Anda di halaman 1dari 26

HALAMAN JUDUL MAKALAH

KONSEP BERPIKIR SISTEM

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan Dan Berfikir

Sistem Kesehatan Masyarakat

Kuliah Kepemimpinan Dan Berfikir Sistem Kesehatan Masyarakat Oleh: Kelompok : 1 Kelas K3 Nuraisyah Darwis (J1A117098)

Oleh:

Kelompok : 1

Kelas K3

Nuraisyah Darwis

(J1A117098)

Uni Zulfiani

(J1A117146)

Wiwin Sujanah

(J1A117165)

Bilal Ibnu Fajar Sabri

(J1A117190)

Dini Indriani

(J1A117196)

Wahyu Ishaq Trisnandi

(J1A117283)

Ega Alisyah Anti

(J1A117305)

Rizky Chadijah

(J1A115204)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, tentang Konsep Berpikir Sistem.

Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan dari berbagai sumber sehingga dapat memperlancar pembuatannya. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih, terutama kepada Ibu Agnes Mersatika Hartoyo, S.KM., M.Kes. selaku dosen pembimbing matakuliah

Terlepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kami menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Kedepannya semoga kami dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Kendari, 10 Maret 2019

ii

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

iv

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

 

1.3 Tujuan

2

1.4 Manfaat

3

BAB 2 TINJAUAN TEORI

4

2.1 Definisi Sistem

4

2.2 Unsur Dalam Sistem

6

2.3 Cara Berpikir Sistem

9

2.4 Mengubah Pola Pikir

11

2.5 Pemikiran Sistem dan Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan

15

BAB 3 PENUTUP

19

3.1

Kesimpulan

19

DAFTAR PUSTAKA

21

iii

DAFTAR TABEL

10

Tabel 2. Perbedaan Orang yang Berpola Pikir Tetap dan Pola Pikir Berkembang11

Tabel 1. Perbandingan Usual Approach dan Systems Thinking Approach

iv

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setelah dua ribu tahun yang tercatat dalam penanggalan, dunia ini

telah mengalami perubahan besar di segala bidang kehidupan. Kemajuan

teknologi secara signifikan telah menjadikan dunia terhubung dalam suatu

jaringan informasi yang memungkinkan orang berkomunikasi dengan orang di

belahan dunia yang lain dalam hitungan detik, memberikan pemahaman

bahwa bumi hanyalah setiik air di tengah lautan tata surya yang maha luas,

memungkinkan orang tahu bahwa di dalam segenggam tanah di hutan tropis

Amazon terkandung beraneka ragam spesies bakteri yang jumlahnya jauh

lebih banyak daripada populasi seluruh umat manusia di dunia ini.

Dalam perjalanan hidupnya, manusia sering menghadapi berbagai

permasalahan yang perlu dipecahkan. Berpikir memecahkan masalah dan

menghasilkan sesuatu yang baru adalah kegiatan yang kompleks dan

berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat

dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah memerlukan pemecahan yang

baru bagi orang-orang atau kelompok.

Fungsi berfikir adalah untuk pemecahan masalah / persoalan (problem

solving). Umumnya kita bergerak sesuai dengan kebiasaan. Namun ketika kita

menghadapi situasi yang tidak dapat dihadapi dengan cara biasa, di situlah

timbul masalah. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatasi masalah

itu. Ketika kita memiliki masalah, seringkali kita menginginkan masalah itu

cepat hilang dengan cara apapun tanpa memikirkannya terlebih dahulu,

sehingga hasil dari pemecahan masalah yang ditemukan secara singkat itu,

tidak memuaskan bagi kita,atau bahkan menimbulkan masalah yang baru.

Ilmu pengetahuan modern telah memecah persoalan-persoalan dunia

ini menjadi bagian-bagian kecil, misalnya berdasarkan sektor. Masalah

ekonomi dipecahkan oleh ekonom, masalah politik dipecahkan oleh politikus.

Masalah lingkungan dipecahkan oleh para ahli Ekologi. Pendekatan ini

1

2

disebut pendekatan reduksionis

persoalan yang berbeda-beda, melainkan hanyalah sisi-sisi yang berbeda

Padahal semua persoalan ini bukanlah

Dengan paradigma yang lama, yakni pendekatan reduksionis, permasalahan-

permasalahan tadi tidak mungkin terselesaikan. Dibutuhkan sebuah paradigma

baru mengenai cara manusia memandang persolan dunia ini yang akan

menentukan langkah-langkah penyelesaian yang akan diambil. Hal itu dapat

terjadi jika segenap umat manusia bekerja-sama ke arah perubahan itu.

Cara berpikir sistem adalah salah satu pendekatan yang diperlukan

agar manusia dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih

menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi

dapat dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan

mengubah sistem secara efektif.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diangkat pada makalah ini ialah :

1.

Apa Definisi Dari Sistem ?

2.

Bagaimana Unsur Dalam Sistem ?

3.

Bagaimana Cara Berfikir Sistem ?

4.

Bagaimana Mengubah Pola Fikir ?

5.

Bagaimana Pemikiran Sistem Dan Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan

?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada makalah ini ialah :

1. Mengetahui Definisi Dari Sistem.

2. Mengetahui Cara Berfikir Sistem.

3. Mengetahui Unsur Dalam Sistem.

4. Mengetahui Mengubah Pola Fikir.

5. Mengetahui Pemikiran Sistem Dan Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan.

3

1.4 Manfaat Adapun manfaat yang akan diperoleh dari pembahasan makalah ini ialah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan belajar dalam mata kuliah Kepemimpinan dan Berpikir

Sistem Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Universitas Halu Oleo.

2. Sebagai bahan acuan dalam mengembangkan pengetahuan mengenai

Konsep Berfikir Sistem.

4

BAB 2 TINJAUAN TEORI BAB 2

TIJAUAN TEORI

2.1 Definisi Sistem

Sistem adalah sesuatu yang tersusun atas bagian-bagian yang

saling berkaitan satu sama lain membentuk satu kesatuan fungsi.

Kesatuan fungsi tersebut memiliki integritas yang bila diubah atau rusak

salah satu bagiannya atau hilang, maka tidak berfungsi lagi; memiliki

pola hubungan antar bagian-bagiannya tidak mudah diubah-ubah, dan

ada sifat dinamis dalam hubungan antar bagiannya dalam sistem.

Menurut Ludwig von Bertalanfy, penggagas General System

Theory, menyatakan “system is an entity that maintains its existence

through the mutual interaction of its parts to achieve”. Secara bebas

dapat diartikan sistem adalah suatu entitas yang berusaha menjaga

keberadaannya dengan melakukan hubungan yang menguntungkan

dengan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan. Bertalanfy

mendefinisikan sistem dengan berfokus pada entitas, yaitu suatu obyek

atau benda (hidup atau mati), eksistensi, dan tujuan. Sistem pelayanan

kesehatan di klinik berusaha mencapai tujuan yaitu mencapai efisiensi

yang optimal dengan melakukan koordinasi antar bagian dari pelayanan

di klinik seperti poli dokter umum, radiologi, laboratorium klinik,

keuangan, administrasi, dan pemasaran (Battle-Fisher, 2015).

Definisi sistem menurut World Health Organization (WHO)

menekankan pada suatu pendekatan dalam memecahkan masalah. Dalam

laporan tentang aplikasi Berfikir Sistem dalam sistem kesehatan, WHO

(2009) mendefinisikan sistem sebagai berikut: “an approach to problem

solving that views "problems" as part of a wider, dynamic system”.

Terjemahan secara bebas definisi tersebut adalah sistem merupakan suatu

pendekatan untuk memecahkan masalah dengan “masalah” sebagai

bagian dari masalah yang lebih luas yang besifat dinamis. Misalnya

4

5

masalah kepatuhan ibu hamil dalam menjalankan pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care/ANC) merupakan bagian dari masalah sosial dan budaya yang ada di keluarga dan wilayahnya. Artinya masalah kepatuhan itu bukan hanya dilekatkan pada si ibu hamil sendiri. Penyebaran penyakit leptospirosa merupakan masalah yang diturunkan dari masalah lingkungan dan ekologis yang lebih luas seperti kebiasaan buang sampah, banjir, lingkungan kumuh dan sebagainya.

Sistem merupakan suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisir untuk mencapai suatu tujuan (Manetsch dan Park, 1977). Sedangkan, Marimin (2004) mendefinisikan sistem sebagai suatu kesatuan usaha yang terdiri atas bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai tujuan dalam suatu lingkungan yang kompleks. Selanjutnya, Chechland (1981) menyatakan bahwa sistem merupakan sekumpulan atau kombinasi elemen yang saling berkaitan membentuk sebuah kesatuan yang kompleks.

Hal ini dikarenakan berfikir sistem dalam kesehatan masyarakat merupakan hal terpenting yang harus dimiliki setiap individu untuk melakukan kegiatan yang ada di dalam organisasi kesehatan masyarakat karena sistem memiliki prinsip bersama dan saling berkaitan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Misalnya seorang kepala Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, dalam menjalankan tugas dan wewenangnya harus mampu berpikir sistem agar ia dapat menjalanka semua kegiatan dan membawahi semua petugas dibawah naungannya.

Sistem merupakan kegiatan yang saling berhubungan satu sama lain dan saling keterkaitan tersusun secara sistematis. Sistem menurut Jogiyanto adalah Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. (Jogiyanto, 1999:4). Maksud dari kutipan tersebut bahwa sistem merupakan kumpulan dari bagian- bagian atau komponen-komponen subsistem atau bagian dari sistem yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk membentuk satu kesatuan dalam menjalankan fungsi tertentu yang mempengaruhi proses dari setiap

6

subsistem atau bagian sistem secara keseluruhan untuk mencapai satu tujuan tertentu.

Menurut Jogiyanto sebuah sistem memiliki karakteristik tertentu diantaranya adalah sebagai berikut :

1. komponen-komponen (component), komponen-komponen atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian- bagian dari sistem.

2. batas sistem (boundary), batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem pegawai yang dominan mempengaruhi kinerja pegawai. Mengacu pada perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisi pengaruh penerapan sistem informasi manajemen dan kompetensi pegawai baik ditihat secara parsial maupun secara simultan terhadap kinerja pegawai pada suatu instansi. Selain itu juga untuk mengetahui dan menganalisi faktor yang dominan mempengaruhi diantara penerapan system informasi manajemen dan kompetensi pegawai terhadap kinerja pegawai.

2.2 Unsur Dalam Sistem Menurut Chechland (1981) ada beberapa persyaratan dalam berpikir system (system thinking) diantaranya :

(1) Holistik, system thinkers harus berpikir holistic tidak reduksionis. Yang dimaksud holistik di sini adalah tidak mereduksionis permasalahan kepada bagian yang lebih kecil (segmentasi) atau tidak hanya berpikir secara parsial dari sudut pandang mono disiplin tapi harus interdisiplin; (2) Sibernetik (goal oriented), system thinkers harus mulai dengan berorientasi tujuan (goal oriented)tidak mulai dengan orientasi masalah (problem oriented). Jadi mulai dengan tujuannya apa,

7

kemudian identifikasi masalah yaitu gap antara tujuan (kondisi informatif) dengan keadaan aktual baru problem solving; dan (3) Efektif, dalam ilmu sistem erat kaitannya dengan prinsip dasar manajemen di mana suatu aktivitas yang mentransformasikan input menjadi output yang dikehendaki secara sistematis dan terorganisasi guna mencapai tingkat efektif dan efisien.

Menurut Muhammadi et al (2001) untuk berfikir sistem (system thinkers) syaratnya adalah adanya kesadaran untuk mengapresiasi dan memikirkan suatu kejadian sebagai sebuah sistem (systemic approach). Kejadian apapun baik fisik maupun non fisik dilihat secara keseluruhan sebagai interaksi antar unsur system dalam batas lingkungan tertentu. Jadi dalam ilmu sistem, hasil harus efektif dibanding efisien. Jadi ukurannya adalah cost effective bukan cost efficient. Akan lebih baik lagi bila hasilnya efektif dan sekaligus juga efisien.

Unsur-unsur sistem terdiri atas komponen, atribut dan hubungan yang dapat didefinisikan sebagai berikut:

(1) komponen adalah merupakan bagian-bagian sistem yang terdiri atas input, proses dan output. Setiap komponen sistem mengasumsikan berbagai nilai untuk menggambarkan pernyataan sistem sebagai seperangkat aksi pengendalian atau lebih sebagai pembatasan. Sistem terbangun atas komponen-komponen, komponen tersebut dapat dipecah menjadi komponen yang lebih kecil. Bagiankomponen yang lebih kecil tersebut disebut dengan subsistem. (2) atribut adalah sifat-sifat atau manifestasi yang dapat dilihat pada komponen sebuah sistem. Atribut tersebut mengkarakteristikkan parameter sebuah sistem. (3) hubungan merupakan keterkaitan di antara komponen dan atribut.

Keutamaan pendekatan sistem adalah dapat menyelesaikan permasalahan yang kompleks yang sulit diselesaikan dengan pendekatan lainnya. Seperti dinyatakan oleh Chechland (1981) bahwa system

8

thinking muncul akibat dari reaksi terhadap ketidakmampuan natural science dalam memecahkan permasalahan dunia nyata yang kompleks. Selanjutnya, Manetsch dan Park (1977) berpendapat bahwa untuk permasalahan multidisiplin yang komplek pendekatan sistem memberikan penyelesaian masalah dengan baik. Persoalan yang diselesaikan dengan pendekatan sistem umumnya persoalan yang memenuhi karakteristik:

(1) Kompleks, di mana interaksi antar elemen cukup rumit, persoalan menyangkut multidisiplin dan multifaktor;

(2) Dinamis, dalam arti, faktornya ada yang berubah menurut waktu dan ada pendugaan ke masa depan;

(3) Stokastik, yaitu diperlukannya fungsi peluang (probabilistik) dalam inferensi kesimpulan maupun rekomendasi.

Menurut Eriyatno (1999)dalam metodologi sistem ada enam tahap analisis sebelum tahap sintesa atau rekayasa, yaitu:

(1) analisis kebutuhan.

(2) identifikasi system.

(3) formulasi masalah.

(4) pembentukan alternatif system.

(5) determinasi dari realisasi fisik, social, dan politik.

(6) penentuan kelayakan ekonomi dan keuangan.

Tahap ke satu sampai dengan ke enam umumnya dilakukan dalam satu kesatuan kerja yang dikenal sebagai analisis sistem.

9

2.3 Cara Berpikir Sistem

Berfikir sistem (system thinking) mulai dikembangkan pada awal abad 20 dan pertama kali diaplikasikan pada bidang Teknik, Ekonomi, dan Ekologi. Masalah pada bidang kesehatan lambat laun disadari memiliki karakteristik yang kompleks dan seperti fenomena gunung es. Akhirnya berfikir sistem baru diterapkan awal tahun 2000an yaitu diaplikasikan pada masalah-masalah kesehatan seperti tobacco control, obesitas, dan TBC.

Berfikir sistem bukanlah metode yang harus dijalani secara runut dan baku, namun merupakan sebuah karakter atau perilaku yang mencerminkan pemecahan masalah secara menyeluruh. Manurut Battle- Fisher (2015) dalam bukunya yang berjudul Application of System Thinking to Health Policy and Public Health Ethics menyatakan ada delapan karakteristik/cara berfikir sistem yaitu:

a. Memandang masalah secara keseluruhan;

b. Cenderung mendorong pada kemajuan;

c. Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;

d. Lebih memperhatikan jangka panjang;

e. Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;

f. Sebelum membuat keputusan, kadang menyertakan/mempertimbangkan sesuatu yang paradoks (tidak biasa);

g. Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem; dan

h. Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem.

10

Sementara itu WHO dalam laporannya yang berjudul Systems Thinking for Health Systems Strengthening, membanding dua pendekatan antara pendekatan umum (usual approach) dengan pendekatan berfikir sistem (system thinking approach).

Tabel 1. Perbandingan Usual Approach dan Systems Thinking Approach

 

USUAL APROACH

 

SYSTEMS THINKING APPROACH

Static

thinking:

hanya

fokus

pada

Dynamic thinking: melihat masalah sebagai akibat dari pola perilaku sepanjang masa

sebagian masalah

 

Systems-as-effect thinking: melihat perilaku yang terjadi dalam sistem merupakan akibat dari lingkungan

Systems-as-cause thinking: berupaya agar perilaku dalam sistem memberikan pengaruh positif bagi lingkungan.

Tree-by-tree thinking: meyakini bahwa untuk memahami sesuatu adalah dengan mengetahui setiap detail dari masalah.

Forest thingking: meyakini bahwa untuk memahami sesuatu adalah dengan memahami konteks masalah secara keseluruhan.

Factors thinking: mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi dan berhubungan dengan suatu masalah.

Operational thinking: berfokus pada akibat dari masalah dan memahami bagaimana hal tersebut bisa terjadi.

Straight-line thinking: memandang sebab- akibat terjadi dalam satu arah, tanpa memperhatikan ketergantungan antar faktor.

Loop thinking: memandang sebab- akibat terjadi dalam proses yang selalu berjalan.

2.4 Mengubah Pola Pikir

11

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk menjadikan peserta didik manusia yang beriman, kreatif dan mandiri tersebut, tentu tak lepas dari mengembangkan pola pikir peserta didik menjadi pola pikir yang cerdas, mandiri dan kreatif. Hal ini dikarenakan, pola pikir seseorang sangat berpengaruh terhadap perasaan, sikap dan lainnya yang pada akhirnya membentuk kehidupannya.

Tabel 2. Perbedaan Orang Yang Berpola Pikir Tetap dan Pola Pikir Berkembang

.

NO.

POLA PIKIR TETAP

POLA PIKIR BERKEMBANG

1.

Sibuk membuktikan kehebatan dirinya.

Tidak punya kepentingan untuk membuktikan diri mereka. Mereka hanya melakukan apa yang mereka cintai.

2.

Menggunakan segala cara untuk mencapai sukses.

Meyakini bahwa mengelak, curang, dan menyalahkan orang lain bukanlah resep untuk sukses.

 

Defensif

bila

orang

lain

Berani mengakui kesalahan, dan mengambil lebih banyak manfaat dari umpan balik yang ia dapatkan.

3.

menunjukkan kesalahannya.

4.

Ingin menjadi satu-satunya ikan besar.

Tidak akan menegaskan statusnya dengan merendahkan orang lain. Ia tidak akan menghalangi karyawan yang berkinerja tinggi, dan tidak menganggap karyawan tersebut adalah ancaman baginya.

 

Lebih fokus pada kekuasaannya

Peduli terhadap pengembangan personil. Bertanggungjawab atas proses-proses yang membawa kesuksesan dan mempertahankannya

5.

ketimbang kesejahteraan karyawannya.

 

Semua

keberhasilan

karena

Tidak senang disebut sebagai orang pertama. Mereka akan mengatakan, “Hampir semua yang telah saya lakukan dalam hidup dapat terselesaikan berkat

6.

dirinya.

12

   

kerjasama dengan orang lain

7.

Pendapatnya yang paling benar

Menumbuhkan pandangan-pandangan alternatif dan konstruktif, mempersilahkan karyawannya untuk mengambil sudut pandang yang berbeda, sehingga ia dapat melihat kekurangan-kekurangan dalam posisinya.

Untuk mengubah pola pikir terdapat beberapa teknik, diantaranya :

1. Metode NLP = Neuro Linguistic Programming;

2. Kontemplasi = Perenungan = Muhasabah = ESQ Technique;

3. Membangun Konsep Diri (Self Concept);

4. Pemetaan Pikiran = Mind Mapping;

5. Pengetahuan Hipnosis.

1. Neuro Linguistic Programming

Neuro = Syaraf Otak/Pikiran lewat panca indera (penglihatan, pendengaran, pencecap rasa, penciuman, perasa sentuhan). Linguistic = Bahasa Pikiran. Programming = Pemrograman (Ulang) Pikiran. NLP adalah : Suatu Cara Untuk Menyaring berbagai pengalaman atau hal-hal yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari melalui Lima Indera. Sandy MacGregor (2005,15) mengatakan bahwa “Accelerated Learning” (Belajar Efektif/Cepat) sesunguhnya juga berlangsung dalam konsep NLP, yaitu dengan menyederhanakan/memfo-kuskan “pancaindra” menjadi “tigaindra” yang dominan yaitu VAK : Visual= penglihatan , Auditori=pendengaran, dan inestetik=gerak, Dengan demikian kita juga bisa memanfaatkan teknik NLP untuk meningkatan proses belajar dan hasil belajar

Dalam Membentuk Pola Sudut Pandang seseorang:

1. Menghormati cara orang lain membentuk dunianya

13

3. Selalu ada maksud baik dari tiap tingkah laku

4. Orang-orang melakukan hal yang terbaik sebatas sumber-sumber yang diketahui

5. Tidak ada orang yang kaku, hanya komunikator yang kurang fleksibel

6. Makna komunikasi adalah respon yang anda peroleh

7. Seseorang dengan fleksibilitas akan mampu mengontrol dirinya

8. Tak ada kegagalan, hanya umpan balik yang kurang tepat

9. Setiap pengalaman memiliki struktur sendiri

10. Manusia mempunyai dua tingkatann komunikasi : sadar dan bawah sadar

11. Semua orang punya sumber-sumber yang cukup guna merubah diri kearah lebih positip. Sumber-sumber tsb berasal dari pengalaman masa lalu individu.

12. Tubuh dan pikiran saling mempengaruhi

13. Jika sesuatu mungkin bagi seseorang maka hal itu juga mungkin bagi yang lain

14. Saya bertanggung jawab tentang pemikiran saya, Oleh karena itu saya bertanggung jawab akan hasil yang saya peroleh.

2. Kontemplasi

(Perenungan = Muhasabah = ESQ Technique)

1. Mengenali tujuan (konsep diri manusia)

2. Melakukan kontemplasi

3. Mengevaluasi diri

4. Mengenali sifat baik dan buruk diri

5. Bersihkan hati (qolbu)

14

7. Komitmen pada sifat positip

8. Terus menerus melakukan perbaikan

3. Konsep Diri (Self Concept)

Semua persepsi kita terhadap aspek diri kita yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang terbentuk karena pengalaman masa lalu kita dan interaksi kita dengan orang lain. Hal-Halyang Mempengaruhi Konsep Diri (bagimana kita memandang Seluruh Aspek Diri)

1. Cita-Cita Diri (Keinginan Untuk Mencapai Sesuatu)

2. Citra Diri (Gambaran Diri Yang Diyakini Benar)

3. Harga Diri (Seberapa Besar Menilai/Menghargai Diri)

4. Mind Map (Pemetaan Pikiran)

Adalah metode untuk membuat catatan untuk berpikir. Peta pikiran juga digunakan untuk memecahkan masalah, untuk mengingat (menghapal) dan melakukan sesuatu pada saat kita sedang berpikir atau sewaktu pikiran memasuki otak kita.

Langkah-langkah membuat mind map :

1. Tulislah masalah yang akan Anda pecahkan dalam bentuk lingkaran atau pohon, di bagian tengah kertas.

2. Buatlah cabang-cabang atau kegiatan yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Buatlah ranting-ranting yang mempengaruhi atau berhubungan dengan cabang-cabang tersebut.

Manfaat mind map :

1. Topik atau cabang masalah ungkapkan dalam bentuk gambar dan diberi warna menarik, demikian pula untuk sub topik atau rantingnya.

15

3. Gambar adalah produk sisi otak kanan yang kreatif, rincian detailnya dibuat oleh sisi otak kiri yang logis analitis. Efektifitas mengingat gambar adalah 80 % (Sandy McGregor, 2005).

4. Manfatkan peta pikiran dengan cara menempelnya di dinding, bila banyak di tempel di buku. Lihat-lihatlah secara berkala.

5. Hipnosis

1. Hipnosis adalah adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak.

2. Hipnosis adalah eksplorasi alam bawah sadar.

3. Hipnosis adalah kondisi bawah sadar yang meningkat.

Jenis Hipnosis :

1. Stage Hypnosis (hipnosis panggung);

2. Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy;

3. Anodyne Awareness (untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan);

4. Forensic Hypnosis (untuk investigasi);

5. Metaphysical Hypnosis (membangun kondisi rileks sangat dalam atau somnambolisme), bila diukur dengan EEG menunjukkan frekuensi gelombang otak sangat rendah.

2.5 Pemikiran Sistem dan Peningkatan Mutu Layanan Kesehatan

Pemikiran sistem merupakan sebuah teori yang sudah berkembang sejak lama dalam dunia sains. Sistem berpikir memiliki silsilah intelektual yang panjang dan rumit, dan memiliki berbagai variasi pendekatan yang berbeda dari berbagai disiplin ilmu dan trans-disiplin bentuk (Myers,2006). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyintesis sistem berpikir dalam paradigma teoritis menyeluruh, yang meliputi ilmu-ilmu alam dan manusia (Midgley,2005). Teori ini memahami sistem secara universal sebagai proses terbuka untuk berubah melalui

16

internal

lingkungan.

self-regulation

dan

atau

interaksi

umpan

balik

dengan

Pemikiran sistem adalah cara memahami realitas yang menekankan hubungan antara bagian-bagian sistem, dari pada bagian yang berdiri sendiri. Dalam pengertian yang paling sederhana, system thinking memberi gambaran yang lebih akurat dari realitas, sehingga dapat bekerja semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang diinginkan. Hal ini mendorong kita untuk berpikir tentang masalah dan solusi dengan berpikir jauh ke depan. System thinking dibangun di atas dasar kompleksitas, dinamis dan holistik.

Lingkungan sebagai sebuah sistem memiliki kompleksitas. Kompleksitas kata dasarnya dari kata bahasa Inggris yakni, complex yang berarti “rumit”. Sedangkan kompleksitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diberi arti kerumitan atau keruwetan. Guna memperoleh pengertian dasar, para peminat studi kompleksitas memberi batasan bahwa kompleksitas pada prinsipnya suatu keadaan antara keteraturan dan kesemrawutan (a condition between order and chaos). Hal ini merupakan ciri utama dalam sebuah sistem. Frederick Winslow Taylor (2004) mengatakan kompleksitas menjadi sesuatu yang membantu para pemimpin saat ini dan pemimpin masa depan untuk semakin memahami perkembangan teknologi, globalisasi, pasar, perubahan budaya, dan lebih banyak lagi.

Teori sistem (the theory system) dikembangkan demi memahami kompleksitas dengan menggunakan pendekatan interdisiplin untuk mempelajari sistem kompleks tersebut. Teori Sistem dikembangkan oleh Ludwig von Bertalanffy, William Ross Ashby, dan lainnya pada dekade 1940-an sampai 1970-an. Teori sistem dikembangkan yang menjadi fokus utama teori sistem adalah kompleksitas dan kesalingterhubungan.

17

Selanjutnya, ciri system thinking berikutnya adalah holistik. Holistik berasal dari holism, yang merupakan suatu paham bahwa suatu sistem tidak bisa dipandang dari bagian-bagiannya saja. Sistem secara keseluruhan mempengaruhi bagaimana bagian bekerja. Prinsip holisme sendiri diutarakan Aristoteles “Keseluruhan lebih dari bagian dari anggota-anggotanya.” Suatu sistem besar maupun kecil dapat dilihat secara holistik dengan menggunakan helicopter view. Tools tersebut membantu Dengan memahami system thinking, maka perubahan dapat dikendalikan oleh dan dikendalikan. System thinking memberikan sebuah pendekatan baru dalam menciptakan putaran transformasi.

Perhatian terhadap mutu harus dimiliki baik pada tingkat pimpinan maupun ditingkat bawahan. Oleh karena itu mutu pelayanan dibidang kesehatanpun harus ditingkatkan apabila sebuah rumah sakit ingin terus survive. Mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu persepsi atau pandangan pasien tehadap apa yang mereka terima dibandingkan dengan harapan mereka sebelumnya terhadap mutu pelayanan itu sendiri.

Dengan pandangan Joint Commission on Acreditation of Hospital tentang program menjaga mutu, program menjaga mutu dapat diartikan sebagai upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai basil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan ( Azrul Azwar; 1994:2).

Mutu pelayanan kesehatan di puskesmas dan di rumah sakit adalah produk akhir dari interaksi dan ketergantungan yang rumit antara berbagai aspek komponen atau aspek pelayanan (Bustami, 2011). Kepuasan adalah perasaan senang seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap aktivitas dan suatu produk

18

dengan harapanya. Harapan masyarakat yang penggunan jamaninan pelayanan kesehatan juga berharap mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan kesehatan yang baik masyarakat merasa ada manfaat terhadap jaminan kesehatan yang di miliki. Jaminan kesehatan nasional (JKN) adalah sistem perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Terselenggaranya sistem JKN terutama di fasilitas tingkat pertama diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan seluruh penduduk Indonesia. Oleh karenan itu perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap peleksanaan sistem JKN.

19

3.1 Kesimpulan

BAB 3

PENUTUP

Adapun kesimpulan yang dapat diambil yakni sebagai berikut :

1. Sistem adalah sesuatu yang tersusun atas bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain membentuk satu kesatuan fungsi. Kesatuan fungsi tersebut memiliki integritas yang bila diubah atau rusak salah satu bagiannya atau hilang, maka tidak berfungsi lagi; memiliki pola hubungan antar bagian-bagiannya tidak mudah diubah-ubah, dan ada sifat dinamis dalam hubungan antar bagiannya dalam sistem.

2. Unsur-unsur sistem terdiri atas komponen, atribut dan hubungan.

3. Untuk mengubah pola pikir terdapat beberapa teknik, diantaranya

a. Metode NLP = Neuro Linguistic Programming;

b. Kontemplasi = perenungan = muhasabah = ESQ technique;

c. Membangun konsep diri (self concept);

d. Pemetaan pikiran = mind mapping;

e. Pengetahuan hipnosis.

4. Ada delapan karakteristik/cara berfikir sistem yaitu:

a. Memandang masalah secara keseluruhan;

b. Cenderung mendorong pada kemajuan;

c. Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;

d. Lebih memperhatikan jangka panjang;

e. Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;

f. Sebelum membuat keputusan, kadang menyertakan/mempertimbangkan sesuatu yang paradoks (tidak biasa);

g. Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem; dan

h. Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem.

19

20

5. Pemikiran sistem adalah cara memahami realitas yang menekankan hubungan antara bagian-bagian sistem, dari pada bagian yang berdiri sendiri. Mutu pelayanan kesehatan merupakan suatu persepsi atau pandangan pasien tehadap apa yang mereka terima dibandingkan dengan harapan mereka sebelumnya terhadap mutu pelayanan itu sendiri.

21

DAFTAR PUSTAKA

Etlidawati, Handayani, Yulistika. 2016. Hubungan Kualitas Mutu Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Universitas Muhammadiyah Purwokerto: Jawa Tengah.

Hasibuan,

Julianty

Kasihati.

2015.

Membangun

Pola

Berpikir

Sistem.

http://sumut.kemenag.go.id/29/04/2015. Kemenag : Sumatera Utara.

Hermayan, Ade. 2017. Sistem: Teori, Pengertian dan Berkir Sistem Dalam Bidang Kesehatan. Universitas Esa Unggul : DKI Jakarta.

Hidayatno Akhmad. 2013. Berpikir Sistem : Pola Berpikir Untuk Pemahaman Masalah Yang Lebih Baik. Jakarta :

Maulidya Anita. 2018. Berpikir dan Problem Solving.

Nggili, Ricky Arnold.2016. Pendekatan System Thinking dalam Kepemimpinan Transformasional. Jurnal Humainora Yayasan Bina Dharma. Volume III, No.2.

Suyitno. 2017. Analisis Penerapan Sistem Informasi Manajemen Dan Kompetensi Pegawai Serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja Pegawai.Malang : Journal of Business Administration. Vol 1, No 2,Halaman :124-133, e-ISSN:2548-

9909.

Yusuf.

2012.

Untuk

Mengubah

Pola

Pikir

Terdapat

Beberapa

Teknik.

Terdapat-Beberapa-Teknik. (Diakses pada tanggal 9 Maret 2019).

22