Anda di halaman 1dari 29

Lab.

Teknologi Mekanik
Welding
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan penemuan benda-benda sejarah dapat diketahui bahwa teknik

penyambungan logam telah diketahui sejak zaman prasejarah, seperti misalnya

logam paduan emas tembaga dan pematrian paduan timbal-timah. Menurut

keterangan yang didapat telah diketahui dan dipraktekkan dalam rentang waktu

antara tahun 3000 sampai tahun 4000 SM.


Sejarah bergabung logam kembali beberapa ribu tahun. Disebut las bengkel,

contoh awal datang dari Perunggu dan Besi Abad di Eropa dan Timur Tengah.

Sejarawan Yunani kuno Herodotus menyatakan dalam The Histories dari SM abad

ke-5 yang Glaucus dari Chios adalah orang yang seorang diri menciptakan

pengelasan besi. Welding digunakan dalam pembangunan Pilar Besi Delhi,

didirikan di Delhi.
Pada tahun 1800, Sir Humphry Davy menemukan pendek pulsa arc listrik

dan mempresentasikan hasil pada tahun 1801. Pada tahun 1802, ilmuwan Rusia

Vasily Petrov menciptakan busur listrik terus menerus, dan kemudian diterbitkan

"Berita eksperimen Galvanic-Voltaic" pada tahun 1803, di mana dia menjelaskan

percobaan yang dilakukan pada tahun 1802. yang sangat penting dalam pekerjaan

ini adalah deskripsi dari busur debit stabil dan indikasi kemungkinan penggunaan

untuk banyak aplikasi, salah satu yang mencair logam. Pada tahun 1808, Davy,

yang tidak menyadari pekerjaan Petrov, menemukan kembali busur listrik terus

menerus. Pada 1881-1882 penemu Nikolai Benardos (Rusia) dan Stanisław

Olszewski (Polandia) menciptakan metode pengelasan busur listrik pertama

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
dikenal sebagai busur karbon las menggunakan elektroda karbon. Kemajuan

dalam las busur dilanjutkan dengan penemuan elektroda logam di akhir 1800-an

oleh Rusia, Nikolai Slavyanov (1888), dan Amerika, Coffin CL (1890). Sekitar

tahun 1900, AP Strohmenger dirilis elektroda logam dilapisi di Inggris , yang

memberikan busur lebih stabil. Pada tahun 1905, ilmuwan Rusia Vladimir

Mitkevich diusulkan menggunakan busur listrik tiga fase untuk pengelasan. Pada

tahun 1919, arus bolak-balik pengelasan diciptakan oleh CJ Holslag tetapi tidak

menjadi populer selama satu dekade lagi.


Perkembangan baru lainnya dalam pengelasan termasuk 1.958 terobosan

pengelasan berkas elektron, membuat pengelasan dalam dan sempit mungkin

melalui sumber panas terkonsentrasi. Setelah penemuan laser pada tahun 1960,

pengelasan sinar laser debutnya beberapa dekade kemudian, dan telah terbukti

sangat berguna dalam kecepatan tinggi, pengelasan otomatis. Magnetik

pengelasan pulsa (PU) yang industri digunakan sejak tahun 1967. Gesekan aduk

pengelasan diciptakan di 1991 oleh Wayne Thomas di The Welding Institute (TWI,

UK) dan menemukan aplikasi yang berkualitas tinggi di seluruh dunia. Semua

empat proses baru ini terus menjadi cukup mahal karena tingginya biaya peralatan

yang diperlukan, dan ini memiliki terbatas aplikasi mereka.

B. Batasan Masalah
Pembahasan dalam makalah ini mengenai Welding Machine (Mesin las),

prinsip kerja Welding Machine, bagian-bagian beserta fungsi dari Welding

Machine, macam-macam proses pengelasan, posisi pengelasan, jenis-jenis

pengelasan, pengertian sambungan dalam pengelasan, macam-macam sambungan,

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
pengertian dari elektroda, macam-macam elektroda, makna penulisan elektroda,

bahan pembuatan dari elektroda, kampuh dalam pengelasan.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah:
1. Untuk memahami teori dasar pengertian dan prinsip kerja Welding

Machine.
2. Untuk memahami komponen-komponen pada Welding Machine.
3. Untuk memahami macam-macam proses pengelasan.
4. Untuk memahami posisi pengelasan serta jenis-jenis pengelasan.
5. Untuk memahami sambungan serta macam-macam sambungan.
6. Untuk memahami elektroda, macam-macam elektroda, makna

penulisan pada elektroda serta bahan pembuatan elektroda,


7. Untuk memahami tentang kampuh las.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Prinsip Kerja Welding


Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam

dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau

tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan

sambungan yang kontinyu. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam

kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan,

pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.


Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk

reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las

pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam –macam

reparasi lainnya. Prinsip kerja pengelasan yakni ketika terjadi gas penyelimut

ketika elektroda terselaput itu mencair,sehingga ketika proses ini berjalan tidak di

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
perlukan tekanan / pressure gas inert untuk membuang oksigen atau udara yang

dapat menyebabkan korosi atau gelembunggelembung di dalam hasil pengelasan.

Proses pengelasan terjadi karena arus listrik yang mengalir diantara elektroda dan

bahan las membentuk suatu panas yang dapat mencapai 3000 C,sehingga

membuat elektroda dan bahan yang akan dilas mencair. Sumber tegangan yang

digunakan ada dua macam yaitu listrik AC ( Arus bolak balik ) dan listrik DC

( Arus searah) ,dimana arus DC dibedakan atas straight polarity (polaritas

langsung) dan reverse polarity (polaritas terbalik). Untuk mesin lasnya sendiri

terbagi atas dua jenis yaitu constant current (arus tetap) dan cinstant voltage

(tegangan tetap) dimana pada setiap pengelasan busur aruslistrik jika terjadi busur

yang membesar akan menurunkan arus dan menaikan tegangan serta pada busur

yang memendek akan meningkatkan arus dan menurunkan tegangan.


Berdasarkan defenisi dari Deutsche Industrie Normen (DIN) dalam

Harsono dkk (1991:1), mendefinisikan bahwa " las adalah ikatan metalurgi pada

sambungan logam paduan yang dilakukan dalam keadaan lumer atau cair ".

Sedangkan menurut Maman Suratman (2001:1) mengatakan tentang pengertian

mengelas yaitu salah satu cara menyambung dua bagian logam secara permanen

dengan menggunakan tenaga panas. Sedangkan Sriwidartho, Las adalah suatu

cara untuk menyambung benda padat dengan dengan jalan mencairkannya melalui

pemanasan.

B. Bagian-Bagian pada Mesin Welding


1. Transformator

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Berfungsi untuk menyesuaikan tegangan yang akan digunakan pada

mesin las.

Gambar 2.1. Transformator


2. Saklar Utama
Berfungsi untuk memutuskan dan mengalirkan arus dari sumber arus

(PLN) ke mesin las.

3. Saklar On/Off
Berfungsi untuk Gambar 2.2. Saklar Utama memustuskan dan

mengalirkan arus dalam mesin las.

4. Saluran 3 Fase
Berfungsi untuk Gambar 2.3. Saklar On / Off pengaturan arus pada

pengelasan jarak jauh.

Gambar 2.4. Saluran 3 Fase

5. Pengatur Arus
Berfungsi untuk mengatur arus yang akan di gunakan pada pengelasan.

6. Lampu Indikator

Gambar 2.5. Pengatur Arus

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Berfungsi untuk mengetahui keadaan mesin las apakah telah di aliri

listrik atau belum.

7. Kabel Massa
Berfungsi untuk Gambar 2.6. Lampu Indikator mengalirkan arus

listrik dari mesin las ke penjepit.

Gambar 2.7. Kabel Massa

8. Kutub Positif dan Kutub Negatif


Kutub positif berfungsi untuk mengalirkan arus listrik positif dari mesin

ke penjepit. Kutub negatif berfungsi untuk mengalirkan arus listrik negatif

dari mesin ke penjepit.

9. Penjepit Elektroda
Berfungsi Gambar 2.8. Kutub Positif dan KutubNegatif untuk

menjepit elektroda sekaligus mengalirkan arus listrik

ke elektroda.

10. Penjepit Benda Kerja

Gambar 2.9. Penjepit Elektroda

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik pada benda kerja sekaligus

menjepit benda kerja.

11. LED Indikator


Berfungsi Gambar 2.10. Penjepit Benda Kerja untuk

menunjukkan besar kecilnya arus listrik yang dihasilkan oleh mesin las.

Gambar 2.11. LED Indikator

C. Macam-Macam Proses Pengelasan


Proses pengelasan terbagi menjadi 2 yakni :
1. SMAW (Shield Metal Arc Welding)
Disebut juga Stick Welding atau Manual Metal Arc Welding, proses

pengelasan ini banyak digunakan. Prinsip kerjanya adalah menggunakan

logam elektroda consumable dengan komposisi/kandungan yang tepat untuk

menghasilkan arc welding antara elektroda dengan benda kerja. Logam

elektroda yang meleleh akibat panas mengisi celah antara ujung elektroda dan

bergabung dengan benda kerja. Ini adalah proses pengelasan yang paling

populer dan mampu menghasilkan berbagai macam pengelasan. Elektroda

dilapisi dengan shielding flux yang terbuat dari komposisi khusus. Shielding

flux meleleh bersama dengan logam inti dari elektroda, membentuk gas dan

kerak, dan melindungi arc welding dan weld pool. Fluks melakukan

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
pembersihan permukaan logam, mensuplai beberapa elemen paduan untuk

kontak welding, dan melindungi lelehan logam dari oksidasi dan

menstabilkan arc wleding. Kerak dihilangkan setelah dilakukan proses

Solidification yaitu proses transformasi dari fase lelehan dari paduan menjadi

bagian padat dari paduan, melibatkan kristalisasi dari fase cair, pemisahan

kotoran dan elemen paduan, pembebasan gas terlarut dalam lelehan dan

pembentukan porositas.
Keuntungan dari proses pengelasan ini :
a. Sederhana, peralatan yang portabel dan biaya murah.
b. Cocok untuk berbagai jenis logam.
c. Pengaplikasian cocok untuk luar ruangan.

Kekurangan dari proses pengelasan ini :

a. Prosesnya yang terkadang terhenti atau diskontinu karena keterbatasan

elektroda.
b. Asap yang sulit terkontrol akibat dari proses pengelasan itu sendiri.
c. Terkadang weld berisi sisa-sisa dari kerak logam.
2. GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)
Tungsten Inert Gas Arc Welding adalah proses pengelasan, di mana

panas yang dihasilkan oleh arc welding menumbuk antara elektroda tungsten

dan benda kerja. Weld pool dilindungi oleh gas inert (Argon, helium,

Nitrogen) yang berfungsi melindungi logam yang telah meleleh dari

kontaminasi udara atmosfer. Panas yang dihasilkan oleh arc welding

melelehkan ujung dari benda kerja dan menggabungkannya. Filler rod dapat

digunakan, jika diperlukan. GTAW menghasilkan las kualitas tinggi untuk

aplikasi yang sebagian besar di logam. Tidak menggunakan flux selama

proses pengelasan.
Keuntungan dari proses pengelasan ini:
a. Komposisi welding sangat rapat logam induknya.
b. Struktur las memiliki kualitas yang baik.
c. Bebas kerak.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
d. Minim distorsi termal dari benda kerja.
Kekurangan dari proses pengealasan ini:
a. Kecepatan las yang lambat.
b. Biaya yang diperlukan untuk proses ini mahal.
c. Memerlukan kemampuan atau skill tinggi dalam proses ini.

D. Posisi Pengelasan
Ada beberapa posisi pengelasan antara lain:
1. Posisi dibawah Tangan (Down Hand Position)
Posisi pengelasan ini adalah posisi yang paling mudah dilakukan. Posisi

ini dilakukan untuk pengelasan pada permukaan datar atau permukaan agak

miring, yaitu letak elektroda berada di atas benda kerja.


2. Posisi Pengelasan Mendatar (Horizontal Position)
Merupakan pengelasan yang arahnya mengikuti arah garis

mendatar/horizontal. Pada posisi pengelasan ini kemiringan dan arah ayunan

elektroda harus diperhatikan, karena akan sangat mempengaruhi hasil

pengelasan. Posisi benda kerja biasanya berdiri tegak atau agak miring sedikit

dari arah elektroda las. Pengelasan posisi mendatar sering digunakan unutk

pengelasan benda-benda yang berdiri tegak . Misalnya pengelasan badan

kapal laut arah horizontal.


3. Posisi Pengelasan Tegak (Vertical Position)
Merupakan pengelasan yang arahnya mengikuti arah garis

tegak/vertikal. Seperti pada horizontal position pada vertical position, posisi

benda kerja biasanya berdiri tegak atau agak miring sedikit searah dengan

gerak elektroda las yaitu naik atau turun. Misalnya pengelasan badan kapal

laut arah vertikal.

4. Posisi Pengelasan diatas Kepala (Over Head Position)

Benda kerja terletak di atas kepala welder, sehingga pengelasan

dilakukan di atas kepala operator atau welder. Posisi ini lebih sulit

dibandingkan dengan posisi-posisi pengelasan yang lain. Posisi pengelasan

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
ini dilakukan untuk pengelasan pada permukaan datar atau agak miring tetapi

posisinya berada di atas kepala, yaitu letak elektroda berada di bawah benda

kerja. Misalnya pengelasan atap gudang bagian dalam. Posisi pengelasan di

bawah tangan (down hand position) memungkinkan penetrasi dan cairan

logam tidak keluar dari kampuh las serta kecepatan pengelasan yang lebih

besar dibanding lainnya. Pada horizontal position, cairan logam cenderung

jatuh ke bawah, oleh karena itu busur (arc) dibuat sependek mungkin.

Demikian pula untuk vertical dan over head position. Penimbunan

logam las pada pengelasan busur nyala terjadi akibat medan electromagnetik

bukan akibat gravitasi, pengelasan tidak harus dilakukan pada down hand

position ataupun horizontal position.

E. Jenis-Jenis Pengelasan
Ada beberapa jenis pengelasan antara lain:
1. TW (Thermit Welding)
Thermit welding (TW) adalah proses pengelasan di mana panas untuk

penggabungan dihasilkan dari logam cair yang berasal dari reaksi

kimia Thermit. Thermit merupakan merk dagang dari thermite, yakni sebuah

campuran serbuk aluminium dan besi oksida yang bisa menghasilkan

reaksi exothermic ketika dibakar. Bahan tambah atau filler pada pengelasan

ini berupa logam cair. Logam cair tersebut dituang pada sambungan yang

telah dilengkapi dengan cetakan. Proses penggabungan ini lebih mirip dengan

pengecoran. Pengaplikasian Thermit welding digunakan untuk menyambung

rel kereta dan memperbaiki keretakan pada baja tuang berukuran besar.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding

Gambar 2.12. Thermit Welding

2. LBW (Laser Beam Welding)

Laser beam welding (LBW) adalah proses pengelasan di mana

penggabungan diperoleh dari energi yang terkonsentrasi tinggi, sorotan

cahaya sederap difokuskan pada sambungan benda kerja.

Istilah lasermerupakan akronim dari light amplification by stimulated

emission of radiation. Laser beam weldingumumnya dioperasikan dengan gas

pelindung untuk mencegah oksidasi. Gas pelindung yang digunakan

contohnya adalah helium, argon, nitrogen, dan karbon dioksida. Pada LBW

bahan tambah atau filler biasanya tidak diberikan.

Gambar 2.13. Laser Beam Welding


Mirip dengan electron beam welding, laser beam welding menghasilkan

las berkualitas baik, memiliki penetrasi yang baik, dan menghasilkan heat-

affected zone yang sempit. Selain memiliki kelebihan yang sama

dengan electron beam welding, laser beam welding memiliki kelebihan lain

yang tidak dimiliki oleh electron beam welding. Kelebihan laser beam

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
weldingtersebut antara lain: tidak memerlukan ruang hampa, tidak

memancarkan x-ray, dan dapat difokuskan serta diarahkan dengan lensa optik

dan cermin. Meskipun sama-sama memiliki penetrasi yang baik,

penetrasi laser beam welding kurang begitu dalam dibanding electron beam

welding. Kedalaman yang dapat dicapai oleh laser beam welding sekitar 19

mm, sedangkan pada electron beam welding sekitar 50 mm.

3. EBW (Electron Beam Welding)


Electron beam welding adalah proses pengelasan di mana panas untuk

mengelas dihasilkan dari electron berintensitas tinggi yang difokuskan dan

diarahkan pada benda kerja. Electron beam gun bekerja pada tegangan tinggi

untuk mengakselerasikan electron dan menggunakan arus beam yang rendah.

Daya yang digunakan pada EBW tidak besar, tetapi memiliki kerapatan yang

tinggi. Kerapatan tinggi tersebut diperoleh dari pemfokusan electron beam

menjadi luasan sangat kecil pada permukaan benda kerja.

Gambar

2.14. Electron Beam Welding

Pada awal

pengembangannya electron beam welding dilakukan pada ruang hampa. Akan

tetapi saat ini EBW telah dikembangkan untuk proses pengerjaan di ruang

yang tidak hampa. Sehingga EBW dapat dibedakan menjadi :

a. High-Vacuum Welding (EBW-HV), di mana pengelasan dilakukan pada

ruang hampa dengan tingkat hampa yang sama seperti pada ruang

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
pembangkitan beam (pengelasan dilakukan satu ruang dengan

pembangkitan beam).

b. Medium-Vacuum Welding (EBW-MV), di mana pengerjaan dilakukan

pada ruang yang terpisah dengan ruang pembangkitan beam dan memiliki

tingkat hampa yang sedang.

c. Non-Vacuum Welding (EBW-NV), di mana pengelasan dilakukan pada

tekanan atmosfer atau mendekati tekanan atmosfer.

4. USW (Ultrasonic Welding)

Gambar 2.15. Ultrasonic Welding

Ultrasonic welding (USW) adalah jenis pengelasan solid-state di mana

dua benda kerja ditahan/dijepit bersamaan dan diberi getaran

berfrekuensi ultrasonic supaya terjadi penggabungan. Gerak dari getaran

melewati celah antara dua benda kerja yang dijepit secaralap joint. Hal

tersebut mengakibatkan terjadinya kontak dan ikatan metalurgi yang kuat

antara kedua permukaan benda kerja. Panas pada proses USW dihasilkan dari

gesekan antar permukaan benda kerja dan deformasi plastis. Suhu panas

tersebut berada di bawah titik cair benda kerja. Ultrasonic welding tidak

memerlukan bahan tambah (filler). Flux juga tidak digunakan pada USW.

Proses pengelasan ini juga tidak memerlukan gas pelindung.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Proses ultrasonic weldingsecara khas menggunakan sambungan lap (lap

joint). Frekuensi yang digunakan adalah 15 sampai 75 kHz, dengan amplitudo

0,018 sampai 0,13 mm.

5. FSW (Friction Stir Welding)

Friction Stir Welding (FSW) adalah proses pengelasan solid-state di

mana sebuah tool yang berputar dimakankan sepanjang garis sambungan

antara dua benda kerja. Tool yang berputar dan dimakankan pada garis

sambungan tersebut menghasilkan panas serta secara mekanis menggerakkan

(stirring; bentuk dasar: stir, sehingga diberi nama friction stir welding) logam

untuk membentuk sambungan las. Perbedaan friction stir

welding dengan friction welding adalah pada friction stir welding panas

gesekan dihasilkan oleh tool tahan aus, sedangkan pada friction

welding berasal dari benda kerja yang akan disambung itu sendiri.

Gambar 2.16. Friction Stir Welding


Gambarcmenunjukkan shoulder dan probe. Shoulder dan probe merupa

kan komponen atau bagian dari tool. Shoulder berfungsi untuk menggesek

benda kerja supaya menjadi panas dan memaksa logam yang sudah menjadi

plastis untuk mengalir di sekitar probe. Probe dirancang dengan bentuk yang

khusus.Probe digunakan untuk mengaduk logam secara mekanis sepanjang

permukaan ujung (butt).

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
6. Friction Welding

Friction welding adalah proses pengelasan solid-state di mana

penggabungan diperoleh dari kombinasi panas akibat gesekan dan tekanan.

Gesekan biasanya terjadi pada dua permukaan benda kerja yang berputar

relatif satu dengan yang lain untuk meningkatkan suhu kedua permukaan

benda kerja tersebut. Suhu yang dicapai biasanya berkisar antara suhu

pengerjaan panas. Kedua benda kerja selanjutnya didekatkan dengan gaya

yang pas untuk membentuk ikatan secara metalurgi.

Gambar 2.17. Friction Welding

Friction welding normalnya tidak menggunakan bahan tambah (filler).

Pengelasan ini juga tidak memerlukan flux. Selain itu FRW juga tidak

menggunakan gas pelindung (shielding gas) serta tidak terjadi pencairan

benda kerja. Karena memerlukan putaran untuk menghasilkan panas,

mesin friction welding didesain mirip dengan mesin bubut. Mesin friction

welding memerlukan spindle yang bertenaga untuk memutar salah satu benda

kerja pada kecepatan tinggi. Mesin ini juga harus bisa menggeser benda kerja

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
secara aksial baik padachuck yang berputar maupun pada chuck yang tidak

berputar.

7. EXW (Explosion Welding)


Explosion welding (EXW) adalah jenis pengelasan solid-state di mana

terjadi penggabungan cepat pada dua permukaan logam yang disebabkan oleh

energi ledakan bahan peledak. EXW tidak menggunakan bahan tambah (filler

metal). Proses EXW tidak menggunakan panas dari luar. Pada proses ini,

tidak ada difusi yang terjadi. Waktu penggabungan terlalu pendek untuk

terjadi difusi. Ikatan yang terjadi pada EXW berupa ikatan secara metalurgi.

Dalam banyak kasus, explosion welding juga dikombinasikan dengan

sambungan mekanis yang dihasilkan dari permukaan benda kerja yang

bergelombang.
Explosion welding secara umum digunakan untuk menyambung dua

Gambar
buah logam yang berbeda. 2.18. Explosion
Sebagai Weldingmelapisi logam induk
contoh untuk

dengan logam tahan karat. Explosion weldingbiasanya digunakan di industri

kimia dan migas.


8. DFW (Diffusion Welding)
Diffusion welding (DFW) adalah proses pengelasan solid-state yang

dihasilkan dari pemberian panas dan tekanan supaya terjadi difusi serta

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
penggabungan. Proses tersebut biasanya dilakukan dengan atmosfer yang

terkontrol dan waktu yang tepat untuk membiarkan difusi serta penggabungan

terjadi. Temperatur yang digunakan sebaiknya di bawah titik cair dari logam

benda kerja dan deformasi plastis yang terjadi pada permukaan benda kerja

sebaiknya minimal. Mekanisme penggabungan pada diffusion welding terjadi

dalam bentuk padat, di mana atom berpindah dan saling menyeberang di

antara dua permukaan benda kerja yang saling kontak. Pengelasan ini

terkadang menggunakan lapisan bahan tambah yang diletakkan di antara dua

benda kerja yang akan disambung (seperti roti isi).

Gambar 2.19. Diffusion Welding

F. Pengertian Sambungan
Sambungan adalah hasil dari penyatuan beberapa bagian atau konstruksi

dengan menggunakan suatu cara tertentu. Suatu mesin atau konstruksi terdiri dari

beberapa bagian, yang mana bagian yang satu dengan yang lain akan

dihubungkan. Salah satu cara untuk menghubungkan bagian-bagian tersebut

adalah dengan memberi sambungan.


G. Macam-Macam Sambungan
Ada beberapa macam sambungan antara lain:

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A

(1) Gambar
(2) 2.20. Macam-Macam
(3) Sambungan
(4) (5)
Lab. Teknologi Mekanik
Welding
1. Sambungan Tumpu (Butt Joint)
Merupakan sambungan dimana kedua bagian benda yang akan

disambung diletakkan pada bidang datar yang sama dan disambung pada

kedua ujungnya.
2. Sambungan Sudut (Corner Joint)
Merupakan sambungan dimana kedua bagian benda yang akan

disambung membentuk sudut siku-siku dan disambung pada ujung tersebut.

3. Sambungan Tumpang (Lap Joint)

Merupakan sambungan dimana kedua bagian benda yang akan

disambung saling menumpang (overlapping) satu sama lainnya.

4. Sambungan T (Tee Joint)

Merupakan sambungan dimana satu bagian benda diletakkan tegak

lurus pada bagian yang lain dan membentuk huruf T.

5. Sambungan Tekuk (Edge Joint)

Merupakan sambungan dimana sisi-sisi ditekuk dari kedua bagian yang

akan disambung sejajar, dan sambungan dibuat pada kedua ujung bagian

tekukan yang sejajar tersebut.

H. Pengertian Elektroda
Elektroda atau kawat las merupakan suatu benda yang dipergunakan untuk

melakukan pengelasan listrik yang berfungsi sebagai pembakar yang akan

menimbulkan busur nyala.

I. Macam-Macam Elektroda
Secara umum elektroda dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Elektroda Berselaput

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Elektroda berselaput adalah bahan inti kawat yang dilapisi salutan (flux)

dari bahan kimia tertentu disesuaikan dengan jenis pengelasan. Kawat las

SMAW yang biasa kita pakai sehari-hari adalah termasuk elektroda berselaput.

2. Elektroda Baja Lunak


Hampir serupa dengan elektroda berselaput yang membedakannya adalah

jenis selaput pada elektroda ini banyak jenisnya seperti elektroda E 6010 dan E

6011 terdapat jenis selaput selulosa. Jenis selaput ini sangat bagus untuk

dipakai dalam proses pengelasan yang dapat menembus bagian yang cukup

dalam. Terak (cairan selaput hasil pembakaran) dari proses pengelasan dengan

jenis elektroda ini terkenal tipis dan mudah dibersihkan. Jenis elektroda ini

juga memungkinkan adanya berbagai posisi pengelasan yang dapat dilakukan.

J. Makna Penulisan Elektroda

Elektroda memiliki kode spesifikasi yang dapat kita lihat pada kardus

pembungkusnya.

Berdasarkan peraturan American Welding Society (AWS), Spesifikasi

kawat las terbungkus untuk Mild Steel diatur dalam AWS A5.1 yang ditandai

dengan huruf 'E' dan diikuti 4 digit angka dibelakang.Serta AWS A5.5 untuk low

alloy steel dengan menambahkan 4 huruf dan angka dibelakang yang

menunjukkan unsur paduan.

1. Penulisan elektroda untuk Mild Steel:


Kawat las SMAW jenis ini ditunjukkan dengan kode Exxxx (4 angka).
Sebagai contoh kawat las E6012.
Cara membacanya adalah:

E = Elektroda untuk jenis las SMAW

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
E60xx = Dua digit pertama (angka 60) menunjukan kekuatan tariknya vvvv

f dalam Ksi (kilopound-square–inch). Angka 60 berarti kekuatan cs

v tariknya 60 ksi, jika angkanya 70 berarti 70 ksi. Kalau dibaca v dvv

v dalam ukuran 'psi (pound square inch)' sama dengan 70000 psi, v v

v dimana 1 Ksi = 1000psi.

Exx1x = Digit ketiga (angka 1) adalah posisi pengelasan.

- Kode angka 1 – untuk semua posisi

- Kode angka 2 – untuk posisi flat dan horizontal

- Kode angka 3 – hanya untuk posisi flat.

Exxx2 = Digit keempat (angka 2) menunjukkan:

- Jenis salutan

- Penetrasi busur

- Aarus las

- Serbuk besi (%)


Contoh lain misalnya jenis kawat las E7018, artinya:

- Elektroda,

- Kekuatan tarik 70000psi,

- Dapat digunakan semua posisi (datar, horisontal, vertikal dan overhead)

- Penetrasi las sedang, daya AC/DC, kandungan selaputnya serbuk besi 25%

-c 40%, hidrogen tendah.


Dengan kekuatan tarik yang cukup kuat,elektroda (kawat las) jenis

E70xx banyak diaplikasikan untuk pengelasan pipa pressure, furnace,

konstruksi dan lain-lain. Sedangkan jenis E60xx karena daya tariknya hanya

60.000psi biasanya hanya untuk tagweld dan pengelasan non

pressure,misalnya pagar tralis dan lain-lain.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
2. Penulisan elektroda untuk Low Alloy Steel:
Spesifikasi kawat las terbungkus untuk low alloy steel diatur pada AWS

A5.5.

Dengan kode yang sama seperti elektroda mild steel diikuti dengan garis

(dash) dan huruf serta angka sebagai unsur paduan,yaitu:

A = Ditambahkan unsur carbon molybdenum

B = Ditambahkan unsur chromium molybdenum

C = Ditambahkan unsur nickel steel

D = Ditambahkan unsur manganese molybdenum molybdenum

G = Ditambahkan unsur lainnya

R akhir kode = Mengindikasikan ketahanan terhadap serapan uap (moisture

v pickup) (80% humidity, 80ºF, 9 jam).


Contoh elektroda antara lain: E7018-H8R, E8018-B2H4R dan lain-lain.

Cara membaca :
Kawat las E7018-H8R artinya kekuatannya 70 ksi, mengandung

mengandung “iron powder-iron oxide-iron powder-iron oxide”, mengandung

sedikit hidrogen (low hydrogen), ketahanan terhadap uap air dan untuk dipakai

pada pengelasan mild steel.


Kawat Las E8018-B2H4R artinya kekuatannya 80 ksi , mengandung,

iron powder iron oxide, dipadu dengan chrome moly serta low hydrogen,

ketahanan terhadap uap air serta digunakan untuk mengelas paduan baja

chrome moly.

3. Penulisan elektroda Stainless Steel:


Spesifikasi kawat las terbungkus untuk stainless steel diatur dalam AWS

A5.4. Tiga (3) digit pertama adalah nomor tipe AISI dari stainless steel.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Kemudian diikuti dengan garis dan 2 angka.Contoh : E316-16,E308-16,E309-

16 dan lain-lain. Dua angka dibelakang mengandung arti:


Angka 15 = Lapisannya mengandung CaO,TiO2& arusnya DCRP.
Angka 16 = Lapisannya mengandung TiO& K2O & arusnya DCRP /AC.
Angka 17 = Lapisannya mengandung CaO,TiO2 K2O SiO O SiO2 dan

sdvv v arusnya DCRP / AC.


K. Bahan Pembuatan Elektroda
Bahan untuk pembuatan elektroda sebagai berikut :

1. Kawat. 4. Katalis.
2. Stainless steel. 5. Plastisin.
3. Lem Epoxi. 6. Resin.

L. Kampuh Las

Kampuh las merupakan bagian dari logam induk yang akan diisi oleh logam

las, kampuh las awalnya adalah berupa kubungan las yang kemudian diisi dengan

logam las. Sambungan las dengan menggunakan alur kampuh dikategorikan

kedalam sambungan las tumpul. Sambungan las tumpul adalah jenis sambungan

paling efisien. Sambungan ini dibagi menjadi dua yaitu sambungan penetrasi

penuh dan sambungan penetrasi sebagian.Pada dasarnya dalam memilih bentuk

kampuh harus menuju kepada penurunan masukan panas dan penurunan logam las

sampai kepada harga terendah dan tidak menurunkan mutu sambungan. Untuk

kampuh-kampuh las pada saat pembakarannya dapat mengisi pada seluruh

tebalnya pelat. Sebelum pengelasan dilaksanakan kampuh las harus melalui proses

pengerjaan awal. Karat, minyak, cat harus dihilangkan. Untuk memperoleh

pembakaran yang baik, pada kampuh V dipakai elektroda dengan diameter yang

kecil atau disesuaikan dengan besar sudut kampuh dan tebal pelat yang akan dilas.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Jenis-jenis kampuh antara lain:

Gambar 2.21. Jenis Kampuh Las

1. Kampuh I.

2. Kampuh K.

3. Kampuh V.

4. Kampuh U.

5. Kampuh J.

6. Kampuh X.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam

dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan

sambungan yang kontinyu.Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam

kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan,

pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.

Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk

reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las

pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam –macam

reparasi lainnya.Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya

merupakan sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena

itu rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan

memperlihatkan kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta

kegunaan disekitarnya. Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi

sebenarnya didalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana

pemecahannya memerlukan bermacam-macam penngetahuan.

B. Saran

1. Saran untuk Laboratorium


a. Diupayakan agar kebersihan laboratorium tetap terjaga dengan baik.
b. Alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan disimpan sebaik

mungkin agar tidak hilang dan tercecer.


2. Saran untuk Asisten
a. Kak Suardi Hasjum :
Diupayakan meluangkan waktunya untuk hadir saat praktikum

berlangsung.

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
b. Kak Simon :
Diupayakan agar selalu hadir dalam praktikum agar praktikan dapat

mengenal lebih baik.


c. Kak Muhammad Iskandar :
Diusahakan agar selalu memperhatikan praktikan agar praktikum dapat

berjalan efektif.

KATA PENGANTAR

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah ilmiah tentang Welding Machine.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah

ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang

telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Welding Machine

ini dapat memberikan manfaat.

Makassar, 16 Oktober 2016

Kelompok 3

DAFTAR ISI

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding

KATA PENGANTAR ...........................................................................................i

DAFTAR ISI ..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................................1


B. Batasan Masalah ..............................................................................................3
C. Tujuan Pembahasan..........................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Prinsip Kerja Welding Machine......................................... 4


B. Bagian-Bagian pada Welding Machine....................................................... 5
C. Macam-Macam Pengelasan........................................................................ 9
D. Posisi Pengelasan........................................................................................ 11
E. Jenis-Jenis Pengelasan............................................................................... 12
F. Pengertian Sambungan............................................................................... 20
G. Macam-Macam Sambungan...................................................................... 20
H. Pengertian Elektroda.................................................................................. 21
I. Macam-Macam Elektroda.......................................................................... 21
J. Makna Penulisan pada Elektroda............................................................... 22
K. Bahan Pembuatan Elektroda...................................................................... 25
L. Kampuh Las................................................................................................ 25

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................... 27
B. Saran ......................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Cara Kerja Mesin Las”. 8 November 2016.

http://hargamesinlistrik.blogspot.com/2016/01/cara-kerja-mesin-las-listrik-yang-

perlu.html

Anonim. “Jenis – jenis Las” . 8 November 2016.

http://www.maritimeworld.web.id/2015/02/Jenis-Jenis-Las.html

Anonim. “Macam Macam Sambungan & Posisi Pengelasan Pelat dan Pipa

Beserta Gambarnya”. 8 November 2016.

http://www.pengelasan.com/2016/03/macam-macam-sambungan-posisi-

pengelasan.html

Anonim. “Posisi Pengelasan” . 8 November 2016.

http://laslistrik.blogspot.co.id/2007/12/posisi-posisi-pengelasan.html

Hidayat, mifta hidayat. “Pengertian Mesin Las” . 8 November 2016.

http://fikrimiftahidayat3m2.blogspot.co.id/2012/01/pengertian-mesin-las.html

Maskur, Muhammad. “Peralatan Las Listrik Beserta Fungsi” . 8 November 2016.

http://maskurmuslim.blogspot.co.id/2014/01/peralatan-las-listrik-beserta-

bungsinya.html

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A


Lab. Teknologi Mekanik
Welding
Tono, Mas . “Pengertian dan macam-macam Proses las beserta contoh gambar” . 8

November 2016.

http://www.mas-tono.com/2016/03/pengertian-dan-macam-macam-proses-
las.html

Fachrul Rasyidin Kadir T / D21116301 28 Kelompok 3 Mesin A