Anda di halaman 1dari 8

Perhatian guru tony tentang divisi panjang.

sebagian besar muridnya tidak dapat melihat tampaknya


memahami konsep dan bagaimana melakukannya. guru tony butuh bantuan. Saya tidak bisa
membuat siswa saya belajar divison panjang. mengapa kita tidak menggunakan kognitivisme untuk
membantu Anda mengajarkan subjek yang sulit, seperti pembagian panjang. apa itu kognitivisme?
Kognitivisme adalah teori belajar yang berfokus pada "bagaimana informasi diterima, diorganisasi,
disimpan, dan diambil kembali" oleh pikiran. Kognitivisme memandang pikiran sebagai proses
informasi, misalnya, dalam instruksi kelas harus diorganisasikan diurutkan dan disajikan dengan cara
yang dapat dimengerti dan bermakna untuk dipelajari, kognitivisme menekankan retensi, dan
mengingat melalui penggunaan praktik mengajar yang berkualitas.

Anda mungkin pernah melihat kognitivisme di tempat kerja dan bahkan tidak mengetahuinya.
kognitivisme sering digunakan dalam mengembangkan pelajaran di kelas dan membantu siswa
belajar keterampilan berpikir Thangka Tinggi. contoh umum: termasuk memulai pelajaran dengan
hook, untuk membuat minat mengaktifkan pengetahuan sebelumnya dengan memulai pelajaran
dengan kuis ulasan, membagi informasi menjadi bagian yang dapat dicerna dan dicerna
menggunakan grafik, organiser ke struktur hepl dan konten terkait. ini semua adalah contoh
kognitivisme di tempat kerja di kelas. sekarang, mari kita lihat apakah kita dapat menerapkan prinsip
kognitivisme untuk membantu memecahkan masalah guru tony. pertama, guru tony perlu
memutuskan keterampilan apa yang dibutuhkan siswa untuk memahami pembagian panjang,
setelah berpikir guru tony menemukan bahwa untuk memahami pembagian panjang, siswa harus
mengetahui dasar pembelajaran dasar dan nomor pengurangan.

Pengurutan instruksi dengan mengajarkan keterampilan prasyarat seperti perkalian, pembagian dan
pengurangan sederhana, pertama akan membantu siswa membangun pengetahuan sebelumnya
untuk belajar lebih baik, bagaimana melakukan pembagian divisi panjang menyiapkan dua hal. untuk
membantu siswa, ia menciptakan mnemonic device dead monkey smeelll buruk untuk membantu
siswa mengingat langkah-langkah pembagian panjang. devide kalikan kurangi bawahan. dia juga
membuat poster berkode warna yang berjalan melalui proses pembagian panjang selangkah demi
selangkah, jika siswa terjebak mereka dapat melihat poster ini untuk membantu isyarat ingatan
mereka. setelah menerapkan prinsip-prinsip ini siswa tony guru kognitivisme melakukan pekerjaan
yang jauh lebih baik dalam memahami, mempertahankan dan mengingat proses pembagian
panjang. menggunakan kognitivisme benar-benar membantu siswa saya belajar pembagian panjang,
jika Anda ingin mengajarkan konsep-konsep yang sulit ke kelas Anda, Anda dapat menggunakan
kognitivisme untuk membantu masalah Anda hanya guru tony
Teori Belajar Kognitif dan Penerapannya dalam Pembelajaran
Februari 12, 2017

Teori Belajar Kognitif dan Penerapannya dalam Pembelajaran


Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar
kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Belajar kognitif
merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model
belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar
merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai
tingkah laku yang nampak.
Teori kognitif,menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang
sedang dipelajari. Untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa, dan membantu siswa
menjadi pembelajar yang sukses, maka pengajar yang menganut paham Kognitivisme banyak
melibatkan siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving,
strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.
Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif
Berdasarkan pendapat dari Drs. Bambang Warsita (2008:89) yang menyatakan
tentang prinsip- prinsip dasar teori kognitivisme, antara lain:
a. Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan
b. Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran
c. Menekankan pada pola pikir peserta didik
d. Berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi
dalam ingatannya
e. Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses aktif
di dalam diri peserta didik
f. Menerapkan reward and punishment
g. Hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru, tetapi juga

pada cara peserta didik memproses informasi tersebut.


Macam - macam teori belajar kognitif

1. Teori belajar Pengolahan Informasi

Gambar tersebut menunjukkan titik awal dan akhir dari peristiwa pengolahan informasi.
Apabila informasi itu diperhatikan, maka informasi itu disampaikan ke memori jangka
pendek dan sistem penampungan memori kerja. Apabila informasi di dalam kedua
penampungan tersebut diulang-ulang atau disandikan, maka dapat dimasukkan ke dalam
memori jangka panjang. Kebanyakan, peristiwa lupa terjadi karena informasi di dalam
memori jangka pendek tidak pernah ditransfer ke memori jangka panjang.

2. Teori belajar Kontruktivisme


Teori belajar Kontruktivisme memandang bahwa:
Belajar berarti mengkontruksikan makna atas informasi dari masukan yang masuk ke dalam
otak.
 Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya
sendiri.
 Peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan
prinsip - prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip - prinsip tersebut apabila sudah dianggap
tidak bisa digunakan lagi.
 Peserta didik mengkontruksikan pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan
lingkungannya.
Teori Belajar Menurut Beberapa Pakar
1. Piaget
Menurut Piaget (Uno,2006: 10-11) salah satu penganut aliran kognitif yang kuat, proses
belajar sebenarnya terjadi dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, ekuilibrasi
(penyimpangan).

a. Proses asimilasi adalah proses penyatuan (engintegrasian) informasi baru ke struktur


kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
b. Proses akomodai adalah penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru.
c. Proses ekulibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan empat tahapan, antara
lain:
a. Tahap Sensori Motor (0-2 tahun)
Pada tahap ini seorang anak mengembangkan dan mengatur kegiatan fisik dan
mental menjadi rangkaian pembuatan yang bermakna.
b. Tahap pra-operassional (2-7 tahun)
Pada tahap ini seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh hal-hal khusus yang didapat dari
pengalaman menggunakan indra sehingga ia belum mampu untuk melihat hubungan-
hubungan dan menyimpulkan sesuatu seecara konsisten.
c. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Pada tahap ini seorang anak dapat membuat kesimpulan dari seesuatu pada situasi nyata atau
dengan menggunakan benda konkret, dan mampu mempertimbangkan dua aspek dari situasi
nyata secara bersama-sama (misalnya, antara bentuk dan ukuran).
d. Tahap operasional formal (11 tahun keatas)
Pada tahap ini kegiatan kognitif seseorang tidak mesti menggunakan benda nyata. Selain itu
pula kemampuan menalar secara abstrak meningkat sehingga seseorang mampu untuk
berfikir secara deduktif. Dan juga pada tahap ini, seseorang mampu mempertimbangkan
beberapa aspek dari suatu situasi secara bersama-sama.
Para pengikut Piaget menyakini bahwa pengalaman belajar aktif cenderung
meningkatkan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar pasif cenderung
mempunyai akibat yang lebih sedikit dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak.
Aktif dalam arti bahwa siswa melibatkan mentalnya selama memanipulasi benda-benda
konkret.
2. Bruner
Bruner mengusulkan teori yang disebut free Discovery learning ( Uno, 2008:12).
Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi,
dan sebagainya) sebagai contoh-contoh yang mengambarkan (mewakili) aturan yang menjadi
sumbernya.
Menurut pandangan Bruner (Uno, 2008 :13), teori belajar bersifat deskriptif,
sedangkan teori pembelajaran bersifat preskriptif. Misalnya, teori belajar memprediksi berapa
usia maksimum seorang anak untuk belajar penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran
mengguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan. Menurut Bnuner,
perkembangan kognitif seseorang terjadi tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat
lingkungan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap enaktif
Seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan
sekitarnya. Suatu tahap pembelajaran ketika materi pembelajaran bersifat abstrak dipelajari
siswa dengan menggunakan benda-benda konkret. Dengan demikian, topik pembelajaran
tersebut dipresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata.
b. Tahap ikonik
Tahap pembelajaran ketika materi pembelajaran bersifat abstrak, dipelajari siswa dengan
menggunkan ikon, gambar dan diagram yang menggambarkan kegiatan nyata dengan benda-
benda konkret. Dengan demikian, topik pembelajaran yang bersifat abstrak ini telah
direpresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata yang dapat diamati
siswa, lalu dipresentasikan atau diwujudkan dalam gambar atau diagram yang bersifat semi-
konkret.
c. Tahap simbolik
Seseorang telah mampu mempunyai ide-ide abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuanya dalam berbahasa atau logika. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami
konsep, arti dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan (discovery learning).
3. David P. Ausubel
Teori ini disebut juga teori hafalan ( rote learning) sebagaimana pernyataan yang dikutip
(Bell, 1978:132) berikut: “…, if the learner’s intention is to memorise it verbatim as a series
of arbitrarily related word, both the learning process and the learning outcome must
necessarily be rote and meaningless ( jika seseorang, contohnya si siswa tadi, berkeinginan
untuk mempelajari sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain sudah
diketahuinya, maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai
hafalan dan tidak bermakna sama sekali baginya.”
Kelemahan lain belajar hafalan adalah seseorang kemungkinan besar tidak dapat
menjawab soal baru lainya, karena materi matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-
pisah, namun merupakan suatu pengetahuan yang utuh dan saling berkait antara yang satu
dan yang lainya, setiap siswa harus menguasai beberapa konsep dan keterampilan dasar
terlebih dahulu. Setelah itu siswa harus mampu megaitkan antara pengetahuan yang baru dan
pengetahuan yang sudah dipunyanya agar terjadi suatu proses pembelajarn yang berrmakna
(meaningful learning).
Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Kognitif
Setiap teori belajar tidak akan pernah sempurna, demikian pula dengan teori belajar kognitif.
Berikut adalah beberapa kelebihan dan kelemahan teori kognitif
Kelebihan teori belajar kognitif :
a. Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri
b. Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah
Kelemahan teori belajar kognitif :
a. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan
b. Sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut
c. Beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas
Aplikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat
diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarnya
mengkuti prinsip - prinsp sebagai berikut :
1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang muda dalam proses berfikirnya. Mereka
mengalami perkembangan kognitif melalui tahap - tahap tertentu.
2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik,
terutama jika menggunakan benda - benda konkret.
3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan
mengaktifkan seswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan
pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan
pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi belajar disusun dengan
menggunakan pola dan atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
6. Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna,
informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukan hubungan antara apa yang sedang
dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah,
 Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar itu sendiri menurut Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo adalah menyajikan bahan
pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi
belajar siswa yang tidak baik pula.
Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode belajar harus diusahakan yang setepat, seefisien dan seefektif mungkin, karena guru yang progresif berani mencoba
metode – metode yang baru, yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
 Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang di berikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan-bahan pelajaran agar siswa
menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi pelajaran siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh
tidak baik terhadap belajar. Perlu diingat bahwa sistem instruksional sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa, guru perlu
mendalami siwa dengan baik, harus mempunyai perencanaan yang mendetail, agar melayani siawa belajar secara individual.
 Relasi Guru dengan Siswa
Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan sehingga siswa berusaha
mempelajarinya sebaik – baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya, maka ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya,
akibatnya pelajarannya tidak maju.
 Relasi Siswa dengan Siswa
Siswa yang mempunyai sifat – sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan – tekanan
batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibat makin parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya. Lebih – lebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah
dengan alasan – alasan yang tidak–tida
karena di sekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman – temannya. Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu, agar dapat
memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.
 Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar
dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah dan lain – lain.
Dengan demikian agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin di dalam belajar baik di sekolah, di rumah dan di perpustakaan, agar siswa disiplin haruslah guru
beserta staf yang lain disiplin pula.
 Waktu Sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu itu dapat pagi, siang, sore/malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar
siswa, jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah sore hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggungjawabkan, dimana siswa harus istirahat tetapi terpaksa harus masuk
sekolah sehingga mereka masuk sekolah dengan keadaan mengantuk dan sebagainya. Jadi memilih waktu sekolah yang tepat akan memberi pengaruh yang positif
terhadap belajar.
3) Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat. Faktor
masyarakat ini membahas tentang kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, lingkungan sekitar, yang semuanya mempengaruhi belajar.
 Kegiatan Siswa Dalam Masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu
banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan – kegiatan sosial, keagamaan dan lain – lain, belajarnya akan terganggu, lebih – lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur
waktunya.
 Mass Media
Yang termasuk mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku – buku, komik – komik dan lain – lain. Mass media yang baik memberi pengaruh yang
baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya, akan tetapi sebaliknya mass media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. Maka dari itulah perlu kiranya
siswa mendapatkan bimbingan dan kontrol yang cukup bijaksana dari pihak orang tua dan pendidik, baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat agar tidak terjadi
salah langkah.
 Teman Bergaul
Pengaruh – pengaruh dari teman bergaul siswa lebih dapat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri
siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.
 Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan sebagainya. Misalnya bangunan rumah penduduk yang sangat sempit, lalu lintas yang
membisingkan, suasana hiruk pikuk orang disekitar, suara pabrik, polusi udara, iklim yang terlalu panas, semuanya akan mempengaruhi gairah dan minat belajar.
Sebaliknya tempat yang sepi dengan iklim yang sejuk, ini akan menunjang proses belajar. Keadaan alam yang tenang dengan udara yang sejuk ikut mempengaruhi
kesegaran jiwa murid sehingga memungkinkan hasil belajarnya akan lebih tinggi daripada lingkungan yang gaduh dengan udara yang panas dan kotor.
Gejala Kesulitan Belajar dalam proses belajar mengajar sudah menjadi harapan setiap guru/pengajar agar siswanya dapat mencapai prestasi. Namun, pada kenyataan
hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Beberapa siswa menunjukkan nilai kurang meskipun sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya. Kesulitan belajar
merupakan suatu gejala yang dapat dilihat dalam berbagai jenis kenyataan. Di sini guru/pengajar sebagai orang yang bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar
berperan untuk dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar. Bagi seorang guru/pengajar yang memahami kesulitan belajar siswa merupakan dasar dalam usaha
memberi bantuan kepada siswa.
PENGERTIAN FAKTOR BELAJAR
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Faktor – faktor belajar adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar, yang dapat diamati dari perbedaan perilaku sebelum dan sesudah berada didalam
proses belajar, sebab dalam makna belajar adalah adanya perubahan perilaku seseorang kearah yang lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran.
Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar itu banyak jenisnya. Faktor – faktor belajar itupun dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor intern yang berasal dari
dalam dan faktor ekstern atau berasal dari luar.faktor luar banyak dipengaruhi dari dalam diri siswa itu sendiri dan faktor eksternal dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Antar kedua faktor itu masing masing bisa mempengaruhi seseorang untuk meningkatkan
prestasinya yang diperoleh dengan cara belajar.
FAKTOR INTERNAL DALM BELAJAR
Faktor internal yaitu faktor faktor yang berasal dari seseorang sendiri dan dapat mempengaruhi terhadap belajarnya. Faktor internal dibedakan menjadi tiga yaitu faktor
jasmaniah, faktor kelelahan dan faktor psikologi.
1) Faktor Jasmaniah
Faktor jasmaniah ini terdiri atas dua faktor yang mempengaruhinya antara lain: faktor kesehatan
 Faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian – bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang
berpengaruh terhadap belajarnya karena proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat lelah, kurang
bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan – gangguan/kelainan kelainan alat inderanya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan – ketentuan tentang
bekerja,belajar, istirahat, tidur, makan olah raga, rekreasi dan ibadah.
2) Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani
terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh,
sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian-bagian tertetu. Sedangkan kelelahan rohani dspat di lihat denagn adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan
dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang, kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk konsentrasi seolah-olah otak
kehabisan daya untuk bekerja.
Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan dengan cara – cara sebagai berikut:
a) Tidur,
b) Istirahat,
c) Mengusahakan variasi dalam belajar, juga dalam bekerja,
d) Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah, misalnya obat gosok,
e) Reaksi dan ibadah yang teratur,
f) Olahraga secara teratur, dan
g) Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat – syarat kesehatan (memenuhi empat sehat lima sempurna),
h) Jika kelelahan sangat serius cepat – cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter, psikiater dan lain – lain.
3) Faktor psikologis
Faktor psikologis ini terdiri dari delapan faktor yang mempengaruhinya antara lain: faktor intelegensi, minat, bakat, motif, dan cara belajar.
 Intelegensi/kecerdasan
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif,
mengetahui atau menggunakan konsep – konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Kecerdasan merupakan salah satu aspek penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal
atau diatas normal maka secara potensial dapat mencapai prestasi yang tinggi. Namun dalam kenyataan kadang-kadang kita menjumpai murid yang mempunyai tingkat
kecerdasan diatas normal tetapi prestasi belajarnya rendah sekali bahkan ada yang gagal sama sekali.
 Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan
pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik – baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Siswa segan – segan
untuk belajar, dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat
menambah kegiatan siswa.
 Bakat
Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan yang nyata. Seseorang yang tidak berbakat
akan sukar untuk mempelajari sesuatu secara mendalam. Menurut Hilgard dalam buku Slameto (2003: 58)“bakat” adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu
baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat
lagi dalam belajarnya itu. Mengetahui bakat yang dimiliki siswa itu sangat penting karena dengan mengetahuinya, maka akan dapat menempatkan siswa tersebut belajar
di sekolah sesuai dengan bakatnya.
 Motif
Motif merupakan dorongan yang mendasari dan mempunyai setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seseorang yang mempunyai
motif belajar yang kuat. Hal ini akan memperbesar kegiatan dan usahanya untuk mencapai prestasi yang tinggi. Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan
dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat
adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/pendorongnya.
Motif yang sangat kuatlah perlu di dalm belajar, di dalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan / kebiasaan-kebiasaan dan
pengaruh lingkungan yang memperkuat, jadi latihan/kebiasaan itu sangat perlu dalam belajar.
 Cara belajar
Cara belajar seseorang mempunyai pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik, faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan akan
mempengaruhi hasil yang kurang memuaskan. Ada seseorang yang sangat rajin belajar, siang dan malam tanpa istirahat yang cukup, cara belajar seperti ini tidak baik.
Belajar harus ada istirahat untuk memberi kesempatan kepada mata, otak serta organ tubuh yang lainnya untuk memperoleh tenaga kembali.
Selain itu teknik-teknik belajar perlu diperhatikan bagaimana caranya membaca, mencatat, menggaris bawahi, membuat ringkasan dan sebagainya. Selain itu perlu
diperhatikan waktu belajar, tempat, fasilitas, penggunaan media dan penyesuaian bahan pelajaran. Karena semua itu dapat mempengaruhi minat belajar siswa untuk
memperoleh hasil yang lebih baik.
FAKTOR EKSTERNAL DALAM BELAJAR
Faktor eksternal yaitu fakator yang berasal dari lingkungan luar dan dapat mempengaruhi terhdap belajarnya. Faktor eksternal di bedakan menjadi 3, yaitu faktor
keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.
1) Faktor Keluarga
Faktor keluarga yang mempengaruhi belajar ini mencakup cara orang tua mendidik, relasi antara angota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian
orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
 Cara Orang Tua Mendidik
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Orang tua yang kurang/tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh
terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan – kepentingan dan kebutuhan – kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu
belajarnya, tidak menyediakan/melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar
anaknya, kesulitan – kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain – lain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya.
 Relasi Antara anggota Keluarga
Relasi antara anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau anggota keluarga yang lain pun
turut mempengaruhi belajar anak. Wujud relasi itu apakah hubungan itu penuh kasih sayang dan pengertian, ataukah diliputi oleh kebencian, sebetulnya relasi
antaranggota keluarga ini erat hubungannya dengan cara orang tua mendidik. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik di
dalam keluarga anak tersebut. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang, disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman –
hukuman untuk mensukseskan belajar anak sendiri.
 Suasana Rumah
Suasana rumah dimaksudkan sebagai situasi atau kejadian – kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak berada dan belajar. Suasana rumah juga
merupakan faktor yang penting yang tidak disengaja, suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada anak yang belajar. Agar
anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram, di dalam suasana rumah yang tenang dan tentram selain anak
kerasan/betah tinggal di rumah, anak juga dapat belajar denagn baik.
 Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuh kebutuhan pokoknya, missal makan, pakaian,
perlindungan kesehatan dan lain – lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis – menulis, buku – buku dan lain –
lain. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang.
 Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan perhatian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas – tugas di rumah, kadang – kadang anak mengalami lemah
semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya dan membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah, kalau perlu menghubungi
guru anaknya untuk mengetahui perkembangannya.
 Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan – kebiasaan yang baik, agar
mendorong semangat anak untuk belajar.
2) Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah,
 Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam mengajar. Mengajar itu sendiri menurut Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo adalah menyajikan bahan
pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi
belajar siswa yang tidak baik pula.
Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode belajar harus diusahakan yang setepat, seefisien dan seefektif mungkin, karena guru yang progresif berani mencoba
metode – metode yang baru, yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
 Kurikulum
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang di berikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan-bahan pelajaran agar siswa
menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi pelajaran siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh
tidak baik terhadap belajar. Perlu diingat bahwa sistem instruksional sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa, guru perlu
mendalami siwa dengan baik, harus mempunyai perencanaan yang mendetail, agar melayani siawa belajar secara individual.
 Relasi Guru dengan Siswa
Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan sehingga siswa berusaha
mempelajarinya sebaik – baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya, maka ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya,
akibatnya pelajarannya tidak maju.
 Relasi Siswa dengan Siswa
Siswa yang mempunyai sifat – sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan – tekanan
batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibat makin parah masalahnya dan akan mengganggu belajarnya. Lebih – lebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah
dengan alasan – alasan yang tidak–tida
karena di sekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman – temannya. Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu, agar dapat
memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.
 Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar
dengan melaksanakan tata tertib, kedisiplinan pegawai/karyawan dalam pekerjaan administrasi dan kebersihan/keteraturan kelas, gedung sekolah dan lain – lain.
Dengan demikian agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin di dalam belajar baik di sekolah, di rumah dan di perpustakaan, agar siswa disiplin haruslah guru
beserta staf yang lain disiplin pula.
 Waktu Sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu itu dapat pagi, siang, sore/malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar
siswa, jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah sore hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggungjawabkan, dimana siswa harus istirahat tetapi terpaksa harus masuk
sekolah sehingga mereka masuk sekolah dengan keadaan mengantuk dan sebagainya. Jadi memilih waktu sekolah yang tepat akan memberi pengaruh yang positif
terhadap belajar.
3) Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat. Faktor
masyarakat ini membahas tentang kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, lingkungan sekitar, yang semuanya mempengaruhi belajar.
 Kegiatan Siswa Dalam Masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu
banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan – kegiatan sosial, keagamaan dan lain – lain, belajarnya akan terganggu, lebih – lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur
waktunya.
 Mass Media
Yang termasuk mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku – buku, komik – komik dan lain – lain. Mass media yang baik memberi pengaruh yang
baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya, akan tetapi sebaliknya mass media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa. Maka dari itulah perlu kiranya
siswa mendapatkan bimbingan dan kontrol yang cukup bijaksana dari pihak orang tua dan pendidik, baik di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat agar tidak terjadi
salah langkah.
 Teman Bergaul
Pengaruh – pengaruh dari teman bergaul siswa lebih dapat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri
siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.
 Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan sebagainya. Misalnya bangunan rumah penduduk yang sangat sempit, lalu lintas yang
membisingkan, suasana hiruk pikuk orang disekitar, suara pabrik, polusi udara, iklim yang terlalu panas, semuanya akan mempengaruhi gairah dan minat belajar.
Sebaliknya tempat yang sepi dengan iklim yang sejuk, ini akan menunjang proses belajar. Keadaan alam yang tenang dengan udara yang sejuk ikut mempengaruhi
kesegaran jiwa murid sehingga memungkinkan hasil belajarnya akan lebih tinggi daripada lingkungan yang gaduh dengan udara yang panas dan kotor.
Gejala Kesulitan Belajar dalam proses belajar mengajar sudah menjadi harapan setiap guru/pengajar agar siswanya dapat mencapai prestasi. Namun, pada kenyataan
hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Beberapa siswa menunjukkan nilai kurang meskipun sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya. Kesulitan belajar
merupakan suatu gejala yang dapat dilihat dalam berbagai jenis kenyataan. Di sini guru/pengajar sebagai orang yang bertanggung jawab dalam proses belajar mengajar
berperan untuk dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar. Bagi seorang guru/pengajar yang memahami kesulitan belajar siswa merupakan dasar dalam usaha
memberi bantuan kepada siswa.