Anda di halaman 1dari 2

a.

Tumbukan dalam satu dimensi

Gerak benda setelah tumbukan selalu dapat dihitung dari gerakannya sebelum tumbukan
asalkan kita mengetahui gaya-gaya yang bekerja selama tumbukan dan kita dapat memecahkan
persamaan gerakannya. Tetapi seringkali gaya-gaya ini tidak kita ketahui. Kita hanya tahu bahwa
selama tumbukan prinsip kekekalan momentum harus berlaku demikian pula kekekalan tenaga
total. Walaupun demikian, dalam banyak hal kita dapat memperkirakan hasil tumbukan dengan
menggunakan prinsip-prinsip ini, sekalipun interaksinya secara terperinci tidak kita ketahui.

Tumbukan biasanya dibedakan menurut kekal-tidaknya tenaga kinetik selama proses.


Jika tenaga kinetiknya kekal, tumbukan disebut bersifat lenting (elastic), jika tidak disebut tak-
lenting (inelastic). Tumbukan antarpartikel fundamental inti dan atomic seringkali (tetapi tidak
selalu) bersifat lenting, ini adalah satu-satunya tumbukan yang benar-benar lenting yang dikenal.
Sampai taraf tertentu tumbukan antar benda-benda besar selalu bersifat tak-lenting, tetapi sebagai
pendekatan seringkali dianggap lenting., misalnya tumbukan anatara dua bola gading atau kaca.
Jika setelah tumbukan kedua benda menempel menjadi satu, tumbukan disebut sama-sekali tak-
lenting. Sebagai contoh tumbukan antara balok dengan dengan peluru yang ditembakkan
padanya sama-sekali-tak-lenting jika peluru tertanam padanya. Istilah sama- sekali tak-lenting
tidak berarti bahwa semua tenaga kinetiknya hilang ; tetapi seperti yang akan kita lihat nanti,
tenaga kinetiknya hilang sebesar masih sejalan (tidak bertantangan) dengan kekekalan
momentum.

Bahkan sekalipun gaya tumbukan tidak diketahui, kita dapat menentukan gerak partikel
setelah tumbukan berdasarkan geraknya sebelum tumbukan, asalkan tumbukannya sama-sekali
tak-lenting , atau jika tumbukannya, asalkan tumbukannya terjadi dalam satu dimensi. Untuk
tumbukan satu dimensi, gerak relatif setelah tumbukan terletak terletak sepanjang garis yang
sama dengan gerak relatif sebelum tumbukan.

Dari hukum kekekalan momentum kita peroleh

m1v1i + m2v2i = m1v’1f + m2v’2f

menurut defenisi, pada tumbukan lenting tenaga kinetik kekal, sehingga persamaan
boleh juga
1 1 1 1
2
𝑚1 𝑣1𝑖 2 + 2 𝑚2 𝑣2𝑖 2 = 2 𝑚1 𝑣1𝑓 2 + 2 𝑚2 𝑣2𝑓 2

Dari persamaan ini jelas bahwa jika massa dan kecepatan awal diketahui, kita dapat menentukan
kedua kecepatan akhir, v1f dan v2f.. Persamaan momentum dapat ditulis sebagai

m1(v1i - v1f ) = m2 (v2f –v2i)

dan persamaan tenaga dapat dituliskan sebagai

𝑚1 (𝑣1𝑖 2 − 𝑣1𝑓 2 ) = 𝑚2 (𝑣2𝑓 2 − 𝑣2𝑖 2 )

dengan menganggap v2f ≠ v1i dan v1f ≠ v2i, maka diperoleh

v1 + v1f = v2f + v2i

atau setelah disusun kembali

v1i - v2i = v1f = v2f - v1f

b. Tumbukan dalam dua dan tiga dimensi

Dalam dua atau tiga dimensi, hukum kekekalan saja belum cukup untuk dapat
menyatakan gerak sesudah tumbukan berdasarkan keadaan gerak sebelum tumbukan (kecuali
untuk gerakan pada tumbukan sama-sekali tak-lenting). Sebagai contoh pada kasus yang
sederhana, yaitu tumbukan lenting dua dimensi, kita mempunyai empat besaran setelah
tumbukan yang tidak kita ketahui berupa dua komponen kecepatan untuk masing-masing
partikel, tetapi hubungan yang kita punyai hanya tiga, satu untuk kekekalan tenaga kinetic dan
dua untuk kekealan momentum (satu untuk masing-masing dimensi). Karen aitu kita butuhkan
keterangan tambahan selain dari syarat-syarat awal. Jika gaya intreraksi sesungguhnya tidak
diketahui, dan pada umumnya memang demikian, keterangan tambahan tersebut diperoleh dari
eksperimen ; yang paling sederhana adalah dengan menentukan sudut pental salah satu partikel
yang bertumbuk.