Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Nanggroe Aceh Darussalam


2.1.1 Fisiografis
Provinsi Aceh terletak antara 01o 58' 37,2" - 06o 04' 33,6" Lintang Utara dan
94o 57' 57,6" - 98o 17' 13,2" Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 125 meter di
atas permukaan laut. Pada tahun 2012 Provinsi Aceh dibagi menjadi 18 Kabupaten
dan 5 kota, terdiri dari 289 kecamatan, 778 mukim dan 6.493 gampong atau desa.
Batas-batas wilayah Provinsi Aceh:
1. Utara dan Timur berbatasan dengan Selat Malaka.
2. Selatan dengan Provinsi Sumatera Utara
3. Barat dengan Samudera Indonesia.
Satu-satunya hubungan darat hanyalah dengan Provinsi Sumatera Utara, sehingga
memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan Provinsi Sumatera Utara.
Luas Provinsi Aceh 5.677.081 ha, dengan hutan sebagai lahan terluas yang
mencapai 2.290.874 ha, diikuti lahan perkebunan rakyat seluas 800.553 ha.
Sedangkan lahan industri mempunyai luas terkecil yaitu 3.928 ha.Lokasi suaka
alam/objek wisata alam di Provinsi Aceh ada di sembilan lokasi, yaitu Taman Buru
Linge Isaq, Cagar Alam Serbajadi, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Wisata
dan Taman Laut Pulau Weh Sabang, Cagar Alam Jantho, Hutan untuk Latihan Gajah
(PLG), Taman Wisata Laut Kepulauan Banyak, dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Provinsi Aceh yang beribukota di Banda Aceh, membentang 2o - 6o LU dan 95o -
98o BT. Terletak di ujung barat laut Pulau Sumatera, provinsi ini memiliki posisi
strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan dan kebudayaan yang
menghubungkan belahan dunia timur dan barat. Provinsi seluas 58.375,63 km2 ini
memiliki 119 pulau besar dan kecil, 35 gunung, 73 sungai besar, dan dua buah danau
(BPS, 2009; Bappeda Provinsi NAD, 2007). Secara administratif terbagi ke dalam 18
Kabupaten dan 5 Kota, 276 kecamatan, 731 mukim, dan 6.424 desa.

1
Tabel 1. Pembagian wilayah kabupaten/kota di Aceh

No. Kabupaten/Kota Pusat Pemerintahan Kecamatan

1. Kab. Aceh Barat Meulaboh 12

2. Kab. Aceh Barat Daya Blangpidie 9

3. Kab. Aceh Besar Kota Jantho 23

4. Kab. Aceh Jaya Calang 6

5. Kab. Aceh Selatan Tapak Tuan 16

6. Kab. Aceh Singkil Singkil 10

7. Kab. Aceh Tamiah Karang Baru 12

8. Kab. Aceh Tengah Takengon 14

9. Kab. Aceh Tenggara Kutacane 11

10. Kab. Aceh Timur Idi Rayeuk 21

11. Kab. Aceh Utara Lhoksukon 27

Simpang Tiga
12. Kab. Bener Meriah 7
Redelong

13. Kab. Bireun Bireun 17

14. Kab. Gayo Luas Blang Kejeren 11

15. Kab. Nagan Raya Suka Makmue 5

16. Kab. Pidie Sigli 22

17. Kab. Pidie Jaya Meureudu 8

18. Kab. Simeulue Sinabang 8

19. Kota Banda Aceh Banda Aceh 9

2
20 Kota Langsa Langsa 5

21. Kota Lhokseumawe Lhokseumawe 4

22. Kota Sabang Sabang 2

23. Kota Subulussalam Subulussalam 5

JUMLAH 264

Aceh beriklim tropis. Artinya dalam setahun terdiri atas musim kering (Maret-
Agustus) dan musim hujan (September – Februari). Kelembaban Udara di
wilayahprovinsi Aceh mencapai 79%, dengan rata rata curah hujan adalah 131,4 mm.
Di daerah pesisir, curah hujan berkisar antara 1.000 - 2.000 mm dan di dataran tinggi
dan pantai barat selatan antara 1.500 - 2.500 mm. Penyebaran hujan ke semuadaerah
tidak sama, di daerah dataran tinggi dan pantai barat selatan relatif lebih tinggi. Rata-
rata suhu udara mencapai 26,9°C dengan rata-rata suhu udara maksimum 32,5° C dan
minimumnya yaitu 22,9°C, serta tekanan udara mencapai 1.008,8 atm.
Wilayah Aceh terdiri dari pegunungan di bagian tengah dan dataran di
sekitarnya, yang terbagi ke dalam lima bentuk fisiografi.
1. Fisiografi struktur blok pegunungan; didominasi bukit-bukit terjal
bergelombang.
2. Fisiografi daerah depresi (grabben); merupakan daerah yang didominasi
oleh sedimen lunak, yang salah satunya dipengaruhi aktifitas patahan yang
mengapit kawasan ini. Daerah depresi tersebut memungkinkan terjadinya
fibrasi atau getaran ketika terjadi gempa bumi.
3. Fisiografi suok (embayments) Meulaboh dan Singgkil; yang
mengindikasikan bahwa kawasan tersebut pernah dilanda tsunami. Daerah
ini berpasir dan datar.
4. Perbukitan kaki pegunungan; merupakan kawasan dengan kemiringan
landai (<15o).
5. Kompleks gunungapi muda; didominasi produk batuan gunungapi dengan
kemiringan curam.Secara topografis, 55 persen kawasan Aceh merupakan
pegunungan dan perbukitan, yang lainnya berupa dataran.Rerata
ketinggian tempat adalah 125 meter di atas permukaan laut.

3
2.1.2 Topografi Aceh

Provinsi Aceh memiliki topografi datar hingga bergunung. Wilayah dengan


topografi daerah datar dan landai sekitar 32 persen dari luas wilayah, sedangkan
berbukit hingga bergunung mencapai sekitar 68 persen dari luas wilayah. Daerah
dengan topografi bergunung terdapat dibagian tengah Aceh yang merupakan gugusan
pegunungan bukit barisan dan daerah dengan topografi berbukit dan landai terdapat
dibagian utara dan timur Aceh. Berdasarkan kelas topografi wilayah, Provinsi Aceh
yang memiliki topografi datar (0 - 2%) tersebar di sepanjang pantai barat – selatan
dan pantai utara – timur sebesar 24.83 persen dari total wilayah; landai (2 – 15%)
tersebar di antara pegunungan Seulawah dengan Sungai Krueng Aceh, di bagian
pantai barat – selatan dan pantai utara – timur sebesar 11,29 persen dari total wilayah;
agak curam (15 -40%) sebesar 25,82 persen dan sangat curam (> 40%) yang
merupakan punggung pegunungan Seulawah, gunung Leuser, dan bahu dari sungai-
sungai yang ada sebesar 38,06 persen dari total wilayah.

Provinsi Aceh memiliki ketinggian rata-rata 125 m diatas permukaan laut.


Persentase wilayah berdasarkan ketinggiannya yaitu: (1) Daerah berketinggian 0-25 m
dpl merupakan 22,62 persen luas wilayah (1,283,877.27 ha), (2) Daerah berketinggian
25-1.000 m dpl sebesar 54,22 persen luas wilayah (3,077,445.87 ha), dan (3) Daerah
berketinggian di atas 1.000 m dpl sebesar 23,16 persen luas wilayah (1,314,526.86
ha).

4
Gambar 1. Peta topografi Aceh

2.1.3 Kondisi Geologi

Aktivitas geologi di wilayah Aceh dimulai pada zaman Miosen, yakni saat
diendapkannya batuan yang dikenal sebagai Formasi Woyla. Pada zaman tersebut
dihasilkan struktur geologi yang berarah selatan-utara, yang diikuti oleh permulaan
subduksi lempeng India-Australia terhadap lempeng Eurasia pada zaman Yura Akhir.
Pada periode Yura Akhir-Kapur diendapkan satuan batuan vulkanik. Selanjutnya, di
atas satuan ini diendapkan batu gamping (mudstone dan wreckstone) secara tak
selaras berdasarkan ditemukannya konglomerat atas.

Pada akhir Miosen, Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam. Pada
zaman Pliopleistosen, arah struktur geologi berubah menjadi barat daya-timur laut, di

5
mana aktivitas tersebut terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan oleh
pembentukan letak samudera di Laut Andaman dan tumbukan antara Lempeng Mikro
Sunda dan Lempeng India-Australia terjadi pada sudut yang kurang tajam. Terjadilah
kompresi tektonik global dan lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau
Sumatera dan pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan pada zaman Pleistosen.

Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut
Andaman. Sebagai akibatnya, terbentuk tegasan yang berarah NNW-SSE
menghasilkan patahan berarah utara-selatan. Sejak Pliosen sampai kini, akibat
kompresi terbentuk tegasan yang berarah NNE-SSW yang menghasilkan sesar
berarah NE-SW, yang memotong sesar yang berarah utara-selatan.

Pola tektonik wilayah Aceh dikontrol oleh pola tektonik di Samudera Hindia.
Samudera Hindia berada di atas lempeng samudera (Indian – Australian Plate), yang
bergerak ke utara dengan kecepatan 6–8 cm per tahun. Pergerakan ini menyebabkan
Lempeng India – Australia menabrak lempeng benua Eropa – Asia (Eurasian Plate).
Di bagian barat, tabrakan ini menghasilkan Pegunungan Himalaya; sedangkan di
bagian timur menghasilkan penunjaman (subduction), yang ditandai dengan palung
laut Java Trench membentang dari Teluk Benggala, Laut Andaman, selatan Pulau
Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara, hingga Laut Banda di Maluku.

Di Sumatera, penunjaman tersebut juga menghasilkan rangkaian busur pulau


depan (forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias,
P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan
jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif ’The Great Sumatera Fault’ yang
membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar
besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko
ini diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah
rawan gempa bumi dan tanah longsor.

Di samping patahan utama tersebut, terdapat beberapa patahan lainnya, yaitu:


Sesar Aneuk Batee, Sesar Samalanga-Sipopok, Sesar Lhokseumawe, dan Sesar
Blangkejeren. Khusus untuk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dihimpit
oleh dua patahan aktif, yaitu Darul Imarah dan Darussalam. Patahan ini terbentuk
sebagai akibat dari adanya pengaruh tekanan tektonik secara global dan lahirnya

6
kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera serta pengangkatan
Pegunungan Bukit Barisan. Daerah-daerah yang berada di sepanjang patahan tersebut
merupakan wilayah yang rawan gempa bumi dan tanah longsor, disebabkan oleh
adanya aktivitas kegempaan dan kegunungapian yang tinggi. Banda Aceh sendiri
merupakan suatu dataran hasil amblesan sejak Pliosen, hingga terbentuk sebuah
graben. Dataran yang terbentuk tersusun oleh batuan sedimen, yang berpengaruh
besar jika terjadi gempa bumi di sekitarnya.

Penunjaman Lempeng India – Australia juga mempengaruhi geomorfologi


Pulau Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera
terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian barat
mempunyai dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada umumnya,
terumbu karang lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau. Bagian timur
yang turun akan menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang bergerak naik),
sehingga bagian timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di bagian timur, gambut
dan bakau lebih berkembang dibandingkan terumbu karang.Dengan gambaran
tersebut di atas, maka tidak hanya wilayah Aceh, namun wilayah-wilayah lain di
pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara juga perlu mewaspadai
kemungkinan bencana serupa.

Batuan di Aceh dapat dikelompokkan menjadi batuan beku dan batuan


metamorfik atau malihan, batuan sedimen dan gunungapi tua, batugamping, batuan
gunung api muda, serta endapan aluvium. Secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

1. Kelompok batuan beku dan batuan metamorfik—terdiri dari: granit, diorit, gabro,
sekis, dan batu sabak—terdapat di bagian tengah Bukit Barisan. Batuan bersifat
padu, kelulusan airnya rendah, daya dukung fondasi bangunan umumnya baik,
mampu mendukung bangunan bertingkat tinggi, dan jarang menjadi akuifer.
Granit, diorit, dan gabro dapat digunakan sebagai bahan bangunan, meskipun tidak
sebagus andesit. Tanah hasil pelapukannya bertekstur lempung hingga pasir.
Kesuburan potensialnya tergolong sedang karena kandungan silikanya yang tinggi.
2. Kelompok batuan sedimen dan gunungapi tua—terdiri dari breksi, konglomerat,
dan lava—terdapat di bagian tepi Bukit Barisan dan daerah perbukitan rendah yang
membentang dari Sigli hingga Pangkalanbrandan di Sumatera Utara. Sifat batuan
umumnya padu, kelulusan airnya rendah, mampu mendukung bangunan bertingkat,
7
dan dapat menjadi akuifer dengan produktifitas kecil hingga sedang. Tanah hasil
pelapukannya bertekstur lanau hingga pasir. Kesuburan potensialnya berkisar
rendah hingga sedang.
3. Batugamping terdapat memanjang di daerah Lhok Nga, sebelah selatan Banda
Aceh, dan di Lampeunerut. Bersifat padu atau berongga, kelulusannya beragam
tergantung dari banyaknya rongga. Pada batugamping padu, daya dukung terhadap
pondasi tergolong bagus. Batugamping dapat digunakan sebagai bahan bangunan
dan bahan baku semen. Tanah hasil pelapukannya bertekstur lempung dan
umumnya mempunyai kesuburan potensial tinggi.
4. Kelompok batuan gunungapi muda—terdiri dari tufa, aglomerat, breksi volkanik,
dan lava—terdapat di daerah perbukitan di sebelah selatan Lhokseumawe. Pada
umumnya batuan bersifat agak padu, kelulusan airnya sedang hingga tinggi, dan
daya dukung pondasi bagus. Tanah hasil pelapukannya bertekstur lempung, lanau
dan pasir; kesuburan potensialnya tinggi.
5. Kelompok endapan aluvium—terdiri dari lempung dan pasir—terdapat di
sepanjang pantai dan di sepanjang DAS Krueng Aceh, termasuk Kota Banda Aceh.
Endapan masih bersifat lepas hingga agak padu, kelulusan airnya rendah hingga
sedang, daya dukung pondasinya rendah hingga sedang, dan kesuburan potensial
tanahnya rendah hingga tinggi.

Potensi ancaman bencana di Aceh tidak akan berkurang secara signifikan


dalam tahun-tahun ke depan. Mengingat kondisi geografis, geologis, hidrologis dan
demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam upaya
penanggulangan bencana, baik ketika bencana itu terjadi, sudah terjadi, maupun
potensi bencana di masa yang akan datang. Konsekuensi dari kondisi geomorfologis
dan klimatologis serta demografis, maka ancaman bahaya (hazard) di Aceh mencakup
ancaman geologis, hidro-meteorologis, serta sosial dan kesehatan.

Secara geologis, Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng


Asia dan Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera (sumatera
fault/transform) yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda yang
dikenal dengan Patahan Semangko. Zona patahan aktif yang terdapat di wilayah Aceh
adalah wilayah bagian tengah, yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh
Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan

8
Aceh Selatan. Hal ini dapat menyebabkan Aceh mengalami bencana geologis yang
cukup panjang.

Berdasarkan catatan bencana geologis, tsunami pernah terjadi pada tahun


1797, 1891, 1907 dan tanggal 26 Desember tahun 2004 adalah catatan kejadian
ekstrim terakhir yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa dan harta. Kawasan
dengan potensi rawan tsunami yaitu di sepanjang pesisir pantai wilayah Aceh yang
berhadapan dengan perairan laut yang potensial mengalami tsunami seperti Samudera
Hindia di sebelah barat (Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh
Selatan, Aceh Singkil, dan Simeulue), perairan Laut Andaman di sebelah utara
(Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang), dan perairan Selat Malaka di sebelah utara
dan timur (Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur,
Langsa, dan Aceh Tamiang).

Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2007-2010 di Aceh sebanyak 97
kali dengan kekuatan >5 sampai dengan 7,5 Skala Richter. Kejadian diprediksi akan
berulang karena Aceh berada diatas tumbukan lempeng dan patahan. Dampak yang
ditimbulkan selama kurun waktu tersebut yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang,
kerusakan harta benda diperkirakan mencapai 25–50 Milyar rupiah, kerusakan sarana
dan prasarana 20–40 persen, sedangkan cakupan wilayah yang terkena gempa sekitar
60–80 persen, dan 5 persen berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat
(terganggunya mata pencaharian). Kabupaten/Kota yang diperkirakan akan terkena
dampak adalah: Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Simeulue, Aceh
Barat Daya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Subulussalam, Sabang, Aceh Besar, Pidie,
Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Di samping persoalan pergerakan lempeng tektonik, Aceh juga memiliki


sejumlah gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan bencana. Khususnya gunung
api yang tergolong tipe A (yang pernah mengalami erupsi magmatik sesudah tahun
1600). Di Aceh terdapat 3 gunung api tipe A, yaitu gunung Peut Sagoe di Kabupaten
Pidie, Gunung Bur Ni Telong dan Gunung Geureudong di Kabupaten Bener Meriah ,
gunung Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar dan Cot. Simeuregun Jaboi di
Sabang.

9
Potensi bencana gas beracun diindikasikan pada kawasan yang berdekatan
dengan gunung berapi aktif. Dengan demikian kawasan dengan potensi rawan bahaya
gas beracun adalah relatif sama dengan kawasan rawan letusan gunung berapi.
Kawasan potensi rawan bahatya gas beracun tersebut adalah di Bener Meriah (G.
Geureudong dan Bur Ni Telong), Pidie dan Pidie Jaya (G. Peut Sagoe), Aceh Besar
(G. Seulawah Agam), dan Sabang (Cot. Simeuregun Jaboi).

Potensi bencana tanah longsor biasa terjadi di sekitar kawasan pegunungan


atau bukit dimana dipengaruhi oleh kemiringan lereng yang curam pada tanah yang
basah dan bebatuan yang lapuk, curah hujan yang tinggi, gempa bumi atau letusan
gunung berapi yang menyebabkan lapisan bumi paling atas dan bebatuan berlapis
terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Tanda tanda terjadinya longsor dapat
ditandai dengan beberapa parameter antara lain keretakan pada tanah, runtuhnya
bagian bagian tanah dalam jumlah besar, perubahan cuaca secara ekstrim dan adanya
penurunan kualitas landskap dan ekosistem.

Tanah longsor yang terjadi selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh sebanyak
26 kali. Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan mencapai 50 –
100 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 – 40 persen, sedangkan cakupan
wilayah yang terkena longsor sangat luas 20 – 40 persen, serta berpengaruh terhadap
kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencarian) sebesar 5 – 10
persen. Bencana tanah longsor yang berdampak pada masyarakat secara langsung
adalah pada jalur jalan lintas tengah, yaitu yang terdapat di Kabupaten Aceh
Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, sekitar Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, dan
di sekitar Tangse – Geumpang Kabupaten Pidie.

Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi.


Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro-
meteorologis seperti puting beliung, banjir, abrasi dan sedimentasi, badai siklon tropis
serta kekeringan. Puting beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah
terutama terjadi di pesisir yang berhadapan dengan perairan laut yang mengalami
angin badai. Berdasarkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya adalah di Aceh
Timur, Aceh Utara di pesisir timur dan Aceh Barat di pesisir barat. Namun, dari data
kejadian 3 tahun terakhir (2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung di 14

10
kabupaten/kota. Kabupaten Aceh Utara terdata mengalami kejadian tertinggi
dibandingkan kabupaten/kota lainnya.

Banjir hampir merata terjadi di berbagai wilayah Aceh. Namun, dari data
kejadian 3 tahun banjir (2006-2009) terjadi 106 kali bencana banjir di 22 dari 23
kabupaten/kota. Elemen berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah lahan
pertanian, peternakan, perdagangan dan jasa di 22 kabupaten/kota di Aceh, kecuali
Kabupaten Simeulue. Kawasan rawan banjir yang peluangnya tinggi dengan
hamparan yang relatif luas terdapat di pesisir timur dan utara yang dilalui sungai-
sungai yang relatif besar, yaitu di Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya,
Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Selain
itu kawasan rawan banjir yang peluangnya tinggi adalah pada hamparan yang
merupakan flood plain atau limpasan banjir sungai-sungai di pesisir barat, yang
terletak di Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Subulussalam,
Aceh Singkil, dan juga di tepi Lawe Alas di Aceh Tenggara.

Sumber kerentanan bencana banjir ini berasal dari pembalakan liar (illegal
logging) di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), pendangkalan sungai, rusak atau
tersumbatnya saluran drainase, dan terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa sistem
tatakelola yang baik yang memperhatikan kapasitas DAS dalam menampung air.
Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota
lainnya. Selain bencana yang disebabkan oleh fenomena alam, bencana juga dapat
disebabkan oleh perilaku manusia antara lain karena kelalaian, ketidaktahuan, maupun
sempitnya wawasan dari sekelompok masyarakat atau disebut bencana sosial.
Bencana sosial dapat terjadi dalam bentuk kebakaran, pencemaran lingkungan (polusi
udara dan limbah industri) dan kerusuhan/konflik sosial. Potensi rawan kebakaran
seperti kebakaran hutan terjadi pada hutan-hutan yang dilalui jaringan jalan utama
sebagai akibat perilaku manusia, terutama pada kawasan hutan pinus dan lahan
gambut yang cenderung mudah mengalami kebakaran pada musim kemarau. Indikasi
potensi rawan kebakaran hutan tersebut adalah di Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya, Aceh
Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam, Aceh Singkil, dan
Aceh Tengah.

11
Gambar 2. Peta prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah pada bulan september 2010 di
Nanggroe Aceh Darussalam.

2.1.4 Geomorfologi Aceh

Daerah pesisir Kota Banda Aceh secara garis besar dibagi menjadi :

1. Dataran terdapat di pesisir pantai utara dari Kecamatan Kuta Alam hingga
sebagian Kecamatan Kuta Raja .
2. Pesisir pantai wilayah barat di sebagian Kecamatan Meuraxa.

Sedangkan daerah yang termasuk pedataran sampai dengan elevasi ketinggian 0


hingga lebih dari 10 m, kemiringan lereng 0 - 2 % terletak antara muara-muara sungai

12
dan perbukitan. Dari kondisi geologi Pulau Sumatera dilalui oleh patahan aktif Sesar
Semangko yang memanjang dari Banda Aceh hingga Lampung. Patahan ini bergeser
sekitar 11 cm/tahun dan merupakan daerah rawan gempa dan longsor. Kota Banda
Aceh diapit oleh dua patahan di Barat dan Timur kota, yaitu patahan Darul Imarah
dan Darussalam, sehingga Banda Aceh adalah suatu daratan hasil ambalasan sejak
Pilosen membentuk suatu Graben. Ini menunjukkan ruas-ruas patahan Semangko di
Pulau Sumatera dan kedudukannya terhadap Kota Banda Aceh, dan kedua patahan
yang merupakan sesar aktif tersebut diperkirakan bertemu pada pegunungan di
sebelah Tenggara, sehingga dataran Banda Aceh merupakan batuan sedimen yang
berpengaruh kuat apabila terjadi gempa di sekitarnya.

2.1.5 Tsunami Aceh

Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa Bumi dahsyat di Samudra Hindia,
lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada waktu 7:58:53 WIB. Pusat gempa
terletak pada bujur 3.316° N 95.854° EKoordinat: 3.316° N 95.854° E kurang lebih
160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 9,3
menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa Bumi terdahsyat dalam
kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai
Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan
sampai Pantai Timur Afrika.

Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas


di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian
terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan
negara dengan jumlah kematian terbesar.

Di Indonesia, gempa menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung
hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra.
Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi,
kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan
Sumatera Utara.

Tsunami ditimbulkan oleh gempabumi berkekuatan 9,3 SR yang berpusat di 3,3


LU - 95,98 BT Gempa tersebut telah menimbulkan getaran kuat dan patahan

13
sepanjang ± 1200 km yang membentang dari Aceh sampai ke Andaman. Gempa
terjadi akibat dari patahnya rekahan sepanjang 1.600 kilometer di mana lempeng
tektonik India bertabrakan di bawah lempengSunda. Rekahan diperkirakan telah
tergelincir 20-25 meter dalam waktu hampir seketika.Gempa bumi ini terjadi ketika
lempeng Hindia disubduksi oleh lempeng Burma dan menghasilkan serangkaian
tsunami mematikan di pesisir sebagian besar daratan yang berbatasan dengan
Samudra Hindia. Ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang
sejarah. Indonesia adalah negara yang terkena dampak paling besar, diikuti Sri Lanka,
India, dan Thailand. Dengan kekuatan Mw 9,1–9,3, gempa ini merupakan yang
terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan memiliki durasi terlama
sepanjang sejarah, sekitar 8,3 sampai 10 menit. Gempa tersebut mengakibatkan
seluruh planet Bumi bergetar 1 sentimeter dan menciptakan beberapa gempa lainnya
sampai wilayah Alaska.Episentrumnya berada di antara Simeulue dan daratan
Sumatera.

Gambar 3. Citra Satelit Aceh Sebelum Dan Sesudah Tsunami

14