Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM PENENTUAN RUMUS GARAM HIDRAT CUSO4.

XH2O

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Kimia Sekolah yang diampu
oleh Muhamad Nurul Hana, S.Pd., M.Pd. dan Tuszie Widhiyanti, S.Si., M.Pd

Tanggal percobaan awal : 11 April 2019


Tanggal percobaan akhir : 11 April 2019

Disusun oleh

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2019
Penentuan Rumus Garam Hidrat CuSo4.xH2O

Tanggal percobaan awal : 11 April 2019

Tanggal percobaan akhir : 11 April 2019

A. Tujuan Percobaan

1. Menetapkan persen massa air dalam garam tembaga (II) sulfat hidrat

2. Menetapkan rumus kimia garam tembaga (II) sulfat hidrat

B. Dasar Teori

Pada umumnya senyawa anorganik berupa kristal padatan dari senyawa ionik dan
padatan garam ini mengandung sejumlah air yang berkombinasi secara kimia, yaitu
sejumlah molekul air yang secara kimia terikat pada ion garam dalam struktur kristalnya.
Padatan garam ini yang dikenal sebagai garam berhidrat, dan molekul airnya disebut air
kristal. Misalnya besi(III) klorida diperoleh dari pasaran sebagai FeCl3.6H2O, bukan
sebagai FeCl3, dan tembaga(II)sulfat sebagai CuSO4.5H2O dan bukan sebagai CuSO4.
Tanda “titik” diantara logam dan air pada rumus kimia garam hidrat menunjukan gaya
antara molekul air yangpolar dengan ion logamnya yang bermuatan positif. Rumus kimia
dari kristal ionik berhidrat dapat dijumpai di berbagai literatur kimia.

Untuk beberapa garam, molekul air terikat lemah dengan logamnya, dan dapat
lepas oleh panas(pemanasan) dengan membentuk garam anhidrat. Jumlah panas yang
dibutuhkan oleh 1 mol garam hidrat pada pelepasan molekul air disebut sebagai panas
hidrasi (entalpi hidrasi). Bentuk kristal dan warna dari beberapa garam anhidrat
kebanyakan berbeda dari garam hidratnya.

(Tim Kimia Dasar, 2016:3.26)

Pada umumnya sernyawa terhidrat atau biasa disebut senyawa hidrat diberi
tambahan nama hidrat dan didepannya diawali dengan nomor yunani yang menunjukan
banyaknya molekul air yang terikat. Adapun penulisan hidrat terikat diletakan dibelakang
rumus kimia senyawa tersebut dan dibatasi dengan tanda titik, contoh tembaga(II)sulfat
hidrat yang memiliki rumus kimia CuSO4.5H2O. ditinjau dari rumusnya kita dapat
mengetahui banyaknya hidrat(air) yang terkat yaitu lima molekul air.

(Peters, 1978 :110)

Garam hidrat biasanya bisa diubah menjadi anhidrat dengan pemanasan :

Garam hidrat → garam anhidrat + air

Karena itu mungkin untuk menentukan presentase air yang ada seperti pada suatu garam
hidrat dengan menentukan massa yang hilang ketika massa hidrat yang diketahui
dipanaskan:

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔


Presentase air = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ ℎ𝑖𝑑𝑟𝑎𝑡 x 100%

(Hein, 1981 :39)

Hidrat memberikan beberapa pengaruh terhadap senyawa yang mengikatnya. Jika


molekul air terdapat dalam suatu senyawa, maka warna senyawa tersebut akan berubah
dari keadaannya tanpa hidrat. Intensitas warnanya lebih kuat menyebabkan warna
menjadi lebih muda atau cerah. Senyawa hidrat juga akan memperbesar massa senyawa
karena kehadiran air yang terikat pada molekulnya. Pada proses pelarutan, hidrat
menurunkan kelarutan suatu senyawa dalam pelarut air. Sedangkan dengan pemanasan,
senyawa hidrat akan melepaskan uap air karena pemanasan dapat memutuskan ikatan
antara molekul air dengan senyawa, ikatan ini merupakan ikatan yang lemah. Reaksi ini
dinamakan reaksi dehidrasi. Selain itu dengan pemanasan dapat terjadi reaksi
dekomposisi seperti reaksi yang terjadi pada hidrat dalam komponen organik, dimana
reaksi yang terjadi merupakan reaksi yang ireversibel.

(Takhir A, 1983 : 34-46)

C. Alat dan Bahan


Alat-alat :
1. Cawan penguap : 1 buah
2. Kasa : 1 buah
3. Tang krus : 1 buah
4. Kaki tiga : 1 buah
5. Alas keramik : 1 buah
6. Alumunium foil : 1 buah
7. Korek api
8. Pembakar spiritus : 1 set
9. Spatula : 1 buah

Bahan-bahan:

1. Kristal CuSO4 hidrat : ± 5 gram


D. Spesifikasi Bahan
NAMA BAHAN SIFAT FISIKA SIFAT KIMIA
Tembaga(II)sulfat - Mr : 249.69 g/mol - Mudah larut dalam air
CuSO4 hidrat - Titik didih : 150 oC panas
- Titik lebur : 110 oC - Larut dalam air dingin
- Wujud : padatan - Hampir tidak larut
- Densitas : 2.28 g/cm3 dalam beberapa pelarut
- Warna : biru organik
- Tidak larut dalam
etanol
BAHAYA PENANGGULANGAN
- Iritasi terhadap kulit, - Kulit : rendam dengan
kontak dengan mata sabun dan air paling
menyebabkan tidak 15 menit, cuci
konjugtivitas pakaian yang
- Gangguan pencernaan terkontaminasi
sebelum digunakan
kembali
- Jika terkena mata bilas
dengan air selama 15
menit
(Imam Khasani, 2003)

E. Set alat

F. Langkah Kerja dan Pengamatan

Langkah Kerja Pengamatan

Cawan penguap +alumunium foil

- Timbang cawan dan Massa cawan + alumunium foil sebelum dipanaskan


alumunium foil yang = 31.20 gram
tersedia. Cawan penguap yang terlah tersedia dipanaskan
- Bersihkan cawan penguap guna menghilangkan pengotor-pengotor yang
agar terbebas dari kotoran menempel, lalu didinginkan sebelum di timbang.
dengan cara dibakar Massa cawan penguap setelah dipanaskan= 31.19
- Timbang cawan penguap gram
setelah dibakar
Hasil
Alat pemanas

- Pemanas dirangkai dengan Set alat di set dengan menaruh pemanas di bawah
kaki tiga dan kasa kaki tiga dan kasa

Hasil

Serbuk CuSO4 hidrat

- Ditimbang sebanyak 5 CuS04 hidrat berwujud serbuk berwarna biru terang


gram Massa cawan + serbuk CuSO4 hidrat = 36.22 gram
- Haluskan Massa serbuk = 5.3 gram
- Dimasukan dalam cawan Serbuk yang tersedia sudah halus
penguap Serbuk langsung ditimbang dalam cawan penguap
- Dipanaskan hingga terjadi Saat dipanaskan warna serbuk berubah dari berwarna
perubahan warna biru menjadi berwarna abu-abu
- Tutup cawan lalu Cawan di tutup dan didinginkan di udara terbuka
dinginkan Massa cawan + serbuk setelah dipanaskan = 34.72
- Timbang cawan berisi gram
serbuk yang telah Massa serbuk setelah dipanaskan = 3.8 gram
dipanaskan
Hasil Mengolah data dari hasil percobaan

G. Tabel Pengamatan
Massa cawan kosong = 31.19 gram
Massa cawan + serbuk CuSO4 hidrat = 36.22 gram
Massa (gram) Warna
Nama Bahan Sebelum Setelah Sebelum Setelah
dipanaskan dipanaskan dipanaskan dipanaskan
CuSO4.xH2O 5,3 3,8 biru Abu-abu
H. Pertanyaan dan Jawaban
1. Tuliskan persamaan reaksi yang terjadi !
CuSO4.5H2O(s) → CuSO4(s) + 5H2O(g)
2. Apa yang terjadi ketika tembaga(II)sulfat hidrat dipanaskan ? jelaskan!
Saat dipanaskan warna kristal berubah karena terhidrasinya atau putusnya ikatan
antara senyawa dengan molekul air, sehingga molekul air menguap dan membuat
warna kristal berubah dari biru menjadi abu-abu.
3. Berapa persen massa air dalam garam tembaga(II)sulfat hidrat ?
Massa kristal sebelum di panaskan = 5,3 gram
Massa kristal setelah dipanaskan = 3,8 gram
Massa air = 5,3 gram – 3,8 gram = 1.5 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟
Persen massa air dalam cuplikan = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑟𝑖𝑠𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑥100%
1.5 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 5.3 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥100%

= 28.30%
Jadi kadar air dalam garam tembaga(II)sulfat hidrat adalah 28.30%
4. Tentukan rumus kimia garam tembaga(II) sulfat hidrat yang telah kamu lakukan !
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑏𝑎𝑔𝑎(𝐼𝐼)𝑠𝑢𝑙𝑓𝑎𝑡
=
𝑀𝑟 𝑎𝑖𝑟 𝑀𝑟 𝑡𝑒𝑚𝑏𝑎𝑔𝑎(𝐼𝐼)𝑠𝑢𝑙𝑓𝑎𝑡
1.5 𝑔𝑟𝑎𝑚 3.8 𝑔𝑟𝑎𝑚
=
18 𝑔/𝑚𝑜𝑙 159.5 𝑔/𝑚𝑜𝑙
0.08 = 0.02
4∶1
Jadi dari percobaan ini didapatkan rumus garam tembaga(II) sulfat hidrat adalah
CuSO4.4H2O
5. Prediksikan apa yang terjadi bila CuSO4 ditetesi air ?
Kristal CuSO4 akan berubah menjadi berwarna biru dari semula berwarna abu,
karena mengikat kembali molekul air dan berubah menjadi tembaga(II)sulfat hidrat.
I. Kesimpulan
Dari percobaan penetuan rumus garam hidrat CuSo4.xH2O didapatkan hasil persen
massa air yang terdapat pada garam hidrat adalah 28.30% serta rumus garam hidrat yang
didapat adalah CuSO4.4H2O . rumus yang didapat tidak sesuai teoritis disebabkan karena
masih adanya molekul air yang terperangkap didalam garam, serta kemungkinan adanya
pengotor pada cawan penguap ataupun pada kristal.

J. Catatan dan Masukan


Saat proses pemanasan cawan untuk menghilangkan pengotor sebaiknya hingga
pijar agar benar-benar bersih dari pengotor, dan sebaiknya pada langkah kerja diberi
catatan saat penimbangan cawan harus dalam keadaan dingin, dan lebih baik apabila
menggunakan cawan krus dengan penutupnya, karena jika menggunakan alumunium foil
dikhawatirkan tidak tertutup dengan benar dan ada pengotor yang masuk.

K. Daftar Pustakan
Hein,dkk (1981). College Chemistry in The Laboratory. California : Brookole Publishing
Company
Iman Khasani (2003). Lembar Kerja dan Keselamatan Bahan. Bandung : LIPI.
Peters, Edward (1978). Introduction to Chemical Principle. United State of America :
WB Saunder Company
Takhir, Agus. (1983). Konsep-Konsep Kimia. Bandung: Pustaka jaya.
Tim Kimia Dasar (2016). Praktikum Kimia Dasar. Bandung : FPMIPA UPI