena ingin membantu teman sendiri yang menjadi panitia
intinya. Akhirnya dengan banyaknya kegiatan yang saya ikuti fokus saya terhadap
kegiatan belajar menjadi berkurang, yang padahal merupakan tujuan utama saya
berkuliah di FEB UI.

2. Perasaan dan Pikiran


Saya merasa sangat lelah, bahkan pada tahap awal saya menjalankan kegiatan-kegiatan
ini. Sudah menjadi kebiasaan bahwa untuk mengawali sebuah acara yang akan
dilaksanakan oleh panitia perlu dilakukan uji kelayakan panitia tersebut, yang biasanya
disebut ​bidding.​ Tentu hal tersebut sangat menyita waktu, karena dilakukan di luar waktu
belajar mengajar, yaitu biasanya mulai pukul 07.00 malam hingga keesokan paginya.
Karena awal dari kepanitiaan ini cukup melelahkan, bisa dibayangkan betapa padatnya
jadwal dan pekerjaan yang harus saya lakukan saat acara telah dimulai, dan kebanyakan
dari kepanitiaan tersebut memiliki jadwal yang sama. Selain merasa lelah, kadang saya
merasa menyesal karena telah mengambil keputusan yang tidak baik ini dengan ceroboh.
Saya kadang terlalu “tidak enakan” dengan teman untuk menolak jabatan yang
ditunjukkan ke saya, selain itu saya pun terlalu terburu-buru memikirkan bahwa dengan
semakin banyak kegiatan yang saya ikuti maka akan semakin banyak teman atau koneksi
yang saya dapatkan. Saya pun merasa telah membuang waktu saya karena keahlian yang
saya dapatkan tidak berkembang, karena kebanyakan saya mengikuti kepanitiaan dengan
job desc yang serupa yaitu media visual. Sehingga saya hanya dapat memikirkan
bagaimana saya dapat terbebas dengan semua ini agar dapat fokus kembali pada kegiatan
belajar.

3. Evaluasi
Akhirnya setelah saya mencoba menjalani kegiatan-kegiatan yang saya ikuti dengan
multitasking (belajar, organisasi, dan panitia), ternyata walaupun akhirnya selesai dengan
kealpaan saya pada pekerjaan saya cukup rendah atau dengan performa yang cukup baik,
namun tetap saja saya merasa seluruh pekerjaan yang saya lakukan kurang maksimal. Hal
yang menurut saya berjalan baik adalah skala prioritas yang saya buat, dimana saya
mengurutkan pekerjaan pada kegiatan dari yang terpenting hingga yang paling tidak
penting berdasarkan tingkat urgensi, waktu, dan posisi saya pada kegiatan-kegiatan yang
ada. Dengan skala prioritas tersebut, saya dapat mengerjakan pekerjaan hingga tuntas,
walaupun kadang ada yang melewati tenggat waktu dan terasa tidak maksimal pada hasil
pekerjaan saya. Hal yang tidak berjalan baik menurut saya adalah saya mengesampingkan
kegiatan belajar saya, sehingga saya tidak dapat mengulangi pelajaran-pelajaran yang
saya terima setiap hari. Akhirnya saya pun hanya belajar seminggu sebelum dilakukan
UTS/UAS. Selain itu, pekerjaan saya pada kepanitiaan hasilnya biasa saja dan tidak dapat
maksimal, hal itu tentu dikarenakan banyaknya kegiatan yang saya ikuti, padahal jika
kegiatan yang saya ikuti tidak terlalu banyak, saya dapat fokus pada pekerjaan dan
melakukannya dengan maksimal. Walaupun akhirnya kepanitiaan dan organisasi saya
berjalan dengan baik, namun akademik saya cenderung menurun dari semester
sebelumnya.

4. Analisis
Menurut saya, seharusnya sebelum membuat keputusan yang lumayan mempengaruhi
kegiatan belajar yang merupakan kegiatan utama sebagai seorang mahasiswa, perlu untuk
mempertimbangkan matang-matang apa konsekuensi dari keputusan tersebut. Seharusnya
saya mempertimbangkan untuk kegiatan mana saja yang perlu saya ikuti dan mana yang
tidak, tanpa mempertimbangkan keputusan tersebut tentu akhirnya saya dirugikan dengan
banyaknya tanggung jawab yang saya emban yang mengakibatkan saya kewalahan,
kelelahan, dan menyesal. Tentu saja dengan keputusan saya yang salah, dengan
mengikuti banyak kegiatan yang lebih banyak kerugian ketimbang manfaatnya, saya
merasa ​overwhelmed dan terpaksa menomorduakan akademik saya. Selain itu pun,
pekerjaan yang saya lakukan pun tidak maksimal. Namun, keputusan saya untuk
membuat skala prioritas tampaknya cukup berhasil dan benar-benar membantu saya
dalam menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaan saya. Dengan hal tersebut pun saya
dapat menjaga hubungan baik dengan panitia lainnya dan tentu mendapatkan
kepercayaan sebagai orang yang mampu mengemban tanggung jawab. Panitia yang satu
divisi dengan saya pun banyak membantu saya dalam melaksanakan tugas-tugas saya
karena hal tersebut. Tindakan saya dalam menentukan skala prioritas ini menjadi
pembelajaran saya untuk bertindak seperti apa kedepannya. Dengan adanya pengalaman
ini pun saya dapat banyak belajar mengambil keputusan.

5. Kesimpulan
Pada pengalaman ini, seharusnya saya lebih dapat mempertimbangkan banyak hal untuk
membuat keputusan yang memiliki pengaruh signifikan khususnya dalam hal akademik.
Pertimbangan dapat didasarkan pada analisis manfaat dan kerugian yang didapatkan jika
keputusan tersebut diambil. Pengalaman yang lalu diputuskan secara terburu-buru tanpa
adanya pertimbangan yang baik, sehingga menyebabkan kewalahan dan kelelahan karena
banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Untuk kedepannya, saya harus selalu
menetapkan tujuan dan analisis manfaat kerugian dalam pengambilan keputusan.

6. Action Plan
Agar kejadian pengalaman yang saya alami dapat tercegah agar tidak kembali terulang
maupun jika sudah terjadi dapat diantisipasi harus ada rencana dan langkah apa yang
akan saya lakukan dalam jangka pendek:
● Selalu memprioritaskan kegiatan belajar atau akademik sebagai yang utama karena
merupakan kegiatan utama mahasiswa.
● Selalu mempertimbangkan setiap keputusan yang akan diambil, dengan
menggunakan analisis manfaat dan kerugian yang dapat terjadi.
● Mengingat bahwa koneksi atau pertemanan dapat ditemukan tidak hanya terbatas
pada kepanitiaan saja.
● Berani mengatakan tidak atau menolak dan menjelaskan alasannya atas tawaran
jabatan pada kepanitiaan yang dimintai tolong oleh teman jika dirasa lebih banyak
kerugian daripada manfaatnya.
● Melanjutkan membuat skala prioritas dengan kegiatan akademik menjadi yang
utama.
Selain itu, jika pengalaman yang terjadi dapat berjalan dengan baik, tetap harus ada
peningkatan atau improvement yang dapat dilakukan agar pekerjaan yang dilakukan
dapat maksimal dengan menerapkan langkah berikut:
● Dapat berkomitmen dengan pekerjaan yang dipilih.
● Membagi waktu dengan tepat antara kegiatan non akademik dan kegiatan
akademik.
● Berusaha mengerjakan tugas kegiatan secara maksimal dengan effort yang
seimbang dengan kegiatan akademik.